Monday, April 14, 2014

Amal yang Paling Berat


Atha' al-Khurasani mengisahkan bahwa ada seorang wanita ahli ibadah yang dipanggil Thafiyah. Dia mendatangi Baitul Maqdis dan beribadah di sana. Wahab bin Munabbah[1] berkata, "Wahai Thafiyah, apa amal yang paling berat bagimu?" Dia menjawab, "Amal yang paling berat bagiku adalah berpikir lama." Wahab bertanya lagi, "Kenapa bisa begitu?" Dia menjawab, "Jika aku memikirkan keagungan Allah dan perkara akhirat, akalku hilang, penglihatanku gelap dan sendi-sendiku lumpuh." Lantas Wahab bin Munabbah berkata, "Jika kau mendapati hal itu, segeralah membaca al-Quran dalam mushaf."

Kedudukan Orang-Orang yang Ridha
Muhamad bin Rauh bercerita bahwa suatu ketika Lubabah, wanita ahli ibadah, berkata di Baitul Maqdis, "Aku malu pada Allah kalau Dia melihatku sibuk dengan selain-Nya."
Dalam redaksi yang sedikit berbeda, Muhamad bin Rauh menuturkan bahwa suatu waktu Lubabah, wanita ahli ibadah, berkata, "Aku senantiasa giat dalam ibadah sampai aku merasa tenang dengan ibadah itu. Jika aku merasa lelah berjumpa dengan makhluk, Dia menemaniku dengan mengingat-Nya. Jika makhluk membuatku capek, tenggelam dalam ibadah kepada Allah SWT dan berkhidmah pada-Nya akan membuatku senang. Seorang laki-laki bertanya, "Aku ingin melaksanakan ibadah haji, lalu doa apa yang aku ucapkan?" Dia menjawab, "Mintalah pada Allah dengan dua hal. Dia ridha kepadamu dan menyampaikanmu pada tingkatan orang-orang yang ridha pada-Nya dan dia menyebutmu di depan para wali-Nya."

Lezatnya Pahala
Diceritakan oleh Harun bin al-Hasan bahwa dirinya mendengar Salam al-Khawash bertutur, "Ada seorang jariyah yang tinggal bersama kami, dia dipanggil Zainab. Dia amat bagus dalam berkhidmah pada Tuhannya. Lalu aku datang untuk memberi salam kepadanya, dan dia berkata, Wahai Abu Muhamad, sejak beberapa malam, aku berkhidmah pada Tuhanku dan mataku mengantuk. Lalu aku mendengar suara:
Shalatmu adalah cahaya saat manusia tidur pulas
Bangun dan shalatlah untuk Yang Maha Pengampun dan Maha Pengasih
Salam berkata bahwa suatu hari dia pergi untuk satu keperluan, lalu terpeleset dan satu jarinya putus. Lalu orang-orang mengerumuni mereka untuk berbela sungkawa, lantas dia berkata, "Saudara-saudaraku, lezatnya pahala telah melupakanku dari sakitnya kehilangan jari. Semoga Allah memberi keridhaan dan ampunan atas dosa kita yang telah lalu untukku dan untuk kalian. Bangunlah, lalu kita berkhidmah pada Dzat yang besok akan kita tuju."


[1]Wahab bin Munabbih al-Yamani, Abu Abdullah, dapat dipercaya, haditsnya dalam kutub al-Sittah, dahulu dia termasuk ulama Yahudi kemudian masuk Islam.

No comments:

Post a Comment