Wednesday, June 5, 2013

Dana Pensiun Jadi Idola Baru Bursa Jepang




Indeks Nikkei yang kehilangan hingga 16 persen dalam dua pekan terakhir sangat membutuhkan amunisi baru. Incarannya adalah dana pensiun milik pemerintah yang mengelola US$2 triliun.

"Ini adalah pertanyaan tentang kapan investor institusi besar Jepang akan mengalokasikan dananya dari obligasi pemerintah ke aset berisiko termasuk ekuitas dalam negeri," kata Shogo Fujita kepala strategi obligasi di Bank of America Merrill Lynch Jepang seperti mengutip cnbc.com, Selasa (4/6/2013).

Pergeseran ini akan menyuntikan momentum segar ke pasar saham Jepang yang sedang jatuh. Pemerintah Jepang sudah didesak untuk mengatur dana pensiun yang mengelola dana US$2 triliun meningkatkan eksposur ke ekuitas. Hal ini untuk mendukung pertumbuhan jangka panjang seperti strategi PM Jepang, Shinzo Abe. Kebijakan Abe diharapkan akan dipublis pada pekan ini.

"Intinya, mereka (Government Pension Investment Fund and Yucho) untuk mulai mengalokasikan dana untuk aset berisiko termasuk ekuitas dan aset asing," jelas Fujita.

Dengan strategi investasi tersebut, Dana Pensiun Investasi Pemerintah (GPIF) yang mengelola tabungan pensiun pegawai pemerintah akan menargetkan untuk mengalokasikan 11 persen di bursa lokal.

"Ini akan menjadi sejarah jangka panjang. Seperti pada akhir tahun 90-an saat AS mereformasi dana pensiun mereka. Butuh waktu 10-15 tahun untuk mendapatkan portofolio mereka. Dan Jepang akan melakukan dengan cara yang sama," katanya.

Per 25 Mei, investor Jepang telah menjual US$11 miliar obligasi luar negeri. Penjualan pekan sebelumnya mencapai US$8 miliar. Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang naik pada bulan lalu. Tetapi itu dapat berubah dengan imbal hasil obligasi yang tetap.

No comments:

Post a Comment