Monday, March 10, 2014

Setelah Itu tidak Ada yang akan Menangisinya Lagi


Dari Ali bin Al-Husain, dia berkisah, pada suatu hari, ketika Daud al-Thai duduk bersama para sahabatnya, tiba-tiba dia tertidur, lalu tersadar. Daud bertutur, "Apakah kalian tahu apa yang aku lihat dalam tidurku tadi? Aku memasuki surga, lalu aku melihat di dalamnya anak-anak bermain dengan buah apel. Mereka bergantian saling memakannya dan ada seorang anak yang menjauh dari mereka, dia duduk sedih dan tampak jelas kesedihannya.” Lalu Daud bertanya, "Kenapa anak itu tidak bermain bersama kalian?"
Mereka menjawab, "Anak itu baru lahir ke dunia, lalu meninggal dan ibunya selalu menangisinya, dan dia bersedih karena tangisan ibunya itu."
Daud kembali bertanya, "Di mana rumahnya?"
Mereka menjawab, "Di kabilah keluarga Fulan."
Daud bertanya lagi, "Siapa orang-tuanya?"
Mereka menjawab, "Si Fulan dan Fulanah."
Kembali Daud bertanya, "Siapa namanya?"
Mereka menjawab, "Si Fulan."
Lalu Daud berkata kepada sahabatnya, "Berangkatlah." Lalu mereka berangkat dan menemui kabilah yang diceritakan. Kemudian bertanya tentang kedua orang tua anak itu dan menemui mereka. Lantas Daud menceritakan mimpinya pada keduanya dan ibunya berjanji tidak akan menangisinya untuk selamanya.[1]

Penglihatan dan Mata Batin
Yahya bin Bistham bercerita, "Aku bersama kawan-kawanku mendatangi 'Ufairah al-Abidah. Saat itu beliau sedang beribadah, menangis lalu buta. Beberapa orang temanku berkata kepada orang di sampingnya, Alangkah beratnya kebutaan bagi orang yang pernah melihat."
Ufairah mendengarnya, lalu dia berkata, "Wahai Abdullah, demi Allah. Butanya hati dari Allah sungguh lebih berat daripada butanya mata untuk melihat dunia. Demi Allah, aku suka Allah menganugerahiku hakekat cintanya, Dia-lah yang akan mengobati lukaku."[2]

Sesuap-sesuap
Muhamad bin Bakar al-Khuza'i meriwayatkan, "Seorang wanita mempunyai anak. Lalu anak itu menghilang cukup lama dan membuatnya putus asa. Pada suatu hari, wanita itu makan, ketika dia menghancurkan suapan dan ingin memasukkannya ke mulut, seorang peminta-minta berdiri di depan pintu minta makanan. Lalu wanita itu tidak jadi memakan suapan itu dan membawanya bersama roti lalu mensedekahkannya. Tinggalah dia dalam keadaan lapar.
Beberapa hari kemudian, anaknya datang. Dia bercerita pada ibunya tentang kejadian-kejadian besar yang telah dilaluinya. Dia bertutur, "Kejadian yang paling besar adalah beberapa hari yang lalu aku melalui hutan di sebuah daerah. Tiba-tiba muncul singa. Lalu singa itu menarikku dari atas punggung keledai yang aku tunggangi. Keledai itu melawannya, lalu cakar singa itu mengoyak tasku. Pakaian dan jubahku ada di bawahnya. Cakarnya yang besar tidak sampai ke badanku. Aku heran dan terkejut lalu dia membawaku ke dalam hutan dan dia menjilatiku.
Lalu aku melihat seorang laki-laki yang sangat besar, wajah dan pakaiannya putih. Dia datang dan menangkap singa itu tanpa senjata. Dia mengangkatnya dan membantingnya ke tanah. Dia berkata, Bangunlah. Satu suap dengan satu suap. Singa itu bangun dan lari. Aku mulai siuman, lalu aku mencari laki-laki itu, tetapi aku tidak menemukannya. Selama beberapa saat aku duduk di tempatku sampai kekuatanku pulih lantas aku melihat keadaan diriku. Aku mendapati diriku baik-baik saja. Kemudian aku berjalan sampai aku berjumpa dengan rombonganku. Mereka merasa heran ketika melihatku, lalu aku ceritakan semuanya. Aku tidak tahu makna ucapan laki-laki tersebut, Sesuap dengan sesuap. Wanita itu memandang, lalu dia mengeluarkan suapan dari mulutnya dan dia menyedekahkannya.[3]


[1]Tasliyah Ahl al-Mashâib (60).
[2]Shifat al-Shafwah (4/33).
[3]Al-Tanukhi,  Akhbar al-Mudzakarah (2/16).

No comments:

Post a Comment