Saturday, May 4, 2013

Obat Tak Terkaver Jamkesmas & Askes, Penderita Lupus Menjerit




Penderita lupus di Soloraya kian menjerit menyusul tingginya biaya pengobatan. Hal ini menyusul tak terkavernya lagi obat khusus pasien lupus dalam daftar obat PT Askes per Januari 2013 lalu.

Sementara bagi peserta Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) obat ini tidak terkaver berisiko tinggi merusak organ tubuh lainnya. Demikian disampaikan Ketua Griya Kupu merupakan komunitas lupus dibawah naungan RSUD dr Moewardi Solo, dr Arief Nurudhin SpPD dalam jumlah pers kepada wartawan, Kamis (2/5/2013). Arief mengatakan telah melayangkan surat resmi kepada Kementrian Kesehatan ihwal penghapusan obat lupus dalam daftar obat Askes.

Padahal, ia menambahkan harga obat yang kini tak lagi dikaver sangat tinggi. “Per tabletnya Rp20.000-Rp30.000. Padahal tiap hari harus minum dua kali,” ujarnya.

Arief mengaku tidak mengetahui secara pasti dasar pemerintah menyetop obat tersebut. Bagi penderita lupus, obat menjadi penyambung hidup untuk mengurangi kenakalan lupus dalam tubuh. Pasien, lanjut dia, wajib mengonsumsi obat hingga batas waktu yang tidak ditentukan.

“Obat ini yang bisa mengontrol. Kalau obat ini tidak terjangkau, kasihan pasien lupusnya,” keluhnya.

Arief menyebutkan jumlah penderita lupus naik tajam. Dua tahun terakhir jumlah komunitas pasien lupus di Griya Kupu mencapai 150 orang dari semula 50 orang  atau naik 3 kali lipat. Penyakit ini biasanya jarang dirasakan pasien.

“Rata-rata pasien tidak tahu kalau dirinya terkena lupus. Gejalanya bervariasi maka lebih dikenal penyakit seribu wajah,” katanya.

Dia menerangkan penyakit lupus adalah penyakit rematik yang ditandai peradangan dan biasanya menyerang kaum perempuan usia produktif 17-40 tahun. Hal ini berkaitan erat dengan hormon estrogen yang merupakan pemicu penyakit lupus. Tanda-tandanya rambut rontok, rasa nyeri persendian, lemah, lesu atau tak bergairah, muncul kemerahan seperti kupu-kupu saat terpapar sinar matahari, sariawan tidak sembuh, mual dan muntah, gangguan air kecil hingga bengkak seluruh tubuh dan pembesaran perut.

“Kami ingin pada Hari Lupus sedunia jatuh pada tanggal 10 Mei nanti, menggelar berbagai rangkaian kegiatan. Salah satunya talkshow bersama pasien lupus Joglo-Solo-Semarang pada 5 Mei di Sekar Jagat RSUD Moewardi,” terangnya.

Penderita lupus W Prita Dewi meminta pemerintah segera mengevaluasi obat bagi pasien lupus. Setidaknya, Prita menambahkan mengeluarkan ongkos hingga Rp1,3 juta lebih per bulan untuk obat.

No comments:

Post a Comment