Tuesday, January 7, 2014

Hasan bin Ali bin Abi Thalib Menjelang Ajal



Ketika Hasan dalam keadaan sakaratul maut, ia menangis. Lalu ada salah satu sahabat berkata padanya, “Mengapa engkau menangis wahai Hasan?” Ia menjawab, “Aku akan berhadapan dengan Dzat yang belum pernah aku jumpai sebelumnya.”[1]
Saat Hasan mulai bertambah keras sakitnya, ada seseorang yang masuk tempat pembaringannya dan berkata, “Wahai ayah Muhamad, ada apa dengan rasa sakit yang engkau alami ini? Bukankah ia yang akan memisahkan ruh dengan jasadmu sehingga engkau dapat bertemu ayah dan ibumu (Sayyidah Fatimah)? Begitupula dengan kakekmu yang agung (Rasulullah Saw) dan nenekmu yang mulia (Sayyidah Khadijah r.a.)? Serta paman-pamanmu: Hamzah dan Ja’far. Dan juga saudara-saudaramu, seperti Qasim, Ibrahim, al-Tayyib, dan Mutahhir. Serta saudari-saudari ibumu, seperti Ruqayyah, Ummu Kultsum dan Zainab.” Orang tersebut kemudian mengatakan bahwa Hasan merasa gembira setelah mendengar apa yang dikatakan kepadanya.[2]
Ruqbah bin Musqalah juga mengatakan, “Ketika Hasan sudah dalam keadaan sakaratul maut, ia meminta, ‘Angkatkanlah tempat tidurku ke halaman rumah!’”
Ruqbah berkata lagi, “Setelah itu, beliau menengadahkan kepalanya ke langit dan berkata, ‘Ya Allah, aku serahkan perhitungan jiwaku pada-Mu. Karena jiwa ini adalah semulia-mulia jiwa yang Engkau berikan kepadaku’.”[3]
Dalam riwayat lain, Ruqbah bin Musqalah mengatakan, “Ketika Hasan dalam keadaan naza’ (sakaratul maut), ia berkata, ‘Bawalah aku pergi menuju padang pasir, supaya aku dapat menyaksikan tanda-tanda keagungan Allah SWT.’ Dan setelah aku membawanya ke tempat yang ia minta, ia berdoa, ‘Ya Allah, aku serahkan perhitungan jiwaku pada-Mu. Karena jiwa ini adalah semulia-mulia jiwa yang Engkau berikan kepadaku.’ Setelah itu, terjadilah seperti apa yang Hasan minta. Allah lah yang langsung menghisabnya sendiri.”[4]
Umair bin Ishaq juga menceritakan mengenai keadaan Hasan menjelang ajal. Dia berkata, “Saat itu aku bersama sahabatku datang menjenguk Hasan. Kami lalu masuk ke dalam rumahnya. Ia berkata pada sahabatku, ‘Wahai Fulan, tanyalah sesuatu padaku!’ Maka sahabatku itu menjawab, ‘Tidak, sungguh aku tidak akan bertanya sesuatu kepadamu kecuali setelah Allah memberi kesembuhan kepadamu. Setelah engkau sembuh, aku baru akan bertanya kepadamu.’ Hasan lalu masuk ke dalam kamar dan keluar lagi menemui kami. Ia berkata lagi, ‘Tanyalah sesuatu kepadaku sekarang sebelum engkau tidak dapat menanyaiku lagi.’ Sahabatku itu pun membalas dengan jawaban yang sama, ‘Biarlah Allah menyembuhkanmu dulu, baru aku akan bertanya padamu.’ Hasan menjawab, ‘Sebagian hatiku telah rusak karena aku telah lama diracuni terus-menerus. Aku tidak pernah merasakan sakit yang seperti ini.’ Lalu aku mendekat kepadanya dan dan dia memperbaiki posisi baringnya. Husein saat itu duduk sangat dekat dengan kakaknya. Ia kemudian bertanya kepada Hasan, ‘Siapa yang melakukan ini wahai saudaraku? Kenapa? Supaya kamu bisa membunuhnya,” balas Hasan. Husein menjawab,  ‘Ya.’ Hasan membalas lagi, ‘Walaupun benar orang yang aku perkirakan, sesungguhnya Allah jauh lebih kejam dan menakutkan bilaa memberi siksa. Kalaupun salah, aku tidak senang jika orang yang membunuhku itu bebas.’ Tak lama setelah itu ia pun wafat.”[5]
Dalam riwayat lain, “Hasan mengatakan, Kenapa? Supaya kamu bisa membunuhnya?’ Husein menjawab,  ‘Ya.’  Hasan berkata lagi, ‘Aku tidak akan memberitahukan apapun padamu siapa dalang di balik sakitku ini. Jika benar orang itu seperti yang aku perkirakan, maka sungguh Allah akan lebih kejam dalam pembalasan. Kalaupun itu salah, sungguh aku tidak akan senang orang yang membunuhku itu bebas’.”

Wasiat Hasan 
Abu Hazim menceritakan bahwa ketika Hasan dalam keadaan sakaratul maut, ia berkata pada saudaranya, Husein. “Kuburkanlah aku nanti bersama dengan kakek (Rasulullah Saw). Jika engkau takut akan ada pertumpahan darah, maka kuburkan saja aku di pemakaman orang-orang Muslim.”
Ketika Hasan wafat, Husein membawa senjata seraya mengumpulkan para hamba sahayanya. Abu Hurairah berkata padanya, “Allah telah menitipkan wasiat Hasan kepadamu. Sungguh kaum ini tidak sedikit pun ingin mengajakmu bertikai dan saling menumpahkan darah.” Setelah mendengar perkataan Abu Hurairah, hati Husein menjadi luluh. Hasan akhirnya dikebumikan di Baqi’ tak jauh dari makam Rasulullah.
Setelah itu, Abu Hurairah berkata lagi, “Bukankah kalian juga tahu bahwa putra Nabi Musa a.s.  ingin disemayamkan bersama ayahnya akan tetapi kaumnya melarangnya. Apakah mereka berbuat dhalim kepada putra Nabi Musa?” Mereka menjawab serentak, “Ya.” Abu Hurairah melanjutkan, “Dan permintaan ini juga diminta keturunan Rasulullah supaya ia dikuburkan bersama orang-tuanya.”
Abu Hurairah berkata lagi, “Semoga Allah melaknat Marwan.” Ia melanjutkan, “Sungguh aku mengizinkan Hasan dikuburkan bersama Rasulullah. Begitupun Utsman bin Affan yang menjadi khalifah ketiga umat Islam. Tetapi, akhirnya Hasan pun tetap dikuburkan di Baqi’.”[6]
Juwairiyah binti Asma’ menuturkan, “Ketika umat Islam mulai mengeluarkan jenazah Hasan, Marwan datang dan dengan sigap meraih salah satu kerandanya.” Husein berang melihat perilakunya. Dengan sangat marah ia berkata pada Marwan, “Kamu berani mengangkat kerandanya? Bukankah kamu yang telah menegukkan kemarahan ke tenggorokan Hasan?” Marwan menjawab, “Memang aku yang telah melakukan itu bersama orang yang ingin menggantungkan angannya di atas gunung.”
Ibn Abd al-Barr juga berkata, “Saat Hasan sedang dalam keadaan sakaratul maut, ia berkata pada Husein, ‘Wahai saudaraku, ketika Rasulullah wafat, beliau mendapatkan kemuliaan dari Allah. Begitu pula dengan khalifah Abu Bakar dan Umar bin Khattab yang mendapatkan kemuliaan setelah mereka meninggal. Sebelum khalifah Umar wafat, beliau membentuk tim untuk bermusyawarah mengenai khalifah pengganti setelahnya. Salah seorang anggota tim menolak diadakannya musyawarah tersebut. Karena ia yakin bahwa dengan adanya musyawarah tersebut ia tidak akan diperhitungkan lagi.
Kemudian kemuliaan itu berpindah kepada Sayyidina Utsman. Saat beliau dibunuh, Sayyidina Ali pun dibaiat. Kemudian beliau pun diturunkan dari jabatan kekhalifannya hingga beliau menyerukan perang dan terbunuh juga. Maka beliau mendapatkan kemuliaan tersebut. Sebab itu tidak ada jalan yang nyaman untuk memperoleh kemulian tersebut kecuali dengan kematian. Sungguh aku tidak pernah menyaksikan Allah menyatukan keluarga Nabi dengan kekhalifahan. Dan sungguh aku tidak tahu bahwa orang-orang bodoh Kufah itu tidak akan pernah memberikan keringanan dalam hidupmu. Di mana suatu saat mereka akan mengusirmu dari tempat tinggalmu.”
Dalam riwayat lain dikatakan bahwa Hasan berkata kepada Husein. “Aku pernah meminta pada Sayyidah Aisyah untuk dikuburkan dalam kamarnya di mana Rasulullah dimakamkan. Beliau mengiyakan apa yang kuminta. Dan sungguh aku tidak tahu, semoga apa yang dilakukannya termasuk rasa sungkan beliau kepadaku. Maka jika nanti aku mati, mintalah apa yang aku minta dulu kepadanya. Akan tetapi aku telah mempunyai firasat bahwa umat Islam akan melarangmu. Jika itu terjadi, maka kuburkan saja aku di pemakaman Baqi’.”
Dan ketika Hasan wafat, Sayyidah Aisyah berkata, “Semoga Allah memberinya kenikmatan dan rahmat.” Saat berita ini sampai kepada Marwan, ia berkata, “Hasan telah berbohong. Begitu pula dengan Aisyah. Aku bersumpah, dia sekali-kali tidak akan pernah dikuburkan di tempat itu (di samping Rasulullah). Mereka telah melarang khalifah Utsman dikuburkan di sana. Lalu mereka seenaknya ingin Hasan supaya disemayamkan di sana pula?”
Pertikaian ini membuat Sayyidina Husein bersiap berperang dengan mengenakan pakaian perang yang lengkap senjatanya. Begitu pula dengan Marwan. Akan tetapi Abu Hurairah segera datang sebagai penengah di antara mereka dan sekaligus menghentikan pertikaian yang terjadi.[7]
Musawi al-Sa’di menuturkan, “Aku melihat Abu Hurairah berdiri di atas masjid Nabawi di hari wafatnya Hasan. Ia menangis. Ia menyeru dengan suara tinggi, ‘Wahai umat Islam, hari ini orang yang dicintai Rasulullah Saw telah wafat.’ Maka mereka pun serentak ikut menangis.”[8]


[1]HR Imam Qusyairi dalam ‘al-Risâlah al-Qusyairiyyah’, bab XIV, hlm. 188. 
[2] HR Abu Na’im dalam Hilyat al-Auliyâ, Juz XIV, hlm. 188.
[3]Hadits shahih, HR Ibn Abi Dunya seperti yang tertera dalam ‘al-Ittihâf, Juz XIV, hlm. 188.
[4]Hadits shahih, Abu Na’im dalam Hilyat al-Auliyâ, Juz XXII, hlm. 38.
[5]Ibid.
[6]Hadits shahih, HR Abu ‘Awanah.  Hadits ini juga terdapat dalam ‘Siyaru A’lâmi al-Nubalâ’ milik Imam al-Dzahabi, Juz III, hlm. 275.   
[7]HR Ibn Abd al-Barr dalam ‘al-Istî’âb’, Juz I, hlm. 376-377 dan Imam al-Dzahabi dalam ‘Siyaru A’lâmi al-Nubalâ’, Juz III, hlm. 279.
[8]Hadits ini disebutkan oleh Imam al-Dzahabi dalam ‘Siyaru A’lâmi al-Nubalâ’ dengan sanad yang hasan.

No comments:

Post a Comment