Friday, January 30, 2015

Masa Pengabdian di Dunia Akademis



* TIGA


Di era global sekarang ini, keberhasilan dalam berbagai bidang kerja itu bisa diraih jika kita konsisten untuk bekerja dengan berpijak pada nilai-nilai sosial-budaya, khazanah-kearifan, kekuatan dan potensi kita sendiri. (Akio Morita, Pendiri Sony Corporation)

PANGKALAN BUN, akhir 1977. Setelah tiga tahun berjuang dalam kehidupan yang penuh warna di Pangkalan Bun, Marukan pun sampai di tapal batas kelulusan SMA Negeri 1 Pangkalan Bun pada akhir 1977. Dengan torehan prestasi kelulusan yang lumayan mengkilap. Pokoknya, cukup modal buat melanjutkan kuliah ke perguruan tinggi atau universitas yang dicita-citakan.
Pastur pembimbingnya selama tinggal di asrama anak-anak pedalaman yang berada di bibir Sungai Arut juga menyarankan agar Marukan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi lagi, bukan sekadar lulus SMA. Bahkan, sang pastur membekalinya sejumlah uang untuk ongkos naik kapal ke Banjarmasin supaya bisa segera mendaftarkan diri ke universitas yang ada di Ibukota Provinsi Kalimantan Selatan itu.
Sayangnya, ketika hendak berangkat menumpang kapal laut ke Banjarmasin, cuaca di Laut Jawa sedang tidak bersahabat. Ombak sedang tinggi. Marukan batal naik kapal yang bersiap ke Banjarmasin. Dia kemudian menumpang pesawat terbang dengan ongkos dari duit hasil penjualan sapi di kampung halaman Desa Bayat.
Lantaran dinilai kurang jujur perihal ongkos naik pesawat terbang, tiba di Banjarmasin dia ditolak oleh pihak Keuskupan yang sedianya menampung dirinya selama berada di kota bersejarah Bumi Borneo itu. Dia harus pula mencari tumpangan agar tetap bisa melanjutkan kuliah di Banjarmasin. Bersyukur ada seorang kenalan yang bersedia memberi tumpangan selama proses mencari dan mendaftarkan diri di Universitas “Perjuangan” Lambung Mangkurat.
Pilihan Marukan ketika itu ke Universitas Lambung Mangkurat boleh dikatakan cukup tepat. Sebab, universitas tertua di Bumi Borneo itu memberi banyak pilihan bidang keilmuan yang diinginkan para calon mahasiswa.
Sekadar pengetahuan historis, Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) berdiri atas inisiatif dan jasa pejuang Kemerdekaan Republik Indonesia di Kalimantan Selatan, terutama mereka yang pada tanggal 17 Mei 1949 memproklamasikan Pemerintahan Gubernur Militer ALRI Divisi IV Kalimantan, di bawah pimpinan Gubernur Militer Hasan Basry, sebagai upaya menegakkan kemerdekaan.
Ceritanya, pada waktu reuni Kesatuan Tentara Nasional Indonesia Divisi Lambung Mangkurat di Desa Niih, Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, pada tanggal 3-10 Maret 1957, mereka membentuk “Dewan Lambung Mangkurat” dengan beberapa rencana kerja, salah satu di antaranya mendirikan Perguruan Tinggi di Kalimantan.
Sebagai realisasi sebagian dari rencana Dewan Lambung Mangkurat tersebut, pada pertengahan tahun 1958 dibentuk Panitia Persiapan Pendirian Universitas Lambung Mangkurat. Kemudian pada tanggal 21 September 1958 Panitia berhasil meresmikan berdirinya Universitas Lambung Mangkurat dengan empat fakultas, yaitu Fakultas Hukum, Fakultas Ekonomi, Fakultas Sosial dan Politik, dan Fakultas Islamologi.
Setelah berjalan kurang lebih dua tahun, Pemerintah Republik Indonesia --melalui Peraturan Pemerintah Nomor 41 tahun 1960 tertanggal 29 Oktober 1960-- meresmikan Unlam sebagai Universitas Negeri pada tanggal 1 November 1960. Peresmian dilakukan oleh Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan.
Pada saat peresmian itu, Universitas Lambung Mangkurat memiliki empat fakultas, masing-masing Fakultas Hukum, Fakultas Ekonomi, Fakultas Sosial dan Politik, dan Fakultas Pertanian. Fakultas Pertanian itu sendiri baru resmi berdiri pada tanggal 3 Oktober 1961 di Banjarbaru. Fakultas Pertanian berdiri berkat kerja sama antara Yayasan Perguruan Tinggi Lambung Mangkurat dan Pimpinan Fakultas Pertanian Universitas Indonesia di Bogor (sekarang Institut Pertanian Bogor [IPB]). Sedangkan Fakultas Islamologi diserahkan kepada Fakultas Syariah IAIN Yogyakarta pada tanggal 15 Januari 1961, yang kemudian membuka cabang di Banjarmasin. Pada perkembangannya Fakultas Syariah IAIN Yogyakarta berubah menjadi IAIN Antasari. Kursus-kursus B I dan B II sendiri, melalui pertimbangan oleh Kepala Perwakilan Departemen Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan Kalimantan Selatan pada waktu itu kepada Presiden Unlam (sekarang Rektor Unlam) pada tanggal 4 November 1961 ditingkatkan menjadi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.
Meski Universitas Lambung Mangkurat sudah ditingkatkan statusnya menjadi universitas negeri, pembiayaan untuk penyelenggaraan perkuliahan dan administrasi tetap didanai oleh Yayasan Perguruan Tinggi Lambung Mangkurat. Dengan bantuan tersebut, banyak didatangkan dosen-dosen dari Surabaya dan Yogyakarta. Selain itu, Yayasan juga membangun gedung baru pada tahun 1960 yang berlokasi di Banjarbaru. Rencananya bangunan tersebut ditempati oleh Fakultas Hukum, Fakultas Ekonomi, Fakultas Sosial dan Politik, dan Fakultas Pertanian. Namun hanya Fakultas Pertanian yang kemudian menempati gedung baru tersebut, sedangkan Fakultas yang lain tetap menyelenggarakan perkuliahan di gedung lama di Banjarmasin.
Pada tahun 1964 dibentuk fakultas baru, yaitu Fakultas Kehutanan dan Fakultas Perikanan yang berlokasi di Banjarbaru. Baru pada tahun 1965 dibentuk Fakultas Teknik di lokasi yang sama.
Sampai pada tahun 1965, Unlam didanai oleh Yayasan. Dan sampai pada tahun itu pula tenaga pengajar yang diterbangkan. Setelah tahun 1965 Yayasan tidak lagi mendanai Unlam, karena mengalami masalah keuangan. Kemudian Unlam diambil-alih oleh Pemerintah Daerah Tingkat I Kalimantan Selatan.
Dalam perkembangan berikutnya hingga sekarang ini, Universitas Lambung Mangkurat memiliki 10 fakultas dan satu Program Pascasarjana, yaitu Fakultas Ekonomi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Fakultas Hukum, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Fakultas Teknik, Fakultas Pertanian, Fakultas Kehutanan, Fakultas Perikanan, Fakultas Kedokteran, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dan Program Pascasarjana.
Secara implisit, oleh para pendirinya, Universitas Lambung Mangkurat dicita-citakan menjadi faktor penggerak pembangunan (agent of development) di kawasan Kalimantan, baik dari konsepsi/wawasan pembangunan maupun penyedia sumber daya manusia. Dengan cita-cita tersebut maka Universitas Lambung Mangkurat tidak terpisahkan dari hasrat masyarakat Kalimantan untuk pembangunan Pulau Kalimantan sebagai bagian dari Republik Indonesia, agar segala potensi yang dimiliki pulau ini dapat menjadi sumber kemakmuran bangsa. Berdasar hal tersebutlah maka Universitas Lambung Mangkurat memiliki sapaan sebagai "Universitas Perjuangan".

A.   Lebih Memilih Kuliah di Fakultas Kehutanan
Setelah semalam menginap di Keuskupan Banjarmasin, Marukan mau tidak mau harus keluar mencari tempat tumpangan pada siapa saja yang bersedia menampung di Banjarmasin. Sampailah dia pada kerabat seorang kenalan. Dan sampai pula saat pendaftaran calon mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat Kampus Banjarmasin di Kampus Utama, Jalan H. Hasan Basry Kelurahan Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin.
Banyak pilihan fakultas terhampar di Universitas Perjuangan itu. Sebagai putera asli Kalimantan, Marukan memilih Fakultas Kehutanan. Maklum, di masa itu, potensi hutan Bumi Borneo sedang giat dieksplorasi dan dieskploitasi. Dia ingin mencari bekal keilmuan untuk sumbangsih pemikiran agar hutan Kalimantan tetap asri dan lestari. Tapi, di sisi lain, dia juga ingin belajar teknologi yang biasanya disajikan oleh Fakultas Teknik. Jadilah dia mendaftarkan diri pada dua fakultas (Fakultas Kehutanan dan Fakultas Teknik) Universitas Lambung Mangkurat.
Benar kata pastur sang pembimbing, otak Marukan cukup encer. Tak banyak kesulitan, Marukan berhasil melewati proses seleksi dan lolos diterima di dua fakultas tersebut. Mulai tahun ajaran 1978 itu pula dia menapaki perkuliahan di dua fakultas yang kebetulan berada di satu kompleks Kampus Banjarbaru. Kampus kedua Universitas Lambung Mangkurat yang terletak di Jalan Ahmad Yani Km 35-36 Simpang Empat Kota Banjarbaru. Fakultas yang berada di kampus ini adalah Fakultas Teknik, Fakultas Pertanian, Fakultas Kehutanan, Fakultas Perikanan, Fakultas Kedokteran, dan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.
Dalam perjalanannya, Marukan agak kedodoran membagi waktu di dua fakultas tersebut meski berada dalam satu kompleks kampus. Kehidupannya di Banjarmasin memang seolah kurang beruntung, misalkan jarak dari rumah yang ditumpanginya ke kampus relatif jauh. Belum lagi, keluarganya di Desa Bayat nyaris tidak mengirimkan logistik buat keseharian di perantauan. Maklum dia tidak bisa masuk asrama gereja Katolik, sehingga berharap juga keluarganya menyokong logistik sehari-hari.
“Selama di Banjarmasin, hanya sekali-dua kali ada kiriman dari keluarga di desa. Selebihnya saya betul-betul menderita. Saya tidak bisa masuk asrama. Sempat tinggal di lingkungan gereja, tapi di garasi mobil. Sudah begitu tidak mendapat beasiswa. Supaya bisa makan, saya berusaha bekerja harian ngecat rumah orang atau memberi kursus. Hasilnya sekali kerja Rp300, tapi tidak tiap hari. Sepekan itu hanya 2-3 hari. Uang Rp300 itu Rp50 saya pakai buat beli sayuran dan 50 buat beli nasi, kemudian dibagi dua buat siang dan sore. Sisanya buat ditabung kalau ada keperluan-keperluan lain. Kadang uang habis karena nggak ada lagi pekerjaan. Pernah seperti di Pangkalan Bun yang sampai 2-3 hari tidak makan. Hal seperti ini berjalan tiga tahun. Hanya makan nasi kalau ada kegiatan-kegiatan di gereja. Sebab itu, saya aktif di gereja, ikut menyiapkan persembahyangan atau yang lain. Biasanya kalau persembahyang itu kan ada makan-makan,” tutur Marukan penuh kenangan nan pahit.
Yang lebih menyedihkan lagi, menurut Marukan, jarak antara tempat tinggal dan kampus agak jauh. Dengan mimik sedikit sedih, dia berkisah, “Kalau kami jalan bertiga lalu ada salah satu yang singgah, saya jalan terus. Tapi kalau berdua, satu singgah, mau tak mau saya ikut singgah. Singgah di warung, makan. Ketika singgah itu kawan ngajak makan, saya jawab nanti makan di sana. Padahal, kawan tahu saya sedang lapar. Saya nggak mau karena tidak ada uang. Ini yang membuat malu sangat luar biasa. Selama kuliah itu saya hampir nggak punya buku, hanya pinjam saja.”
Perjalanan perkuliahan yang sungguh tidak mudah. Makan sehari-hari sulit, buku pun tak terbeli. Di masa itu, banyak mahasiswa Fakultas Kehutanan yang tidak naik tingkat. Hanya sedikit yang mampu naik tingkat, termasuk Marukan Hendrik. Dari sekitar 100 orang di Angkatan 1978 itu, pada tahun awal, hanya 18 orang yang mampu naik tingkat. Itulah yang membuat Marukan tetap bersemangat. Padahal keadaan sulit yang membelit itu sempat membuat Marukan mau pulang kampung, menyerah kalah.
“Saya sempat pulang ke Pangkalan Bun. Karena naik tingkat, saya kembali lagi ke Banjarmasin. Waktu di jenjang sarjana muda, saya lulus semua mata kuliah, tidak ada mata kuliah yang tertinggal. Begitu pula saat mau selesai jenjang sarjana, lulus semua mata kuliah. Itulah yang membanggakan saya,” kata Marukan.
Lumayan sukses di Fakultas Kehutanan, tidak demikian halnya di Fakultas Teknik. Terseok-seok. Ada satu-dua mata kuliah di Fakultas Teknik sampai tidak memenuhi standar kelulusan, bahkan sangat jauh dari batas standar. Di simpang jalan, dia mesti memilih. Akhirnya keakrabannya dengan dunia pertanian dan hutan Kalimantan di masa kecil membawanya pada pilihan meneruskan di Fakultas Kehutanan.  
Tentang pilihannya tetap masuk Fakultas Kehutanan itu, Marukan bertutur:
“Waktu itu banyak pilihan di Universitas Lambung Mangkurat. Saya sempat kuliah di dua faktultas, yakni Fakultas Teknik dan Fakultas Kehutanan, pada tahun 1978 itu. Sempat kuliah di dua fakultas sekaligus selama satu tahun. Kemudian, saya mendapat informasi bahwa kuliah di Fakultas Teknik itu sulit sekali dan dosen-dosennya sangat pelit dalam memberikan nilai. Saya pernah mendapat nilai -5 untuk mata kuliah Kimia Tanah. Satu nilai yang tidak pernah saya bayangkan. Kalau nol barangkali masih bisa dibayangkan. Saya kecewa berat.
Kemudian saya konsultasi dengan dosen pembimbing yang juga orang asli Kalimantan Tengah. Beliau bilang ‘kalau kamu punya uang banyak silakan tetap di teknik, kalau tidak ya di kehutanan saja’. Akhirnya saya memilih meneruskan di Fakultas Kehutanan. Dan saat itu kondisi di Fakultas Kehutanan juga tidak mudah. Ada mahasiswa yang sampai 8-9 tahun tidak lulus-lulus. Bersyukur, di angkatan saya itu, saya lulus tepat lima tahun enam bulan. Memang ada perubahan, sehingga bisa lulus tepat lima tahun enam bulan. Saya lulus bulan Agustus tahun 1984.”
Penuh rasa syukur, mulai Agustus 1984 Marukan berhak menyandang gelar Sarjana atau Insinyur Kehutanan lulusan Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Sebuah prestasi anak pedalaman Kalimantan Tengah, tepatnya dari Desa Bayat, Kecamatan Belantikan Raya, Kabupaten Lamandau, yang cukup membanggakan. Maklum, sampai sekarang Desa Bayat belum terlalu lengkap infrastruktur jalan dan kelistrikan.

B.    Membangun Biduk Rumah Tangga
Selama kuliah di Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Marukan mengaku tidak tengok kanan-kiri “mencari” wanita idaman buat dipacari dan selanjutnya dibawa masuk ke jenjang pernikahan. Dia benar-benar fokus dan konsentrasi penuh menuntaskan kuliahnya di tengah kondisinya di Ibukota Kalimantan Selatan yang tidak mudah. Sehari-hari, selain kuliah, dia terus pula berpikir bagaimana bertahan hidup di perantauan. Hampir-hampir tidak ada waktu buat memikirkan cari calon pendamping hidup.
Keterbatasan kehidupannya di Banjarmasin betul-betul membuat Marukan nyaris tak bisa sekadar mengajak jalan-jalan seorang kawan atau sahabat. Sampai-sampai dia tidak percaya diri untuk sebatas bergaul dengan kawan-kawan mahasiswi.
Tapi, Marukan meyakini benar bahwa jodoh, rezeqi dan maut itu adalah hak prerogatif tangan Tuhan. Jodoh, rezeqi, dan maut tidak semata-mata sebagai upaya dan usaha si anak manusia.
Dengan keterbatasan materi namun sedikit punya kemampuan intelektual, mengantarkan Marukan memiliki daya tarik tersendiri di mata lawan jenis. Di masa-masa menjelang usai jenjang perkuliahan, ada beberapa gadis mengejar-ngejar dirinya. Tapi, dia tidak terlalu serius menanggapinya.
Tentang kurang percaya dirinya dalam bergaul dengan lawan jenis itu, Marukan bercerita:
“Dapat dikatakan saya nggak pernah pacaran seperti berkirim surat atau apalah. Karena saya memang nggak punya uang untuk nonton atau sekadar traktir makan. Sepeda pun nggak punya. Waktu SMA, saya pernah punya teman dekat, cinta monyet, tapi tidak pernah sampai pacaran. Sampai saya mahasiswa, yang mengejar banyak. Tapi, saya tahu diri, nggak berani menanggapi serius.
Kebetulan saya aktif di kegiatan gereja. Ketika itu kuliah di tingkat lima, sekitar tahun 1983, saya ketemu Maria Neva. Terasa kurang akrab karena penampilan saya tidak karuan. Saya diajak jalan-jalan ke mana, kemudian saya antar pulang pakai taksi. Nggak biasanya tuh. Sekali-dua kali terjadi seperti itu.
Waktu itu Maria Neva kelas tiga SMA. Ketika mau lulus kan ada tugas membuat paper. Dia minta dibikinkan. Saya iyakan tapi tidak saya bikin. Ini banyak teman lain kok minta dibikinkan ke saya. Mau lulus, dia nanya lagi mana paper. Akhirnya saya buatkan dan selesai dalam tiga hari, paper tentang koperasi. Karena merasa tertolong, dia langsung bilang ‘maukah kamu jadi pacar saya’. Saya diam saja waktu itu. Saya juga sering ditelepon supaya ke rumahnya. Sampai suatu malam, saya pulang dari rumahnya dia bilang ‘kamu pulang kok diam saja, coba cium saya’. Mulainya dari dia, kalau saya memang takut.”
Padahal, ketika kuliah di Universitas Lambung Mangkurat, Marukan sempat terpilih sebagai mahasiswa teladan dan aktif dalam berbagai seminar. Tapi, dia tetap saja kurang percaya diri. Rupanya, Maria Neva Merliana cukup jeli melihat sisi lebih pada diri Marukan. Ia pun main tembak langsung minta dipacari oleh Marukan. “Mungkin ia melihat ada semacam kecerdasan pada diri saya dan itu yang membuatnya tertarik,” ujar Marukan.
Gayung bersambut. Marukan tidak menyia-nyiakan “pinangan” perempuan cantik yang masih belasan tahun ketika itu. “Tidak ada pacaran, langsung jadian. Bulan Agustus 1984 kami menikah. Lalu anak pertama saya lahir tahun 1985,” terang Marukan sedikit tersipu malu.
Kini di usia pernikahannya yang lebih dari 30 tahun, Marukan dan Maria Neva Merliana telah dikaruniai dua orang anak perempuan (Margareta dan Pamela) serta mengadopsi seorang anak laki-laki. Bahkan, pasangan ini telah dikaruniai lima orang cucu.
Sekarang di tengah kesibukannya sebagai Bupati Lamandau (2013-2018), Marukan dan Maria Neva senantiasa saling mendukung dan memberikan spirit untuk bersama-sama mengabdikan diri bagi kemajuan masyarakat Kabupaten Lamandau. Keduanya berusaha memanfaatkan waktu senggang di sela-sela melayani warga masyarakat Lamandau buat tetap merajut kebersamaan dan kerekatan jalinan kasih.
Ihwal upayanya tetap menjaga jalinan kasih, Marukan mengatakan, “Kebetulan waktu saya jadi bupati, anak-anak saya sudah besar. Ada yang kuliah di Semarang dan ada juga yang di Yogya. Jadi sudah terbiasa terpisah dengan anak-anak. Waktu libur, mereka pulang, baru kami bersama-sama. Saya tidak terlalu berpikir bagaimana soal membagi waktu. Seperti air mengalir saja. Dengan isteri, tidak mesti bersama ke mana-mana. Kami saling percaya saja. Pas di rumah kami manfaatka kebersamaan dalam makan dan berdoa. Di Katolik tuh berdoa pagi, siang, sore dan malam hari. Seperti berteman saja, tidak ada perasaan was-was begitu. Meski isteri tak punya jabatan, dia aktif di kegiatan PKK sehingga merasa betapa pentingnya waktu kebersamaan dan melayani masyarakat.”       

C.   Menempa Diri Mengasah Intelektual di Jalur Akademis
Lulus dari Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat pada Agustus 1984 agaknya memberikan keberuntungan tersendiri bagi seorang Marukan Hendrik. Dewi fortuna menaungi dirinya.
Bersamaan dengan kelulusan Marukan, Universitas Palangkaraya di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, membutuhkan dosen untuk mengisi formasi di Fakultas Pertanian. Dia tidak menyia-nyiakan kesempatan yang boleh jadi hanya datang sekali dalam kehidupan anak manusia. Dia pun ikut seleksi calon dosen Fakultas Pertanian Universitas Palangkaraya.
Sekadar catatan, Fakultas Pertanian termasuk salah satu dari tiga fakultas yang menjadi cikal bakal Universitas yang sedikit lebih muda dibandingkan Universitas Lambung Mangkurat itu. Dalam sejarahnya, awal pembentukan Universitas Palangkaraya dilakukan pada tahun 1962 oleh Panitia Persiapan Pembentukan Universitas di Kalimantan Tengah yang mendapat dukungan formal dari Pemerintah Daerah Kalimantan Tengah dengan nama Universitas Palangkaraya yang diresmikan oleh Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pendidikan (PTIP) –waktu itu-- Prof. Dr. Ir. Tojib Hadiwijaya berdasarkan Surat Keputusan Menteri PTIP Nomor 141 Tanggal 10 November 1963 dengan 3 (tiga) fakultas, yaitu Fakultas Ekonomi, Fakultas Pertanian dan Fakultas Kehutanan. Pada saat bersamaan berdiri pula IKIP Bandung Cabang Palangkaraya dengan 2 (dua) fakultas, yaitu Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) dan Fakultas Keguruan Ilmu Sosial (FKIS). Pada tanggal 24 Juli 1969, IKIP Bandung Cabang Palangkaraya tersebut diintergrasikan ke dalam Universitas Palangkaraya.
Dalam perjalanan selanjutnya, Fakultas Pertanian dan Fakultas Kehutanan, yang waktu itu ditempatkan di Kuala Kapuas, hanya dapat berjalan sekitar setahun. Kemudian menyadari kebutuhan akan tenaga-tenaga terampil di bidang pertanian dan kehutanan di Kalimantan Tengah yang mendesak, maka pada tahun 1981 Universitas Palangkaraya membuka fakultas baru yaitu Fakultas Non-Gelar Teknologi yang menyelenggarakan program pendidikan pada jenjang Diploma 3 (D-3). Pada tahun 1982, berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor: 67/1982 tanggal 7 September 1982, Fakultas Ilmu Pendidikan dan Fakultas Keguruan digabung menjadi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) hingga sekarang. Sementara itu pada tahun 1991, Fakultas Pertanian secara resmi berdiri menggantikan Fakultas Non-Gelar Teknologi sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor: 0312/0/1991 tanggal 6 Juni 1991.
Kembali ke perjalanan seorang Marukan. Dia tidak mengalami kesulitan mengikuti seleksi calon dosen Fakultas Pertanian –yang ketika itu masih bernama Fakultas Non-Gelar Teknologi. “Saya lulus dari Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat bersamaan dengan adanya formasi dosen pertanian di Universitas Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Waktu itu buka Fakultas Pertanian, saya ikut di dalamnya. Dulu namanya Fakultas Non-Gelar Jurusan Pertanian. Ada juga Jurusan Kehutanan. Saya ikut dan lulus tes Calon PNS kemudian diangkat menjadi dosen tetap di sana,” papar Marukan ihwal karirnya di dunia akademis.
Mulailah di tahun 1984 itu Marukan menapaki hari-hari sebagai tenaga pengajar di Universitas Palangkaraya. Sebagai sosok yang rajin dan senantiasa fokus pada pekerjaannya, tapak karirnya lumayan bagus. Setahun berselang, tahun 1985, dia sudah dipercaya menjadi Ketua Program Studi Kehutanan di Fakultas Pertanian. Sekitar dua tahun, 1985-1986, dia mengemban secara baik amanah tersebut.
Kepercayaan lebih besar disorongkan ke pundaknya pada tahun 1988 seiring dengan pengangkatan dirinya sebagai Pembantu Dekan III Fakultas Pertanian. Kurang lebih empat tahun, 1988-1992 dia berada di kursi Pembantu Dekan III. Kemudian di ujung 1992, dia sedikit bergeser posisi menjadi Pembantu Dekan I Fakultas Pertanian.
Sebagai dosen, Marukan tidak ingin semata-mata tinggal di menara gading. Dia berusaha menyumbangkan pemikirannya ke dunia praktis, terutama pada dunia pertanian dan kehutanan di Bumi Borneo. Terkadang di sela-sela aktivitas kampus, dia juga aktif terlibat pada penelitian atau survai kehutanan. Bahkan, dia pernah sampai diminta menjadi tenaga ahli perusahaan HPH.
“Karena memang dasarnya rajin ya, selain mengajar sebagai dosen, saya juga meng-handle banyak pekerjaan yang lain yang relevan. Di antaranya ikut survai dan penelitian. Pernah pula bekerja di perusahaan HPH,” kata Marukan suatu kali.
Pikiran kreatifnya tidak hanya berkaitan dunia pertanian dan kehutanan.  Sebagai sosok yang telah ditempa oleh berbagai penderitaan, ide-ide kewirausahaannya acap muncul. Dia sempat mendirikan usaha pemborongan barang dan jasa. Melalui bendera usaha di luar dunia akademis itu, Marukan semakin makmur dan sejahtera. “Berkat berbagai aktivitas itu kehidupan saya sangat berubah. Saya bisa beli rumah dan mobil di Palangkaraya,” ujar Marukan.
Semua aktivitas tersebut tampaknya tidak menganggu konsentrasinya mengajar dan mengemban amanah jabatan di lingkungan Fakultas Pertanian Universitas Palangkaraya. Buktinya, tahun 1993-1994 dia dipercaya menjadi Dekan Fakultas Pertanian.
Kepercayaan itu rupanya tidak hanya datang dari Universitas Palangkaraya. Universitas PGRI Palangkaraya juga mengapresiasi kompetensi dan kemampuannya di bidang kehutanan. Tercatat dia pernah dipercaya oleh Universitas PGRI sebagai Dekan Fakultas Pertanian, Pembantu Dekan I dan Pembantu Dekan III.
Kepiawaian Marukan di bidang pendidikan tinggi, kehutanan dan pertanian memang tak perlu diragukan lagi. Dia sudah cukup banyak mengasah intelektualnya melalui berbagai kesempatan lokakarya, seminar, kongres dan sejenisnya. Tahun 1985 di Palangkaraya, dia mengikuti Penataran Dasar-dasar Analisis Dampak Lingkungan. Kemudian tahun 1986 di Jakarta, dia aktif di Kongres Ilmu Pengetahuan Nasional.
Lalu, tahun 1990 di Jakarta, dia ikut Lokakarya Peranan Pengembangan Pendidikan Tinggi. Masih di Jakarta tahun 1990, dia mengikuti Kongres Kehutanan Indonesia.
Lantas di Palangkaraya tahun 1991, Marukan ikut Lokakarya Akademik Fakultas Kehutanan. Dan tahun 1993 di Jakarta, dia menambah keilmuan bidang hukum dengan mengikuti Penyuluhan Hukum dan Peraturan Perundang-undangan.  
Begitu banyak aktivitas dan usaha dilakukan oleh seorang Marukan Hendrik. Berkat kerja keras, konsentrasi penuh dan fokus, dia mampu meraih sukses.  Namun, ketika krisis multidimensi menimpa Republik Indonesia tahun 1998, berbagai usaha Marukan terkena imbasnya. “Bersyukur, saya tidak punya utang. Saya tidak perlu menjual barang, bayar utang. Namun saat itu saya tidak punya uang,” tutur Marukan mengenang masa pahit di Palangkaraya. Tak berapa lama berselang, isterinya, Maria Neva Merliana, mendorong dan mengajaknya pulang ke Lamandau. Pikirnya, boleh jadi ada perubahan nasib di kampung halaman. (*)

No comments:

Post a Comment