* TUJUH
Rakyat
akan takluk pada pemimpin yang cerdas, berprestasi, dan melayani sepenuh hati,
bukan karena banyaknya uang, popularitas, ketampanan dan janji-janji.
Prof. Dr. Komaruddin
Hidayat, Cendekiawan Muslim
DALAM
mengelola pemerintahan, figur kepala daerah (bupati atau wali kota) sangat
besar perannya, bahkan acapkali bagaikan raja kecil. Kepala daerah yang berpihak pada rakyat, bisa mewujudkan
aspirasi masyarakat, hukum, keadilan, serta kemajuan pembangunan dan kemakmuran
sehingga diidolakan warganya. Sebaliknya, banyak figur kepala daerah yang tidak
diidolakan gara-gara tidak memiliki profil ideal sebagai pimpinan daerah.
Terlebih pada pemimpin yang diindikasikan bermasalah hukum. Banyak pihak yang
akan menggoyang posisinya.
Hal yang harus senantiasa
diingat, bahwa setiap pejabat --termasuk kepala daerah-- tidak selalu hidup
dengan orang-orang yang setia lahir-batin di lingkungan pekerjaannya (birokasi).
Ada yang suka dan ada yang tidak suka, ada yang ditampilkan dan ada yang hanya
dipendam. Ada yang benar-benar setia, ada pula yang pura-pura setia, sepertinya
setia namun faktanya tidak setia. Dari merekalah, biasanya didapat banyak data
tentang tindakan yang diindikasikan kuat berunsur korupsi atau tindak pidana
lainnya.
Mereka yang pernah dekat
dengan kepala daerah tersebut, ketika kemudian berseberangan, biasanya akan
berbuat sesuatu untuk bisa membongkar rahasia kepala daerah tersebut. Termasuk
lawan politiknya, yang memang sejak awal dan terus mengumpulkan data tindakan
kepala daerah yang berunsur melawan hukum tersebut, melukai hati rakyat ataupun
merugikan negara.
Manakala data dirasa
cukup, biasanya mereka akan ’’meledakannya’’ agar berdampak eksplosif.
Harapannya tentu agar ditindak-lanjuti oleh aparat yang berwenang, bukan
sekadar menggoyang dengan kekuatan massa atau publikasi di media massa.
Fenomena pengidolaan dan
penggoyangan oleh rakyat, lawan politik, teman, mitra kerja dan ataupun stafnya
terhadap kepala daerah merupakan sesuatu yang ’’wajar’’. Kewajaran ini secara otomatis
menjadi sesuatu yang wajib diperhatikan oleh setiap kepala daerah.
Rakyat pun perlu memahami
betapa penting arti sosok ideal kepala daerah, minimal tidak asal memilih calon
kepala daerah pada saat pilkada. Dalam jabaran ideal, sosok kepala daerah
seharusnya berangkat dari sosok diri yang bersih dan berwibawa, serta jujur,
dan amanah.
Seorang kepala daerah
harus dapat mengetahui, memahami, menghormati, dan selalu menjunjung tinggi
kaidah agama, hukum, pemerintahan, kenegaraan, dan sosial kemasyarakatan. Sosok
seperti itu biasanya bisa efektif dan efisien dalam bekerja melalui dukungan kekompakan
tim guna mendukung tercapainya cita-cita kehidupan bersama.
Sosok ideal seperti itu
merupakan keharusan saat tugas kepala daerah sebagai pemimpin pemerintahan dan
daerah dalam rangka melaksanakan amanat yang diembannya untuk kepentingan
rakyat, bukan kepentingan pribadi atau kelompok. Hal ini perlu memperoleh
perhatian mengingat ada indikasi sekarang ini keberpihakan kepala daerah pada
rakyat secara umum masih jauh dari harapan.
Bagi seorang kepala
daerah, kemungkinan diidolakan atau digoyang seperti itu mengharuskan dirinya
mampu berintrospeksi, yang harus didukung oleh anggota keluarga, teman, dan
para pendukungnya. Dia dan wakilnya harus dapat menjadi pemimpin yang baik,
dengan memahami arti kepemimpinan sebagai amanah yang harus pula dipertanggung-jawabkan
kepada Tuhan Yang Maha Esa. Amanah harus dilaksanakan dengan semangat iman,
kejujuran dan kebersamaan untuk membuat
keadaan menjadi lebih baik.
Adanya beberapa kepala
daerah yang diidolakan, atau juga digoyang, di mata Bupati Sudarsono menjadi alat
banding dan ukur diri. Sudah atau belum layakkah dirinya disebut sebagai kepala
daerah yang patut diidolakan dan dekat dengan rakyat yang telah memberinya
amanah? Dia berusaha memanfaatkan waktu untuk makin dekat dengan rakyat dan
berbuat lebih baik untuk mereka, termasuk memperbesar anggaran pembangunan
untuk rakyat dibanding yang untuk belanja pegawai.
Sudarsono juga berbagi
tugas dengan wakilnya, menghindarkan diri dari bertindak menyimpang dan
sewenang-wenang. Dia berusaha kompak dengan wakilnya untuk mengantar warga
Seruyan menjadi pemain di rumahnya sendiri, tidak sekadar menjadi penonton.
A.
Konsolidasi
Internal dan Pemetaan Problematika
Kali pertama memasuki
lingkungan pemerintahan daerah Kabupaten Seruyan, medio 2013, Sudarsono
langsung melakukan konsolidasi internal (birokrasi
pemerintahan) dan berusaha menemu-kenali persoalan-persoalan yang dihadapi oleh
rakyatnya. Dia menyadari benar bahwa kelancaran mesin birokrasi dan relasi
harmonis dengan birokrat menjadi kunci sukses bagi keberlangsung jalannya
pemerintahan dalam mewujudkan visi-misi yang telah dia tebarkan ke
tengah-tengah rakyat, terutama, selama masa kampanye.
Sekadar pengetahuan, birokrasi
adalah institusi modern yang “wajib ada” dalam khasanah penyelenggaraan
pemerintahan –baik pusat maupun daerah. Birokrasi modern yang ideal seperti
yang dicitrakan oleh Weber dan birokrasi yang netral sebagaimana yang
dicitrakan oleh Hegel ternyata masih sekadar sebuah obsesi dalam
pelaksanaannya. Karena lembaga birokrasi merupakan suatu bentuk dan tatanan
yang mengandung struktur dan kultur. Struktur mengetengahkan susunan dari suatu
tatanan, dan kultur mengandung nilai (values),
sistem, dan kebiasaan yang dilakukan oleh para pelakunya yang mencerminkan perilaku
dari sumber daya manusianya.
Berkaitan dengan hal tersebut,
sejarah birokrasi pemerintahan Indonesia menunjukkan kedudukan birokrasi
terhadap kekuatan politik tidak lagi bisa dikatakan netral. Pada masa
pemerintahan Orde Lama semua posisi dan jabatan birokrasi terkooptasi dan
memihak kepada pemerintahan Presiden Soekarno yang memberikan akses kepada tiga
partai Nasakom (Nasionalis, Agama dan Komunis) untuk mengkapling birokrasi
departemen pemerintah. Pada masa pemerintahan Orde Baru pengangkatan seseorang
pada jabatan birokrasi dalam peraturannya mempergunakan sistem karir, namun
hampir semua pejabat birokrasi pemerintah merupakan partisan dari kekuatan
politik yang memerintah sebagai mayoritas tunggal (Golkar). Sedangkan pada era
reformasi, terbukanya kran kebebasan telah memunculkan euphoria yang dialami oleh kekuatan politik. Akibatnya, kekuatan
politik saling berlomba untuk mendapatkan pos-pos strategis di lingkungan
birokrasi pemerintahan. Sebut saja kasus pergantian Sekretaris Jenderal (Sekjend)
Departemen Kehutanan dan Perkebunan yang diisi oleh orang partai, kemudian
sempat ramai dibicarakan pasca pembentukan Kabinet Persatuan Nasional. Hal ini
menunjukkan masih kuatnya keinginan para pejabat politis menguatkan posisi
tawar partai politiknya di tengah-tengah masyarakat.
Didasarkan pada
pengalaman birokrasi pemerintah tersebut, pakar ilmu pemerintahan Ichlasul Amal
menyatakan bahwa memperkuat birokrasi dalam rangka memperlancar proses
pembangunan dan sekaligus meningkatkan proses demokratisasi adalah suatu mission impossible.
Pendapat Ichlasul Amal senada
dengan apa yang dikemukakan oleh pakar politik Ari Dwipayana yang mengatakan
bahwa tidak ada birokrasi yang netral dan seolah-olah mengabdi pada kepentingan
negara. Birokrasi, katanya lebih lanjut, sudah berpolitik dengan kekuatan yang
dimilikinya. Dia menegaskan birokrasi itu boleh berpolitik, namun yang dijamin
adalah proses berpolitik dalam rangka balancing
power yang mengikut-sertakan publik untuk ikut menentukan birokrasi.
Penegasan ini seakan-akan
menguatkan hipotesis bahwa birokrasi dan politik adalah dua konsep yang sangat
sulit diwujudkan secara bersama-sama. Karena antara politik dan birokrasi
mempunyai dua kutub yang saling tarik-menarik. Politisi memanfaatkan jaringan
birokrasi ke arena politik, paling tidak untuk merebut dan atau mempertahankan
kekuasaan politiknya. Sedangkan birokrat membuka diri ke arena politik, minimal
untuk mencapai jabatan yang lebih tinggi atau sekadar buat mempertahankan
posisi jabatan yang strategis dalam jabatan birokrasi.
Di era otonomi daerah ini,
dengan berlakunya Undang-undang (UU) Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan
Daerah, yang mana UU tersebut memfasilitasi Pemilihan Kepala Daerah secara Langsung,
ternyata persoalan birokrasi pemerintah versus kekuatan politik semakin
kompleks dari mulai konflik biasa sampai pada tindakan anarkis.
Ada baiknya kita melihat
dua kasus yang cukup menarik untuk melengkapi gambaran persoalan politik dan
birokrasi di daerah pada era otonomi ini. Kasus pertama, tuntutan agar Bupati
Temanggung (Jawa Tengah) Totok Ari Prabowo mundur dari jabatannya. Tuntutan ini
dimotori oleh masyarakat, mahasiswa dan birokrat pemerintah daerah. Dari pihak
birokrat ditandai dengan pengunduran diri 114 orang pejabat dari eselon II,
III, IV, dan V di lingkungan pemerintah Kabupaten Temanggung lantaran merasa berseberangan
dengan bupatinya.
Kemudian kasus kedua, tuntutan
agar Bupati Banyuwangi (Jawa Timur) Ratna Ani Lestari mundur dari jabatannya.
Ribuan orang dari berbagai elemen masyarakat, termasuk para kyai, menggelar
demo untuk menuntut Bupati Ratna Ani Lestari mundur. Sementara itu dari 45
anggota DPRD setempat, sebanyak 34 anggota mendukung aspirasi Bupati Ratna
mundur. Dalam hal ini, isu yang mengemuka terkait dengan kebijakan dan program
populis yang disampaikan pada masa kampanye belum bisa direalisasikan secara
maksimal.
Dua kasus ini
menggambarkan resistensi masyarakat dan birokrat terhadap kepala daerah ataupun
kebijakannya. Ke depan, kepala daerah yang terpilih melalui pemilihan kepala
daerah secara langsung (Pilkada Langsung) harus lebih hati-hati dalam mengambil
kebijakan --termasuk dalam membentuk “kabinet” pemerintahannya. Sebab, kabinet
yang diisi oleh para pejabat birokrasi pemerintah inilah yang akan mendukung
dan melaksanakan kebijakan-kebijakan politis serta sebagai saluran politik
kepala daerah sampai ke bawah.
Sudah sepatutnya kepala
daerah memiliki strategi dalam merekrut pejabat-pejabat birokrasi pemerintahannya.
Strategi ini dibutuhkan buat mendapatkan pejabat birokrasi yang dapat dan
harmonis bekerja sama dalam mewujudkan empat hal: pertama, untuk memastikan program/janji semasa kampanye dapat
diwujudkan. Kedua, melalui dukungan
jajaran birokrasi yang solid kepala daerah mampu mempertahankan kekuasaannya minimal
sampai berakhir masa jabatannya. Ketiga,
menciptakan pemerintahan yang efektif dan efisien. Dan keempat, mengakomodasi kepentingan kekuatan-kekuatan politik yang
melingkupi kepala daerah.
Kebutuhan dan harapan
terhadap birokrasi semacam ini berpotensi mengabaikan prinsip-prinsip
meritokrasi, di mana pertimbangan dalam rekrutmen jabatan birokrasi didasarkan
pada like and dislike, menempatkan
siapa yang dekat dengan pimpinan kekuatan politik akan diprioritaskan kendati
mereka tidak memiliki spesifikasi dan kualifikasi yang dibutuhkan dalam jabatan
birokrasi tersebut (dilema loyalitas dan kompetensi). Mengabaikan
prinsip-prinsip meritokrasi dalam tubuh birokrasi pemerintah berpotensi
terjadinya penyakit birokrasi (bureanomia)
yang berdampak pada: birokrasi dan birokrat menjadi tidak netral lagi;
mekanisme promosi jabatan pada jabatan karir yang ada dalam struktur
pemerintahan tidak berfungsi; birokrasi dan birokrat lebih berorientasi kepada
kepentingan partai politik daripada masyarakat; dan birokrasi dan birokrat akan
melakukan tindakan-tindakan yang tidak elegan sesuai dengan etika dan profesionalisme,
tetapi bergerak seperti massa sebagaimana politik praktis.
Mengaca pada beberapa
kasus hubungan kepala daerah dengan birokrasi/birokrat yang kurang harmonis, Sudarsono
berupaya mendekati segenap aparatur (birokrat) yang menjalankan mesin birokrasi
yang dalam masa dua periode (10 tahun) terlanjur setia kepada pemimpin-pemimpin
sebelumnya. Dia tidak ingin direpotkan oleh ketidak-setiaan atau kesetiaan semu
dari segenap lini mesin birokrasi. Dia berusaha dekati melalui berbagai media
dan kesempatan yang ada. Bersyukur, memasuki 2014, dia mampu menggapai dukungan
dan komitmen mesin birokrasi yang mampu memberikan kelancaran jalannya
pemerintahan daerah Kabupaten Seruyan.
Dia menyadari bahwa tanpa
sumbangsih segenap aparatur dan berbagai kalangan terkait maka Pemerintah
Kabupaten Seruyan akan mengalami kesulitan untuk fokus pada upaya membangun
wilayah Kabupaten tersebut. Karena sampai saat ini Kabupaten Seruyan masih
memiliki pekerjaan rumah yang cukup berat dalam rangka membangun daerah
tersebut ke arah yang lebih baik dan lebih maju.
Menurut Sudarsono,
Seruyan membutuhkan komitmen semua pihak untuk saling bersinergi dan bersatu
padu dalam rangka merealisasikan beberapa program/kegiatan terutama di pedesaan
yang ada di Kabupaten Seruyan. Bersyukur, Sudarsono dapat memperoleh masukan
dari kalangan wakil rakyat (provinsi) yang biasa melakukan kunjungan di saat
masa reses ke Kabupaten Seruyan. Banyak rakyat Seruyan menyampaikan
masukan/saran di saat ada kesempatan dialog rakyat dengan wakil rakyat.
Jadi, Sudarsono tidak
semata-mata konsentrasi memperbaiki hubungan dengan birokrasi/birokrat di
pemerintahan Kabupaten Seruyan. Dia pun membuka akses seluas-luasnya dengan
berbagai kalangan agar pembiayaan pemerintahan tidak terkendala. Upaya ini
harus dilakukan karena masyarakat sangat membutuhkan perbaikan dan penanganan
yang sebagian besar akan ditopang oleh APBD Kabupaten Seruyan.
Menurut anggota DPRD
Kalteng Heru Hidayat ST, langkah Bupati Sudarsono untuk mendekatkan diri dengan
berbagai kalangan (termasuk wakil rakyat di DPRD) cukup tepat. Dan, wakil
rakyat pun merespon dengan mensinergikan program/kegiatan pembangunan melalui
kegiatan reses. “Kegiatan reses yang langsung turun ke lapangan beberapa waktu
yang lalu untuk mensinergikan program/kegiatan baik itu dari APBD Provinsi Kalteng
maupun dengan APBD Kabupaten Seruyan sehingga hasilnya bisa optimal,” tutur
anggota DPRD Kalteng Dapil 2 ini.
Heru sangat optimis
dengan keinginan masyarakat dan pemimpin di daerah tersebut sehingga bisa
mengakselerasi pembangunan di berbagai sektor pembangunan dapat segera terwujud
secara baik.
Melalui berbagai
pendekatan ke berbagai kalangan, Bupati Sudar –panggilan akrabnya—memperoleh
banyak masuk tentang peta persoalan yang dihadapi warga masyarakat Kabupaten
Seruyan. Setidaknya ada tiga persoalan pokok, yakni: lemahnya sumber daya
manusia, kekurangan infrastruktur dan keterbatasan potensi daerah.
B.
Fokus
Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerataan Infrastruktur
Ketika mengawali masa
baktinya sebagai Bupati Seruyan, Sudarsono berjanji akan melakukan pembenahan
terhadap sarana pendidikan dan kesehatan di wilayahnya. "Kita akan
prioritaskan program untuk membenahi kedua bidang tersebut," katanya suatu
waktu.
Pendidikan dan kesehatan
dapat dikatakan merupakan kunci pokok sukses pembangunan. Dengan pendidikan yang
baik dan kesehatan yang memadai, potensi sumber daya (alam) yang ada di wilayah
ini akan dapat diolah secara optimal. Meminjam pendapat E.F. Schumacker
(penulis buku Small is Beautiful), pembangunan
mesti dimulai dari manusia: pendidikannya, organisasinnya dan disiplinnya.
Tanpa ketiga komponen ini, semua sumber daya akan tetap terpendam, tak dapat
dimanfaatkan dan tetap sekadar potensi belaka.
Sudarsono mengakui bahwa sektor
pendidikan dan kesehatan belum memperoleh perhatian yang memadai dalam
pembangunan daerah Seruyan selama ini. Tenaga pendidik dan tenaga kesehatan yang
ada di pelosok wilayah kabupaten belum mampu menjalankan tugas secara maksimal,
salah satu penyebabnya adalah karena fasilitas yang diberikan kepada mereka
masih minim, misalkan fasilitas rumah dinas, sehingga mereka merasa tidak
betah.
Kurangnya fasilitas juga
berimbas terhadap berkurangnya minat mengabdi dari tenaga pendidik dan tenaga
kesehatan. Apabila dibiarkan begitu saja maka tujuan pemerintah untuk
mencerdaskan anak bangsa tidak akan dapat tercapai.
Untuk mengatasi hal
tersebut, Sudarsono sudah membicarakan permasalahan ini dengan instansi
terkait, terutama untuk melakukan pendataan terhadap fasilitas yang sudah diberikan
sehingga akan diketahui fasilitas apa saja yang belum diberikan.
Menurut Sudar, tidak
hanya guru, tenaga kesehatan juga banyak yang masih enggan bertugas di pelosok
karena permasalahan yang sama, yakni kesulitan mencari rumah kontrakan di
daerah pelosok.
"Jadi perlu
dicarikan solusi dan program yang harus kita lakukan sehingga polemik ini tidak
berlangsung lama dan mengakibatkan pendidikan dan kesehatan kita tidak
merata," tandasnya.
Selain memprioritaskan
pembenahan pembangunan sektor pendidikan dan kesehatan, dalam masa
kepemimpinnya, Sudar juga lebih memfokuskan pembangunan infrastruktur desa yang
berkategori tertinggal.
"Sedikitnya ada 32
atau 30 persen dari 101 desa yang masih termasuk dalam kategori tertinggal dan
perlu mendapat perhatian dan langkah serius dari pemerintah daerah. Salah satu
yang mengakibatkan menjadi desa tertinggal adalah minimnya akses
infrastruktur," ucap Sudarsono dalam satu kesempatan.
Dia mengalokasikan anggaran
yang tersedia untuk melakukan pembangunan daerah-daerah pinggiran sesuai dengan
keperluan dan kebutuhan yang menjadi prioritas utama masyarakat sekitar.
Menurutnya, konsep
pembangunan pada 2014 dilaksanakan secara merata dan tidak hanya terfokus pada
pusat ibu kota kabupaten. Meski, dia mengakui, membuka akses infrastruktur
tidak semudah membalik telapak tangan dalam pelaksanaannya.
"Kami berupaya
semaksimal mungkin untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kabupaten
Seruyan. Salah satu cara untuk mencapai target tersebut dengan meningkatkan
infrastruktur pada semua kawasan dan bidang pembangunan," jelasnya.
Untuk pembangunan pada
kawasan pusat kota, jelas Sudar sedikit agak rinci, lebih diarahkan pada
perbaikan dan rehabilitasi pembangunan infrastruktur yang telah ada --misalkan
drainase dan jalan-- namun tetap disesuaikan dengan anggaran yang tersedia.
C.
Memacu
Potensi di Tengah Keterbatasan
Selain fokus pada
pemberdayaan manusia dan pemerataan pembangunan infrastruktur, di bawah
kepemimpinan Sudarsono, Pemerintah Kabupaten Seruyan juga melakukan
pengembangan di bidang ekonomi sesuai potensi dan daya dukung sumber
masing-masing wilayah di 10 kecamatan dan 101 desa.
Pengembangan itu meliputi
sektor pertanian/perkebunan, kehutanan, perikanan, peternakan, perindustrian
dan perdagangan, serta sektor pariwisata yang dapat dijadikan andalan untuk
meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) Kabupaten Seruyan.
Potensi penting sektor
perkebunan adalah kelapa sawit. Selama ini kelapa sawit merupakan aset
perkebunan utama Kabupaten Seruyan. Dengan luas lahan lebih kurang 78.871
hektar, potensi itu masih bisa dikembangkan dengan membuka lahan-lahan baru.
Sentra tanaman kelapa sawit berada di tiga kecamatan, yaitu Danau Sembuluh,
Hanau, dan Seruyan Tengah.
Seruyan juga potensial
untuk tanaman karet yang mudah tumbuh di berbagai jenis tanah. Sampai kini,
sektor kehutanan masih cukup berjaya dalam mengaktifkan sendi-sendi ekonomi di
Kabupaten Seruyan. Kontribusinya yang selalu di atas 20 persen menjadikannya
unggulan pada kegiatan ekonomi penduduk. Hutan-hutan Seruyan selain
menghasilkan kayu, juga hasil ikutannya, seperti rotan yang banyak tumbuh di
Kecamatan Seruyan Hulu.
Pengembangan ekonomi di
kabupaten ini didasarkan pada karakteristik masing-masing kecamatan. Jika
Seruyan Tengah, Hanau, dan Danau Sembuluh memiliki perkebunan kelapa sawit,
Seruyan Hulu mempunyai rotan, Seruyan Hilir memiliki wilayah potensial bagi
pengembangan budidaya tambak udang dan areal persawahan. Dibandingkan dengan
kecamatan lain, Seruyan Hilir terhitung memiliki jenis tanah yang lebih baik
untuk ditanami padi atau tanaman pangan lainnya. Juga hasil tambak yang di
antaranya budidaya udang windu biasanya dibawa ke Pulau Jawa kemudian diekspor
ke mancanegara, khususnya Jepang.
Secara agak rinci,
potensi pertanian: padi, luas tanam
6.124 Ha, produktivitas rata-rata 24,07 Kwintal/Ha dan produksi total 13.800 ton.
Kemudian jagung, luas tanam 234 Ha,
produktivitas rata-rata 17,06 Kw/Ha dan produksi total 380,3 ton; kedelai, luas tanam 32 Ha, produktivitas
rata-rata 40,05 Kw/Ha, produksi total 30,57 ton; kacang tanah, luas tanam 62 Ha, produktivitas rata-rata 49,53
Kw/Ha, produksi total 58,23 ton; ubi jalar,
luas tanam 75 Ha, produktivitas rata-rata 479,20 Kw/Ha, produksi total 671 ton;
ubi kayu, luas tanam 226 Ha,
produktivitas rata-rata 557 Kw/Ha, produksi total 2.254 ton.
Potensi yang juga tidak
bisa diabaikan adalah kelapa. Tanaman
kelapa merupakan tanaman masyarakat, terutama di Kecamatan Seruyan Hilir yang
merupakan wilayah pantai. Hasil yang berlimpah dimanfaatkan untuk pembuatan
minyak goreng dan kopra. Selain untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Kabupaten
Seruyan, kelapa dipasarkan pula ke wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).
Melalui pendidikan dan pelatihan untuk pengembangan SDM diharapkan sabut kelapa
akan dapat dimanfaatkan. Wilayah pengembangan tanaman ini masih tersedia bagi
investor untuk pengolahan buah kelapa menjadi minyak goreng ataupun tempurung
dan sabut kelapa.
Potensi
perikanan. Wilayah Kabupaten Seruyan terdiri dari rawa-rawa,
danau dan Sungai Seruyan yang mengalir dari hulu (Tumbang Manjul) sampai dengan
muara di Kecamatan Seruyan Hilir. Keadaan geografis demikian menyebabkan
perikanan air tawar sangat berlimpah dan dimanfaatkan penduduk sebagai mata pencaharian.
Apabila tidak
dibudidayakan, produksi ikan air tawar dikhawatirkan akan semakin menurun. Saat
ini sedang digalakkan cara membudidayakan ikan melalui pembuatan tambak dan
sistem karamba.
Ikan
Bakut/Betutu. Ikan Bakut banyak ditemui di pinggir-pinggir
Sungai Seruyan. Walaupun ikan ini adalah ikan ekspor dengan nilai ekonomis yang
cukup tinggi, namun masyarakat nelayan hanya menjadikannya sebagai usaha
sampingan sehingga perolehannya tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Keadaan
ini masih membuka peluang yang besar bagi para investor yang ingin menanamkan
modalnya di bidang pengembangan budidaya ikan bakut.
Ikan
Botia. Adalah ikan hias yang wilayah tangkapannya banyak
terdapat di daerah Danau Sembuluh.
Yang juga tidak kalah
potensial adalah perikanan air laut. Produksi perikanan laut pada tahun 2005
tercatat sebanyak 7.913,02 ton, melebihi sasaran yang telah ditetapkan yaitu
sebesar 7.891,99 ton, terdiri dari berbagai jenis ikan antara lain tengiri,
senangin, tongkol, dan peda.
Tambak.
Ikan
tambak yang saat ini dibudidayakan adalah ikan bandeng yang keseluruhan wilayah
budidayanya berada di Kecamatan Seruyan Hilir.
Wilayah tambak yang dibudidayakan adalah seluas 10.000 Ha, dengan
tingkat pemanfaatan lahan mencapai 2.000 Ha (20 %) dari potensi. Produksi yang
dihasilkan sebesar 493,62 ton.
Berikutnya potensi
industri kecil. Industri ebi (udang
yang dikeringkan). Hasil tangkapan udang pantai/laut, yang tidak habis
dipasarkan, dapat ditingkatkan nilai ekonomisnya dengan cara mengolahnya
menjadi ebi. Harga ebi di pasaran lebih mahal dibandingkan dengan harga udang
basah.
Produksi ebi di Kabupaten
Seruyan pada tahun 2005 tercatat 125 ton. Pemasaran ebi tahun 2005 mencapai
10,5 ton/bulan.
Industri
ikan kering. Pembuatan ikan asin banyak ditemui di
Kecamatan Seruyan Hilir (sungai bakau dan sungai udang) terutama di desa-desa
nelayan. Produksi ikan kering di Kabupaten Seruyan tahun 2005 mencapai 550 ton.
Industri
presto. Dengan berkembangnya usaha masyarakat di sektor perikanan tambak,
khususnya ikan bandeng, pembuatan pengawetan perlu diprioritaskan guna
penampungan hasil secara maksimal.
Ikan bandeng sebenarnya
merupakan hasil sampingan, diutamakan hasil udang tiger yang mempunyai nilai ekspor
cukup tinggi. Walaupun ikan bandeng merupakan hasil sampingan namun tetap
diupayakan pengembangan dan pengolahannya.
Salah satu pemecahan,
diupayakan cara membuat ikan bandeng presto sebagai industri rumah tangga. Diharapkan
industri pembuatan ikan bandeng presto ini dapat menambah penghasilan warga masyarakat.
Industri
rajungan. Di perairan Kabupaten Seruyan banyak terdapat kepiting
rajungan. Rajungan biasa ditangkap nelayan pada bulan September sampai dengan
Maret.
Rajungan merupakan
peluang ekspor yang mempunyai nilai ekonomis tinggi. Para petani ikan biasanya
menjual hasil tangkapannya ke petani pengumpul, kemudian dikirim ke mini plan
yang terletak di Seruyan Hilir. Selanjutnya kepiting rajungan tersebut dikupas
atau dipisahkan cangkang dengan dagingnya. Setelah selesai baru dikirim ke
Banjarmasin dan Jawa untuk pengalengan dan ekspor.
Pemerintah Kabupaten
Seruyan masih membuka peluang bagi investor yang ingin menanamkan modalnya,
karena bahan baku kepiting rajungan masih banyak yang belum terjaring secara
optimal.
Industri
kerupuk pipih. Industri pengolahan kerupuk pipih yang
terdapat di Kabupaten Seruyan merupakan industri kecil (rumah tangga) yang
tersebar di berbagai wilayah.
Karena bahan baku ikan
pipih dikhawatirkan akan punah, Pemerintah Kabupaten Seruyan berusaha membudidayakan
ikan pipih melalui sistem budidaya keramba --terutama di daerah Kecamatan Danau
Sembuluh.
Produksi kerupuk pipih
pada tahun 2005 sebesar 60 ton. Daerah pemasaran kerupuk pipih adalah Pulau
Jawa, Banjarmasin dan kota-kota terdekat.
Selain pengolahan kerupuk
pipih ada juga industri kerupuk udang yang saat ini dikembangkan. Bahan baku
pembuatan kerupuk udang sangat berlimpah, baik dari penangkapan nelayan maupun
pembudidayaan udang yang terdapat di Kecamatan Seruyan Hilir karena di wilayah
ini terhampar ratusan tambak yang menjadi primadona Kabupaten Seruyan.
Industri ini sangat
menjanjikan dan masih terbuka peluang bagi investor untuk menanamkan modalnya
di Kabupaten Seruyan dalam usaha industri pengolahan kerupuk pipih dan kerupuk
udang.
D.
Komunikasi
dan Keberpihakan pada Rakyat
Sosok Sudarsono yang
mulai mengemban amanah Bupati Seruyan pada pertengahan 2013 dapatlah dikatakan
sebagai sosok yang telah memberi arti pada rakyat. Perjalanan hidupnya yang
penuh warna telah membekas amat dalam benak sebagian besar rakyat Seruyan.
Kiprahnya dalam dunia pendidikan dan memulai terjun ke politik praktis pada saat
yang tepat menjadikan rakyat tidak segan-segan mengikhlaskan suaranya kepada
sosok yang pada Pilkada Seruyan 2014 maju secara independen, berkompetisi
melawan ‘keroyokan’ 12 partai politik. Suara rakyat telah memberinya makna
tersendiri bagi perjalanannya menuju Seruyan 1. Betapa dahsyatnya kekuatan
rakyat, meski ketika itu berhadapan dengan dominasi parpol.
Sudarsono dan pasangannya
(Yulhaidir) berhasil menyatukan tekad dan kekuatan masyarakat sehingga
mempunyai tujuan yang sama. Jika kebersamaan itu muncul, kekuatan parpol maupun
godaan lainnya semisal politik uang, tidak akan ampuh jika diterapkan.
"Independen berani
maju berarti dia sudah membangun komunikasi yang efektif dengan massa mereka
jauh-jauh hari sebelumnya sehingga itu menjadi bagian penting kekuatan. Dia
sudah mempelajari kelemahan calon yang ada, sehingga memiliki kepercayaan diri
yang sangat kuat dan dia mempelajari peta politik di sana," kata Sidik
Rahman Usop, pemerhati politik dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas
Palangka Raya ini, menilai sosok Sudarsono.
Masih dalam kerangka
memenangi Pilkada Seruyan 2013 lalu, dari sisi penggalangan dukungan, pasangan
calon independen secara tidak langsung memang diuntungkan oleh aturan. Mereka
diharuskan mengumpulkan puluhan ribu dukungan masyarakat yang dibuktikan dengan
fotokopi Kartu Tanda Penduduk (KTP).
Momen itu sudah menjadi
awal bagi Sudarsono (dan Yulhaidir) untuk menyosialisasikan diri dengan terjun
langsung menemui masyarakatnya, sekaligus meminta dukungan, sementara hal itu
belum tentu dilakukan sejak awal oleh pasangan yang diusung parpol.
Selain itu, dukungan yang
dihimpun pasangan calon independen adalah dukungan riil di lapangan, bukan
semu. Logikanya, masyarakat tidak mungkin secara sadar bersedia menyerahkan
fotokopi KTP mereka sebagai bukti dukungan, andai mereka tidak bersimpati pada
pasangan calon independen tersebut.
Dengan turun langsung
menemui masyarakat sejak jauh hari sebelum pemilihan, pasangan calon independen
punya waktu yang relatif cukup lama untuk memupuk hubungan dan ikatan emosional
dengan masyarakat yang menjadi target pendukung mereka. Pasangan calon
independen pun lebih mengenali karakteristik masyarakat di tiap desa yang
mungkin saja berbeda-beda.
"Dia sudah memiliki
calon pemilih di Seruyan. Seruyan itu bukan hanya Kuala Pembuang sebagai ibu
kota kabupaten, tapi juga ada banyak konsentrasi penduduk seperti Pembuang
Hulu, Tumbang Manjul dan lainnya. Itu memiliki karakteristik yang berbeda
dibanding kawasan kota seperti Kuala Pembuang. Dari sisi sebaran agama juga
menjadi perhatian. Karakteristik berbeda, maka pendekatannya juga pasti
berbeda. Inilah kejelian calon independen yang bisa menelusurinya lebih dulu,"
ujar Sidik.
Kini, di tengah-tengah
masa kepemimpinannya, Sudar berusaha menyapa dan terus hadir di tengah-tengah
warga masyarakat yang telah memberinya amanah. Menurut dia, kedekatannya dengan
rakyat merupakan kunci keberhasilan dalam mengemban amanah kepemimpinan.
Kehadirannya di
tengah-tengah masyarakat sudah barang tentu tidak sekadar membuat pencitraan.
Dia ingin memberi arti. Dia ingin mencerdaskan rakyatnya. Rakyat punya tenaga,
punya semangat. Dan, dengan kehadiran pemimpin, mereka menjadi lebih berdaya
dan lebih kuat dalam mengakualisasikan kemampuan diri.
Yang penting, di mata
Sudar, bagaimana bupati atau kepala daerah bisa dekat dengan rakyatnya, dan dengan para
perangkat pemerintahan daerah. Misalnya saja, melakukan pendekatan dengan mengajak
makan bersama. Dengan makan bersama inilah bisa terjalin komunikasi secara
netral, terjalin kedekatan serta
kekeluargaan.
Sudar menyadari sebagai
pemimpin dia mesti mengemban tugas, tanggung jawab serta amanah dari rakyat
dengan sebaik-baiknya. Bekerja secara profesional menjadi salah satu pembuktian
kepada rakyat.
Tugas dan fungsi utama
seorang kepala daerah adalah meningkatkan kesejahteraan rakyat; memelihara
ketertiban dan ketentraman masyarakat; menjalin hubungan kerja yang baik;
mentaati peraturan perundangan dan memberikan pelajaran demokrasi kepada rakyat.
Dan peningkatan pelayanan kepada rakyat itu yang paling penting. Sungguh, rakyat
akan takluk pada pemimpin yang cerdas, berprestasi, dan melayani dengan sepenuh
hati. (*)
No comments:
Post a Comment