Showing posts with label Kisah Preman Kupang. Show all posts
Showing posts with label Kisah Preman Kupang. Show all posts

Saturday, August 31, 2013

Meretas Citra dan Masa Depan




Aku berharap bahwa aku akan selalu menguasai keteguhan dan kebaikan yang cukup untuk memelihara apa yang aku pertimbangkan patut ditiru dari semua pangkat dan karakter dari seorang manusia yang jujur.
George Washington, Presiden Pertama Amerika Serikat (1789-1797)

Kupang, Juli 2012. Organisasi kepemudaan Pemuda Pancasila (PP) Nusa Tenggara Timur (NTT) menggelar musyawarah wilayah di Kupang. Hangat penuh semangat. Bertekad kuat memberi warna spirit kejuangan dan kepemimpinan masyarakat lokal NTT.    
Tampil membuka musyawarah, Ketua Umum DPD Pemuda Pancasila Nusa Tenggara Timur Samuel Haning mengajak para pemuda di NTT agar mempunyai mimpi untuk menjadi pemimpin yang kuat, responsif dan bekerja sepenuh hati di tengah-tengah masyarakat NTT yang ingin mendaki perubahan yang lebih baik di masa mendatang. Dengan begitu ada upaya bekerja keras menyiapkan masa depan yang lebih baik dan berpengharapan sejak dari sekarang.
"Perlu dibangun semangat, tekad, dan kemauan untuk membangun daerah dan mempertahankan Pancasila," tandas Samuel Haning.
Sam menegaskan bahwa wilayah NTT membutuhkan pemimpin yang punya karakter, cerdas, berwibawa, dan memiliki integritas kepribadian yang senentiasa bekerja keras sepenuh hati untuk kepentingan daerah. "Jangan sampai pemuda di wilayah ini hanya menjadi beban bagi orangtua, pemerintah, dan masyarakat sekitar. Pemuda harus punya mimpi menjadi pemimpin ke depan, minimal anggota DPRD. Dan pemuda harus berani mewujudkan mimpi-mimpi yang membumi," ujar Sam Haning.
Masa depan NTT ditentukan oleh kesiapan pemuda sekarang dalam menatap masa depan. Sebab itu, pendidikan formal, kegiatan keorganisasian, dan pendidikan Pancasila harus dipahami dan diperjuangkan agar tercipta generasi yang memiliki akhlak kuat, bermoral dan menjunjung tinggi etika. Benar-benar muncul satu generasi yang mumpuni membawa masa depan NTT yang prospektif dan mampu mensejajarkan diri dengan daerah-daerah lain yang telah lebih dulu maju.

A.   Bekerja Sepenuh Hati Menghapus Warna Masa Silam yang Kelam
Semuel Haning sangat bersyukur dirinya kini berada di dunia kampus Universitas PGRI NTT. Sebuah dunia yang membutuhkan kesabaran, kelembutan dan keikhlasan dalam pengabdian. Sebuah dunia yang demikian kontras dibandingkan dengan dunia masa silam Sam yang teramat hitam-kelam. Dia teringat kalam Tuhan bahwa anak manusia manusia yang hari ini lebih buruk daripada hari kemarin adalah celaka, anak manusia yang hari ini sama dengan hari kemarin adalah merugi, dan anak manusia yang hari ini lebih baik daripada masa lalu adalah beruntung.
Dunia  kampus menjadi kawah candradimuka bagi Sam Haning untuk meretas citra diri yang jauh lebih bermartabat dan bermanfaat dibandingkan dengan masa lalu yang penuh liku kerasnya kehidupan jalanan Kota Kupang. “Dulu, saya hidup dalam lumpur dosa, berangkat dari anak jalanan. Ketika saya memiliki kehidupan yang lebih baik seperti sekarang ini, saya tidak mau lupa daratan. Saya berusaha memperlakukan kolega, staf dan pimpinan yang lebih tua di sini sebagai orangtua, sebagai sejawat, dan sebagai sahabat. Kalau ada kegiatan apa saja sampai kemudian berlangsung sukses, sebelumnya saya rapatkan terlebih dulu bersama-sama tim. Sebagai rektor, saya tidak pernah mengambil keputusan sendiri. Di kampus ini saya mendidik, staf saya harus baik, terjadi peningkatan-peningkatan kualitas hidup mereka. Saya memahami betapa sulitnya hidup saya dulu. Kalau saya sekarang menjadi rektor, itu tidak terlepas dari kasih Tuhan, maka harus saya jawab dengan bekerja keras sepenuh hati,” tutur Sam panjang-lebar mengharu biru.
Dalam tekadnya mendidik dan mengupayakan peningkatan kualitas hidup staf dan segenap civitas akademika Universitas PGRI NTT, Sam Haning tidak serta merta memanjakan dan memenuhi segala kebutuhan mereka tanpa harus bekerja keras. Sebaliknya, Sam berusaha memantik mereka agar bekerja keras sepenuh hati guna menggapai kualitas kehidupan yang jauh lebih baik dan lebih berpengharapan di masa-masa mendatang.
Sam tidak sekadar omong kosong. Dia berusaha memberi contoh bagaimana kerja keras dan totalitas dalam membesarkan dan memimpin lembaga pendidikan bernama Universitas PGRI NTT. Hal ini dia buktikan dengan totalitasnya pada Kampus Universitas PGRI NTT. “Saya sekarang sudah terbiasa masuk pukul 07.00 Wita, atau sekitar pukul 07.30 Wita. Semua karyawan harus sudah mengisi daftar hadir. Masuk kantor ini adalah kewajiban. Jadi terkadang saya lebih duluan daripada karyawan, tapi kadang juga bersamaan masuk, tergantung kesibukan saja. Dan saya biasa pulang kerja pukul 17.00 Wita, sementara karyawan boleh pulang pukul 14.00 Wita sebagai batas akhir jam kerja. Saya pulang kadang tergantung tingkat kesibukan juga. Karena saya tidak bisa atau tidak biasa meninggalkan atau menunda pekerjaan sampai besok. Pekerjaan hari ini harus selesai hari ini juga. Tapi kalau ada yang lembur, maka mereka dianggap melakukan kerja lembur,” papar Sam Haning ihwal totalitasnya bersama segenap civitas akademika Universitas PGRI NTT.
Sam tidak semata-mata menuntut pada semua karyawan Universitas PGRI NTT harus bekerja seperti dirinya. Boleh jadi dirinya tidak mempersoalkan jam kerja yang melewati waktu normal jam dinas. Tapi, boleh jadi pula, karyawan cukup berhitung soal jam kerja sesuai rentang waktu yang telah ditetapkan oleh lembaga di mana mereka bekerja. Untuk itulah, Sam tetap memperlakukan karyawan bekerja di luar jam dinas sebagai kerja lembur.
Sam berusaha bekerja keras dengan tetap mengedepankan hati nurani. Secara perlahan namun pasti, dia ingin segenap staf dosen dan karyawan Universitas PGRI NTT senantiasa tampil sebagai yang terbaik. Meminjam pendapat James M. Kouzes dan Barry Z. Posner dalam bukunya The Leadership Challenge, Sam Haning menerapkan konsep bahwa kepemimpinan adalah sebuah proses yang digunakan oleh orang biasa manakala berusaha untuk memunculkan yang terbaik dari dalam diri mereka sendiri dan dari dalam diri orang lain.
Dari konsep tersebut Sam Haning memahami benar bahwa kepemimpinan merupakan sebuah “proses” --artinya suatu kemampuan yang dimiliki seseorang melalui suatu proses yang panjang bagaimana mereka, melalui proses tersebut, berusaha memunculkan kemampuan terbaik yang ada dalam diri mereka dan orang lain. Kepemimpinan tidak dilahirkan begitu saja, bahkan pada orang-orang yang pernah menjadi pemimpin besar sekalipun. Hal sangat berbeda dibandingkan sewaktu di masa lalu dia memimpin Geng Scorpion di jalanan Kota Kupang yang semata-mata mengandalkan pengaruh. Sam seolah lahir begitu saja menjadi “pemimpin” Geng Scorpion.
Memang, demikian kata pakar kepemimpinan Dr. Christine Fald, kepemimpinan adalah pengaruh. Tentu bukan sekadar pengaruh  buat menggerakkan pengikut. Tapi, kemampuan seseorang untuk mempengaruhi orang lain sehingga mereka (pengikut) secara sukarela bersama-sama berupaya meraih tujuan yang telah ditetapkan (visi bersama).
Sam menyadari bahwa setiap pemimpin memiliki kewajiban mendorong orang lain untuk mencapai tujuan-tujuan dan mendorong perubahan ke arah yang lebih baik. Jangan pernah bekerja sendirian! Keberhasilan bukan karena usaha sendiri tetapi berkat upaya bersama-sama. Tidak ada pemimpin tipe Lone Ranger. Jika Anda sendirian, maka Anda tidak memimpin siapapun!
Sebagai Rektor Universitas PGRI NTT dan pemimpin sejumlah organisasi (Pemuda Pancasila Wilayah NTT, KONI Provinsi NTT dan Pertina NTT), Sam memahami benar bahwa kemampuan seorang pemimpin untuk memungkinkan orang lain melakukan tindakan sangatlah penting. Saat ini Sam tercatat sebagai Ketua Majelis Wilayah Pemuda Pancasila NTT, Ketua Pembinaan Prestasi KONI NTT, Sekretaris Pertina NTT, dan aktif menjadi advokat yang siap membantu orang-orang miskin yang dibelit masalah hukum. Sam meyakini, para pengikut tidak akan memberikan kinerja terbaik mereka ataupun tetap setia dalam jangka waktu lama apabila pemimpin mereka justru membuat mereka merasa lemah, memiliki ketergantungan, atau terasingkan. Disinilah peran seorang pemimpin dibutuhkan untuk dapat tidak sekadar membimbing, lebih dari itu, bagaimana sang pemimpin dapat memberdayakan mereka dan membina hubungan sehingga mampu menjadi pemenang atau mencapai kehidupan yang lebih baik. Melalui hubungan itulah, seorang pemimpin dapat mengubah para pengikut menjadi pemimpin juga. Memimpin dengan hati, itulah barangkali inti kerja keras Sam dalam memimpin Universitas PGRI NTT saat ini.
Dia mengingatkan seorang pemimpin mesti menyadari bahwa yang menjadi titik sentral tidak lagi terletak pada dirinya sendiri, melainkan juga pada orang-orang yang dipimpinnya. Dia adalah seorang pemimpin yang memperhatikan bagaimana orang lain dapat tumbuh, berkembang, dan mencapai visi secara bersama-sama, sehingga orang  yang dipimpinnya kelak akan menjadi pemimpin juga. Inilah kepemimpinan dengan hati yang berusaha diimplementasikan oleh seorang Sam Haning di tengah-tengah civitas akademika Universitas PGRI NTT dan organisasi-organisasi yang dipimpinnya.
Sebagai umat beragama, Sam meyakini pada hakekatnya setiap insan adalah pemimpin, baik pemimpin di suatu organisasi maupun pemimpin dalam rumah tangga. Kata-kata bijak religius bahwa setiap manusia adalah pemimpin dan manusia kelak dimintai pertanggung-jawaban atas kepemimpinannya. Seseorang yang memimpin di universitas, akan mempertanggungjawabkan semua tugas dan tanggung-jawabnya di universitas yang ia pimpin tersebut. Demikian pula seorang pemimpin dalam rumah tangga bagaimana dia membina isteri dan anak-anaknya (rumah tangganya) dalam rangka membina keluarga yang  baik.
Dalam iman Kristen, kepemimpinan merupakan titipan kasih yang harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya dan penuh tanggung jawab. Karena merupakan titipan kasih, maka seorang pemimpin harus mempertanggungjawabkan kepemimpinannya tidak hanya kepada yang memberikan titipan kasih dan para anggota yang dipimpinnya, tetapi lebih dari itu ia harus mempertanggungjawabkan kepada Tuhan Yang Masa Kasih. Jadi, menurut iman Kristen, dimensi pertanggung-jawaban kepemimpinan tidak hanya bersifat horizontal, namun juga bersifat vertikal.
Sam ingin pada masa kini dan mendatang dirinya senantiasa bekerja keras dan memimpin sepenuh hati orang-orang yang dipimpinnya. Dia ingin membuktikan bahwa masa silam yang kelam tidak secara otomatis menjadikan orang terus bergelimang dalam lumpur dosa dan noda. Setiap manusia memiliki kehendak untuk berubah, tinggal si manusia itu sendiri mau berubah ataukah tidak berubah.
“Begini, kita ini kan manusia, kalau ular saja bisa berubah kulit, bagaimana manusia berubah perilaku? Yang menentukan hidup seseorang, kemajuan seseorang, tergantung pada orang itu sendiri. Kenapa saya katakan begitu? Saya punya filosofi satu, saya ini maju, saya berhasil karena Tuhan, saya juga berhasil karena memakai baju orang lain dan memakai sepatu orang lain,” ujar Sam Haning.
Pakai baju orang lain? Bukankah kita harus melihat kemampuan dan kekuatan diri sendiri? Sam berfilosofi, “Karena dulu, saya memakai sepatu saya sendiri, misalnya nomor 43, sekarang saya sudah mengubah nomor sepatu saya menjadi nomor 44. Maksudnya, perilaku yang lama jangan dipertahankan lagi. Sekarang kita harus mengubah perilaku kita untuk menjadi lebih baik. Kenapa orang lain itu bisa, lalu kita tidak bisa. Kita harus bisa berubah. Kalau kita mau mengubah diri kita, kita harus melihat orang lain yang jauh lebih baik. Kita harus mengubah perilaku kita bahwa orang lain bisa, maka kita juga harus bisa. Kalau bukan kita yang mengubah nasib diri kita, ya siapa lagi. Karena tidak ada orang lain. Kita juga harus tetap ora et labora.”

B.    Obsesi dan Sosok Perubahan
Sebagai sosok yang masih relatif muda dan memiliki tapak karir lumayan mengkilap, Sam Haning masih memiliki sejumlah mimpi dan obsesi untuk menggapai masa depan yang jauh lebih bermanfaat dan bermartabat. Mimpi dan obsesi dapat dikatakan menjadi semacam suluh dalam upaya seseorang meretas jalan masa depan yang penuh harap dan asa. Tentu tidak sekadar harap dan asa bilamana kita ingin kehidupan yang lebih baik lagi. Butuh keberanian untuk merealisasikan dan membumikan asa dan obsesi.
Tidak perlu diragukan bahwa keberanian dibutuhkan oleh setiap orang yang ingin membangun diri dalam kerangka memberikan manfaat kepada banyak orang. Keberanian dibutuhkan untuk mulai melangkah ke masa depan menggapai asa dan obsesi. Sam yang telah meletakkan visi perubahan di Universitas PGRI NTT sangat ingin menjadi sosok pemimpin yang kuat dalam menatap masa depan yang berpengharapan.
Sam ingin tampil dengan visi (landasan pemikiran) yang kuat, teguh berpegang pada prinsip (nilai-nilai kultural), dan memberikan aksi (teladan) yang nyata, didukung serta menjadi figur rujukan. Sam ingin membangun komunikasi dengan baik dan jelas. Sam ingin memiliki kemampuan manajerial yang mumpuni. Dia ingin menjadi pemimpin yang betul-betul memahami akar persoalan di universitas, bahkan lebih jauh suatu saat nanti akar persoalan masyarakat, yang dipimpinnya. Dia ingin menjadi pemimpin yang senantiasa mendorong perubahan, obyektif, berpikir positif, berwawasan luas, memiliki ide cemerlang, idealis, motivasi tinggi, enerjik, intelek dan berorientasi pada tindakan serta kerja nyata. Termasuk tegas dan berani mengambil keputusan, sigap membaca kondisi lembaga yang dipimpin, mempunyai kemampuan menjadi inspirator, serta motivator dan komunikator yang baik.
Sam ingin menjadi sosok pemimpin yang mengetahui arah perubahan, menyiapkan sumber daya yang diperlukan, menentukan tujuan akhir dan keuntungan yang hendak digapai, mengantisipasi risiko yang mungkin timbul dan menyiapkan cara mengontrolnya. Sosok pemimpin yang membangun kondisi positif dan kondusif guna mendukung berjalannya proses perubahan dengan baik dan sesuai rencana. Membangun arah perubahan yang jelas bagi tim dan organisasi yang dipimpin. Sosok yang mampu mengembangkan setiap anggota tim untuk melakukan dan mencapai tujuan perubahan secara rancak bersama-sama. Sosok yang sanggup menganalisa dan memberikan kebutuhan yang diperlukan dalam setiap proses perubahan. Sosok yang memberikan saran, nasihat dan solusi buat menyelesaikan masalah-masalah yang ada. Sosok yang mendengar secara aktif terhadap segala hal mengenai perubahan. Sosok yang mampu mendorong orang untuk berperan aktif dan memberikan pendapat ihwal perubahan yang tengah dilakukan. Sosok yang piawai mengumpulkan berbagai macam ide dari berbagai sumber. Sosok yang mampu membawa keluar dari krisis yang dihadapi lembaga yang dipimpinnya.
Sekadar contoh, kita bisa mengingat IBM (International Business Machines Corp) yang pernah mengalami kerugian terbesar dalam sejarah perusahaan Amerika Serikat (AS). Big Blue, demikian sebutan IBM, yang begitu dihormati tiba-tiba tenggelam relatif cepat. Pada tahun 1992, multinasional yang berdiri tahun 1924 dan embrionya telah dirintis sejak 1888 itu, mengumumkan kerugian sebesar US$4,97 miliar dan terus merosot hingga US$8 miliar pada 1993. Tatkala hendak tenggelam, Lou Gerstener, yang sukses mengantarkan RJR Nabisco dari kerugian US$1,1 miliar menjadi laba US$299 juta pada (1992), diminta menjadi pemimpin baru multinasional di bidang komputer tersebut. Secara cepat dan tepat, melalui perubahan yang digulirkan, pada tahun 1994 IBM berhasil meraup keuntungan senilai US$3 miliar. Sebuah perubahan spektakuler sebesar US$11 miliar, nilai fantastis keuntungan yang belum pernah terjadi sebelumnya, dari rugi US$8 miliar menjadi untung US$3 miliar.
Contoh serupa dilakukan oleh GE (General Electric). Ketika perputaran roda bisnis dalam posisi datar-datar saja dan kalau tidak dilakukan perubahan dipastikan bakal terjadi stagnasi, maka konglomerat global yang dirintis oleh “sang jenius” Thomas Alva Edison ini mengganti pimpinan lama dengan pemimpin baru (Jack Welch). Melalui tangan dingin pria bernama lengkap John Francis Welch itu, GE mampu bangkit. GE kemudian menjadi langganan Fortune 500 dan BusinessWeek 1.000 sebagai salah satu perusahaan terbaik di dunia. Pada saat Jack Welch mengundurkan diri saat berusia 65 tahun (1999) dengan paket pensiun senilai US$2,5 juta per tahun, nilai pasar multinasional yang bergerak di bisnis peralatan rumah tangga, peralatan kesehatan, keuangan, dan mesin pesawat itu mencapai US$410,8 miliar. Atau, berlipat ganda dari saat “sang legenda” kepemimpinan bisnis multinasional itu mulai memimpin GE (1981) yang tercatat hanya sebesar US$15,9 miliar.
Lou Gerstener dan Jack Welch dapat dikatakan sebagai sosok pemimpin yang memiliki keberanian untuk melakukan perubahan perusahaan ke arah yang jauh lebih baik, menggulirkan perubahan positif. Memang, lembaga seperti universitas bukanlah lembaga bisnis. Namun demikian, memimpin sebuah universitas mesti memiliki keberanian melakukan kalkulasi semi-bisnis. Arti kata, Semuel Haning menyadari bahwa memimpin sebuah universitas tidak dapat semata-mata bersandar pada perhitungan bisnis atau hanya mengedepankan aspek pengabdian.
Untuk itulah, sejauh ini Sam Haning tetap mempertahankan biaya murah (SPP sebesar Rp1 juta per semester) di Universitas PGRI NTT. Dengan biaya yang relatif murah, Sam berpikir cukup sederhana namun jitu, yakni menambah daya tampung setiap fakultas dan program studi yang ada di PTS terbesar di NTT ini. Ibarat jualan sembako dengan margin keuntungan tipis, pedagang sembako meraup untung besar karena volume penjualan yang besar dan perputaran barang yang cepat.
Sam Haning tak hendak menyamakan pengelolaan sebuah universitas dengan berdagang sembako. Bukan itu maksudnya. Selain memang mendatangkan mobilisasi dana yang lumayan dengan menambah daya tampung, langkah ini juga memberikan kesempatan yang besar bagi anak muda NTT untuk menikmati pendidikan tinggi.
Bagai sekali mendayung dua-tiga pulau terlampaui, bersama Universitas PGRI NTT, Sam Haning menuai hasil yang luar biasa. Bila pada saat dia mulai memimpin, jumlah mahasiswa masih sekitar 4.640 orang, di pertengahan tahun 2012 mahasiswa yang tercatat mencapai 13.760 orang. Sebuah lompatan peningkatan yang sangat signifikan. “Kini Universitas PGRI menjadi salah satu universitas yang makin diperhitungkan di wilayah NTT,” ujar Sam.
Selain itu, hasil yang juga patut dibanggakan seorang Sam Haning, kini Universitas PGRI NTT memiliki gedung rektorat dan gedung perkuliahan sendiri, tak lagi menumpang di sekolah-sekolah di Kota Kupang.
Berkat hasil nyata itu, Sam Haning menggantung asa dan obsesi ke depan, Universitas PGRI NTT tampil sebagai yang terdepan dalam langkah-langkah membangun kualitas sumber daya manusia (SDM) NTT yang bermutu dan kompetitif di pasar kerja. “Itu obsesi utama saya. Artinya, bagaimana membuat anak-anak NTT yang pendidikannya masih di bawah itu kemudian mereka dapat mengecap pendidikan yang lebih layak. Saya katakan begitu, bahwa obsesi ini belum terjawab tapi sudah mulai tampak. Setidaknya kini terasa dari kemampuan Universitas PGRI memberi kesempatan kepada mereka yang kurang mampu untuk tetap menikmati kuliah di perguruan tinggi,” tutur Sam Haning penuh optimisme.
Mewujudkan obsesi memang mesti dimulai dari obsesi kecil-kecilan. Sam tidak ingin terjebak pada penyesalan tatkala kematian menjemput tak sedikit pun obsesi yang terwujud. Dia tidak ingin berandai-andai manakala namanya telah terpatri di batu nisan: “Saya ingin mengubah negeri ini menjadi lebih baik tapi apa daya kekuatan yang ada tidak memungkinkan, saya ingin mengubah lingkungan sekitar namun keinginan tinggal sebatas khayalan karena tak ada daya yang cukup, saya ingin mengubah lembaga yang saya pimpin namun kekuatan tangan rupanya tak cukup daya, andai saja saya dulu memulai mengubah diri ini menjadi jauh lebih baik, setidaknya ada goresan kesan di mata orang sekeliling.”
Sam Haning bersyukur diberi kepercayaan untuk memimpin Universitas PGRI NTT sejak Januari 2010 lalu. Dari sini dia berusaha mewujudkan obsesi-obsesi kecil sebelum dirinya mampu meretas obsesi yang lebih besar lagi, lebih luas dan lebih pada perwujudan kepentingan orang banyak. Mulailah dia mewujudkan kampus murah-meriah, kampus sebagai sumber pembinaan atlet-atlet berbakat, serta kampus sebagai pencetak sumber daya manusia yang mampu menjadi jembatan antara masyarakat dan lembaga pemerintahan. Mulailah dia menerapkan SPP murah, membina mahasiswa yang atlet melalui unit-unit kegiatan mahasiswa, serta Kuliah Kerja Nyata di daerah-daerah terpencil yang nyaris terkucil.

C.   Membangun Citra Positif
Ketika dunia kampus yang dipimpinnya mulai menampakkan kesan (citra) positif dan memperoleh banyak apresiasi dari berbagai kalangan, Sam Haning merasa dirinya harus memberanikan diri keluar dari rutinitas keseharian. Manakala kampus telah mampu berjalan secara sistemik melalui tangan-tangan kepemimpinan pada lingkup fakultas sampai program studi, Sam Haning berusaha keluar membangun dan merajut jejaring yang lebih luas dan mengglobal.
Di tangan Sam Haning, Universitas PGRI NTT kini telah memiliki jalinan kerjasama bidang pendidikan dengan Republik Democratic Timor Leste, Pusat Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, dan kalangan usaha. Jejaring ini demikian penting buat memajukan dan meningkatkan peran aktif Universitas PGRI NTT di tengah-tengah masyarakat NTT.
Dengan kalangan usaha, saat ini Semuel Haning aktif pada Komite Organisasi dan Keanggotaan di Asosiasi Pengusaha Pengadaan Barang dan Jasa Indonesia (Aspanji) Provinsi NTT. Dia ingin mendarmabaktikan waktunya buat kemajuan kerjasama kalangan usaha dan dunia kampus. Selain pembinaan olahraga yang telah memperoleh berbagai apresiasi, Sam Haning juga ingin memberi warna kewirausahaan (entrepreneurship) pada Kampus Universitas PGRI NTT.
Ke bawah, Sam Haning aktif mendampingi mahasiswa Universitas PGRI NTT yang melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Misalkan saat mahasiswa Universitas PGRI NTT melakukan KKN di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) pada medio Agustus 2012. Mahasiswa aktif turun ke tengah-tengah masyarakat desa yang belum terlalu maju. Dan, pada kesempatan itu Semuel Haning memberikan berbagai bantuan buat warga masyarakat desa yang menjadi lokasi KKN.
Sejak awal menjabat Rektor Universitas PGRI NTT, Sam Haning berusaha mengajak peran aktif mahasiswa mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi lingkungan setempat. Sekadar contoh pada KKN 2010 yang dipusatkan di Kampus Universitas PGRI, mahasiswa membangun Tugu Universitas PGRI di kampus yang mulai banyak dikenal calon mahasiswa dari luar NTT itu. Mereka juga membangun lapangan  bolavoli dan bulutangkis, tempat duduk mahasiswa dan tempat parkir di halaman kampus yang berada di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Kupang, itu.
Tugu Universitas PGRI dibangun dengan memadukan unsur seni dan keindahan, dilengkapi air mengalir pada tugu dan langsung diresmikan Semuel Haning selaku Rektor Universitas PGRI NTT.
Dalam sambutannya, ketika itu, Samuel Haning menyampaikan rasa terima kasih kepada segenap mahasiswa Universitas PGRI NTT yang telah bekerja keras membangun tugu dan prasasti yang penuh arti tersebut. Dikatakannya, keberadaan tugu yang dibangun --serta fasilitas berupa gedung-- merupakan hasil jerih payah seluruh mahasiswa Universitas PGRI NTT. Untuk itu, katanya, "Mari kita bersama-sama menjaga dan merawat bangunan yang ada ini, karena ini dibangun dengan uang kalian. Kalau ada yang mau merusak maka saya akan membawa ke pintu hukum."
Sam Haning menjelaskan, air yang mengalir pada tugu yang baru dibangun tersebut diharapkan mampu memberi makna langkah dan upaya membersihkan hati yang cerdas secara akademik ataupun spritual. "Air yang mengalir ini kiranya bisa membersihkan hati yang cerdas dan berjiwa bersih," jelasnya.
Saat ini, menurut Sam Haning, warga masyarakat NTT telah menaruh kepercayaan yang baik pada Universitas PGRI NTT. Hal ini ditandai dengan jumlah calon mahasiswa yang mendaftar yang terus meningkat dari tahun ke tahun.
Pada kesempatan peresmian Tugu PGRI itu, Ketua Program Studi Bahasa Indonesia FKIP Universitas PGRI NTT, Drs. Samuel Nitbani, M.Pd, menjelaskan, pembangunan tugu PGRI tersebut merupakan ide dan kerja keras mahasiswa KKN 2010. Ide ini merupakan bagian dari identifikasi masalah yang ada.
Masalah yang diidentifikasi, katanya, antara lain belum adanya lapangan olahraga, tempat duduk mahasiswa dan tempat parkir. Selain itu, lanjutnya, dari sebuah batu karang muncul ide untuk membuat tugu.
Diterangkan Samuel Nitbani, lapangan Universitas PGRI berada paling atas dari tugu tersebut dimaksudkan agar semua komponen dalam Universitas PGRI mesti menghormati dan menjunjung tinggi lembaga pendidikan tinggi tersebut. Sementara bagian tengah yang berbentuk curam melambangkan lembaga ini harus mencurahkan nilai-nilai akademik dan budi pekerti kepada mahasiswa yang mencari ilmu di sana.  
Sam Haning benar-benar ingin meretas citra positif, terutama melalui Universitas PGRI NTT. Nilai-nilai filosofis pendidikan dan pengelolaan sebuah lembaga pendidikan terus ditanamkan dan dikristalisasi ke dalam relung-relung segenap civitas akademika Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terbesar di NTT ini.
Dengan kekokohan citra yang mulai bersemi dari kawah candradimuka Kampus Universitas PGRI NTT, Sam Haning berusaha keluar dari frame dunia pendidikan memasuki jagat pengabdian seorang advokat dan dunia politik praktis. Di tengah-tengah kesibukannya di dunia kampus, Sam Haning masih menyempatkan diri memberikan advokasi pada kalangan yang tidak mampu ketika menghadapi persoalan hukum. Dia menyadari bahwa setiap advokat memiliki kewajiban untuk membantu siapa saja (terutama kalangan yang tidak mampu) yang dibelit kasus atau perkara hukum.
Dalam kiprah di politik praktis, Semuel Haning aktif sebagai kader Partai Golkar Provinsi NTT. Menghadapi pesta demokrasi pemilihan kepala daerah (Pilkada) Provinsi NTT pada 2013, dia siap mencalonkan diri melalui jalur independen.        
Dengan mengusung sandi politik HENING, Semual Haning maju sebagai calon gubernur berpasangan dengan calon gubernur Anthony Henryques, M.Sc. Pasangan ini berjanji akan melakukan perubahan di NTT dan menempatkan kesejahteraan rakyat adalah hukum tertinggi. Pasangan calon ini secara resmi memperkenalkan diri kepada publik dengan menggelar jumpa pers di Palapa Resto, Jalan Palapa Kupang, pekan pertama November 2012. Anthony Henryques adalah mantan Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Ngada periode 1976-1981 dan saat ini menjabat sebagai Team Leader Consultant Perumahan Rakyat Wilayah Bali, NTB dan NTT pada Kementerian Perumahan Rakyat RI.
Dalam perkenalannya di hadapan pers, Anthony menegaskan bahwa niatnya maju sebagai calon gubernur NTT (2013-2018) untuk membawa perubahan di NTT dan dirinya telah mensosialisasikan diri sejak bulan November 2011 lalu. Dia merasa yakin pada kompetensinya sebagai ahli infrastruktur dan pengembangan wilayah sehingga perubahan di NTT sangat mungkin diwujudkan. Apalagi dirinya berpasangan dengan Semuel Haning yang berlatar belakang disiplin hukum. Anthony berjanji di bawah kepemimpinannya, bersama Semuel, akan melibas habis korupsi dan koruptor. Duet HENING adalah duet anti-korupsi.
"Saya pilih Pak Semuel karena beliau orang hukum. Bahwa hukum di NTT harus dibenahi agar program pemerintah bisa berjalan baik dan adil. Korupsi akan saya libas habis," tegas Anthony.
Semuel Haning sendiri menyatakan kesiapannya bersama Anthony memimpin provinsi berpenduduk sekitar lima juta itu ke depan. Programnya, antara lain,  akan menghidupkan budaya atau kultur ilmiah dan perbaikan infrastruktur. Sebagai kader Partai Golkar, Semuel menegaskan bukanlah suatu masalah bilamana dirinya maju melalui jalur perseorangan (independen). “Kami memilih untuk maju lewat jalur independen karena tidak selamanya partai politik harus jadi kendaraan politik. Partai Golkar harus bangga bahwa masih ada kader partai yang bisa dijual. Program kami ialah perbaikan infrastruktur di NTT karena daerah ini masih banyak yang terbengkalai,” tandas Semuel Haning.
Sam pun cukup rajin rajin turun ke daerah-daerah di NTT untuk mensosialisasikan diri, memaparkan visi-misi dan menyerap aspirasi. Bersyukur, pasangan HENING cukup memperoleh respon positif.
Di tengah tanggapan positif berbagai kalangan masyarakat, muncul pula aspirasi dari Pimpinan, Pembantu Rektor, Dosen, mahasiswa, dan alumni Universitas PGRI NTT yang tidak boleh diabaikan begitu saja. “Mereka datang dan mengatakan ‘Bapak masih kami butuhkan, Bapak mesti bersama kami karena baru dua tahun di sini, lembaga ini makin bermutu dan daya saingnya luar biasa, mulai kelihatan, kalau bisa Bapak jangan meninggalkan kami’,” ungkap Semuel Haning. Sam pun mesti berpikir ulang untuk terus melaju dalam pencalonan diri dalam Pilkada Provinsi NTT 2013.
Sam lalu berpikir keras. Dia tidak melupakan kedua orang-tuanya yang selama ini masih terus memberi dukungan moril dalam perjalanan hidupnya. “Saya juga harus mendapat restu dari orang tua, mereka katakan ‘Tuhan kasih berkat di pendidikan, setelah selesaikan tugas di pendidikan, silakah terima tugas yang lain. Kamu jangan memikirkan bulan di langit yang tidak bisa digapai, sedangkan air di tempayan genggamanmu kau buang. Yang ada marilah kita gunakan, jangan mikir yang lain-lain’. Saya akhirnya mengundurkan diri dari pencalonan,” papar Sam yang sejak awal 2010 mengemban amanah sebagai Rektor Universitas PGRI NTT ini.
Dan, dalam perjalanan selanjutnya, Sam ingin berkonsentrasi penuh melayarkan ‘kapal’ Universitas PGRI NTT ke ‘samudera’ persaingan kualitas pendidikan tinggi yang semakin ketat. Dia pun berharap bahwa dirinya akan selalu menguasai keteguhan dan kebaikan yang cukup untuk memelihara apa yang telah dia pertimbangkan patut ditiru dari semua pangkat dan karakter dari seorang manusia yang jujur. Dalam bahasa yang sedikit rendah hati, Sam tegas bahwa masih ada orang baik dan jujur dari partai politik –terlepas mau maju memimpin daerah lewat partai politik ataupun perseorangan. Dengan masa lalu yang kelam dan karut-marut citra partai politik, Sam ingin membuktikan masih ada berlian di tengah kubangan lumpur. ***

Membangun Kepemimpinan Responsif





Jika pengetahuan tidak mengajarimu menghilangkan kelemahan dan penderitaan manusia, dan tidak membimbing para pengikutmu di atas jalan yang benar, kamu sungguh merupakan seorang yang tidak berharga dan akan tetap demikian sampai hari kiamat tiba.
Kahlil Gibran, Penyair Kenamaan

Hotel Pantai Timor, Januari 2010. Dalam hening dan khidmat nuansa sederhana. Wakil Gubernur (Wagub) NTT Esthon Foenay melantik Semuel Haning SH MH menjadi Rektor Universitas PGRI NTT di hadapan sejumlah pejabat pemerintah provinsi, legislatif, pengurus YPLP PT PGRI NTT, dan keluarga besar civitas akademika Universitas PGRI NTT.
Sesaat usai melantik, Wagub Esthon Foenay mengingatkan bahwa peran Universitas PGRI NTT sejak berdirinya tahun 1996 itu sangat strategis dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) masyarakat NTT. "Kehadiran Universitas PGRI NTT sangat membantu pemerintah dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia masyarakat NTT. Karena itu, diharapkan peran ini terus ditingkatkan ke depan sehingga menjadi lebih baik lagi," Esthon menandaskan.
Serta merta, Semuel Haning menjawab penekanan pesan Wagub Esthon Fenay bahwa dirinya akan membawa PTS terbesar di NTT tersebut menjadi lembaga pendidikan yang responsif dan komunikatif di tengah masyarakat NTT yang haus akan kemajuan. Dia akan berusaha mengajak peran serta aktif segenap civitas akademika Universitas PGRI NTT dalam menjawab tantangan yang disampaikan oleh Wagub NTT tersebut.
Sam berupaya membangun kebersamaan dalam tubuh Universitas PGRI NTT agar lebih mudah bergerak membawa perubahan masyarakat –terutama melalui peran aktif dosen dan mahasiswa di berbagai dharma perguruan tinggi. “Yang pertama-tama kami lakukan adalah sama-sama saling menghargai satu dengan lainnya. Yang senior saya anggap sebagai bapak saya, saya tidak anggap staf atau bawahan saya. Jujur, Pembantu Rektor III adalah senior saya. Di atas 60-an tahun. Tetapi saya anggap mereka itu orangtua saya dan ketika kami melakukan itu adalah keputusan bersama. Saya juga menerima pertimbangan-petimbangan dari mereka ketika saya mengambil keputusan. Supaya kita tidak ada ketersinggungan antara satu dan yang lainnya. Saya katakan itu karena kita juga manusia. Saya katakan saya lebih muda daripada mereka tapi saya tidak boleh dipermudakan. Ketika saya menghormati, menghargai seluruh orang-orang tua yang ada di sini, pasti mereka menghargai dan menghormati saya,” papar Sam Haning mengingat-ingat masa awal seusai dilantik sebagai Rektor Universitas PGRI periode 2010-2014.
Tampaknya Sam sangat ingin merangkul semua pihak yang ada di dalam institusi bernama Universitas PGRI NTT. Dengan begitu dia berharap akan semakin mudah mengajak mereka mengembangkan satu paradigma kepemimpinan responsif dalam mengembangkan salah satu universitas swasta kebanggaan masyarakat NTT itu.

A.   Visi dan Kepemimpinan Transformatif-Responsif
Sebagai Rektor Universitas PGRI NTT, Sam Haning hendak terus mendorong universitas bertanggung-jawab untuk pencapaian visi dan mengejar misinya. Tanpa visi dan misi, sebuah universitas hanya ada tanpa arti dan makna. Universitas itu ada namun merasa puas dengan yang biasa-biasa saja. Kendati tampil sebagai sebuah univeritas dengan uang pangkal dan besaran SPP yang relatif murah, Sam tak ingin universitas yang dipimpinnya itu tampil apa adanya.
Sekali lagi Sam mengingatkan betapa pentingnya Universitas PGRI NTT mengkristalisasikan visinya ke segenap relung-relung nurani civitas akademika. Lalu, mereka mampu membumi dan menjadi pembeda yang tegas dan jelas. Sebuah visi “Mewujudkan Universitas PGRI NTT menjadi perguruan tinggi yang berkualitas, unggul dan kompetitif dalam penyelenggaraan secara profesional Tridharma Perguruan Tinggi sehingga menjadi kebanggaan warga PGRI dan menjadi pilihan utama masyarakat”.
Sebuah visi untuk mengusung misi “Mengembangkan atau membentuk kemampuan, watak dan kepribadian manusia melalui pelaksanaan: Dharma Pendidikan, untuk menguasai, menerapkan dan meyebarluaskan nilai-nilai luhur, ilmu pengetahuan, teknologi, seni dan olahraga; Dharma penelitian, untuk menemukan, mengembangkan, mengadopsi, dan/atau mengadaptasi nilai-nilai luhur, ilmu pengetahuan, teknologi, seni dan olahraga; Dharma pengabdian kepada masyarakat, untuk menerapkan nilai-nilai luhur, ilmu pengetahuan, teknologi, seni dan olahraga dalam rangka pemberdayaan masyarakat”.
Sebuah visi guna menggapai tujuan untuk  “Membentuk insan yang Beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia dan berkepribadian luhur; Sehat, berilmu dan cakap; Kritis, kreatif, inovatif, mandiri, percaya diri dan berjiwa wirausaha; Toleran, peka sosial dan lingkungan, demokratis, dan bertanggungjawab”. Pun sebuah visi buat mencapai tujuan “Menghasilkan produk-produk ilmu pengetahuan, teknologi, seni dan olahraga yang memberikan kemaslahantan bagi masyarakat, bangsa, negara, umat manusia, dan lingkungan; serta Pola Ilmiah Pokok Pembangunan Pertanian berbasis ekosistem kepulauan dan kearifan lokal”.
Tentu bukan langkah mudah untuk menyelaraskan visi, misi dan tujuan yang hendak dicita-citakan Universitas PGRI NTT. Butuh kepemimpinan transformatif dan responsif agar semua mampu berjalan bersama menggapai tujuan bersama pula.
Kepemimpinan transformatif kini tidak lagi hanya digunakan secara eksklusif dalam perusahaan-perusahaan bisnis kelas dunia. Kepemimpinan model ini sekarang sedang pula digunakan dalam konteks pendidikan. Dosen dan tenaga-tenaga administrator universitas kini cukup serius dan profesional mencari cara untuk menggunakan jenis kepemimpinan transformatif dalam pengaturan mereka.
Pemimpin transformasional dalam dunia pendidikan terus-menerus mencari cara-cara baru dalam melakukan sesuatu terhadap pencapaian visi universitas. Tujuan utama dari universitas, tentu saja, adalah untuk mendidik orang-orang muda dan mengubahnya menjadi anggota masyarakat yang produktif, bermanfaat dan bermartabat. Kepemimpinan yang diperlukan untuk mengatasi masalah dan tantangan yang dihadapi mahasiswa dan dosen yang bersua di universitas-universitas.
Pemimpin transformatif juga mencari cara untuk mengubah bagaimana konteks mereka dilihat. Salah satu karakteristik dari para pemimpin yang baik adalah memiliki langkah untuk mengubah hal-hal terbalik dan melihat mereka dari lensa yang berbeda. Ini akan menghasilkan cara baru dalam memandang konteks mereka. Wawasan baru akan kemudian berubah menjadi cara-cara baru melakukan hal-hal yang sangat diperlukan lembaga pendidikan dalam upaya meningkatkan dan melayani kebutuhan masyarakat yang semakin maju.
Dosen dan administrator universitas perlu pula untuk terus menanamkan ke dalam dirinya untuk senantiasa bertanggung-jawab menggapai visi dan mengejar misi. Tanpa visi dan misi, sebuah universitas hanya ada tanpa arti dan makna.
Mereka pun perlu membuat lembaga pendidikan menjadi organisasi unik, berbeda dan sangat baik. Ada banyak universitas di luar sana. Dan mereka berbeda satu sama lain. Administrator yang baik harus mencari cara untuk membedakan dari banyak lembaga sejenis yang lain. Tanpa memiliki kualitas pembeda, sebuah organisasi pendidikan (antara lain universitas) akan memudar dan ditinggalkan oleh mahasiswanya.
Mereka juga perlu bekerja ke arah terciptanya universitas yang responsif terhadap masalah dan tantangan dunia kontemporer. Resesi dan bencana yang melanda Amerika Serikat belakangan ini, misalkan, tentu mengajarkan dunia bahwa perubahan dapat terjadi kapan saja dan dalam waktu relatif singkat. Teknologi dan perubahan terus menjadi kata kunci di dekade baru ini. Dengan demikian, transformasi kepemimpinan dalam pendidikan harus responsif terhadap tantangan ini dan mencari cara untuk membuat universitas-universitas yang mampu mempersiapkan mahasiswa dan dosen menjawab gelagat ini.
Benar, lembaga pendidikan semacam universitas membutuhkan kepemimpinan responsif agar tidak ketinggalan zaman. Kepemimpinan responsif merupakan bagian dari kepemimpinan transformatif yang tanggap terhadap kebutuhan siswa/mahasiswa, komunitas pendidikan dan masyarakat luas. Jenis kepemimpinan ini penting, mengingat lembaga pendidikan, selain berdiri atas inisiatif pengasuh, dalam perkembangannya tetap juga melibatkan masyarakat sekitarnya. Sebab itu, menjadi hal yang wajar bahwa pengasuh uiniversitas (mulai dari rektor, dosen, asisten dosen, sampai tenaga administratif) menyampaikan informasi-informasi penting tentan kepercayaan yang diberikan kepada pengasuh atau pemimpin mereka.
Caldwell dan Spinks mendefinisikan kepemimpinan responsif merupakan akuntabilitas ke dalam proses pemberian informasi kepada pihak lain, dalam memberi penilaian terhadap suatu program. Dalam konteks universitas, proses pemberian informasi dapat dilakukan secara internal, termasuk wali mahasiswa. Akuntabilitas dapat pula dilakukan secara ekternal, yakni pemimpin universitas menyampaikan informasi kepada pihak luar, termasuk instansi terkait, masyarakat sekitar, dan masyarakat luas tentang sejauh mana lembaga telah merespon kebutuhan mahasiswa. Pemberitahuan dapat juga fleksibel dengan membentuk forum yang paling memungkinkan diselenggarakan lembaga pendidikan, misalkan, dies natalis, temu wali mahasiswa, dan even ilmiah.
Bagaimana sosok kepemimpinan yang responsif? Merujuk kepada definisi tadi, sosok kepemimpinan responsif adalah:
Pertama, pemimpin yang tanggap terhadap pemahaman bahwa universitas sebagai lembaga pendidikan harus memberikan pelayanan yang baik kepada mahasiswa, alumni dan masyarakat luas.
Kedua, pemimpin yang selalu terbuka dan ikhlas untuk menampung aspirasi demi kemajuan lembaga.
Ketiga, sebagai pemimpin kultural, pengasuh universitas harus mampu bekerjasama dalam rangka mengayomi dan memelihara budaya lokal yang berbasis pada nilai-nilai moral, etik dan spiritual.
Keempat, sebagai pemimpin yang edukatif harus proaktif menganalisis informasi tentang teknologi pendidikan yang inovatif dan berusaha melengkapi sarana dan prasarana yang diperlukan.
Kelima, pemimpin responsif juga kreatif mengoptimalkan fasilitas dalam mendaya-gunakan sarana pendidikan dan pengajaran yang terbatas.
Keenam, banyak menggali informasi dari hasil evaluasi bawahan (dosen-dosen dan tenaga administratif) selanjutnya menjalin kerjasama yang baik untuk memperbaiki strategi manajemen dengan melakukan proses pengambilan keputusan yang demokratis.
Ketujuh, pemimpin yang responsif senantiasa terbuka terhadap gagasan-gagasan inovatif dan reformatif.
Kepemimpinan responsif tidak menempatkan seorang pemimpin yang hanya main perintah atau minta dilayani. Kepemimpinan responsif menempatkan seorang pemimpin yang senantiasa menerapkan asas melayani mereka yang dipimpin. Dan, Rektor Universitas PGRI NTT Semuel Haning sangat cocok dengan pola kepemimpinan responsif. Dalam dirinya telah melekat nilai dan prinsip melayani.  
Hal ini tampak pada pandangan tentang kepemimpinan sebagai rektor sebuah universitas sesaat setelah Semuel Haning terpilih sebagai Rektor Universitas PGRI NTT. “Saya pikir apapun yang terjadi kita harus siap. Kenapa saya katakan harus siap, karena seorang pemimpin bukan sebagai seorang komando. Filosofi saya sebagai seorang pemimpin, pertama, adalah sebagai pelayan. Artinya, melayani dengan baik kepada seluruh masyarakat dan kepada seluruh jajaran yang ada di kampus ini. Kedua, bersikap manajer, mengambil keputusan bersama-sama, tidak dengan cara komando dari atas ke bawah. Ketiga, bersikap sebagai seniman. Arti kata, ketika kita harus senang ya senang bersama-sama, susah juga harus sama-sama,” tutur Sam.
Sam berkehendak menularkan mindset melayani ini kepada segenap civitas akademika Universitas PGRI NTT. Mengubah mindset dari tradisi dilayani menjadi tradisi melayani dan dari kebiasaan menerima baru kemudian memberi menjadi kebiasaan memberi terlebih dulu untuk menggapai apa yang diinginkan di kemudian hari. Pengalaman ruhaniah Sam Haning mengajarkan betapa dahsyatnya prinsip “memberi dulu baru menerima, melayani dulu baru kemudian dilayani”.
Di dalam kehidupan keseharian ini, kebanyakan orang cenderung berpikir untuk ”menerima dulu baru kemudian memberi“. Sebetulnya banyak orang telah meyakini pola pikir yang berlawanan dari arus tersebut. Banyak orang yang meyakini prinsip “memberi dulu baru menerima kemudian”. Sekadar contoh orang-orang yang menjalankan bisnis online di dunia maya. Bayangkan saja ketika kita melihat sebuah blog atau sebuah website yang berisi banyak sekali informasi ‘gratis’ di sana. Si pemilik blog rajin sekali meng-update blog-nya. Bila kita pikir-pikir, dari mana dia memperoleh keuntungan, padahal dia cuma memberi saja dan belum menerima apapun.
Begitu pula ketika kita melihat sebuah website yang memberikan “Tips atau Newsletter gratis” yang kemudian sering mengirimkan tips-tips secara berkala, juga gratis, seakan-akan si pemilik website tidak mendapat apa-apa saat dia sedang memberi. Mereka sedang mempraktikkan prinsip “beri dulu terima kemudian”.
Pemahamannya relatif sederhana. Si pemilik blog atau website tadi memberi dulu informasi secara gratis. Lalu, mulailah datang banyak pengunjung ke blog atau website mereka. Apalagi mereka memberi secara ‘tulus’ dengan ‘isi’ yang bermutu tinggi. Serta merta pengunjung akan merasa senang dan menaruh kepercayaan dengan ketulusan mereka.
Selanjutnya, bila mereka menyarankan pengunjung tentang sebuah program bisnis atau produk yang bagus berkaitan dengan blog/website mereka, maka banyak dari pengunjung sudah menaruh rasa ‘percaya kepada mereka’ dan dengan senang hati membeli apa yang mereka tawarkan atau sarankan.
Alasan yang sama menerangkan mengapa banyak seminar bisnis diberikan secara gratis alias preview sebelum kemudian kita datang, “merasa tidak enak” lantaran sang pembicara menjelaskan dengan begitu antusias dan sikap tulus. Rasanya kok kita memperoleh sesuatu yang demikian berharga secara ‘gratis’ lalu dengan senang hati biasanya kita akan memutuskan untuk ikut ‘PERHELATAN yang sesungguhnya’.
Banyak hal yang semula gratis di internet namun sekarang ‘berbayar’. Yahoo Classified sekadar contoh, jika dulu kita pasang iklan di sana, gratis, sekarang sudah harus berbayar. Banyak juga blogger atau pebisnis online yang semula, ketika belum sepopular sekarang, memberikan informasi gratisan saja. Setelah mereka belajar sangat banyak, dan menjadi sangat tahu, mereka sudah memiliki pembaca yang loyal, maka saatnya mereka mulai menerima dengan menjual sesuatu atau menawarkan sesuatu yang ‘berbayar’.
Di masa kepemimpinan Sam Haning yang melayani, tepatnya mulai 23 Maret 2011, Universitas PGRI NTT membuka jaringan website sendiri, yakni www.pgrintt.ac.id. Website yang peresmiannya dilakukan oleh Wakil Gubernur NTT Esthon Foenay ini berisi seputar informasi mengenai kampus Universitas PGRI NTT dan diharapkan dapat memberi manfaat untuk seluruh civitas akademika dan masyarakat luas.
Semuel Haning menandaskan bahwa keberadaan website di sebuah lembaga pendidikan tinggi merupakan suatu kebutuhan dan memberikan pelayanan terbaik buat segenap civitas akademika dan masyarakat luas. "Ini merupakan kebutuhan karena sebuah lembaga pendidikan membutuhkan akses informasi yang cepat di bidang ilmu pengetahuan dan pendidikan," jelas Sam sembari menambahkan, "Suatu saat nanti mahasiswa juga bisa melihat nilai di website sehingga lebih efektif," katanya.
Untuk menunjang penggunaan perangkat teknologi informasi tersebut, Universitas PGRI NTT telah mempersiapkan perangkat yang memadai dan sumber daya pengelola yang handal pula. "Untuk tahap awal barangkali belum maksimal, namun kami akan terus melakukan pembenahan sehingga semakin baik ke depan," terang Sam.
Selain terus meningkatkan pelayanan, Sam pun terus mengasah kepemimpinan responsif dalam dirinya. Salah satunya, dia kerap ikut turun langsung mendampingi mahasiswa Universitas PGRI NTT yang melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di berbagai desa di Provinsi NTT.
Misalkan saat KKN Mahasiswa Universitas PGRI NTT pada bulan Agustus 2012. Semuel Haning tidak mau membiarkan mahasiswa dari universitas yang dipimpinnya itu berjalan sendirian di lokasi KKN. Bersama rombongan dari Universitas PGRI NTT, Ketua Pengabdian Pada Masyarakat (PPM) Pius Bere, dua orang dosen pendamping lapangan Rudy Isu dan Darmanto Kise, Sam Haning meninjau langsung kondisi mahasiswa KKN dari universitas ini. Dia ingin melihat apa saja yang dibutuhkan mahasiswa saat KKN.
Dua lokasi yang dikunjungi sebagai lokasi KKN (9-12 Agustus 2012) itu ada di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), yakni 12 desa di Kecamatan Noemuti dan sembilan desa di Lamaknen. "Kami melakukan kunjungan sampai pelosok-pelosok desa supaya mengetahui kondisi mahasiswa maupun daerah serta penerimaan masyarakat setempat," ujar Sam Haning.
Menurut Sam, kunjungan tersebut dilakukan juga sebagai bentuk perhatian dirinya sebagai pimpinan perguruan tinggi. "Sebagai bapak, tentunya saya tidak bisa menelantarkan anak-anak saya. Saya harus selalu mengetahui kondisi mereka. Selain itu untuk memantau perkembangan nyata KKN para mahasiwa di lokasi," tuturnya.
Desa-desa yang menjadi sasaran KKN mahasiswa Universitas PGRI, jelas Sam, merupakan desa-desa basis pembangunan desa mandiri. Dan, kunjungan Rektor Sam Haning bersama stafntya tersebut mendapat apresiasi serta sambutan hangat dari masyarakat setempat.
Dijelaskan Sam Haning, mahasiswa KKN, pemerintah dan masyarakat harus memiliki hubungan kedekatan. "Harapannya agar mahasiswa KKN bisa melakukan hal-hal terbaik, dengan demikian maka akan menjaga nama citra mahasiswa itu sendiri ataupun lembaga Universitas PGRI. Masyarakat umumnya sangat antusias dengan kunjugan kami," ujarnya. Bahkan, katanya lebih lanjut, “Kami sempat diterima secara adat saat melakukan kunjungan ke desa-desa. Di Kantor Camat Lamaknen, kami sempat memberikan bantuan berupa komputer dan printer.”
Sekali lagi, dalam memimpin Universitas PGRI NTT, Sam berusaha membaktikan tangan dan pikirannya sepenuh hati pada segenap civitas akademika PTS terbesar di NTT ini. Dengan begitu dia bisa bersikap profesional pada segenap jajaran pimpinan dan bawahan di universitas yang bernaung di bawah YPLP PGRI NTT itu.
Sebuah totalitas seorang Sam Haning, sebagaimana dia ungkapkan, “Kami tidak boleh menyusahkan orang lain, tidak boleh menyakiti orang lain. Ini penting. Kami harus bersikap profesional saat menjalankan tugas. Kenapa saya katakan itu, karena kalau kantor saya buka satu kali 24 jam, maka saya juga ada di sini satu kali 24 jam. Di sini buka setiap saat dan siapa saja boleh masuk, termasuk masyarakat luas, mahasiwa dan pegawai boleh saja datang. Organisasi kepemudaan, OKP lain datang untuk diskusi, saya layani.”
Totalitas itu tercermin pula pada sikap sama-sama saling menghargai satu dengan lain di kalangan civitas akademika Universitas PGRI NTT. “Yang senior saya anggap bapak saya, saya tidak anggap staf atau bawahan. Jujur, banyak dosen dan pimpinan di sini umurnya di atas 60 tahun. Tetapi saya anggap mereka itu orangtua saya dan ketika kita melakukan itu adalah keputusan bersama. Saya juga menerima pertimbangan-petimbangan dari mereka ketika saya mengambil keputusan. Supaya kami tidak ada ketersinggungan antara satu dan lainnya.”

B.    Memacu Potensi di Tengah Keterbatasan
Saat ini, Universitas PGRI NTT didukung oleh tenaga administrasi berstatus Pegawai Tetap sebanyak 105 orang dan tenaga laboratorium sebanyak tujuh orang. Tenaga administrasi dan tenaga laboratorium sebanyak itu menjadi daya dukung bagi jalannya perkuliahan yang diasuh oleh 72 Dosen Tetap dan 127 Dosen Tidak Tetap bergelar Sarjana, Magister dan Doktor. Yang agak merepotkan, pucuk pimpinan pada aras Fakultas dan Universitas dijabat oleh Dosen-Dosen PNS dari Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang --dengan kata lain pensiunan Dosen PNS Undana. Seluruh Dekan adalah Dosen PNS Undana.
Secara sedikit rinci kekuatan Universitas PGRI NTT dapat digambarkan berikut: pertama, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) yang dipimpin Dekan Drs. Jonas Thene, M.Si. Dalam tugas-tugas keseharian Dekan FKIP dibantu oleh Pembantu Dekan Bidang Akademik Temy Ingunau, S.Pd.M.Si; Pembantu Dekan Bidang Kemahasiswaan Robinson Kerihi, S.Pd.M.Pd; Ketua Program Studi Bimbingan Konseling Drs. Imanuel Lohmay, M.Pd, Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa & Sastra Indonesia Drs. S. H. Nitbani, M.Pd; Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Rudolof J Isu, S.Pd.M.Si; Ketua Program Studi Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi (PJKR) Drs. Okto Fufu, M.Pd;  dan Ketua Program Studi Pendidikan Sejarah Drs. Djakariah, M.Pd.
Kedua, Fakultas Hukum yang dipimpin oleh Dekan Simson Lasi, SH.MH. dia dibantu oleh Pembantu Dekan  Bidang  Akademik Marthen Dillak, SH.M.Hum; Pembantu Dekan Bidang Kemahasiswaan Melianus Toineno, SH. M.Hum;   dan Ketua Program Studi Ilmu Hukum Melianus Toineno, SH. M.Hum.
Ketiga, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) dipimpin oleh Dekan DR. Drs. Frans Kia Duan, M.Si. Frans Kia dibantu Pembantu Dekan Drs. Sipri R. Toly, M.Si dan Ketua Program Studi Biologi                                                  Drs. Moses Tokan, M.Si.
Keempat, Fakultas Ekonomi yang dipimpin oleh Dekan Lende Dangga, SE. M.M. Di sini dia dibantu Pembantu  Dekan   Bidang  Akademik Drs. M.U.K. Yewang, M.M yang merangkap sebagai Pembantu Dekan  Bidang  Kemahasiswaan; Ketua Program Studi Studi Pembangunan Daud Amarato D. Dede, SP.M.Si; Ketua Program Studi Manajemen Stefanus Reinati, SE. M.M; dan Ketua Program Studi Akuntansi Made Sulistywati, SE, M.M.              
Kelima, Fakultas Pertanian yang dipimpin Dekan Noh Nesimnasi, SPt.M.Si. Untuk menggerakkan perkuliahan di Fakultas Pertanian, dia merangkap sebagai Pembantu Dekan dan dibantu oleh Ketua Program Studi Agroteknologi Moresi M. Airtur, SP.M.Si.
Guna menjaga mutu pendidikan di lingkungan universitas, Universitas PGRI NTT memiliki Badan Penjamin Mutu Pendidikan (BPMP) yang diketuai oleh Prof. Dr. Drs. Simon Sabon Ola, M.Hum.                 
Sebagai sebuah lembaga akademis, Universitas PGRI NTT juga memiliki Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) yang diketuai oleh Heny M.C. Sine, SPt.M.Si. Lembaga ini memiliki kelengkapan organisasi seperti Sekretaris Antonius Katto, S.Pd.M.Hum; Kepala Pusat Studi Lingkungan Hidup Ir. Nur Aini Bunyani, M.Si; Kepala Pusat Pengkajian HAM & Gender D.L.N. Bessie, SH. M.Hum; dan Kepala Pusat Pengabdian Kepada Masyarakat Pius Bere, SH.M.Hum.
Sementara itu untuk kelancaran pelayanan administratif, Universitas PGRI NTT membentuk unsur pelaksana administrasi. Rinciannya adalah Biro Administrasi Akademik, Kemahasiswaan, Perencanaan dan Sistem  informasi (BAAKPSI) yang diawaki oleh Kepala Biro Uly Jonathan Riwu Kaho, SP.M.Si; Kepala Bagian Administrasi Akademik Nehemia Neolaka, S.H. (Plt) dan Kepala Bagian Perencanaan dan Sistem Informasi Marthen Pattiani, S.H. (Plt). Di sini ada juga Biro Administrasi Umum dan Keuangan (BAUK) dengan Kepala Biro David R. E. Selan, SE.M.M; Kepala Bagian Umper Merry A. Benu, S.H. (Plt); Kepala Bagian Keuangan Aplonia Atto, S.E. dan Kepala Bagian Kepegawaian Diana Koehuan, SH.
Kemudian masih ada lagi unsur penunjang (UPT), masing-masing UPT Perpustakaan yang dikepalai oleh Fadianus Haning, S.E. MM, UPT Komputer yang dikepalai Gud R. H. Padje, S.Pd dan UPT MPK/MBB yang dikepalai oleh Drs. Ch. Kana.
Sam Haning mengakui bahwa kekuatan dan potensi yang dimiliki oleh Universitas PGRI NTT masih relatif terbatas. Dari SDM Dosen misalkan, sejauh ini belum ada yang berkualifikasi guru besar atau profesor. “Ke depan kami ingin memiliki dosen-dosen yang berkualifikasi profesor, terutama yang memang mencapai guru besar melalui proses di Universitas PGRI NTT,” terang Sam Haning.
Melihat jumlah mahasiswa aktif Universitas PGRI NTT yang kini mencapai 11.000 orang, tutur Sam Haning, fasilitas gedung yang saat ini berupa gedung rektorat empat lantai dan dua gedung faktultas berlantai dua rasanya masih jauh dari kata cukup. Kendati demikian, dia terus bekerja keras untuk memenuhi fasilitas yang dibutuhkan. ”Saat ini kami telah membeli tanah kaveling yang siap bangun untuk menambah kekurangan sarana gedung perkuliahan,” jelas Sam Haning.
Dengan keterbatasan yang ada, Sam Haning terus mendorong buat mengoptimalkan fasilitas dan sarana yang ada. Misalkan dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M), Universitas PGRI NTT siap berkiprah dalam membangun masyarakat NTT agar lebih baik di masa depan. Dengan tenaga ahli dari lima fakultas, LP2M Universitas PGRI NTT siap membantu pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) dan sumber daya alam (SDA) potensial di wilayah RI berbatasan dengan Benua Australia ini. LP2M akan terus mendorong munculnya penelitian-penelitian yang mampu memberikan kontribusi bagi terwujudnya provinsi jagung, provinsi ternak, provinsi cendana dan provinsi koperasi. “Kami siap memberdayakan potensi yang relatif terbatas ini demi kemajuan masyarakat NTT,” ujar Sam Haning mantap.

C.   Bersinergi dan Jalin Kerjasama dengan Multistakeholder
Untuk menyiasati segala keterbatasan potensi dan fasilitas yang dimiliki Universitas PGRI NTT, Sam Haning berusaha aktif membangun jejaring dengan multistakeholder dunia pendidikan khususnya dan masyarakat luas umumnya.
Beberapa upaya merajut sinergi dan kerjasama dengan multistakeholder yang telah dilakukan di antaranya: mendorong peran aktif Universitas PGRI NTT untuk memajukan pemakaian Bahasa Indonesia di lingkungan masyarakat NTT. Hal ini ditandai dengan sejumlah pagelaran karya ilmiah, seni budaya, dan seminar internasional pada bulan Oktober 2012.
Rangkaian kegiatan yang digelar itu mengusung tema “Bahasa dan Budaya Sebagai Penciri Peradaban Komunitas yang Multidimensi”. Sedangkan khusus untuk kegiatan seminar, mengusung tema, “Penguatan Budaya dan Jati Diri Bangsa yang berorientasi Global”. Sementara itu lomba karya ilmiah diikuti oleh pelajar SMA dan mahasiswa di Kota Kupang. Dan untuk pagelaran seni diikuti mahasiswa Universitas PGRI NTT mewakili daerahnya masing-masing.
Seminar internasional dihadiri dua negara, yakni Timor Leste dan  Amerika Serikat. Kegiatan yang digelar pada 24 Oktober 2012 itu mengambil tempat di Aula El Tari. Seminar ini juga merupakan agenda tahunan PGRI, Republik Democratic Timor Leste, dan Amerika Serikat. Tahun 2012 PGRI yang menjadi tuan rumah, sedangkan tahun 2011 lalu berlangsung di Timor Leste.
Semua rangkaian kegiatan itu diawali pagelaran seni. Selain kegiatan tersebut, dilakukan pula penandatanganan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) antara PGRI dan Pusat Bahasa Jakarta. Penandatanganan MoU antara Pusat Bahasa Jakarta dan PGRI merupakan kerjasama yang pertama antara Pusat Bahasa dan lembaga pendidikan di wilayah Provinsi NTT.
Samuel Haning menjelaskan bahwa kegiatan yang dilakukan dalam rangka memperingati Bulan Bahasa ini bertujuan membantu para dosen dan mahasiswa untuk memperluas cakrawala pandang. “Ini bentuk kami memaknai Bulan Bahasa dan ingin membantu dosen ataupun mahasiswa untuk menambah wawasan,” katanya.
Berkaitan kerjasama dengan Negara lain, Universitas PGRI Nusa Tenggara Timur (NTT) sudah sejak tahun 2011 menjalin kerja sama dalam bidang pendidikan dengan Pemerintah Republik Democratic Timor Leste (RDTL). Jalinan kerja sama di bidang pendidikan ini dilakukan dengan melakukan kunjungan ke negara bekas Provinsi ke-27 Republik Indonesia itu.
Sam Haning menerangkan, pihak Universitas PGRI NTT melakukan kunjungan ke Timor Leste pada tanggal 9-12 Mei 2011. Dalam kunjungan itu, Sam Haning dan rombongan melakukan pertemuan dengan Rektor Universitas Nasional Timor Lorosae (UNTL), Ligia Tomas Correira, M.Sc, dan melakukan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dengan UNTL, Prof. Dr. Aurelio Guteres.
Selanjutnya, kata Sam Haning, pihak Universitas PGRI NTT melakukan pertemuan dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga (PPO), Ir. Miguel Manetolu. Pihak Universitas PGRI NTT juga melakukan pertemuan dengan Perdana Menteri RDTL, Kay Rala Xanana Gusmao, dan pertemuan dengan semua anggota parlemen nasional Timor Leste yakni Komisi C (bidang Kesehatan, Pendidikan dan Kebudayaan) dan pertemuan dengan Wakil Menteri Luar Negeri, Albertho Xavier Pereira Carlos.
Menurut Sam Haning, inti pertemuan tersebut adalah untuk merealisasikan kerjasama antara RDTL dan Universitas PGRI di bidang pendidikan. Pada dasarnya masyarakat Timor Leste meyakini bahwa Indonesia dan Timor Leste berasal dari satu nenek moyang dan tidak dapat dipisahkan.
Dalam kunjungan tersebut, demikian kata Sam Haning, pihak Universitas PGRI NTT juga tampil sebagai salah satu pembicara dalam seminar internasional di RDTL dan tampil sebagai pembicara dari lembaga ini adalah Rudy Iso.
Pada tahun 2011 lalu, Universitas PGRI NTT menjadi tuan rumah seminar internasional yang membicarakan tentang bahasa ibu antara Timor Leste dan beberapa negara yang merupakan kerjasama antara RDTL, Universitas Udayana dan Universitas PGRI NTT.
Jejaring kerjasama terus diperluas. Pertengahan tahun 2012, Universitas PGRI NTT menjalin kerjasama dengan Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) NTT dalam rangka mendukung Grand Design Penyiaran NTT 2012-2018. Kerjasama itu ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) yang dilangsungkan di ruang rapat Komisi D DPRD NTT pada awal Juni 2012.
Selain MoU bersama KPID NTT, Universitas PGRI Kupang juga melakukan penandatanganan MoU Literasi Media. Semuel Haning berharap kerjasama ini dapat bermanfaat ganda, tidak saja untuk kebutuhan pendidikan mahasiswa PGRI namun dapat pula memberikan manfaat untuk masyarakat luas.
Sam Haning merasa optimis bahwa kerjasama perguruan tinggi dengan KPID NTT dan KPI Pusat akan menjadi saluran informasi kepada masyarakat, khususnya di daerah perbatasan.
Usai penandatanganan MoU, dilanjutkan dengan Workshop Penyiaran Khusus bagi wilayah perbatasan. Ketua KPID NTT, Mutiara Mauboy, menerangkan, alasan mendasar workshop penyiaran perbatasan diselenggarakan antara lain untuk meminimalisir ancaman siaran negara asing yang membahayakan pertahanan nasional dan kedaulatan negara.
Ancaman di daerah perbatasan itu, menurut Mutiara, bukan saja berasal dari kekuatan militer, melainkan juga ancaman nirmiliter dalam bentuk masuknya siaran dan informasi dari negara lain yang diterima masyarakat di daerah perbatasan. Dia menegaskan bahwa penyiaran di perbatasan wajib mendapat perhatian serius semua pihak. Sebab, dikhawatirkan nilai budaya lokal akan tergerus oleh arus budaya luar negeri.
Keterbatasan daya jangkau siaran nasional dan penetrasi siaran luar negeri jika tidak ditangani dengan baik akan semakin menciptakan kesenjangan informasi yang berimplikasi pada melemahnya semangat nasionalisme masyarakat di perbatasan.
Tahun 2012, Provinsi NTT menerima 14 radio komunitas. Radio itu akan tersebar di empat kabupaten perbatasan yaitu Kabupaten Kupang, Rote Ndao, Alor dan Kabupaten Belu. Selama ini penyaluran radio ini terwujud berkat bantuan Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Pertahanan dan Keamanan, dan Kementerian Kelautan dan Perikanan.
Selain jainan kerjasama dengan lembaga pemerintahan dan organisasi profesi, Universitas PGRI NTT pun tidak lupa merajut tali kerjasama dengan tokoh masyarakat –terutama tokoh agama—demi terciptanya kerukunan dan tertib sosial-kemasyarakatan. Hal ini dapat kita lihat pada doa syukuran bersama lintas agama dalam rangka wisuda angkatan ke-XI Universitas PGRI NTT pada Agustus 2012. Doa bersama itu diwakili dari agama Islam, Haji Amir Kaming, Pendeta Laazar P.F. de Haan, SmTh (Kristen Protestan), Romo Rudi Tjung Lake, Pr (Katolik) dan Supriadi (Hindu). Keempat rohaniawan ini mendukung dan mengapresiasi doa bersama yang dilaksanakan di Universitas PGRI NTT.
Semuel Haning mengatakan doa syukuran bersama lintas agama tersebut dilaksanakan sebagai bentuk membangun semangat toleransi kehidupan beragama baik di Universitas PGRI maupun untuk kehidupan berbangsa dan bernegara.
Haji Amir Kiwang, misalnya, mengatakan, kegiatan yang dilaksanakan tersebut kiranya menjadi contoh bagi institusi atau perguruan tinggi lain dalam rangka membangun kemitraan maupun membangun semangat kehidupan toleransi antar-umat beragama mulai dari dunia kampus.
Senada Pendeta Laazar P.F. de Haan memberikan apresiasi yang tinggi terhadap apa yang dilakukan Universitas PGRI NTT. "Semoga kegiatan ini bisa membias hingga dapat memberikan contoh atau panutan yang baik dan pantas ditiru,” ujar de Haan.
Universitas PGRI NTT sudah menjadi pioner dan ke depannya agar bisa membias ke perguruan-perguruan tinggi yang lain. Semoga kegiatan bisa terus berkelanjutan.
Sam Haning ingin Universitas PGRI NTT benar-benar berusaha mengajari menghilangkan kelemahan dan penderitaan manusia, membimbing masyarakat di atas jalan yang benar. Sam tidak ingin Universitas PGRI NTT menjadi sesuatu yang tidak berharga dan akan tetap demikian sampai hari kiamat tiba. ***