Friday, February 5, 2016

TEKNOLOGI IT BPJS NAKER BISA DIGUNAKAN 100 JUTA PEKERJA



.BPJS Ketenagakerjaan mempersiapkan road map penerapan aplikasi teknologi informasi yang mengantisipasi masa mendatang dimana IT bisa digunakan mengcover kepesertaan sampai dengan 100 juta pekerja. 

Dengan begitu, aplikasi teknologi yang diterapkan tidak terus gonta-ganti sistem ketika coverage kepesertaan bertambah dari tahun ke tahun.Selain sesuai dengan regulasi yang ada, penerapan aplikasi teknologi informasi di BPJS Ketenagakerjaan memberikan nilai tambah dan efisiensi yang besar bagi operasionalisasi organisasi yang membuat sistem kerja menjadi transparan,” kata Kepala Divisi Pengembangan IT BPJS Ketenagakerjaan Romie Erfianto dalam Focus Group Discussion membedah sistem teknologi informasi di Jakarta, Kamis (4/2). 

Tampil pula sebagai narasumber, Direktur Eksekutif Pusat Kajian Jaminan Sosial Nasional (PKJSN) Ridwan M Sijabat, Ketua FSPI Atun Burhanuddin dan pakar IT Basuki Rahmat.

Menurut Romie, aplikasi teknologi informasi di BPJS Ketenagakerjaan membuat organisasi itu menjadi lebih efisien, karena urusan yang sebelumnya lebih banyak dihabiskan untuk administratif bisa dialihkan menggalang relasi untuk menambah kepesertaan. 

Apalagi urusan administratif menjadi lebih akurat karena tersistem dengan baik,” imbuhnya.

Dia juga mencontohkan, penambahan ribuan kanal dan outlet yang dilakukan oleh BPJS Ketenagakerjaan melalui aplikasi teknologi informasi tidak mesti menambah sumberdaya manusia (SDM).

Aplikasi bisa dilakukan melalui elektronik yang bisa dikontrol dengan transparan,” katanya. 

Saat ini, BPJS Ketenagakerjaan memiliki peserta aktif sebanyak 19,2 juta pekerja dan tidak aktif sekitar 35 juta pekerja.

Adapun porsi anggaran belanja untuk teknologi informasi (IT) 20% pada tahun 2016 ini menjadi Rp 120 miliar, dari tahun sebelumnya Rp 100 miliar. Pengembangan IT BPJS Ketenagakerjaan sendiri akan menggunakan seluruh kanal. Diantaranya melalui smartphone berbasis Android, Ios, dan Blackberry.

"Pengembangan mobile application seiring berkembangnya zaman mutlak diperlukan. Di aplikasi ini, peserta bisa mengecek apakah pembayaran dari pemberi kerja tepat waktu dan tepat jumlah. Peserta juga bisa memantau hasil pengembangan dananya. Jadi, unsur transparansi bisa diketahui semua pihak, terutama peserta. Selama ini, banyak karyawan yang tak pernah tahu haknya, bahkan cenderung diabaikan, dianggap uang hilang," terangnya.

Romie menambahkan, BPJS Ketenagakerjaan juga sedang mengembangkan fitur manfaat yang diharapkan bisa selesai tahun ini. Misalnya saja, peserta bisa melihat status dari klaimnya dan simulasi pensiun. Apalagi sekarang 10%-30% dana bisa dipinjam untuk pembayaran rumah.

Di acara yang sama, Ketua Pusat Kajian Jaminan Sosial Nasional (PKJSN) Ridwan Max Sijabat mengatakan, dalam era globalisasi seperti saat ini sulit membayangkan jika ada satu lembaga besar seperti BPJS Ketenagakerjaan yang notabene mirip sistem perbankan atau lembaga finansial, tapi tidak didukung oleh sistem IT yang sangat dibutuhkan.

"Tidak mungkin kita selenggarakan jaminan sosial, pelayanan finansial lewat lembaga keuangan besar tanpa dukungan IT yang penuh," katanya. Melalui IT, BPJS Ketenagakerjaan bisa membawa database kepesertaan maupun sistem operasional dengan mudahnya. Bahkan, layanan bisa lebih cepat diberikan.

Hal lain yang menjadi sorotan PKJSN, terkait dengan transformasi BPJS Ketenagakerjaan setelah menjadi sebuah lembaga yang dibawahi presiden. Menurut Ridwan, dalam kurun 6 bulan setelah berubah dari Jamsostek menjadi BPJS Ketenagakerjaan, kinerja yang ditunjukkan sudah on the track. 

Bayangkan untuk program jaminan pensiun dalam enam bulan mencapai kepesertaan lebih dari 6,2 juta. Ini tidak mudah dilakukan jika tidak memiliki trust public dan pengelolaan yang transparan dan sistem yang baik melalui aplikasi teknologi informasi,” terangnya.

Dia pun berharap, kondisi yang sudah membaik di BPJS Ketenagakerjaan dapat terus berjalan seiring pembenahan sistem dan penataan organisasi yang saat ini dilakukan. Karena berubah dari Jamsostek menjadi BPJS Ketenagakerjaan itu bukan hanya perubahan visi dan misi, tapi menyangkut organisasi, sistem dan supporting. Kita harapkan transformasi yang sudah berjalan di BPJS Ketenagakerjaan bisa sampai tuntas dilakukan mereka yang memiliki kompetensi yang sudah ditunjukkan selama ini,” pungkasnya.[RMOL]

No comments:

Post a Comment