Tuesday, January 22, 2013

Bermula dari Nurani (2)



Memimpin dengan Keteladanan

Jika engkau ingin memotivasi orang, satukanlah dirimu dengan pikiran dan hati mereka. Aku memotivasi orang dengan contoh (dan aku senantiasa berharap akan mampu melakukannya) dan juga dengan kegembiraan, pun dengan memberikan ide-ide produktif yang membuat mereka merasa terlibat di dalamnya.
Keith Rupert Murdoch, Raja Media The News Corp Group

Pematang Raya, 2011. Ibukota Kabupaten Simalungun, sebuah kota yang belum sepenuhnya terbentuk. Bangunan kantor bupati belum benar-benar sempurna. Alun-alun yang lazimnya menjadi penanda (landmark) sebuah ibukota kabupaten belum memberikan tanda-tanda kehidupan. Kehidupan sehari-hari hanya berdenyut di saat-saat jam kerja kantor bupati dan segenap dinas-dinas di bawahnya. Cuma terlihat aktif selama matahari terlihat di mata. Di luar waktu itu, Pematang Raya terasa sepi, nyaris bagai kota mati.
Tapi, Bupati Simalungun JR Saragih tidak ingin meninggalkan Pematang Raya yang terasa sunyi di malam hari. Dia ingin menghidupkan denyut Pematang Raya kendati sebagian besar aparatur yang dipimpinnya memilih menetap di Pematang Siantar. Sebuah kota yang sudah dinamis dan dulu memang menjadi ibukota Kabupaten Simalungun. Setelah Pematang Siantar minta mekar menjadi kota yang otonom, Kabupaten Simalungun mesti merintis membangun ibukota baru di Pematang Raya.
Tidak mudah memang hidup di sebuah wilayah rintisan yang segala sesuatunya masih dalam tahap pembangunan dan penyempurnaan. Ibarat kita harus membuka hutan belantara untuk permukiman yang hendak kita tempati. Namun, sekali lagi, JR Saragih ingin terus menghidupkan Pematang Raya. Untuk terus menghidupkan denyut itu, dia memilih menetap di Pematang Raya, tidak pergi-pulang Pematang Siantar – Pematang Raya. Sebagai pemimpin, dia ingin memberi teladan dan memotivasi segenap aparaturnya agar Pematang Raya cepat tumbuh dan berkembang menjadi kota yang layak menjadi ibukota sebuah kabupaten. Pematang Raya perlu dihidupkan dan yang menghidupkan sudah barang tentu harus dimulai dari sang pemimpin tertinggi.
Apa yang dilakukan oleh Bupati JR Saragih itu tak lain merupakan implementasi dari nasihat cendekiawan dan guru bangsa Ki Hajar Dewantara yang sohor dengan prinsip-prinsip kepemimpinan yang dituturkan dalam bahasa Jawa halus Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani. Sebuah nasihat sederhana namun sarat makna. Bahwa seorang pemimpin itu mengemban tiga tugas pokok, yaitu memberi teladan (exampling), memberikan inspirasi (inspiring), dan memotivasi (motivating). Nasihat yang cukup populer di kalangan para pemimpin dan calon pemimpin yang mengikuti pendidikan di Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas), para peserta penataran P-4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) semasa Orde Baru, dan pendidikan kepemimpinan serupa lainnya.
Persoalannya kemudian, apakah mereka yang lulus dari Lemhanas atau penataran P-4 mengikuti nasihat Guru Bangsa tersebut? Ternyata tidak. Banyak di antara mereka yang telah mengikuti pendidikan semacam itu memperlihatkan perilaku yang kurang terpuji di mata masyarakat. Nilai-nilai yang diperoleh selama mengikuti pendidikan tidak diterapkan secara konsekuen dan konsisten, dan nyaris tidak ada keteladanan dari para pemimpin kita dalam menerapkan nasihat Ki Hajar Dewantara tadi.

A. Menebar Keteladanan
Bupati JR Saragih tak ingin menjadi pemimpin yang nihil keteladanan. Dia ingin menebar keteladanan. Dia menyadari bahwa keteladanan yang baik merupakan faktor yang menentukan apabila kita ingin mengubah atau memperbaiki keadaan masyarakat, tak terkecuali masyarakat Kabupaten Simalungun yang masih jauh tertinggal dibandingkan wilayah lain di Indonesia. Memang, keteladanan kini sudah menjadi barang langka dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Bangsa kita sedang dalam kondisi sakit parah. Kondisi ini harus cepat diperbaiki bila kita menginginkan masyarakat Simalungun tetap eksis dan berkembang maju.
Teladan, sungguh kata yang sarat makna, yang mesti tetap diupayakan. Pertanyaannya, mesti dimulai dari mana? Pertanyaan yang tampaknya tidak mudah untuk menjawabnya. Ketika telah berada dalam lingkaran setan, maka harus ada terobosan. Sejatinya, jawabannya sederhana saja. Keteladanan, di mata JR Saragih, harus dimulai dari diri sendiri, keluarga, kelompok, pemerintahan kecamatan, pemerintahan kabupaten, pemerintahan provinsi dan seterusnya.
Dalam konteks pemerintahan daerah kabupaten, sebagai pemimpin, kepala daerah atau bupati, JR Saragih tentu terus giat melakukan berbagai perubahan yang terus berkesinambungan dalam rangka membuat pemerintahan daerah yang dipimpinnya berkinerja tinggi, dipercaya warga masyarakat, memiliki keunggulan bersaing yang lestari, dan berdaya tarik kuat buat investasi. Keberhasilan untuk mencapai semua itu tergantung pada beberapa faktor, dan salah satunya yang penting adalah keteladanan.
Boleh dikatakan keteladan merupakan sentral dalam proses perubahan yang sedang dilaksanakan. Dan keteladanan harus dilakukan oleh setiap pemimpin yang ada di lingkungan pemerintahan daerah, mulai dari bupati sampai dengan pemimpin terendah kepala nagori. Kepemimpinan adalah keteladan! Suatu kepemimpinan akan berjalan secara baik bilamana terdapat keteladanan dan kewibawaan dari sosok yang memimpin serta ketaatan dan disiplin dari yang dipimpin. Memimpin tidak cukup bermodalkan kemampuan teknis semata. JR Saragih berusaha tampil dan mampu menjadi teladan kebaikan bagi orang-orang yang dipimpinnya.
Keteladanan adalah perintah tanpa kata-kata. Orang lain lebih senang mengikuti teladan daripada kata-kata perintah. Sebab itu, keteladanan menjadi cara yang efektif untuk mempengaruhi anak buah dalam bersikap dan bertindak. JR Saragih menyadari, sebagai pemimpin yang memperoleh amanah dari rakyat Simalungun, dia berusaha memberikan atau menebar keteladanan agar rakyat yang memilihnya mempercayai sepenuh aspirasi. Keteladanan adalah memberikan contoh melalui perbuatan atau tindakan nyata.
JR Saragih memahami, kendati prinsip keteladanan cukup efektif, penerapannya tidaklah sederhana. Dibutuhkan konsistensi dan integritas dalam menerapkan keteladanan yang harus diberikan. R. Bruce McAfee & Betty J. Ricks dalam bukunya yang berjudul Leadership By Example: Do as I Do! memberikan guide line berupa lima kunci utama dalam memberi keteladanan.
Pertama, taat pada aturan. Jika sebagai pemimpin kita mentaati peraturan yang berlaku di pemerintahan daerah maka anak buah (segenap aparatur pemerintahan daerah) akan respek dan memiliki tanggung jawab moral mentaati peraturan sebagaimana yang kita taati. Karena itu, JR Saragih berusaha menunjukkan keteladanan dengan terlebih dulu mentaati peraturan-peraturan pemerintahan daerah.
Kedua, pencapaian target kinerja. JR Saragih tentu berharap segenap aparatur di lingkungan Pemerintah Kabupaten Simalungun bekerja mencapai prestasi seperti yang ditargetkannya. Untuk itu, terlebih dulu dia meningkatkan prestasi dirinya sebagai seorang pemimpin. Dengan raihan prestasi dirinya, para aparatur yang dipimpinnya akan terpacu untuk berpestasi juga.
Ketiga, memiliki sikap mental positif. JR Saragih berusaha mengawal segala aktivitas pemerintahan daerah Kabupaten Simalungun dengan sikap positif. Dia berupaya menumbuhkan sikap positif terhadap pekerjaan dan tanggung jawab pelayanan masyarakat. Dia berusaha menebar sikap positif terhadap apa yang dilakukan oleh segenap aparatur pemerintahan daerah sehingga mampu menumbuhkan kepercayaan publik. Selama ini publik sudah terlalu apatis dan berprasangka negatif terhadap segala aktivitas yang dilakukan oleh aparatur pemerintahan derah. Hal ini tak terlepas dari perilaku dan sikap negatif yang mereka kesankan selama ini. Mereka memberi kesan, misalkan, semua urusan dengan aparatur ujung-ujungnya duit, segala urusan dengan aparatur terasa berbelit dan rumit. JR Saragih berikhtiar menghapus sikap dan perilaku negatif ini.
Keempat, penampilan fisik yang prima. JR Saragih menyadari bahwa penampilan mempengaruhi kewibawaan seorang pemimpin. Jika sebagai pemimpin penampilannya rapih, bersih dan segar, maka anak buah (segenap aparatur yang dipimpinnya) akan semakin bergairah meneladani sang pemimpin.
Dan kelima, komunikasi interpersonal yang baik dan tepat. Cara berbicara dan bahasa tubuh seorang pemimpin secara personal terhadap orang lain, anak buah dan lingkungan sangat mempengaruhi keberhasilan seseorang dalam memberikan teladan. Sebagai pemimpin yang berhasil, JR Saragih perlu tampil sebagai sosok yang penuh wibawa melalui komunikasi yang tepat.
Berbekal kelima prinsip tadi, JR Saragih berusaha menerapkan prinsip yang dikenal sebagai leadership by example. Dengan suara tegas dia kerap berujar: “Do as I do!” Secara terus-menerus, dia berupaya mengikis sikap hipokrit seorang pemimpin yang berprinsip “Do as I say, not as I do!” Dia tidak ingin meninggalkan kenangan dan kesan buruk di tanah kelahirannya.
Maka ketika Pematang Raya masih terasa sepi dan sunyi, dia memberi contoh untuk tetap tinggal dan meramaikan ibukota Kabupaten Simalungun itu. Barangkali, dirinya tidak terlalu bermasalah tinggal di sini karena memang tersedia rumah dinas. Hal ini menjadi bermasalah bagi aparatur yang selama ini telah memiliki rumah di Pematang Siantar.
Agar keteladannya tinggal di Pematang Raya tidak sekadar kata-kata imbauan yang tidak membumi, JR Saragih bertekad kuat membangun sejumlah sarana dan prasarana kehidupan bermasyarakat di kota yang baru diretas ini. Buat segenap Pegawai Negeri Sipil (PNS) aparatur pemerintah kabupaten, dia bertekad –paling lambat tahun 2013—sudah terbangun atau menyediakan 3.000 unit rumah di sekitar kota Pematang Raya. Dengan demikian, diharapkan, mereka bersedia berpindah dari Pematang Siantar ke Pematang Raya.
Tidak cuma sampai di situ saja. Dia pun berketetapan menghidupkan denyut nadi perekonomian di wilayah Pematang Raya. Selama rentang waktu kepemimpinannya di Kabupaten Simalungun, dia membangun pasar tradisional yang hidup 24 jam di Saribudolok, Silimakuta, dan Haranggaol. Dengan harapan, para petani Simalungun dapat memasarkan hasil-hasil pertaniannya di “rumah” sendiri. Mereka tidak perlu lagi memasarkan hasil pertanian melalui Tanah Karo. “Selama ini petani kami tidak bisa memasarkan langsung lewat wilayah Kabupaten Simalungun. Mereka harus memasarkan melalui pasar-pasar tradisional di Tebingtinggi, Pematang Siantar dan Tanah Karo. Selain mereka menghadapi mata rantai yang relatif panjang, daerah Simalungun juga tidak memperoleh apa-apa dari aktivitas pertanian andalan,” ujar JR Saragih. Dan, akibatnya, hasil-hasil pertanian asal Simalungun justru lebih dikenal sebagai hasil dari daerah lain. Misalkan jeruk Saribudolok yang lebih dikenal sebagai jeruk Tanah Karo atau kopi Simalungun yang malah popular sebagai kopi Sidikalang.
Selain menghidupkan denyut perekonomian Pematang Raya, JR Saragih berusaha pula melengkapi fasilitas pendidikan yang komprehensif. “Target saya, Pematang Raya tampil menjadi kota pendidikan. Jadi harus dibangun lembaga pendidikan yang baik dan representatif di daerah ini. Kami buat lembaga pendidikan SMP dan SMA Satu Atap, kemudian SD Plus. Dengan anak-anak kami pindah ke Pematang Raya, kami berharap cara berpikir warga masyarakat Simalungun akan berubah yang pada akhirnya akan meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan menaikkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) sebagai salah satu indikator kemajuan masyarakat,” papar JR Saragih.
Sebagai pemimpin, JR Saragih telah merentang target-target yang harus dicapai agar warga masyarakat Simalungun merasa terayomi, termotivasi dan terinspirasi.

B. Datang untuk Melayani
Satu hal yang tidak pernah terlupakan dalam diri Bupati JR Saragih adalah sikapnya yang senantiasa berusaha memenuhi undangan dari warga Simalungun. Sesibuk apapun (kecuali tengah berada di luar kota, Jakarta misalnya), dia berusaha memenuhi semua undangan warga masyarakat. Mulai dari undangan meresmikan tempat ibadah, undangan peringatan hari besar keagamaan, sampai undangan perhelatan tradisi-adat masyarakat. Dia tidak mau mengecewakan rakyat yang telah memberi amanat untuk memimpin masyarakat Kabupaten Simalungun. Dia terus melayani.
Sebagai umat Kristiani, JR Saragih berusaha mewarnai kepemimpinannya dengan karakteristik kepemimpinan rohani yang bertumpu kepemimpinan yang “menghambakan” diri. Kepemimpinan yang bukan untuk mencari keuntungan materi maupun non-materi, melainkan untuk pelayanan. Merujuk pada buku suci yang diyakininya, bahwa para raja bertahta bukan untuk meninggikan diri atas rakyat (Ul. 17:20). Korah ditegur dan dihukum akibat sikap kepemimpinan yang mengutamakan kedudukan (Bil. 16:933). Paulus memandang jabatan rasuli bukan untuk kemuliaan dirinya, melainkan untuk bekerja keras dalam pelayanan (2Kor. 11-12; 1Kor. 15:910). Para penatua gereja dipanggil untuk menggembalakan dan memelihara umat Allah (Ibr. 13:17; 1Ptr. 5:23). Yesus mengajarkan kepemimpinan sebagai “menjadi hamba” dan Dia menegaskannya melalui keteladanan-Nya (Mrk. 10:3545).
Dengan prinsip melayani tadi, JR Saragih juga berusaha mewarnai kepemimpinannya berdasarkan karakter yang baik. Dalam keyakinan agamanya, kepemimpinan sangat menekankan karakter yang teruji. Otentisitas kepemimpinan bergantung pada ketaatannya terhadap Tuhan dan meneladani sifat Tuhan. Dengan otentisitas tersebut maka kepemimpinan memiliki legitimasi dan otoritas untuk memimpin.
JR Saragih juga berusaha memimpin berdasarkan motivasi rohani. Kepemimpinan sekuler pada umumnya berjalan berdasarkan kekuatan manusiawi dan bertujuan untuk meraih keuntungan pribadi. Sedangkan kepemimpinan rohani harus menanggalkan pementingan diri dan motivasinya untuk kepentingan orang lain dan kemuliaan Tuhan.
Dengan bersandar pada prinsip melayani dan motivasi rohani, JR Saragih mendasarkan otoritas kepemimpinanya pada pengorbanan. Dia mengusung prinsip yang disebut “pemimpin pelayan” (a servant leader). Dia menghindari kepemimpinan yang berakar pada arogansi yang membuatnya bertindak dominan berdasarkan rasa superioritas. Agama yang diyakininya  mengajarkan bahwa ciri khas dan kebesaran pemimpin terletak bukan pada posisi dan kuasanya, melainkan pada pengorbanannya. Hanya melalui tindakan melayani, seseorang menjadi besar. Pemimpin yang memberi keteladanan dan pengorbanan akan memiliki wibawa untuk memimpin orang lain.
Tentu, JR Saragih tidak sekadar melayani dalam memimpin masyarakat Kabupaten Simalungun. Karena, melayani saja dapat disalah-artikan dan disalah-gunakan oleh banyak kalangan, terutama kalangan-kalangan yang merasa kurang puas terhadap kebijakan dan program pembangunan yang digulirkan. Untuk itulah, selain melayani, dia pun melengkapi sikap kearifan dalam memimpin.
Dengan kearifan, orang akan mampu menguasai diri. Di tengah kelimpahan sumber daya manusia yang mencapai 120 orang eselon II sementara hanya ada 40 kursi jabatan di SKPD, kalau JR Saragih tidak bertindak arif dan mampu mengendalikan diri maka akan terjadi kekacauan.
Penguasaan diri itu penting karena akan mempengaruhi setiap aspek sebuah organisasi, termasuk pemerintahan daerah. Bagaimana kearifan dan penguasaan diri mempengaruhi pemerintahan daerah? Andaikata seorang bupati bereaksi marah ketika ada seseorang dari eselon II marah-marah karena kecewa, tentu citra negatif akan melekat pada diri sang bupati. Hubungan antara bupati dan segenap aparatur di bawahnya akan berantakan. Di sini, penguasaan diri dan kearifan menjadi sangat penting.
Lalu, bagaimana cara memelihara penguasaan diri? Terdapat tiga langkah sebagaimana disarankan oleh Jay Rifenbary dalam bukunya yang berjudul No Excuse! untuk membantu agar kita mampu memelihara penguasaan diri dalam segala hal. Pertama, mendengarkan sebelum berpikir. Bila seorang pemimpin tidak mendengarkan para bawahannya sebelum mengambil suatu keputusan, maka dia belum tahu keseluruhan permasalahannya. Tanpa mendengarkan dan mengumpulkan informasi yang lengkap dan akurat, seorang pemimpin cenderung hanya menuruti kemauan sendiri.
Kedua, berpikir sebelum menilai. Seorang pemimpin mesti mengumpulkan seluruh data yang berhubungan dengan sebuah permasalahan yang tengah dihadapi masyarakat baru kemudian membuat sebuah keputusan atau kebijakan. Selain itu, dia juga harus memikirkan situasi yang tengah terjadi. Bila situasi saat itu penuh emosional, seorang pemimpin harus mampu memisahkan emosi dari fakta yang ada.
Dan ketiga, menilai sebelum bertindak. Setelah berbagai data terkumpul, tibalah saatnya untuk menilai. Selanjutnya, laksanakanlah berbagai kebijakan atau tindakan apa pun yang akan diambil.
Kehidupan seorang pemimpin akan menjadi jauh lebih baik ketika sang pemimpin siap dengan cara berpikir yang mengutamakan kearifan dan penguasaan diri. Sang pemimpin akan mampu menangani siapa saja dan permasalahan apa saja yang dihadapi. Penguasaan diri sangat penting khususnya bagi seorang pemimpin pada semua level. Tanpa penguasaan diri, seorang pemimpin akan kehilangan kredibilitas dan kemungkinan kecil para bawahan akan mengikutinya.
Dengan penguasaan diri dan kearifan itulah, JR Saragih berusaha menata birokrasi dan aparatur yang mengawakinya. Ketika pulang untuk memimpin masyarakat Simalungun, dia mendapati fakta piramida terbalik proporsi Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Simalungun. Artinya, jumlah PNS dengan pangkat tinggi menempati porsi yang relatif tinggi. Salah satu contohnya kursi jabatan di SKPD untuk 40 orang, sementara PNS yang layak menempati kursi tersebut mencapai 120 orang dan hampir tidak ada yang di level pelaksana.
Secara hati-hati, JR Saragih melakukan pendekatan kepada para PNS yang non-job. Dia mengajak mereka untuk tidak semata-mata meninggikan kepangkatan yang melekat. Dia lebih banyak mencontohkan dirinya yang secara materi sebenarnya sudah tidak kekurangan tapi masih mau turun ke daerah yang relatif tertinggal. “Mari kita bekerja untuk membangun daerah ini. Jangan melihat pangkat yang tinggi. Saya datang ke daerah ini ingin menjadi pelayan, bukan dilayani,” ujar JR Saragih dalam berbagai kesempatan berdialog dengan PNS di jajaran Pemerintah Kabupaten Simalungun.  
Melalui pendekatan penuh kehati-hatian, JR Saragih mengajak aparatur di bawahnya bekerja mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik yang diupayakan melalui langkah-langkah: Memacu organisasi SKPD yang visioner, Meningkatkan keterbukaan dan transparansi informasi, Meningkatkan partisipasi masyarakat, Meningkatkan akuntabilitas dalam pelayanan pemerintahan, Meningkatkan supremasi hukum, Meningkatkan demokratisasi dalam penyelenggaraan pemerintah daerah, Meningkatkan profesionalisme dan kompetensi penyelenggaraan pemerintah daerah, Meningkatkan daya tanggap aparatur pemerintah, dan Meningkatkan efisiensi pengelolaan keuangan dan efektivitas pengelolaan aset.
Langkah-langkah tersebut bertujuan mengajak segenap aparatur Pemerintah Kabupaten Simalungun berkompetisi secara sehat dalam berkarir dan bersama-sama membangun wilayah Simalungun yang lebih berpengharapan.

C. Memantik Semangat Menuju Sukses
Tampak ada pesimisme di kalangan masyarakat Simalungun dalam menghadapi masa depan. Masa depan terasa suram. Masa depan terasa nihil harapan. Setidaknya hal itulah yang JR Saragih rasakan tatkala menginjakkan kakinya menapaki pengabdian sebagai Kepala Daerah Kabupaten Simalungun. Banyak warga masyarakat merasa jenuh ketika anak-anaknya telah menamatkan pendidikan tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) atau Sekolah Menengah Atas (SMA). Mereka kehilangan motivasi untuk menyekolahkan anak-anaknya ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi lagi. Padahal, potensi anak-anak muda Simalungun tidak kalah dibandingkan anak-anak muda dari daerah lain.
Satu hal yang menyebabkan mereka pesimis, bahwa mereka kehilangan semangat dalam menghadapi kehidupan. Padahal, semangat ini memegang peran penting dalam memompa kehidupan anak manusia untuk menatap masa depan yang cerah. Di dunia ini, demikian pedapat Panglima Perancis dalam Pertempuran Waterloo (1815) Napoleon Bonaparte, hanya terdapat dua kekuatan, yakni pedang dan semangat. Dalam jangka panjang, yang pertama selalu tertaklukkan oleh yang kedua.
Ya, semangat. Menjadi daya dorong yang begitu kuat bagi setiap insan dalam menapaki kehidupan. Satu hasil survai menunjukkan bahwa lebih dari 50 persen CEO (Chief Executive Officer) perusahaan yang masuk Fortune-500 hanya memperoleh nilai rata-rata C atau C- ketika mereka kuliah. Berikutnya, hampir 57 persen dari seluruh Presiden Amerika Serikat (AS) hanya mencapai peringkat bawah menengah di kelasnya. Pertanyaannya, apa sebenarnya yang mendorong orang-orang yang tampaknya biasa-biasa saja itu mampu mencapai hal-hal besar dan menjadi orang-orang yang luar biasa? Jawabannya adalah: semangat!
Kemudian, dalam dunia politik kita mengenal nama Nelson Mandela. Kemerdekaan dan kemajuan Afrika Selatan tidak lepas dari peranannya sebagai seorang pemimpin moral dan politik. Dia membaktikan hidupnya membela rakyat terindas akibat politik apartheid, kendati untuk itu dia harus melewatkan lebih dari 25 tahun jalan hidupnya di balik terali besi penjara. Mandela merupakan referensi sebagai seorang pejuang kemerdekaan hak azazi manusia dan persamaan ras. Apa yang menyebabkan Nelson Mandela mampu melakukan semua itu? Jawabannya sama, yakni: semangat. Semangat Mandela merupakan ciri khas seorang pemimpin politik yang paling mengesankan dan inspiratif di dunia. Dia pernah mengatakan: “Zaman ini tidak akan berakhir gara-gara kejahatan, tetapi lebih disebabkan oleh kurangnya semangat.”
Apa itu semangat? Semangat (passion) adalah antusiasme yang besar terhadap suatu kegiatan. Semangat berarti pula keinginan atau kecintaan yang dalam. Jika kita memiliki hasrat yang membara terhadap suatu hal, tidak ada satu pun hal di dunia yang dapat menghentikan kita guna meraihnya, termasuk tantangan dan kesulitan apapun yang kita hadapi. Hasrat yang tidak terbentung akan menyingkirkan semua rintangan dan tembok penghalang secara mental yang timbul dalam kehidupan yang kita alami.
Banyak lagi dampak dari semangat yang tinggi. Semangat akan membuat kita menjadi lebih berdedikasi dan produktif. Orang yang memiliki semangat besar dan sedikit keterampilan akan lebih unggul dibandingkan orang yang memiliki keterampilan hebat namun tidak memiliki semangat. Semangat juga dapat memberi pengaruh lebih besar terhadap kepribadian seseorang, karena dapat membuat seseorang yang biasa-biasa saja mencapi hal-hal yang luar biasa.
Satu hal lagi. Semangat akan melahirkan keajaiban. Bila kita sedang bekerja atau melakukan kegiatan dengan bersemangat dan dengan penuh keyakinan dan percaya diri, maka kegiatan yang sepatutnya “gagal” pun tidak jadi gagal lantaran kita tidak mempercayai kegagalan.
Orang yang bersemangat dan orang yang tidak bersemangat jelas sangat berbeda. Orang yang betul-betul bersemangat dapat dilihat pada auranya. Elektron-elektron orang yang bersemangat akan bergetar dan menghantar gelombang ke segenap alam. Pancaindera seperti mata atau telinganya sensitif terhadap hal-hal yang berkaitan dengan tujuan karena pikiran bawah sadarnya telah terangsang secara berkesinambungan.
Bila kita berada dalam semangat tinggi maka diibaratkan raksasa dalam diri kita telah bangkit. Apabila timbul masalah maka kita akan memperoleh ide, entah dari mana, dan mampu menghindarinya. Kita pun akan lebih mudah dalam mengambil keputusan yang sulit lantaran memiliki banyak informasi, imajinasi, ide, fakta dan inspirasi yang terpantik di dalam diri yang bersatu membantu kita membuat keputusan.
Semangat akan senantiasa melahirkan ilham, kegagalan tidak terwujud, dan ide datang dari segala penjuru. Pancaindera kita akan sangat peka dan melihat semua petunjuk menuju ke arah keberhasilan.  Jadi, semangat merupakan modal utama memperoleh kemajuan dan kesuksesan dalam kehidupan. Seseorang akan mampu mencapai kejayaan jika ia bekerja dengan penuh semangat. Ya, orang yang bersemangat senantiasa dahaga akan kesuksesan.
Terkadang kita bersemangat mendengar ceramah motivasi yang diberikan oleh para motivator andal dan pulang dengan penuh semangat. Namun, dua-tiga hari berselang kita kembali memble, kembali ke rutinitas sediakala. JR Saragih berusaha terus memotivasi segenap aparaturnya agar memelihara semangat dengan mengobarkan: pertama, menciptakan tujuan spesifik dalam tugas membangun Kabupaten Simalungun. Misalkan dalam hal memajukan sektor pertanian sebagai andalan mencapai masyarakat makmur dan sejahtera. Pembangunan pertanian di Simalungun akan menyasar pada pengembangan dan pengelolaan irigasi dengan arah meningkatkan fungsi jaringan irigasi dan mengembangkan inovasi pendanaan dan meningkatkan kapasitas kelembagaan pengelolaan irigasi.
Kedua, kemauan untuk secara terus-menerus mengembangkan diri. Pengembangan diri ini dapat dilakukan di mana pun dan kapan saja, misalnya dengan mengikuti pendidikan dan pelatihan. Bupati JR Saragih berupaya tiada henti untuk membuka kesempatan mengikuti pendidikan dan pelatihan buat para petani di wilayah Kabupaten Simalungun.
Dan ketiga, mengembangkan media bergaul dengan orang-orang yang bersemangat. Jika kita ingin tetap bersemangat tinggi maka kita harus bergaul dengan orang-orang yang senantiasa bersemangat. Sekadar contoh dalam hal mendorong semangat memajukan pendidikan, JR Saragih selalu mengobarkan semangat mencontoh pengembangan pendidikan yang dilakukan oleh lembaga pendidikan yang dilaksanakan oleh komunitas umat Katolik Simalungun. “Menyelenggarakan pendidikan sebenarnya menjadi tugas pemerintah, namun umat Katolik sudah banyak yang mengembangkan pendidikan di wilayah Simalungun. Semangat ini diharapkan bisa dicontoh oleh warga yang lain di sini,” ujar Bupati JR Saragih saat meresmikan Jalan SMA Vanduyhoven Saribudolok, Kecamatan Silimakuta, akhir tahun 2011 lalu.
Pesan JR Saragih terang dan gamblang, bahwa para aparatur pemerintah dan warga masyarakat Kabupaten Simalungun harus bersemangat. Seorang aparatur yang pandai tanpa disertai semangat tidak akan ada arti kontribusinya bagi jalannya pemerintahan kabupaten dibandingkan aparatur dengan kemampuan standar tapi memiliki semangat tinggi. Banyak hal yang bisa dilakukan oleh orang yang mempunyai semangat tinggi. Semangat tinggi untuk maju dapat memperbaiki berbagai kesalahan, mengubah ketidakberdayaan menjadi keberhasilan, mengubah kegagalan menjadi kemenangan, dan membantu mengenali peluangan di balik ancaman.
Terlebih pada para aparatur yang menjadi pemimpin di unit kerja di pemerintahan kabupaten. Hanya pemimpin yang memiliki semangat tinggi yang mampu memberi dampak dan menyalakan api semangat bagi unit kerjanya dalam mencapai target-target yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Kabupaten Simalungun.     
Pada lima tahun kepemimpinannya, Bupati JR Saragih ingin dukungan segenap aparatur dan warga masyarakat Simalungun untuk mencapai delapan target Millenium Development Goal’s (MDGs). MDG’s merupakan sebuat target yang ditetapkan melalui Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 1990 dan pencapaiannya diharapkan pada tahun 2015 dan 2020. Adapun kedelapan target yang hendak dicapai adalah:
Pertama, diberantasnya kemiskinan dan kelaparan ekstrim dengan indikator pada tahun 1990 sampai 2015 menurunkan separuh dari proporsi orang yang hidup dengan kurang dari $1 per hari dan menurunkan separuh dari proporsi orang yang menderita kelaparan.
Kedua, pemerataan pendidikan dasar dengan indikator pada tahun 2015 semua anak laki-laki dan perempuan dapat menyelesaikan pendidikan dasar.
Ketiga, meningkatkan persamaan gender dan pemberdayaan kaum wanita dengan indikator dihapuskannya diskriminasi gender, khususnya dalam pendidikan dasar dan menengah untuk tahun 2005 dan pada semua tingkat pendidikan di tahun 2015.
Keempat, menurunkan tingkat kematian anak dengan indikator menurunnya tingkat kematian balita sebesar 2/3 dari tahun 1990 sampai tahun 2015.
Kelima, meningkatkan kesehatan ibu hamil dengan indikator turunnya rasio kematian ibu hamil sebesar ¾ dari tahun 1990 sampai tahun 2015.
Keenam, memberantas HIV/ AIDS, malaria dan penyakit menular lainnya dengan indikator mulai menghentikan penyebaran HIV/ AIDS dan telah selesai diberantas pada tahun 2015 dan mulai menghentikan timbulnya penyakit malaria dan penyakit besar lainnya dan telah selesai diberantas pada tahun 2015.
Ketujuh, memastikan keberlangsungan lingkungan (environtmental sustainability) dengan indikator menggabungkan prinsip pembangunan yang berkelanjutan (developmental sustainability) ke dalam program dan kebijakan negara dan menekan tingkat kehilangan dan kerusakan sumber daya lingkungan; pada tahun 2015 mengurangi separuh dari proporsi masyarakat yang tidak memiliki akses berkelanjutan terhadap air minum dan sanitasi yang aman; tahun 2020 telah mencapai peningkatan yang signifikan pada kehidupan penduduk di perkampungan miskin.
Dan kedelapan, membangun kemitraan global untuk pembangunan dengan indikator melakukan pembangunan lebih lanjut terhadap sistem keuangan dan perdagangan yang terbuka, berbasis peraturan (rule-based) dapat diprediksi dan tidak terdiskriminasi
Kedelapan target tersebut kemudian diperinci ke dalam indikator kinerja daerah dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Simalungun Tahun 2011-2015 yang hendak dicapai sebagaimana tergambar dalam tabel berikut:
Tabel Indikator Kinerja dalam RPJMD Kabupaten Simalungun 2011-2015





No.
Uraian
Kondisi Eksisting
2011
2012
2013
2014
2015
Visi : “Terwujudnya Masyarakat dan Daerah Kabupaten Simalungun yang Makmur Perekonomian, Adil, Nyaman, Taqwa, Aman dan Berbudaya” (MANTAB)
Misi 1 : Peningkatan dan percepatan pembangunan infrastruktur
1
Rumah Tangga pengguna Air bersih
15,94%
15,59%
16,04%
16,09%
16,14%
16,19%
2
Jumlah Sambungan PDAM






3
Penangan jalan rusak berat
151,50 km
30,30 km
30,30 km
30,30 km
30,30 km
30,30 km
4
Penangan Jembatan
318,50 m
63,70%
63,70%
63,70%
63,70%
63,70%
5
Pengembangan/Pembangunan PLTMh
3 unit
1 unit
1 unit
1 unit
1 unit
1 unit
6
Perencanaan Pembangunan/Renovasi Rumah kumuh

2 kecamatan
7 kecamatan
7 kecamatan
7 kecamatan
8 kecamatan
7
Rumah layak huni
37,75%
37,76%
37,77%
37,78%
37,79%
37,80%
8
Perencanaan Tata Ruang

RTRW Kabupaten Simalungun
RUTR Kec. Dolok Panribuan, Dolok Silau, Tapian Dolok, Bosar Maligas, Purba, Tanah Jawa, Siantar, Jorlang Hataran, Bandar, Silimakuta, Sidamanik dan Rencana Kawasan Strategis Ibukota Kabupaten
RUTR Kec. Ujung Padang, Pam. Bandar, Silau Kahean, Pane, Raya Kahean, Dolok Batu Naggar dan Pamatang Silimakuta
RUTR Kec. Girsang Sipangan Bolon, Haranggaol Horison, Gunung Maligas, Gunung Malela, Bandar Masilam
RUTR Kec. Bandar Huluan, Huta Bayu Raja, Hatonduhan, Dolok Pardamean, Pam. Sidamanik
9
Pengembangan Kapasitas Air Minum dan dukungan prasarana dan sarana air minum

150 Unit
150 Unit
150 Unit
150 Unit
150 Unit
10
Pengembangan Prasana Drainase

17,250 m
17,250 m
17,250 m
17,250 m
17,250 m
11
Pelayanan Kebersihan/Sampah Terangkut (%)
Produksi sampah 426,556 m3 (sampah terangkut 13 %)
15%
17%
19%
21%
23%
12
Jumlah Kawasan kumuh
4,99%
4,985%
4,980%
4,975%
4,970%
4,965%
13
Jaringan Irigasi Kondisi baik
64,50%
67,50%
70,50%
73,50%
76,50%
79,50%
14
Rumah Tangga bersanitasi
43,770%
43,775%
43,780%
43,785%
43,790%
43,795%
15
Pembangunan jalan usaha tani
3 km
6,3 km
6,5 km
7 km
7,4 km
8 km
16
Rehabilitasi JITUT/JIDES
12 km
6,5 km
6,8 km
7,2 km
7,6 km
8 km
17
Tingkat ketaatan terhadap RTRW
%
100
100
100
100
100
18
Konservasi tanah dan air             






  a. Pemb sumur resapan
unit
10
10
15
15
15
  b. Pemb. Embung air
unit
2
2
2
2
2
20
Pencegahan dan pengendalian kerusakan hutan dan lahan
Kecamatan
7
7
7
7
7
21
 Pengawasan dan pengendalian peredaran hasil hutan
Kecamatan
7
7
7
7
7








Misi 2 : Percepatan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas
1
Pertumbuhan ekonomi
4,67%
4,90%
5,15%
5,41%
5,68%
5,96%
2
PDRB ADHB (Rp. Juta)
9.221.624,92
10.143.784,11
11.158.162,52
12.273.978,78
13.501.376,65
14.851.514,32
3
PDRB ADHK (Rp. Juta)
5.285.269,18
5.549.532,64
5.827.009,27
6.118.359,73
6.424.227,72
6.745.491,61
4
PDRB/Kapita (Rp.)
10.724.330,00
11.796.763,00
12.976.439,00
14.274.083,23
15.701.491,55
17.271.640,71
5
Pengeluaran Riil per kapita per bulan (%)







*60,000-149,999
2,95%
2,80%
2,66%
2,53%
2,40%
2,28%

*150,000-299,999
41,64%
41,70%
41,73%
41,76%
41,75%
41,81%

*300,000-499,999
38,82%
38,88%
38,96%
39,03%
39,14%
39,17%

* > 500,000
16,59%
16,62%
16,65%
16,68%
16,71%
16,74%
6
Angka Kemiskinan (RTS)
61.326
58.260
55.347
52.579
49.950
47.453
7
Koperasi Aktif
86,09%
88,09%
90,09%
92,09%
94,04%
96,06%
8
Jumlah UMKM
84,84%
86,84%
88,84%
90,84%
92,84%
94,84%
9
Pemulihan Lahan Kristis
30391500 Ha
100 Ha
100 Ha
100 Ha
100 Ha
100 Ha
10
Pelayanan Perijinan (% pelayanan sesuai prosedur)
100%
100%
100%
100%
100%
100%
11
Pembibitan komoditi perkebunan :







- Kelapa Sawit
Batang
           10.000
           11.000
           12.000
            13.000
             14.000

- Coklat
Batang
           15.000
           17.000
           19.000
             21.000
            23.000

- Karet
Batang
           15.000
           17.000
           19.000
             21.000
            23.000

- Kopi
Batang
           15.000
           17.000
           19.000
            21.000
            23.000
12
Pembibitan komoditi perkebunan :







- Padi
Ton
                  10
                 15
                  20
                   25
                   30

- Sayuran
kg
               100
                100
100
100
100

- Buah-buahan
Batang
          10.000
           10.000
           10.000
            10.000
            10.000

Pengembangan pupuk organik
Ha
             2.000
             3.000
             4.000
              5.000
               5.000
13
Produksi padi :







- Padi sawah
423.641 ton
443.981
465.297
487.636
511.048
535.584

- Padi ladang (padi gogo)
46.299 ton
48.383
50.561
52.215
52.837
57.700
14
Produksi perkebunan :







- Kelapa Sawit
507.949,41 ton
   543.505,87
   581.551,28
   622.259,87
       665.818,06
       712.425,32

- Coklat
6.084 ton
           6.509,88
           6.965,57
           7.453,16
           7.974,88
           8.533,12

- Karet
11073,18 ton
         11.848,30
         12.677,68
         13.565,12
         14.514,68
         15.530,71

- Kopi
9436,44 ton
         10.096,99
         10.803,78
         11.560,04
         12.369,25
         13.235,10
15
Produksi Perikanan :







- Ikan Mas
4.500 ton
5.000
5.600
6.300
7.000
7500

- Ikan Lele
9.500 ton
10.750
10.750
11.000
11.500
12.500

- Gurame
0
0
5
10
15
18

- Ikan Patin
0
10
20
30
30
35
16
Produksi Peternakan :







- Sapi potong
1.172.563 kg
1.207.740
1.243.973
1.281.292
1.319.731
1.359.322

- Kerbau
453.810 kg
467.424
481.447
495.890
510.767
526090

- Kambing
118.520 kg
122.075
125.737
129.510
133.395
137.397

- Domba
77.449 kg
79.772
82.165
84.630
87.169
89.784

- Babi
3.477.035 kg
3.581.346
3.688.787
3.799.450
3.913.434
4.030.837

- Ayam Petelur
1.431.310 kg
1.474.249
1.518.477
1.564.031
1.610.952
1.659.280

- Ayam Pedaging
80.901 kg
83.328
85.858
88.402
91.005
93.786

- Ayam Buras
824.224 kg
848.951
874.419
900.652
927.672
955.502

- Itik
72.729 kg
74.910
77.158
79.472
81.857
84.312
17
Konsumsi Ikan
93,30%
94,23%
95,18%
96,13%
97,09%
98,06%
18
Kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB
54,40%
54,67%
54,95%
54,95%
55,22%
55,77%
19
Pertambangan tanpa ijin
77,47%
69,72%
62,75%
56,48%
50,83%
45,75%
20
Kunjungan Wisata







- Mancanegara
11.891 Orang
          12.248
          12.615
          12.994
             13.383
            13.785

- Nusantara
345.311 Orang
         355.670
         366.340
        377.331
            388.651
          400.310
21
Promosi Pariwisata
3 Kegiatan
 4 kegiatan 
 4 kegiatan 
 4 kegiatan 
 4 kegiatan 
 4 kegiatan 
22
Pertumbuhan Industri
8,45%
8,49%
8,53%
8,58%
8,62%
8,66%
23
Penyelenggaraan festival seni dan budaya
1 kali
1 kali
1 kali
1 kali
1 kali
1 kali
24
Sarana penyelenggaraan seni dan budaya
2 buah
2 buah
2 buah
2 buah
2 buah
2 buah
25
Benda, Situs dan Kawasan Cagar Budaya yang dilestarikan
100%
100%
100%
100%
100%
100%
26
Penyuluhan Kader Koperasi

400 orang/50 KUD
400 orang/50 KUD
400 orang/50 KUD
400 orang/50 KUD
400 orang/50 KUD
27
Pelatihan dan pendidikan bagi pengelola koperasi dan UMKM di bidang kewirausahaan dan manajemen usaha

80 orang
80 orang
80 orang
80 orang
80 orang
28
Peningkatan kapasitas kelembagaan koperasi

160 orang
160 orang
160 orang
160 orang
160 orang








Misi 3 : Pengembangan sumber daya manusia berbasis kompetensi secara berkelanjutan
1
Angka Melek Huruf
88,35
-
-
-
-
-
2
Angka Melek Huruf (%)
9,87
8,87
7,87
6,87
5,87
4,87
3
Angka Rata-rata Lama Sekolah
8,7
-
-
-
-
-
4
Usia Harapan Hidup (Tahun)
69,2
69,50
69,50
69,50
70,00
70,00
5
Lama Sekolah (Tahun)
8,79
8,89
8,99
9,09
9,19
9,29
6
Gizi Buruk (kasus)
66,6/100,000 kelahiran hidup
65/100,000 kelahiran hidup
63/100,000 kelahiran hidup
61/100,000 kelahiran hidup
59/100,000 kelahiran hidup
55/100,000 kelahiran hidup
7
Persentase penduduk yang menjadi peserta jaminan pemeliharaan kesehatan
33,08%
42,08%
42,17%
42,26%
42,35%
42,44%
8
Angka Pengangguran Terbuka (%)
6,43
6,40
6,37
6,33
6,30
6,27
9
Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (%)
78,05
79,05
80,05
81,05
82,05
83,05
10
Pencari Kerja yang ditempatkan (%)
5,36
6,36
7,36
8,36
9,36
10,36
11
Angka Kesempatan Kerja (orang)
57698
          58.275
           58.858
           59.446
               60.041
               60.641
12
Partisipasi perempuan di lembaga pemerintahan (%)
14,65%
15,65
16,65
17,65
18,65
19,65
13
Angka melek huruf perempuan usia 15 tahun ke atas
60,50%
61,5
62,5
63,5
64,5
65,5
14
Partisipasi Angkatan Kerja Wanita
25,69%
26,69
27,69
28,69
29,69
30,69
15
Angka Kematian Bayi
4,83/1000 Kelahiran hidup
4,50/1000 Kelahiran hidup
4,00/1000 Kelahiran hidup
3,50/1000 Kelahiran hidup
3,00/1000 Kelahiran hidup
2,50/1000 Kelahiran hidup
16
Angka Kematian Balita (kasus)
2,44/1000 kelahiran hidup
2,30/1000 kelahiran hidup
2,20/1000 kelahiran hidup
2,00/1000 kelahiran hidup
1,80/1000 kelahiran hidup
1,50/1000 kelahiran hidup
17
Persentase bayi yang mendapat ASI Eksklusif
26,64%
34,44%
42,24%
50,04%
57,84%
65,64%
18
Cakupan balita gizi buruk yang mendapatkan perawatan
1 orang
100%
100%
100%
100%
100%
19
Kejadian Luar Biasa (DBD) (angka kesakitan per 100,000 penduduk)
0,03%
2,00%
2,00%
1,00%
1,00%
1,00%
20
Angka Kesakitan Kusta
2,21/100,000 penduduk
1,51/100,000 penduduk
0,81/100,000 penduduk
0/100,000 penduduk
0/100,000 penduduk
0/100,000 penduduk

*SD
1:14
1:15
1:16
1:16
1:17
1:17

*SLTP
1:15
1:15
1:16
1:16
1:17
1:17

*SLTA
1:13
1:13
1:12
1:12
1:12
1:11

*SMK
1:16
1:16
1:17
1:17
1:18
1:18

Standar Sekolah







*SSN







-SD
- buah
-
-
-
-
-

-SLTP
7 buah
9
11
13
15
17

-SLTA
15 buah
17
19
21
23
25

-SMK
1 buah
2
3
4
5
6

*RSBI

-
-
-
-
-

-SD
1 buah
2
3
4
6
8

-SLTP
-buah
1
2
3
5
7

-SLTA
-buah
-
1
2
4
6

-SMK
1 buah
2
3
4
6
7

*SBI

-
-
-
-
-

-SD
-buah
-
1
2
3
5
21
-SLTP
-buah
-
1
2
4
6

-SLTA
-buah
-
-
-
1
3

-SMK
-buah
-
1
2
3
5

Kualifikasi Tenaga Pendidik

-
-
-
-
-

*TK

-
-
-
-
-

-S1/A4
11 orang
21
20
21
19
16

-S2
-orang
-
-
-
-
-

*SD

-
-
-
-
-

-S1/A4
652 orang
700
750
750
750
800

-S2
1 orang
2
2
2
5
5

*SLTP

-
-
-
-
-

-S1/A4
1611 orang
210
205
220
200
73

-S2
9 orang
10
15
20
25
50

*SLTA

-
-
-
-
-

-S1/A4
907 orang
50
50
40
40
50

-S2
10 orang
10
15
15
15
20

*SMK

-
-
-
-
-

-S1/A4
362 orang
40
40
45
45
40

-S2
4 orang
4
5
7
8
10
22
Tenaga Pendidik yang bersertifikasi :

-
-
-
-
-

-TK
5 orang
10
23
23
24
23

-SD
918 orang
802
1525
1580
1600
1370

-SLTP
505 orang
289
450
460
465
476

-SLTA
561 orang
166
140
140
135
133

-SMK
150 orang
120
125
120
110
98
23
Sarana Pendukung Pendidikan :







a. Laboratorium IPA







-SLTP
53 buah
17
18
18
18
-

-SLTA
28 buah
5
5
5
4
-

b. Laboratorium Komputer







-SLTP
60 buah
28
28
28
28
29

-SLTA
4 buah
9
9
9
9
10

c. Laboratorium Bahasa







-SLTA
7 buah
8
8
8
9
-

d. Laboratorium Bengkel Praktek







-SMK
2 buah
5
5
5
7
-

e. Perpustakaan







-SD
110 buah
135
130
130
130
-

-SLTP
23 buah
23
24
24
24
-

-SLTA
142 buah
24
24
24
24
-

-SMK
9 buah
6
6
6
6
-
24
Koleksi Buku yang tersedia di perpustakaan daerah
39,77%
40,77%
41,77%
42,77%
43,77%
44,77%
25
Pengunjung perpustakaan (%)
4,00
6,50
9,00
11,50
14,00
16,50








Misi 4 : Peningkatan ketertiban dan keamanan.
1
Kegiatan Pembinaan Politik Daerah
3 kegiatan
3 kegiatan
3 kegiatan
3 kegiatan
3 kegiatan
3 kegiatan
2
Kegiatan Pembinaan Terhadap LSM, Ormas, dan OKP
1 kegiatan
1 kegiatan
1 kegiatan
1 kegiatan
1 kegiatan
1 kegiatan
3
Kasus Narkoba
79 kasus
                       71
                       64
                       58
                       52
                       47
4
Kasus Pembunuhan
12 Kasus
                       11
                       10
                         9
                         8
                         7
5
Kasus Seksual
83 Kasus
                       75
                       67
                       61
                       54
                       49
6
Kasus Penganiayaan
218 Kasus
                    196
                    177
                    159
                    143
                    129
7
Kasus Pencurian
556 Kasus
                    500
                    450
                    405
                    365
                    328
8
Kasus Penipuan
36 Kasus
                       32
                       29
                       26
                       24
                       21
9
Kasus Pemalsuan Uang
-
 -




10
Rasio Kriminalitas
0,16
              0,10
               0,09
               0,08
                   0,07
              0,07
11
Demonstrasi
13 Kasus
10
9
8
7
6
12
Jumlah WTS
330 orang
               297
               267
               241
                 217
                 195
13
Perkara yang masuk di Pengadilan Agama
476 Kasus
                    428
                    386
                    347
                    312
                    281
14
Perkara pidana yang diputuskan Pengadilan Negeri







- Biasa
1.058  kasus
             1.005
                955
                907
                  862
                 819

- Singkat
1 kasus
                   1
                    -
                    -
                       -
                         

- Ringan
6 kasus
                   5
                   5
                   4
                      3
                     3

- Lalu lintas
4.011 kasus
            3.810
            3.620
            3.439
              3.267
              3.104
15
Jumlah Jamaah Haji







- Laki-Laki
49 Orang
                 50
                 51
                 52
                   53
                   54

- Perempuan
86 Orang
                 88
                 89
                 91
                   93
                   95








Misi 5 : Menciptakan Pemerintahan yang bersih dan profesional
1
PNS yang mengikuti pendidikan dan pelatihan (struktur, fungsional, teknis dan khusus)
Orang
500
550
600
650
650
2
Peningkatan disiplin kerja
%
100
100
100
100
100
3
Penanganan pelanggaran disiplin kepegawaian
%
100
100
100
100
100
4
Meningkatnya tertib administrasi keuangan
%
80
85
90
95
100
5
Temuan pemeriksaan eksternal yang selesai ditindak lanjuti
%
100
100
100
100
100
6
Dokumentasi (foto&video) kegiatan pemerintahan & pembangunan
%
100
100
100
100
100
7
Pelaksanaan Expo dan Pameran
kali
2
2
2
2
2
8
Kesesuaian program kerja SKPD dengan RPJMD
%
80
85
90
95
100
9
Rasio PAD terhadap total penerimaan APBD






10
Rasio PAD terhadap total pengeluaran APBD






11
Kepemilikan KTP
92,88%
93,88
94,88
95,88
97,88
97,88
12
Kepemilikan Akte Kelahiran per 1000 penduduk
55,98%
60,98
65,98
70,98
80,98
80,89
13
Pelayanan Pengurusan Kartu Tanda Penduduk
124,695 lembar
119.554
119.554
119.554
119.554
119.554,00
14
Pelayanan Kartu Keluarga
85,555 lembar
40.000
40.000
40.000
40.000
40.000,00
15
Pelayanan Akta Catatan Sipil
18,500 lembar
18.000
18.000
18.000
18.000
18.000,00
16
Tersedianya dokumen perencanaan RPJPD yang telah ditetapkan dengan PERDA
ada
ada
ada
ada
ada
ada
17
Tersedianya dokumen perencanaan RPJMD yang telah ditetapkan dengan PERDA/PERKADA
ada
ada
ada
ada
ada
ada
18
Tersedianya dokumen perencanaan RKPD yang telah ditetapkan dengan PERKADA
ada
ada
ada
ada
ada
ada
19
Penjabaran Program RPJMD ke dalam RKPD (%)
82%
85%
88%
91%
94%
97%
  Sumber: Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Simalungun 2011-2015.

D. Datang Pertama Pulang Terakhir
Ada satu sikap menarik pula dalam diri seorang Bupati JR Saragih dalam memimpin segenap aparatur dan warga masyarakat Kabupaten Simalungun, yakni kebiasaannya untuk dapat ditemui kapan saja. Dia mengorbankan waktunya dari masuk kerja jam 7 pagi sampai dengan tengah malam. Dengan pengorbanan waktu seperti itu, dia tengah memberikan contoh bagaimana seseorang harus loyal dan mendedikasikan dirinya ke dalam pekerjaan dan amanah yang diemban.
Loyalitas dan komitmen kerja manusia Indonesia pada umumnya relatif rendah. Hasil survai Work Indonesia 2004-2005 yang dilakukan Watson Wyatt menunjukkan rendahnya tingkat komitmen dan loyalitas di kalangan pegawai di Indonesia. Tingkat kerendahan komitmen ini bahkan 22 persen lebih rendah dibandingkan dengan 10 negara Asia lainnya. Barangkali kita merasa kaget mengetahui hasil penelitian ini, bila kita memahami betapa pentingnya komitmen dan loyalitas yang seharusnya merupakan sikap mental yang dimiliki oleh setiap pegawai.
Apa sebetulnya loyalitas atau kesetiaan pada lembaga (perusahaan, institusi pemerintahan, atau lembaga swadaya masyarakat)? Bahwa loyalitas kepada lembaga berarti menempatkan kepentingan lembaga di atas kepentingan pribadi atau kelompok.
Lalu, mengapa seorang pegawai, karyawan atau aparatur pemerintahan daerah mesti menempatkan kepentingan lembaga di atas kepentingan pribadi atau kelompok? Jawabannya tegas, karena kepentingan lembaga jauh lebih besar daripada tanggung jawab pegawai sebagai pribadi. Dengan demikian, sebagai pegawai atau pejabat, kita harus menempatkan kepentingan lembaga di atas kepentingan pribadi atau kelompok.
Mengapa begitu? Ya, kita harus bersikap seperti itu karena tanggung jawab lembaga jauh lebih besar dibandingkan tanggung jawab kita selaku pribadi. Bayangkan bila lembaga tempat kita bekerja tidak dipercaya warga masyarakat. Yang akan menderita tentu banyak sekali, mulai dari aparatur, pejabat, bahkan keluarganya. Sebab itu, semua pribadi yang terlibat dalam lembaga (pemerintahan) harus loyal dan komit.
Bagaimana cara kita menjaga loyalitas kepada lembaga (terutama pemerintahan)? Berikut ini penjabaran dari lima sikap berkaitan dengan loyalitas kita terhadap lembaga: pertama, berlaku jujur. Sebagai aparatur memang sangat logis kalau kita harus berlaku jujur dalam lembaga pemerintahan, karena ketidakjujuran di pemerintahan akan merendahkan martabat kita dan merusak tatanan masyarakat. Memang disadari bahwa tidak mudah berlaku jujur. Sebagai manusia kita mudah terjebak godaan untuk menjadi munafik alias hipokrit; kalau berbicara bohong, bila berjanji ingkar dan jika dipercaya maka berkhianat. Tapi, kita harus terus berusaha dengan cara bersikap jujur yang dimulai dari diri sendiri. Tidak perlu harus menunggu orang lain bersikap jujur terlebih dulu.
Kedua, rasa memiliki lembaga. Sebagai pegawai, aparatur dan pejabat, kita hendaknya mempunyai rasa memiliki (sense of belonging) lembaga. Bentuk kongkretnya adalah dengan menjaga dan merawat aset lembaga, karena dengan aset lembaga yang baik kita akan mampu memiliki kinerja lembaga secara maksimal. Selain itu diperlukan pula kepedulian terhadap situasi atau kejadian di lembaga. Kita bisa mengatasi keadaan yang kurang baik di lembaga sesuai dengan kemampuan dan kewenangan kita. Jangan justru membuat situasi bertambah memburuk, karena pada akhirnya lembaga dan kita semua yang menderita kerugian.
Ketiga, menciptakan suasana yang menyenangkan. Kinerja pegawai yang berakibat pada produktivitas sangat dipengaruhi oleh kondusif-tidaknya suasana di lingkungan lembaga. Sebab itu, perlu diciptakan suasana yang menyenangkan. Sikap pegawai yang suka melontarkan isu-isu atau gosip yang tidak bertanggung-jawab akan mengakibatkan suasana menjadi tidak menyenangkan. Yang paling menentukan suasana dalam lembaga adalah para pemimpinnya. Semakin tinggi jabatan seorang pemimpin maka makin berpengaruh dia dalam menciptakan suasana di lembaga.
Keempat, menjaga citra (image) lembaga. Setiap pegawai mempunyai kewajiban untuk menjaga dan meningkatkan citra positif lembaga. Jika citra lembaga positif maka citra setiap pribadi pegawai niscaya juga positif. Dari citra positif yang melekat pada lembaga akan tumbuh kepercayaan masyarakat sehingga kegiatan lembaga dapat berjalan lancar. Terlebh lagi bila lembaga (pemerintahan) itu tengah berusaha menarik investasi dari para penanam modal (investor). Sekali citra lembaga (pemerintahan) memperlihatkan image negatif (misalkan untuk mengurus izin usaha saja sampai memakan waktu enam bulan), kepercayaan investor langsung memudar. Investor akan memindahkan investasinya ke daerah lain yang lebih bercitra positif. Bila citra buruk ini menimpa Pemerintah Kabupaten Simalungun tentu akan menjadi mimpi buruk bagi warga masyarakat setempat.
Dan kelima, menyimpan rahasia lembaga. Yang dimaksud dengan rahasia lembaga adalah segala data atau informasi lembaga yang dapat digunakan pihak lain untuk menjatuhkan citra lembaga. Bila data atau informasi yang bersifat rahasia jatuh ke pihak lain di luar lembaga maka mereka dapat melemparkan isu-isu negatif ihwal lembaga kita, yang sudah barang tentu akan mempengaruhi kinerja lembaga. Untuk itu semua pegawai berkewajiban menjaga segala data dan informasi penting mengenai lembaga yang ada di unit kerjanya.
Kesulitan banyak pemerintah daerah menarik investasi (salah satunya) disebabkan oleh loyalitas dan komitmen para aparaturnya yang rendah. Banyak oknum aparatur yang cenderung mengedepankan kepentingan diri dan kelompok dibandingkan kepentingan instansi. Misalkan banyak oknum aparatur yang hanya memikirkan apa yang bisa diperoleh dengan kursi atau jabatannya. Akibatnya, banyak kalangan (terutama investor) yang berkepentingan atau berurusan dengan pemerintah kabupaten yang ‘lari’.
Pendek kata, loyalitas adalah “bagian terbenam” dari gunung es kesehatan dan kemajuan lembaga pemerintahan yang pada giliran selanjutnya mempengaruhi kesehatan dan kemajuan masyarakat. Bagian atasnya adalah manajemen dan operasional. Kalau lembaga pemerintahan tumbuh sehat dan berkembang maka dapat dihasilkan laba (sekadar contoh investasi) yang lebih besar. Dampaknya bisa berupa insentif buat aparatur, kemakmuran masyarakat, dan berkurangnya pengangguran.
Kita perlu camkan kata-kata bijak industriwan pendiri Carnegie Steel, Andrew Carnegie, bahwa dunia ini ada di tangan segelintir orang yang berdedikasi 100 persen terhadap pekerjaannya.
Bupati JR Saragih ingin segenap aparatur yang dipimpinnya senantiasa loyal kepada pemerintahan Kabupaten Simalungun. Dengan demikian, upaya membangun dan memajukan wilayah ini dapat dilakukan penuh dukungan dari aparatur dan warga masyarakat. ***     


No comments:

Post a Comment