Showing posts with label Simalungun Berhati. Show all posts
Showing posts with label Simalungun Berhati. Show all posts

Tuesday, March 11, 2014

Gaya Kepemimpin Multitalenta JR Saragih


 
Rakyat akan takluk pada pemimpin yang cerdas, berprestasi dan melayani dengan hati, bukan lantaran banyaknya uang, popularitas, ketampanan dan janji.
Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, Cendekiawan

KESULITAN dan pahit getir kehidupan telah menempa sosok Jopinus Ramli (JR) Saragih menjadi pribadi yang matang, tangguh, memiliki dan mampu memberdayakan banyak talenta yang ada di dalam dirinya. Dia demikian kuat menghadapi berbagai problematika dan persoalan hidup senantiasa mendera anak manusia tiada henti. Selalu ada solusi manakala permasalahan menghampirinya.
Meminjam kata-kata bijak motivator Gde Prama(1997), JR Saragih ibarat sebatang pohon tangguh yang tersisa dari cuaca yang sulit dan tak menentu. Sebuah kondisi sulit dan sukar akan menciptakan kesempatan untuk menunjukkan kepada semua orang bahwa Anda pohon yang tangguh itu.
Kesulitan hidup yang datang silih-berganti, pada prisipnya, akan menempa seseorang menjadi kuat dan matang secara emosional. Bagai sepotong baja yang menjadi demikian kuat lantaran ditempa panasnya api dan kerasnya palu godam. Pun demikian kekuatan emosional manusia akan semakin kuat dan matang manakala ditempa oleh kesukaran dan jalan terjal rona kehidupan.
Seorang motivator dari Harvard University, Prof. Daniel Goleman, menandaskan bahwa faktor emotional quotient (EQ) merupakan faktor utama yang lebih berpengaruh dibandingkan intellectual quotient (IQ) dalam menentukan kesuksesan seseorang.
JR Saragih merasa bersyukur bilamana selama ini dirinya ditempa oleh berbagai riak dan gelombang kehidupan yang menjadi kawah candradimuka “pembentuk” manusia tahan banting dengan emosi yang matang. Dia mengakui bahwa sekolah terbaik ada di dalam kehidupan ini. Dia tidak menghindar atau bersembunyi di balik perjalanan hidup yang sulit dan terkadang teramat pahit. Dari masa getir ditinggal orang-orang terkasih, himpitan kemiskinan, kemacetan di jalan-jalan raya, perselisihan di rumah tangga, intrik antar-tetangga sampai sikut-sikutan antar-dosen atau antar-politisi. Dia tidak pernah berusaha mengindari semua itu. Dia langsung menghadapi dan berusaha mencari jalan keluar agar jangan sampai mengalami kebuntuan.
Dengan menghadapi secara langsung problematikan kehidupan dan berupaya mencari jalan keluar dari kebuntuan, JR Saragih mampu mengasah semua talenta yang terpendam di dalam dirinya. Dia mampu tampil menjadi manajer yang baik, pemimpin yang mengayomi, motivator yang memberikan suluh bagi siapa saja yang akan tersesat, dan berlapang hati ketika menghadapi persoalan yang nyaris tak bertepi.
Perjalanan hidupnya yang kaya warna-warni menjadikan JR Saragih mampu tampil sebagai sosok pemimpin yang mengusung delapan unsur alam semesta (hasta brata) dalam perilaku dan gaya memimpin. Delapan unsur tersebut adalah Bumi, Matahari, Bulan, Samudra, Bintang, Angin, Api, dan Air. Setiap unsur dari delapan unsur alam ini memiliki sifat tersendiri dan dapat dikatakan mewakili simbol kearifan dan kebesaran Sang Pencipta.
Kedelapan unsur alam itu sejatinya menyiratkan keharmonisan sistem alam semesta. Pada hakikatnya kedelapan sifat tersebut merupakan manifestasi keselarasan yang terdapat pada tata alam semesta yang diciptakan Tuhan, dan manusia harus menyelaraskan diri dengan tata alam semesta kalau ingin selamat dan terhindar dari malapetaka. Bila manusia, sebagai ciptaan Tuhan, bisa selaras dengan alam semesta, maka selaraslah seluruh kehidupannya.
Intinya, delapan unsur alam tersebut dapat dimanifestasikan bahwa seorang pemimpin harus dapat memberikan kesejukan dan ketentraman kepada warganya; membasmi kejahatan secara tegas tanpa pandang bulu; bersifat bijaksana, sabar, ramah dan lembut; melihat, mengerti dan menghayati seluruh warganya; memberikan kesejahteraan dan bantuan bagi warganya yang membutuhkan; mampu menampung segala sesuatu yang datang kepadanya, baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan; gigih dalam mengalahkan musuh dan dapat memberikan pelita bagi warganya.

A.   Kepemimpinan Hasta Brata
Hasta Brata yang merupakan teori kepemimpinan, berisi mengenai hal-hal yang disimbolisasikan dengan benda atau kondisi alam. Teori ini berasal dari ajaran filsafat kepemimpin Jawa (Kuno) yang masih relevan diterapkan pada masa sekarang. Ajaran Hasta Brata lazimnya menjadi landasan kebatinan yang memberi motivasi kepada setiap pemimpin, khususnya bagi sosok pemimpin yang meyakini ajaran filsafat kepemimpinan Jawa dan ingin menjadi pemimpin yang berhasil menegakkan kebenaran untuk memerangi keburukan.
Ajaran Hasta Brata berisi delapan ajaran perilaku (mengacu pada sifat unsur alam) yang harus dipunyai seorang pemimpin. Kedelapan ajaran perilaku tersebut meliputi:
Sifat Bumi, memberikan tempat hidup bagi manusia, hewan dan tumbuhan. Dalam konteks kepemimpinan masa kini, sifat Bumi ini dapat diterjemahkan menjadi sifat seorang yang suka memberikan perhatian kepada fakir miskin dan kaum lemah. Seorang pemimpin yang menguasai sifat Bumi akan mengarahkan kekuasaannya untuk mensejahterakan rakyat dan mengentaskan kemiskinan.
Sifat Matahari, menjadi sumber energi yang memberi kekuatan untuk menyokong kehidupan. Matahari memberikan kekuatan pada makhluk hidup yang ada di muka bumi. Dalam implementasi masa sekarang, seorang pemimpin yang menguasai sifat Matahari dapat memberikan inspirasi dan semangat kepada rakyatnya untuk menyelesaikan segala persoalan yang dihadapi. Pemimpin yang menguasai sifat Matahari adalah dia yang siap membela rakyatnya yang tertindas.
Sifat Bulan, menjadi sumber cahaya bilamana malam tiba. Dengan begitu, pada hakekatnya Bulan merupakan sang penerang makhluk hidup dari kegelapan malam hari di muka bumi. Jika diejawantahkan ke dalam kerangka kepemimpinan masa kini, maka seorang pemimpin yang menguasai sifat Bulan adalah mereka yang mampu menjadi penuntun dan memberikan pencerahan kepada rakyatnya. Pemimpin seperti ini diharapkan mampu memahami dan mengamalkan ajaran luhur yang terkandung dalam agama (religiusitas) dan menjunjung tinggi moralitas.
Di masa silam, sifat Bulan ini diterapkan oleh raja-raja Mataram, salah satu tandanya adalah dengan memberikan status/posisi kepada Sultan Hamengku Buwono sebagai Senopati Ing Ngalogo Ngabdurohman Sayidi Panoto Gomo Kalifatullah. Dalam konsepsi kepemimpinan Jawa, seorang pemimpin negara (kerajaan) juga sekaligus berfungsi sebagai ulama (pemimpin agama).
Sifat Samudra, luas dan lapang sebagai simbol dari kelapangan dada dan keluasan hati. Seorang pemimpin yang menguasai sifat Samudra akan mampu menerima kritikan dengan lapang dada, siap diberi saran sekalipun itu oleh bawahannya. Dia tidak akan melihat siapa yang berbicara, namun biasa mendengarkan apa yang dibicarakan. Dia akan menyediakan waktu dan senantiasa terbuka untuk menampung keluhan dan curahan hati rakyatnya.
Pada masa lalu, sekadar contoh, sifat Samudra ini juga tercermin dalam praktik kepemimpinan raja-raja Mataram dengan memberikan kesempatan kepada rakyat jelata untuk mengajukan protes kepada Raja melalui budaya pepe (berjemur), yaitu berjemur di alun-alun sampai Raja menemui dan mendengarkan curahan hati mereka.
Sifat Bintang, melukiskan posisi yang tinggi. Pemimpin yang menguasai dan memahami sifat Bintang akan menjadi pemimpin berkepribadian mulia sehingga menempati posisi (maqam) yang terhormat dan dihormati. Singkat kata, rakyat mencintainya dan disegani lawan, terutama lawan politik.
Sifat Angin, dapat masuk (menyusup) ke segala tempat. Sifat Angin dalam khasanah filsafat Jawa ini diartikan sebagai suatu bentuk ketelitian dan kehati-hatian. Dan dalam konteks masa kini, pemimpin yang menguasai sifat Angin adalah dia yang selalu terukur berbicaranya (tidak asal ngomong), setiap tutur katanya selalu disertai argumentasi serta dilengkapi data dan fakta yang kuat. Dengan begitu pemimpin yang menguasai sifat Angin ini akan selalu melakukan check and recheck sebelum berbicara atau mengambil keputusan.
Sifat Api,  membakar apa saja, tanpa pandang bulu. Besi sekalipun bisa leleh oleh Api. Dalam khasanah filsafat Jawa, Api dimaknai secara positif sebagai simbol dari sifat yang tegas dan lugas. Seorang pemimpin yang menguasai sifat Api akan cekatan dan tuntas dalam menyelesaikan persoalan yang dihadapinya. Juga selalu konsisten dalam menegakkan aturan, tegas (tidak pandang bulu) dan obyektif serta tidak memihak.
Sifat Air. Berbeda dengan Samudra yang lebih mewakili sifat luas (lapang) hati, Air memiliki sifat yang selalu mencari tempat yang lebih rendah. Pun demikian pemimpin yang menguasai sifat Air, dia akan selalu rendah hati dan tidak sombong apalagi semena-mena kepada rakyatnya.
Sekali lagi, Hasta Brata ini dapat dimanifestasikan dan diejawantahkan ke dalam nilai dan sikap bahwa seorang pemimpin harus mampu memberikan kesejukan dan ketentraman kepada warganya; menegakkan aturan hukum secara tegas (tanpa pandang bulu); bersifat bijaksana, sabar, ramah dan lembut; melihat, mengerti dan menghayati seluruh warganya; memberikan kesejahteraan dan bantuan bagi warganya yang membutuhkan; mampu menampung segala sesuatu (curahan hati) yang datang kepadanya, baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan; dan dapat memberikan pelita bagi warganya.
Tidaklah berlebihan bila kita mengatakan bahwa sosok JR Saragih merupakan pemimpin yang memegang erat dan menerapkan Hasta Brata ini selama memimpin Kabupaten Simalungun. Soal ketegasan misalkan, Kepala Polres Kabupaten Simalungun AKBP M. Agus Fajar Arkam SIK menyatakan, “Pak JR Saragih orangnya tegas, tidak ragu-ragu menindak anak buahnya yang (mungkin) berbuat salah atau kinerjanya kurang bagus. Repotnya, ketegasan itu kadang dirasakan oleh warga masyarakat di mana beliau dianggap terlalu cepat mengambil keputusan.”

B.   Sarat Ide Pemberdayaan
Berkat kekuatannya menerapkan nilai dan sikap Hasta Brata, selama memimpin Kabupaten Simalungun, Pak JR (demikian sapaan akrab JR Saragih) mampu menjadi penuntun dan memberikan pencerahan (sifat Bulan) kepada rakyatnya yang kebingungan hendak berbuat apa di tengah kecukupan sumber daya alam pertanian. Sebagaimana pada umumnya wilayah kabupaten yang mayoritas penduduknya hidup di sektor pertanian, Simalungun juga harus menghadapi persoalan posisi tawar petani yang relatif rendah. Mereka tidak tahu mesti ke mana memasarkan hasil-hasil panennya? Dan mereka selalu pula harus menghadapi harga anjlok di saat panen raya. Di benak Pak JR tersembul ide bagaimana agar posisi tawar petani menguat dan harga komoditi mereka tetap stabil kendati tengah mengalami panen raya.  
Sejak akhir 2011 sebagai contoh, Bupati JR Saragih mengaktifkan Stasiun Terminal Agribisnis (STA) Saribudolok untuk lebih menguatkan posisi tawar petani jeruk dan Pasar Tani di Kecamatan Raya buat memperkokoh potensi komoditi kopi unggulan dari Simalungun. Dia juga menyerahkan bantuan farm gate market kepada Asosiasi Pasar Tani Harapan Raya. Petani pun jadi memiliki kepastian hendak ke mana hasil-hasil panennya mesti dipasarkan.
Menurut Kepala Dinas Pertanian dan Hortikultura Pemerintah Kabupaten Simalungun Amran Sinaga, bantuan farm gate market sangat berguna untuk mendukung pemasaran hasil pertanian para petani Simalungun. Bantuan farm gate market diberikan sebagai salah satu upaya pemerintah dalam memudahkan petani memasarkan komoditi pertanian dan mendekatkan petani menuju agribisnis yang prospektif. Salah satu komoditi penting dari sektor pertanian Simalungun adalah Kopi Simalungun yang kini telah mewarnai kedai-kedai kopi kelas dunia. Dan komoditi Jeruk Saribudolok yang sempat tenggelam kalah bersaing dengan jeruk Cina diharapkan kembali menguat dan meramaikan pasar buah di berbagai kota besar di Indonesia.
Dalam hal memberikan pencerahan, Pak JR merangkul kalangan dunia usaha membangun sebuah pusat pelatihan untuk petani kopi Simalungun atau yang kini dikenal sebagai Farmer Trade Center (FTC). Dari pusat pelatihan FTC ini diharapkan terjadi transfer ilmu dari para konsultan kepada para petani kopi Simalungun. Dengan demikian, petani akan terus berusaha meningkatkan kualitas kopi yang mereka hasilkan sehingga mampu memenuhi permintaan konsumen dan secara otomatis meningkatkan taraf hidup para petani.

C.   Kreatif dan Inovatif
Masih dalam konsepsi nilai dan sikap kepemimpinan Hasta Brata, Pak JR cukup memahami bagaimana unsur Bhumi (bumi/tanah) yang memiliki sifat kuat dan murah hati. Bumi (tanah) senantiasa memberi hasil kepada yang merawatnya. Pak JR berusaha bermurah hati (melayani) pada rakyatnya untuk tidak mengecewakan kepercayaan rakyat yang telah memilihnya untuk mengemban jabatan Bupati Simalungun 2010-2015.
Sebagai pribadi yang telah berpengalaman pada bisnis-sosial klinik kesehatan yang kemudian bermetamorfose menjadi RS Efarina Etaham, Pak JR mengajak aparatur di lingkungan Dinas Kesehatan benar-benar memberikan pelayanan kesehatan kepada rakyat-masyarakat Simalungun.
Ketika memulai tugas sebagai Bupati Simalungun, JR Saragih menghadapi kenyataan keterbatasan aksesibiltas terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas, gender dan pada kelompok rentan seperti penduduk miskin, daerah tertinggal dan wilayah terpencil. Lalu kualitas sumber daya manusia kesehatan masih relatif rendah dan belum merata guna menunjang atau memberikan pelayanan kesehatan yang optimal.
Ketika itu pula, alokasi anggaran kesehatan –terutama untuk upaya preventif dan promotif serta mobilisasi Puskesmas—masih amat rendah. Juga pemanfaatan obat-obatan tradisioal atau obat asli Indonesia untuk pelayanan kesehatan komplementer alternatif pada sarana kesehatan formal kurang maksimal.
Melihat sumber daya yang relatif terbatas tersebut, JR Saragih berupaya memperkuat sumber daya yang ada dan memaksimalkan pelayanan yang apa adanya. Dia berusaha memperkuat sumber daya yang mengawaki Puskesmas di seluruh wilayah Kabupaten Simalungun. Dan, terobosan yang cukup inovatif adalah  membuka “Puskesmas 24 Jam” guna memberikan pelayanan kesehatan yang optimal kepada warga masyarakat yang sangat membutuhkan.
Sebagaimana sumber daya manusia (juga aparatur) pada birokrasi, sumber daya manusia di Puskesmas pun dipantik untuk memberikan pelayanan secara maksimal dengan membagi waktu kerja mereka ke dalam tiga shift. Dengan demikian, pelayanan di Puskesmas terus berjalan sepanjang 24 jam sehari dan tujuh hari dalam sepekan. Warga masyarakat yang berada di rentang jauh dari Puskesmas yang datang kapan saja dapat dilayani oleh tenaga medis dan tenaga paramedis yang ada di Puskesmas.   
Selain soal akses pelayanan kesehatan yang amat terbatas, penduduk Kabupaten Simalungun yang berjumlah 817.720 jiwa (tahun 2010) yang sebagian besar masuk kategori miskin juga menghadapi problem kualitas pendidikan yang belum baik, tingkat pendidikan rendah dan masih banyak yang buta huruf.
Mengingat kondisi yang relatif kurang bagus tersebut, Bupati JR Saragih berinisiatif membangun tiga pilar pendidikan secara bersamaan. Ketiga pilar tersebut: pemerataan dan perluasan aksesibiltas pendidikan; peningkatan mutu, relevansi dan daya saing; serta tata kelola, akuntabiltas dan pencitraan publik.
Pada aspek pemerataan dan perluasan aksesibilitas pendidikan, JR Saragih memprioritaskan dan menuntaskan program Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun dan segera mengimplementasikan Wajib Belajar 12 Tahun. Sementara untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan pendidikan,  JR mengirimkan guru-guru di Kabupaten Simalungun untuk mencapai kualifikasi pendidikan S-1. Dan untuk meningkatkan mutu anak didik, dia membuka Sekolah Unggulan. Dengan begitu, kualitas anak-anak sekolah lulusan dari wilayah Simalungun tidak kalah dibandingkan dengan lulusan yang sama/sederajat dari wilayah lain.
Lantas, sebagai orang yang relatif cukup waktu berkecimpung di sektor pendidikan, JR Saragih mengimplementasikan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dan Pendidikan Berbasis Masyarakat (PBM), standarisasi pelayanan pendidikan, serta pemutakhiran pengelolaan data dan informasi pendidikan. Prinsip-prinsip ini dia terapkan pada semua sekolah yang ada di Kabupaten Simalungun. Penerapan MBS dan PBM merupakan media guna meningkatkan parisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan dan pengawasan proses belajar-mengajar.
JR Saragih benar-benar kreatif dan inovatif buat meningkatkan pelayanan dan mutu pendidikan di seluruh wilayah Kabupaten Simalungun. Seluruh pengalaman dirinya saat membangun RS Efarina Etaham yang dilengkapi dengan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan Akademi Kebidanan dia curahkan, dia bagikan, kepada segenap aparatur dan stakeholders yang ada di Simalungun. Dia bertekad seluruh pengalamannya dapat memberi manfaat dan nilai tambah kepada semakin banyak orang.       
Dia betul-betul ingin merawat sumber daya manusia yang ada di sektor kesehatan dan pendidikan agar kelak kemudian hari ada hasil (kualitas manusia) yang bisa dipetik oleh rakyat-masyarakat Kabupaten Simalungun. Dia ingin menebar manfaat sebanyak-banyaknya sehingga dapat dinikmati oleh semakin banyak rakyat dan umat.
Dalam upaya merawat sumber daya manusia kesehatan dan pendidikan itu, memakai bahasa manajemen masa kini, JR Saragih menjadi sosok kreatif yang selalu melihat segala sesuatu dengan cara berbeda dan baru, dan biasanya tidak dilihat oleh orang lain. Dia mengetahui permasalahan secara sangat baik dan disiplin, dan dapat melakukan sesuatu yang sedikit berbeda dibandingkan cara-cara tradisional.

D.   Memantik Potensi Memetik Prestasi
Selama memimpin Kabupaten Simalungun, JR Saragih selaksa bintang di langit. Dalam konsepsi kepemimpinan Hasta Brata, Bintang atau Kartika, memiliki kekuatan memancarkan sinar kemilauan, berada di tempat tinggi hingga dapat dijadikan pedoman arah. Dengan demikian, seorang pemimpin hendaknya menjadi teladan bagi untuk berbuat kebaikan. Seorang pemimpin (terutama kepala daerah) mesti mampu memberikan arah hendak ke mana pembangunan daerahnya dilayarkan.
Mengingat sumber daya alam pertanian Kabupaten Simalungun sangat potensial, Bupati JR Saragih mengarahkan pada pengembangan agribisnis dan kemandirian pangan lokal. Untuk agribisnis, dia menitik-beratkan pada pendekatan pembentukan dan pengembangan kawasan agropolitan.
Dalam skala wilayah Provinsi Sumatera Utara sudah ada Pusat Agropolitan Dataran Tinggi Bukit Barisan yang dibentuk pada tahun 2002 melalui penanda-tanganan nota kesepahaman (memorandum of understanding) antara Pemerintah Kabupaten Tanah Karo, Dairi, Simalungun, Toba Samosir, dan Tapanuli Utara. Pemerintah Kabupaten Simalungun tinggal memanfaatkan kesempatan ini dengan mengarahkan seluruh pembangunan pertanian wilayahnya untuk memenuhi apa yang telah digariskan oleh nota kesepahaman itu. Sampai kemudian Pemerintah Kabupaten Simalungun membangun Stasiun Agropolitan di Saribudolok mengingat di sana terdapat komoditi andalan bernama jeruk. Tentu bukan hanya jeruk yang dikembangkan di Simalungun. Dia juga tetap mengembangkan padi agar bisa mencapai kemandirian pangan. Hasilnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan apresiasi sebagai Kabupaten yang telah mampu meningkatkan produksi beras di atas lima persen. Bupati JR Saragih menerima secara langsung penghargaan yang diserahkan oleh Menteri Pertanian (waktu itu) Suswono pada Agustus 2011 di Jakarta tersebut.  
Lantas, sebagai sosok yang cukup lama bertugas (saat masih menyandang status prajurit militer di Purwakarta, Jawa Barat) bersentuhan dengan pengembangan kawasan industri, JR Saragih juga tidak lupa mengarahkan pengembangan sumber daya manusia yang ada buat memenuhi kebutuhan kawasan industri.
Di sekitar Kabupaten Simalungun telah terbangun Kawasan Industri Sei Mangkei yang merupakan salah satu koridor percepatan pembangunan yang menjadi prioritas pembangunan Pemerintah Pusat. Sampai kemudian dia berinisiatif merevisi Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Simalungun untuk mengakomodir pembangunan Kawasan Industri Sei Mangkei. Dia juga mempersiapkan sumber daya manusia (tenaga kerja) Simalungun yang sesuai dengan kualifikasi di kawasan industri tersebut. Dan, secara fisik, dia berusaha mengarahkan pembangunan infrastruktur yang menjadi aset menuju kawasan tersebut.
Dengan mengusung Hastra Brata, sosok JR Saragih benar-benar tampil sebagai pemimpin yang cerdas, berprestasi dan melayani dengan hati. Rakyat pun menaruh respek dan lawan-lawan politiknya mulai angkat topi. Dia bukan tipe pemimpin yang mengumbar banyak janji, menebar uang, mengandalkan popularitas dan ketampanan yang bisa sirna dalam sekejap.
Dan sebagai penganut Kristen, meminjam makna kepemimpinan menurut pakar kepemimpinan Kristen Anthony D’Souza, bahwa JR Saragih mampu to enoble (heart perspective), to enable (head perspective) dan to empower. To enoble adalah memberikan perspektif yang lebih bermakna terhadap urusan yang dilaksanakan. Sedangkan to enable bermakna mendidik, melatih, membina dan menasehati agar orang dapat melaksanakan tugasnya. Dan to empower adalah memberi kesempatan pada orang untuk mencoba melaksanakan secara baik apa yang telah dipelajarinya. ***

Sunday, March 9, 2014

Pemimpin Berhati Gembala


Bilamana seseorang mengikuti pemimpin yang mencari nama besar, maka sang pemimpin lah yang akan diagungkan. Pemimpin tersebut akan dipuja dan akhirnya menggeser kedudukan Tuhan. Jikalau seseorang mengikuti pemimpin yang berhati seorang pelayan, Tuhan lah yang akan diagungkan. Pemimpin-pemimpin semacam ini akan berbicara tentang anak Tuhan, kuasa Tuhan, pekerjaan Tuhan, nama Tuhan, firman Tuhan, Tuhan ... Semuanya untuk kemuliaan Tuhan.
Charles R. Swindoll, penulis buku "Improving Your Serve"

TATKALA Jopinus Ramli (JR) Saragih yang akrab disapa Pak JR mulai mengemban amanah sebagai Bupati Simalungun pada akhir 2010, ternyata dia harus menghadapi dan menyelesaikan persoalan yang tidak mudah diurai. Dia mesti menghadapi empat persoalan rumit yang melilit warga masyarakat Kabupaten Simalungun. Keempat persoalan itu: orang Simalungun sulit berbagi, mengalami gangguan perasaan, kebersamaan yang minim dan gagap menghadapi era globalisasi.
Persoalan-persoalan yang relatif rumit tersebut tentu tidak datang secara tiba-tiba. Setidaknya ada akar historis yang jauh ke masa lalu. Satu kesaksian menarik datang dari seorang pendeta asli Simalungun, yakni Pdt. Juandaha Raya Purba Dasoeha, STh. Dalam suatu percakapan dengan Pendeta Juandaha, seorang Tokoh asli Simalungun, yang sudah cukup lama berkecimpung di dunia politik, mengaku bahwa Simalungun adalah bangsa yang besar.
Pendeta Juandaha lagsung menukas, “Simalungun bukan besar tetapi kecil. Bahkan karena demikian kecilnya, orang di luar Simalungun, tidak mengenal apa itu Simalungun.”
Si Tokoh langsung gusar dengan mengatakan bahwa pendeta asli Simalungun itu sebagai pendeta tidak peduli pada keadaan Simalungun. Kata si Tokoh, Pendeta Juandaha mestinya membesarkan kebanggaan Simalungun, bukan makin mengecilkan Simalungun. “Ai, na sonaha do nasiam pandita namaposo sonari on, lang dong be huidah parduli nasiam bani Simalungun on?” gerutu si Tokoh.
Pendeta Juandaha tersenyum simpul saja. Dia merasa berat mengatakan kepada si Tokoh bahwa realitas Simalungun yang kecil itu tak dapat dipungkiri lagi. Hal ini, demikian kata dia, terlihat pada kompleksitas permasalahan yang muncul di Tanah Simalungun saat ini. Mulai dari jalan-jalan yang rusak sampai pembangunan yang berorientasi pada kepentingan simbolik yang mengabaikan masalah perut sebagian besar warga Simalungun yang hidup di tengah himpitan kemiskinan dan keterpurukan, khususnya di huta-huta sana.
Dan yang tidak kalah seru, begitu kata Pendeta Juandaha, saat ini ada inisiatif orang-orang pendatang di Simalungun yang hendak membagi-bagi Kabupaten Simalungun menjadi tiga Kabupaten, dengan menyisakan satu Kabupaten Simalungun di enclave etnis Simalungun mulai dari Kecamatan Raya, Purba, Silimakuta, Dolog Silou dan Raya Kahean, sedang yang dua lagi diberi nama Kabupaten Nusantara dan Dano Toba yang rasanya cukup nasionalis dan lintas etnis. Belum lagi, kabar-kabarnya (gan baritani), pejabat-pejabat dari etnis Simalungun banyak yang digusur dari kursi kebesarannya di Kantor Bupati Simalungun dan serta merta digantikan pejabat-pejabat dari etnis lain. Lantaran begitu nasionalisnya Simalungun, sampai-sampai ada pejabat yang didatangkan dari luar Kabupaten Simalungun.
Simalungun seolah kehilangan kebanggaan dirinya. Seakan tidak eksis di tengah kemarakan tuntutan otonomi dan kekhasan kultural lokal di era otonomi daerah dan reformasi. Padahal, di masa silam, Simalungun punya kebanggaan melalui sejumlah tokohnya antara lain Brigjen (Purn) Radjamin Purba, Tuan Madja Purba, Haji Ulakma Sinaga, Pdt. J. Wismar Saragih, Guru Jason Saragih, Brigjen (Purn) T.S. Mardjans Saragih, Brigjen (Purn) Lahiradja Munthe, Pdt. Jenus Purbasiboro, dr. Djasamen Soembajak, Pangoeloe Balei Djaoedin Saragih dan tokoh-tokoh Comite Na Ra Marpodah Simaloengoen (1928) yang tanpa pamrih memperjuangkan Simalungun menjadi tuan di rumahnya sendiri.
Dalam tesisnya, Prof. Dr. Bintan Regen Saragih –anak dari Pdt. Williamer Saragih yang dibunuh PRRI di Sibuntuon tahun 1960-- menjelaskan bahwa minimal terdapat enam penyebab kelambanan pergerakan kemajuan sosial-politik, religius dan ekonomis orang Simalungun. Pertama, Perang Dunia II, yang mengakibatkan kelambanan perkembangan ilmu pengetahuan/teknologi dan minimnya informasi dan bantuan yang masuk ke wilayah Simalungun.
Kedua, Revolusi Sosial, 3 Maret 1946, yang meluluh-lantakkan kebesaran Simalungun dengan pembunuhan kaum elitis-intelektual dan birokrat dan aristokrat Simalungun pertama. Terbentuknya NST (Negara Sumatera Timur) dengan raja Tanah Jawa Tuan Kaliamsyah Sinaga dan Tuan Djomat Purba sebagai wali negara dan kepala kepolisian NST yang menegaskan realitas historis sifat provinsialisme orang Simalungun yang konon kurang berkenan di hati orang republik, sehingga Simalungun dicap bukan nasionalis sejati dan terkesan separatis.
Ketiga, peristiwa PRRI 1959-1961 yang mengakibatkan pembangunan golongan menengah di Simalungun stagnan. Keempat, peristiwa G 30-S/PKI 1965 yang melumpuhkan kehidupan politik, ekonomi, sosial dan budaya (termasuk keagamaan) di seluruh Indonesia, tak terkecuali Simalungun. Kelima, kelambanan orang Simalungun menyikapi aliran Kharismatik dan aliran-aliran fundamentalisme Kristen yang berkembang subur saat ini yang lebih mengedepankan pertumbuhan iman dan mengabaikan kepedulian pada masalah-masalah krusial di tengah-tengah masyarakat. Semboyan Kristen yes, partai Kristen no, makin menjauhkan orang Kristen dari ruang-ruang politik di negeri ini, sehingga dikhwatirkan ke-Kristen-an akan menjadi penonton di tengah percaturan politik di Indonesia.
Dan, keenam, kelambanan orang Simalungun menghadapi derasnya arus globalisasi dan teknologi informasi. Lihat saja di tanoh hasusuranta Simalungun sekarang ini, semakin banyak anak dan pemuda Simalungun yang lalai pada kewajibannya menuntut ilmu dan menyerap teknologi sebagai bagian amal-ibadahnya. Penyebabnya, antara lain sikap tidak peduli, ekonomi yang seret, dan orang tua yang lebih menganggap niombah sebagai aset tenaga kerja yang murah ketimbang diarahkan pada hal-hal yang bersifat membangun integritas dan masa depan yang lebih baik, bukan saja pada keluarganya tetapi pada segenap orang Simalungun.
Jelas bukanlah hal mudah untuk mencari solusi dari keenam persoalan tersebut. Tapi, bila persoalan-persoalan tersebut dibiarkan begitu saja, boleh jadi Simalungun semakin tenggelam, tertinggal jauh dari wilayah lain. Sebagai Bupati Simalungan 2010-2015, JR Saragih ingin terus-menerus berkubang dalam persoalan. Dia berusaha menjadi gembala bagi rakyat Simalungun keluar dari sejumlah akar permasalahan.   

A.   Yang Berhati Gembala
Ya, JR Saragih bertekad menjadi pemimpin yang berhati gembala selama memimpin rakyat dan wilayah Kabupaten Simalungun.  Sebagai penganut Kristen taat, JR Saragih mengimani benar firman Tuhan: "Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku" (Yohanes 10 : 27).
Sebagai pemimpin berhati gembala, segenap tindakan dan kebijakan Pak JR senantiasa mendasarkan diri kuasa Tuhan, pekerjaan Tuhan, nama Tuhan, firman Tuhan, dan semuanya untuk kemuliaan Tuhan.
Dalam bingkai memuliakan Tuhan, sebagai seorang pemimpin berhati gembala, JR Saragih memegang prinsip-prinsip berikut:
Pertama, berjalan di depan rakyat (dalam bahasa iman: domba) dan menyediakan jalan bahkan membuat jalan tersebut jelas dan aman walaupun mungkin di sana ada kesulitan, tantangan, dan perjuangan.
Kedua, senantiasa lapang meminta tuntunan Tuhan. JR Saragih berusaha membawa pergumulan dalam doa dan memohon tuntunan agar Tuhan memberikan kepadanya petunjuk yang dibutuhkannya.
Ketiga, JR Saragih sedapat mungkin bisa dipakai oleh Tuhan untuk melindungi rakyat (gembala). Bahkan, saat sebagai tampil pemimpin yang melakukan firman Tuhan, dia berupaya membantu rakyat (dan sekaligus umat) yang dipimpinnya untuk membuat pilihan-pilihan yang tepat dan yang penting sampai kemudian mendapat keyakinan bahwa ada Tuhan sebagai Gembala Yang Baik yang berjanji untuk melindungi, memimpin umat ke tempat yang hijau dan air yang tenang dan yang berjanji untuk memulihkan jiwa umat dan tetap memimpin umat sekalipun melalui bayang-bayang maut.
Keempat, JR Saragih berusaha mengenal dan memperhatikan rakyat (dan juga umat) dengan kasih Kristus karena Kristus sudah memberikan hidup-Nya bagi dirinya selaku pemimpin pilihan rakyat Kabupaten Simalungun.
Sekali lagi JR Saragih berupaya menjadi gembala bagi rakyat dan umat di Kabupaten Simalungun. Dalam Perjanjian Lama terdapat istilah ‘domba tak bergembala’ yang kerap digunakan untuk menampilkan wajah kesengsaraan umat Tuhan yang ditinggalkan oleh pemimpinnya. Berulang kali Allah mengingatkan raja-raja yang berkuasa akan keadaan umat yang lemah dan mudah tersesat lantaran tidak diurus secara baik-baik, diterlantarkan, dan diperlakukan secara tidak adil.
Dalam kerangka perutusan gembala-domba dan iman Kristen, setelah diutus berdua-dua, rasul-rasul kembali kepada Yesus dan melaporkan semua yang mereka kerjakan dan ajarkan, barangkali disertai pula rasa puas dan bangga. Lalu, apakah Yesus segera mengagumi dan memuji keberhasilan mereka? Tunggu dulu! Sepertinya masih ada yang ingin ditunjukkan dan diajarkan oleh Yesus. Semula mereka diajak menyingkir ke tempat sunyi untuk beristirahat, namun batal lantaran terlanjur dikejar banyak orang dari seluruh kota hingga  mereka pun tak sempat makan.
Para pemimpin kadang dikecam gara-gara kerap menjual janji palsu, mengaku mau menjadi abdi Allah dan sesama, ternyata mengabdi pada diri sendiri dengan meninggalkan Allah dan sesamanya.
Yesus mengajarkan sebaliknya: kalau mau jadi pemimpin, milikilah hati seorang gembala yang berani menanggalkan kepentingan diri sendiri demi mendahulukan kebutuhan banyak orang (umat). Leave no man behind! Apakah kehausan dan kelaparan banyak orang membuat hati pemimpin tergerak oleh belas kasihan? Sosok JR Saragih berusaha memahami dan memperkaya kepekaan batin dengan sentuhan belas kasih.
Selain itu, JR Saragih berupaya pula membumikan makna filosofis gembala selama memimpin rakyat dan wilayah Kabupaten Simalungun. Salah satu makna filosofis yang cukup penting bahwa gembala akan sangat mengenal satu per satu makhluk yang  menjadi kepunyaannya atau yang digembalakannya. Gembala akan hafal yang mana makhluk (ternak) kepunyaannya dan yang bukan kepunyaannya. Apabila salah satu ternaknya hilang, dia akan mencari ternaknya sampai ditemukan. Tidak ada satupun ternak yang luput dari perhatiannya. Inilah peran yang acapkali tidak bisa dilakukan oleh mereka yang selama ini memperoleh amanat memimpin –terutama memimpin organisasi pemerintahan atau perusahaan (sekuler). Sebab itulah, mereka lebih sering disebut pemimpin atau manajer, bukan gembala.
Seorang pemimpin tidak harus mengenal secara mendalam anak buah atau karyawannya satu per satu. Kendati begitu, seorang pemimpin harus memberikan contoh yang baik bagi semua. Pemimpin harus tahu peran dan tanggung-jawab pekerjaan bawahannya. Pemimpin juga harus memberikan penghargaan (rewards) kepada karyawan yang berprestasi dan memberikan sanksi (punishment) kepada karyawan yang bersalah. Parameter keberhasilan seorang pemimpin dapat diukur dari bagaimana atau sejauh mana tujuan organisasi dapat tercapai secara baik. Perusahaan dan atau rezim pemerintahan daerah mempunyai visi dan misi, kemudian disederhanakan secara jangka pendek dalam bentuk sasaran (goal), lalu diformulasikan ke dalam perencanaan strategis, akhirnya disosialisasikan kepada karyawan atau pegawai masing-masing divisi atau unit kerja. Selain pencapaian terukur, pada sebuah perusahaan juga mengatur hal-hal yang tidak terukur yakni nilai-nilai perusahaan (values). Institusi akan menjaga aset-aset yang dimiliki dari perilaku moral hazard, menciptakan lingkungan kerja yang kondusif, kode etik dan perilaku (code of conduct), di mana semua itu ada di dalam nilai-nilai (values) perusahaan/institusi.
Tatkala sepenuhnya seorang pemimpin secara tegas berpegang teguh pada prinsip-prinsip tersebut, bagaimana seorang pemimpin menempatkan hati nurani yang lazimnya sara nilai kebenaran dan ruhaniah? Apakah pemimpin masih punya hati nurani? Padahal ada beberapa hal yang harus diputuskan dengan hati nurani.
Seorang pemimpin adalah manusia biasa yang mempunyai fungsi utama menjalankan roda perusahaan atau pemerintahan. Peran pemimpin tidak bisa disamakan dengan peran gembala, karena gembala menjalankan peran yang lebih mulia.
Contoh sederhana, suatu waktu JR Saragih merogoh koceknya sebesar Rp100 juta untuk membantu pembangunan Gereja Katolik Kristus Raja di Kecamatan Tanah Jawa. Sementara, pembangunan gereja itu diperkirakan menelan biaya tidak kurang dari Rp4 miliar. Bukannya dia tidak punya hati nurani bilamana hanya membantu sebagian kecil dari keseluruhan ongkos pembangunan sebuah bangunan tempat beribadah. Justru di situlah, nuraninya berbicara.
JR Saragih menggunakan hati nuraninya saat memberikan bantuan pembangunan seperlunya, dengan harapan si penanggung-jawab pembangunan punya solusi buat memobilisasi dana umat. Bilamana si penanggung-jawab terus merengek kepada sang pemimpin, maka secara tegas Pak JR menolaknya. Jikalau dinilai, siapa yang tidak berhati nurani? Apakah sang pemimpin atau si penanggung-jawab pembangunan rumah ibadah? Warga masyarakat berhak menilai sepenuhnya bagaimana seorang JR Saragih menggunakan hati nuraninya.  
Hati nurani mewarnai kebijakan dan tindak strategis seorang pemimpin bukan untuk tujuan pembenaran secara terus-menerus, disalah-gunakan dengan pemberian excuse, dan yang terpenting tetap memegang teguh prinsip-prinsip integritas.  Sebagaimana kata-kata suci Mazmur 78:72: “Ia menggembalakan mereka dengan ketulusan hatinya, dan menuntun mereka dengan kecakapan tangannya.”
Dari sini kita memperoleh pembelajaran yang bermanfaat, siapa tahu kelak pembaca sekalian bisa menjadi pemimpin berhati gembala dan gembala berhati pemimpin.

B.   Kesetiaan dan Ketulusan Hati
Sebagai sosok pemimpin berhatigembala, Pak JR berusaha memegang empat prinsip kepemimpinan gembala yang telah banyak diadopsi oleh tren teori kepemimpinan secara umum. Keempat prinsip tersebut meliputi:
Pertama, kebaikan. Memimpin dengan kebaikan harus berpola kepada kebaikan hati Allah. Dalam teologi, kata kebaikan (goodness atau chrēstotēs dalam bahasa Yunani) diidentikkan dengan kemurahan Allah (di bawah pembahasan Allah Mahakasih). Teolog Albert Barnes memberikan makna kata ini sebagai kindness yaitu kebaikan hati, keramahan, perbuatan baik, dan kasih sayang. Allah Mahabaik, di mana Dia penuh dengan belas kasih, baik hati, anugerah, dan mementingkan kepentingan orang lain (altruisme). Sehingga Allah yang penuh dengan kebaikan berarti Allah yang mengasihi umat-Nya, Allah yang lemah lembut, baik hati dan selalu memberikan anugerah baik dalam Perjanjian Lama sampai dengan Perjanjian Baru. Kasih setia Allah dicurahkan kepada umat-Nya, Israel, meskipun mereka terus berbuat dosa. Ketika Allah harus menghukum Israel gara-gara kebebalan hati mereka yang terus menyembah berhala, maka Dia tetap mengasihi mereka, dan setelah mereka bertobat, Allah tetap mengasihi dan memulihkan keadaan mereka, yang walaupun kebaikan Allah tidak pernah boleh dipisahkan dengan keadilan Allah.
Pemahaman teologi ini sangat menolong Pak JR dalam mengaplikasikan kebaikan dalam kepemimpinannya di Kabupaten Simalungun. Sifat moral Allah yang mahabaik menantang dirinya agar senantiasa memiliki kebaikan moral dan semangat alturisme dalam karakternya.
Prinsip yang kedua adalah ketulusan hati. Bahwa ketulusan hati berbicara tentang integritas seorang pemimpin. Raja Daud dikatakan bahwa “Ia menggembalakan umat Israel dengan ketulusan hatinya, dan menuntun (memimpin) mereka dengan kecakapan tangannya” (Mazmur 78:72). Itu sebabnya memiliki kompetensi dalam kepemimpinan saja tidaklah cukup, dibutuhkan pula ketulusan hati.
Ketulusan hati tercermin dalam integritas kehidupan seorang pemimpin. Rendahnya integritas telah menjadi masalah kepemimpinan pada umumnya. Dalam sebuah survai terhadap sekitar 1300 pimpinan perusahaan dan pejabat di pemerintahan di Amerika, John Maxwell menanyakan kualitas apakah yang paling penting dimiliki supaya sukses menjadi pemimpin. Jawabannya menarik, secara mayoritas (71%) mereka memilih jawaban sebagai yang terpenting: integritas.
Arti kata integritas adalah keadaan yang sempurna, di mana perkataan dan perbuatan menyatu dalam diri seseorang. Seseorang yang memiliki integritas tidak berpura-pura, tidak ada yang disembunyikan, dan tidak ada yang perlu ditakuti. Kehidupan seorang pemimpin adalah seperti surat Kristus yang terbuka (II Kor 3:2).
Integritas sebagai karakter bukan dilahirkan, tetapi dikembangkan secara satu lepas satu di dalam kehidupan kita melalui kehidupan yang mau belajar, keberanian untuk dibentuk Roh Kudus. Itu sebabnya Pak JR berkeyakinan bahwa karakter yang baik akan jauh lebih berharga dan dipuji manusia daripada bakat atau karunia yang terhebat sekalipun. Kegagalan sebagai pemimpin bukan terletak kepada strategi dan kemampuannya dalam memimpin, tetapi kepada ketiadaan integritas pada diri pemimpin.
Ketiga, kecakapan. Memimpin dengan kecakapan berarti memiliki kompetensi, kemampuan serta keahlian. Menurut Dr. Yakob Tomatala, kompetensi meliputi banyak hal yaitu meliputi kompetensi karakter, pengetahuan, dan keahlian. Dua hal dari kompetensi keahlian yang menolong menguatkan kepemimpinan gembala kita adalah kecakapan hubungan antar manusia (relationship) dan kecakapan keahlian teknis.
Kecakapan yang berkenaan dengan “hubungan antar manusia” disebut juga “keterampilan atau kecakapan sosial”. Seorang pemimpin yang baik tidak hanya menyadari bahwa ia membutuhkan orang lain, namun ia juga penuh tanggung jawab berupaya membina hubungan baik dengan orang lain yang menjamin kerjasama yang baik dan keberhasilan kerja. Hubungan baik dengan orang lain harus dimulai oleh pemimpin. Ia harus memiliki tekad untuk menyukainya, menghidupinya dengan melaksanakannya penuh tanggung jawab. Prinsip kepemimpinan Tuhan Yesus tetap berlaku di sini, yaitu: “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian pula kepada mereka” (Matius 7:12). Tekanan utama yang diberikan di sini adalah bahwa apa saja yang dilakukan oleh seorang pemimpin, mencerminkan apa saja yang akan, nanti dan telah diperbuat orang kepadanya. Apabila pemimpin menghendaki dan membina hubungan baik dengan siapa saja, ia akan pula menerima kebaikan dari tindakannya.
Lalu, kecakapan yang berkaitan dengan “hubungan pelaksanaan tugas” di mana seseorang yang disebut ahli itu tahu dan dapat melakukan tugasnya secara baik dan benar. Keterampilan atau keahlian atau kecakapan tugas berkaitan erat dengan hal-hal praktis yang bersifat teknis, sehingga dapat juga disebut keahlian teknis/praktis. Keahlian ini berkaitan erat dengan “bagaimana melaksanakan tugas”, yang harus dilaksanakan secara baik. Pemimpin harus memiliki keahlian khas, khususnya yang berkenaan dengan kecakapan memimpin.
Pak JR senantiasa berusaha menambah relasi dengan sesama dan tim kerja serta mengasah kemampuan teknis dalam pelaksanaan tugas sebagai orang nomor satu Kabupaten Simalungun. Dia tidak pernah berhenti belajar baik dalam bentuk formal ataupun informal. Pembelajaran yang terus-menerus akan menghasilkan kecakapan yang lebih banyak lagi. Pembelajaran tidak berfokus kepada gelar, namun kepada pemenuhan salah satu kunci sukses pemimpin-gembala yaitu cakap, yang meliputi cakap mengajar, cakap berelasi, dan cakap memimpin.
Dan keempat, kesetiaan dalam kebenaran. Kata kesetiaan adalah penting dalam kosakata teologi Kristen dan juga pemimpin-gembala. Setidaknya dalam Perjajian Lama dan Perjanjian Baru, pemimpin dituntut Tuhan untuk mencintai kesetiaan (love mercy) selain adil dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allah (Mikha 6: 8). Kesetiaan harus ditunjukkan di samping kasih sayang kepada masing-masing sebab Tuhan akan menjadi Allah mereka dalam kesetiaan dan kebenaran (Zakaria 7:9 dan 8:8).
Minimal terdapat tiga sebab mengapa kesetiaan itu penting. Pertama, kesetiaan adalah yang terpenting dalam hukum Taurat (Matius 23:23); kedua, kesetiaan salah satu buah Roh Kudus yang harus ada dalam kehidupan kita (Galatia 5:22); ketiga, kesetiaan merupakan salah satu yang harus dikejar di samping keadilan, kasih dan damai (II Timotius 2:22).
Pak JR Saragih sangat memahami betapa pentingnya kesetiaan, dan kesetiaan tidak boleh dihilangkan dalam kamus pemimpin-gembala. Sebab, tanpa kesetiaan, seorang pemimpim tidak berhak menuntut loyalitas yang sama kepada pengikutnya. Inilah yang menjadi kunci keberhasilan pemimpin-gembala.

C.   Menerapkan Etos Kerja Keras dan Disiplin Sepenuh Hati
Sekali lagi ihwal bantuan atau sumbangan Rp100 juta buat memantik uluran tangan dermawan pembangunan Gereja Katolik Kristus Raja di Kecamatan Tanah Jawa. Pak JR sengaja tidak membantu total biaya pembangunan supaya banyak pihak yang terpantik untuk berpartisipasi aktif bagi pembangunan sebuah rumah ibadah. Kalau berkehendak, bisa saja Pak JR membantu keseluruhan pembiayaan dengan menggabungkan bantuan pribadi dan kedinasan. Tapi, kehendak itu tidak dia realisasikan. Intinya, dia tidak ingin memanjakan rakyatnya menjadi sangat tergantung kepada pemerintah atau siapa saja yang suka  berderma.
JR Saragih bukan tipe pemimpin yang menuruti saja apa yang menjadi suara atau aspirasi rakyatnya sampai mereka terlena dan diam tanpa mau bekerja. Dia ingin menancapkan satu nilai bahwa setiap manusia harus punya spirit berusaha, berusaha dan berusaha penuh etos kerja keras guna mencapai hasil maksimal. Dalam perjalanan hidupnya, JR Saragih dikenal sebagai sosok pekerja keras tanpa pamrih. Berkat kerja kerasnya, sebelum memangku jabatan Bupati Simalungun (2010-2015), dia telah memetik hasil jerih-payahnya berupa antara lain tiga rumah sakit beraset Rp400 miliar dengan sekitar 300 orang karyawan.
Dia bertekad warga masyarakat yang dipimpinnya juga menjunjung tinggi spirit dan etos kerja keras membangun Simalungun guna mengejar ketertinggalannya dibandingkan daerah-daerah lain di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini. Sudah barang tentu tidak cuma berkisah heroik bahwa dirinya telah bekerja keras dan menorehkan hasil-hasil material yang lebih dari cukup untuk menjalani kehidupan. Dia memberikan pula contoh nyata bekerja keras dalam memimpin rakyat-masyarakat Simalungun.
Nilai kerja keras sarat keteladanan sepenuh hati. Demikian lah filosofi kepemimpinan yang ingin ditancapkan oleh seorang JR Saragih. Ya, keteladanan! Sebuah kata yang begitu mudah diucap namun sulit dilakukan. Padahal, dari keteladanan inilah seorang pemimpin dinilai integritasnya. Pemimpin sejati selalu memberi contoh nyata dalam memimpin.
Cendekiawan, guru dan Bapak Bangsa Ki Hadjar Dewantara mengajarkan ilmu kepemimpinan dalam pernyataan bahasa Jawa: “Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani”. Nasihat yang sederhana, tapi demikian kuat. Terdapat tiga tugas pokok seorang pemimpin, yaitu: memberi teladan (exampling), memberi inspirasi (inspiring), dan memotivasi (motivating).          
Kita perlu menggaris-bawahi betapa pentingnya keteladan yang baik sebagai faktor yang menentukan apabila kita ingin mengubah keadaan masyarakat Indonesia, tak terkecuali masyarakat Simalungun, yang dewasa ini masih berada dalam krisis multi-dimensi. Memang, keteladanan telah menjadi barang langka dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Bangsa kita tengah dilanda sakit parah. Kondisi ini harus cepat diperbaiki jika kita menginginkan bangsa dan negeri ini tetap eksis dan berkembang maju.
Contoh sederhana di tingkat lokal Simalungun adalah bagaimana upaya JR Saragih meramaikan atau menghidupkan nadi Raya sebagai ibukota Kabupaten Simalungun. Ketika hampir semua aparaturnya enggan berkantor di Raya, dia memberikan teladan langsung melalui inisiatif tinggal menetap di Raya. Dia ingin membangun Raya sebagai kota baru yang menjadi pusat aktivitas pemerintahan, ekonomi dan pendidikan bagi warga Kabupaten Simalungun. Dengan menetap di Raya, dia berharap dapat memanfaatkan secara maksimal waktu kerja. Bahkan, dia menyediakan 24 jam waktu yang dimilikinya untuk kepentingan warga masyarakat.
Tatkala dirinya meluangkan sepanjang 24 jam waktunya untuk mengabdi, lalu apakah aparaturnya juga langsung mengikutinya. Pak JR tidak banyak berharap agar aparatur di bawah kepemimpinnya mengikuti apa yang dilakukan sepanjang waktu memimpin Kabupaten Simalungun. Dia berusaha mencari solusi agar segenap aparatur Pemerintah Kabupaten Simalungun pun bersedia bekerja sepanjang 24 jam. Tentu tidak lantas semua aparaturnya dipaksa bekerja selama 24 jam setiap hari. Jelas akan menyalahi tata aturan kerja aparatur pemerintahan yang selama ini sudah dipatok delapan jam per hari.
Berangkat dari pengalamannya bergaul dengan kalangan pelaku usaha sektor industri selama dia bertugas sebagai prajurit TNI di wilayah Purwakarta, Jawa Barat, JR Saragih terinspirasi menghidupkan ritme kerja aparaturnya sepanjang 24 jam. Inspirasinya dari irama kerja karyawan perusahaan-perusahaan industri di Purwakarta dan perawat Puskesmas-Puskesmas yang ada di wilayah ini yang biasa bekerja terbagi ke dalam tiga shift. Produktivitas mereka terus dipacu untuk memenuhi keinginan pasar dan warga masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan selama 24 jam.
Tapi, apakah pemerintahan semacam Pemerintah Kabupaten Simalungun sudah saatnya bekerja penuh sepanjang 24 jam? Manusiawikah memacu mereka agar bekerja keras dengan irama dan ritme seperti itu? Bupati JR Saragih tak ingin memaksakan kebijakan supaya aparaturnya bekerja seperti dirinya.
Berselang tak seberapa lama setelah dilantik sebagai Bupati Simalungun pada bulan Oktober 2010, Pak JR langsung tanggap melihat dari dekat bagaimana sebenarnya potensi kualitas dan kuantitas aparatur di lingkungan Pemerintah Kabupaten Simalungun. Dia mendapati fakta bahwa jumlah aparatur yang ada di lingkungan pemerintahan kabupaten ini relatif terlalu banyak. Misalkan aparatur eselon II mencapai 120 orang sementara kursi jabatan yang layak diisi oleh mereka cuma 40 unit. 
Di benak Pak JR, banyak di antara aparatur yang berstatus PNS tersebut datang ke kantor tanpa tahu apa pekerjaan yang harus dilakukan. “Ya, ngapain kalau datang ke kantor hanya buat ngerumpi? Agar optimal dan efektif memanfaatkan waktu kerja, mereka saya tata dan terapkan sistem kerja shift,” terang Pak JR sekali waktu.
Terkhusus pada unit-unit kerja yang berhubungan secara langsung dengan pelayanan masyarakat (baik kesehatan maupun non-kesehatan), Pak JR mengatur jam kerja dalam tiga shift. Dengan model seperti ini, para aparatur pemerintah kabupaten ini dapat memperoleh libur dua hari –Sabtu dan Minggu—dalam sepekan dan warga masyarakat memperoleh pelayanan yang optimal. “Saya berharap waktu libur dua hari itu bisa dimanfaatkan buat kegiatan produktif, kalau mereka suka beternak maka dalam waktu dua hari dapat serius merawat ternak sehingga dapat memperoleh penghasilan tambahan. Selain itu, bila mereka kepala keluarga maka mereka juga dapat mencurahkan kasih sayang ke isteri dan anak-anaknya. Selama ini mereka kan kerepotan membagi waktu karena harus berangkat pagi pulang sudah sore hari,” tutur Pak JR yang menghabiskan masa kecilnya di Raya ini.
Melalui pembagian waktu kerja ke dalam tiga shift tadi, demikian terang Pak JR, pemerintah kabupaten bisa menginstruksikan para camat untuk membuka pelayanan kepada warga masyarakat sampai pukul 22.00 WIB. Lalu, mengapa kantor kecamatan mesti buka sampai mendekati tengah malam tersebut? Alasannya sederhana saja, wilayah kecamatan di Kabupaten Simalungun relatif luas sehingga warga yang ingin pergi atau ada urusan ke kecamatan memakan waktu relatif lama. “Bisa jadi warga masyarakat sampai di kantor kecamatan sudah sore hari atau bahkan menjelang malam. Kasihan mereka sudah jauh-jauh datang sementara aparatur yang berwenang dan bertugas di kantor kecamatan sudah tidak ada di tempat. Di saat kantor kecamatan bisa buka sampai malam hari, warga masyarakat punya kesempatan lebih baik untuk mengurus surat-surat atau dokumen sipil di kantor kecamatan. Dengan begitu warga masyarakat bisa pulang penuh senyum karena segala urusannya bisa selesai pada hari itu pula,” papar Pak JR.
Lalu, pada sisi pelayanan kesehatan yang optimal, terang JR Saragih lebih lanjut, warga masyarakat dapat memperoleh pelayanan sesuai kebutuhan dan kondisi yang dihadapinya. Warga masyarakat pun merasakan adanya peningkatan derajat kesehatan. Hal ini terlihat dalam penurunan, antara lain, angka kematian bayi, kasus malaria klinis, berat bayi lahir rendah, balita gizi buruk, dan pneumonia balita. Juga peningkatan jumlah balita berat badan naik. Memang, masih terdapat kasus-kasus kesehatan yang agak memprihatinkan, di antaranya kenaikan angka penderita TB+, penderita HIV/AIDS, dan penderita penyakit kusta.
Bupati JR Saragih merasa dirinya harus mengambil hati warga masyarakat dengan memberikan pelayanan secara optimal. Sebab, selama ini, warga sudah apatis terhadap kinerja aparatur pemerintah kabupaten beserta segenap jajarannya. Pendek kata, dia berusaha menanamkan nilai perja keras dan disiplin agar citra kinerja aparatur terus membaik.
Pak JR meyakini bahwa tidak ada sukses yang dapat diraih tanpa disiplin diri dan semangat kerja yang tinggi. Tuhan sudah menyediakan berkat-berkat-Nya untuk kita semua, tinggal kita yang "menggali berkat" tersebut dengan semangat dan disiplin kerja yang tinggi. “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.” (Mazmur 90:12). “Dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.” (Efesus 5:16)

D.   Pemimpin Baru, Asa Baru
Dengan mengusung nilai-nilai pemimpin berhati gembala melalui kerja keras dan disiplin, Pak JR ingin menebar asa baru bagi rakyat Simalungun yang lebih berpengharapan dan menyatu dalam kekuatan kebersamaan. Kekuatan kebersamaan yang bersumber dari segenap jajaran aparatur Pemerintah Kabupaten Simalungun penuh disiplin yang terus digugah dan diberdayakan. Dia paham bahwa dirinya bukanlah “pemain biola tunggal”. Ibarat permainan musik, dia sebagai seorang “konduktor” yang harus mampu menyamakan nada dasar agar para musisi yang tergabung dalam orkestra mampu merancakkan irama dan meneduhkan kalbu. Dan, “sang konduktor” sangat menentukan arah dan keterpaduan irama orkestra, pengorganisasian peran, harmonisasi dan kualitas orkestra. Lalu, para musisi menentukan kesuksesan pagelaran orkestra.
Bagai penampilan sebuah orkestra, dalam hal meretas asa baru kemajuan rakyat-masyarakat Simalungun, sangat ditentukan oleh “sang pemimpin” yang visioner dengan strategi dan program-program implementatif, yang didukung oleh team work yang solid. Ditopang oleh manajemen yang sistemik sebagai operatornya, nilai-nilai utama dan kultur pemerintahan yang baik sebagai jiwanya, serta kaidah-kaidah pengelolaan pemerintahan yang baik (good governance) sebagai kerangka dan landasannya.
Dan sebagaimana telah kita saksikan akhir-akhir ini, Kabupaten Simalungun telah mengalami banyak kemajuan dan membawa asa yang berpengharapan. Secara ekonomi misalkan, petani mulai merasakan kemudahan dalam memasarkan hasil-hasil produksinya, pelajar tidak mengalami kesulitan untuk melanjutkan pendidikan ke  jenjang yang lebih tinggi, dan investor mulai melirik daerah Simalungun yang amat potensial sumber daya alam. Banyak orang paham, kemajuan penuh harapan ini tidak lepas dari model kepemimpinan dengan hati gembala yang diterapkan oleh Pak JR. Kendati begitu, dia tidak lantas memonopoli keberhasilan itu semata-mata datang dari dirinya.
Dia justru berusaha menunjukkan karakter dan jati diri seorang pemimpin yang bijak dan rendah hati. Dia selalu menegaskan bahwa tanpa kontribusi dan kerja sama tim segenap aparatur dan raktay-masyarakat Kabupaten Simalungun asa baru tersebut tidak akan pernah muncul. Dia tetap berupaya menjaga kebersihan hati, kerendahan hati dan senantiasa mengatakan bahwa dirinya cuma seorang gembala yang selalu melayani domba-dombanya.
Kondisi Kabupaten Simalungun yang relatif bagus penuh harapan sekarang ini sangat berkait dengan kerja keras segenap aparatur dan dukungan penuh warga masyarakat. Segenap aparatur telah mencurahkan seluruh daya upaya melalui spirit dan kebersamaan yang solid. Arti kata, demikian penuturan Pak JR Saragih, membaiknya kondisi masyarakat Simalungun juga lantaran banyaknya hati, tangan dan pikiran yang turut berperan-serta. Pun berkat kehadiran pemimpin berhati gembala  pada skala yang lebih kecil, bahkan pemimpin berhati gembala di tingkat kelurahan atau desa.
Tentu bukan hal aneh bilamana JR Saragih menunjukkan karakter pemimpin berhati gembala yang lebih melayani domba-dombanya. Maklum, jauh sebelum dipercaya rakyat Simalungun mengemban kursi Bupati Simalungun periode 2010-2015, dia sudah berselimutkan sukses dalam karir dan bisnis. Juga di masa kecil, hatinya sudah sangat terasah oleh keadaan kehidupan yang serba tidak mudah. Sebab itu, tatkala dia berada di kursi Bupati, Pak JR tidak banyak berpikir soal kalkulasi bagaimana mengembalikan modal yang telah dikeluarkan untuk ‘membeli’ suara rakyat. Yang dia pikirkan adalah bagaimana melayani dan mendharma-baktikan segenap pikiran dan tenaganya buat rakyat-masyarakat Kabupaten Simalungun.
Begitulah sosok kepemimpinan Bupati JR Saragih. Dia bukan sekadar pemimpin yang visioner sarat keteladanan, namun juga tampil sebagai sosok gembala yang tulus hati melayani domba-dombanya. Tidak hanya menjadi gembala bagi orang-orang yang dipimpinnya, tapi sekaligus pula sebagai motivator, inspirator dan integrator. Ada inspirasi dan kenyamanan di dalam perasaan atas kedekatan hubungan dengan orang-orang yang dipimpinnya. Pantaslah bila segenap aparatur pemerintahan dan rakyat Kabupaten Simalungun memberi rasa hormat yang tinggi atas kompetensi, reputasi dan prestasi kepemimpinan Pak JR.
Ada satu kebiasaan yang diterapkan dalam interaksi dan komunikasi dengan bawahan, bahkan dengan rakyat yang dipimpinnya, yang sedikit unik. Dia menganggap bawahan ataupun warga masyarakat sebagai keluarga besar dirinya. Dengan begitu nyaris tak ada sekat antara Pak JR, bawahan dan rakyat yang digembalakannya. Kepada bawahan dia bisa bertegur sapa secara egaliter melalui sapaan-sapaan yang teramat cair dan karib-akrab.
Pak JR benar-benar bukan pemimpin hanya mencari nama besar. Kalau cuma mencari nama besar, dia merasa khawatir apratur dan rakyat akan mengagung-agungkannya. Dia khawatir pula dirinya menggeser kedudukan Tuhan. Sebab itulah, dia terus membumikan sosok pemimpin yang berhati gembala (seorang pelayan) dengan harapan Tuhan lah yang akan diagungkan. Dengan demikian dia akan secara mudah berbicara tentang iman, kuasa Tuhan, pekerjaan Tuhan, nama Tuhan, firman Tuhan, Tuhan ... Semuanya untuk kemuliaan Tuhan. ***