Tuesday, April 9, 2013

Bangsawan dari Kutai (2)


Bekerja Keras Melewati Masa Berkelana

Dia yang menghormati orang lain tidak akan dipermalukan. Dia yang toleran akan memperoleh dukungan.
Confucius, Filsuf China

Awang Faroek kecil tumbuh di lingkungan keluarga besar bangsawan Kutai. Lantaran genealogisnya berdarah bangsawan Kutai, kemudian di dalam sebuah jamuan resmi di Keraton Kutai suatu waktu, dia dianugerahi gelar Awang Ngebei Setia Negara oleh sesepuh keraton. Sebuah gelar kebangsawanan dari Keraton Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura, Tenggarong, Kutai, Kalimantan Timur.
Di lingkungan keluarganya, terutama saudara-saudaranya, dia akrab disapa Faroek. Namun, dalam aktivitas keseharian, warga masyarakat umum lebih banyak mengenal namanya dengan panggilan akrab Pak Awang. Sebetulnya, sebutan Awang bukanlah sebuah nama, melainkan gelar bangsawan dari Kesultanan Kutai Kartanegara di Kalimantan Timur (Kaltim). Sebagaimana halnya gelar bangsawan di daerah lain seperti Raden Mas dan Raden Roro di Yogyakarta dan Solo (Jawa Tengah), Andi di Makassar (Sulawesi Selatan), atau Lalu di Pulau Lombok (Nusa Tenggara Barat). Dia berhak menyandang nama Awang, karena garis genealogisnya sebagai keturunan langsung darah biru Kesultanan Kutai Kartanegara.
Ada kekuatan darah biru Kesultanan Kutai Kartanegara mengalir dalam diri Awang Faroek Ishak. Lantas, bagaimana sebenarnya karakteristik dan kultural orang Kutai? Prototipe orang Kutai, meminjam istilah Abdul Rahim (2002), dilihat dari kinskip termasuk ke dalam kategori ras Melayu (Proto Melayu). Orang Kutai, secara umum, adalah umat yang hidup dalam norma-norma Islami dengan ikatan tatanan paguyuban (gemeinschaft) yang kuat serta dalam pergaulan masyarakat heterogen yang telah berlangsung selama berabad-abad.
Orang Kutai di Kalimantan Timur memiliki hubungan sangat erat dengan orang Dayak. Namun, saat ini, muncul masalah pelik berkaitan dengan pengelompokan antara Suku Kutai dan Suku Dayak. Disebut-sebut bahwa Suku Dayak itu dianggap merupakan penduduk asli Kutai. Sebaliknya, Suku Kutai pun mengklaim bahwa mereka adalah penduduk asli.
Melalui bukunya yang berjudul Peninjau Jilid I (1974), FR Ukur menjelaskan bahwa penduduk Suku Dayak di Tanah Kutai dapat digolongkan menjadi Suku Dayak yang tinggal di hulu pedalaman sungai dan dikelompokkan ke dalam ras Deotro Melayu atau Melayu Muda. Sedangkan Suku Kutai yang tinggal di bagian hilir sungai dikelompokkan ke dalam ras Proto Melayu atau Melayu Tua.
Senada dengan FR Ukur, pakar antropologi Mikhail Coomans (1987) berpendapat bahwa Suku Kutai termasuk ke dalam ras Deotro Melayu seperti halnya Suku Dayak yang lain. Repotnya, Suku Kutai sendiri tidak mau disebut Suku Dayak. Sebab, mereka memiliki perikehidupan sosial budaya dan ekonomi yang berbeda pula. Misalkan, dalam even budaya Erau, yang merupakan simbol pesta adat Suku Dayak dalam memperingati acara ritual khusus yang dianggap paling besar.
Sebetulnya, bila dikaji lebih dalam, pengelompokan antara ras Suku Dayak yang tinggal di hulu dan Suku Dayak yang mendiami kawasan hilir hanyalah bersifat sosio-religius belaka. Karena, mereka sebenarnya berasal dari satu rumpun atau kelompok ras yang sama, yaitu kelompok Deotro Melayu. Namun, lantaran Suku Kutai lebih banyak memperoleh pengaruh budaya ras Proto Melayu (Banjar, Bugis dan Jawa) maka secara rasial mereka lebih senang dikelompokkan ke dalam ras Proto Melayu.
Lazimnya, nama Dayak digunakan bagi ras Proto Melayu yang tinggal di daerah pelosok dan pedalaman serta beragama non-Islam. Sedangkan nama Kutai digunakan bagi kelompok penduduk ras Proto Melayu yang beragama Islam. Bahkan, Suku Dayak sendiri menyebut orang yang beragama Islam sebagai orang haloq atau orang asing.
Jadi, orang Dayak yang keluar dari ikatan tradisi adat-istiadat para leluhurnya, juga dianggap orang haloq. Mereka bukan lagi dikelompokkan ke dalam Suku Dayak. Sebab, mereka dianggap telah keluar dari ketentuan kepercayaan dan adat budaya nenek moyangnya. Sebaliknya, orang Dayak yang masuk Islam juga enggan disebut Suku Dayak lagi. Inilah yang menyebabkan mengapa orang Kutai enggan disebut orang Suku Dayak. Mereka lebih senang dikelompokkan ke dalam ras Proto Melayu, seperti halnya Suku Banjar yang beragama Islam dan tinggal di Kalimantan Selatan.
Dalam sistem kekerabatan bangsawan Kutai, galibnya mereka masih menganut sistem patrilineal. Artinya, garis keturunan ditarik dari dan ke pihak laki-laki. Pada masa lampau, Suku Kutai masih mengenal lapisan dan strata sosial, seperti bangsawan, rakyat jelata, dan budak belian. Bagi kaum bangsawan, dipergunakan berbagai gelar seperti Awang, Aji Bambang, Aji Raden, dan Aji Pangeran. Biasanya, pemberian gelar itu dilaksanakan dalam suatu upacara resmi di dalam masjid dan lazimnya dilakukan seusai shalat Idul Fitri. Namun sekarang, penghormatan terhadap seseorang telah mulai bergeser, bukan lagi atas dasar kebangsawanan semata, juga atas dasar tinggi-rendahnya pendidikan yang diperoleh, statusnya dalam pemerintahan dan banyaknya materi kekayaan yang dimiliki.

A.   Hikmah Berpindah-pindah Sekolah
Bagi Awang Faroek, gelar bangsawan alias darah biru bukanlah segala-galanya dan bukan pula sesuatu yang istimewa yang lantas menjadi sekat dalam bergaul dengan warga masyarakat jelata. Pemakaian gelar itu hanyalah simbol penghormatan dan pelestarian nilai-nilai kultural. Dia berprinsip bahwa manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah sama, mau hitam atau putih, adalah bagaimana memanfaatkan kesempatan yang membentang di hadapannya kemudian. Sebab itu, Awang Faroek tidak pernah menjaga jarak pergaulan dengan siapa saja, termasuk dengan Suku Dayak. Bahkan, dia sangat terkesan pada kehidupan dan kesederhanaan Suku Dayak.
Ada pengalaman teramat panjang di masa kecil yang menjadi salah satu pondasi kuat Awang Faroek sampai kemudian demikian kuat berpegang prinsip hakekat manusia lahir dalam keadaan fitrah yang sama.
Sebagaimana umumnya anak seorang pamongpraja, Awang Faroek kecil harus ikut berpindah-pintah tempat tinggal sesuai dengan tempat penugasan ayahanda Awang Ishak. Memasuki masa Sekolah Dasar (SD), sekitar tahun 1954-1955, ayahanda diberi amanah sebagai Wedana Sendawar di Barongtongkok. Oleh ayahanda, Awang Faroek lantas didaftarkan masuk ke Sekolah Rakyat (SR) Katolik Barongtongkok, satu-satunya SR yang ada di wilayah itu. “Saya ingat betul, pada tahun 1955 saat itu, saya sudah ikut ayah dan sempat bersekolah di SR Katolik Barongtongkok,” kenang Awang Faroek.
Di sini dia mengenyam pendidikan SR Katolik sampai kelas tiga. Kendati cuma seumur jagung, kenangan manis bergaul dan berinteraksi secara intensif dengan anak-anak dan warga masyarakat Dayak di kawasan perbatasan dan wilayah pedalaman Kalimantan Timur itu rupanya sangat membekas dan menggugah nuraninya. Di Barongtongtok itu pula, Awang Faroek banyak belajar pada kearifan lokal masyarakat Suku Dayak yang demikian akrab dan ramah lingkungan.
Sebuah kekayaan pengalaman yang mampu menembus horizon dunia anak-anak Suku Dayak di pedalaman dan perbatasan Kalimantan Timur. Romantika keindahan persahabatan masa kecil berpadu harmonis dengan pesona alam pedesaan yang masih asri dan natural dengan eksotisme kebersahajaan mereka yang sangat mengesankan. Keindahan vegetasi hutan alam dan pepohonan nan rindang, hamparan padi sawah yang hijau-menguning bak permadani, kebun buah-buahan yang mewarnai pekarangan rumah-rumah warga setempat, pun berinteraksi dengan harmoni alam yang menjadi wahana bentuk-bentuk permainan tradisional yang mengundang kreativitas dan kerja sama tim yang amat kuat.
Dalam perspektif harmoni alam dan kebersahajaan anak-anak Suku Dayak itulah, sosok Awang Faroek mulai terbangun dan terbentuk. Awang Faroek yang menghabiskan sebagian masa kecil di Barongtongkok betul-betul merasakan kehidupan bersama-sama komunitas anak-anak Suku Dayak. Awang Faroek yang keturunan trah bangsawan Kesultanan Kutai ini tidak semata-mata menghabiskan masa kecilnya di balik tembok istana kerajaan. Pergaulan dengan anak-anak komunitas Suku Dayak secara otomatis memperkaya dan menjadi penyeimbang tumbuh suburnya tunas filantropis di dalam jiwa Awang Faroek di kemudian hari.
“Meski cuma sebentar, saya melihat dan merasakan secara langsung bagaimana denyut nadi kehidupan Suku Dayak saat itu yang amat sederhana, bahkan boleh dikatakan masih terbelakang. Sejak lama, mereka memang tidak diperhatikan oleh pemerintah karena posisinya yang jauh di pedalaman dan perbatasan Kalimantan. Baru sekitar tahun tahun 1970-an ada program pembangunan daerah perbatasan dan baru ada kesempatan bagi mereka (Suku Dayak) untuk mengikuti kemajuan zaman. Ternyata, saudara-saudara kita orang Dayak tersebut juga tidak kalah kok. Kalau diberi kesempatan, mereka juga bisa maju. Terbukti, kini sudah banyak orang-orang Dayak yang pintar dan mampu mengisi pos-pos penting di berbagai bidang,” tandas Awang Faroek.
Namun, kenangan indah di Barongtongkok waktu itu tidak berlangsung lama. Menginjak kelas tiga SR, Awang Faroek kecil harus berpindah sekolah lagi mengikuti kepindahan tugas ayahanda ke Tenggarong, Kutai, Kalimantan Timur. Di Tenggarong, Awang Faroek masuk kelas tiga pada Sekolah Rakyat Negeri (SRN). “Ketika kelas tiga SRN di Tenggarong itu saya pernah satu kelas dengan Pak Kaning (sapaan akrab mantan Bupati Kutai Kartanegara Syaukani Hasan Rais –red). Jadi, Pak Kaning itu dulu anaknya memang agak bandel dan nakal sehingga dia sempat tidak naik kelas,” tutur Awang Faroek.
“Saya dan Awang Faroek sudah saling mengenal sejak kami masih di SRN Tenggarong. Saya pernah satu kelas dengan dia hingga duduk di kelas tiga. Setelah itu, karena saya terpaksa tinggal kelas, maka Awang Faroek lebih dulu satu tahun daripada saya,” ujar Pak Kaning (2006). Pak Kaning menambahkan, “Semenjak masa sekolah, Awang Faroek merupakan pribadi yang sangat menonjol, dia termasuk siswa yang berprestasi. Nilai-nilai di pelajarannya selalu yang terbaik. Berbeda dengan saya. Selama masa sekolah, saya termasuk siswa yang tidak begitu aktif, bahkan sampai mengabaikan pelajaran.”
Naik kelas empat SRN, Awang Faroek berpindah lagi.  Kali ini ke Kota Tarakan, lantaran ayahanda memperoleh tugas baru sebagai wedana di sana. “Pada saat naik kelas empat SRN, saya kemudian pergi ke wilayah Tarakan, ikut kepindahan ayah yang memperoleh tugas baru sebagai wedana,” kata Awang Faroek.
Awang Faroek bersekolah di SRN Kampung Bugis, Tarakan. Di SRN ini, Awang Faroek sempat satu sekolah dengan Silvian Yulian Wenas yang lebih populer disapa S.Y. Wenas. Sebagaimana diketahui karir S.Y. Wenas banyak dihabiskan sebagai perwira tinggi Kepolisian Republik Indonesia (Polri), di antaranya sempat dipercaya sebagai Kapolda Kaltim serta Komandan Korps Brimob. “Pada waktu di SRN Kampung Bugis, saya sempat punya adik kelas bernama S.Y. Wenas. Dia kelas tiga dan saya kelas lima,” Awang Faroek berkisah.
Selama di Kota Tarakan ini pula, ayahanda Awang Ishak --yang waktu itu dipercaya sebagai wedana—berkarib akrab dengan Pitoyo Mangkusubroto, Kepala BPM Tarakan (sebelum lahirnya Pertamina). Sekadar pengetahuan, Pitoyo Mangkusubroto adalah ayah dari Dr. Kuntoro Mangkusubroto yang mantan Menteri Pertambangan dan Energi era Presiden B.J. Habibie, mantan Direktur Utama PLN, dan mantan Ketua Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh. 
Sekitar dua tahun bermukim di Kota Tarakan, Awang Faroek berhasil menamatkan pendidikan dasarnya di SRN Tarakan pada tahun 1961. Sementara SMP (lulus tahun 1964) dia rampungkan di kampung halamannya Tenggarong, Kutai, Kalimantan Timur.
Pengalaman bergaul dengan berbagai lapisan masyarakat dan suku dalam perjalanan masa kanak-kanak menjadikan Awang Faroek memahami betul bagaimana harus menghadapi teman dan kawan dari suku-suku lain. Dia tumbuh menjadi pribadi yang egaliter dan mampu memahami bagaimana sebuah kesempatan dan peluang harus diberikan seluas-luasnya kepada siapa pun.  
Berkat pengalamannya di masa kecil itu, Awang Faroek jadi tidak sependapat bila dikatakan orang Dayak itu kerap diberi stigma negatif sebagai komunitas masyarakat terbelakang dan bodoh. “Saya yakin, kalau diberikan kesempatan yang sama, mereka juga bisa maju. Terbukti, kini banyak orang Dayak yang pintar dan mereka mampu mengisi pos-pos penting di berbagai bidang,” ujar Awang Faroek. Sekadar contoh Gubernur Kalimantan Tengah Agustin Teras Narang dan Gubernur Kalimantan Barat Cornelis yang asli putra Suku Dayak. Keduanya memperoleh kekuasaan politik dan mendapat legitimasi kuat dari rakyatnya, karena dipilih langsung oleh rakyat melalui proses demokratis pemilihan kepala daerah secara langsung.
Menurut Awang Faroek, pada zaman dia masih kanak-kanak dulu saat bermukim di Barongtongkok, orang-orang Dayak memang belum diberikan atau memperoleh kesempatan. Hal yang sama juga terjadi pada suku-suku lainnya, termasuk Suku Kutai. “Tapi memang agak berbeda dibandingkan dengan di wilayah Kutai. Sebab, dulu Kutai itu merupakan pemerintahan kerajaan dan di kerajaan ada sesepuh keraton. Nah, mereka inilah yang memiliki pemikiran atau wawasan yang luas. Sehingga, banyak orang Kutai yang dikirim sekolah. Mereka itulah yang kini banyak mengisi jabatan di pemerintahan di wilayah Kalimatan Timur,” terang Awang Faroek.
Bukanlah suatu proses yang tiba-tiba bila nasib warga Suku Dayak di Kalimantan Timur kurang beruntung sampai kini. Hal ini tidak terlepas dari pandangan minor terhadap mereka yang sudah sejak lama menancap di berbagai kalangan. Simak saja pendapat Van J. Vert sebagaimana dikutip van Linden (1854), Mill Rokaert (1987), dan dikutip kembali oleh Stephanus Djuweng (1996), bahwa “Orang Dayak adalah orang-orang yang ditakdirkan untuk dikuasai ketimbang menjadi penguasa”. Sungguh, inilah penilaian negatif yang amat merendahkan harkat dan martabat Suku Dayak. Linden dan Vert, kata Rokaert, adalah antropolog kolonial Belanda yang dianggap membuat penilaian sangat negatif dan tidak benar. Kendati begitu, anehnya orang-orang Dayak dan non-Dayak justru percaya saja kepada penilaian semacam itu. Dan memang, realitas menunjukkan selama ratusan tahun lamanya, suku-suku Dayak di Kalimantan menjadi pihak yang marjinal dan mereka lebih banyak dikuasai daripara menjadi penguasa, sekalipun atas dirinya sendiri.
Menurut pandangan Stephanus Djuweng (1996), tidak hanya dalam diskursus ilmiah dan dokumentasi sejarah dan politik saja dapat ditemukan sejumlah pola penundukan terhadap Suku Dayak, pun praktik-praktik pelecehan, gaya eksploitasi, dan perilaku diskriminatif terhadap mereka. Juga dalam pelajaran agama, pendidikan formal, ucapan pejabat, dan publikasi media massa. Ironisnya, sebagian besar orang Dayak, tidak saja membenarkan, bahkan sampai termakan (terinternalisasi) oleh deskripsi-deskripsi negatif atas diri mereka.
Dayak, sebenarnya, adalah nama kolektif untuk merangkum ratusan kelompok etno-linguistik di Kalimantan (Borneo). Kelompok-kelompok ini kerapkali pula disebut sub-sub Suku Dayak. Terdapat banyak variasi antara sub-suku satu dan sub-suku yang lainnya. Dengan demikian tidaklah tepat untuk melakukan generalisasi dan uniformitas. Kendati begitu terdapat persamaan-persamaan unsur budaya yang fundamental sehingga memungkinkan kita memberikan gambaran umum yang dapat diterima oleh publik.
Selama ini terdapat suatu litani yang nyaris tiada berujung tentang orang Dayak. Litani itu, kata Stephanus Djuweng (1996), sebagian memuji, namun sebagian besar justru melecehkan Suku Dayak. David Jenkins dan Guy Sacerdoty yang menulis artikel di Far Eastern Economic Review (1978) semata-mata contoh, menggambarkan orang Dayak sebagai the legendary wild man of Borneo (manusia liar Borneo yang legendaris). Sementara Jan Ave dan Victor King (1985) melukiskan orang Dayak sebagai the people of the weaving forest (orang dari hutan yang meratap). Bahkan, ada pula yang menggambarkan mereka sebagai the headhunters of Borneo (pemburu kepala dari Borneo).
Pada masa sebelum merdeka, Dayak merupakan kata ejekan yang sangat memilukan hati. Ketika seseorang menyimpang dari norma-norma yang umum –norma Islam dan norma Kolonial Belanda— disebut “Dayak”. Ikan dan belacan busuk di toko-toko disebut Dayak. Pokoknya, Dayak itu berarti kotor, kafir, tidak tahu aturan, buas, liar, gila, terbelakang, dan tidak berbudaya. Dayak adalah orang liar Borneo yang berekor. Nah, yang satu ini boleh jadi ada benarnya, karena lelaki Dayak –konon berekor di depan, tentu saja— bukan di belakang (Djuweng, 1996).
Kebijakan pendidikan di zaman Kolonial Belanda yang dikontrol pusat-pusat kekuasaan feodal (kesultanan) nyaris menutup kesempatan bagi orang Dayak untuk mengenyam pendidikan. Bila orang Dayak ingin bersekolah lebih dari kelas tiga Sekolah Rakyat (kini Sekolah Dasar), maka mereka harus masuk Islam, meninggalkan identitas budaya, agama, sosial dan politik. Jika satu-dua di antara mereka memasuki dinas kepegawaian kolonial, untuk promosi jabatan, mereka harus melepaskan identitas ke-Dayak-an mereka.
Litani bernada minor demikian tidak bisa dihapuskan begitu saja oleh Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945. Pandangan salah dan negatif tentang manusia Dayak yang tertancap massif selama ratusan tahun pada masa kolonial itu diperkuat pula oleh pusat-pusat kekuasaan feodal yang telah tertanam kukuh. Dan, bekas racun itu masih ada pengaruhnya sampai sekarang.
Kini, dalam diskursus pembangunan dan modernisasi, masyarakat Dayak lebih dikenal sebagai peladang berpindah, suku terasing, perambah hutan, orang tidak berbudaya, suku pengembara, orang terbelakang, dan sejumlah predikat negatif lainnya (Djuweng, 1996). Sebab itu, mereka cuma dimukimkan. Pola pertanian mereka harus diubah. Budaya mereka mesti dihilangkan. Maka, perampasan tanah-tanah Dayak atas nama Republik dan Pembangunan Nasional, atas nama modernisasi dan pertumbuhan ekonomi, dianggap legal. Begitu pun eksploitasi hak-hak intelektual masyarakat adat (indigenous people) oleh para intelektual modern kita, justru dianggap sebagai hal yang wajar. Mereka cukup senang ketika ada penelitian ilmiah tentang mereka. Hal ini dikatakan seorang bergelar profesor-doktor dalam sebuah seminar internasional di Jakarta beberapa tahun silam. Begitulah, orang kecil dan lemah selalu berkorban, dan yang kuat yang menikmatinya.
Pendek kata, kualitas sumber daya manusia (SDM) orang Dayak masih dipandang sebelah mata. Padahal, di mata Awang Faroek, pandangan minor terhadap orang Dayak tidak terlepas dari faktor kesempatan dan perlakuan yang diskriminatif yang selama ini mereka terima. Selama ini, wilayah Kalimantan hanya dilihat potensi sumber daya alamnya nyaris tanpa diimbangi upaya membangun sumber daya manusianya.

B.    Duka yang Mengguncang Ekonomi
Selepas dari SMP, Awang Faroek belum berkeinginan merantau ke kota yang lebih besar. Dia tetap ingin berada di kampung halamannya, Tenggarong, untuk melanjutkan pendidikan SMA. Dengan penuh kedisiplinan yang diajarkan ayahanda Awang Ishak, di sela-sela kesibukan sekolah, Awang Faroek memanfaatkan waktunya tidak semata-mata untuk menggeluti bangku sekolah. Dia juga berusaha menyalurkan hobi bermain musik. Bahkan, bersama kawan-kawannya, dia sempat membentuk kelompok band.
“Dulu, saya punya grup band, Gesnaria namanya. Personilnya lima orang, seingat saya antara lain Ir. Fahnoerdin, Ir. Samidin, Mahmud dan saya sendiri,” Awang Faroek mengenang masa remajanya di Tenggarong. Ayahanda Awang Ishak sangat mendukung keberadaan grup band. Itulah sebabnya, meski kini Awang Faroek sudah berada di puncak karir politik sebagai Gubernur Kalimantan Timur, dia tetap meluangkan waktu buat bernyanyi dan bermain musik untuk penyegaran. Pada waktu-waktu tertentu dia tidak menampik bila ada warga masyarakat yang meminta dirinya naik ke panggung menyumbangkan satu atau dua lagu. Apalagi, suaranya tidak kalah dibandingkan suara penyanyi profesional.
Dari hobi musik pula, Awang Faroek bertemu perempuan pujaan hati E. Amelia Suharni yang kini telah menjadi isteri dan memberinya tiga anak. Selain hobi bernyanyi, puteri kelima H.E.M. Djakaria Mas Truno Djojo (pensiunan Sekretaris Wilayah Daerah Tingkat I Kalimantan Timur) ini juga tidak mau kalah. Perempuan pujaan hati ini pun sempat memiliki grup band yang diberi nama Payi, kependekan dari Pemuda Ahmad Yani.
“Dulu, isteri saya kebetulan pula penyanyi dan ia punya grup band Payi (Pemuda Ahmad Yani). Selain itu ia juga aktif di kepanduan Pramuka. Jadi, kami memiliki banyak kesamaan. Kebetulan, di luar itu, kami pun masih ada hubungan keluarga serta sama-sama dari Tenggarong,” papar Awang Faroek menceritakan asal mula kisah asmara dengan sang isteri. Awang Faroek merajut tali kasih dengan Amelia Suharni yang waktu itu bersekolah SMA di Kota Samarinda. Jarak tidak menjadi kendala dalam rajutan kasih kedua sejoli muda ketika itu.
Tak sebatas kegiatan musik yang berbau glamor yang ditekuni Awang Faroek di masa remaja. Mulai di bangku SMA dia juga mulai belajar berorganisasi. Dia aktif di organisasi pelajar di Tenggarong. Bahkan, dia sempat memperoleh kepercayaan untuk memimpin Ikatan Pelajar Sekolah Menengah Atas Negeri Tenggarong tahun 1963-1966. Masa itu, dalam waktu hampir bersamaan, dia sempat pula aktif di Gerakan Pramuka Kwartir Cabang (Kwarcab) Kabupaten Kutai di Tenggarong. Bermula sebagai penggalang, penegak, sampai pembina sekitar tahun 1962-1966.
Selain itu, Awang Faroek tercatat pula sebagai Ketua DPC Gerakan Siswa Nasional Indonesia (GSNI) di Kabupaten Kutai, 1963-1966. Dia juga sempat aktif di Kompi Pelajar Serbaguna (Kijasena), bahkan sampai dipercaya sebagai komandan batalyon. Darah pejuang dari Tenggarong yang mengalir dari ayahanda Awang Ishak rupanya tetap kental dalam diri Awang Faroek di usia remaja.   
Di tengah kesibukan dan kegembiraan menghabiskan masa remaja, datang kabar duka. Ayahanda Awang Ishak meninggal dunia pada usia 58 tahun pada tahun 1967. Padahal, Awang Faroek belum usai menamatkan SMA. Jelas, perekonomian keluarga sedikit terguncang. Tapi, Awang Faroek tak ingin larut dalam duka yang berkepanjangan. Berkat gemblengan disiplin hidup sederhana dan mandiri, Awang Faroek langsung memupuk jiwa kewirausahaan yang ada dalam dirinya untuk membantu ibunda Dayang Djohariah memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ketika itu, Awang Faroek dan sudara-saudaranya sempat berjualan kacang di pinggiran jalan di Kota Tenggarong. Sebagaimana petuah Rasulullah Muhammad saw, bahwa Allah SWT membuka delapan dari sepuluh pintu rezeqi melalui perniagaan atau perdagangan.
“Pada tahun 1965-an saya sudah mulai berjualan kacang dengan merek Awangko. Saya dan almarhumah kakak saya Dayang Sabariah bertugas mendorong kereta jualan kacang tersebut,” kenang Awang Faroek. Bahkan, dia tidak merasa malu melakoni pekerjaannya, walau dia masih keturunan bangsawan Kutai yang sangat dihormati masyarakat setempat.
“Saat ayah memasuki masa pensiun pada tahun 1965-1966, saya masih duduk di bangku SMA di Tenggarong. Ayah mendidik kami saat itu dengan disiplin sangat tinggi, hidup sederhana dan mandiri, dan kami juga diajari oleh beliau agar tidak boleh malu dalam berusaha yang halal,” Awang Faroek menambahkan.
Biasanya, demikian cerita Awang Faroek lebih lanjut, kegiatan berjualan itu dilakukan sepulang sekolah. Dari sore hingga malam hari. Dia melakoninya tanpa beban, penuh kegembiraan ala remaja sebayanya. Terkadang, ada teman sekolah yang meledek, lantaran Awang Faroek berjualan di pinggir jalan. Tapi, Awang Faroek menganggap angin lalu saja. Prinsipnya, menurut dia, toh pekerjaan itu halal dan tidak merugikan orang lain. Terlebih lagi, ayahanda memang mendidik anak-anaknya dengan pola disiplin yang tinggi, hidup sederhana dan mandiri serta tidak boleh malu sepanjang berada di jalan yang halal.
Di masa-masa 1950-an sampai 1960-an, keluarga besar Awang Ishak sempat memiliki kios khusus untuk berjualan barang-barang kebutuhan sehari-hari seperti gula, minyak, makanan kecil dan rokok. “Kios tersebut letaknya di dekat bioskop Tenggarong,” kata Awang Faroek sembari mengingat-ingat bahwa suatu ketika jualannya laku dan memperoleh keuntungan lumayan. “Setelah melaporkan keuntungan kepada ayah, biasanya saya diberi persenan oleh beliau. Misalkan kalau untung Rp750, maka saya dikasih persen Rp50. Wah, nilai uang waktu itu sangat besar dan bukan main senangnya saya,” kenang Awang Faroek.

C.   Merantau ke Malang, Jawa Timur
Usai menamatkan sekolah di SMA Tenggarong pada tahun 1967, pemuda yang taat beribadah ini memberanikan diri merantau ke Tanah Jawa. Pilihannya jatuh ke Kota Apel, Malang, Jawa Timur. Tanpa kesulitan yang berarti, Awang Faroek diterima di Jurusan Ekonomi Fakultas Keguruan Ilmu Sosial Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIS IKIP) Negeri Malang. Di sana dia menumpang tinggal di rumah seorang pamannya bernama Awang Khairul –salah seorang adik kandung ayahanda Awang Ishak.
Menurut Awang Faroek, semula dia memilih masuk kuliah di Kampus IKIP Malang karena mengikuti arahan Awang Faisjal, kakak kandung sekaligus lelaki tertua dalam keluarga besarnya. Alasan Awang Faisjal waktu itu, karena saudara-saudaranya yang lain sudah banyak yang memilih masuk Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN), maka Awang Faroek diarahkan saja agar masuk ke IKIP. Harapannya, tentu, agar kelak Awang Faroek bisa mengembangkan karirnya di dunia pendidikan, sesuai bidang studi yang dipilihnya.
“Begini, kami semua bersaudara ini mengikuti jejak ayahanda. Ayah saya kan pamong. Saya semula memang ingin jadi guru saja, sesuai dengan arahan kakak saya Awang Faisjal. Makanya, saya memilih masuk kuliah di IKIP Malang. Tapi, eh, belakangan akhirnya saya juga jadi pamong. Barangkali selain faktor keturunan, ini juga panggilan jiwa,” cerita Awang Faroek sambil tersenyum.
Di Kota “Apel” Malang yang berhawa sejuk tersebut kebetulan rumah sang paman Awang Khairul berada tak jauh dari Kampus IKIP. Berjarak sekitar satu kilometer. Jadi setiap pergi-pulang ke Kampus IKIP, Awang Faroek cukup senang melakoninya dengan berjalan kaki.
“Saya kuliah di IKIP Malang saat itu hanya mengandalkan kiriman wesel dari ibu di Kaltim. Di Malang, sepeda pun saya tidak punya. Saya biasa berjalan kaki dari rumah paman ke Kampus yang berjarak sekitar satu kilometer,” kenang Awang Faroek sambil menambahkan, “Saya masih ingat, di masa itu, uang seratus perak sudah bisa buat makan dan minum. Jadi, lidah saya ini lidah Jawa. Saya juga bisa berbahasa Jawa dengan baik, nggak gampang dikibulin dengan bahasa Jawa.”

D.   Mengenal Organisasi Nasionalis
Selama menjalani kuliah di Kampus IKIP Malang, Awang Faroek tak mau tinggal diam sekadar belajar text book dari ruang kelas yang satu ke ruang kelas berikutnya. Jiwa keorganisasiannya yang telah tampak semasa SMA terus diasahnya selama melakoni kehidupan Kampus IKIP Malang. Di sela-sela aktivitas studi yang padat, dia menyempatkan diri berkegiatan sebagai Ketua Pengurus Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Malang, periode 1968-1973. Pada waktu itu, organisasi mahasiswa yang cukup populer di Tanah Air dan menjadi wadah aktivis mahasiswa berkiprah adalah GMNI dan HMI (Himpunan Mahasiswa Islam). “Karena dasarnya jiwa saya ini nasionalis, maka saya pilih bergabung dengan GMNI,” demikian alasan pengagum Soekarno ini saat dia memilih bergabung di GMNI. Sejak itulah, kata Awang Faroek, “Saya sudah kenal yang namanya Pak Taufik Kiemas (utusan GMNI dari Palembang), Theo Leo Sambuaga, dan lain-lain, khususnya sejak berlangsung Kongres GMNI di Salatiga, Jawa Tengah. Kongres itu kemudian memilih Soerjadi (Ketua Umum) dan Theo Leo Sambuaga (Sekretaris Jenderal),” papar Awang Faroek.
Tahun 1969-1972, Awang Faroek dipercaya sebagai Ketua Umum Senat Mahasiswa Fakultas Keguruan Ilmu Sosial IKIP Malang. Tidak cukup hanya aktif di organisasi kemahasiswaan, Awang Faroek juga berusaha menceburkan diri ke dalam organisasi politik. Di awal tahun 1970-an itu, tepatnya tahun 1971-1973,  dia pun aktif sebagai anggota Golongan Karya (Golkar) Kotamadya Malang. Sebelum lulus IKIP, dia sempat menjadi anggota Majelis Permusyawaratan IKIP Malang. Pada tahun 1973 Awang Faroek berhasil menyelesaikan studinya di IKIP Malang dan berhak menyandang gelar sarjana kependidikan.
Dia kemudian memilih pulang kampung ke Tenggarong. Langkahnya mantap, dia ingin melamar perempuan pujaan hatinya E. Amelia Suharni yang telah dipacarinya sejak masih duduk di bangku SMA. Pendar-pendar cintanya yang dirajut antarkota Tenggarong-Samarinda terus berlanjut antara Malang dan Tenggarong tetap menggelora. Melewati masa pacaran yang tidak mudah di zaman belum populer dunia teleon seluler. “Dulu kan belum ada telepon, kami hanya main surat-suratan. Berbeda dengan anak muda sekarang yang bisa pacaran lewat SMS,” ujar Awang Faroek mengisahkan masa pacaran dengan perempuan pujaan hati Amelia Suharni yang sempat kuliah di Bandung, Jawa Barat, itu.
Tahun 1974, keduanya bersepakat untuk membangun mahligai rumah tangga di usia yang relatif muda (Awang Faroek berusia 26 tahun dan Amelia Suharni berumur 25 tahun).
Dari buah perkawinan keduanya kemudian lahir tiga orang anak kesayangan, masing-masing Awang Ferdian Hidayat (lahir tahun 1975), Dayang Dona Walfaries Tania (lahir tahun 1976) dan si bungsu Awang Fauzan (lahir tahun 1985). Anak pertama dan anak kedua telah menikah, masing-masing dengan Rima Hartani dan Toni Saparisa. Ikatan kekeluargaan antara orang tua, anak, menantu dan cucu-cucunya senantiasa terjalin dengan baik. Suami-isteri itu pun selalu akur dan dihormati oleh ketiga anak-anak dan menantu mereka.
Bagi Awang Faroek, keharmonisan keluarga turut mempengaruhi etos kerja dan perjalanan karirnya selama ini. Sebab itu, baginya, makna keluarga tidak dapat dipisahkan dengan makna kesuksesan yang telah dirintis dan diraih sepanjang perjalanan hidupnya. Keluarga tidak ubahnya motivator bagi perkembangan karir Awang Faroek sampai saat ini.
Awang Faroek berhasil melewati masa-masa krusial di usia menjelang balig sampai remaja dan anak muda (sekitar 8-24 tahun) penuh dengan tanggung jawab. Dia mengisi hari-harinya untuk senantiasa menerapkan pondasi kejujuran, kedisiplinan dan tanggung jawab yang telah ditanamkan ayahanda Awang Ishak dan ibunda Dayang Djohariah di masa kanak-kanak (0-8 tahun). Dia pun merasa mantap tatkala memasuki rumah tangga di saat usianya melewati seperempat abad.
Kini di usianya delapan windu (64 tahun), Awang Faroek mengakui seolah memperoleh energi baru dan kenikmatan tiada tara dalam konteks keutuhan sebuah kehidupan keluarga. Kenikmatan yang merefleksikan konstruksi dan jiwa sebuah rumah tangga yang utuh yang terdiri dari anak, menantu dan cucu. Berbicara soal cucunya, Awang Faroek menggeleng-gelengkan kepalanya penuh khidmat seakan menggambarkan nikmatnya menjadi seorang kakek. “Waduh, nikmatnya ternyata luar biasa mempunyai cucu. Kenikmatan yang tiada tara,” ujar Awang Faroek suatu waktu dengan penuh antusias. Diakuinya, selepas urusan dinas dan segudang kegiatan lainnya, tidak ada yang dia nikmati selain bercengkerama dengan cucu pertamanya Fionalita Aifa Savitri. Kehadiran cucu pertama itu –kemudian disusul lahir cucu kedua Awang Farel Muhammad dan cucu ketiga Dayang Cyntia Pratistadewi—laksana obat penawar letih dan lelah di tengah rutinitas sang kakek yang tiada kenal waktu itu. 

No comments:

Post a Comment