Sunday, March 10, 2013

Logika Pesugihan Gunung Kawi


Sebagaimana dataran tinggi di tempat-tempat lain, Gunung Kawi pun menawarkan keindahan panorama pegunungan asri dengan udara yang menyegarkan. Lebih dari itu, Gunung Kawi ternyata memiliki magnet lain yang sangat kuat sebagai daya tarik. Karena bagi sebagian orang, Gunung Kawi adalah salah satu tujuan wisata religius sekaligus simbol kemakmuran.

Memiliki ketinggian 2.860 meter di atas permukaan laut, Gunung Kawi nyaris tidak pernah sepi pengunjung. Gunung yang oleh warga Jawa Timur kerap dicitrakan sebagai tempat pesugihan itu bagi kalangan Kejawen, penggiat budaya Jawa, Gunung Kawi lebih dilihat sebagai tempat pelestarian budaya Jawa. Banyak ritual Kejawen diadakan di sini secara teratur dan diikuti aktivis budaya Jawa di seluruh Pulau Jawa.

Di Gunung Kawi terdapat makam dua tokoh Kejawen: RM Imam Soedjono (wafat 8 Februari 1876) dan Kanjeng Zakaria II alias Mbah Djoego (wafat 22 Januari 1871). Keterangan tertulis di prasasti depan makam menyebutkan, Mbah Djoego ini buyut dari Susuhanan Pakubuwono I (yang memerintah Kraton Kartosuro 1705-1717). Sedangkan RM Imam Soedjono buyut dari Sultan Hamengku Buwono I (memerintah Kraton Yogyakarta pada 1755-1892). Konon, keduanya merupakan pengikut setia Pangeran Diponegoro yang berhasil selamat dari peperangan melawan kompeni Belanda, dan kemudian menetap di lereng Gunung Kawi hingga akhir hayatnya.

Jadi, kedua tokoh ini orang Islam, dimakamkan secara Islam serta adat keraton. Makam keduanya berdampingan di gedung utama. Ada larangan keras untuk memotret atau mengambil gambar saat kita masuk kompleks ziarah utama ini. Para pekerja, semua berbusana adat Jawa, mengawasi semua pengunjung dengan keramahan yang khas.
Memasuki kawasan pesarean, pengunjung disambut gapura selamat datang Pendopo Pesarean Agung berbentuk seperti candi lengkap dengan aksara Jawa di bagian atasnya. Bagian depan dinding gapura kanan-kiri terdapat lukisan timbul yang mengisahkan aktivitas Eyang Djoego dan Eyang Soedjo semasa hayat, lengkap dengan tahun keberadaan mereka, tahun 1871.

Yang cukup menarik, masih di gerbang pesarean, pengelola memasang papan pengumuman berisi jadwal kunjungan. Ada empat jadwal kunjungan, yakni pagi, siang, malam, dan tengah malam. Jadwal kunjungan pagi dimulai pukul 08.00, siang 14.00, dan malam 19.00. Sementara jadwal berkunjung dan berkeliling pesarean tengah malam dibatasi hanya satu jam dari pukul 24.00.

Selain ziarah di makam kedua bangsawan Yogyakarta itu, di kawasan pesarean terdapat pula Kelenteng Dewi Kwan Im dan kediaman Tan Kie Lam. Lilin-lilin merah, besar, terus bernyala. Puluhan warga Tionghoa secara bergantian berdoa di sana. Juga ada ciamsi --metode meramal nasib a la Tiongkok kuno. Mpek Lam (sapaan Tan Kie Lam) adalah warga Tionghoa yang merupakan murid kesayangan Eyang Soedjo. Itu sebabnya, meski Mpek Lam telah lama meninggal dunia, kawasan Pesarean Gunung Kawi --terutama Kuil Kwan Im dan kediaman Mpek Lam-- menjadi tempat tujuan warga keturunan Tionghoa. Bahkan, kehadiran mereka sampai sekarang sangat dominan dibanding etnis-etnis yang lain. 
Pluralitas umat beragama ini terlihat cukup harmonis. Ini bisa terlihat pada harmoni letak Masjid Imam Soedjono yang berdiri tak jauh dari Kuil Kwan Im.

Selain lokasinya yang dekat dengan masjid, keberadaan kuil itu tampak mencolok dengan lilin raksasa sebagai simbol dari Ti Kong. Lilin jumbo itu tampak mewah berada di lantai kuil berbahan batu granit. Yang paling menarik dari kuil itu adalah patung Dewi Kwan Im berwarna emas berbahan dasar perunggu setinggi delapan meter yang diletakkan di ruang khusus di depan tempat lilin Ti Kong.

Patung seharga Rp2,5 miliar itu sumbangan Liem Hong Sien alias Anthony Salim, putra Liem Sioe Ling alias Sudono Salim, pendiri Salim Grup. Patung Dewi Kwan Im dalam posisi Boddhisattva Avalokitesvara itu didatangkan langsung dari Taiwan pada Oktober 2008 lalu. Untuk mempermudah pengiriman, patung dipotong-potong kemudian dirakit kembali di Gunung Kawi.

Perakitan baru selesai akhir tahun kemarin, ujar Eko, cucu juru kunci Gunung Kawi.

Logika Pesugihan

Setiap hari kediaman Mpek Lam dan Kuil Dewi Kwan Im nyaris tidak pernah sepi pengunjung. Selain berziarah, para pengunjung umumnya mempunyai satu tujuan, yakni ngalap berkah (mencari kemakmuran). Bahkan, pada hari-hari tertentu jumlah pengunjung bisa berlipat-lipat, mengikuti penanggalan Jawa dan China, misalkan hari Jumat Legi, Hari Raya Imlek, dan perayaan Tahun Baru Jawa (bulan Suro). Tentu lengkap dengan ritual-ritual dalam versi masing-masing (Tionghoa dan Jawa).

Pengunjung yang tak pernah sepi di Pesarean Gunung Kawi tampaknya memberi berkah tersendiri bagi warga Wonosari. Kecamatan di sebelah barat Kabupaten Malang itu berkembang pesat. Penginapan dan hotel tumbuh subur di sepanjang jalan menuju pesarean. Tak ketinggalan kios-kios suvenir khas Gunung Kawi. Oleh-oleh kuliner asli adalah telo (ketela) Gunung Kawi. Bentuknya sangat kecil memanjang seperti ibu jari. Berwarna ungu tua. Bila dimasak terutama dengan cara dikukus, rasanya sangat manis seperti madu.
Dan, aliran Kejawen yang berkait erat dengan ritual selamatan tampaknya juga menjadi ladang bisnis tersendiri. Pengunjung tidak perlu repot-repot menyiapkan aneka masakan dan sesaji ubo rumpe seperti cok bakal, pisang raja, dan kelapa muda untuk keperluan selamatan, karena di sana ada loket pemesanan tumpeng dan perlengkapan selamatan, lengkap dengan jadwal selamatan.

Menu selamatan, harganya bervariasi mulai dari Rp35.000 sampai Rp550.000, dan tumpeng ayam Rp 110.000. Harga barang dan keperluan nazar juga bervariasi, mulai dari satu kotak minyak tanah Rp70.000, seekor sapi Rp10 juta, hingga menanggap wayang Rp5 juta.
Suatu waktu, tepatnya tanggal 12 Suro atau 9 Januari 2009 lalu, warga Wonosari memperingati haul (hari meninggalnya) Eyang Soedjo. Saat ngalap berkah, para peziarah galibnya menjalani ritual tertentu yang mereka yakini. Setelah itu mereka mencari tempat di sekitar kawasan Pesarean Gunung Kawi untuk menyepi. Yang paling menarik adalah berjibunnya pengunjung duduk di bawah pohon dewandaru. Konon katanya, kalau sampai kepala kejatuhan daun dewandaru, keinginan bisa terwujud.

Masuk akalkah? Salah seorang anak muda asal Gunung Kawi Asli dulu sering merasa kurang sreg atas pandangan pesugihan (ngalap berkah, mencari kemakmuran) Gunung Kawi. Bersama lima orang temannya dari Kepanjen dan Slorok, dia melakukan penelitian kecil tentang mitologi dan pengaruh sosial ekonomi bagi masyarakat sekitarnya. Kebetulan mereka bertemu dan bergabung dengan dua mahasiswi (Antropologi dan Sosiologi) asal Australia dan Jerman yang juga melakukan penelitian yang sama.

Logika pesugihan yang mereka simpulkan begini: Yang datang ke sana kebanyakan orang etnis Tionghoa yang ingin mengembangkan usahanya dan juga mereka yang merasa telah berhasil usaha yang ditempuhnya. Dalam pertemuan inilah terjadi transaksi secara tidak disengaja yang kemudian mereka saling menjadi rekan bisnis yang penting.

Ringkasnya, si anak muda itu mengilustrasikan: Ayen Si Bakul roti ambil plastik dari Ko Jang, tepung dari yuk Liek, Sementara Liong Shen yang di usaha distribusi menjadi agen penting bagi Ayen. Sebab-akibat inilah yang membuat mereka makin sugih. Apalagi bila kerjasamanya dalam kualitas dan kapasitas yang lebih besar.

Logika inilah yang harus diluruskan agar warga masyarakat tidak semakin terbenam dalam mimpi-mimpi yang menghanyutkan dan menjerumuskan. Bahkan, menyesatkan dua-akherat. (dari beberapa sumber)

No comments:

Post a Comment