Friday, November 28, 2014

Pemimpin Melayani yang Pro-rakyat

* TUJUH


Rakyat akan takluk pada pemimpin yang cerdas, berprestasi, dan melayani dengan hati, bukan karena banyaknya uang, popularitas, ketampanan dan janji-janji.
Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, Cendekiawan Muslim

SUNGGUH tidak mudah menjadi pemimpin yang berangkat dari predikat combatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Dengan menyandang sosok mantan elit GAM, dalam mengemban amanah sebagai Bupati Aceh Jaya, Azhar Abdurrahman harus menghadapi “tuntutan” orang-orang mantan anggota GAM. Banyak aspirasi mereka yang mesti dipenuhi, mulai dari sekadar minta uang listrik sampai jatah uang daging. Setidaknya, itulah yang dihadapi Azhar Abdurrahman selama tujuh tahun terakhir memimpin wilayah yang sempat porak-poranda dan kehilangan lebih dari 50 persen penduduknya dihantam gelombang tsunami pada akhir 2004 silam.
Azhar sulit mengelak manakala orang-orang mantan anggota GAM menyambangi ruang kerjanya di Kantor Pemerintah Kabupaten Aceh Jaya lalu minta jatah uang daging atau minta dibayari rekening listriknya. Secara enteng mereka minta Pemerintah Kabupaten Aceh Jaya memenuhi berbagai kebutuhan sehari-hari. Kalau sampai tidak dipenuhi, dengan nada sedikit menekan, mereka berujar, “daripada kami angkat senjata lagi memperjuangkan kemerdekaan kan lebih baik pemerintah memenuhi apa yang kami butuhkan.”
Permintaan halus nan lugas yang langsung meluluhkan hati seorang Azhar Abdurrahman. “Ya, ada yang minta dibayari pulsa listrik, ada pula yang minta jatah daging sampai lima kilogram sehari. Semua kami penuhi agar tidak ada pergolakan atau supaya mereka tidak angkat senjata lagi. Saya pasang badan saja kalau sampai KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) turun tangan gara-gara dianggap mempergunakan anggaran tidak pada tepatnya dan tidak sesuai dengan aturan perundang-undangan yang berlaku,” tutur Azhar Abdurrahman suatu waktu.
Intinya, Azhar ingin memberikan pelayanan terbaik bagi warga masyarakat Aceh Jaya –baik para mantan anggota GAM maupun warga masyarakat pada umumnya. Ya, dia meyakini bahwa pelayanan merupakan kunci kemajuan pengelolaan pemerintahan. Agar kita maju, dulukan kebutuhan orang lain. Supaya Pemerintah Kabupaten Aceh Jaya maju, segenap aparatur Pemerintah Kabupaten harus memberikan pelayanan terbaik buat warga masyarakat, mitra dan stakeholders. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Jaya mesti menempatkan mereka pada pihak yang dibutuhkan, bukan sebaliknya sebagai pihak yang membutuhkan. Pemkab harus melayani mereka dengan pelayanan sebaik-baiknya. Dengan begitu roda pemerintahan akan terus berputar dan berjalan.

A.   Memimpin dengan Ketajaman Visi
Sekadar roda pemerintahan berputar tentu saja tidak cukup. Harus pula jelas mau ke mana arah roda pemerintahan itu hendak dibawa. Semua orang bisa menggerakkan atau menjalankan roda pemerintahan. Namun, hanya sedikit orang yang mampu membawa perputaran roda pemerintahan ke arah yang lebih baik dan lebih berpengharapan. Ibarat kapal, arah berlayar memang sangat ditentukan oleh sang nakhoda (pemimpin). Nakhoda yang hebat itu lahir dari gelombang samudera yang besar dan dahsyat. Sekali lagi ibarat nakhoda, pemimpin daerah yang hebat adalah pemimpin yang lahir dari “gelombang” besar nan dahsyat.
Kunci keberhasilan Pemerintah Kabupaten Aceh Jaya keluar dari berbagai krisis tidak terlepas dari kepemimpinan Azhar Abdurrahman yang tangguh. Sebagai pemimpin, Azhar lahir dari prahara konflik Aceh yang berkepanjangan dan hantaman tsunami yang menghilangkan orang-orang tercinta di sekelilingnya. Dengan begitu, dia telah mengalami berbagai penempaan yang keras dan pengorbanan yang besar, dalam mengasah jati-dirinya sebagai sosok seorang pemimpin.
Pendek kata, sebelum memimpin Kabupaten Aceh Jaya, Azhar Abdurrahman memulai dengan melihat, memahami dan menganalisa apa yang mesti dilakukan. Baru kemudian membuat mapping, program, langkah dan strategi guna memperkuat internal performance dan external performance. Dan pada saat memimpin Kabupaten Aceh Jaya, terutama setelah perdamaian Helsinki (Agustus 2005), dengan filosofi, visi dan misinya, dia semakin memantapkan berbagai langkah dan strategi serta program yang telah dibuatnya.
Dengan keteduhan hati, jiwa yang lapang dan pikiran yang tenang, Azhar Abdurrahman terbukti mampu melayarkan kapal Pemerintah Kabupaten Aceh Jaya keluar dari krisis pasca dihantam badai tsunami di penghujung 2004. Sebab itu, dia termasuk salah satu kepala daerah yang dinilai mampu memajukan wilayahnya menjadi sejajar dengan wilayah-wilayah yang telah lebih dulu maju.
Adalah sebuah kehormatan besar, pada September 2014, kami berkesempatan bertamu kepada Azhar Abdurrahman di Kantor Pemerintah Kabupaten Aceh Jaya yang berada di Calang (ibukota kabupaten). Mengenakan safari kebesaran seorang bupati, Azhar tampak karismatik dan bersahaja. Gaya bertuturnya santai, rendah hati, dan blak-blakan mengungkap masa silamnya yang dihabiskan di hutan-hutan Aceh Jaya. Tidak segan-segan dia menyampaikan ‘ketertinggalan’ dirinya saat mulai memimpin rakyat-masyarakat Aceh Jaya. Dia langsung ‘berlari’ mengejar dan keras belajar. Pola pikirnya tajam dan pandangannya jauh ke depan. Dia termasuk pemimpin yang visioner.
Di kantornya yang sederhana itu, dalam perbincangan sekitar dua jam, Azhar Abdurrahman bertutur panjang-lebar seputar visi, misi dan komitmennya dalam membangun dan memajukan Kabupaten Aceh Jaya. Dia juga bercerita tentang Aceh Jaya yang porak poranda yang harus cepat-cepat dibangkitkan dan ditata ulang agar tidak menjadi wilayah tak bertuan. “Sebagai pemimpin, saya harus cepat belajar dan membenahi wilayah yang paling parah disapu tsunami di akhir 2004 lalu. Di awal-awal memimpin, saya agak bingung mau berbuat apa, saya berusaha belajar kepada siapa saja. Bahkan, kalau ada pelatihan, seminar dan sejenisnya, orang lain langsung kabur begitu acara selesai, saya tetap tinggal di tempat untuk memahami semua persoalan dan jalan keluar yang disajikan para ahli sebagai narasumber,” tutur Sarjana Peternakan lulusan Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala (1995) ini.
Pemimpin yang terus belajar, memotivasi dan berkomitmen menggapai masa depan yang lebih berpengharapan. Kalimat simpel namun tidaklah mudah untuk menggapainya. Butuh kemampuan membuat pondasi permerintahan yang berbasis filosofi, visi dan misi serta budaya pemerintahan sebagai nilai-nilai utama dan norma pemerintahan yang harus dipatuhi dan dijalankan oleh segenap aparatur.
Termasuk, butuh kemampuan dalam membuat perencanaan yang cermat dan matang. Butuh kemampuan manajerial yang cekatan, khususnya dalam memotivasi dan memberdayakan segenap aparatur agar konsisten dalam melayani warga masyarakat dan para mitra. Semua jelas membutuhkan waktu yang tidak sebentar, kerja keras, kerja cerdas dan konsisten dalam bertindak serta kebersamaan (team work) yang solid.
Dibutuhkan pula dedikasi, kelapangan dan keteduhan hati, ketenangan berpikir, tanggung jawab, keuletan dan kesabaran. Memang tidak ringan, Azhar Abdurrahman telah melakoni semua itu. Sebagai pemimpin, dia telah berkomitmen dan konsisten dalam membangun Kabupaten Aceh Jaya. Untuk itu dia memulai dari dirinya sendiri. Baru setelah itu, dia memberdayakan segenap aparatur dengan norma dan nilai-nilai pemerintahan yang telah dicanangkannya.
Meminjam pendapat pakar manajemen Andrew E.B. Tani, bahwa pemimpin adalah jantung sebuah tim. Apa yang mengalir dan apa yang tidak mengalir keluar dari seorang pemimpin menentukan apakah sebuah tim akan menjadi “pemenang” atau sebaliknya menjadi “pecundang”. Baginya, agar sebuah pemerintahan berjalan baik, pondasinya harus kuat. Sebab itu, selain terus menimba ilmu-pengetahuan dan jejaring, penguatan pondasi pemerintahan menjadi fokusnya. Di sini dia memulai dari menggariskan filosofi, serta memformulasikan visi dan misi pemerintahan (Kabupaten Aceh Jaya).
Bagi Azhar, filosofi merupakan roh dan jiwa pemerintahan. Dia mengusung filosofi Gerbang Raja (Gerakan Pembangunan Rakyat Aceh Jaya). Filosofi ini didasarkan pada sebuah kebijakan kerajaan yang dipimpin oleh Sultan Alaiddin Riatsyah “Po Teumeurehom” di Negeri Daya yang dulu pernah berjaya dan megah sampai ke seantero dunia. Pada masa itu rakyatnya bersatu padu, bahu-membahu, bersama-sama bergotong-royong melaksanakan pembangunan di bawah pemerintah seorang raja (Sultan Alaiddin Riatsyah) sehingga tercapai kemakmuran dan kejayaan. Hal ini terbukti sampai sekarang masih diperingati melalui kegiatan seumeuleung yang digelar setiap tahun.
Gerbang diilustrasikan sebagai pintu depan atau pintu pengantar. Sedangkan Raja dimaknakan sebagai kesejahteraan. Dengan begitu Gerbang Raja dapat diartikan sebagai pintu depan atau pintu pengantar ke arah kesejahteraan. Kesejahteraan dalam Gerbang Raja merupakan wujud keyakinan untuk membangun kebanggaan masa depan bagi rakyat dan masyarakat Kabupaten Aceh Jaya.
Sebagai pemimpin, Azhar Abdurrahman datang dengan visi dan misi yang jelas bagaimana bangunan pemerintahan (Kabupaten Aceh Jaya) bisa menjadi lebih baik dan kokoh, kini, esok, dan masa datang. Visinya: “Kabupaten Aceh Jaya yang maju, damai, sejahtera dan agamis yang didukung sumber daya manusia yang berkualitas, beriman dan bertaqwa, serta sandang dan pangan yang kuat melalui Gerakan Pembangunan Rakyat Aceh Jaya”.
Untuk mencapai visi di akhir masa jabatannya (2017) nanti, Azhar Abdurrahman mengusung misi sebagai berikut:
·         Meningkatkan pertahanan ekonomi melalui penguatan sektor pertanian, pemberdayaan dan penyediaan Usaha Kecil Menengah (UKM) dengan mengembangkan muatan lokal serta penggerak kegiatan investasi.
·         Memelihara  dan meningkatkan pembangunan infrastruktur dalam rangka perbaikan sarana dan prasarana, termasuk daerah terpencil dan tertinggal, untuk mengurangi potensi konflik akibat pembangunan yang dijalankan.
·         Pembangunan Kabupaten Aceh Jaya diselenggarakan berdasarkan dukungan partisipatif masyarakat sebagai perencana awal dan berperan dalam pengawasan dan evaluasi sebagai penerima manfaat.
·         Memberi kesempatan pendidikan, pelayanan akses kesehatan, mendorong membuka kesempatan/peluang kerja, dan peningkatan pertumbuhan perekonomian.
Visi dan misi yang tak hanya indah di atas kertas. Guna mencapai visi dan misi tersebut, Azhar menjabarkan ke dalam prioritas-prioritas pembangunan Kabupaten Aceh Jaya 2012-2017 beserta program dan pagu indikatif. Terdapat lima prioritas pembangunan yang dicanangkan oleh Bupati Azhar Abdurrahman:
·         Mewujudkan ketersediaan sandang dan pangan yang kuat.
·         Mewujudkan Kabupaten Aceh Jaya yang damai.
·         Mewujudkan Kabupaten Aceh Jaya yang maju dan sejahtera.
·         Terlaksananya pembangunan daerah secara partisipatif.
·         Tercapainya sumber daya manusia yang berkualitas, beriman dan bertaqwa.
Lalu priroritas-prioritas pembangunan tersebut diharapakan mampu mencapai sasaran-sasaran utama berikut:
·         Pendidikan: Anak Aceh Jaya cerdas 2015.
·         Kesehatan: Angka Harapan Hidup (AHH) mencapai 68,26 tahun pada akhir tahun 2017.
·         Kesejahteraan: Indeks Pembangunan Manusia (IPM) mencapai 71,25 persen pada akhir tahun 2017.
·         Tingkat kemiskinan: penurunan tingkat kemiskinan mencapai 18,52 persen pada akhir tahun 2017.
·         Lingkungan hidup: Aceh Jaya hijau tahun 2016.
·         Seni dan budaya: Aceh Jaya Gemilang Seni Budaya 2017.
·         Agama: pengembangan Islam secara kaffah dengan nilai-nilai agama dalam kehidupan masyarakat 2018.

B.    Memimpin Secara Efektif dan Inovatif di Era Otonomi Daerah
Ibarat sebagai seorang nakhoda, kemampuan memimpin dan secara efektif menggerakkan sumber daya manusia (aparatur) menjadi kunci bagi terwujudnya visi dan misi pemerintahan. Azhar Abdurrahman menyadari benar hal itu. Segenap aparatur mulai dari pelaksana sampai kepala dinas, kepala satuan kerja perangkat kabupaten (SKPK) atau kepala biro, harus bekerja sesuai dengan kompetensi masing-masing dan memiliki job description yang jelas. Prinsipnya, mesti the right man on the right place.  
 Perhatian yang besar terhadap pengelolaan dan penempatan aparatur menjadi demikian penting dan strategis apakah pemerintahan berada dalam perkenalan, pertumbuhan atau kematangan (mature). Mengapa? Sebab, setiap siklus pemerintahan membutuhkan aparatur yang inovatif, unggul dan kreatif. Tanpa ketiga karakter tersebut tentu akan mengakibatkan pemerintahan berjalan di tempat. Aparatur yang unggul akan melahirkan pelayanan yang baik sesuai dengan keinginan (aspirasi) rakyat-masyarakat. Kalau tidak, maka bersiap-siaplah menjadi pemerintahan gagal membawa kemajuan dan kesejahteraan rakyat.
Segenap unsur aparatur harus mengikuti sistem manajemen dan organisasi pemerintahan yang telah dibuat oleh tim Bupati Aceh Jaya. Dengan begitu, tampil sistem manajemen dan organisasi pemerintahan yang tertata rapi, jelas wewenang/tugas (juga tanggung jawab) dan berjalan efektif. Antara dinas, biro, dan SKPK harus bekerja sama secara tim, terpadu dan saling menguatkan. Bilamana masing-masing dinas, biro dan SKPK telah bersinergi, secara otomatis tujuan pemerintahan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat akan lebih gampang dicapai. Kesejahteraan rakyat dan kesejahteraan aparatur adalah hal yang saling beriringan dalam sebuah manajemen dan organisasi pemerintahan.
Pada akhirnya, seorang pemimpin pemerintahan daerah harus mau dan mampu membangun iklim kerja yang kondusif serta memberdayakan segenap aparatur. Dengan demikian, aparatur akan bisa bekerja secara prima, percaya diri, efektif, penuh inisiatif dan inovatif.
Sebagai sosok pemimpin pemerintahan, Azhar Abdurrahman mau dan mampu membangkitkan kepercayaan serta menatap masa depan yang lebih berpengharapan pada segenap aparatur Pemerintah Kabupaten Aceh Jaya. Seorang pemimpin pemerintahan yang benar-benar mempertaruhkan hati, pikiran dan langkahnya serta siap mempertanggung-jawabkan kepemimpinannya kepada rakyat-masyarakat dan mitra institusional.

C.   Sepenuh Hati Melayani Warga Masyarakat  
Selain visi, kekuatan seorang pemimpin (penggerak perubahan) juga terletak pada hatinya. Yang dimaksud pemimpin dengan hati adalah pemimpin yang memiliki serta mengedepankan nilai-nilai budaya unggul dan prinsip-prinsip dalam bekerja dan dalam menjalankan amanah. Pemimpin dengan hati tidak hanya mengandalkan kecerdasan otak (IQ, Intelligence Quotient). Lebih penting daripada hal itu adalah kecerdasan emosi (Emotional Quotiient) dan kecerdasan spiritual (Spiritual Quotient). Sebab, kecerdasan intelektual tanpa diimbangi EQ dan SQ dapat merusak segalanya. Sebagaimana pernah dikemukakan Pejuang Kemerdekaan India, Mahatma Gandhi, tentang “dosa yang mematikan” (deadly sins) bahwa bekerja dengan hanya mengandalkan IQ tanpa diimbangi EQ dan SQ, maka akan tercipta pemerintahan tanpa moralitas.
Secara universal, nulai-nilai kultur pemerintahan yang unggul dimiliki dan dikedepankan oleh seorang pemimpin, antara lain orientasi pelayanan kepada rakyat-masyarakat dengan sikap tindak yang andal, responsif,  jujur dan dapat dipercaya. Pun bekerja secara profesional yang dinafasi dengan integritas, meningkatkan keahlian, mengedepankan kualitas dan kerja sama tim. Kemudian respek kepada pelayanan masyarakat dan lingkungan sekitar dengan landasan sikap dan tindakan yang lebih peduli, progresif dan pro-aktif.
Di era otonomi daerah ini, pemerintahan daerah harus benar-benar mampu menjadi pelayan rakyat-masyarakat yang makin cerdas. Sehingga, rakyat-masyarakat menaruh respek dan kepercayaan yang tinggi pada kinerja aparatur pemerintahan. Kepercayaan masyarakat merupakan soko guru pemerintahan dalam meraih apresiasi dengan cara yang baik dan benar. Kepercayaan adalah pertaruhan awal sebelum pertaruhan akhir, yakni merebut apresiasi dan prestasi. Kepercayaan itu sendiri tidak hanya berkaitan dengan mutu, melainkan juga dengan nilai-nilai kejujuran, komitmen dan tepat janji dalam kaitan dengan pelayanan masyarakat.
Kemudian, profesionalisme, yang merupakan senjata ampuh bagi upaya meningkatkan kinerja dan performa pemerintahan. Profesionalisme akan pula menjadi keunggulan pemerintahan daerah untuk menarik mitra penanam modal. Sebab itu, setiap insan aparatur pemerintahan harus bekerja secara profesional sesuai dengan kompetensi (kemampuan), peran, fungsi dan tanggung-jawab masing-masing. Termasuk bagi sang pemimpin pemerintahan. Dalam diri seorang pemimpin dengan hati, kepedulian dan simpati harus menjadi bagian integral dalam kehidupan sehari-hari pemerintahan. Dengan peduli, berbagi dan berempati, maka pemerintahan akan menjadi bagian kehidupan bersama. Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa kegagalan dalam berbagi dan berempati menjadi alasan yang kuat seseorang (termasuk pemimpin) itu gagal.
Nilai-nilai kedisiplinan harus pula ditegakkan. Yakni disiplin manusianya, disiplin tindakannya dan disiplin perilakunya. Disiplin berarti kepatuhan pada peraturan dan tata tertib yang ada. Faktor terpenting dari kedisiplinan adalah kemauan untuk mengaplikasikan peraturan-peraturan yang berlaku secara baik. Dalam manajemen pemerintahan, kedisiplinan memiliki dampak yang kuat terhadap organisasi dalam rangka mewujudkan kerberhasilan. Segala kebijakan tidak akan pernah memiliki arti apa-apa bilamana tidak didukung oleh disiplin para pengelola dan pelaksananya (manusianya).
Pemimpin dengan hati senantiasa mengingatkan semua pihak agar selalu berprinsip “mengendalikan hati yang bersih”. Untuk itu, saling percaya dan mempercayai harus dikedepankan. Tidak boleh ada yang merasa lebih hebat, karena kehebatan itu milik bersama (tim). Dalam kerangka itu pula sistem komunikasi yang the boundaryless collaboration mesti ditegakkan. Sistem komunikasi dibuat efektif: cepat, cermat dan ringkas. Kekakuan birokrasi sebisa mungkin dihilangkan. Tidak ada jurang pemisah antara pimpinan dan bawahan, bahkan dengan staf paling bawah sekalipun. Dengan team work yang solid dan sistem komunikasi yang efektif, tentu ada semangat yang besar untuk mencapai sasaran dan tujuan pemerintahan secara baik dan benar.         
Pemimpin yang memiliki prinsip-prinsip kerja yang luhur. Di antaranya bekerja sebagai bagian dari ibadah. Bekerja adalah sebuah amanah yang harus dilaksanakan sebaik mungkin dan semaksimal kemampuan yang dimiliki, dengan sepenuh kejujuran, komitmen dan profesionalisme. Prinsip lainnya adalah bekerja keras, bekerja cerdas dan bekerja ikhlas. Bekerja keras dalam arti bahwa bekerja adalah untuk kepentingan pemerintahan (yang berarti untuk kepentingan diri, aparatur dan rakyat-masyarakat) tidak boleh mengenal batas ruang dan waktu. Banyak bekerja lebih baik ketimbang banyak bicara. Bekerja keras dengan sepenuh integritas, tanggung jawab dan disiplin.
Lantas bekerja cerdas. Bahwa dalam bekerja harus menggunakan kemampuan berpikir, kemampuan menganalisa, dan kemampuan mengatasi masalah secara tepat melalui metode yang terprogram. Bukan dengan tenaga otot. Tuhan telah membekali karunia dan potensi yang besar. Sebab itu, seorang pemimpin harus memiliki kemampuan untuk membuat langkah dan dan strategi yang andal, serta mampu memprediksi kesulitan-kesulitan yang mungkin timbul. Agar menjadi cerdas (antara lain) seorang pemimpin harus terus belajar. Menjadi seorang pembelajar. Belajar kepada siapa saja, di mana saja dan kapan saja. Belajar dan terus belajar. Itu pula yang terus dilakukan oleh seorang Azhar Abdurrahman.
Pengetahuan dan kemampuan seseorang, bila tidak terus diasah atau menganggap diri sudah pintar, maka akan berhenti atau tidak berkembang. Melalui proses belajar, pemimpin yang cerdas akan terus mampu mengevaluasi, membenahi dan mengambil langkah dan strategi serta kebijakan dan program yang tepat bagi pemerintahan dan masyarakat. Dengan segala upayanya, seorang pemimpin bekerja demi kemajuan dan perkembangan pemerintahan dan kemajuan masyarakat.
Lantas bekerja ikhlas. Bekerja sebaik mungkin, komitmen tinggi dan penuh tanggung jawab. Bahwa yang menilai atau yang menentukan hasil kerja adalah Tuhan. Bahwa Tuhan senantiasa mengawasi setiap saat. Karena itu, pekerjaan yang dijalankan merupakan amanah dan ditujukan demi kebaikan diri sendiri dan orang banyak. Bekerja ikhlas untuk melengkapi ibadahnya. Bilamana ibadah ritualnya kurang, maka bekerja ikhlas dimaksudkan buat melangkapi. Dengan bekerja dalam perasaan tulus-ikhlas, seorang pemimpin tak kenal waktu dalam bekerja. Apapun hasilnya, selalu disyukuri. Prinsip kerja ikhlas itulah sesungguhnya yang membuat seorang pemimpin (dan segenap aparatur pemerintahan) menjadi senantiasa optimis dan tak pernah ragu dalam bersikap dan bertindak. Ini pula yang selalu dikedepankan oleh sosok Azhmar Abdurrahman dalam memimpin rakyat Kabupaten Aceh Jaya.
Dalam bekerja, Azhar Abdurrahman juga mengedepankan pelayanan. Pemimpin yang melayani (the servant leader). Dia selalu mendengarkan, empati dan memiliki jiwa melayani yang tinggi. Pelayan sebagai pemimpin, pemimpin sebagai pelayan. Tujuan utama seorang pemimpin adalah melayani orang-orang yang dipimpinnya. Orientasi pemimpin itu bukanlah kepentigan diri sendiri atau golongan, namun kepentingan pemerintahan yang dipimpinnya. Dan tidaklah mudah menjadi pemimpin yang melayani kecuali mereka yang mau berendah hati, bersahaja, berhati bersih dan berpikiran jernih. Premis atau hukum jati diri sebagai pemimpin tak bisa cuma diukur dari pola pikir yang brilian, visioner dan profesional. Lebih dari itu, pemimpin harus pula melayani. Agar pemerintahan bisa meraih kemajuan, maka seorang pemimpin harus melayani segenap aparatur dan rakyat-masyarakat.

D.   Terus Memacu Potensi di Tengah Keterbatasan
 Jelas tidaklah gampang menggapai masa depan yang lebih sarat asa di tengah suasana pasca bencana tsunami akhir 2004. Pemulihan dan rehabilitasi wilayah paling parah paparan gempa dan tsunami ini dapat dikatakan memakan waktu yang relatif panjang. Banyak warga masyarakat yang bertahun-tahun hidup di pengungsian atau kembali ke tengah-tengah hutan lantaran merasa tidak ada lagi harapan. Untuk itulah, Bupati Azhar Badurrahman berusaha membangkitkan spirit berusaha dan menatap masa depan dengan puing-puing asa yang masih tersisa.
Kendati termasuk luluh lantak dihantam gelombang tsunami bukan berarti Aceh Jaya kehilangan potensi sumber daya manusia (SDM) dan sumber daya alam (SDA).
Dari sisi SDA, bila dicermati, berbagai jenis komoditi pertanian –baik jenis tanaman pangan (seperti padi, palawija, buah-buahan dan sayur-sayuran) maupun perkebunan (seperti karet, kelapa sawit, dan kelapa), cukup potensial buat dikembangkan dan diandalkan. Persoalannya sebagian besar lahan pertanian masih mengandalkan air hujan sebagai sumber pengairan.
Dari 13.074 hektar luas lahan baku sawah, sebanyak 10.454 hektar merupakan sawah tadah hujan dan 275 hektar yang menggunakan sistem pompanisasi. Produksi padi selama tahun 2011 mencapai 42.123 ton setara dengan rata-rata produksi 4,9 ton per hektar. Produksi jagung mencapai 601,3 ton dengan rata-rata produksi 2,9 ton per hektar; kedelai menghasilkan 199,4 ton dengan rata-rata produksi 1,1 ton per hektar; kacang tanah menghasilkan 146 ton dengan rata-rata produksi 1,3 ton per hektar; ubi kayu menghasilkan 431,9 ton dengan rata-rata produksi 11,4 ton per hektar; ubi jalar menghasilkan 163,9 ton dengan rata-rata produksi 10,1 ton/hektar. Ke depan, Kabupaten Aceh Jaya memprioritaskan penganeka-ragaman pangan untuk memenuhi kebutuhan standar gizi masyarakat.
Tabel 7.1
Banyaknya Produksi Padi dan Palawija di Kabupaten Aceh Jaya
Tahun
Padi
Jagung
Ubi Kayu
Ubi Jalar
2000
26.768,61
351,27
0,00
340,20
2001
56.820,69
438,21
0,00
492,75
2002
57.339,46
442,21
0,00
492,75
2003
57.339,46
442,21
0,00
492,75
2004
32.892,00
148,00
0,00
491,00
2005
0,00
107,00
333,00
210,00
2006
0,00
109,00
310,00
235,20
2007
7.812,50
145,40
578,10
151,00
2008
12.705,00
145,00
578,85
151,00
2009
53.003,00
300,60
578,85
220,00
2010
32.010,00
231,50
623,10
271,80
2011
42.123,00
601,30
431,90
163,90
Sumber: Aceh Jaya dalam Angka 2012
Kemudian produksi sayuran-sayuran telah mencapai enam (6) komoditas pertanian. Sedangkan buah-buahan mencapai 13 komoditas pertanian.
Di sektor perkebunan, terdapat tiga perusahaan besar perkebunan dengan Hak Guna Usaha (HGU) mencapai 14.489 hektar di wilayah Kabupaten Aceh Jaya. Sementara untuk perkebunan rakyat mencapai 24.993 hektar untuk 12 komoditas.
Tabel 7.2
Luas Area dan Produksi Tanaman Perkebunan Besar di Aceh Jaya 2011
Perusahaan
Lokasi
HGU (hektar)
Tanaman
Luas tanaman
PT Bosowa Megapolis
Krueng Sabee, Setia Bakti, Teunom
5.660
Sawit
2.000
PT Beuna Coklat
Crak Mong
4.500
Sawit
850
Jumlah

14.489

2.850
Sumber: Aceh Jaya dalam Angka 2012
Lalu perkebunan rakyat yang ada meliputi komoditas kelapa, kelapa sawit, karet, coklat, kopi, pinang, pala, cengkeh, kapuk randu, sagu, aren dan nilam.
Pada sektor industri, potensi yang ada antara lain berupa industri pangan, industri sandang, kimia dan bahan bangunan serta industri logam dan elektronik. Tersedia pula industri kerajinan rumah tangga. Sampai tahun 2011, jumlah industri yang memiliki nilai investasi tertinggi terletak pada industri minyak nilam. Hal ini berkaitan dengan harga minyak nilam yang relatif tinggi dan mendorong meningkatkan animo warga masyarakat untuk memproduksinya. Pemerintah Kabupaten Aceh Jaya terus berusaha menggenjot produksi komoditas-komoditas yang secara langsung mampu meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Sektor yang juga terbatas namun layak dikembangkan adalah pariwisata. Potensi wisata alam dengan jenis wisata alam pegunungan di sekitar Gunung Gerutee. Selain itu, masih ada potensi wisata sejarah dan purbakala yang laik dijual. Beberapa obyek dan daya tarik wisata di Kabupaten Aceh Jaya, antara lain:
·         Arung Jeram Sungai Teunom. Arung jeram ini dimulai di hulu sungai sampai ke Desa Sarah Raya atau Desa Alue Jang, selama tiga jam, 24 kilometer dari Kota Teunom.
·         Danau Laut Nie Pineung. Tempat wisata ini terdapat di Desa Pasi Timon, Kecamatan Teunom, yang dikelilingi pohon pinang merah dan bunga-bunga langka, serta dihuni ikan yang bisa dipancing pengunjung.
·         Lhok Geulumpang. Tempat wisata ini merupakan kawasan hutan alami menghadap Samudera Hindia, dengan pantai landai berpasir putih untuk berjemur, snorkeling, menyelam menikmati biota laut yang dilindungi, monyet-monyet dan pemandangan perbukitan.
·         Pantai Kuala Dhoi. Tempat wisata ini berada di Desa Kuala Dhoi, berbatas Samudera Hindia, tiga kilometer dari Lageun, 12 kilometer dari Calang, dengan pantai landai berpasir putih bersih.
·         Pantai Kuala Merisi. Tempat wisata ini terkenal dengan legenda Bate Putri Ratu Meurendam Dewi, untuk berenang, renang, dan tersedia warung-warung makanan-minuman.
·         Pantai Pasir Saka. Tempat wisata ini berupa pantai berpasir putih bersih yang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia, untuk berenang, berjemur dan snorkeling, 14 kilometer dari Sampoiniet.
·         Pulau Reusam. Obyek wisata dengan pantai landai berpasir putih bersih untuk berenang dan snorkeling. Panorama alam indah, meriam tua peninggalan Belanda dan Jepang, dicapai dengan kapal dari Desa Batee Tutong dan Desa Rigaih selama 15 menit.
·         Pulau Tsunami. Tempat wisata ini berada di Kecamatan Jaya (Lamno), sekitar dua jam dari ibukota Provinsi Aceh (Kota Banda Aceh), merupakan pulau yang muncul akibat gempa bumi dan gelombang tsunami pada akhir 2004. Akses dari Desa Ujong Sudhen dengan kapal sekitar 15 menit.
·         Teluk Rigaih. Obyek dan daya tarik wisata ini berada di antara Desa Batee Tutong, Pulau Seumot, dan Desa Rigaih, di mana wisatawan bisa snorkeling, menyelam dan memancing, dengan terumbu karang dan ikan aneka rupa yang indah.
Untuk mendukung akomodasi para wisatawan ditunjang oleh keberadaan tiga buah hotel di Kecamatan Jaya dan Kecamatan Krueng Sabee, yaitu di Desa Keutapang dan Desa Sentosa.

Di tengah keterbatasan potensi (SDM dan SDA) yang ada, Bupati Aceh Jaya Azhar Abdurrahman terus memacu gerak langkah rakyat-masyarakat untuk meningkatkan produksi komoditas-komoditas yang dinilai memberikan nilai tambah. Hal ini sejalan dengan misi: melakukan pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis sumber daya ekonomi lokal (revitalisasi sektor pertanian dalam arti luas) dan pengembangan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) secara menyeluruh dengan konsep Satu Gampong Satu Produksi (one village one product), yaitu satu desa satu produksi. Misi ini didukung pula dengan misi peningkatan sumber daya manusia Aceh Jaya dengan peningkatan mutu pendidikan. (*)

No comments:

Post a Comment