Monday, April 8, 2013

Bangsawan dari Kutai (1)


Darah Pejuang dari Tenggarong

Dia belajar dari orang-orang tua karena dia sadar di setiap lembar rambutnya yang memutih itu ada pengalaman berharga untuk dipetik hikmahnya. Dia simak setiap butir fatwa yang mengalir dari bibirnya.
KH Toto Tasmara, dai kondang

Tenggarong, 64 tahun silam. Baru sekitar tiga tahun Republik Indonesia merdeka. Suasana negeri, tak terkecuali Kota Tenggarong, Kutai, Kalimantan Timur, masih sedikit kental nada-nada kolonial. Tenggarong –sebagaimana umumnya kota-kota di Indonesia— masih terasa sepi dan sunyi. Belum terasa satu denyut perekonomian yang memadai.
Pemerintahan daerah Tenggarong, seperti lazimnya di masa kolonial, masih sedikit banyak diwarnai garis turun-temurun seorang bupati. Sebagaimana hasil penelitian yang dilakukan oleh Heather Sutherland (1979) bahwa pejabat pribumi pada masa itu ditempatkan dalam suatu kerangka kerja yang diawasi langsung oleh pemerintah pusat sehingga seorang residen memiliki tiga fungsi: sebagai representasi kekuasaan Hindia Belanda terhadap penduduk Asia; sebagai pemegang kekuasaan kepolisian; dan pelaksana peraturan dan kehendak pemerintah pusat.  
Dalam kerangka kerja kolonial semacam itulah, di Tenggarong sekitar tahun 1947-1949 tercatat nama Awang Ishak sebagai Wakil Kepala Kepolisian Kesultanan Kutai dan kemudian Asisten Wedana Sanga-sanga. Kendati bekerja sebagai asisten wedana di Sanga-sanga, isteri (Dayang Djohariah) dan anak-anak Awang Ishak ketika itu tinggal di Jalan Awang Sabran, Kota Tenggarong.

A.   Rumah Sederhana Penuh Kasih
Ya, Keluarga Awang Ishak tinggal di Jalan Awang Sabran Kota Tenggarong. Di rumah sederhana penuh kasih dalam bingkai kenangan dan kebersamaan. Meski sampai di tahun 1947 telah dikaruniai sembilan anak, pasutri Awang Ishak – Dayang Djohariah ingin membangun sebuah keluarga lebih besar lagi yang kuat dan kokoh. Sebab itu, mendekati akhir tahun 1947 Dayang Djohariah kembali hamil.
Lalu, pada akhir Juli 1948, tepatnya tanggal 31 Juli 1948, rumah sederhana di Jalan Awang Sabran semakin ramai berkat kehadiran bayi mungil dari rahim Dayang Djohariah. Dalam kebersamaan keluarga besar Awang Ishak, bayi mungil yang kemudian diberi nama Awang Faroek Ishak itu lahir tanpa kendala yang berarti. Suaranya keras memecah keheningan suasana waktu itu. Mendengar lengkingan si jabang bayi, ibunda Dayang Djohariah pun tersenyum bahagia. Bibirnya tiada henti mengucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Kasih.
Tidak ada sesuatu yang istimewa mengiringi kelahiran si jabang bayi yang masih keturunan trah Kesultanan Tenggarong ini. Yang pasti, hari itu Awang Ishak dan Dayang Djohariah secara tulus ikhlas berdoa agar anak kesepuluh mereka kelak menjadi anak yang berguna bagi agama, masyarakat, nusa dan bangsanya.
Bermula Awang Ishak menikahi Hj. Dayang Djohariah binti Awang Muhammad Seman gelar Ngebei Setia Dalam pada tahun 1930. Dari pernikahan ini, dalam rentang waktu sekitar 24 tahun, mereka dikarunia 13 anak dari rahim Hj. Dayang Djohariah.  Anak pertama lahir tahun 1931 diberi nama Hj. Dayang Arhariyah. Kemudian, tahun 1932 lahir anak kedua yang diberi nama Awang Faisjal yang dalam perjalanan hidupnya pernah menjadi Bupati Kutai dan Rektor Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda. Tahun 1934, lahirlah anak ketiga yang kemudian diberi nama Awang Abdullah namun meninggal ketika masih di usia anak-anak.
Anak keempat, Awang Sabran, lahir di tahun 1935. Awang Sabran yang pernah dipercaya sebagai Wakil Wali Kota Samarinda gugur dalam kecelakaan speedboat saat menjalankan tugas pada tahun 1971. Lalu, anak kelima Awang Luthman yang kini memilih jalan hidup sebagai wiraswastawan atau wirausahawan lahir tahun 1938. Selanjutnya, tahun 1940, lahir anak keenam yang diberi nama Dayang Narul Fariah. Dua tahun berselang (1942), kemeriahan keluarga Awang Ishak – Dayang Djohariah semakin bertambah dengan kelahiran anak ketujuh yang mendapat nama Dayang Sri Mulyati. Kemeriahan terus bertambah dengan kehadiran anak kedelapan (1945) dan kesembilan (1947), masing-masing diberi nama Dayang Safiah dan Dayang Sabariah.
Dan Awang Faroek Ishak sebagai anak kesepuluh lahir pada tahun 1948, tepatnya tanggal 31 Juli 1948. Awang Faroek pun mewarisi garis kepamongprajaan. Dia sempat dipercaya menjadi Bupati Kutai Timur (1999-2000), Bupati Definitif Kutai Timur (2001-2003), Bupati Kutai Timur hasil Pilkada langsung (2006-2011), dan Gubernur Kalimantan Timur melalui Pilkada langsung (2008-2013).
Kehadiran bayi mungil Awang Faroek Ishak –yang kemudian akrab disapa Faroek oleh saudara-saudaranya— menjadi salah satu mutiara, pelengkap etalase kebahagiaan mahligai rumah tangga Awang Ishak – Dayang Djohariah.  Pun demikian bagi saudara-saudaranya yang lain, kehadiran si kecil Awang Faroek turut menambah keceriaan mereka sehari-hari. Yang pasti, rumah sederhana ini semakin marak dalam keakraban dan kebersamaan.   
Keluarga pasangan Awang Ishak - Dayang Djohariah terus menambah anggota baru dengan kelahiran anak kesebelas, keduabelas dan ketigabelas (bungsu). Ketiga anak-anak itu masing-masing Awang Fachrul (lahir 1950), Dayang Hartati (lahir 1951) dan Awang Fachruddin (lahir 1953) yang kemudian berkarir di jalur Pegawai Negeri Sipil (PNS).
Awang Faroek Ishak bersama kakak-kakak dan adik-adiknya hidup rukun dalam sebuah keluarga bersahaja. Kendati ayahnya termasuk trah langsung Kesultanan Tenggarong atau berdarah biru, Awang Ishak tidak lantas memanjakan semua anak-anaknya. Anak-anaknya dididik dan dibesarkan sebagai keluarga biasa masyarakat Tenggarong ketika itu. Meski Awang Ishak tergolong keluarga bangsawan dan pamongpraja yang cukup disegani namun dia tidak ingin anak-anaknya terkucil, memisahkan diri dan terasing dari pergaulan masyarakat luas. Karir kepamongprajaan dan, bahkan, kejuangan, ayahanda Awang Ishak memang tidak diragukan lagi.

B.    Garis Kejuangan Sang Ayahanda
Ayahanda Awang Ishak bergelar Awang Mas Pati lahir pada tahun 1909 di Tenggarong, Kutai, Kalimantan Timur, sebagai anak dari Awang Ibrahim bin Datu Awang Muhammad Saleh gelar Panglima Ribut. Semasa hidupnya, kakek Awang Faroek Ishak yang memiliki garis turunan langsung trah Kerajaan Kutai ini dikenal sebagai tokoh pamongpraja yang cukup disegani dan dihormati di wilayah Kalimantan Timur.
Sejak masa remaja ayahanda Awang Ishak telah menunjukkan jiwa dan semangat kepamongprajaan. Setahun setelah dia lulus dari pendidikan di Hollandse Inlandse School (HIS) di tahun 1923, masih dalam usia yang relatif sangat muda, Awang Ishak sudah diangkat sebagai pegawai rendah pada Kesultanan Kutai dengan jabatan juru tulis (schripeen) dan ditempatkan di Onderdistrict Hooft (Kantor Kecamatan) Muara Kaman.
Setelah tujuh tahun bekerja sebagai schripeen di Kantor Kecamatan Muara Kaman, Awang Ishak kemudian dipindahkan pada jabatan yang sama di Kantor Kecamatan Melak. Berselang dua tahun di Melak, tepatnya tahun 1932, dia dipindah-tugaskan lagi ke Kantor Kecamatan Muara Kaman dengan pangkat Schripeen Eerste Klaas (Juru Tulis Kelas I). Pada tahun 1938, setelah mengabdi selama enam tahun di Muara Kaman, dia kembali berpindah tugas. Kali ini ke Kantor Kecamatan Sangkulirang, sampai akhir tahun 1941.
Perjalanan karir ayahanda Awang Ishak terus menanjak. Di antaranya dia pernah dipercaya sebagai jaksa, wakil kepala kepolisian Kesultanan Kutai di Tenggarong serta Asisten Wedana (Camat) di sejumlah daerah, seperti di Sanga-Sanga (1947-1949), Long Iram (1949), Muara Ancalong (1950-1951), serta Muara Pahu. Setelah itu, 1952-1953, Awang Ishak menjalani tour of duty sebagai camat di Kutai Tengah dan Tenggarong. Tak lama memang dia bertugas di sana, tahun 1953, tugas baru sebagai camat di Samarinda telah menanti. Dan, tahun 1954-1955, Awang Ishak diberi amanah untuk mengemban jabatan Wedana di Barongtongkok.
Di tengah-tengah masa pergolakan dan perlawanan bersenjata terhadap tentara Kolonial Belanda zaman itu, elan dan semangat kejuangan dan nasionalisme ayahanda sungguh menggelora. Dia ikut andil dan bahu-membahu dalam membantu perjuangan masyarakat dan bangsa waktu itu untuk mencapai kemerdekaan. Rupanya hal ini yang menjadi salah satu sebab mengapa ayahanda Awang Ishak kerapkali dipindah-tugaskan sebagai camat atau asisten wedana ke beberapa daerah.
Padahal, bila mau jujur, melihat kedudukannya masa itu, ayahanda Awang Ishak merupakan orang penting dan terpandang di daerahnya. Berkat posisinya kala itu, ekonomi keluarganya boleh dikatakan berkecukupan. Namun, ayahanda tidak bisa tinggal diam melihat anak bangsanya dijajah dan diinjak-injak harkat dan martabatnya. Karena itu, secara sembunyi-sembunyi, dia memutuskan untuk membantu para pejuang pro-merah-putih di daerahnya. Meskipun, dia menyadari akan risiko yang bakal dihadapinya, termasuk digeser dari jabatannya, bahkan kemungkinan ditangkap dan dijebloskan ke penjara.
Kekhawatiran itu benar adanya. Sejumlah bukti yang diperoleh dari seorang pejuang di Samarinda, melalui laporan rahasia (Gcheiin Verslag) dari Residen van Oost Borneo (Kalimantan Timur) kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda, akhirnya diketahui segala sepak terjang ayahanda Awang Ishak selama ini. Dari laporan itu pula, ayahanda lantas dituduh terlibat dalam pergerakan bawah tanah terhadap Belanda. Sebab itu, Belanda menghubungi Sultan Kutai (masa itu) Adji Muhammad Parikesit dan menyarankan agar Awang Ishak dipindahkan ke Long Iram sebagai wujud “hukuman” terhadap dirinya. Namun, Surat Keputusan itu kemudian dibatalkan, lantaran Sultan Kutai tidak berkenan akan bentuk hukuman terhadap ayahanda Awang Ishak.

C.   Teladan Kejujuran dan Disiplin Ayahanda Awang Ishak
 Awang Faroek kecil, di masa-masa umur nol sampai delapan tahun, benaknya dipenuhi kesan-kesan positif yang dipancarkan oleh ayahanda Awang Ishak. Kesannya yang demikian kuat menancap di benaknya bahwa ayahanda Awang Ishak bergelar Awang Mas Pati merupakan sosok ayah yang mampu mewariskan nilai-nilai kejuangan dan keteladanan bagi anak-anaknya. Hal yang paling berkesan pada sosok ayahanda, tutur Awang Faroek, bahwa ayahanda sangat menjunjung tinggi makna sebuah kejujuran.
Kejujuran berarti tulus, tidak culas, lurus hati. Kejujuran mencakup semua hal dalam aktivitas kehidupan kita. Dalam berniat kita harus jujur. Jika kita memiliki niat untuk melakukan sesuatu hal maka niat itu harus tulus dan ikhlas. Kemudian, kejujuran dalam berbicara. Kita hendaknya berbicara benar dan tepat, tidak berbohong atau mengucapkan sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran.
Dalam bertindak pun kita mesti jujur. Jangan curang, menipu atau memanipulasi fakta dan data. Termasuk, sebagai pamongpraja, dalam melayani warga masyarakat.
Ayahanda Awang Ishak mengajarkan anak-anaknya untuk senantiasa berperilaku, bertindak, berbuat dan berkata jujur tanpa kecuali. Jujur pada diri sendiri. Kejujuran pada diri sendiri adalah kejujuran yang dilandasi pada pengakuan diri bahwa diri ini memiliki kemampuan dan kekurangan. Jadi,  jika dirinya tidak mampu mengerjakan sesuatu maka dia akan katakan “tidak mampu”. Apabila dirinya tidak tahu maka dia akan katakan “tidak tahu”.
Jujur pula pada orang lain. Kita harus jujur kepada isteri/suami, anak-anak, orang tua, kakak, adik dan seterusnya. Tanpa kejujuran maka seseorang tidak bisa mempertahankan hubungan yang harmonis dengan orang lain. Sebagai pamongpraja, melayani warga masyarakat harus dilandasi dengan niat ikhlas dan kejujuran. Dengan begitu warga masyarakat akan memberikan feedback yang baik dan hubungan pamongpraja-masyarakat berjalan harmonis dan sistemis.
Dan mesti jujur kepada Tuhan. Sebagai umat beragama, kita harus jujur kepada Sang Maha Pencipta. Dampak dari kejujuran ini adalah sebuah ketulusan serta keikhlasan pada Tuhan dalam segala tindakan kita. Berkat-Nya akan melimpah kepada siapa saja yang melakukan perbuatan jujur dan benar.
Sebagai seorang Muslim, ayahanda Awang Ishak senantiasa menanamkan kejujuran dan amanah yang berbuah pada integritas diri sebagaimana diteladankan oleh Manusia Agung Rasulullah Muhammad saw. Integritas yang bermakna keutuhan dalam segala aspek kehidupan, khususnya antara perkataan dan perbuatan. Orang yang memiliki integritas adalah orang yang menyatu kata dan perbuatannya. Ia berkata jujur dan tentu saja tidak akan berbohong.
Pakar kepemimpinan Stephen R. Covey membedakan antara kejujuran dan integritas. Menurut Covey, kejujuran berarti menyampaikan kebenaran, ucapannya sesuai dengan kenyataan. Sedangkan integritas membuktikan tindakannya sesuai dengan ucapannya. Lebih tegas lagi, orang yang berintegritas didefinisikan sebagai orang yang iman dan perbuatannya menyatu, bahkan dari perbuatannya, orang melihat imannya.
Kejujuran dan integritas ini tidak hanya diomongkan di mulut saja. Ayahanda Awang Ishak langsung mencontohkan dalam tindakan nyata. Awang Faroek berkisah, dengan jabatan sebagai wedana dan pernah bertugas di Kota Tarakan, ayahanda Awang Ishak bisa saja bertindak tidak jujur alias korupsi. Apalagi saat itu Kota Tarakan terkenal sebagai wilayah ramai oleh aktivitas penyelundupan. Arti kata, kalau ayahanda Awang Ishak mau menyelewengkan kekuasaan dan jabatannya, sangat mudah membawa keluarganya ke dalam gelimang kekayaan materi. Karena, peluang dan kesempatan untuk itu sangat terbuka lebar. Namun, jabatan wedana di Kota Tarakan itu tidak lantas membuat ayahanda Awang Ishak terlena.
Bagi ayahanda Awang Ishak, jabatan wedana adalah sebuah amanah. Dia tidak ingin mengkhianati amanah yang telah dititipkan kepadanya. Karena itu, tidaklah mengherankan bila di saat harus pulang ke Tenggarong usai tugas di Kota Tarakan, barang-barang yang dibawa pindah menggunakan kapal Bango, ya itu-itu saja. Yakni, satu set mesin jahit tua merek Singer, ranjang besi dengan banyak baut dan sekerupnya, serta sejumlah pakaian anak-anak. Dengan kata lain, kehidupan keluarga ini relatif sederhana dan bersahaja untuk ukuran seorang wedana.
Kejujuran dan integritas itu pula yang kemudian membawa ayahanda Awang Ishak disegani warga masyarakat dan dihormati oleh sesama kolega di masanya. Bahkan, di mata Pemerintah Kolonial Belanda sekalipun.
Tidak selamanya Pemerintah Kolonial Belanda menanamkan nilai-nilai negatif. Ayahanda Awang Ishak mampu menangkan banyak pelajaran dari Pemerintah Kolonial saat dirinya bekerja sebagai pamongpraja di masa-masa akhir penjajahan. Satu hal yang cukup melekat di benak Awang Faroek, nilai pemerintahan kolonial yang langsung dipelajari ayahanda dan kemudian ditularkan kepada anak-anaknya adalah sikap disiplin. Salah satu kunci sukses Pemerintah Kolonial Belanda cukup lama bercokol di negeri kita adalah disiplin terhadap waktu: kapan berbaik hati pada rakyat yang dijajah dan kapan pula harus bersikap keras terhadap kaum pribumi. Bahkan, Pemerintah Kolonial sangat disiplin mempelajari kultur dan kebiasaan masyarakat pribumi.
Ayahanda Awang Ishak berusaha menarik nilai positif dari sikap hidup disiplin. Secara agak luas disiplin dapat dimaknai sebagai kepatuhan pada peraturan, tata tertib dan dikaitkan dengan peraturan yang berlaku di lingkungan hidup seseorang. Kedisiplinan tidak dapat terpaku pada teori saja lantaran faktor penting dari kedisiplinan adalah kemauan untuk mengaplikasikan peraturan-peraturan yang berlaku secara baik.
Islam –agama yang dianut ayahanda Awang Ishak— pun memperingatkan agar kita jangan lengah. Islam menjelaskan bahwa yang paling berarti dalam kehidupan ini adalah waktu. Nabi Muhammad saw bersabda: “Tidak ada satu hari pun yang fajarnya menyingsing kecuali ia pasti mengatakan, ‘Wahai anak Adam, aku adalah ciptaan baru yang menjadi saksi atas amal perbuatan kalian. Berbekallah dengan menggunakan kesempatan yang ada, karena sesungguhnya aku tidak akan pernah kembali hingga hari kiamat.’
Waktu itu amat terbatas. Dan perbuatan manusia setiap waktu akan dihitung. Para malaikat siang dan malaikat malam secara bergiliran senantiasa mengawasi manusia. Putaran siang berakhir hingga ashar dan putaran malam berakhir sampai subuh. Segala amal perbuatan manusia yang baik maupun yang buruk akan selalu dihitung dan dicatat. “Sebenarnya Kami selalu mendengar, dan utusan-utusan Kami pun senantiasa mencatat di sisi mereka.” (QS Az-Zukhruf ayat 80)
Islam datang untuk mengajarkan anak manusia untuk menghargai hari dan waktu untuk diisi dengan perbuatan yang bermanfaat. Maka kewajiban si anak manusia untuk membekali diri dengan mengisi waktu, karena dalam kehidupan ini, sesuatu yang paling mahal nilainya adalah waktu. Bila waktu sudah berakhir maka tidak akan bisa diganti. Jika telah lewat maka ia takkan kembali. Kita mesti disiplin memanfaatkan waktu.
Karena nilai plus kedisiplinan dari berbagai segi, ayahanda Awang Ishak menerapkan kedisiplinan itu dalam mendidik anak-anaknya. Misalkan kapan waktu bagi anak-anaknya untuk bangun pagi, sarapan, berangkat dan pulang sekolah, hingga waktu mereka bermain, semuanya telah diatur sedemikian rupa. Dan, anak-anaknya harus patuh serta menurut pada aturan tersebut.
“Ayah biasanya selalu bangun sebelum subuh. Setelah shalat subuh, beliau tidak pernah tidur lagi. Pukul 06.30 pagi, ayah sudah siap berangkat kerja sembari mengawasi kami anak-anaknya. Tepat pukul 07.00, biasanya kami semua sudah siap di meja makan lalu kami makan bersama-sama,” kenang Awang Faroek tentang kedisiplinan yang diterapkan ayahanda.
Usai sarapan pagi, Awang Faroek kecil dan saudara-saudaranya yang lain dibiasakan mencium tangan kedua orang-tuanya sembari izin pamit hendak berangkat ke sekolah. “Begitulah disiplin yang kami lakukan setiap hari,” ujar Awang Faroek suatu kali.
Kendati sangat disiplin dalam memanfaatkan waktu, toh Awang Faroek dan saudara-saudaranya tetap merasa enjoy melewatkan masa kanak-kanak dalam bingkai peraturan ayahanda. Hal ini tak terlepas dari penanaman disiplin ayahanda sejak anak-anak masih dalam usia yang sangat dini. Lambat namun pasti, nilai disiplin itu menancap kuat dalam diri Awang Faroek dan saudara-saudaranya.
Berkat disiplin itu pula, keluarga Awang Ishak dengan 13 orang anak tidak berniat mencari pembantu rumah tangga guna meringankan beban pekerjaan domestik. Justru dengan kebiasaan disiplin keras itulah, Awang Faroek dan saudara-saudaranya mudah diatur untuk berbagi tugas mengerjakan pekerjaan domestik rumah tangga.
“Seperti saya, tugasnya setiap hari mengisi air untuk kami mandi, mencuci atau untuk berwudhu. Dan tugas ini rutin saya lakukan setiap hari sejak kecil,” ucap Awang Faroek.
Tidak sekadar ucapan di mulut, ayahanda Awang Ishak senantiasa memberi teladan tindakan dalam menanamkan sikap jujur, integritas, amanah dan disiplin pada anak-anaknya. Dia memahami betul petuah lama bahwa keteladanan adalah perintah tanpa kata-kata. Orang lain lebih senang mengikuti teladan daripada kata-kata perintah. Keteladan menjadi cara yang efektif untuk mempengaruhi atau mendidik anak dalam bersikap dan bertindak. Jika kita diberi amanah sebagai orang tua dan menginginkan anak-anak berperilaku sesuai dengan keinginan kita, maka kita harus memberikan keteladanan. Keteladanan adalah memberikan contoh melalui perbuatan atau tindakan yang nyata.
Berkat keteladan nyata disiplin, jujur, amanah dan integritas itulah, sampai sekarang Awang Faroek dan saudara-saudaranya berusaha terus menjaga nama baik ayahanda Awang Ishak.

D.   Ibunda Dayang Djohariah yang Telaten pada Anak-anak
Kekuatan ayahanda Awang Ishak dalam mendidik Awang Faroek dan saudara-saudaranya tidak terlepas pula dari sentuhan kasih sayang ibunda Hj. Dayang Djohariah. Ibunda Dayang Djohariah menyadari bahwa wanita atau isteri adalah pemimpin atas penghuni rumah suaminya dan anak-anaknya, dan bertanggung-jawab terhadap mereka. Wanita atau isteri bertanggung-jawab mengatur urusan rumah tangga. Ibunda menyadari benar peran isteri atau ibu dalam mengasuh dan mendidik anak-anak.
Dalam benak Awang Faroek, ibunda Dayang Djohariah merupakan figur seorang ibu rumah tangga yang mandiri dan penuh kasih sayang, telaten dan kreatif, serta sangat memperhatikan detail perkembangan anak-anaknya.
“Ibu saya sangat memperhatikan pendidikan kami, anak-anaknya. Beliau itu biasa menjahit sendiri pakaian kami dengan mesin jahit Singer tua yang selalu beliau bawa saat ayah berpindah-pindah tugas. Sehingga, saat itu kami tidak pernah membeli pakaian jadi, karena dijahit langsung oleh ibu,” ujar Awang Faroek suatu waktu.
Dengan sentuhan kasih sayang dan kemandirian ibunda, Awang Faroek dan saudara-saudaranya mampu menapaki terjalnya kehidupan saat itu. Perhatian dan kepedulian pada pendidikan umum di sekolah maupun bekal pendidikan agama, termasuk perkembangan masa depan anak-anaknya, menjadi hal penting yang senantiasa diprioritaskan ibunda Dayang Djohariah. Dari mulai menyiapkan makanan, pakaian, sepatu, memeriksa buku-buku pelajaran, mengawasi anak-anak usai pulang sekolah, menjadi hal rutin yang ibunda lakukan. Singkat kata, ibunda Dayang Djohariah saat itu merupakan representasi ibu yang baik hati, sabar dan ikhlas menjalankan tugasnya, dan ia sangat perhatian, serta penuh kasih pada buah hatinya. Pada saat yang sama, ibunda juga mampu menampilkan sosok ibu yang telaten dan kreatif dalam tugas-tugas rumah tangga.
“Dengan penuh kasih sayangnya, ibu mengawasi kami belajar, bermain, termasuk menanamkan kedisiplinan dalam menjalankan ibadah, terutama shalat lima waktu,” tutur Awang Faroek menegaskan besarnya perhatian ibunda Dayang Djohariah.
Tak hanya di mata anak-anaknya, ibunda Dayang Djohariah demikian sempurna menjalankan perannya sebagai isteri dan ibu bagi anak-anaknya. Di mata para tetangga, ibunda Dayang Djohariah dikenal sebagai sosok yang baik hati dan peduli lingkungan sekitarnya. Sebagai makhluk sosial, ibunda Dayang Djohariah yang melahirkan 13 putera-puteri ini selalu aktif membantu tetangganya bilamana mereka sedang ditimpa kesusahan atau tengah sibuk menyiapkan suatu kenduri atau hajatan. Tidak mengherankan, bila keakraban antar-tetangga senantiasa terjalin harmonis dan di antara mereka nyaris tidak pernah cekcok.
Ibunda Dayang Djohariah berusaha membangun komunikasi yang baik dengan anak-anaknya. Ibunda berusaha senantiasa mendengar kata-kata apa yang diinginkan anak-anaknya tanpa memotong untuk memberi nasihat atau membesarkan hati mereka. Dengan begitu ibunda bisa merefleksikan kembali apa yang dikatakan anak-anaknya dengan kata-kata sendiri. Hal ini menunjukkan kepada anak-anak bahwa ibunda telah mendengar apa yang dikatakan anak-anak dan menerima perasaan mereka.
Merefleksikan perasaan, meskipun anak-anak tidak secara langsung mengatakannya dalam kata-kata, sangatlah membantu si anak untuk berpikir dan berpendapat. Perasaan yang terlalu kuat akan menghalangi anak berpikir secara terang dan menghalangi kemampuan mereka untuk memecahkan permasalahan. Mendengarkan reflektif dapat menenangkan perasaan si anak dan dengan demikian merupakan langkah pertama buat memecahkan permasalahan.
Dengan komunikasi reflektif yang diterapkan ibunda Dayang Djohariah, Awang Faroek dan saudara-saudaranya senantiasa mampu membangun pola pikir yang tegas dan jelas. Dan, hal ini pula yang menjadi bekal Awang Faroek di kemudian hari dalam meniti jalan kehidupan.
Kata pepatah lama air cucuran atap jatuh ke pelimbahan juga, tampaknya mewarnai Awang Faroek dalam menapaki delapan tahun (sewindu) pertama kehidupannya. Awang Faroek menuruti teladan kejujuran, integritas dan disiplin ayahanda Awang Ishak. Dia pun meneladani ketelatenan, kesabaran, dan komunikasi reflektif dari ibunda Dayang Djohariah.
Ibarat kertas yang masih putih bersih, benak Awang Faroek kecil dilukis dengan nilai-nilai teladan, kejujuran, integritas, disiplin, ketelatean dan kesabaran. Lukisan itu terpateri kuat dan membentuk pribadi yang kuat seorang Awang Faroek.  

No comments:

Post a Comment