Thursday, May 29, 2014

Kapan Sebaiknya Mengambil Pensiun Dini?

Mungkin terlintas bagi Anda untuk mengambil pensiun dini saat Anda berumur 40-an, Apalagi kalau di kantor karir juga tidak begitu bagus, tidak ada kemungkinan promosi, dan gairah kerja
semakin kendor- pensiun dini mugkin salah satu opsi yang menarik.
Sebelum Anda mengambil langkah ke sana, saya ingin membagi satu ceritera tentang pertemuan yang baru saya hadiri beberapa hari lalu, yang mungkin bisa menolong Anda melihat sisi posisif pensiun dini.

Pada pertemuan yang dihadiri kira-kira tiga puluh siswa/i SMA Jumat lalu, pembicara Calvin Bangun mengajukan satu pertanyaan yang menarik, "Berapa umur Anda?"
Anak remaja umumnya bisa menjawab dengan enteng, "Baru 16 tahun, Pak?" atau 'Baru 17 tahun, Pak" atau menyebut angka lain. Namun, bila pertanyaan yang sama diajukan kepada orang tua, mereka akan menjawab, "Sudah 50 tahun, 60 tahun atau 70 tahun," dengan nada agak berat atau datar.

Mengapa remaja menggunakan kata baru sedangkan orang tua menggunakan kata sudah? Anak remaja dan orang tua melihat umur dengan sudut pandang yang berbeda.

Anak remaja dan orang tua melihat umur dengan sudut pandang yang berbeda. Orang tua paham bahwa liang kubur sudah dekat; hidup tidak lama lagi dan ajal kematian sudah dekat.
Bagi mereka, semakin banyak umur semakin sedikit waktu yang sisa. Bila sekarang berumur 70 tahun, peluang hidup mungkin hanya beberapa tahun lagi. Bila sudah 60 tahun, peluang hidup mungkin 10 tahun lagi; bila berumur 50 tahun, peluang hidup mungkin 20 tahun lagi. Kira-kira begitu kalkulasi sederhana menghitung sisa hidup.

Ada yang memberi saran bahwa usia 30-an adalah waktu yang cocok untuk mengambil pensiun dini.

Anak remaja umumnya tidak memberikan respon seperti yang diberikan orang tua. Bagi mereka hidup masih panjang. Mereka melihat orang-orang yang sudah tua- kakek, nenek, orang tua, dosen, kenalan atau tetangga yang berumur panjang dengan uban di kepala dan wajah yang keriput dan mereka menganggap bahwa umur mereka akan panjang juga. Apakah demikian?

Siapapun tidak bisa menjamin usia sampai 70 tahun. Memang manusia bisa hidup sampai 70 tahun dan kalau ada bonus, seseorang bisa hidup sampai 80 tahun.
Tetapi, usia hidup tidak bisa dipastikan. Bila orang lain bisa hidup sampai delapan tahun- itu belum tentu terjadi bagi Anda dan saya. Hari ini kita hidup, besok bisa mati. Ada saja penyebabnya- disambar petir, ditabrak kereta api, ditimpa reruntuhan karena gempa, ditelan tsunami seperti yang terjadi di Jepang atau di Aceh. Nyawa bisa melayang dengan berbagai cara. Tak satu pun diantara kita yang mampu menentukan umur atau kapan kita maunya mati.

Imamanuel Kant pernah mengajukan empat pertanyaan penting yang harus dijawab manusia dan salah satu pertanyaan adalah 'apa yang seharusnya saya lakukan?' Jawaban bisa beragam. Misalnya, kalangan Pragmatis akan menjawab, 'pekerjaan yang harus saya lakukan adalah pekerjaan yang menghasilkan keuntungan atau uang," dengan mengacu kepada pekerjaan sehari-hari di kantor atau tempat kerja.

"Semakin cepat mengambil pensiun dini
semakin baik."

Orang Yunani Kuno menjawab lain. Meminjam pendapat para pemikir Yunani Kuno, pekerjaan alami seperti pekerjaan di kantor atau pekerjaan apa saja yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan phisik
adalah pekerjaan yang paling rendah. Orang yang bekerja demikian tidak beda dengan binatang.
Binatang mempunyai siklus hidup sederhana: mencari makan di siang hari, tidur pada malam hari dan kemudian mati pada suatu saat. Pekerjaan demikian bukanlah hal yang pantas bagi manusia. Pekerjaan harus lebih dari sekedar menghidupi kebutuhan phisik. Begitu pandangan para pemikir Yunani Kuno.

Ada benarnya kata bijak para pemikir Yunani kuno itu. Hidup memang bukan sekedar memenuhi kebutuhan hidup, mengumpulkan harta untuk kebutuhan keluarga, persiapan di hari tua, atau jaga imej. Bila demikian, kita menurunkan
'kasta' kita ke level binatang. Oleh karena itu, pekerjaan pantas mendapat perhatian serius dan bertanya, "Pekerjaan apa yang harusnya kita lakukan untuk waktu yang sisa?"

Saya melihat raut wajah para remaja yang hadir pada pertemuan Jumat lalu. Ada yang menatap pembicara dengan serius. Ada yang manggut-manggut. Muncul kesan bahwa tahun-tahun hidup memang tidak bisa dilewatkan begitu saja; setiap tahun, bulan, minggu, hari, jam, menit dan detik sangat berarti. Mereka seperti 'dibangunkan' oleh pertanyaan sederhana, "Berapa umur Anda?"
Mengambil pensiun dini memberi peluang untuk lebih produktif.

Bagaimana Anda dan saya menjawabnya? Apakah kita akan menjawab, "Umur saya masih 20 tahun, masih 30 tahun atau masih 40 tahun." Atau kita menjawab, "Umur saya sudah 20 tahun, sudah 30 tahun atau sudah 40 tahun?"

Yang Di Atas memang tidak memberi tahu umur setiap orang. Tuhan tidak memberikan klu lewat mimpi, tanda-tanda aneh atau lewat peristiwa unik. Tidak ada juga formula khusus yang bisa dipelajari.
Tak ada seorangpun tahu kapan seseorang akan kembali kepada Tuhan. Ini rahasia Tuhan yang tidak pernah dibeberkan kepada siapa bahkan kepada malaikat sekalipun.
Tapi, Tuhan sabar menunggu respon tiap orang. Kadang ia memberikan 'shock therapy' dengan 'memanggil' seseorang dengan sambaran petir, tsunami, gempa, sengatan listrik, pohon tumbang atau apa saja.

Anda dan saya tidak mau dijemput sang Ilahi secara mendadak seperti anak buah yang tiba-tiba diminta menghadap kepada atasan. Tidak mau nyawa melayang begitu saja tanpa meninggalkan pesan-pesan sama istri dan anak. Kita berharap kembali ke asal dengan tenang dan meninggalkan keluarga pada kondisi yang aman.

Mengambil pensiun dini mengadung resiko.

"Berapa umur Anda?" Apa yang Anda akan lakukan di sisa hidup Anda?" Ini pertanyaan yang tidak mudah dijawab, khususnya bagi yang sudah menikmati "comfort zone" yang 'tebal'. Pensiun dini bisa jadi pilihan menarik, tapi mengadung resiko.
(www.putra-putri-indonesia.com)

No comments:

Post a Comment