Saturday, August 3, 2013

Berkawan Seumur Hidup dengan “Biker” Honda

* Daya Adicipta Mustika

Persaingan di bisnis penjualan sepeda motor semakin sengit. Daya Adicipta Mustika mampu mengatasinya dengan solusi pelayanan yang inovatif dan mengelola customer knowledge melalui aplikasi knowledge management.   



TAMPAKNYA sederhana saja. Gufron, seorang mekanik bengkel AHASS di Cirebon, menuliskan pengalamannya ketika lantai tempatnya bekerja menyervis sepeda motor demikian licin. Dia tidak ingin celaka gara-gara terpeleset di lantai yang semakin licin saat terpercik oli motor. Apalagi sampai ada pelanggan yang terpeleset. Dia lalu menulis di SS Online -- media online yang disediakan Daya Mustika bagi karyawan inign menuangkan ide improvement yang simpel-simpel. Gufron menuliskan apa langkah yang dilakukan agar lantai tidak licin lagi dengan menempatkan semacam matras yang mampu menyerap percikan oli. Tema lantai licin pun di-klik oleh 267 orang. Artinya, ada 267 orang di jaringan Daya Mustika memperoleh insight dari situ.
          Inisiatif-inisiatif penyelesaikan masalah yang masuk SS Online memang relatif sederhana. Kejadian-kejadian yang yang boleh jadi sepele di mata orang lain namun sangat berarti bagi mereka yang sehari-hari bekerja langsung di bengkel perawatan dan perbaikan sepeda motor. Selain lantai licin, tadi ada pula seorang mekanik yang sharing tentang alat yang diciptakannya untuk membuka shockbreaker lebih efisien. Bila semula seorang mekanik butuh 45 menit buat membua shockbreaker, maka dengan alat itu cukup 15 menit. Ada lagi mekanik yang berbagi pengetahuan mengenai panduan praktis kerja mekanik. Juga ide membekali setiap salesman dengan sarana semacam Personal Digital Assistant (PDA). Dengan alat ini, salesman dapat menginformasikan gambaran penjualan dealer, bengkel dan toko spare part yang didatangi. Misalkan, jenis spare part yang laku. Dan toko spare part bisa langsung mengorder ke gudang dan langsung muncul perintah untuk mengirimkan barang. Salesman jadi percaya diri.
          “Kami lihat case by case yang simpel. Sepertinya kecil-kecil, tapi kami ingin mereka berani mengungkapkan pendapat. Berani mencari solusi bagaimana menyelesaikan permasalah yang dihadapinya tanpa menyalahkan siapapun. Kami tidak mau membebani mereka dengan analisa yang macam-macam sehingga takut berinisiatif. Kami ingin mendorong agar tumbuh kultur Manusia Daya yang kompeten dan inovatif di segenap karyawan dalam jaringan Daya Mustika, kalau ada masalah ya mesti diberesin. Untuk karyawan lapangan paling bawah kami menyediakan kedia SS online ini,” terang General Support Division Head Daya Mustika, Adi Pakaryanto, yang kini menjadi Corporate Human Resource Management PT Triputra Investindo Arya.
          Chief Executive Officer (CEO) Daya Mustika Krisgianto Lilikwarga menambahkan, “Dari sini kami ingin menumbuhkan manusia Daya yang punya integritas dan berani mengeskusi setiap kali menghadapi persoalan di lapangan.”
          Daya Mustika tidak hanya membuka akses berbagi pengalaman inovatif dan solutif para mekanik, salesman dan sales counter yang tersebar di 218 dealer jaringan yang jual motor, 500-an bengkel AHASS dan hampir 1.000 toko spare part. Menyediakan pula akses sharing untuk karyawan dengan supervisor ke atas. Hal ini tidak lain sebagai langkah untuk memanfaatkan pengetahuan yang dimiliki karyawan untuk memaksimalkan strategi memenangi persaingan penjualan sepeda motor yang semakin ketat. Bagaimana sebenarnya knowledge management berperan penting dalam mempertahankan posisinya sebagai main dealer nomor wahid di wilayah Jawa Barat?
           
         

PT DAYA ADICIPTA MUSTIKA tumbuh dari sebuah entitas bisnis kecil yang didirikan Raphael Adi Rahmat pada tahun 1970. Entitas yang lahir di Bandung dan diberi nama Perusahaan Dagang (PD) Matras itu menjalankan bisnis penjualan sepeda motor Honda di wilayah Jawa Barat.
Berkat kerja keras dan upaya secara terus-menerus menjaga reputasinya, pada 1972, PT Federal Motor, produsen sepeda motor Honda di Indonesia (sekarang PT Astra Honda Motor), memberikan kepercayaan kepada PD Matras menjadi main dealer sepeda motor dan suku cadang (spare part) resmi Honda di Jawa Barat. Di tahun itu pula, PD Matras berganti nama menjadi PD Daya.
Dari tahun ke tahun, bisnis main dealership ini terus berkembang. Sampai kemudian di tahun 1984, Raphael Adi Rahmat memutuskan untuk mengubah badan hukum perusahaan dari PD Daya menjadi Perseroan Terbatas (PT) Daya Adicipta Mustika. Tidak sekadar mengubah badan hukum agar lebih lincah dalam bisnis, sejak saat itu Raphael Adi Rahmat banyak melibatkan para profesional untuk menjalankan roda perusahaan. Praktik manajemen modern dan teknologi semakin dimanfaatkan dalam rangka meningkatkan efektivitas dan efisiensi proses bisnis. Sumber daya manusia (SDM) yang ada pun terus dibenahi dan ditingkatkan kompetensi dan kualitasnya. Daya Adicipta juga melengkapi dan memperkuat fasilitas dan infrastruktur pendukung. Dengan harapan Daya Mustika semakin kokoh di tengah persaingan bisnis penjualan sepeda motor yang semakin kompetitif.
Tahun 1998 menjadi tonggak sejarah penting perjalanan Daya Mustika. Pada tahun itu Tedy P. Rachmat menggabungkan perusahaan-perusahaan yang dirintisnya menjadi satu bentuk korporasi (holding) yang diberi nama PT Triputra Investindo Arya (Triputra Group). Keyakinan dan komitmen kuat Triputra Group makin mendorong tingkat kematangan Daya Mustika untuk terus merapikan proses bisnis serta semakin mengedepankan upaya pengembangan SDM.
Saat ini, Daya Mustika telah berkembang menjadi main dealer sepeda motor dan suku cadang resmi Honda dengan kontribusi yang signifikan bagi PT  Astra Honda Motor. Dominasi merek Honda di wilayah Jawa Barat bertambah kuat dari waktu ke waktu. Dan berbagai prestasi diraih Daya Mustika --baik dalam lingkup main dealer se-Indonesia maupun Triputra Group.
Berkat dukungan dan kepercayaan penuh shareholder dan prinsipal, komitmen satu hati dari seluruh karyawan dan jaringan Honda di Jawa Barat, Daya Mustika melangkah pasti menapaki perjalanan sang waktu. Tahun 2008, Daya Mustika memperoleh kepercayaan yang lebih besar lagi dari prinsipal. Astra Honda Motor menunjuk Daya Mustika menjadi menjadi main dealer sepeda motor dan suku cadang Honda untuk wilayah Sulawesi Utara, Maluku Utara dan Gorontalo. Lalu, untuk menyambut kepercayaan itu, Daya Mustika mendirikan entitas baru yang dinamakan PT Daya Adicipta Wisesa.
“Waktu itu kami kirimkan beberapa orang terbaik dari main dealer Jawa Barat untuk menggarap main dealer baru di Sulawesi Utara, Manado dan Maluku Utara. Kami harus bekerja cepat membangun sistem di main dealer baru ini. Selama sekitar sebulan kami bekerja siang-malam di sana. Hasilnya lumayan sih, kinerja main dealer baru ini terus membaik, walaupun belum sesuai dengan harapan. Selain bekerja langsung membangun sistem, 10 orang tadi juga mendidik dan sharing pengetahuan dengan orang-orang rekrutan baru yang akan memegang manajemen Daya Wisesa secara cepat. Kepada mereka, kami tanamkan nilai-nilai Manusia Daya seperti fokus ke customer; jujur dan berintegritas tinggi; kompeten, bersemangat melayani dan menyenangkan; operational excellence; dan inovatif,“ jelas CEO Daya Mustika Krisgianto Lilikwarga.
Edukasi dan internalisasi nilai-nilia perusahaan yang demikian cepat pada orang-orang hasil rekrutan baru di Sulawesi Utara, Gorontalo dan Maluku Utara, menjadikan pertumbuhan penjualan sepeda motor dan suku cadang Honda di wilayah pemasaran Daya Wisesa tumbuh pesat. Berbagai strategi pemasaran dan program  pengembangan dilakukan untuk meningkatkan dominasi merek Honda di wilayah timur Indonesia itu. Sejalan dengan itu, Daya Wisesa juga berupaya meningkatkan standar layanan, sistem pengelolaan jaringan, serta kualitas SDM di seluruh jaringan penjualan dan purna jual sepeda motor Honda. Semua itu dilakukan agar PT Daya Adicipta Wisesa dapat terus tumbuh dan berkembang menjadi salah satu main dealer sepeda motor dan suku cadang Honda yang kontributif di wilayah timur Indonesia.
         


SUKSES tersebut tidak terlepas dari kewiawaian Daya (Mustika dan Wisesa) dalam memaksimalkan modal intelektual (intellectual capital) Manusia Daya. Manusia Daya yang focus ke costumer, kompetensi mumpuni, dan inovatif.
          Untuk fokus ke costumer, secara rutin Daya Mustika melakukan interview individual costumer dan street survey. Dengan instrumen itu, Daya Mustika memperoleh umpan balik apa sesungguhnya yang dibutuhkan dan diinginkan oleh costumer. Dari penelitian melalui kedua metode, Daya Mustika memperoleh gambaran, misalkan, pelayanan purna jual macam apa yang diinginkan costumer, trend minat pembelian sepeda motor, opini mengenai varian sepeda motor Honda, dan dampak iklan/promosi terhadap perilaku membeli. Dan hasil dari penelitian ini kemudian dijadikan panduan oleh setiap Manusia Daya dalam bekerja.
          Kemudian, mengenai kompetensi yang mumpuni, Daya Mustika mendorong segenap karyawan untuk mengikuti improvement training dan improvement projects. Calon-calon manajer diwajibkan mengikuti program pelatihan komprehensif selama 12 hari yang diakhiri dengan penyusunan proyek selama 3 bulan. Begitu pula para calon general manager, mereka wajib ikut pelatihan komprehensif selama 12 hari yang diakhiri dengan penyusunan proyek selama 3 bulan.
          Berbekal pengetahuan dari training, pelatihan komprehensif dan penyusunan proyek, manusia Daya mampu dan cakap mengambil keputusan secara cepat dan tepat. Inilah yang menjadi andalan Daya Mustika dalam melayani kebutuhan customer-nya, membuka atau menambah jaringan baru, dan sekaligus membedakan Daya Mustika dengan perusahaan penjualan sepeda motor yang lain.
          KM memainkan peran penting dalam pengelolaan modal intelektual Manusia Daya, terutama pada kriteria keempat dari delapan kriteria Most Admired Knowledge Enterprise (MAKE), yakni memaksimalkan nilai dari modal intelektual (maximizing the value of intellectual capital). Melalui aplikasi KM, Daya Mustika bertekad menjadikan seluruh karyawannya, termasuk para salesman di dealer-dealer jaringan, sebagai knowledge worker yang aktif, unggul (excellence), dan selalu inovatif. Bagaimana wujud knowledge worker semacam itu?
          Bisnis penjualan sepeda motor kini dan ke depan tentu sangat berbeda dibandingkan 10-15 tahun silam. Dulu jualan sepeda motor cukup dengan membuka toko, tanpa perlu pelayanan yang lain. Customer dulu membeli motor, ya cukup langsung membawa pulang motornya. Sekarang, orang berlomba-lomba punya motor, kemudian ada demand lain yang harus dipenuhi.  Di tengah persaingan yang semakin sengit, penjual harus memahami betul bagaimana kemauan dan kebutuhan pasar. Tidak sekadar menjual motor dengan harga murah tapi lebih dari itu, harus ada inovasi-inovasi dalam melayani. Hal seperti ini harus dipahami secara baik. Dan, hal ini bisa hanya dijawab bila penjual (main dealer dan dealer) memiliki pekerja yang punya klasifikasi knowledge workers. Pekerja yang secara terus-menerus meng-udprage pengetahuannya mengikuti perkembangan yang muncul di pasar.
Kata General Support Division Head Daya Mustika, Adi Pakaryanto, “Kami harus tahu apa kelebihan kompetitor, harus diamati betul. Mirip dengan consumer good, mengamatinya sampai tingkat mikro. Dulu di level Jawa Barat, kami hanya butuh satu main dealer, lama-kelamaan nggak cukup. Per wilayah kabupaten, sampai kelurahan, harus dapat diperoleh gambaran seperti apa peta penjualan sepeda motor. Bahkan, kami harus tahu strategi marketing di setiap daerah. Memasarkan di Garut sudah pasti bebeda dibandingkan di Bandung. Di Garut misalkan, petani yang bawa duit dalam kantong kresek tidak berani masuk ke showroom motor. Ini harus dipahami.”
Untuk itulah, lanjut Adi Pakaryanto, “Daya Mustika sekarang ini punya sekitar 60 orang yang fokus kerjanya membantu dealer memahami bisnis, memahami situasi pasar. Di Garut misalkan seperti apa, Yamaha itu di mana saja titik-titiknya. Di kecamatan ini apa yang banyak. Dengan begitu dia bisa memberi masukan ke dealer setempat. Local strateginya dipahami bersama. Itu di end customer. Juga melakukan survai-survai. Mereka seperti konsultan bisnis para dealer.”
Dari langkah seperti ini, kini 218 dealer jaringan Daya Mustika memiliki mindset relatif sama. Punya level of knowledge yang sama. Selain langkah ‘menyediakan’ konsultan, Daya Mustika juga aktif mendidik salesman dan mekanik yang bekerja di dealer-dealer jaringan.
Tidak sebatas mendidik mekanik dealer-dealer jaringan. Daya Mustika juga mendidik calon-calon mekanik yang masih bersekolah di SMK-SMK yang tersebar di seluruh wilayah Jawa Barat. Memang tidak secara langsung masuk menjadi pengajar di SMK. Daya Mustika mewujudkannya dengan menggelar kontes mekanik tingkat SMK se-Jawa Barat setiap tahun. Tahun 2013 merupakan ketiga kalinya Daya Mustika menggelar kegiatan ini.
Menurut Manager Technical Development Daya Mustika, Yudi Heriyadi, SMK Skill Contest Sepeda Motor Honda ini bertujuan untuk menguji kualitas lulusan SMK Teknik Sepeda Motor (TSM) yang ada di Jawa Barat, apakah sudah sesuai dengan tuntutan pihak Industri. “Outcome dari kontes ini diharapkan dapat dijadikan masukan untuk pengembangan kurikulum SMK Teknik Sepeda Motor (TSM) Honda, yang telah dikembangkan dari tahun 2011 bersama beberapa SMK di Jawa Barat. Selain itu, aktivitas ini diharapkan pula dapat mempererat hubungan antara pihak SMK dengan Industri dalam hal peningkatan kualitas lulusan SMK dan pemenuhan kebutuhan teknisi di bengkel-bengkel AHASS (Astra Honda After Sales Service).”
 Jelas CEO Daya Mustika Krisgianto Lilikwarga, “Kami punya learning center, setiap tahun 300 mekanik bersertifikat lulus dari sana. Learning center ini juga mendidik front-liner, salesman dan sales counter. Mereka memperoleh pelajaran bagaimana cara efektif menghadapi customer dan menjelaskan product knowledge. Sejak 2007, sudah kami luluskan sekitar 2.900 orang. Bila semula kami yang merekrut salesman kemudian kami berikan ke dealer, sekarang dealer yang menyodorkan salesman, sales counter dan front-liner dealer ke learning center sini.”
          Langkah ini, demikian kata Krisgianto, tidak lain sebagai pengejawantahan dari visi Daya Mutika kepada jaringan. Yakni, visi  membangun dan membina kebersamaan keluarga jaringan dengan layanan solusi motor Honda yang andal, bersemangat melayani, terpercaya, dan saling menguntungkan.



SELAMA INI Daya Mustika memiliki tiga customer, masing-masing prinsipal, dealer jaringan dan end customer. Untuk prinsipal, Daya Mustika memegang satu prinsipal, yakni Astra Honda Motor (AHM). Parameter dengan prinsipal jelas. Kata Krisgianto Lilikwarga, “Hidup-mati kami pokoknya untuk Honda. Kalau kami sampai nggak perform, Astra Honda punya hak mencabut. Parameternya jelas, selain trend penjualan, apakah kami menjalankan fungsi main dealer. Pertama, misalkan kami punya assignment wajib melakukan A, B dan C, bila nggak melakukan maka kami dapat nilai negatif. Kedua, laporan dari dealer jaringan, misalnya, jaman lagi susah, ada dealer yang bukan punya Daya Mustika merasa bahwa kami hanya mendistribusikan barang-barang ke dealer punya sendiri. Semua itu jadi policy prinsipal untuk memutus ataukah melanjutkan kontrak main dealer. Memang proses pencabutan otoritas main dealer relatif lama, sekitar satu bulan. Kami tetap diberi kesempatan untuk bernegosiasi.”
Daya Mustika tidak merasa kesulitan untuk terus menjalin kontrak main dealer dengan AHM. Persoalan justru pada bagaimana mempertahankan jalinan dan loyalitas dengan dealer jaringan dan end customer. Dengan end costumer, Daya Mustika ‘mengikat’ dengan Kartu Always Honda. Kartu ini dilengkapi dengan nomor call center dan ada reward yang bisa ditukarkan di lebih dari 100 merchant. “Tujuan kami sederhana, kami ingin captur data end customer yang selanjutnya kami share ke dealer-dealer jaringan untuk mereka tindak-lanjuti dengan memberikan pelayanan yang prima. Tahun 2014 nanti kami lebih masuk ke advance, bilamana beli motor lagi (repeat) bisa memperoleh diskon khusus,” terang Krisgianto Lilikwarga.
Melalui cara seperti ini, bagai sekali mendayung dua-tiga pulau terlewati, Daya Mustika meraih loyalitas end customer dan membantu dealer untuk survive dengan menggarap pada pemakai sepeda motor Honda. Bagaimana pun, dealer sangat membutuhkan konsumen sepeda motor.
Daya Mustika memahai benar betapa pentingnya jalinan tali-temali prinsipal - main dealer – dealer – end costumer untk mendongkrak penjualan sepeda motor Honda di Jawa Barat (Jabar). Hasilnya, perjalanan bisnis Daya Mustika cukup mengkilap. Trend penjualan sepeda motor terus mengalami kenaikan. Tahun 2009 tercatat 425.523 unit, 2010 sebanyak 605,442 unit dan tahun 2011 naik lagi menjadi 709.896 unit. Begitu pula posisi market share sepeda motor dibandingkan kompetitor. Tercatat posisi 46,4% pada tahun 2009, 50,8% di tahun 2010 dan meningkat lagi menjadi 55,8% di tahun 2011. Pun demikian trend posisi kontribusi Jabar dalam penjualan sepeda motor Honda secara nasional. Bila di tahun 2008 berkontribusi sebesar 16,3%, maka di tahun 2010 dan 2011 bergerak ke angka 17,3% dan 17,5%.
Pemahaman dan perjalanan bisnis yang mengkilap inilah yang membuat para panelis MAKE menilai Daya Mustika memang memiliki kekuatan dalam mengelola customer knowledge, yakni kriteria ketujuh dalam MAKE. Daya Mustika memanfaatkan pengetahuannya ini untuk meningkatkan kepuasan pelanggan, sehingga mampu mendorong terjadinya customer acquisition dan customer rentention. Kepuasan customer inilah yang pada akhirnya akan dapat membawa keuntungan bagi Daya Mustika, baik para pemegang saham (shareholder) maupun stakeholder. ***


=========================

Manusia Daya

*  Fokus ke customer.
* Jujur dan berintegritas tinggi.
* Kompeten, bersemangat melayani dan menyenangkan.
* Service dan operational excellence
* Inovatif.


Visi
·         Menjadikan pengguna motor Honda sebagai customer dan kawan seumur hidup.

·         Mengusahakan minimal satu sepeda motor Honda dalam setiap rumah.

No comments:

Post a Comment