Showing posts with label cermin. Show all posts
Showing posts with label cermin. Show all posts

Sunday, June 8, 2014

Sekeping Masa Tua

Meskipun kita belum tentu tiba di usia senja, namun tetaplah harus optimis menjalani hari, misteri Sang Pencipta selalu ada, yang kemudian kita dapat menemukan jawaban-jawaban di keesokan hari atau saat di yaumil akhir, atau saat berada di kampung akhirat, Wallahu ‘alam.
Ibundaku yang tetap sering berbagi hikmah menjelaskan sekilas, biasanya beliau sering merindukan berkumpul bersama anak-anak dan para cucu, apalagi kalau sedang ‘termangu’ sendiri di rumah, sesekali berteman tilawah, lain waktu berteman acara berita televisi.
Sungguh masa muda saat merawat anak-anak adalah masa yang paling indah dikenang, bisik beliau di telepon. Beliau juga menasehatiku untuk berdisiplin hidup sehat, jangan terlalu banyak konsumsi gula, dan harus selalu teratur jadwal makan dan istirahat dengan cukup.
“Saat ini, mama gak boleh ngopi lagi nih….berat banget deh nak, namun harus tetap dijalani dengan penuh rasa syukur…”, kata ibu
Menikmati segelas kopi panas adalah hoby ibu yang sangat penting baginya. Dulu, kemanapun kami berlibur, Saya temani beliau memilih kopi-kopi sebagai oleh-oleh dan buat stok di dapurnya, kopi eropa, kopi arab, kopi melayu, kopi pulau penang, kopi sulawesi, kopi medan, dan dari ragam tempat lainnya sudah pernah dicoba.
Ibu tahu betul yang mana kopi asli dan yang mana kopi campuran bahan lain. Kopi favourite beliau adalah kopi khas dari kebun kakek di wilayah ogan ilir, sumatera, diolah secara tradisional dengan keharuman murni kopi asli, alami, tanpa bahan tambahan atau pengharum buatan.
Maka di usia yang sekarang harus menyadari diri akan fungsi jantung dan organ lain tak sekuat biasanya, perkara “tidak bisa minum kopi lagi” adalah ujian yang besar buat beliau.
“Jadi kamu juga gak usah ngikuti hoby doyan ngopi, deh… kalau minum susu atau teh panas juga, gulanya sedikit aja…”, saran ibu.
Diriku mengangguk setuju, memang kadang saya juga ikut terlena menghirup harumnya kopi, sekali dalam dua hari saya juga ke café buat ngopi di saat tidak sedang hamil.
Wah, ternyata harum si kopi yang melenakan itu, bisa menjerat para “fans”nya kepada banyak masalah kesehatan terutama di usia senja. Satu kalimat yang kupetik dari ibu, menikmati hidup dengan makanan, minuman atau benda-benda kesukaan kita adalah manusiawi, namun jangan berlebihan.
Yah, sebab berlebihan inilah yang menjadi penyebab utama segala penyakit. Berlebihan gula-kopi jadi lemah jantung, kolestrol tinggi. Berlebihan kerja malah jadi sakit magh dan cepat lelah.
Berlebihan makan-minum di resto cepat saji membuat CRP (bisa dilihat kadar lemak perut membuncit) tinggi, ujung-ujungnya banyak kaum muda yang sudah mengalami sakit jantung dan stroke. Malah di Amerika, isu fast-food telah menjadi permasalahan publik, sudah teramat jarang ditemukan sosok pria yang perutnya tidak gembul disana.
Sebut saja Paman Gembul, jangankan untuk gerakan rukuk dan sujud, berwudhu pun sungguh kepayahan, di penghujung masa tuanya, perutnya amat besar, lebih besar dari pada perut wanita hamil sembilan bulanan.
Beliau berbisik mengingatkan, “Waduuuh… jangan sering makan yang instant-instant kayak saya deh… Saya juga susah berhenti merokok dan minum soft-drink, beginilah hasil kumpulan lemak diperut saya…” keluhnya suatu kali.
Beberapa hari setelah menelepon ibu terkasih, ketika saya sedang pulang dari kunjungan ke dokterku, tiba-tiba di tangga rondo ada seseorang yang jatuh. Saya beristighfar dan meneriakkan Allahu Akbar!
Rondo adalah sebutan jalan yang banyak arah (seperti simpang empat, kira-kira seperti tengah-tengah daerah air mancur, di Jakarta). Di setiap rondo di Krakow dan kota-kota lain disini, ada jalan di bawah tanah, jalan yang banyak tangga, untuk menyeberang, untuk ke WC, juga ada pertokoan dan papan-papan arah jalan yang menjelaskan puluhan rute bus dan tram.
Kukira yang jatuh itu adalah anak kecil, karena bentuk tubuhnya memang gemuk pendek. Ternyata seorang nenek, sebut saja Pani Marta, dia jatuh dari sekitar lima anak tangga ke bawah, posisi tertelungkup tak berdaya, pipi kanannya membentur aspal.
Memang di Poland, tinggi badan orang-orang hampir sama dengan orang Indonesia, malah banyak populasi penduduk yang badannya kecil mungil, pendek seperti Pani Marta. Berbeda jika kalian pergi ke Swedia atau Jerman, badan orang-orang sana gede banget.
Pani Marta tak bisa segera bangun dalam hitungan detik, saat itu suamiku dan dua orang anak sekolahan yang kebetulan lewat, segera menolong beliau. Saya dan bayi kecil kami berada 3 meter dari posisi jatuhnya Pani Marta.
Kulihat telinganya mengeluarkan darah segar hingga warna merah itu menutupi warna putih syalnya, juga sedikit darah keluar dari hidungnya. Ya Allah… begitu mirisnya hati ini melihat sosok renta tersebut. Kalau anak-anak yang terjatuh, mungkin masih bisa sempat menghadangkan tangannya agar muka tak terkena aspal.
Namun sosok tua yang tertelungkup itu, menjerit pun ia tak lagi sanggup, berkata-kata hanya dengan desahan saja.
Kubuka pintu toko yang terletak pas di depanku, kutanyakan sebungkus tisu, lalu kuserahkan pada suami agar membantu Pani Marta mengelap darahnya, siang itu masih sangat dingin, darah yang mengalir cepat pula membeku.
Pani Marta berdiri perlahan-lahan, masih agak oleng, berpegangan pada suamiku dan anak-anak kecil itu, beliau berbahasa Poland, kira-kira berkata, “Saya tidak apa-apa, beginilah kalau sudah tua, tadi kaki saya sedikit tersandung dan saya kehilangan keseimbangan. Terima kasih yah semuanya…”, ungkapnya. Oh, bersua pelajaran lagi hari ini.
Seraya berjalan menuju appartement, masih saja terpikir akan kejadian tadi. Pani Marta, banyak para pensiunan disini menjalani masa tua sepertimu, seorang diri kemana-mana jika pasangan hidup sudah mendahului dipanggil-NYA.
Kebanyakan kakek-nenek di Krakow doyan olahraga pagi, jalan santai sambil membawa cucu, hewan peliharaan atau sambil berbelanja roti dan kentang. Kalaupun kaki mereka tak kuat berjalan, mereka gunakan tongkat, satu atau dua tongkat, atau kereta-jalan (seperti sepeda bayi kecil bentuknya, tapi digunakan seperti tongkat di depan).
Ada pula yang tetap rutin berjalan-jalan, menikmati hari-hari dengan berkursi roda, transportasi disini pun sangat mendukung kemudahan buat para pengguna kursi roda. Jika berjumpa dengan mereka yang sedang mengulas senyum ramah, maka kita akan menemukan guratan-guratan sisa kecantikan dan ketampanan kala usia muda mereka.
Nurani berbisik, Ya Allah berikan kami bimbingan setiap saat, serta kekuatan dalam menjalani setiap masa, termasuk menyambut masa tua yang membentang di hadapan.
Rasulullah shallallahu‘alaihi wa sallam berwasiat, “Ambillah lima perkara sebelum lima perkara : (1) Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, (2) Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, (3) Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, (4) Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, (5) Masa Hidupmu sebelum datang kematianmu,” (HR. Al Hakim dalam Al Mustadroknya)
Agama adalah nasehat, setiap detik kita berbagi dan beramal dengan nasehat, dan kita akan menemukan bahwa nasehat-nasehat merupakan kekayaan sejati, ilmu-Nya yang tak pernah habis untuk digali.
Proses pembelajaran diri ini adalah terus-menerus tanpa henti selama hembusan nafas memang belum berhenti. Insya Allah. Semoga tetap optimis.
(bidadari_Azzam, Krakow, 5 maret 2011/www.eramuslim.com)

Friday, May 30, 2014

Apa yang Kita Kejar?

alam 
Kawan, dunia ini memang melenakkan, banyak keindahan dan kenikmatan, serta kesenangan yang ditawarkannya. Dunia menggoda siapa saja yang berada di dalamnya. Tak ayal, banyak dari kita yang terjerembab dalam kesenangan semu yang ditawarkan oleh dunia. Ketahuilah kawan, dunia ini ibarat air laut, semakin kau minum, maka akan semakin haus. Ya, semakin kita mengejar dunia, maka akan semakin kita terpedaya olehnya.
Kawan, apa yang hendak kita kejar di kehidupan yang singkat ini ? Harta ? Lihatlah Qarun, manusia yang paling kaya pada masanya, namun akhirnya dia terhinakan oleh kekayaannya sendiri. Jabatan ? Ingatkah kalian dengan Fir’aun ? dia adalah manusia paling angkuh di dunia, sombong dan melampaui batas. Fir’aun adalah raja tersohor, bahkan dia tak segan mengakui dirinya sebagai tuhan yang berhak menetapkan hukum sesuai dengan kehendaknya. Namun kita sudah sama-sama mengetahui, bahwa Fir’aun pada akhirnya pun mati dalam keadaaan hina dan dihinakan dengan jabatan kekuasaannya. Lantas, apa yang kita kejar selama hidup di dunia ini ?
Miris betul, ketika media mengabarkan para pejabat Negara yang korupsi, hanya untuk memenuhi kantong dan isi perutnya sendiri, tanpa dia perhatikan kondisi rakyatnya yang menjerit kelaparan. Sedih sekali, melihat kelakuan para elit politik yang saling berebut kekuasaan yang pada akhirnya banyak mereka salah gunakan. Belum lagi masyarakat yang lainnya, menghabiskan waktu hanya untuk bersenang-senang dengan dunia. Dia tinggalkan seruan kebaikan, dan beralih pada seruan kemaksiatan.
Apa yang kita kejar di dunia ini ? Kelak semua yang ada di Dunia ini, perlahan-lahan akan meninggalkan kita. Paras yang cantik rupawan, kelak akan menampakkan garis-garis kerutan yang menandai usia kita semakin senja. Harta yang selama ini ita kumpulkan, tidak dapat memberikan jaminan ketenangan. Jabatan Dunia, yang sedari dulu kita perebutkan, kelak akan menjadi amal yang memberatkan timbangan keburukan.
Ingatlah kawan, hidup kita tak hanya sekedar di dunia ini. Dunia yang penuh dengan berbagai macam kesenangan, kegemerlapan, tapi pada akhirnya dia pun meninggalkan kita. Ada alam lain yang sedari kini menanti kita, yakni alam akhirat. Disanalah kita kan kekal selamanya, disanalah kehidupan kita yang sebenarnya. Apa yang kita kejar selama hidup ini, kelak akan kita tuai hasilnya di akhirat sana. Bila kita mengejar kenikmatan Dunia saja, tanpa menghiraukau akhirat, kelak kita akan mendapatkan balasannya. Pun halnya bila kita mengejar akhirat, dan menjadikan Dunia sebagai tempat bercocok tanam kebaikkan, in shaa allah kelak kita pun akan memanen kebaikan dan ditempatkan ditempat yang baik, di akhirat sana.
Apa yang kita kejar selama hidup ini ? Satu persatu semua akan meninggalkan kita, hingga tak ada lagi yang tersisa, kecuali amal yang kita kerjakan semasa kita hidup di Dunia. Sadarilah, semua ini hanya sementara, kelak, segala bentuk kenikmatan, keindahan, kemewahan, ataupun kesenangan  Dunia yang kita kejar selama ini, akan berakhir dan pergi meninggalkan kita.
Semoga, kita semakin menyadari akan arti hidup ini, bahwa kehidupan ini bukan hanya untuk mengejar perhiasan Dunia yang semu, melainkan untuk meraih ke ridhaan Ilahi, agar kelak kita dimasukkan kedalam surga yang abadi. Aamiinn, allahumma aamiinn. (www.eramuslim.com)


Mustaqim aziz
Twitter : mustaqimaziz2
Fb : moi_no_phobia@yahoo.com

Thursday, May 1, 2014

PNS Bikin Gajah Menangis


Alkisah, di negeri seberang sedang berlangsung lomba bagaimana caranya membuat seekor gajah bisa menangis. Tiga orang peserta (masing-masing dari Amerika, Jepang dan Indonesia) bersiap di hadapan seekor gajah dari Way Kambas, Lampung.
 Singkat cerita, tampil pertama seorang bule berbadan tegap asal Amerika, mengenakan jas hitam dan membawa seperangkat komputer dan mesin ultrasonik. Selama setengah jam, dengan berbagai cara, akhirnya dia gagal membuat sang gajah menangis. Kemudian tampil peserta kedua dari Jepang, seorang ahli beladiri. Dengan Karate dan Judo-nya dia memukuli sang gajah. Tapi, cara itu pun ternyata tidak ada efeknya. Bahkan dengan belalainya, sang gajah membuat peserta Jepang itu terpelanting ke pinggir arena.
 Lalu giliran ketiga, peserta dari Indonesia. Orangnya berperawakan pendek kurus seperti kurang gizi, kulit sawo matang dan mengenakan seragam KORPRI yang sudah tampak kusam. Ternyata dia seorang pegawai negeri sipil (PNS). Dia maju ke arena dengan raut wajah yang melas. Dia lantas menghampiri sang gajah dan membisikkan beberapa patah kata ke telinganya. Beberapa detik berselang, sang gajah tampak tersentak dan disusul sedu-sedan. Sang gajah menangis tersedu-sedu serta meneteskan air mata yang banyak.
 Semua penonton lomba terheran-heran. “Apa yang Anda katakan, sampai bisa membuat sang gajah menangis,” kata salah seorang anggota panitia lomba dan peserta lain yang penasaran. “Apakah Anda mengancam sang gajah, sehingga dia merasa takut dan akhirnya menangis?” Peserta asal Indonesia ini menjawab, “Tidak kok. Saya hanya mengatakan kepada sang gajah kalau saya itu dari Indonesia, seorang pegawai negeri sipil.“ Sedemikian menyayatkah kehidupan pegawai negeri kita? Sampai-sampai gajah saja dibuat menangis. Boleh jadi itu nasib PNS di masa silam. Kini, di era remunerasi, PNS tak lagi membuat gajah menangis. Sebaliknya, gajah tertawa melihat penghasilan orang semacam Gayus HP Tambunan yang mantan PNS golongan 3A Ditjen Pajak Kementerian Keuangan.
(Dinukil dari buku Setelah Pensiun karya Achmad Subianto dengan beberapa tambahan konteks kekinian)

Friday, April 25, 2014

Spirit Kuda Perang




“Demi kuda perang yang berlari kencang dengan terengah-engah. Dan kuda yang memercikkan api dengan pukulan (kuku kakinya). Dan kuda yang menyerang dengan tiba-tiba pada waktu subuh. Maka ia menerbangkan debu. Dan menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh.”
                                                                                    QS Al ‘Aadiyaat ayat 1-5

Kisah kuda perang dari kitab itu sangat menarik. Sebuah spirit keperkasaan kuda perang yang lari kencang. Demikian bersemangat dan begitu kencangnya kuda itu berlari hentakan kakinya beradu dengan bebatuan sampai-sampai memercikkan api dan menerbangkan debu. Allah SWT menggambarkan secara indah sebuah spirit kuda perang yang semestinya kita renungkan dan selanjutnya kita lekatkan pada diri kita.

Sebuah pesan mendalam dari spirit kuda perang. Kita umat Muslim sepantasnya menjadi umat yang gigih, penuh semangat, kerja keras dan ikhlas dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Dalam memperjuangkan apapun agar kita menjadi umat yang bermartabat dan memiliki harga diri.

Tanpa semangat, kita akan lemah menghadapi kesulitan dan kepahitan hidup. Kata Panglima Perancis dalam Perang Waterloo (1815 Masehi) Napoleon Bonaparte, di dunia ini hanya terdapat dua kekuatan, yaitu pedang dan semangat. Katanya lebih lanjut, dalam jangka panjang, yang pertama akan selalu tertaklukkan oleh yang kedua.

Sedikit ironi memang, justru banyak di antara kita umat Islam yang lemah semangat. Padahal, semangat kuat akan senantiasa melahirkan ilham, kegagalan tidak akan terwujud, dan ide kreatif datang dari segala penjuru. Pancaindera kita akan sangat peka dan melihat semua petunjuk menuju ke arah sukses. Wajar saja bila kemudian banyak yang menilai umat Islam relatif ketinggalan dalam banyak hal kehidupan.

Lalu, bagaimana agar kita memiliki semangat kuat? Minimal ada tiga hal, pertama, ciptakan tujuan yang spesifik, tujuan yang berangkat dari niat ikhlas. Kedua, kemauan keras untuk terus mengembangkan diri. Dan ketiga, bergaul dengan orang-orang yang bersemangat. Inti dari ketiga hal ini adalah bagaimana kita mengikuti sebuah proses untuk mencapai yang terbaik, bukan orientasi hasil semata. Allah SWT pun telah mengingatkan kita lewat firman-Nya dalam QS At-Taubah ayat 105, “Dan katakan: bekerjalah, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu …

Semoga kita senantiasa diberi kekuatan oleh Allah SWT untuk menjadi pribadi Muslim yang selalu bekerja keras, bekerja cerdas, bekerja ikhlas dan selalu melakukan yang terbaik dalam segala hal. Pribadi Muslim yang bersemangat kuda perang. (BN)





Wednesday, April 9, 2014

Pensiun dari Dunia Kriminal


DI era 1970 hingga 1980-an, nama mereka demikian ditakuti, disegani, sekaligus dbenci oleh masyarakat. Salah satu di antara mereka adalah Johny Indo yang memiliki nama asli Johanes Hubertus Eijkenboom keturunan Eropa (Indo). Johny Indo dan 12 anak buahnya yang ia beri nama “Pachinko” alias Pasukan China Kota sangat disegani sebagai perampok yang malang-melintang di sekitar Jakarta. Johnny Indo termasuk spesialis perampok toko emas dan selalu melakukan aksi pada siang hari. Kini Johny Indo tinggal di daerah Sukabumi, Jawa Barat, bersama istrinya Vinny Soraya dan kedua putra-putrinya. Dia telah berubah. Johny yang sekarang bernama Haji Umar Billah menyerahkan jiwa dan raganya hanya untuk agama yang dianutnya.
Ada pula Tan Hok Liang yang lebih populer dengan nama Anton Medan. Perjalanan hidup Anton Medan tak sekadar sebagai penjahat profesional. Dia juga menjadi bandar judi setelah meruntuhkan kekuasaan bandar judi besar bernama Hong Lie. Sebagai bandar judi, penghasilannya satu malam mencapai puluhan juta. Dia menikmati gaya hidup mewah. Ironisnya, kekayaan itu habis pula di dunia judi. Dia frustasi, dan pelampiasannya justru bermain judi di Genting, Makau, Christmas, Hongkong dan Las Vegas. Dia kalah miliaran rupiah. Dalam kebangkrutan itu, dia menemukan hikmah kehidupan yang sangat mendasar. Sejak itulah dia pensiun dari dunia kriminal.
Johny Indo dan Anton Medan hanyalah dua contoh mantan penjahat yang berhasil pensiun dari dunia kejahatan secara baik-baik. Tanpa menyebut nama, mereka yang juga mampu pensiun relatif baik, misalkan dua orang dedengkot dunia hitam Tanah Abang di era 1980-an dan 1990-an. Yang satu kini hidup menyepi di satu kampung di wilayah Kabupaten Bogor. Dan yang satu lagi berhasil tampil menjadi sosok elit partai politik.
Apa yang menyebabkan seorang penjahat, bahkan yang paling konsisten sekalipun, akhirnya memilih pensiun dari dunia kriminal, dengan atau tanpa bantuan lembaga rehabilitasi? Riset empiris memperlihatkan bahwa seseorang mundur dari dunia kriminal lantaran terbentuknya suatu ikatan berarti pada orang lain atau pada institusi, misalnya pada suatu pekerjaan yang stabil atau pada seorang pasangan hidup (Sampson dan Laub, 1990). Suatu pekerjaan yang bagus akan mengubah orientasi penjahat dari sebatas memikirkan masa kini menjadi memikirkan masa depan, dan karenanya memberikan pondasi yang kuat bagi pembentukan identitas bukan penjahat, dan akan pula mengubah gaya hidup rutin orang bersangkutan dalam suatu cara di mana kejahatan tidak lagi terintegrasi.
Hubungan antar-personal yang baik juga menciptakan ikatan dalam tatanan sosial yang menyebabkan seorang individu berniat melindunginya. Perkembangan ikatan sosial dapat muncul lewat faktor kognitif yang dipicu oleh semacam “kelelahan” akibat bersinggungan secara terus-menerus dengan sistem peradilan kriminal (pidana). Kendati begitu, sebagian penjahat lain mungkin memilih berhenti atau “menurunkan kegiatannya” manakala mereka merasa kemampuan dan efisiensi mereka dalam melakukan kejahatan berkurang akibat usia, atau menurunnya kemampuan otak akibat mengonsumsi narkotika dan alkohol tiada henti. (BN)   

Tuesday, April 1, 2014

Adonan Semen di Masa Kampanye


Di masa kampanye yang bergulir sejak pekan pertama Maret 2014 lalu, berbagai tingkah calon legislator –tertutama tingkat lokal—mewarnai keseharian kita. Yang paling banyak tentulah narsis di tiang listrik, tiang telepon dan pohon-pohon di pinggir jalan. Ada pula yang tiba-tiba jadi dermawan mengucurkan adonan semen untuk betonisasi jalan lingkungan perumahan. Di perumahan tempat saya tinggal, misalkan, tercatat setidaknya terdapat tujuh ruas jalan yang kebagian kucuran adonan semen yang konon katanya merupakan hasil perjuangan seorang calon legislator (caleg) lokal. Sekadar hitungan kasar, betonisasi itu menghabiskan sekitar Rp250 juta. Perhitungan satu ruas jalan memakan sekitar tujuh truk molen dengan banderol adonan semen sekitar Rp5 juta per truk molen.
Rasa ingin tahu saya bergolak. Perjuangan macam apa yang dilakukan sang caleg? Dari obrolan dengan beberapa tetangga, sang caleg ini bukan legislator incumbent. Dia baru calon, belum masuk ke legislatif yang memang biasa menjadi partner kepala daerah dalam membahas alokasi anggaran belanja daerah. Jadi model perjuangan seperti apa diperjuangan? Lewat saluran (lembaga) apa di memperjuangan betonisasi jalan lingkungan perumahan?
Setahu saya, usulan perbaikan jalan dari warga masyarakat tidak akan serta merta memperoleh alokasi anggaran dari pemeritah kota. Perlu ada perjuangan dari dalam legislatif. Arti kata, ada legislator yang bersuara (membawakan aspirasi warga) saat rapat bersama eksekutif. Rasa ingin tahu sedikit terobati tatkala seorang tetangga yang mengenal cukup dekat sang caleg mengungkapkan bahwa sang caleg adalah kerabat sangat dekat sang kepala daerah yang tengah berkuasa.
Saya sedikit menghela nafas. Caleg macam beginikah yang akan kita pilih pada tanggal 9 April nanti? Caleg beginikah yang bakal duduk di legislatif 2014-2019. Sepertinya caleg macam ini yang bakal terpilih kalau tidak ada campur tangan Tuhan. Sebab, usai malam betonisasi, esok harinya langsung terpasang spanduk ucapan terima kasih warga dan siap mendukung sang caleg. Dan, bila hal ini terjadi, maka kota ini akan dikendalikan oleh segelintir orang dari satu keluarga. Politik dinasti akan tetap lestari. Korupsi tetap pula terus menggurita pada dinasti yang turun-temurun.
Mari kita berusaha menjadi pemilih yang cerdas dan bijak membaca tanda-tanda dan gelagat kelanggengan dinasti yang korup. Ingat tidak ada betonisasi jalan yang gratis. Kritislah terhadap setiap kelakuan caleg yang saat-saat injury time. Terutama pada caleg-caleg (dengan rekam jejak serakah) yang memanfaatkan jalan rusak, kemiskinan, dan bantuan sosial. (BN)  

Saturday, March 29, 2014

Menghitung Dosa

hitung 
Oleh : Anna Nur F ( Ibu Rumah Tangga )

Mungkin sebagian orang menganggap menghitung dosa sebagai sesuatu yang sepele. Tak penting. Atau malah dianggap kurang kerjaan. Tapi, bila seseorang menyadari bahwa suatu saat hidup akan berakhir, tak mungkin selamanya ada di dunia, maka menghitung dosa akan menjadi aktifitas wajib harian. Bagi seseorang yang berorientasi akhirat, menghitung dosa, bukanlah aktifitas tanpa maksud dan tujuan. Tetapi menjadi bagian dari ibadah untuk memastikan bahwa tidak ada dosa, dan kemaksiatan yang sengaja kita pilih setiap hari. Menghitung dosa bermaksud menjadikan diri pribadi yang benar-benar menaatiNya tanpa syarat apapun. Memastikan bahwa setiap langkah sesuai dengan koridor yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.
Menghitung dosa adalah ajang muhasabah diri. Bisa setiap malam menjelang tidur dilakukan. Perhatikanlah dan tanyakan pada diri sendiri, segala ucap, sikap dan perilaku yang kita lakukan sepanjang hari, sepanjang hidup yang telah dijalani.
Renungkanlah sebuah hadits berikut : “Tidak bergeser kaki seorang hamba sehingga ia akan ditanya tentang empat perkara (yaitu):(1) Tentang umurnya untuk apa ia habiskan?; (2) Tentang ilmunya untuk apa ia amalkan?; (3)Tentang hartanya darimana ia dapatkan dan kemana ia belanjakan?; dan  (4) Tentang badannya untuk apa ia gunakan?. (Sunan At-Tirmidzî).”
Mari kita jujur menjawab dan menelusuri. Sampai pada usia kita saat ini, apa saja yang telah kita lakukan? Bagaimana sholat kita?  Masih ditinggalkan, bolong-bolong dan seperti burung atau tidak? Untuk kaum adam, sudahkah selalu berjamaah di masjid kecuali ada uzur? Bagaimana puasa dan zakat kita? Sudahkah bagi yang mampu menunaikan ibadah haji? Ataukah kita lebih memilih menambah koleksi mobil baru, rumah baru dan harta duniawi lainnya? Sudahkah kita memenuhi hak-hak orang miskin? Hak-hak anak yatim yang ada di sekitar kita atau bahkan dalam tanggungan kita?
Ilmu yang kita miliki, sudahkah diamalkan? Ilmu tentang sedekah, infaq, menutup aurat, riba, pergaulan dengan lawan jenis, muamalah, dan lain-lain, sudahkah tidak sekedar teori dalam kata? Bagi para suami, masihkah bangga saat istri bersolek ketika keluar rumah? Senang kecantikan istri dikagumi orang lain? Rela kejelitaan istri dinikmati pria lain? Lalu dimanakah letak pengayoman dan perlindunganmu terhadap istri tercinta duhai para suami? Bukankah semua orang tahu suami adalah imam, pemimpin rumah tangga yang berkewajiban mendidik istri dan menyelamatkan keluarga dari api neraka?
Tentang harta kita, darimanakah kita peroleh? Dari cara yang halal atau haram? Dari pinjam di bank, membungakan tabungan di bank, menjadi rentenir, korupsi, mencuri, markup, kolusi, hasil suap atau mengambil yang bukan hak kita? Atau dari hasil berdagang, bekerja, bertani, menjadi kuli dan cara halal lainnya?
Lalu, kemanakah harta yang kita miliki dibelanjakan? Untuk infaq, membantu fakir miskin dan si yatim, untuk kepentingan dakwah, untuk dibelanjakan di jalan Allah? Atau untuk kesenangan diri saja, sering ke restoran top, ke diskotik,  membeli minuman keras, berjudi, melancong keliling dunia, ke tempat lokalisasi, menambah koleksi rumah, baju, mobil, motor, tas, sepatu meski sudah memiliki lebih dari cukup, yang mungkin selangit harganya untuk kesombongan dan melupakan kezuhudan? Atau mungkinkah kita termasuk orang-orang yang suka berkali-kali pergi umroh atas nama ibadah dan panggilan jiwa, sementara tetangga dan orang-orang sekeliling kita membutuhkan pertolongan, makan pun belum tentu sehari sekali, rumah tak punya atau hanya gubug reyot, putus sekolah, sakit-sakitan karena tak mampu berobat?
Tentang badan, untuk apa kita gunakan? Kaki dibawa melangkah untuk menuntut ilmu, mengaji, sholat ke masjid, dan ke tempat-tempat penuh keberkahan? Atau justru dibawa ke tempat-tempat pelacuran, perjudian dan penuh kemaksiatan? Tubuh ditutup auratnya dengan sempurna, atau justru dibuka penuh bangga karena kulit yang mulus, rambut yang indah, dan body yang aduhai? Badan dijaga kesuciannya hanya untuk suami/istri tercinta yang berhak, atau justru dibiarkan dilihat, disentuh, dipeluk, dicium oleh pacar atau orang yang tidak dan belum halal? Mulut digunakan untuk mengucapkan hanya yang baik-baik saja, atau justru untuk mencaci maki, melaknat, mengghibah, menjuluki orang lain dengan kata-kata buruk, mengajak dan mempengaruhi orang lain bermaksiat, serta diumbar mengikuti hawa nafsunya? Wajah digunakan hanya untuk bersolek bagi suami tercinta saat di rumah, atau justru sebaliknya? Didandani sedemikian rupa, ada lipstik bergayut di bibir, pemerah wajah merona, menggunakan bulu mata palsu, eyeshadow, bertabaruj berhias seperti orang-orang kafir saat keluar rumah, saat suami sebagai satu-satunya yang berhak menikmati kecantikan tak ada di sisi? Sekalipun untuk pergi sholat berjamaah saat hari raya, bersolek menghias wajah dan memakai wangi-wangian yang tercium pria non muhrim didampingi sang suami tetaplah salah. Allah tak memandang  sholat seseorang dari lipstik yang dipakai, atau dari wajah yang bersolek.
Ingatlah, bahwa sesungguhnya Allah menciptakan jin dan manusia hanya untuk beribadah padaNya. Jadi pastikan setiap langkah adalah untuk dan karena ibadah kepadanya. Allah Maha Tahu, lebih tahu tentang kita, tak mungkin menciptakan seperangkat aturan yang manusia tak mampu memenuhinya. Setiap diri kita pasti mampu menjalankan seluruh kewajiban yang Allah bebankan. Tinggal kita mau atau tidak. Setiap diri pasti mampu untuk sholat, puasa, menutup aurat dan bergaul sesuai aturanNya, hanya saja kita mau atau tidak menjalankannya. Setiap diri pasti mampu untuk mendapatkan harta dengan cara halal, hanya saja kita mau bersabar atau tidak.
Hitunglah dosa kita, selagi masih bisa melakukan. Semasa nafas masih dikandung badan. Menghitung bukan untuk kesombongan dan merasa diri lebih baik dan suci dari orang lain. Namun, untuk memperbaiki diri terus menerus agar menjadi hamba yang mutaqqin. Untuk mengintrospeksi diri tiada henti, agar benar ucapan kita dalam sholat, bahwa hidupku matiku, hanya untuk Allah. Untuk menyelamatkan diri kita agar tidak semakin dalam terjerumus dosa dan kemaksiatan. Sesungguhnya perbuatan dosa ada dalam ranah pilihan manusia. Kemaksiatan ada dalam wilayah kekuasaan manusia. Manusia bebas memilih. Tak pernah Allah menciptakan manusia sebagai seorang pendosa, pelacur, koruptor, penjudi, artis pengumbar aurat dan lain lain. Tetapi manusia sendirilah yang mendholimi diri sendiri dengan memilih jalan yang salah. Bukankah Allah telah berfirman, telah Kutunjukkan dua buah jalan. Jalan kebenaran dan kemaksiatan. Telah disediakanNya pula dua tempat, Syurga dan Neraka. Kita bebas menentukan pilihan. Silakan pilih yang mana. Semua terserah kita. Wallahu’alam. (www.eramuslim.com)