Abu Ubaidah wafat karena terserang wabah pes di Yordania. Beliau kemudian
dikuburkan di Desa Bisan. Sahabat Mu’adz bin Jabal pun turut menshalatkannya. Saat
itu bertepatan pada tahun 18 Hijriah di masa kepemimpinan khalifah Umar bin Khattab.
Usia beliau waktu itu telah menginjak 58 tahun.
Urwah bin Zubair bercerita, “Saat itu, sebelum Abu Ubaidah dan keluarganya
terkena wabah pes, beliau berdoa, ‘Ya Allah, Engkaulah yang Maha Tahu atas
nasib keluarga kami.’ Aku kemudian keluar dengan Abu Ubaidah ke suatu tempat
bernama Khinsar di Tsarah. Beliau lalu memandangi tempat itu dan mendengar suatu
perkataan, ‘Sungguh tempat ini tidak ada apa-apanya.’ Mendengar perkataan itu beliau
lalu mengucap, ‘Aku berharap semoga Allah memberkahi tempat itu. Karena jika
tempat itu diberi keberkahan sedikit saja, maka keberkahannya akan terasa
banyak’.”[1]
Harits bin Umairah juga berkisah, “Suatu saat Mu’adz bin Jabal memegang
tanganku. Ia memintaku agar menanyakan perihal kabar Abu Ubaidah. Setelah aku
mendatangi Abu Ubaidah, aku beritahukan ke Mu’adz bahwa ia telah terkena wabah
itu. Wabah itu menyerang telapak tangannya lalu menyebar ke anggota tubuh
lainnya. Di saat aku menjenguknya, tak lama berselang beliau menghembuskan
nafasnya yang terakhir. Sesaat sebelum meninggal, Abu Ubaidillah bersumpah
bahwa beliau tidak suka dengan tempat keluar darahnya yang berwarna merah
(tangannya) sebagai tempat kemewahan.”[2]
Abdurrahman bin ‘Auf Menjelang Ajal
Ibrahim putra Abdurrahman bin Auf bercerita, “Saat ayah menderita sakit,
beliau pernah jatuh pingsan. Orang-orang mengira keadaan ini sudah sering
terjadi padanya. Mereka lalu memberdirikannya dan memberinya pakaian. Aku juga
pernah melihat Ummu Kultsum binti Uqbah keluar bersama putrinya ke masjid dan membantu
Abdurrahman dengan memberinya nasehat kesabaran dan doa. Mereka lantas menyalin
pakaiannya dan beliau masih dalam keadaan pingsan. Beliau kemudian sadar. Hal pertama yang beliau ucapkan saat itu adalah ingin
menunaikan shalat. Maka beliau pun shalat berjamaah bersama keluarga.
Kemudian beliau bertanya pada mereka, ‘Apakah tadi aku pingsan?’ Mereka menjawab, ‘Ya.’ Beliau berkata lagi, ‘Kalian telah berkata benar. Saat aku pingsan
tadi, ada dua orang yang datang padaku. Salah satu di antaranya
berwajah bengis dan bersikap kasar.’ Mereka berdua berkata padaku, ‘Ayo kita
naik, kami akan menyerahkanmu kepada Allah supaya engkau dihakimi.’ Saat baru
mulai beranjak pergi, kami bertemu dengan seseorang. Ia berkata pada kedua
orang itu, ‘Ke mana kalian akan membawa orang ini?’ Mereka menjawab, ‘Kami akan
menyerahkannya kepada Allah supaya ia dihakimi.’ Orang itu menjawab, ‘Pergilah
kalian! Orang ini telah tertulis sebagai hamba yang akan menerima kebahagiaan
dan ampunan. Sungguh beliau masih diperkenankan menikmati hidup dengan
keluarganya sampai kapan saja, tergantung kapan Allah akan memanggilnya.’ Tak
lama setelah kejadian itu, beliau hidup selama sebulan dan pergi meninggalkan keluarganya
untuk selamanya.”[3]
Ketika Abdurrahman bin Auf wafat, Sayyidina Ali bin Abi Thalib berkata,
“Pergilah wahai Abdurrahman, engkau telah mengetahui indahnya kehidupan
akhirat. Juga telah lewat masa keruhmu di dunia ini.”[4]
[1]Imam Imam al-Dzahabi dalam ‘Siyaru A’lâmi al-Nubalâ’, Juz I, hlm. 22
dengan sanad yang terputus.
[2]HR Imam Tabrani dalam ‘al-Mu’jam al-Kabir’ hlm. 364 dan Imam Hakim dalam
‘Al-Mustadrak ala al-Shahîhain’, Juz III, hlm. 263. Dalam sanadnya
terdapat perawi yang bernama Sahr bin Hausyab yang termasuk dalam golongan rijâl
al-dzu’afâ’.
[3]Hadits shahih, HR al-Fasawi dalam ‘al-Ma’rifah wa al-Târîkh’,
Juz I, hlm. 367, Ibn Sa’ad dalam ‘Tabaqât
al-Kubrâ’, Juz I, bab 3, hlm. 95 dan Imam Hakim dalam ‘Al-Mustadrak ala
al-Shahîhain’, Juz III, hlm. 307.
[4]Hadits shahih, HR Imam Hakim dalam ‘Al-Mustadrak ala
al-Shahîhain’, Juz III, hlm. 307 dan al-Fasawi dalam ‘al-Ma’rifah wa
al-Târîkh’, Juz I, hlm. 213.
No comments:
Post a Comment