Showing posts with label Dari Salemba ke Depok. Show all posts
Showing posts with label Dari Salemba ke Depok. Show all posts

Wednesday, August 21, 2013

LINTAS PERJALANAN FISIP DALAM UNIVERSITAS INDONESIA







Kelahiran Fakultas Ilmu-Ilmu Sosial berawal hanya dari sebuah embrio, Jurusan Ilmu Publisistik, pada Fakultas Hukum dan Ilmu Pengetahuan Kemasyarakatan. Namun begitu kepeloporannya dalam deretan fakultas-fakultas yang sejenis semakin mantap dan memperoleh pengakuan yang meyakinkan dari masyarakat.
Prof. Dr. Mahar Mardjono, Rektor Universitas Indonesia (1974-1982)

Bermula dari sebuah tekad. Sebuah tekad ingin memberikan sumbangsih Universitas Indonesia (UI) bagi negeri yang relatif belum lama merdeka. Negeri Republik Indonesia yang membutuhkan banyak tenaga-tenaga berkualitas di segala bidang kehidupan kemasyarakatan. Ketika itu, salah satu di antaranya adalah kebutuhan ketersediaan tenaga-tenaga jurnalistik yang mumpuni sehingga arus informasi dan komunikasi antara negara dan masyarakat mengalir lancar dan mencerdaskan. Untuk itu UI ingin membentuk satu program khusus guna mendidik calon-calon jurnalis. Dan program khusus yang cocok adalah pendidikan ilmu publisistik. 

Lalu, pada tanggal 12 Desember 1959, UI membuka Jurusan Ilmu Publisistik di Fakultas Hukum semasa Dekan Prof. Djokosutono SH. Sekali lagi, pembentukan Jurusan Publisistik bertujuan untuk meningkatkan mutu pers dengan memberi kesempatan kepada para wartawan mengikuti pendidikan universitas di bidang jurnalistik.

Tercatat sebagai mahasiswa angkatan awal Jurusan Publisistik waktu itu antara lain Dja’far Husin Assegaf yang sekarang dikenal sebagai salah satu tokoh pers nasional dan Juwono Sudarsono yang mantan Menteri Pertahanan. Ada pula Ton Kertopati yang dikenal sebagai penulis sejumlah buku tentang publisistik dan jurnalistik. Buku-buku Ton Kertopati yang cukup familiar di kalangan pembelajar jurnalistik dan kehumasan di antaranya Dasar-dasar Publisistik (1982), Manajemen Penerangan: Pokok-pokok Pikiran dan Pengetrapannya dalam Praktik (1984) dan Bunga Rampai Azaz-azaz Penerangan dan Komunikasi (1981). Satu lagi mahasiswa Jurusan Publisistik masa itu yang kini cukup sohor adalah Kustigar Amafian Nadeak yang namanya tidak bisa dilepaskan dari perjalanan Koran Sore Sinar Harapan.    

Dalam perkembangannya dirasakan pula adanya kebutuhan untuk mengembangkan ilmu‐ilmu sosial yang lain seperti sosiologi, ilmu politik dan ilmu administrasi karena perkembangan yang pesat baik dari segi keilmuan maupun pemanfaatan dalam kehidupan praktis di Indonesia. Untuk itu, pada tahun 1962 diselenggarakan suatu lokakarya di Cibogo, Bogor, yang disusul lokakarya di Cisarua. Dalam kedua lokakarya tadi berhasil disusun kurikulum. Dan pada tanggal 1 September 1962, semasa Dekan FH‐IPK Prof. Sujono Hadinoto, SH, Bagian Ilmu Pengetahuan Kemasyarakatan secara resmi didirikan. Mulai saat itu dikenallah nama Fakultas Hukum dan Ilmu Pengetahuan Kemasyarakatan atau disingkat FH & IPK.
Jurusan Publisistik pun diperluas. Kemudian Bagian IPK mencakup 6 (enam) jurusan, yaitu Ilmu Publisistik, Ilmu Politik, Il mu Administrasi, Sosiologi, Kriminologi, dan Ilmu Kesejahteraan Sosial. Bersamaan dengan itu, pada tahun akademi 1962/1963 diselenggarakan penerimaan mahasiswa tingkat persiapan untuk Bagian IPK. Sementara itu Jurusan Publisistik sendiri dalam tahun 1963 berhasil menamatkan sejumlah Sarjana Publisistik yang pertama sekaligus merupakan alumni pertama dari Bagian IPK. Tercatat lulusan pertama Jurusan Publisistik antara lain Raden Djajusman Tanudikusumah, Dja’far Husin Assegaf, dan Zacharias Razak.

Di masa-masa awal roda pengembangan dan pengelolaan Bagian IPK ini, tercatat nama-nama mahasiswa yang di masa-masa berikutnya dikenal sebagai tokoh yang pakar di bidangnya. Dari Ilmu Politik terlihat antara lain Arbi Sanit, Nazaruddin Sjamsudin (mantan Ketua Komisi Pemilihan Umum), dan Cosmas Batubara (mantan Menteri Tenaga Kerja). Ada pula seorang mahasiswa dari Thailand bernama Makata yang kemudian menulis skripsi mengenai “Politik Konfrontasi Indonesia terhadap Malaysia” (Harian Indonesia Raja, 24 November 1969). Dari Ilmu Administrasi Negara tercatat di antaranya J.B. Kristiadi, Safri Nurmantu, dan Muchtar Machmud. Kemudian dari Sosiologi tampak antara lain Thamrin  Amal Tomagola, Paulus Wirutomo dan Robert MZ Lawang. Dari Kriminologi tercatat Tb Ronny R. Nitibaskara yang sekarang menjadi Rektor Universitas Budi Luhur, Jakarta. Dan dari Ilmu Kesejahteraan Sosial terlihat Zr. Laurens dan Paulus Tangdilintin.

Sebagai bagian dari FH & IPK, maka penyelenggaraan dan pengelolaan Bagian IPK, khususnya dalam hal Administrasi Keuangan, ruangan-ruangan kuliah, Senat Mahasiswa dan Badan Perwakilan Mahasiswa, disatukan dengan Bagian Hukum di bawah pimpinan seorang Dekan. Bahkan, beberapa mata kuliah tingkat persiapan diberikan bersama-sama dengan Bagian Hukum. Sekalipun demikian terdapat hal-hal yang praktis terpisah seperti Biro Administrasi Pendidikan dan kurikulum umumnya.

Secara organisatoris, keadaan ini tidak menjamin pengembangan yang baik. Selain juga terdapat kenyataan bahwa perkembangan ilmu-ilmu sosial sediri sudah sedemikian pesat dan telah memperoleh pengakuan dunia pendidikan di zaman modern. Keadaan-keadaan itu mendorong usaha ke arah peningkatan status Bagian IPK menjadi satu Fakultas yang berdiri sendiri.

Sebagai langkah pertama dalam persiapan ke arah peningkatan status tersebut, maka dengan surat keputusan Dekan Fakultas Hukum dan Ilmu Pengetahuan Kemasyarakatan Universitas Indonesia No.BD/32/65/K tanggal 24 Maret 1965 dibentuk Panitia Persiapan Pendirian Fakultas Ilmu Pengetahuan Kemasyarakatan yang disingkat Panitia IPK. Dalam surat keputusan itu, Prof. Selo Soemardjan ditunjuk sebagai Ketua/Koordinator merangkap anggota dan T.O. Ihromi, SH, MA, sebagai Wakil 
Ketua/Koordinator merangkap angggota Panitia. Susunan Anggota Panitia lainnya mencerminkan komposisi jurusan dan Biro Administrasi Pendidikan, yaitu Prof. Mr. Dr. Prajudi Atmosudirdjo; Miriam Budiardjo MA, Soelaeman Suemardi, SH, MA; P.K. Ojong SH; C.L. Rudolph; Koesriani Siswosubroto SH; Drs. Djajusman Tanudikusumah; Drs. Usman Saleh; Purbatin Darmabrata SH; Ny. Retno Sutarjono SH; Drs. Rusman Anwar; Drs. Kwee Djiam Gwan; dan Girindro Pringgodigdo SH.

Panitia IPK ini kemudian melakukan usaha-usaha pendekatan dan memperjuangkan peningkatan status pada Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Usaha-usaha tersebut juga memperoleh dukungan kuat dari segenap mahasiswa semua jurusan pada Bagian IPK. Dengan nama Tim Pelopor, para mahasiswa secara aktif turut berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan untuk mencapai tujuan tersebut.

Hasil permulaan dari usaha-usaha itu adalah dikeluarkannya Surat Keputusan Dekan FH dan IPK No.BD/315/67/K yang memuat penegasan tugas dan wewenang Panitia IPK. Berdasarkan Surat Keputusan tersebut sebenarnya Bagian IPK telah memiliki “status otonomi” --yaitu memiliki kewenangan untuk mengatur dan mengurus rumah tangga sendiri dalam batas-batas tertentu. Dengan demikian Bagian IPK secara praktis terpisah dari Fakultas Hukum dan Ilmu Pengetahuan Kemasyarakatan. Tahap berikutnya menunggu pengesahan lebih lanjut dari Lembaga yang lebih tinggi, yaitu Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Akhirnya dengan Surat Keputusan Direktur Jenderal Perguruan Tinggi No.42 Tahun 1968 ditetapkan pemisahan Bagian IPK dari FH & IPK serta mulai tanggal 1 Februari 1968 status Bagian Ilmu Pengetahuan Kemasyarakatan ditingkatkan menjadi Fakultas Ilmu Pengetahuan Kemasyarakatan Universitas Indonesia (FIPK UI) yang berdiri sendiri. Sebagai Dekan pertama diangkat Prof. Dr. Selo Soemardjan untuk masa jabatan dua tahun. Dalam menjalankan roda pengelolaan Fakultas, Dekan didampingi oleh satu Sekretaris dan empat Pembantu Dekan. Sejalan dengan pemisahan itu, pada tahun akademi 1970 Fakultas IPK pindah untuk sementara waktu ke gedung baru di Kampus Salemba (Jalan Salemba 4) yang dipinjam dari Fakultas Kedokteran Gigi UI dan di Jalan Teuku Umar Nomor 46. Untuk menampung sebagian perkuliahan dan kantor administratif, Fakultas IPK menempati lantai dua dan tiga gedung pinjaman FKG.

“Ruang-ruang kuliah di Salemba 4 dan Teuku Umar 46 adalah tempat perkuliahan kita yang pertama kali, kantor Biro Administrasi Pendidikan bekas kafetaria  yang semula gudang dan berdampingan dengan PKM (Pusat Kesehatan Mahasiswa), aula yang dihiasi dengan sebuah piano merupakan kebanggaan para civitas akademika UI, termasuk civitas akademika FIS UI pada masa itu. Kemudian lantai kedua dan ketiga gedung yang berlokasi antara Salemba 4 dan Salemba 6, yang kini Fakultas Kedoketran Gigi, secara keseluruhan merupakan tempat kegiatan-kegiatan akademis dan administrasi FIS,” kenang Prof. Miriam Budiardjo, Dekan FIS UI periode 1974-1979, dalam suatu kesempatan.

Pada tahun 1970 itu pula muncul ide untuk menyeragamkan nama fakultas‐fakultas yang bergerak dalam bidang ilmu‐ilmu sosial. Guna merealisasikan ide itu, dalam rapat-rapat Sub Konsorsium Ilmu‐ilmu Sosial yang diselenggarakan pada tanggal 4‐5 Agustus 1970, peserta mengusulkan perubahan nama Fakultas Ilmu Pengetahuan Kemasyarakatan menjadi Fakultas Ilmu‐ilmu Sosial (FIS). Rapat ini dihadiri wakil‐wakil dari Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada (Yogyakarta), Universitas Hasanuddin (Makassar), dan Universitas Padjadjaran (Bandung).

Sesuai dengan keputusan rapat tersebut, nama Fakultas Ilmu Pengetahuan Kemasyarakatan Universitas Indonesia kemudian berubah menjadi Fakultas Ilmu‐ilmu Sosial Universitas Indonesia (FIS UI) melalui Surat Keputusan Rektor Universitas Indonesia Nomor 002/SK/R/BR/72 tanggal 7 Februari 1972 yang berlaku surut mulai tanggal 1 Januari 1971.

Langkah ini diambil berdasarkan pertimbangan bahwa istilah Ilmu-ilmu Sosial secara internasional lebih tepat karena di dalam Fakultas IPK tercakup Ilmu Politik dan Ilmu-ilmu pengetahuan kemasyarakatan lainnya. Dalam pada itu status FIS UI sebagai satu Fakultas yang berdiri sendiri juga telah diperkuat dengan keluarnya Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 31/C/1972.

Relatif tidak terlalu lama FIS ‘menumpang’ di FKG dan Jalan Teuku Umar 46 Jakarta Pusat. Karena, pada tahun 1971 FIS UI memperoleh gedung sendiri di Kampus Rawamangun, Jakarta Timur. Kendati keadaan gedung saat itu masih sederhana dan belum mencukupi keperluan untuk kuliah, perpustakaan, administrasi, diskusi, aktivitas mahasiswa dan pertemuan staf pengajar, tapi seluruh fakultas menerimanya sebagai pernyataan keinginan untuk mempunyai identitas sebagai suatu fakultas yang diakui masyarakat. Dan gambaran sebagai suatu fakultas tersendiri semakin lengkap. “Saya masih ingat banyak di antara para mahasiswa yang berjaket kuning dengan simbol UI berwarna oranye menaiki kendaraan umum Bemo menyelusuri jalan dari Salemba Tengah ke Rawamangun melalui Utan Kayu, karena pada saat itu Jalan Pramuka dan Jalan Pemuda belum berfungsi,” ujar Prof. Miriam Budiardjo saat peringatan dasawarsa FIS UI pada tanggal 1 Februari 1978.

Tahun 1974 Prof. Miriam Budiardjo menerima tongkat estafet menggantikan Prof. Dr. Selo Soemardjan sebagai Dekan FIS UI. Di masa kepemimpinan Prof. Miriam, tepatnya tahun 1976, terjadi suatu perkembangan penting dalam struktur organisasi FIS UI, sebagai pelaksanaan lebih lanjut dari sistem pendidikan dan kurikulum baru yang telah diterima dalam Lokakarya Kurikulum di Tugu, Kabupaten Bogor, tanggal 3-5 September 1972. Hasil Lokakarya tersebut antara lain bahwa keenam jurusan dalam lingkungan FIS UI diubah menjadi empat jurusan. Keempat jurusan itu masing-masing: Jurusan Komunikasi Massa; Jurusan Ilmu Politik, terdiri dari Program Studi Politik dan Pemerintahan Indonesia serta Program Studi Hubungan Internasional dan Studi Kawasan; Jurusan Ilmu Administrasi yang terdiri dari Program Studi Ilmu Administrasi Niaga dan Program Studi Ilmu Administrasi Negara; Jurusan Sosiologi, terdiri dari Program Studi Sosiologi, Program Studi Kriminologi dan Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial.

“Pada masa ini FIS telah banyak memainkan peranan yang positif. Berbagai kegiatan dalam rangka Tri Dharma Perguruan Tinggi telah dijalankan. Melalui sarana Studi Pembangunan Indonesia, FIS UI mengusahakan peningkatan kemampuan akademis bagi para pengajar fakultas yang sejenis (Sospol) dan peningkatan kemampuan bagi para pejabat pemerintahan (pusat dan daerah) dalam bidang perencanaan sosial. Lokasinya di Ibukota Negara menuntut partisipasinya dalam meemcahkan masalah-masalah masyarakat perkotaan melalui Pusat Latihan Penelitian Ilmu-ilmu Sosial (Urban Research Center). FIS juga tidak menutup mata terhadap masyarakat pedesaan yang menandai sebagian besar masyarakat Indonesia. Dalam hubungan ini patut dicatat bahwa FIS UI bersama dengan Fakultas Kedokteran UI dan fakultas-fakultas lainnya mengambil bagian yang aktif dalam merintis dan membentuk proyek pedesaan,” papar Rektor UI (saat itu) Prof. Dr. Mahar Mardjono ketika memberikan sambutan dalam peringatan dasawarsa FIS UI, 1 Februari 1978.

Di penghujung 1970-an sampai awal 1980-an, FIS UI sempat menjadi perbincangan dalam kehidupan politik Orde Baru di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto. Terutama terkait dengan aktivitas diskusi dan seminar yang melibatkan civitas akademika FIS UI. Tercatat, pada 18 Januari 1982, Dekan FIS UI (waktu itu) Prof. Dr. Tobias Soebekti mengeluarkan surat pelarangan mengajar “sementara waktu” bagi Dosen Ilmu Politik Dr. Juwono Sudarsono. Sepekan sebelumnya, Dekan memberitahukan kepada Dosen Ilmu Politik itu secara lisan hal pelarangan tersebut sesuai dengan pesan lisan Menteri P&K  (saat itu) Dr. Daoed Joesoef.

Juwono pun bertanya-tanya ada apa gerangan sampai muncul surat pelarangan mengajar tersebut. Karena, tak ada kejelasan alasan perihal pelarangan tersebut, baik secara lisan maupun tertulis. Juwono hanya bisa memperkirakan. Boleh jadi pelarangan itu terkait dengan keikutsertaannya dalam satu diskusi terbatas di Universitas Atmajaya, Jakarta, pada tanggal 18 November 1981. Ada yang salah persepsi atas pendapat yang dilontarkan Juwono pada acara diskusi itu. Konon ada laporan sampai ke tangan Menteri P&K, bahwa Juwono dalam diskusi tersebut mengatakan, "Pemerintahan Soeharto sudah kian membusuk dan saya (Juwono - red.) akan bekerja giat dari dalam untuk lebih mempercepat proses pembusukan."

Juwono cuma terheran-heran atas laporan tersebut. Pelapor hanya memahami potongan dari utuh pendapat yang dilontarkan Juwono. Persisnya, Juwono berkata, "Dalam buku Richard Nixon, The Real War, Nixon mengutip ucapan Lenin yang antara lain mengatakan, pemerintah apa pun, kalau sudah membusuk tidak perlu didongkel oleh suatu gerakan komunis. Pemerintah itu akan jatuh dengan sendirinya karena kontradiksi-kontradiksi intern yang dialaminya."

Dinamika kehidupan kampus FIS UI ketika itu memang cukup menarik. Setahun sebelum muncul pelarangan mengajar buat Juwono, sempat pula muncul polemik seputar konsep dan kurikulum sistem kredit semester yang mulai diterapkan tahun 1982. Tepatnya tahun 1981, Pembantu Dekan I Urusan Bidang Akademis Dr. Juwono Sudarsono mengundurkan diri dari jabatannya, karena tak sepaham dengan kebijaksanaan fakultas tentang rencana sistem kredit semester.  

Dalam perkembangan kehidupan kampus yang semakin dinamis, nama FIS rupanya dirasakan kurang mengakomodasi semua jurusan yang dinaunginya, misalkan jurusan ilmu politik. Pada tahun 1982 nama Fakultas Ilmu‐Ilmu Sosial Universitas Indonesia (FIS UI) diubah menjadi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia (Keppres) Nomor44 tahun 1982. Pada saat yang sama, sistem kredit semester (SKS) mulai diterapkan dalam kurikulum fakultas, dan tiga program studi di jurusan sosiologi direstrukturisasi menjadi jurusan yang berdiri sendiri. Dengan demikian pada tahun 1982 itu FISIP UI memiliki 6 jurusan, yaitu: Ilmu Komunikasi, Ilmu Politik, Ilmu Administrasi, Sosiologi, Kriminologi, dan Ilmu Kesejahteraan Sosial.
Setahun berselang, yakni pada tahun 1983, jumlah jurusan di FISIP UI bertambah satu lagi dengan berpindahnya Jurusan Antropologi yang semula menjadi bagian Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Kemudian pada tahun 1985, Program Studi Hubungan Internasional dan Kawasan di Jurusan Ilmu Politik naik status menjadi Jurusan Ilmu Hubungan Internasional. Dengan demikian sejak tahun 1985 FISIP UI memiliki dan mengelola delapan jurusan.

Berdasarkan Keputusan Dekan nomor 007 tanggal 13 Januari 1995, FISIP memperluas program jenjang sarjana dengan membuka Program Sarjana Ekstensi. Kebijakan pembentukan Program Ekstensi ini diperkuat dengan Surat Keputusan Rektor Universitas Indonesia No.144/SK/R/UI/1995 tertanggal 29 Desember 1995. Secara resmi Program Ekstensi FISIP UI menerima mahasiswa angkatan pertama pada bulan Juni 1995 untuk tiga program studi, yakni: Program Ilmu Komunikasi, Program Ilmu Politik, dan Program Ilmu Administrasi. Kemudian pada tahun 1997, dibuka pula Program Ekstensi Kriminologi.
Tahun 2001, secara kelembagaan FISIP merupakan bagian dari BHMN (Badan Hukum Milik Negara) Universitas Indonesia. Sejak tahun itu, melalui Peraturan Pemerintah Nomor 152, Universitas Indonesia ditempatkan sebagai BHMN, yaitu sebuah lembaga yang secara manajemen otonom dari pemerintah. Dengan status ini, Universitas Indonesia memiliki Anggaran Rumah Tangga sendiri yang dituangkan dalam bentuk keputusan Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia, Surat Keputusan Nomor 01/SK/MWA-UI/2003. Kemudian Pimpinan Fakultas terdiri dari Dekan, Wakil Dekan, Sekretaris Fakultas dan para manajer. Dekan dan Wakil Dekan diangkat dan ditetapkan dengan Surat Keputusan Rektor Universitas Indonesia. Sedangkan Seretaris Fakultas dan para manajer diangkat dan ditetapkan dengan Surat Keputusan Dekan.    

Dengan status otonom, menurut penjelasan Dekan FISIP UI (waktu itu) Prof. Dr. Martani Huseini, FISIP kemudian merentang visi “Menjadi fakultas pengajaran dan riset unggulan di bidang ilmu sosial dan ilmu politik, yang memberi kontribusi pada pengembangan kualitas kehidupan”. Berangkat dari visi ini, jelas Prof. Martani lebih lanjut, FISIP UI menetapkan misinya sebagai berikut: Pertama, Menyelenggarakan proses pengajaran yang bermutu, melalui rintisan pengajaran berbasis riset, dalam rangka mencetak lulusan berdaya saing tinggi baik secara akademis maupun moral. Kedua, Mengembangkan kebijakan dan kegiatan karya riset “noble” serta riset aplikatif yang berguna bagi negara, industri, dan masyarakat sipil. Ketiga, Membangun SDM tenaga akademik (pengajar/peneliti) dan non-akademik (administrasi) yang profesional (handal, beretika dan sejahtera) dalam rangka peningkatan mutu pelayanan terhadap stakeholders dan pasar. Keempat, Menerapkan sistem manajemen profesional berbasis transparansi dan akuntabilitas dalam rangka menciptakan tata kerja yang baik, kinerja tinggi, serta efisiensi dan efektivitas organisasi. Dan kelima, Menciptakan iklim kerja yang kondusif ditandai oleh berkembangnya semangat kerja sama, saling percaya (mutual‐trust), dan terbentuknya nilai‐nilai bersama (shared value) menuju ke-Indonesiaan yang maju dan sejahtera.
Dengan visi dan misi yang begitu gamblang, maka penyelenggaraan Tridharma Perguruan Tinggi FISIP UI bertujuan: pertama, Menghasilkan lulusan FISIP UI yang berdaya saing tinggi baik secara akademis maupun secara moral sehingga dapat menjadi modal bagi pembangunan bangsa dan negara. Kedua, Menghasilkan karya‐karya penelitian yang bersifat “noble” serta riset aplikatif yang berkualitas dan berguna bagi komunitas akademika, mahasiswa, pemerintah, industri dan masyarakat. Dan ketiga, Memberikan pengabdian terbaik kepada masyarakat melalui upaya‐upaya positif yang menumbuhkan kesadaran dan kepercayaan diri masyarakat serta menjadikan masyarakat sebagai kekuatan dan modal bagi pembangunan bangsa dan negara.

Perubahan status dari Perguruan Tinggi Negeri (PTN) menjadi otonom (BHMN), juga membawa konsekuensi terhadap struktur organisasi FISIP UI. Selama ini fakultas dipimpin oleh seorang dekan yang didampingi oleh tiga pembantu dekan. Kemudian seiring dengan status otonomi, Organisasi dan Tata Laksana FISIP terdiri dari Senat Akademik Fakultas dan Dewan Guru Besar Fakultas, serta Pimpinan dan Unsur Manajemen Fakultas. Senat Akademik Fakultas (SAF) merupakan badan normatif tertinggi di lingkungan fakultas yang di antaranya memiliki tugas dalam memberikan masukan kepada pimpinan fakultas mengenai rencana strategis dan rencana kerja dan anggaran tahunan fakultas. Sementara itu, Dewan Guru Besar Fakultas adalah organ dalam struktur organisasi fakultas yang melakukan pembinaan kehidupan akademik dan integritas moral serta etika dalam lingkungan sivitas akademika FISIP‐UI.

Fakultas dipimpin oleh Dekan yang dibantu oleh seorang Wakil Dekan untuk mengatur dan mengurus Bidang Akademik dan Bidang Non-akademik. Dekan dibantu oleh Sekretaris Fakultas dan staf pimpinan yang mengatur dan mengurus hal‐hal yang bersifat pembantuan staf, internalisasi, koordinasi kelembagaan, pengembangan teknologi informasi dan komunikasi serta kerjasama dengan lembaga luar. Selain itu, dalam merumuskan rancangan kebijakan di bidang penelitian, publikasi, dan pengelolaan ventura. Dekan dibantu oleh para manajer yang bertugas melaksanakan kebijakan‐kebijakan fakultas dengan dibantu oleh staf yang dimilikinya.

Lalu mulai tahun 2003, istilah jurusan di FISIP UI diubah menjadi departemen. Dengan demikian, sampai saat ini, FISIP UI memiliki 8 (delapan) departemen, yaitu Departemen Ilmu Komunikasi, terdiri dari Program Studi Jurnalistik, Public Relations, Periklanan dan Studi Media; Departemen Ilmu Politik, dengan Program Studi Politik Indonesia dan Perbandingan Politik; Departemen Ilmu Administrasi, terdiri dari Program Studi Administrasi Negara, Administrasi Niaga dan Administrasi Fiskal; Departemen Sosiologi; Departemen Kriminologi; Departemen Ilmu Kesejahteraan Sosial; Departemen Antropologi; dan Departemen Ilmu Hubungan Internasional.

Kini FISIP merupakan salah satu fakultas dengan jumlah program studi dan mahasiswa terbanyak yang terdapat di Universitas Indonesia. Dikatakan demikian karena sejak berdiri sampai dengan tahun 2005, FISIP UI berkembang dengan pesat sehingga memiliki 35 program studi dengan 52 program kekhususan, dengan jumlah mahasiswa sebanyak 7.000 orang (semester genap 2010).

Boks:
Dekan FISIP dari Masa ke Masa

Dari sejak berdiri 1 Februari 1968 hingga sekarang ini, FISIP UI telah dipimpin oleh sepuluh orang Dekan. Berikut profil singkat sepuluh orang Dekan yang sempat memberi warna dalam perjalanan FISIP UI.
* Prof. Dr. Selo Soemardjan
Doktor (PhD) lulusan Cornell University, Ithaca, New York, AS, tahun 1959, ini termasuk tokoh utama kelahiran Fakultas Ilmu Pengetahuan Kemasyarakatan (yang kemudian bermetamorfose menjadi FIS lalu FISIP). Pakar Sosiologi kelahiran Yogyakarta tanggal 23 Mei 1915 yang pernah menjadi Sekretaris Wakil Presiden Sri Sultan Hamengkubuwono (1973-1978) ini merupakan Ketua Panitia IPK yang dibentuk tahun 1965. Panitia IPK mengemban amanah mematangkan pembentukan Fakultas IPK. Berkat kegigihannya dalam memimpin Panitia IPK, tanggal 1 Februari 1968 Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Depdikbud menerbitkan Surat Keputusan Nomor 42 Tahun 1968 yang menandai mulai berdirinya Fakultas Ilmu Pengetahuan Kemasyarakatan Universitas Indonesia (FIPK UI), terpisah dari Fakultas Hukum dan IPK. Dan Prof. Dr. Selo Semardjan diberi mandat sebagai Dekan yang pertama FIPK UI dalam rentang waktu 1968‐1974.
Di awal masa perjalanan FIPK, Prof. Selo berkonsentrasi meningkatkan kualitas tenaga pengajar. Berkat jejaring yang luas, di masa kepemimpinan Prof. Selo, banyak tenaga pengajar (dosen) yang belajar ke luar negeri. Tahun 1969 misalkan, Harsono Suwardi dan Juwono Sudarsono belajar di Nederland. Kemudian tahun 1970, tercatat Kamanto Sunarto dan Djajusman Tanudikusumah mengambil studi lanjut di Amerika Serikat.  
Dalam perjalanan karirnya, Prof. Selo sempat mengajar di Fakultas Hukum UI dan Fakultas Ekonomi UI. Buku yang pernah dipublikasikannya antara lain Social Changes in Yogyakarta (1962) dan Gerakan 10 Mei 1963 di Sukabumi (1963). Prof. Selo pernah memperoleh penghargaan Bintang Mahaputra Utama (17 Agustus 1994), Gelar Ilmuwan Utama Sosiologi (30 Agustus 1994) dan Anugerah Hamengkubuwono (HB) IX dari Universitas Gadjah Mada  (19 Januari 2002). Sampai beliau meninggal tahun 2003, beliau masih menyandang Profesor Emeritus di FISIP UI.

* Prof. Dr. (Hc) Miriam Budiardjo, MA
Prof. Miriam adalah Guru bagi hampir semua orang yang saat ini bergelut dengan ilmu sosial, terutama ilmu politik, di Universitas Indonesia. Bahkan bukan hanya itu. Tokoh kelahiran Kediri tanggal 20 November 1923 ini dapat dikatakan sebagai guru bagi hampir semua orang yang menggeluti ilmu politik di Indonesia. Beliau menjabat Dekan FIS UI tahun 1974‐1979, menggantikan Prof. Selo Soemardjan. Di masa kepemimpinan Bu Mir, demikian Prof. Miriam biasa disapa para muridnya, tenaga pengajar FIS yang berlajar ke luar negeri semakin bervariasi, misalkan Paulus Wirutomo belajar ke Inggris (1977), Soedji Martosupono belajar ke Australia (1976), dan Amir Santoso ke Malaysia (1974). Selain itu, Bu Mir juga cukup gigih memperjuangkan agar FIS menempati gedung sendiri di Rawamangun. Dan, Bu Mir berusaha meningkatkan fasilitas yang lebih baik sesuai dengan tuntutan pendidikan modern. 
Posisi Bu Mir sebagai Guru Ilmu Politik bagi semua orang dilembagakan melalui karya klasiknya, Dasar-Dasar Ilmu Politik. Dicetak ulang puluhan kali sejak pertama kali diterbitkan (1982), dan dibajak puluhan kali pula secara tak bertanggung jawab, buku ini menjadi bacaan wajib bagi mahasiswa ilmu politik di berbagai universitas di Indonesia. Benar bahwa setelah itu Bu Mir tidak terlampau produktif menghasilkan buku dan karya-karya ilmiah lainnya, tetapi Dasar-Dasar Ilmu Politik rasa-rasanya hampir selalu ada di rak buku setiap mahasiswa ilmu politik di mana pun. Sebagai Guru, Bu Mir tidak pernah meninggalkan kampus sejak masa-masa perintisan Jurusan Ilmu Politik di UI hingga akhir hayatnya (8 Januari 2007). Beliau adalah salah satu contoh terbaik pengajar dan pendidik yang benar-benar mencintai kampus dan para mahasiswanya.

* Prof. Dr. R. Tobias Soebekti, MPA
Prof. Tobias dikenal sebagai ahli administrasi perpajakan.Tahun 1973, Dr. R. Tobias Soebekti, MPA dikukuhkan menjadi Guru Besar FIS UI dengan menyampaikan orasi berjudul “Beberapa Segi Mengenai Pengambilan Keputusan dalam Bidang Administrasi”. Naskah orasi yang kemudian dibukukan FIS UI ini kini tersimpan rapi di perpustakaan-perpustakaan Fakultas ISIP, Fakultas Ekonomi, sekolah tinggi, dan lembaga-lembaga terkait. Pemikiran Prof. Tobias tetap mewarnai administrasi pengambilan kebijakan dalam pemerintahan, bisnis dan perpajakan di negeri ini.
Prof. Tobias menjadi Dekan FIS UI periode tahun 1979-1982. Sebuah masa yang tidak ringan, terlebih Jakarta waktu itu belum lama lepas dari Peristiwa Malari (15 Januari) 1978. Kehidupan kampus tidak lepas dari jamahan intelijen pemerintahan Orde Baru yang semakin menguat. Prof. Tobias harus hati-hati benar membina dan mengelola FIS UI. Beliau tidak bisa melupakan satu peristiwa ketika harus menerbitkan surat pelarangan mengajar “sementara waktu” buat Dr. Juwono Sudarsono. Beliau menerbitkan surat itu setelah ada perintah lisan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (saat itu) Dr. Daoed Joesoef. Soal alasan yang lebih detail, kata Prof. Tobias, "Tanyakan kepada Pak Menteri P&K, karena dialah yang berwenang."
Di mata Prof. Tobias, kampus FIS harus tetap tenang agar mahasiswa dapat terus belajar dan meningkatkan kiprahnya di tengah-tengah masyarakat. Sebab itu, beliau lebih banyak berkutat di kampus dan mengembangkan lembaga konsultannya. Tahun 1985, Prof. Tobias berhasil menyelesaikan buku Dasar-dasar Perpajakan yang kemudian dijadikan acuan pokok oleh para mahasiswa ilmu administrasi.

* Prof. Dr. Manasse Malo
Alumni University of Wisconsin, USA ,1972 ,ini mulai menekuni profesi dosen di FISIP UI sejak tahun 1977. Karirnya cukup cemerlang, karena di tahun 1982-1985, Prof. Manasse Malo sudah diberi kepercayaan menjabat Dekan FISIP UI. Beliau sempat menjadi staf ahli Menko Ekuin dan Wasbang (1989). Tokoh kelahiran Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur, 2 Mei 1941, ini sempat pula menjadi Anggota DPR (1999-2004) dari Partai Demokrasi Kasih Bangsa (PDKB) dari daerah pemilihan Kabupaten Sumba Barat.
Pengalaman kerjanya dimulai sebagai Teaching Assistant pada University of Wisconsin, Madison, 1971-1974; Dosen FISIP UI, Jakarta, 1977; Konsultan BP3K (Balitbang Dikbud), 1978-1981; Konsultan BPPT, 1980-1981; Pudek I FISIP UI, 1981-1982; Dekan FISIP UI, 1982-1985; Dekan FISIP UI, 1985-1988; Konsultan BKKPN Pusat, 1984-1988; Ketua Pusat Antar Universitas Ilmu-Ilmu Sosial UI, 1986; dan Guru Besar FISIP UI, 2001. Atas berbagai karya dan pengabdiannya, tokoh yang telah meninggal pada 6 Januari 2007 ini menerima sejumlah penghargaan, antara lain: Bintang Satya Karya Setia RI (1999); Fellowship dari Fulbright (1981) untuk hadiri workshop mengenai analisa data kuantitatif di Asia Institute of Technology, Bangkok; Research dan Travel Grant dari Ford Foundation (1974-1976);  Fellowship dari USAID (1977-1980); dan Fellowship dari UNESCO (1979-1980).

* Prof. Dr. Juwono Sudarsono, MA
Juwono Sudarsono lulus sarjana dari Jurusan Ilmu Publisistik FH & IPK UI tahun 1965. Tahun 1970, beliau melanjutkan studi di The University of California, Berkeley, USA, sampai memperoleh gelar MA. Dan, menyelesaikan program doktoral di The London School of Economics, Inggris, dan berhak menyandang gelar PhD. Sebelum menjabat Dekan FISIP UI (1988‐1994), beliau dipercaya menjadi Ketua Jurusan Ilmu Hubungan Internasional yang pertama tahun 1985 setelah terjadi pengembangan Program Studi Hubungan Internasional dan Kawasan dari Jurusan Ilmu Politik. Putra dari Dr. Sudarsono (Alm) yang merupakan Menteri Dalam Negeri dan Menteri Urusan Sosial pada akhir 1940-an ini memiliki ketertarikan pada isu strategi, manajemen, dan perencanaan pertahanan. Beliau sangat percaya pada pertahanan non-militer, termasuk pertahanan sumber daya manusia dan skil, pertahanan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta pertahanan keadilan sosial dan nilai-nilai budaya sebagai proses yang terus-menerus dalam sebuah negara serta pembangunan karakter.
Memasuki tahun 1990-an, karir Prof. Juwono lebih banyak di pemerintahan. Tahun 1995-1998, beliau mengemban jabatan Gubernur Lemhanas (Lembaga Ketahanan Nasional). Di penghujung kepemimpinan Presiden Soeharto, 1998, beliau dipercaya menjadi Menteri Negara Lingkungan Hidup.Lalu, di masa Presiden BJ Habibie (1998-1999), beliau menerima tugas sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Sebagai Menteri Pertahanan di era Presiden Abdurrahman Wahid (1999-2000), Duta Besar RI untuk Kerajaan Inggris (2001-2004) dan Menteri Pertahanan pada Kabinet Indonesia Bersatu Jilid I (2004-2009).
   
* Prof. Dr. M. Budyatna
Prof. Budyatna dikenal sebagai seorang pakar di bidang komunikasi. Beliau menyelesaikan pendidikan S1 di bidang publisistik di FH & IPK pada tahun 1965. Tahun 1974 beliau melanjutkan S2 di bidang komunikasi di Amerika Serikat. Semasa sebagai Dekan FISIP UI (1994-1998), beliau cukup aktif menyumbangkan ide dan pikiran-pikiran seputar ilmu komunikasi untuk pengambilan kebijakan oleh instansi-instansi seperti Kementerian Kebudayaan & Pariwisata, dan Departemen Hukum & Perundang-undangan. Selain itu beliau juga aktif melontarkan ide dan pokok-pokok pikirannya melalui media massa. Bahkan, beliau biasa dijadikan narasumber oleh kalangan jurnalis. 
Sebagai pakar ilmu komunikasi, Prof. Budyatna ikut aktif merumuskan harmonisasi hukum tentang media massa. Rumusan dan kajian ini kemudian diterbitkan oleh Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN), Departemen Hukum dan Perundang-Undangan RI, pada tahun 1999/2000. Sebelumnya, beliau ikut penelitian bertajuk “Perilaku Remaja Jakarta dan Tayangan TV” yang  dimuat di Majalah PRISMA No.4 Tahun XXIII April 1994. Beliau benar-benar menunjukkan kepakarannya di bidang ilmu komunikasi dengan aktif menulis sejumlah artikel. Misalnya artikel Konflik dalam Komunikasi Antarpribadi yang dimuat di Jurnal Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Jilid XXI No.1, Juni 1991; Pengembangan Sistem Informasi: Permasalahan dan Prospeknya dalam KOMUNIKA (Warta Ilmiah Populer Komunikasi dalam Pembangunan) Vol.8 No.1, 2005; dan Pembentukan Karakter Bangsa Melalui Media Massa, Panduan Bagi Jurnalis,  dipublikasikan oleh Deputi Bidang Pelestarian dan Pengembangan Kebudayaan, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, 2004.

* Prof. Kamanto Sunarto, SH, PhD
Prof. Kamanto Sunarto adalah pakar dalam bidang Sosiologi Kesehatan. Dilahirkan pada tanggal 3 Juli 1941 di Purwodadi-Grobogan, Jawa Tengah, beliau memperoleh gelar Sarjana Hukum dari FH & IPK UI (1966) dan gelar PhD dari Department of Education, Social Science Division, University of Chicago (1980). Beliau pernah mengikuti UNESCO Training Seminar in the Sociology of Development di New Delhi (1968), menjadi visiting scholar di Center for South and Southeast Asia Studies, University of California at Berkeley (1970/1971), serta di Comparative and Global Studies in Education, State University of New York at Buffalo (1994). Prof. Kamanto menjabat Dekan FISIP UI perode 1998-2001.
Prof. Kamanto aktif melakukan penelitian dan menulis karya-karya ilmiah. Karya-karya ilmiahnya yang telah dipublikasikan antara lain ”Strategi Penyempurnaan Kurikulum Sosiologi (SMU)” yang dimuat dalam Jurnal Kajian Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 018/V/September 1999;”Mencari Figur Pemimpin Bangsa di Era Millenium III Perspektif Bidang Sosial Budaya” yang disampaikan dalam diskusi panel Kelompok Pengkajian Mahasiswa Jawa Barat di Bandung, 2 Juni 1999; ”Prospect of Higher Education in the Information Age: The Case of Indonesia” yang dipaparkan pada The Conference for Southest Asian University Presidents on the Occasion of the 20th di Taiwan, November 2000. Salah satu hasil penelitiannya yang telah dipublikasikan berjudul ”Penjelasan Teoritik Terhadap Konflik Kelompok Etnik Pandangan Horowitz” yang kemudian disampaikan pada Pelatihan Peningkatan Kemampuan Peneliti Agama di Jakarta, 31 Oktober 1998.

* Prof. Dr. Martani Huseini
Prof. Martani adalah seorang pakar di bidang ilmu administrasi. Beliau juga seorang pengusaha dan konsultan. Dilahirkan di Kediri, tanggal 7 Maret 1951, beliau menyelesaikan pendidikan S1 di FISIP UI pada tahun 1977, dan berhasil mendapatkan gelar doktor dari Universitas Paris de Sorbonne pada tahun 1983. Dan, beliau terpilih mengemban amanah sebagai Dekan FISIP pada tahun 2001-2003.
Prof. Martani cukup aktif ‘mempromosikan’ FISIP UI melalui karya-karya ilmiahnya. Beberapa karya beliau yang telah dipublikasikan adalah “Menuju Bank yang Ideal dengan Pendekatan Learning Organization” yang dimuat dalam Jurnal Keuangan & Perbankan Volume I No.1, September 1998; “Dari Change Management Hingga Learning Organization: Mencermati Perkembangan Konsep Keunggulan Bersaing”, dimuat dalam Majalah Agrimedia, Volume 4 No.3, Oktober 1998; ”Preparing Indonesian Entrepreneur Society: Facing the Thrid Millenium (A Learning Organization Approach)”, dimuat dalam Majalah Management Expose,Volume I No.2, Mei 1999; “Menata Ulang Strategi Pemasaran Internasional Indonesia”, dimuat dalam Jurnal Reformasi Ekonomi, Volume I No.1, Januari-Maret 2000; dan “Otonomi Daerah, Integrasi Bangsa, dan Daya Saing Nasional: Saka-Sakti, Suatu Model Alternatif Pemberdayaan Ekonomi Daerah” sebagai orasi Ilmiah Wisuda XIX STIA LAN Bandung, tanggal 29 April 2000.

* Prof. Dr. der Soz. Gumilar Rusliwa Somantri
Prof. Gumilar merupakan pakar di bidang sosiologi perkotaan. Minat studinya berfokus pada riset-riset perkotaan dan urbanisasi, globalisasi, masalah kemiskinan hingga kajian masyarakat post-kolonial (sociology beyond society). Dilahirkan di Tasikmalaya pada 11 Maret 1963, beliau menyelesaikan pendidikan S1 di Departemen Sosiologi, FISIP-UI, pada Januari 1989, dan meraih gelar Doktor (Doktor der Sozialwissenschaften) di Fakultas Sosiologi, Universitaet Bielefeld, Jerman pada tahun 1995. Selain memiliki reputasi dalam karir intelektual yang impresif, beliau memiliki kemampuan manajerial yang sangat baik terutama dalam beberapa aspek: decisive leadership, entrepreneurial, dan team building. Beliau menjadi Dekan FISIP UI periode 2003-2008. Namun, tahun 2007 beliau terpilih menjadi Rektor UI periode 2007-2012 dalam usia 44 tahun dan mencatat sejarah sebagai Rektor UI termuda. Pengalaman manajerial sebelumnya adalah pernah menjadi Sekretaris Majelis Wali Amanat (2001-2002) dan Wakil Direktur Pusat Studi Jepang UI (1997- 2003).
Prof. Gumilar memiliki pengalaman riset yang panjang dalam bidang yang ditekuninya selama ini. Di antara riset yang melewati kompetisi internasional adalah penelitian mengenai “Social Transformation in Village Community using ICT: A Case Study in Pabelan Telecenter, Central Java, Indonesia” (2007) yang mendapatkan hibah dari POSCO TJ Park Foundation, Korea. Beliau pernah menjadi peneliti tamu di beberapa universitas di dunia antara lain Universitas Groningen, Belanda (1990); Institute of Southeast Asian Studies, Singapura (1990); Institute of Social Studies, Universitas Tokyo (1998); Universitas Bonn, Jerman (1999); dan Universitas Tohoku, Jepang (2000). Beliau juga kerap diundang sebagai pembicara dalam berbagai forum akademik internasional baik sebagai ilmuwan maupun sebagai Rektor Universitas Indonesia.

* Prof. Dr. Bambang Shergi Laksmono, MSc
Prof. Bambang diangkat menjadi Dekan FISIP UI melalui Keputusan Rektor Universitas Indonesia No.405/SK/R/UI/2008 untuk masa jabatan 2008–2012. Bersama dengan Wakil Dekan (ketika itu) Julian Aldrin Pasha, MA, PhD, beserta berbagai jajaran pimpinan, Prof. Bambang berusaha melakukan transformasi menuju format kelembagaan yang lebih sesuai dengan “ruh” dan dinamika sebuah badan yang otonom, mandiri (non-subsidi) dan profesional. Transformasi ini tentu bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan, karena membutuhkan prasyarat perubahan mindset dari semua warga sivitas akademika.
Sebelum menjabat Dekan FISIP UI, Prof. Bambang dikenal sebagai guru besar di Departemen Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP UI, lahir di Rabat (Maroko), pada tanggal 24 Agustus 1961. Bidang kajian yang diminati adalah kebijakan dan perencanaan sosial. Berpengalaman sebagai konsultan di beberapa lembaga nasional dan internasional. Aktif sebagai pemrasaran diberbagai seminar nasional/internasional serta menulis artikel di berbagai jurnal. Saat ini menjabat sebagai dekan FISIP UI periode 2008-2012.

Saturday, March 9, 2013

PUSAT-PUSAT KAJIAN DALAM FISIP UI





Universitas kelas dunia adalah universitas yang memiliki standar internasional dalam keunggulan (excellence).
Philip G. Albach (2005)


Kampus UI, Depok, April 2010. Sore itu, Teater Kolam FISIP UI yang biasa dipakai untuk unjuk kreativitas seni mahasiswa berubah jadi arena Bakar Batu ala orang asli Papua. Beberapa gundukan batu membara tampak diselimuti daun-daun pisang. Di sela-sela bara batu itu terselip umbi-umbian khas Papua dan potongan daging ayam.
Bakar Batu adalah sebuah teknik memasak tradisional dari masyarakat Papua. Mereka biasa menyebutnya Barapen. Tradisi ini merupakan salah satu acara adat terpenting, khususnya bagi warga Pegunungan Tengah, dalam merayakan kegembiraan seperti menyambut kelahiran jabang bayi dan perkawinan. Barapen yang identik dengan pesta ini ternyata juga memiliki filosofi tentang kejujuran. Bahwa barang siapa yang hatinya bersih, dipercaya mampu berjalan kaki di atas batu membara (yang digunakan untuk memasak) tanpa terluka sedikit pun.
Barapen dihadirkan di Teater Kolam FISIP UI mulai sore hingga menjelang malam. Pesta barbeque tradisional ala Papua ini sungguh menarik (kendati tidak ada atraksi berjalan kaki di atas bara batu). Terlebih ketika menyaksikan lembar demi lembar daun pisang diangkat, lalu terlihatlah umbi-umbian khas Papua yang sudah matang dan siap disantap. Lembar daun pisang kedua diangkat, lantas nampaklah daging ayam segar yang siap dimakan.
Serasa senja di Kaimana, segenap pimpinan dan mahasiswa pun FISIP UI beramai-ramai menyantap umbi dan daging ayam. Meski saat itu rintik gerimis mulai turun di Kampus FISIP namun mereka tetap saja ingin segera menyantap umbi dan daging ayam bernuansa Papua. Terlebih selepas bersantap ria, sejumlah mahasiswa FISIP Universitas Cenderawasih (Jayapura) mulai memainkan musik tanda yosim pancar (Yospan). Satu per satu staf pengajar dan mahasiswa larut dalam untaian tarian, menari bersama, dalam ragam gaya tarian khas Papua. Sebuah kebersamaan yang terasa manis.
Kehadiran Barapen dan Tari Yospan di Teater Kolam FISIP UI itu bersamaan dengan Simposium dan Lokakarya Nasional Papua. Bekerja sama dengan FISIP Universitas Cenderawasih,  FISIP UI menyelenggarakan Simposium dan Lokakarya Nasional Papua bertema “Peran Universitas dalam Mewujudkan Pembangunan Papua yang Berbasis Masyarakat dan Berkelanjutan”. Acara yang digagas oleh Dekan FISIP UI Prof. Dr. Bambang Shergi Laksmono ini merupakan wujud komitmen program Indonesia Leadership Initiatives (ILI) dan kepedulian insan perguruan tinggi terhadap berbagai permasalahan yang dihadapi oleh rakyat Papua.
Seluruh pembicara dalam kegiatan ini adalah tokoh dan intelektual dari Papua, antara lain Freddy Numberi (waktu itu Menteri Perhubungan RI), Barnabas Suebu (Gubernur Papua), Habel Melkias Suwae (Bupati Kabupaten Jayapura), dan Septer Manufandu (Foker – LSM Papua). Kemudian para ahli dari FISIP UI tampil sebagai pembahas, antara lain, Dr. Suraya Afiff (Departemen Antropologi), Dr. F.S. Ery Seda (Departemen Sosiologi), Drs. Andrinof Chaniago, MSi (Departemen Ilmu Politik), dan Dr. Roy V. Salomo (Departemen Ilmu Administrasi).
Simposium dan Lokakarya ini menjadi forum ilmiah di mana para ahli dan praktisi dari Papua sendiri mengutarakan sudut pandangnya berkenaan dengan pembangunan di Bumi Papua. Berbagai kajian, usulan dan evaluasi pembangunan yang dilakukan di lingkungan Universitas Cenderawasih dipentaskan di Kampus FISIP UI. Sebaliknya, bagi FISIP UI, seminar ini diharapkan dapat menjadi jembatan untuk mengkaji dan menumbuhkan minat kajian-kajian di wilayah paling timur Indonesia itu.
Dalam kiprahnya, FISIP UI berusaha mengambil peran yang lebih besar dalam memberikan sumbangsih pemikiran dan kajian-kajian kepada masyarakat yang lebih luas, tidak hanya di wilayah bagian barat Indonesia. Bahkan lebih jauh, FISIP UI ingin memberi warna dalam rangka terbentuknya Masyarakat ASEAN 2015; membangun komunikasi Indonesia; memberdayakan tenaga kerja dan keluarga Indonesia; dan menjadi penggerak kreativitas dan inovasi sejalan dengan penemuan kembali industri kreatif Indonesia.
Sebagai Fakultas yang mendukung penuh misi Universitas Indonesia (UI) menjadi universitas riset kelas dunia (world-class university), FISIP UI pun ingin menyumbang keunggulan berstandar internasional bagi UI. Sebagaimana kita ketahui, menurut Philip G. Albach dalam The Costs and Benefits of World-Class University (2005), bahwa universitas kelas dunia adalah universitas yang memiliki rangking utama di dunia, yang memiliki standar internasional dalam keunggulan (excellence).
Keunggulan, yang dimaksud Albach, tersebut mencakup keunggulan dalam riset yang diakui masyarakat akademis internasional melalui publikasi internasional; keunggulan dalam tenaga pengajar (profesor) yang berkualifikasi tinggi dan terbaik dalam bidangnya; keunggulan dalam kebebasan akademik dan kegairahan intelektual; keunggulan manajemen dan governance; fasilitas yang memadai untuk pekerjaan akademis, seperti perpustakaan yang lengkap, laboratorium yang mutakhir; dan penadanaan yang memadai untuk menunjang proses belajar-mengajar dan riset.
Guna menggapai keunggulan kelas dunia tadi, berdasarkan The Times Higher Education Supplement-Quacquar elli Symonds (THES-QS), sebuah universitas (termasuk fakultas) harus memenuhi kriteria: Research Quality (indikatornya Peer Review, bobot 40% dan Citations per Faculty bobot 20%); Graduate Employability (indikatornya Recruiter Review, bobot 10%); International Outlook (indikatornya International Faculty, bobot 5%, dan International Students, bobot 5%); dan Teaching Quality (indikatornya Student Faculty, bobot 20%).  
Untuk mampu tampil menjadi fakultas pengajaran dan riset unggulan kelas dunia di bidang ilmu sosial dan ilmu politik, FISIP UI mengembangkan budaya organisasi yang kondusif, berlandaskan prinsip transparansi, akuntabilitas, dan integritas. Salah satu langkah strategisnya adalah meningkatkan profesionalisme dalam manajemen riset, mendirikan pusat kajian bertaraf internasional, membentuk kelompok keilmuan, serta meningkatkan kuantitas dan kualitas periset FISIP UI. Pada saat yang bersamaan juga dilakukan usaha meningkatkan riset pengembangan ilmu dan aplikasi serta kolaborasi riset dengan berbagai pihak secara nasional maupun internasional.
Dalam bahasa yang lebih nasionalis, Dekan FISIP UI Prof. Dr. Bambang Shergi Laksmono menjelaskan, FISIP UI berusaha menanamkan prinsip-prinsip: pertama, gerak menyandingkan kemampuan kerjasama multi-disiplin ilmu. Kerjasama inter-disipliner, baik di dalam ilmu sosial sendiri maupun antara ilmu sosial dan ilmu lain seperti kedokteran, prikologi, hukum dan ekonomi. Kedua, kerja ilmu sosial yang peka kawasan. Lulusan FISIP UI harus menjiwai gagasan wilayah Timur dan Barat Indonesia dalam bingkai kenusantaraan. Dan ketiga, mengedepankan kepentingan stratejik bangsa. Arti kata, penerapan ilmu-ilmu sosial harus mengedepankan perannya dalam peta pengembangan kapasistas bangsa dalam kancah globalisasi.
Tanpa disadari, ujar Prof. Bambang, ilmu sosial telah bergeser menjadi ilmu pemikiran dan metodologi, kaku dalam kemurnian teori dan tidak (berani) menerjunkan diri dalam permasalahan masyarakat yang riil. Dengan menumbuhkan tiga prinsip tadi, lanjutnya, maka FISIP UI akan mampu membangun suatu fokus yang menjadi garapan bersama. “Fokus masalah stratejik ini akan memberikan kita fokus sekaligus memberikan indikator perkembangan kemajuan, indikator keluaran dan indikator dampak. Secara umum, pendekatan yang dimaksud adalah pendekatan klaster. Ilmu pengetahuan memerlukan sebuah wilayah imajiner untuk beroperasi, tempat untuk menuangkan pikiran dan menguji relevansi pengetahuannya,” jelas Prof. Bambang.
Sejak tahun 2009, FISIP UI telah memperkenalkan empat klaster kajian yang sampai kini masih terus berjalan. Wilayah kajian yang dimaksud adalah: Pengkajian dampak globalisasi; Pengkajian daya saing industri; Pengkajian integrasi sosial dan kemiskinan; dan Pengkajian penguatan kelembagaan demokrasi dan governance. Inilah pilar-pilar kontribusi ilmu-ilmu sosial yang dibayangkan mampu menjadi scenario fundamentals untuk transformasi Indonesia khususnya dan menggapai universitas (fakultas) berkelas dunia.  
Untuk mencapai kelas dunia dan menumbuhkan prinsip-prinsip pengembangan tersebut, telah lama FISIP UI sangat concern mengembangkan pusat kajian dan penelitian. Dengan tetap mengusung kultur yang kondusif bagi pengembangan ilmu pengetahuan, dulu, kini dan mendatang FISIP UI senantiasa terus mengembangkan sejumlah laboratorium atau pusat kajian dan penelitian sesuai dengan disiplin keilmuan sebagaimana tercermin dalam departemen yang dinaunginya. Mari kita lihat satu per satu pusat kajian yang dimiliki oleh departemen di lingkungan FISIP UI.
Laboratorium Komunikasi
Tahun 2008 lalu, Universitas Indonesia melakukan restrukturisasi kelembagaan internal. Sesuai dengan Keputusan Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia No.087 tahun 2008 Tentang Perubahan Keempat Atas Keputusan Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik No.014 Tahun 2003 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, terutama Bab  VII tentang Unsur Penunjang Akademik Pasal 17 (3) dan Bab VIII Pasal 18, bahwa kedudukan Unit Usaha Laboratorium Komunikasi berada di bawah Departemen Ilmu Komunikasi.
Keadaan ini memposisikan Laboratorium Komunikasi (yang dulunya bernama Pusat Kajian Komunikasi) menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari Departemen Ilmu Komunikasi seperti halnya Program Sarjana Reguler, Sarjana Paralel, Kelas Khusus Internasional dan Pascasarjana. Dengan begitu, pelaksanaan program kerja harus sesuai dengan visi dan misi Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia.
Untuk mengimplementasikan visi dan misi Laboratorium Komunikasi, pelaksana pengelola Laboratorium Komunikasi membuat rencana aktivitas sebagai berikut: pertama, Pengembangan Program Penelitian. Aktivitas yang dilakukan adalah membuat konsep dan implementasi penelitian-penelitian strategis komunikasi; mendokumentasikan hasil penelitian dan knowledge sharing dalam jurnal berkala komunikasi; dan membangun institutional review board dalam penelitian untuk melindungi hak manusia dan kesejahteraan subyek riset.
Kedua, Kerjasama Pusat Data. Kegiatan yang dilaksanakan, antara lain, membangun kerjasama dalam desain sistem dan pengelolaan data dan mengimplementasikan pengelolaan data mulai dari penelitian mahasiswa hingga penelitian strategi dan kebijakan.
Ketiga, Advokasi Kebijakan, Tata Kelola dan Sistem Komunikasi Nasional. Aktivitas yang dilakukan meliputi perumusan kebijakan strategis komunikasi bersifat lokal, nasional, dan global; penyusunan rekomendasi dalam tata kelola komunikasi nasional; dan konsultasi secara simultan dan berkesinambungan dengan pemangku kebijakan, industri, dan masyarakat.
Keempat, Meningkatkan Kapasitas Shareholder dan Stakeholder Komunikasi. Kegiatan yang dilakukan antara lain menyelenggarakan diskusi bulanan, pelatihan, workshop, lokakarya, seminar dan konferensi berbasis isu; membentuk forum komunikasi antar-stakeholder komunikasi (civitas akademika, pemerintah, industri, sektor swasta dan lembaga masyarakat).
Kelima, Mengembangkan Kemitraan dan Networking. Aktivitas yang dilaksanakan adalah mengembangkan kemitraan dengan lembaga formal dan non-formal dalam pendanaan, penyaluran tenaga ahli dan kajian akademis; mengembangkan jaringan kerjasama kelembagaan antar-sesama lembaga kajian
Aktivitas-aktivitas utama tersebut kemudian disusun lebih lanjut dan rinci ke dalam rencana strategis Laboratorium Komunikasi dengan melibatkan shareholder. Kegiatan dari aktivitas-aktivitas yang telah disusun dan dikembangkan dalam rancangan tindak lanjut dapat berjalan dengan baik ketika didukung oleh semua shareholder. Oleh karena itu ke depannya diperlukan penyusunan prioritas dari aktivitas yang ditawarkan.

Pusat Kajian Ilmu Politik
Di tengah semakin tingginya kompleksitas permasalahan sosial kemasyarakatan yang muncul seiring dengan dinamika dan perkembangan masyarakat, dunia akademis dituntut sumbangsihnya untuk turut memecahkan masalah secara menyeluruh dan tuntas. Sebab itu, mereka harus mampu memunculkan alternatif solusi yang didasarkan pada kajian dan penelitian yang dilakukan secara serius. Di sinilah peran aktif perguruan tinggi mutlak diperlukan.
Sebagai sebuah lembaga kajian yang berada di bawah pengelolaan dan koordinasi Departemen Ilmu Politik, Pusat Kajian Politik FISIP UI (sebelumnya bernama Laboratorium Ilmu Politik) berusaha memenuhi tuntutan tersebut dengan bergerak di bidang penelitian dan kajian. Ada dua tujuan yang hendak dicapai Pusat Kajian Politik. Pertama, kegiatan-kegiatan tersebut memiliki tujuan akademis, yaitu pengembangan keilmuan terkait dengan masalah sosial kemasyarakatan dengan menggunakan kaidah-kaidah ilmiah. Dan kedua, kegiatan-kegiatan Pusat Kajian Politik juga ditujukan pada pencarian alternatif pemikiran, solusi dan rekomendasi praksis terhadap masalah sosial kemasyarakatan.
Untuk mencapai kedua hal tersebut, dalam melaksanakan kegiatan-kegiatannya, Pusat Kajian Politik menggunakan pendekatan interdisipliner, yakni mengintegrasikan Ilmu Politik dengan disiplin-disiplin ilmu lain yang relevan.

Tax Centre
Tax Centre adalah pusat informasi, pendidikan dan pelatihan perpajakan yang memiliki peran signifikan di dalam mewujudkan masyarakat yang mengerti hak dan kewajiban perpajakannya sehingga pada akhirnya dapat mewujudkan kemandirian bangsa seperti yang diharapkan.
Tax Centre merupakan salah satu unit Executive Development Program (EDP) yang bernaung di bawah Departemen Ilmu Administrasi FISIP UI. Tax Centre Departemen Ilmu Administrasi dibentuk berdasarkan Surat Keputusan Ketua Departemen Ilmu Administrasi FISIP UI Nomor 002 Tahun 2006 tanggal 20 Januari 2006. Sebagian fungsi Tax Centre (sebagai pusat pelatihan pajak) sebelumnya telah dilakukan oleh Program Jangka Pendek Aplikasi Akuntansi dan Perpajakan FISIP UI (1993-2000) dan Pusat Kajian Ilmu Administrasi FISIP UI (2000–2006).
Sepintas kilas balik. Departemen Ilmu Administrasi FISIP UI merupakan salah satu departemen yang berada FISIP UI yang memiliki tiga program studi: Program Studi Ilmu Administrasi Negara, Ilmu Administrasi Niaga dan Ilmu Administrasi Fiskal. Program Studi Ilmu Administrasi Fiskal yang didirikan sejak tahun 1981 merupakan program yang mempelajari bidang keuangan negara pada umumnya dan perpajakan pada khususnya. Sejalan dengan dilakukannya Reformasi Perpajakan Indonesia yang bersifat fundamental pada akhir tahun 1983, Program Studi Ilmu Administrasi Fiskal senantiasa melakukan penyempurnaan-penyempurnaan dalam kurikulum maupun peningkatan kegiatan akademik di bidang perpajakan agar tujuan untuk mencetak sajana-sarjana yang andal di bidang perpajakan dapat tercapai.
Salah satu upaya peningkatan kegiatan akademik serta dalam rangka ikut serta pada kegiatan pengabdian masyarakat, yakni untuk menyebar-luaskan pengetahuan perpajakan, baik di dalam maupun di luar lingkungan kampus, pada tahun 1993 (berdasarkan SK Dekan FISIP UI No 07 Tahun 1993 Tanggal 11 Agustus 1993) dibentuklah "Program Jangka Pendek Aplikasi Akuntansi dan Perpajakan ". Program ini diselenggarakan selama 2 (dua) semester untuk setiap angkatan.
Sejalan dengan dibentuknya Pusat Kajian Departemen Ilmu Administrasi FISIP UI (Puska Administrasi) sejak tahun 2000, Program Jangka Pendek Aplikasi Akuntansi dan Perpajakan ditangani oleh Puska Administrasi dan berganti nama menjadi "Progam Pendidikan Brevet Konsultan Pajak " yang terdiri dari Brevet A&B dan Brevet C.
Pada tahun 2006, berdasarkan SK Ketua Departemen Ilmu Administrasi FISIP UI No.002 Tahun 2006 tanggal 20 Januari 2006, dibentuk Tax Centre. Dalam perjalanannya, Tax Centre kemudian ditetapkan sebagai salah satu unit usaha (ventura) di lingkungan Universitas Indonesia yang disahkan melalui SK Rektor UI No.1369/SK/R/UI/2009 Tentang Penetapan Nama Unit Usaha di Lingkungan UI. Tax Centre memiliki tugas pokok dan fungsi dalam hal penyelenggaraan seminar, pelatihan, diskusi dan kajian ilmiah perpajakan, pengembangan database, serta penyelenggaraan pendidikan brevet konsultan pajak.
Tax Centre Departemen Ilmu Administrasi FISIP UI saat ini menyelenggarakan berbagai program pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan kompetensi dalam bidang perpajakan, antara lain penyelenggaraan pendidikan brevet konsultan pajak, seminar dan diskusi perpajakan, pelatihan perpajakan (in house training), pengembangan database serta publikasi perpajakan.

LabSosio. Laboratorium Sosiologi (LabSosio) adalah sebuah pusat kajian sosiologi di Universitas Indonesia yang menekankan pada analisis dan pengembangan kebijakan yang berhubungan dengan masalah-masalah dan isu-isu sosial yang merupakan dampak dari perubahan-perubahan (ekonomi, politik, sosial budaya dan sejarah) yang saling berkait dalam masyarakat kontemporer Indonesia.
LabSosio memfokuskan pada kajian-kajian terhadap isu konflik, perdamaian dan pembangunan, demokrasi, hubungan dunia usaha dengan masyarakat, serta kesenjangan Sosial.
Selain melakukan berbagai kajian ersebut, LabSosio juga mengelola secara operasional Pusat Data Sosial (Social Data Centre/SDC) milik Departemen Sosiologi FISIP UI. SDC merupakan sebuah unit di dalam Departemen Sosiologi FISIP UI yang mempunyai kegiatan utama mengelola data dan informasi untuk menunjang kegiatan pembelajaran maupun pengembangan disiplin ilmu sosiologi.
SDC dibentuk untuk memenuhi kebutuhan jangka panjang sebagai salah satu unit yang mampu memfasilitasi berbagai kebutuhan untuk pengembangan kemampuan analisis mahasiswa serta peningkatan kompetensi staf pengajar Departemen Sosiologi FISIP UI dengan selalu memperhatikan perkembangan perubahan sosial yang berlangsung di Indonesia maupun tingkat internasional.
SDC adalah sarana yang dapat dimanfaatkan oleh seluruh mahasiswa dan pengajar Departemen Sosiologi FISIP UI serta pihak-pihak lain yang telah mendapat persetujuan dari Departemen Sosiologi.
Data yang ada di SDC terus dikembangkan dan pengadaannya terus diperbarui. Data yang tersedia di sini antara lain data statistik Badan Pusat Statistik (BPS); data statistik non-BPS; hasil-hasil penelitian skripsi, tesis dan disertasi Departemen Sosiologi FISIP UI; abstrak laporan penelitian LabSosio-Puska Sosiologi; koleksi artikel-artikel jurnal dan working paper internasional; beberapa akses ke perpustakaan, jurnal internasional dan sumber data statistik internasional. Koleksi data yang saat ini tersedia adalah (antara lain) Data Susenas 2003, Data Susenas 2004, Peta Kemiskinan Indonesia 2000 (SMERU - Ford Foundation), Upaya-Upaya Penguatan Usaha Mikro dan Usaha Kecil (SMERU) Kementerian Pemberdayaan Perempuan RI), Paket Informasi Dasar Penanggulangan Kemiskinan (SMERU), 2.584 artikel (tentang Perburuhan, Kesehatan, Participatory Rural Appraisal (PRA), dan sosiologi secara umum), dan beberapa video yang berkaitan dengan studi-studi sosiologi.
Saat ini SDC dilengkapi dengan sebuah program berbasiskan jaringan (SDC Inventory) yang dapat diakses melalui jaringan intranet FISIP-UI. Program ini menjadi media penyimpanan dari banyak data dan artikel yang relevan dengan studi sosiologi. Banyak data yang disediakan bersifat terbuka dan dapat diakses secara bebas. Namun beberapa data mentah dan bahan-bahan lain tertutup untuk pihak luar, sehingga memerlukan izin khusus dari LabSosio untuk pemanfaatannya.
Selain dapat digunakan sebagai ruang kelas, dengan 19 buah komputer desktop yang masing-masing terhubung dengan internet melalui jaringan Juita UI, dimungkinkan juga bagi para pengguna fasilitas SDC untuk mencari informasi-informasi lain di berbagai situs.

Pusat Kajian Kriminologi
Pusat Kajian Kriminologi adalah sebuah pusat kajian kriminologi di Universitas Indonesia yang menekankan pada analisis dan pengembangan kebijakan yang berhubungan dengan masalah-masalah dan isu-isu sosial yang merupakan dampak dari perubahan-perubahan (ekonomi, politik, sosial budaya dan sejarah) yang saling berkait dalam masyarakat kontemporer Indonesia. Dengan latar belakang pengetahuan dan pengalaman yang berpendekatan ilmiah dan praktis, Pusat Kajian Kriminologi siap membantu Departemen Kriminologi melaksanakan dan mengembangkan serta mengaplikasikan ilmu pengetahuan Kriminologi di masyarakat.
Pusat Kajian Kriminologi mengemban misi: pertama, menjadi Pusat Pengembangan Kriminologi di Indonesia di bawah Departemen Kriminologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia. Kedua, menjadi lembaga penyedia jasa riset dan konsultasi di bidang Kriminologi, antara lain resolusi konflik; terorisme; efektivitas sistem peradilan pidana, termasuk juga peradilan anak; korupsi; kenakalan anak; perencanaan kebijakan penanganan dan pencegahan kejahatan, termasuk di dalamnya kejahatan narkotika dan bentuk-bentuk kejahatan lainnya; serta perencanaan program pengamanan di berbagai sektor dan aplikasinya.
Ketiga, menjadi lembaga penelitian sosial budaya dan kriminalitas dengan fokus kajian pada analisis serta perencanaan dan pengembangan kemasyarakatan dan perkotaan. Keempat, menjadi lembaga acuan bagi publik dalam memperoleh informasi dan pengetahuan mengenai realitas sosial dan budaya masyarakat Indonesia, dengan berbagai aspek seperti: kemasyarakatan, budaya, hukum, kejahatan serta keamanan.
Pusat Kajian Kriminologi didirikan pada tahun 2004 dengan Surat Keputusan Dekan FISIP No.025/tahun 2004 tanggal 16 September 2004. Adapun kegiatan-kegiatan yang dilakukan meliputi: pertama, mengelola administrasi pelayanan internal, monitoring dan evaluasi, penelitian-publikasi-hubungan masyarakat, pengembangan dan aplikasi iptek. Kedua, menyelenggarakan pelaksanaan internal perpustakaan kepada mahasiswa semua program studi, tenaga akademik dan tenaga administrasi, khususnya bagi kegiatan pengajaran dan penelitian. Ketiga, melaksanakan fungsi monitoring dan evaluasi kegiatan Departemen, tenaga Akademik, dan tenaga Administrasi.
Keempat, menyelenggarakan dan mengelola bank proposal penelitian, serta memberikan fasilitasi dalam memperoleh dana penelitian. Kelima, menyelenggarakan kegiatan penerbitan jurnal dan karya ilmiah lainnya. Keenam, menyelenggarakan kegiatan pengembangan Kriminologi melalui kegiatan pelatihan internal maupun untuk masyarakat yang memerlukan.
Pusat Kajian Kriminologi memiliki beberapa divisi, antara lain Divisi Pelayanan Internal; Divisi Monitoring dan Evaluasi; Divisi Penelitian, Penerbitan, dan Humas;   Divisi Pengembangan dan Aplikasi IPTEK; dan Divisi Usaha Komersial.

Pusat Kajian Kesejahteraan Sosial
Sebuah pusat kajian di bawah pengelolaan dan koordinasi Departemen Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP UI yang menekankan pada perencanaan, analisis dan pengembangan kebijakan yang berkaitan dengan masalah-masalah dan isu-isu yang merupakan dampak perubahan sosial, politik dan ekonomi yang saling terkait dalam masyarakat Indonesia masa kini.
Pusat Kajian Kesejahteraan Sosial memfokuskan pada kajian-kajian seputar isu-isu kemiskinan, manusia lanjut usia (manula), pengembangan masyarakat, penanganan masalah narkoba, penanganan HIV/AIDS, dan penyandang cacat. Untuk mendukung fokus kajian-kajian tersebut, pusat kajian ini memliki dua divisi, masing-masing Divisi Pelatihan dan Divisi Penelitian. Kedua divisi tersebut diperkuat dengan sumber daya manusia yang pakar dalam bidang narkoba, perencanaan kebijakan, anak dan perempuan, pemetaan sosial, kesehatan dan HIV/AIDS, penyandang cacat, kemiskinan, manula, dan pengembangan/pengorganisasian masyarakat.
Pusat Kajian Kesejahteraan Sosial mengemban misi, antara lain, menjadi pusat pengembangan Ilmu Kesejahteraan Sosial di Indonesia di bawah Departemen Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP UI; menjadi lembaga penyedia jasa riset dan konsultasi di bidang Ilmu Kesejahteraan Sosial; dan menjadi lembaga acuan bagi publik dalam memperoleh informasi dan pengetahuan mengenai realitas kesejahteraan sosial masyarakat Indonesia.

Pusat Kajian Antropologi
Merujuk pada SK Dekan FISIP No.014 Tahun 2003 tentang Organisasi dan Tata Kerja FISIP UI, maka semua kegiatan belajar-mengajar di lingkungan fakultas diselenggarakan oleh departemen. Dengan demikan, departemen menjadi unit pelaksana kegiatan belajar-mengajar dalam bidang ilmu tertentu di lingkungan FISIP. Dalam menjalankan fungsinya, departemen mengatur Program Studi Diploma, Sarjana, Magister dan Doktoral; dan mengelola kegiatan non-pengajaran yaitu unit usaha dan pusat kajian.
Di lingkungan Departemen Antropologi, bernaung tiga program studi, yaitu Program Diploma 3 Pariwisata, Program Studi Sarjana Antropologi dan Program Studi Pascasarjana Antropologi. Kemudian, Laboratorium Antropologi yang selama lebih dari 20 tahun menjadi sarana pengembangan disiplin ilmu Antropologi dan Jurusan Antropologi FISIP UI kemudian diubah statusnya menjadi Pusat Kajian Antropologi (Center for Anthropological Studies), sesuai dengan Surat Edaran Dekan FISIP No.121/PT.02H4 FISIP/Q/2003.
Secara garis besar bidang-bidang kegiatan yang dikembangkan di Pusat Kajian Antropologi diwujudkan dalam beberapa pokok kegiatan, sebagai berikut :
Pertama, Unit-unit kajian. Penelitian merupakan bagian penting dari Pusat Kajian Antropologi yang berfungsi untuk menunjang pengajaran, pengembangan dan penerapan ilmu antropologi. Fungsi tersebut dijalankan melalui berbagai kegiatan penelitian murni maupun terapan, yang hasilnya dapat menjadi masukan bagi kepentingan pengajaran, pengembangan teori dan metode antropologi, serta pemecahan masalah-masalah sosial budaya di Indonesia.
Unit-unit kajian yang potensial untuk dikembangkan dalam lingkungan Pusat Kajian Antropologi antara lain kajian etnisitas, konflik dan integrasi sosial, kebudayaan dan pariwisata, kesenian, pembangunan dan dinamika pedesaan, kesehatan, dan antropologi ekologi. Unit kajian ini dibentuk sesuai dengan minat dan kompetensi staf pengajar dalam pengembangan keilmuan di bidang antropologi.
Kedua, Perpustakaan. Informasi mengenai antropologi bagi masyarakat luas dan juga bagi mahasiswa, pengajar dan praktisi antropologi pada khususnya hingga saat ini belum terpenuhi secara memuaskan. Oleh karena itu diperlukan suatu bidang yang khusus mengelola pendataan informasi tersebut agar dapat disalurkan dan dipergunakan guna pengembangan antropologi itu sendiri baik di kalangan akademis maupun di kalangan praktisi. Untuk itu, Pusat Kajian Antropologi mengelola perpustakaan khusus yang hingga sekarang sudah memiliki koleksi sekitar 3.000 judul buku.
Ketiga, Publikasi dan Dokumentasi. Bidang publikasi dibentuk sebagai salah satu upaya untuk melaksanakan dan mengembangkan pendidikan, penelitian dan pengabdian pada masyarakat dalam bidang antropologi pada khususnya dan ilmu sosial umumnya. Pelaksanaan Tridarma Perguruan Tinggi akan kurang memadai bila tidak didukung oleh publikasi yang berfungsi menyebarluaskan dan mengkomunikasikan pengetahuan yang dipelajari dan dikembangkan oleh kalangan akademis kepada masyarakat di luar universitas. Secara lebih khusus, melalui kegiatan publikasi diharapkan dapat merangsang dan mendorong pengembangan ilmu antropologi di Universitas Indonesia dan universitas-universitas lainnya di Indonesia. Setiap kegiatan yang ada dalam unit kajian diharapkan dapat dipublikasikan dalam bentuk working paper, manuscript atau buku.
Keempat, Pelatihan dan Pengembangan. Pusat Kajian Antropologi juga berfungsi sebagai pusat kegiatan pendukung akademik sebagai teaching laboratory di Departemen Antropologi. Dalam lingkup ini, kegiatan yang dilakukan adalah pelatihan metodologi, seminar dan kegiatan diskusi tematik.
Selama ini, dengan menjalin kerjasama dengan berbagai pihak (baik di dalam maupun di luar negeri), Pusat Kajian Antropologi telah melakukan berbagai penelitian. Penelitian-penelitian yang telah dilakukan antara lain Evaluasi Pengelolaan Sumberdaya Alam di Kepulauan Togean, Sulawesi Tengah (kerjasama dengan Conservation International, tahun 2000); Abrasi Pantai, Konversasi Bakau dan Degradasi Terumbu Karang di Sulawesi Selatan: Pengembangan Masyarakat dan Pelastarian Hutan Bakau (MacArthur Foundation, 1999-2001); A qualitative study of sexual behavior and sexual risk among men who have sex with men in Jakarta (Program ASA- Family Health International, 2002); Sistem Mata Pencaharian Masyarakat di Dalam dan di Sekitar TN Tanjung Puting (Conservation International Indonesia, 2002); dan Rapid Assessment of Child Labour in Mining Sector,  East Kalimantan (International Labour Organization-IPEC , 2002-2003).

CEACoS
Center for East Asian Cooperation Studies (CEACoS) merupakan pusat kajian yang didirikan pada tanggal 24 Mei 2004 dan berada di bawah naungan Departemen llmu Hubungan Internasional. Pendirian CEACoS sebagai sebuah institusi dilatar-belakangi oleh fakta adanya penguatan interaksi hubungan antar-negara dan antar-masyarakat di kawasan Asia Timur, khususnya antara ASEAN dengan Jepang, Korea Selatan dan China. Pada prinsipnya, pusat kajian ini merupakan think tank yang bertujuan untuk mempromosikan penelitian-penelitian yang berorientasi pada kebijakan kerjasama ekonomi, politik, keamanan dan budaya antar-negara dan antar-masyarakat di kawasan Asia Timur, khususnya dalam hubungannya dengan Indonesia.
Secara legalitas, pendirian CEACoS didasarkan pada Keputusan Dekan Fakultas llmu Sosial dan llmu Politik Universitas Indonesia Nomor 14/2004, tertanggal 31 Mei 2004.
Selain pusat-pusat kajian yang berada di bawah koordinasi, pengelolaan dan manajemen delapan departemen tadi, FISIP UI masih memiliki sejumlah pusat kajian yang  dikelola poleh pihak Fakultas. Berikut ini beberapa pusat kajian dimaksud:
Pusat Kajian Disabilitas
Pusat Kajian Disabilitas (Puska Disabilitas) FISIP UI didirikan pada tahun 2005 untuk membantu salah satu universitas terbesar di nusantara ini menjadi perguruan tinggi yang inklusif. Puska Disabilitas memahami betapa banyak calon mahasiswa yang berbakat dan mempunyai kemampuan yang sangat memadai namun tidak mau atau takut mendaftar di sebuah perguruan tinggi negeri seperti UI. Selain fasilitas fisik yang mungkin belum memadai, masih ada pula sikap dan sistem pendaftaran dalam kampus yang belum kondusif buat mereka. Keberadaan Puska Disabilitas membantu memberikan fasilitas (misalnya braile) atau bantuan mahasiswa relawan untuk mempermudah calon mahasiswa menjalankan tes yang diperlukan.
Secara khusus, Puska Disabilitas bertujuan untuk: Melakukan kajian kritis mengenai berbagai kerangka kebijakan nasional dan jika perlu melakukan reformasi kebijakan dan hukum; Merancang dan menawarkan mata kuliah di bidang disabilitas di tingkat S-1; Memberdayakan orang dengan disabilitas agar lebih mandiri, terlibat dalam memperjuangkan hak-haknya, dan bangga dengan kelebihan-kelebihannya; serta Mengembangkan jaringan advokasi.
Kegiatan Puska Disabilitas meliputi kajian terhadap isu disabilitas dan melakukan berbagai kegiatan guna meningkatkan inklusifitas masyarakat. Selain Sensitivity Training ini, Puska Disabilitas juga mempublikasikan sinopsis kisah para penyandang cacat, serta melakukan kerjasama dengan DAI TV untuk membuat dan menyiarkan film dokumenter tentang kalangan disable. Film seri dokumenter yang telah tayang di DAI TV dengan judul “Menembus Batas” ini mengisahkan para penyandang cacat yang senantiasa menatap masa depan dengan optimis.

Pusat Kajian Perlindungan Anak
Pusat Kajian Perlindugan Anak FISIP UI resmi dibentuk pada Desember 2010. Direktur Riset dan Pengabdian Masyarakat UI, Bachtiar Alam, menjelaskan bahwa kelahiran pusat kajian ini untuk memainkan peran penting dalam meningkatkan perlindungan anak Indonesia. Saat ini pusat kajian yang didukung kemitraan antara Kementerian/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), USAID, Columbia University dan UNICEF ini sudah mulai melakukan promosi atas beberapa solusi.
Bachtiar mengatakan kondisi permasalahan anak Indonesia saat ini masih sangat serius meskipun Indonesia sudah sepuluh tahun meratifikasi Konvensi Hak Anak (KHA) dan sudah delapan tahun memiliki Undang-Undang  Perlindungan Anak. Salah satu contohnya, berdasarkan data dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan 2006, bahwa terdapat tiga juta anak perempuan yang bekerja setidaknya 25-45 jam dalam sepekan.  

CERIC
Center for Research on Inter-group Relations and Conflict Resolution (CERIC) FISIP UI dibentuk pada Oktober 2000. Pusat kajian yang didirikan berkat kerjasama dengan The Southeast Asia Studies Program di Ohio University ini dikelola oleh ilmuwan sosial senior FISIP UI dan Ohio University yang memiliki komitmen kuat dalam penelitian sosial.CERIC memfokuskan diri pada kajian dinamika inter-group dan sumber-sumber yang acapkali menimbulkan dinamika tinggi. Selain itu, CERIC juga memberikan resolusi konflik dan pelatihan kepada kelompok mediasi yang dapat dibuat pada semua level (dari pemerintahan sampai masyarakat sipil.
Kendati CERIC mengambil “markas” di Ibukota, misi utama CERIC adalah mengembangkan pusat-pusat kajian serupa di daerah-daerah di seluruh wilayah Indonesia. Kehadiran CERIC diharapkan mampu memberikan kontribusi bagi pencegahan dan pemecahan masalah konflik-konflik sosial yang cukup rentan terjadi dalam masyarakat Indonesia.
Duduk sebagai Dewan Penasihat CERIC antara lain Prof. Kamanto Sunarto, SH, PhD; Elizabeth Collins, PhD; dan Stephano T. Tsukamoto, PhD. Kemudian sebagai Direktur adalah sosiolog senior Imam B. Prasodjo, PhD. Di jajaran peneliti antara lain Dr. Ilya Revianti Sunarwinadi; Iwan Gardono, PhD; dan Soelaiman Soemardi, SH, MA.
Tampak bahwa FISIP UI terus berupaya meretas jalan menuju kelas dunia melalui pusat-pusat kajian yang berkualitas dengan jejaring internasional yang semakin meluas. FISIP  UI ingin terus menjadi bagian dan pendukung kuat bagia tergapainya UI sebagai universitas riset kelas dunia di tahun 2012.***      

Boks 1:
Fasilitas Pendukung Studi (Perkuliahan)
Salah satu unsur penting untuk menggapai predikat uiniversitas (fakultas) berkelas dunia adalah fasilitas yang memadai untuk pekerjaan akademis, seperti perpustakaan yang lengkap dan laboratorium yang mutakhir. FISIP UI tidak melupakan unsur penting tersebut. Untuk itu mari kita lihat beberapa fasilitas penting yang dimiliki FISIP UI berikut:
MBRC – Miriam Budiardjo Resource Center (MBRC) diresmikan pada tanggal 24 Februari 2005 oleh Rektor UI dalam rangka perayaan 36 tahun berdirinya FISIP UI. Nama ini dipilih untuk memberi penghormatan kepada salah satu pendiri FISIP UI, Prof. Dr. (HC) Miriam Budiardjo, MA. Seorang ilmuwan politik terkemuka yang telah menghasilkan buku-buku ilmu politik yang dipakai sebagai referensi di hampir seluruh Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik di Indonesia.
MBRC ditempatkan sebagai: pertama, Salah satu icon dari FISIP UI yang merupakan pusat sumber ilmu dengan sistem perpustakaan terbuka yang modern. Kedua, Pendukung visi dan misi Universitas Indonesia untuk mencapai posisi sebagai universitas riset bertaraf internasional dan menjadi pusat sumber ilmu sosial terkemuka di tingkat Asia Tenggara. Ketiga, Pendukung terhadap tuntutan perubahan global yang penuh persaingan dan tanpa batas, yang memaksa manusia menggapai informasi secara luas dan cepat untuk dapat mengungguli manusia lainnya. Dan keempat, Pendukung tujuan universitas mengembangkan program pengajaran student centered learning, di mana mahasiswa menjadi sentral yang kreatif mencari dan mengembangkan sumber pengetahuan secara mandiri.
MBRC memiliki Ruang Bina Bangsa. Berbagai upaya untuk menumbuhkan rasa kebangsaan perlu terus dilakukan. Salah satunya dengan menyediakan sarana penunjang tumbuhnya nation building berupa fasilitas Ruang Bina Bangsa. Keberadaan Ruang Bina Bangsa ini merupakan hasil kerja sama antara Yayasan Nurani Dunia dengan FISIP UI yang bertujuan: pertama, Memberikan akses bacaan dan informasi penting yang berkaitan dengan nation building di Indonesia kepada generasi muda, khususnya para mahasiswa. Kedua, Memfasilitasi generasi muda dalam proses pemahaman mengenai civic nationalism, berkaitan dengan upaya mewujudkan bangsa Indonesia yang cerdas, adil dan makmur. Ketiga, Menstimulasi mahasiswa, dosen, dan masyarakat agar lebih memahami dan menghargai proses perkembangan bangsa Indonesia.
Ruangan ini berisi koleksi buku dan audio visual mengenai bangsa Indonesia. Selain itu dilengkapi pula dengan LCD TV 42 inch dan DVD Player. Selain Ruang Bina Bangsa ini, MBRC masih memiliki ruang-ruang American Corner dan World Bank Corner. American Corner menyediakan sekitar 2.000 eksemplar buku-buku tentang Amerika terbitan tahun 2000-an; majalah ilmiah dan populer dalam aneka subyek; CD dan DVD dengan topik-topik politik, demokrasi, HAM, ekonomi dan perdagangan; layanan internet gratis sebenyak enam komputer; dan layanan fotocopy. Sedangkan World Bank Corner memberikan layanan: publikasi Bank Dunia bertopik pembangunan; studi tentang Indonesia dan regional; publikasi pembangunan ekonomi dan sosial; kegiatan dan aktivitas Bank Dunia terkini; SD-Rom topik pembangunan; dan akses e-library Bank Dunia.
MBRC menghadirkan sistem perpustakaan terbuka. Yakni, sebuah sistem perpustakaan yang menghubungkan pengguna langsung dengan sumber informasi sehingga dapat menelusuri sumber-sumber informasi tadi secara mandiri, optimal dan tanpa batas. Sebuah sistem yang menggelar sumber informasi dalam bentuk buku yang ditata di ruang-ruang koleksi dengan pengamanan security magnetic. Dan sebuah sistem yang menghadirkan interior terbuka dan transparan tanpa dinding pembatas, yang secara psikologis membuat pengguna merasa luas dan bebas “mengarungi lautan” sumber-sumber informasi.
Sebagai sebuah sistem perpustakaan terbuka, MBRC memiliki program penelusuran berstandar internasional, yaitu program OPAC (Online Public Access Catalog), yang dapat menghemat waktu bagi pengunjung yang ingin menelusuri koleksi sumber ilmu tercetak (buku). Pengunjung yang terkoneksi dengan internet dapat mengakses katalog digital ini melalui situs www.fisip.ui.ac/mbrc.
Selain itu, MBRC dilengkapi pula dengan fasilitas hotspot; ruang seminar berkapasitas 50 orang yang dapat digunakan secara gratis (dengan pemesanan terlebih dulu); ruang diskusi berkapasitas 8-12 orang plus layar presentasi dan jaringan kabel internet; 40 unit komputer untuk akses internet plus printing center; dan software untuk tunanetra yang di-install di dua unit komputer.
Koleksi tercetak buku sejumlah 18.938 judul atau 31.212 eksemplar; 25 judul majalah yang dilanggan secara tetap; 173 judul majalah yang dilanggan secara tidak tetap; 4.167 judul skripsi; 3.398 judul tesis dan disertasi; ensiklopedia Britanica, Americana dan berbagai bidang khusus; dan didukung oleh ribuan koleksi yang berada dan dimiliki oleh delapan departemen di FISIP UI.
Sebagai dedikasi MBRC kepada para pengunjung, MBRC menawarkan program pelayanan informasi. Dalam hal ini MBRC mengoptimalkan penggunaan dan perolehan informasi online database sehingga mempermudah pengunjung untuk memperoleh informasi sesuai dengan yang mereka inginkan. Realisasi program pelayanan ini dalam bentuk: a. Information Literacy Training, program pelatihan dan pengarahan penggunaan online database yang diadakan secara periodik atau sesuai dengan permintaan civitas  FISIP UI; b. Information Packaging, program paket informasi untuk user denganmelakukan user profiling dan penyediaan online database sesuai dengan permintaan dan kebutuhan user.
Di samping itu masih ada program seminar dan kuliah umum. MBRC menyelenggarakan diskusi dan seminar mengenai berbagai topik perkembangan keilmuan seperti politik, sosial, ekonomi dan kebudayaan. Dipresentasikan oleh ahli-ahli yang didatangkan dari dalam dan luar negeri. Khusus American Corner, maka topik-topik mengenai Amerika lebih diutamakan. Pelatihan bahasa Inggris dengan mendatangkan native speaker.
Auditorium AJB Bumiputera. Auditorium Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera adalah ruangan yang kerapkali dipakai untuk menyelenggarakan berbagai acara penting di FISIP UI. Banyak acara besar seperti public lecture, seminar, workshop, pagelaran seni serta sidang diadakan di ruangan yang terletak di Gedung F lantai 2 ini. Misalkan kuliah umum yang menghadirkan pembicara Perdana Menteri Timor Leste Xanana Gusmao pada tanggal 22 Maret 2011 yang sempat dihebohkan adanya kardus yang diduga paket bom namun ternyata kardus bekas bungkus laptop yang kosong.pemilihan mahasiswa berprestasi yang diselenggarakan setiap tahun juga selalu memakai auditorium ini. Sebab itu, auditorium ini sering disebut sebagai auditorium paling “eksis” seantero FISIP UI.
Mahasiswa boleh meminjam Auditorium AJB untuk mengadakan berbagai kegiatan. Si mahasiswa cukup menghubungi dan mengajukan permohonan pinjam ke Manajer Ventura dan Infrastruktur FISIP UI dengan melampirkan surat izin dari organisasi atau kepanitiaan yang ingin memakai auditorium.
Auditorium Komunikasi. Selain Auditorium AJB Bumiputera, FISIP UI masih memiliki Auditorium Komunikasi yang berada di lantai 1 Gedung Komunikasi. Auditorium yang mulai digunakan sejak 1 Januari 2010 ini sering digunakan untuk acara-acara yang diselenggarakan oleh mahasiswa dan dekanat. Acara seperti seminar, konferensi, diskusi kontemporer, latihan keterampilan mahasiswa dan lomba antar-mahasiswa, baik tingkat nasional maupun internasional, kerap mengambil tempat auditorium ini.
Jumlah kursi yang tersedia cukup untuk menampung maksimal 200 orang. Fasilitas yang disediakan cukup mendukung kegiatan yang membutuhkan kelancaran proses komunikasi, seperti simple sound system, microphone, serta infokus. Auditorium ini juga dilengkapi pendingin ruangan. Mahasiswa pun dengan mudah dapat menggunakan auditorium ini untuk acara apa saja dengan syarat mengantongi surat izin atau persetujuan dari Mahalum.
Laboratorium Audiovisual. FISIP UI sebagai fakultas yang laboratoriumnya adalah masyarakat dan tabung erlenmeyernya merupakan gejala-gejala sosial, ternyata memiliki laboratorium yang terletak di dalam ruangan layaknya laboratorium sebagaimana umumnya kita pahami. Salah satu laboratorium itu adalah labratorium audiovisual yang terletak di belakang Gedung E menghadap ke jalan di samping kiri FISIP UI.
Salah satu departemen di FISIP, yakni Ilmu Komunikasi, menuntut mahasiswanya untuk tidak hanya menguasai pengetahuan teoritis, tapi juga memiliki pengetahuan teknis. Untuk memenuhi tuntutan tersebut, hadirlah laboratorium sebagai sarana praktikum untuk mengasah keterampilan mahasiswa di bidang praktis dalam proses belajar-mengajar. Laboratorium audiovisual ini dilengkapi dengan studio produksi, studio berita, ruang kontrol, ruang editing, ruang berita, kamera dan tata lampu yang setara dengan studio televisi profesional.
Ruang Kelas. Untuk mengakomodir mahasiswa yang jumlahnya sangat banyak dibandingkan fakultas lain, FISIP memiliki ruang kelas dalam jumlah yang relatif banyak pula. Kelasnya pun bervariasi. Ada yang masih memakai bangku kayu seperti kelas-kelas di Gedung E sampai yang memakai papan tulis kaca seperti kelas-kelas di Gedung M. Hampir setiap ruang kelas dilengkapi proyektor untuk mendukung pembelajaran. Hanya beberapa kelas saja yang belum disediakan, jadi harus meminjam ke Gedung A. Yang melegakan, mahasiswa tidak perlu merasa khawatir belajar sambil berkeringat karena panasnya Kota depok. Semua kelas  telah dilengkapi dengan pendingin ruangan.
Teater Kolam. Di dekat Kantin Takoru terdapat arena berbentuk lingkaran. Itulah Teater Kolam atau kerap disingkat Teko. Teko biasa menjadi tempat mahasiswa FISIP menggelar berbagai pertunjukan. Ada begitu banyak acara FISIP dan pertunjukan yang pernah digelar di tempat ini, antara lain pertunjukan tari, teater, dan musik.
Arena Teko yang bentuknya melingkar ini mempunyai tempat duduk untuk penonton yang bertingkat-tingkat seperti tempat duduk bioskop. Teko memiliki panggung utama yang memotong lingkaran bangku penonton dan menghadap ke Kantin Takor. Panggung Teko yang menghadap Takor ini menjadi kekuatan Teko untuk membuat orang-orang tertarik mendekat setiap ada acara. Di tengah-tengah Teko ini arena kosong yang dihiasi batu kerikil. Biasanya bagian ini menjadi ekstensi buat panggung.
Selah satu acara populer di FISIP UI yang rutin digelar di Teko adalah Gelar Apresiasi Seni (Gelas) FISIP yang diadakan oleh mahasiswa FISIP, antara lain Gelas Tari, Gelas Musik, dan Gelas Film. 
Taman Korea. Dulu Taman Korea atau yang akrab disebut Takor merupakan kantin pertama di FISIP. Sebelum dikenal dengan sebutan Takor, dikenal dengan nama Balsem (Balik Semak). Disebut Balsem lantaran dulu letaknya dibalik semak-semak, sampai renovasi besar-besaran dan kantin ini berubah namanya.
Kantin Takor memiliki keragaman konter makanan dan minuman. Cukup banyak variasi makanan yang disajikan, antara lain nasi alo, nasi goreng dan nasi kebuli. Yang tadisional pun dapat dijumpai di sini, seperti pecel Madiun, gado-gado dan aneka soto. Pun demikian dengan minuman yang dijajakan, mulai minuman dingin, minuman hangat sampai minuman panas.
Takor berlokasi di bawah ruang Yong Ma, Sekretariat BEM dan Sekretariat Bersama (Sekber). Di Takor terdapat satu toilet perempuan dan satu toilet laki-laki. Sekarang di samping Takor hadir pula Taman Korea Baru (Takoru) yang mengusung konsep sajian yang lebih eksklusif dan nyaman dalam gedung tertutup. Makanan dan minuman yang dijajakan di sini kebanyakan bernuansa luar negeri atau percampuran tradisional-mancanegara.
Koperasi Pegawai FISIP UI. Koperasi yang senantiasa ramai dikunjungi warga kampus FISIP UI ini terletak di tempat yang sangat mudah dijangkau di lingkungan FISIP. Koperasi ini sudah sejak lama didirikan oleh pihak Fakultas. Bahkan dulu pernah menjalin kerjasama dengan produsen minuman ringan ternama.
Koperasi dengan tiga pegawai ini selalu buka dari hari Senin sampai Jumat, dari jam 07.00 hingga jam 21.30 WIB. Koperasi ini menyediakan berbagai macam makanan dan minuman serta alat-alat tulis.
Coffee Toffee. Tempat nongkrong di belakang Gedung M ini didirikan oleh Mahasiswa Alumni (Mahalum) pada awal tahun 2010. Cofffee Toffee menyediakan aneka minuman hot/ice chocolate, coffee dan tea.
Coffee Toffee menjadi tempat kumpul yang sangat nyaman dengan sofa, AC, hotspot dan musik. Bagi pecinta kopi, Coffee Toffee adalah surganya kopi.
 IT Center. Melayani jasa terkait dengan fotocopy serta jilid. Selain itu, di sini juga disediakan rental pengetikan. Materi perkuliahan (handouts) biasanya tersedia pula di sini. Jadi IT Center bisa dijadikan tempat alternatif bagi mahasiswa untuk fotocopy handouts. Di menjual jasa, IT Center pun tentunya menjual berbagai produk IT seperti notebook, flashdisk, speaker, dan Ipod.
Mobil Kemanusiaan. Mobil layanan kemanusiaan FISIP UI ini disediakan dalam rangka mendukung program tanggap bencana. Fasilitas ini diresmikan pada tanggal 2 Mei 2011 bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional.
Mobil ini biasa dipakai untuk membawa bantuan kemanusiaan  korban bencana. Fungsi kongkret yang telah dilakukan mobil unit layanan FISIP UI adalah membawa bantuan berupa buku kepada korban bencana Merapi di Desa Hargobinangun, Yogyakarta, pada April 2011. Tidak sebatas itu, mobil unit layanan kemanusiaan juga dapat digunakan untuk menolong mahasiswa dalam keadaan darurat, seperti membawa mahasiswa yang sakit ke Pusat Kesehatan Mahasiswa (PKM) atau Rumah Sakit terdekat. ***