Friday, February 22, 2013

Panggilan


Ini kisah tentang tahta dan panggilan (suci). Sebagai seorang Muslim, aku meyakini adanya tiga panggilan Allah SWT, yakni adzan sebagai panggilan shalat, haji ke Baitullah dan maut. Panggilan adzan senantiasa berkumandang lima kali sehari. Kadang kita terlambat atau malas memenuhi panggilan adzan. Sedangkan panggilan haji, datang pada orang-orang mampu yang terpanggil dan orang-orang terpanggil yang dimampukan oleh Allah Ta’ala. Dan panggilan maut hanya datang sekali pada setiap insan, kita tidak bisa menolaknya.

Ya, panggilan haji, datang pada orang-orang mampu yang terpanggil dan orang-orang terpanggil yang dimampukan. Tersebutlah Tarmin –dia biasa disapa akrab kawan-kawannya. Sejak muda Tarmin berkarir sebagai Pegawai Negeri Sipil dan terakhir sampai di golongan 4-A. “Rasanya tak mungkin, bahkan sampai mati, saya bisa naik haji ke Tanah Suci,” ujar Tarmin sekali waktu.

“Haji itu kan panggilan, kalau Allah sudah berkehendak, siapapun tak bisa menghalangi,” ucapku membesarkan hati Tarmin waktu itu.

Lama aku tak bersua Tarmin, karena kami tinggal berjauhan, bahkan berseberangan pulau. Sampai satu ketika aku bertemu Tarmin di satu acara di Jakarta. Dengan wajah berbinar Tarmin bercerita ihwal status haji yang kini disandangnya. Ditambah lagi jabatannya sebagai pelaksana tugas (Plt) kepala dinas pada sebuah pemerintahan kabupaten. “Dua tahun lalu, bersyukur, saya bisa berangkat ke Tanah Suci atas jasa baik Pak Bupati. Saya tidak mengeluarkan ongkos sedikit pun,” ucap Tarmin.

Tarmin yang merasa terpanggil ini ternyata dimampukan untuk berangkat ke Tanah Suci. Dia merasa sangat bersyukur dapat menunaikan rukun Islam yang kelima itu.

Tanpa kuminta bercerita, dalam persuaan di sela-sela acara yang diikutinya di Jakarta, Tarmin menuturkan, “Tak berapa lama sepulang dari Baitullah, saya diangkat menjadi pelaksana tugas kepala dinas, sebuah jabatan yang tak pernah saya duga-duga dalam karir sebagai PNS.”

Lebih lanjut Tarmin berkisah, “Lalu, tidak berapa lama pula, berlangsung pemilihan kepala daerah (Pilkada). Dalam pertemuan para kepala dinas, Pak Bupati berpesan agar kami menguatkan pemerintahan yang sedang berjalan. Jangan sampai pemerintahan berhenti karena banyak kepala dinas yang kurang mendukung program pembangunan daerah.”
Pilkada tinggal menghitung hari. Tarmin pun dipanggil Pak Bupati. “Mulai hari ini Pak Tarmin bukan lagi Plt, tapi sudah resmi menjabat kepala dinas. Saya mohon Pak Tarmin tidak lupa pesan saya waktu pertemuan dengan para kepala dinas. Syukur-syukur Pak Tarmin bisa mengajak segenap bawahan di dinas yang Pak Tarmin pimpin untuk ikut nyoblos di hari pemberian suara nanti,” ucap Pak Bupati sembari menyerahkan surat pengangkatan Tarmin sebagai kepala dinas.

“Baik Pak Bupati, saya siap mendukung program Bapak,” ujar Tarmin penuh takzim.
Kira-kira sebulan menjelang Pilkada,Tarmin dilantik dan menerima tongkat estafet kepala dinas. Dalam acara pelantikan, sekali lagi, Pak Bupati menekankan pesannya, “Saya berharap semuanya tetap solid sampai waktunya.”

Malam hari usai pelantikan, Tarmin mengundang makan malam segenap jajaran dinas yang dipimpinnya. Di hadapan para kepala bidang, kepala seksi, dan semua staf dinas, Tarmin mengulang pesan Pak Bupati, “Mari kita jaga kekompakan menjelang Pilkada. Jangan sampai kita terpecah-belah. Selama kita kompak bersatu, semua akan aman-aman saja di kursi kalian.”

Semua staf dinas mafhum betul apa yang dikatakan Tarmin. Sampai waktunya tiba pemungutan suara Pilkada kabupaten di wilayah yang cukup jauh pedalaman. Tarmin pun memberikan suaranya buat Pak Bupati. Demikian pula staf yang telah datang makan malam di rumah Tarmin.

Singkat cerita, Pak Bupati kembali memenangi kompetisi Pilkada untuk periode kali kedua. Bahkan, Pak Bupati menang telak, sekitar 60% suara pemilih mencontreng gambarnya, dan sekitar 40 suara tersebar di empat pasangan cabub-cawabup yang lain.

Tarmin sumringah, kursi jabatannya tetap aman tergenggam. Di tengah pesta kemenangan Pak Bupati, Tarmin tiba-tiba lemas, ambruk. Dia langsung dibawa ke rumah sakit. Dokter yang memeriksa mendiagnosis bahwa Tarmin terkena kanker darah. Tak lama berselang dalam perawatan intensif, Tarmin dijemput sang maut. Tahta pun ditinggalkannya.
Salah seorang anggota tim sukses lawan politik Pak Bupati berujar pendek, “Itulah ganjaran orang yang mempermainkan panggilan suci dengan politik praktis.”

Ah, aku tidak dalam posisi untuk menilai apa yang dilakukan Tarmin. Aku serahkan penilaian itu kepada Allah yang memiliki tiga panggilan pada umatnya di muka bumi. Semoga saja Tarmin memenuhi panggilan haji yang mabrur, dan panggilan maut dengan kelapangan hati. ***       
  



   

No comments:

Post a Comment