Showing posts with label Komunikasi yang Efektif. Show all posts
Showing posts with label Komunikasi yang Efektif. Show all posts

Sunday, August 18, 2013

PENDAHULUAN





Pada masyarakat yang semakin maju sekarang ini, komunikasi berperan penting dan dibutuhkan untuk mendorong masyarakat agar lebih maju lagi. Dalam masyarakat yang bertambah maju, seorang komunikator harus lebih cakap mengkomunikasikan pesan, gagasan atau ide dari buah pikiran yang ingin disampaikan. 

Kini komunikasi merupakan faktor yang penting dalam mencapai tujuan suatu organisasi dan masyarakat. Komunikasi yang efektif sangat dibutuhkan oleh masyarakat yang demokratis dan terbuka. Komunikasi yang efektif terjadi apabila individu mencapai pemahaman bersama, merangsang pihak lain melakukan tindakan, dan mendorong orang untuk berpikir dengan cara baru. Kemampuan berkomunikasi secara efektif akan menambah produktivitas, baik individu yang bersangkutan, organisasi maupun masyarakat. Dengan demikian, organisasi atau masyarakat mampu mengantisipasi persoalan yang akan muncul, membuat keputusan secara efektif, mengkoordinasikan arus kerja, mensupervisi orang lain, mengembangkan hubungan serta dapat mempromosikan produk dan jasa organisasi (terutama entitas bisnis).

Dalam sebuah perusahaan, komunikasi dapat berfungsi untuk memelihara motivasi pegawai/karyawan dengan memberikan penjelasan kepada mereka tentang apa yang harus dilakukan, seberapa baik mereka mengerjakannya dan apa yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kinerja di saat tengah berada di bawah standar.

Guna mencapai tujuan atau pemahaman bersama, harus ada two-way-communications, komunikasi dua arah atau komunikasi timbal-balik di antara pihak-pihak yang terlibat. Untuk itu, diperlukan adanya kerjasama yang diharapkan akan memudahkan buat mencapai cita-cita, baik cita-cita pribadi, kelompok, maupun organisasi.

Dalam penyelenggaraan pemerintahan komunikasi sangat berperan mendukung peningkatan produktivitas kerja aparatur. Seiring dengan paradigma baru penyelenggaraan pemerintahan yang tidak lagi terpusat telah membawa konsekuensi yang luas bagi lembaga pemerintahan, baik di tingkat pusat maupun di tingkat daerah. Hal ini tercermin dalam tekad penyelenggaraan pemerintahan daerah yang lebih otonom dan terdesentralisasi, ketimbang dengan paradigma lama yang semuanya serba terpusat dan di bawah kendali langsung dari Jakarta. 

Konsep desentralisasi secara popular diartikan sebagai pemberian atau pendelegasian wewenang dari atasan (pemilik wewenang) kepada bawahan (pelaksana). Sementara itu otonomi mengandung makna kemandirian. Mandiri dalam konteks ini adalah kebebasan untuk memilih yang disertai dengan kemampuan.

Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang kemudian diperbarui dengan UU Nomor 32 Tahun 2004 mengamanatkan memberikan otonomi yang luas, nyata, bertanggung-jawab dan dinamis kepada daerah. Dalam hal ini daerah diberikan kemandirian yang dipakai sebagai dasar penyesuaian di antara sub-sub sistem dalam instansi, ataupun antara instansi dan mitra kerja. Frekuensi dan intensitas komunikasi yang dilakukan jelas akan turut memperngaruhi hasil dari suatu proses komunikasi tersebut.

Dalam hal komunikasi yang terjadi antar-pegawai/aparatur, kompetensi komunikasi yang baik akan mampu memperoleh dan mengembangkan tugas yang diembannya. Dengan begitu diharapkan tingkat kinerja suatu organisasi (sebuah instansi pemerintahan misalkan) menjadi semakin baik. Peningkatan kinerja pegawai secara perorangan akan  mendorong kinerja sumber daya manusia secara keseluruhan dan memberikan feedback yang tepat terhadap perubahan perilaku, sebagaimana direfleksikan dalam peningkatan produktivitas kerja. Sebaliknya, apabila terjadi komunikasi yang buruk akibat tidak terjalinnya hubungan yang baik, sikap yang otoriter atau acuh tak acuh, perbedaan pendapat atau konflik yang berkepanjangan, dapat berdampak terhadap hasil kerja yang tidak maksimal.

Proses komunikasi yang baik memerlukan adanya komunikasi timbal-balik agar hubungan dan tujuan yang akan disampaikan dapat berdaya guna serta berhasil. Dengan terciptanya komunikasi yang baik maka hambatan dalam mencapai suatu tujuan individu dan kelompok dapat diminimalisasi ataupun diatasi.

Saat ini komunikasi sangat dibutuhkan dan berperan penting dalam upaya meningkatkan kinerja, produktivitas dan efektivitas masyarakat. Hal ini tidak lepas dari fungsi komunikasi organisasi yang tercipta dengan baik dalam meningkatkan kinerja dan efektivitas komunikasi dalam meningkatkan kinerja pegawai. ***

Pengertian Komunikasi





Dalam pengertian secara bahasa, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, komunikasi berarti pengiriman dan penerimaan pesan atau berita antara dua orang atau lebih sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami; hubungan; kontak; perhubungan.
Istilah komunikasi merupakan terjemahan dari istilah bahasa Inggris “communication”, yang artinya pemberitahuan atau pengumuman. Secara etimologis, istilah komunikasi berasal dari kata communicatus (Bahasa Latin). Istilah ini bersumber pada kata communis. Kata communis memiliki makna ‘berbagi’ atau ‘menjadi milik bersama’ --yaitu suatu usaha yang memiliki tujuan untuk kebersamaan atau kesamaan makna.
Masih secara etimologis, Wilbur Schram –sebagaimana dikutip oleh M.O.Palapa dan Atang Syamsuddin (1995:2)-- mengatakan bahwa komunikasi berasal dari bahasa Yunani, ‘Comunicare’ yang  berarti bersama-sama.
Secara terminologis, komunikasi merujuk pada adanya proses penyampaian suatu pernyataan oleh seseorang kepada orang lain. Dalam pengertian ini, yang terlibat dalam komunikasi adalah manusia. Merujuk pada pendapat Ruben dan Steward (1998:16), yang dimaksud komunikasi memang adalah  komunikasi manusia. Human communication is the process through which individuals –in relationships, group, organizations and societies— respond to and create messages to adapt to the environment and one another. Bahwa komunikasi manusia adalah proses yang melibatkan individu-individu dalam suatu hubungan, kelompok, organisasi dan masyarakat yang merespon dan menciptakan pesan untuk beradaptasi dengan lingkungan satu sama lain.
Dari dua pengeritan tadi dapat ditarik benang merah bahwa komunikasi adalah suatu usaha atau ungkapan melalui bahasa dari satu orang untuk orang lain, agar mempunyai kesamaan (bersama-sama) mengerti akan apa yang diungkapkan (diucapkan) atau dituliskan.
Dengan demikian pengertian komunikasi adalah proses di mana orang lain dalam memenuhi kebutuhannya selalu berkomunikasi dengan cara mengungkapkan pikirannya dan apa-apa yang menjadi kebutuhannya lewat bahasa atau gerak, simbol, yang dimengerti bersama-sama oleh kedua belah pihak, dari masyarakat kepada masyarakat lainnya.
Definisi komunikasi itu sendiri, menurut Charles I Hovland sebagaimana dikutip oleh Ton Kertapati (1996: 92), adalah proses dengan mana seseorang menyampaikan stimulan (biasanya terdiri dari lambang kata-kata) untuk membentuk tingkah laku seseorang atau orang  lain.
Untuk dapat lebih memahami pengertian komunikasi sehingga dapat dilakukan secara efektif, para peminat komunikasi seringkali mengutip paradigma yang dikemukakan oleh Harold Lasswell dalam karyanya The Structure and Function of Communication in Society. Lasswell mengatakan bahwa cara yang baik untuk menjelaskan komunikasi ialah dengan menjawab pertanyaan sebagai berikut: Who Says What In Which Channel To Whom With What Effect?  (Effendy, 1994:10)
Paradigma Lasswell tadi menunjukkan bahwa komunikasi meliputi lima unsur sebagai jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan itu, yaitu:
1.       Komunikator (siapa yang mengatakan),
2.       Pesan (mengatakan apa),
3.       Media (melalui saluran/channel/media apa),
4.       Komunikan (kepada siapa).
5.       Efek (dengan dampak/efek apa).
Berdasarkan paradigma Lasswell tersebut, secara sederhana, pengertian komunikasi adalah sebuah proses hubungan yang melibatkan pihak komunikator yang membentuk (encode) pesan dan menyampaikannya melalui suatu saluran tertentu kepada pihak penerima yang menimbulkan efek tertentu.
Banyak rumusan yang telah diberikan oleh para ahli dari sudut pandang yang yang berbeda namun apabila diperhatikan secara saksama, pada dasarnya, apa yang mereka kemukakan mempunyai pemahaman yang sama, yakni komunikasi sebagai suatu pola dan proses hubungan antar-manusia. Misalkan  Riyono Pratikno (1995: 42) berpendapat, “Dalam berkomunikasi, manusia saling pengaruh-mempengaruhi secara timbal-balik, sehingga terbentuklah pengetahuan atau pengalaman masing-masing yang sama. Karena, berkomunikasi menjadi dasar kehidupan sosial dan proses sosial tersebut.”
Kemudian menurut Sir Geral Barny, sebagaimana dikutip oleh Teguh Meinandar dalam bukunya yang berjudul Dasar-Dasar Jurnalistik (1991: 1), “Dengan berkomunikasi, orang memperoleh pengetahuan, informasi dan pengalaman, karena itu saling mengerti percakapan, keyakinan kepercayaan dan kontrol sangat diperlukan.”
Kesadaran dalam berkomunikasi di antara warga dalam suatu masyarakat menjadi faktor penting suatu masyarakat untuk dapat mempertahakankan kesatuannya. Sebab itu, dalam setiap masyarakat terbentuklah apa yang dinamakan suatu sistem komunikasi. Komunikasi merupakan sarana pengikat antar-manusia sehingga membentuk suatu susunan masyarakat itu sendiri. Hal ini berkat adanya saling memerlukan atau saling membutuhkan di antara manusia tersebut.
Apabila kita telusuri secara lebih mendalam apa pengertian komunikasi, diperoleh pemahaman bahwa komunikasi merupakan praktik untuk mencapai suatu kesamaan, penyesuaian pendapat atau gagasan antar-manusia. Dari sini dapat disimpulkan bahwa komunikasi adalah suatu usaha atau ungkapan melalui bahasa, dari satu orang untuk orang lain, agar mempunyai kesamaan (bersama-sama) mengerti akan apa yang diungkapkan (diucapkan) atau dituliskan.
Dengan demikian pengertian komunikasi adalah proses di mana orang lain dalam memenuhi kebutuhannya selalu berhubungan melalui cara mengungkapkan pikirannya dan apa-apa yang menjadi kebutuhannya lewat bahasa atau gerak, simbol, yang dimengerti bersama-sama oleh kedua belah pihak atau dari masyarakat kepada masyarakat lainnya.
Untuk lebih memahami pengertian sebuah proses komunikasi, pakar ilmu komunikasi Jalaluddin Rakhmat (1995: 9) menjelaskan, “Dengan komunikasi kita bisa membentuk saling pengertian, menumbuhkan persahabatan, memelihara kasih sayang, menyebarkan pengetahuan dan melestarikan peradaban. Tetapi dengan komunikasi kita juga dapat menyuburkan perpecahan, mengidupkan permusuhan, menanamkan kebencian, merintangi kemajuan dan menghadang pemikiran.”
Dari pengertian ini, memang, nampak bahwa komunikasi juga merintangi hubungan manusia itu sendiri. Namun, yang pasti, itu bukan tujuan komunikasi. Karena, bagaimanapun dengan komunikasi manusia akan berusaha menghilangkan rintangan-rintangan hubungan antar-manusia dan berupaya menciptakan suatu kesamaan pengertian dan penyesuaian diri.
Untuk melengkapi pengertian komunikasi, Carl I. Hovland --yang kemudian disadur kembali oleh Sunaryo dan Djunarsih (1995: 55)-- mengemukakan bahwa komunikasi adalah suatu proses di mana seseorang memindahkan perangsang, yang biasanya berupa lambang kata-kata, untuk mengubah tingkah laku orang lain.
Merujuk pendapat Carl I. Hovland, dapat kita tarik pemahaman bahwa komunikasi merupakan hubungan antar-manusia, di mana seseorang ingin menyampaikan pesannya kepada orang lain agar mereka bertingkah laku sebagaimana yang dimaksud dari pesan tersebut.
Banyak sekali yang dapat kita pahami tentang berbagai pengertian komunikasi yang dikemukakan oleh para ahli tersebut. Dari banyak pendapat tersebut dapat ditarik benang merah bahwa komunikasi merupakan sebuah proses pengoperan dan penerimaan lambang-lambang dari komunikator kepada komunikan.
Menurut Astrid Susanto, dalam bukunya yang berjudul Komunikasi dalam Teori dan Praktik (1997:3), dari pengertian-pengertian tersebut dapat dipahami bahwa unsur-unsur komunikasi meliputi:
* Komunikator, adalah seseorang atau sekelompok orang yang mengambil inisiatif untuk menyampaikan pesan.
* Pesan, adalah pernyataan yang didukung oleh lambang atau tanda, kata-kata tertulis atau secara lisan.
* Komunikan, yakni orang yang menerima pesan
* Media, yaitu sarana atau saluran yang mendukung pesan, yang dipakai sebagai alat penyampaian/pengiriman pesan, misalkan telepon, radio, surat, surat kabar, majalah, televisi, faksimili, teleks dan internet.
* Efek, adalah dampak yang ditimbulkan dari pesan yang disampaikan.
Selanjutnya Astrid S. Susanto mengemukakan bahwa komunikasi terdiri dari komponen-komponen sebagai berikut: Sumber (Source), Komunikator (Encoder), Pernyataan pesan (Message), Komunikan (Decoder) dan Tujuan (Destination).
 Jika tidak terjadi kesamaan makna antara kedua aktor komunikasi (communication actors), dengan lain perkataan komunikan tidak mengerti pesan yang diterimanya, maka komunikasi tidak terjadi. Dalam rumusan lain disebut sebagai situasi tidak komunikatif. Situasi komunikatif bisa berupa pidato, ceramah, khotbah, dan buku, baik situasi komunikasi lisan maupun tulisan.
Terkadang sebuah buku tidak komunikatif. Ada dua kemungkinan mengapa sebuah buku tidak komunikatif bagi Anda. Pertama, penulis tidak mampu mengarang. Kedua, tingkat pendidikan Anda terlalu rendah untuk bisa menyimak dan memahami makna-makna dari kalimat dalam buku itu. Sebaliknya, bila Anda memahami isi buku yang Anda sedang baca berarti buku ini komunikatif bagi Anda.
Wilbur Schramm menyatakan bahwa field of experience atau bidang pengalaman merupakan faktor yang amat penting untuk terjadinya komunikasi. Apabila bidang pengalaman komunikator sama dengan bidang pengalaman komunikan, komunikasi dipastikan akan berlangsung lancar. Sebaliknya, jikalau pengalaman komunikan tidak sama dengan pengalaman komunikator, maka akan timbul kesukaran untuk mengerti satu sama lain. Dengan lain perkataan situasi menjadi tidak komunikatif atau terjadi miscommunication (miskomunikasi). ***

Pentingnya Belajar Ilmu Komunikasi





Istilah komunikasi yang semula hanya merupakan sebuah fenomena sosial, kemudian berkembang menjadi ilmu yang secara akademik berdisiplin mandiri. Dewasa ini, ilmu komunikasi dianggap amat penting sehubungan dengan dampak sosial komunikasi yang menjadi kendala bagi kemaslahatan umat manusia akibat perkembangan teknologi.
llmu Komunikasi, apabila diaplikasikan secara benar, akan mampu mencegah dan menghilangkan konflik antar-pribadi, antar-kelompok, antar-suku, antar-bangsa, dan antar-ras; membina kesatuan dan persatuan umat manusia penghuni bumi.
Studi komunikasi teramat penting karena permasalahan-permasalahan yang timbul akibat komunikasi. Manusia tidak bisa hidup sendirian. Secara kodrati, mereka harus hidup bersama manusia lain, baik demi kelangsungan hidup, keamanan, maupun demi keturunan. Jelasnya, manusia harus hidup bermasyarakat. Masyarakat bisa berbentuk kecil, sekecil rumah tangga yang hanya terdiri dari dua orang suami-istri; bisa pula berbentuk besar, sebesar kampung, desa, kecamatan, kabupaten atau kota, provinsi, dan negara.
Semakin besar suatu masyarakat berarti semakin banyak pula manusia yang dicakup. Pun demikian cenderung akan semakin banyak masalah yang timbul, akibat perbedaan-perbedaan di antara manusia yang banyak itu dalam pikiran, perasaan, kebutuhan, keinginan, sifat, tabiat, pandangan hidup, kepercayaan, dan aspirasi. Sungguh terlalu banyak untuk disebut satu demi satu.
Dalam keseharian pergaulan hidup manusia, terjadi interaksi satu sama lain dan saling mempengaruhi demi kepentingan dan keuntungan pribadi masing-masing. Di sini terjadi saling mengungkapkan pikiran dan perasaan dalam bentuk percakapan. Interaksi dan percakapan ini telah terjadi sejak Adam a.s. berjumpa dengan Hawa. Dan interaksi dan percakapan antar-manusia terus terjadi sampai sekarang, bahkan manusia-manusia pada masa yang akan datang.
Hakikat komunikasi adalah proses pernyataan hubungan antar-manusia. Yang dinyatakan adalah pikiran atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan bahasa sebagai alat penyalurnya. Dalam "bahasa" komunikasi, pernyataan dinamakan pesan (message), orang yang menyampaikan pesan disebut komunikator (communicator), dan orang yang menerima pernyataan diberi nama komunikan (communicatee).
Untuk tegasnya, komunikasi berarti proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan. Jika dianalisis, pesan komunikasi terdiri dari dua aspek, yakni isi pesan (the content of the message) dan lambang (symbol). Kongkretnya, isi pesan itu adalah pikiran atau perasaan, sedangkan lambang adalah bahasa.
Pikiran dan perasaan sebagai isi pesan yang disampaikan komunikator kepada komunikan, selalu menyatu secara terpadu, secara teoritis tidak mungkin hanya pikiran atau perasaan saja. Persoalannya, mana di antara pikiran dan perasaan itu yang lebih dominan. Yang paling sering adalah pikiran yang lebih dominan. Pada situasi di mana guru sedang mengajar, da'i sedang berceramah, dan penyiar televisi sedang membaca berita, isi pesan yang disampaikan ketiga komunikator tersebut didominasi oleh pikiran. Perasaan lebih mendominasi pikiran hanya terjadi dalam situasi tertentu, misalnya suami sebagai komunikator ketika sedang marah mengucapkan kata-kata menyakitkan.
Seiring dengan pergaulan hidup semakin lama semakin kompleks, interaksi dan komunikasi pun bertambah pelik dan rumit. Komunikasi tidak lagi terjadi antara suami dan isteri semata, tetapi dengan orang lain, baik sebagai komunikator maupun sebagai komunikan.
Ferdinand Tonnies mengklasifikasikan pergaulan hidup manusia menjadi dua jenis, yakni Gemeinschaft dan Gesellschaft. Yang dikategorikan Gemeinschaft adalah pergaulan hidup dengan ciri-ciri pribadi (personal), tak rasional (irrational) dan statis. Sedangkan Gesellschaft merupakan pergaulan hidup dengan ciri-ciri tak pribadi (impersonal), rasional (rational) dan dinamis.
Gesellschaft adalah pergaulan hidup yang serba formal, birokratis, dan kaku lantaran peraturan-peraturan yang mengikat dan membatasi. Di situ terdapat pemimpin dan bawahan atau pengikut yang dipimpin, yang harus taat, patuh, disiplin yang sifatnya sanksional. Gesellschaft bisa berbentuk jawatan, perusahaan, lembaga, badan, dan partai politik. Oleh karena pergaulan hidup dalam Gesellschaft bersifat tidak pribadi maka komunikasi acapkali tidak berlangsung mulus karena hambatan psikologis, sosiologis, atau antropologis.
Semakin peliknya hubungan antar-manusia mendorong semakin pentingnya studi terhadap komunikasi, karena teknologi, khususnya teknologi komunikasi, yang semakin lama semakin canggih. Dewasa ini banyak orang semakin asyik mempelajari ilmu komunikasi. Mereka berpikir jika seseorang salah berkomunikasi (miscommunication), maka orang yang dijadikan sasaran mengalami salah persepsi (misperception), yang pada gilirannya salah interpretasi (misinterpretation), giliran berikutnya terjadi salah pengertian (misunderstanding).
Dalam hal-hal tertentu, salah pengertian ini dapat menimbulkan salah perilaku (misbehavior). Dan, apabila komunikasinya berlangsung berskala nasional, akibatnya bisa fatal. Situasi komunikasi yang semakin pelik itu mengundang pertanyaan yang hakiki yang memerlukan jawaban yang mendasar pula.
Karena komunikasi yang semakin pelik dan kita terus berusaha mencari jawaban yang mendasar pula, maka kita mesti belajar ilmu komunikasi secara tepat dan komprehensif. Betapa pentingnya kita belajar ilmu komunikasi, menurut Ruben & Steward (2005:1-8), karena:
·         Komunikasi adalah fundamental dalam kehidupan kita.
Dalam kehidupan kita sehari-hari, komunikasi memegang peranan yang sangat penting. Kita tidak bisa tidak berkomunikasi. Tidak ada aktivitas yang dilakukan tanpa komunikasi, karena kita berbeda secara esensial sehingga membutuhkan komunikasi dengan orang lain. Demikian pula sebaliknya, orang lain akan berkomunikasi dengan kita, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Cara kita berhubungan satu dengan lainnya, bagimana suatu hubungan kita bentuk, bagaimana cara kita memberikan kontribusi sebagai anggota keluarga, kelompok, komunitas, organisasi dan masyarakat secara luas membutuhkan suatu komunikasi. Komunikasi menjadi hal yang sangat fundamental dalam kehidupan kita.
·         Komunikasi merupakan suatu aktivitas yang kompleks.
Komunikasi adalah suatu aktivitas yang kompleks dan menantang. Dalam hal ini, ternyata aktivitas komunikasi bukanlah suatu aktivitas yang mudah. Untuk mencapai kompetensi komunikasi memerlukan understanding dan suatu keterampilan sehingga komunikasi yang kita lakukan menjadi efektif. Ellen Langer, dalam Ruben & Stewart (2005: 3), menyebut konsep mindfulness akan terjadi ketika kita memberikan perhatian pada situasi dan konteks, kita terbuka dengan informasi baru dan kita menyadari bahwa ada banyak perspektif, tidak hanya satu perspektif, di kehidupan manusia.
·         Komunikasi adalah vital untuk suatu kedudukan yang efektif.
Karir dalam bisnis, pemerintahan, atau pendidikan memerlukan kemampuan dalam memahami situasi komunikasi, mengembangkan strategi komunikasi yang efektif, memerlukan kerjasama antara satu dan yang lain, dan dapat menerima atas kehadiran ide-ide yang efektif melalui saluran-saluran komunikasi. Untuk mencapai kesuksesan dari suatu kedudukan/posisi tertentu dalam mencapai kompetensi komunikasi dapat ditempuh antara lain melalui kemampuan secara personal dan sikap, kemampuan interpersonal, dan kemampuan dalam melakukan komunikasi oral dan tulisan.
·         Pendidikan tinggi tidak menjamin kompetensi komunikasi yang baik.
Terkadang kita menganggap bahwa komunikasi hanyalah sesuatu yang bersifat common sense dan setiap orang pasti mengetahui bagaimana cara berkomunikasi. Padahal, sesungguhnya, banyak orang yang tidak memiliki keterampilan berkomunikasi yang baik karena ternyata banyak pesan-pesan dalam komunikasi manusia itu yang disampaikan tidak sebatas dalam bentuk verbal tapi juga non-verbal. Kita membutuhkan keterampilan komunikasi dalam bentuk tulisan dan oral, keterampilan berkomunikasi secara interpersonal ataupun secara kelompok. Dengan begitu kita dapat berkolaborasi sebagai anggota kelompok atau masyarakat secara baik.
Kadang kita juga mengalami kegagalan dalam berkomunikasi. Banyak orang yang berpendidikan tinggi namun tidak memiliki keterampilan berkomunikasi yang baik dan memadai. Akibatnnya, mereka mengalami kegagalan dalam berinteraksi dengan manusia lainnya. Di sinilah letak pentingnya komunikasi itu perlu kita pelajari.
·         Komunikasi adalah populer.
Komunikasi adalah suatu bidang yang dapat dikatakan sangat populer. Banyak bidang-bidang komunikasi modern sekarang ini yang memfokuskan pada studi tentang pesan, tentang hubungan komunikasi dengan bidang profesional lainnya termasuk hukum, bisnis, informasi, pendidikan, ilmu komputer, dan lain-lain. Komunikasi pun tampil sebagai ilmu sosial, ilmu perilaku dan suatu seni yang diaplikasikan. Disiplin komunikasi bersifat multidisiplin, yang berkaitan dengan ilmu-ilmu lain seperti psikologi, sosiologi, antroplogi, dan politik. ***

Citra Diri dan Kepekaan Sosial





Sistem komunikasi antar-personal sangat efektif untuk mempengaruhi sikap komunikan yang diinginkan oleh komunikator. Untuk memperoleh hasil yang diharapkan maka dalam proses komunikasi harus ada kesamaan antara komunikan dengan komunikator. Sebagaimana dikatakan oleh Evert M. Rogers dalam teori Homophily, bahwa Homophily adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan tingkat di mana pihak  yang berinteraksi memiliki kesamaan dalam beberapa hal, antara lain kepercayaan, pendidikan, status sosial, dan kepentingan. 
Apabila di pihak-pihak yang terlibat dalam komunikasi sudah terbentuk kesamaan, selanjutnya untuk mencapai komunikasi yang efektif, maka pesan yang akan disampaikan komunikator haruslah cocok dengan frame of reference, yakni pengalaman dan pengertian yang pernah didapat komunikan. Seperti apa yang pernah disampaikan Wilbur Schramm bahwa kondisi yang harus dipenuhi apabila kita menginginkan agar suatu pesan membangkitkan tanggapan yang kita kehendaki maka haruslah memenuhi syarat sebagai berikut:
·         Pesan harus dirancang dan disampaikan sedemikian rupa sehingga dapat menarik perhatian komunikan.
·         Pesan harus menggunakan lambang-lambang tertuju pada pengalaman yang sama antara komunikator dan komunikan sehingga sama-sama mengerti.
·         Pesan mesti mampu membangkitkan kebutuhan pribadi komunikan dan menyarankan beberapa cara untuk memperoleh kebutuhan sendiri.
·         Pesan harus menyarankan suatu jalan untuk memperoleh kebutuhan yang layak bagi situasi kelompok di mana komunikan berada pada saat ia digerakkan untuk memberikan tanggapan yang dikehendaki. 
Dari hal-hal tadi, pada saat akan memulai komunikasinya, seorang komunikator harus memperhatikan semua faktor tersebut, selain juga harus pandai berempati dengan komunikannya. Syarat ini mutlak harus dipenuhi oleh komunikator apabila ia menginginkan komunikasi berjalan lancar, efektif dan mencapai tujuan yang diharapkan.
Kemudian yang penting pula dalam komunikasi adalah bagaimana caranya agar suatu pesan yang disampaikan komunikator itu menimbulkan dampak atau efek tertentu terhadap komunikan. Dampak itu sendiri dapat diklasifikasikan menurut kadarnya, yaitu dampak kognitif, dampak yang timbul pada komunikan yang menyebabkan komunikan menjadi tahu atau meningkat intelektualnya. Kemudian dampak afektif, yaitu dampak yang lebih tinggi daripada dampak kognitif, di sini diharapkan komunikan sampai tergerak hati. Dan dampak behavioral, dampak yang timbul pada komunikan dalam bentuk perilaku, tindakan atau kegiatan.
Sedangkan komunikasi kelompok (group communication) termasuk komunikasi tatap muka, karena komunikator dan komunikan berada dalam situasi saling berhadapan dan saling intensif melihat. Komunikasi kelompok adalah komunikasi dengan sejumlah komunikan. Karena jumlah komunikan itu menimbulkan konsekuensi. Jenis ini diklasifikasikan menjadi kelompok kecil dan kelompok besar.
Dasar pengklasifikasian ini bukan dihitung secara matematis, melainkan kesempatan komunikan dalam penyampaian tanggapanya. Komunikan kelompok kecil bersifat rasional, komunikan dalam menghadapi persoalan lebih menggunakan pikiran daripada perasaan. Tetapi kelompok besar lebih bersifat emosional, lebih-lebih jika komunikannya heterogen, beragam dalam usia, pekerjaan, pendidikan, agama, pengalaman, dan sebagainya. Dalam situasi seperti ini biasanya terjadi wabah mental.
Komunikasi personal atau antar-personal dapat saja berlangsung dalam komunikasi kelompok. Hal ini mengacu pada pendapat Riyono Pratikno (1997: 58), bahwa komunikasi kelompok adalah interaksi tatap muka dari tiga individu atau lebih dengan tujuan yang sudah diketahui sebelumnya, seperti berbagi informasi, pemecahan masalah, yang anggota-anggotanya dapat mengingat karateristik anggota lainnya.
Komunikasi kelompok merupakan komunikasi tatap muka yang jumlah anggota-anggotanya terbatas dan komunikator dapat melakukan komunikasi antar-pribadi dengan anggota kelompoknya dan bertatap muka secara intensif dengan komunikannya. Efek komunikasi ini berhubungan dengan persepsi terhadap komunikatornya.
Untuk memperjelas pemahaman kita tentang komunikasi personal, dapatlah kita bandingkan dengan komunikasi massa yang bertumpu pada konsep komunikasi bermedia (mediated communication). Ada perbedaan esensial di antara keduanya. Dalam komunikasi interpersonal, kontak tatap muka itu memungkinkan adanya hubungan langsung di antara komunikator dan komunikan. Sedangkan pada komunikasi bermedia ada perantaraan --seperti surat kabar harian, majalah, buku, pesawat televisi, atau radio-- antara sumber dan penerima pesan. Konsekuensinya, sumber pesan (pengarang, produser, pembuat berita dan sebagainya) tetap tinggal sebagai sebuah sumber yang berada di luar jangkauan komunikan. Mereka tidak saling membagi kombinasi peran sumber dan penerima sebagaimana bilamana mereka melakukan komunikasi personal. Orang pun menyimpulkan bahwa komunikasi interpersonal dan komunikasi massa merupakan proses fenomena yang berlainan secara fundamental.
Kemudian untuk menunjukkan karakteristik perbedaan antara komunikasi interpersonal dan komunikasi bermedia (massa) dapat disimak pada tabel berikut:
Tabel 8.1
Perbedaan Komunikasi Interpersonal dan Komunikasi Bermedia
Karakteristik
Saluran interpersonal
Saluran media massa
  1. Arus pesan
  2. Konteks komunikasi
  3. Tingkat umpan balik yang terjadi
  4. Kecepatan jangkauan audience yang besar
  5. Efek yang mungkin terjadi
Cenderung 2 arah
Tatap muka
Tinggi
Relatif lambat

Perubahan sikap
Cenderung serarah
Melalui media
Rendah
Relatif cepat

Penambahan pengetahuan
Sumber: (Eduard Depari, 1996:16)
Mengacu pada tabel di atas bahwa dalam komunikasi interpersonal, yang menjadi saluran maupun sumber komunikasi adalah pemrakarsa komunikasi. Saluran media massa adalah semua alat penyampai pesan-pesan yang melibatkan mekanisme untuk mencapai audience yang luas dan tidak terbatas. Surat kabar, radio, film dan televisi merupakan alat yang memungkinkan sumber informasi menjangkau audience dengan jumlah yang besar dan tersebar luas.
Sedangkan teori yang menunjukkan karakteristik (kelebihan/kekurangan) komunikasi bermedia dan komunikasi interpersonal, adalah sebagai berikut:
·         Teori peluru/jarum suntik. Teori ini dibangun berdasarkan anggapan bahwa media massa merupakan senjata yang ampuh buat menembakkan peluru kepada sasarannya. Akibat tindakan ini dapat dirasakan secara langsung oleh sasaran tindakan tersebut. Hal ini sama dengan teori jarum suntik yang juga dibangun atas dasar anggapan bahwa audience media massa mempunyai pengaruh terhadap audience secara langsung, segera dan sangat menentukan.
Teori peluru dan teori jarum suntik ini menganggap audience bersikap pasif serta tidak mampu berpikir lain, secara otomatis terikat pada kelompok walaupun terikat pada media massa.
·         Teori Pencarian Informasi. Teori ini berfokus pada perilaku pencarian informasi oleh seseorang dan berusaha untuk mengindentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku tersebut. Dengan demikian teori ini memindahkan fokus penelitian dari komunikator/pesan kepada penerima.
Dengan melihat kedua teori tersebut, dapat dijelaskan bahwa teori jarum suntuk atau teori peluru merupakan teori yang berkaitan dengan model komunikasi bermedia. Media dianggap sebagai senjata yang ampuh untuk memberikan informasi pada komunikan, sehingga diharapkan komunikan akan bertambah pengetahuan setelah mengetahui informasi yang disampaikan melalui media tersebut.
Sedangkan teori pencarian informasi merupakan teori yang berkaitan dengan model komunikasi interpersonal, misalkan petani aktif mencari informasi dan bertukar informasi dengan sesama petani lainnya mengenai masalah-masalah pertanian. Diharapkan, dengan bertambahnya pengetahuan mereka, maka akan dapat memperoleh hasil pertanian yang lebih meningkat.
Menurut Lunandi (1994), ada empat aspek yang mempengaruhi komunikasi interpersonal, yaitu citra diri (self-image), citra pihak lain (the image of the others), lingkungan fisik, dan lingkungan sosial.
Bagaimana penjelasan keempat aspek tersebut? Kita mulai dari citra diri (self-image). Setiap manusia mempunyai gambaran tertentu mengenai dirinya, status sosialnya, kelebihan dan kekurangannya. Gambaran itulah yang menjadi penentu bagi apa yang dilihatnya, didengarnya, bagaimana penilaiannya terhadap segala yang berlangsung di sekitarnya. Dengan kata lain, citra diri menentukan ekspresi dan persepsi orang. Manusia belajar menciptakan citra diri melalui hubungannya dengan orang lain, terutama manusia lain yang penting bagi dirinya. Seperti ayah-bunda, guru, dan atasan. Melalui kata-kata ataupun komunikasi tanpa kata (perlakuan, pandangan mata dan sebagainya) dari orang lain ia mengetahui apakah dirinya dicintai ataukah dibenci, dihormati ataukah diremehkan, dihargai ataukah direndahkan. Citra diri sebagai seseorang yang lemah akan terlihat pada komunikasinya dengan orang lain. Sukar berbicara bebas, sulit mengatakan isi hati dan pikiran, ataupun yang terjadi sebaliknya.
Lalu citra pihak lain (the image of the others). Selain citra diri, citra pihak lain juga menentukan cara dan kemampuan orang berkomunikasi. Pihak lain, yakni orang yang diajak berkomunikasi, mempunyai gambaran khas bagi dirinya. Kadang  dengan orang yang satu komunikasi berjalan lancar, jelas, dan tenang. Dengan orang yang lain lagi tahu-tahu jadi gugup, sukar menemukan kata-kata yang tepat dan bingung. Ternyata pada saat berkomunikasi itu dirasakan campur tangan ataupun umpan balik antara citra diri dan citra pihak lain.
Selanjutnya lingkungan fisik. Faktor ini punya pengaruh terhadap komunikasi. Bagaimana juga orang yang suka berteriak pada waktu berada di rumah sendiri, ia lebih banyak berbisik di tempat beribadah. Sekalipun orang diajak berkomunikasi itu sama (misal anak sendiri). Di tempat kerja, ia berkomunikasi dengan gaya lain. Memang tingkah laku manusia berbeda dari suatu tempat ke tempat yang lain. Karena setiap tempat mempunyai norma sendiri yang harus ditaati.
Dan lingkungan sosial. Lingkungan sosial merupakan proses komunikasi yang terjadi pada situasi ataupun orangnya. Situasi atau orang yang berbeda akan menyebabkan terjadinya proses komunikasi yang berbeda pula. Pakaian, tingkah laku dan bahasa pada jamuan para cendekiawan di hotel besar tentu tidak sama dengan yang dipakai pada pesta pernikahan pembantu rumah tangga di kampung. Perlu dikemukakan, sebagaimana lingkungan (fisik dan sosial) mempengaruhi tingkah laku dan cara berkomunikasi, setiap orang harus memiliki kepekaan terhadap lingkungan tempat berada, memiliki kemahiran untuk membedakan lingkungan yang satu dengan lingkungan yang lain.
Amat penting bagi kita untuk memahami garis-garis atraksi dan penghindaran dalam sistem sosial agar mampu diramalkan dari mana pesan akan muncul, kepada siapa pesan itu akan mengalir dan lebih dalam lagi bagaimana pesan akan diterima. Berarti dengan mengetahui siapa tertarik kepada siapa atau siapa menghindari siapa, seseorang dapat meramalkan arus komunikasi interpersonal yang akan terjadi. Semakin seseorang tertarik kepada orang lain bertambah besar kecenderungan seseorang berkomunikasi dengan orang tersebut. Kesukaan kepada orang lain, sikap positif dan daya tarik seseorang disebut sebagai atraksi interpersonal.
Sebagai seorang komunikator kita tentu berharap dapat memperoleh kepercayaan dari komunikan dalam komunikasi interpersonal. Philip Kotler (2000) menjelaskan adanya tiga faktor yang melandasi kredibilitas komunikator, yaitu:
·         Keahlian.
Keahlian merupakan kemampuan khusus yang dimiliki oleh komunikator untuk mendukung pesan yang disampaikan. Contoh, apabila seorang akunting membicarakan masalah keuangan perusahaan akan lebih dipercaya dibandingkan yang berbicara adalah bagian humas.
·         Kelayakan untuk dipercaya.
Kelayakan untuk dipercaya berkaitan dengan anggapan atas tingkat obyektivitas dan kejujuran sumber pesan itu. Teman lebih dipercaya dibandingkan orang yang belum dikenal, dan orang yang tidak dibayar untuk merekomendasikan sesuatu dianggap lebih dapat dipercaya ketimbang orang yang dibayar.
·         Kemampuan untuk disukai.
Kemampuan untuk disukai menunjukkan daya tarik sumber di mata komunikan. Sifat-sifat seperti terus terang, humoris, dan apa adanya membuat komunikator lebih disukai.
Kelayakan untuk dipercaya adalah paling utama dari ketiga hal tersebut. Bila seseorang memiliki sikap yang positif terhadap komunikator dan pesan, atau sikap yang negatif terhadap keduanya, maka terjadilah keadaan yang dinamakan keadaan kongruen. Perubahan sikap akan terjadi searah dengan bertambahnya jumlah kesesuaian antara kedua evaluasi tersebut. Prinsip kongruen menjelaskan bahwa komunikator dapat menggunakan citra baiknya untuk mengurangi sikap negatif terhadap suatu pesan tetapi dalam proses tersebut komunikator mungkin kehilangan penghargaan dari komunikan.

Teknik-teknik komunikasi
Dalam melakukan komunikasi interpersonal terdapat beberapa aspek yang harus diperhatikan agar komunikasi berlangsung secara efektif. Menurut De Vito (1997), agar komunikasi berlangsung secara efektif, beberapa teknik yang harus diperhatikan oleh para pelaku komunikasi interpersonal tersebut, antara lain:
a. Keterbukaan (openness).
Keterbukaan dapat dipahami sebagai keinginan untuk membuka diri dalam rangka berinteraksi dengan orang lain. Kualitas keterbukaan mengacu pada sedikitnya tiga aspek dari komunikasi, yaitu komunikator harus terbuka pada komunikan demikian pula sebaliknya; kesediaan komunikator untuk bereaksi secara jujur terhadap stimulus yang datang; dan mengakui perasaan, pikiran serta mempertanggung-jawabkannya.
b. Empati (Emphaty).
Empati didefinisikan oleh Henry Backrack (1976) sebagai kemampuan untuk merasakan hal-hal yang dirasakan orang lain. Hal ini termasuk salah satu cara untuk melakukan pemahaman terhadap orang lain. Langkah pertama dalam mencapai empati adalah menahan godaan untuk mengevaluasi, menilai, menafsirkan, dan mengkritik. Langkah kedua dengan mencoba mengerti alasan yang membuat orang itu memiliki perasaan tersebut. Ketiga, mencoba merasakan apa yang sedang dirasakan orang lain dari sudut pandangnya. Empati dapat dikomunikasikan secara verbal ataupun non-verbal.
c. Sikap mendukung (supportiveness).
Dukungan meliputi tiga hal. Pertama, descriptiveness, dipahami sebagai lingkungan yang tidak dievaluasi menjadikan orang bebas dalam mengucapkan perasaannya dan tidak defensif, sehingga orang tidak malu dalam mengungkapkan perasaannya dan tidak akan merasa bahwa dirinya dijadikan bahan kritikan secara terus-menerus.
Kedua, spontanity, dipahami sebagai kemampuan seseorang untuk berkomunikasi secara spontan dan mempunyai pandangan yang berorientasi ke depan, yang mempunyai sikap terbuka dalam menyampaikan pemikirannya. Ketiga,  professionalism dipahami sebagai kemampuan untuk berpikir secara terbuka (open minded).
d. Sikap Positif (positiveness).
Sikap positif dalam komunikasi berarti bahwa kemampuan seseorang dalam memandang dirinya secara positif dan menghargai orang lain. Sikap positif tidak dapat lepas dari upaya mendorong menghargai keberadaan serta pentingnya keberadaan orang lain. Dorongan positif umumnya berbentuk pujian atau penghargaan, dan terdiri dari perilaku yang biasanya kita harapkan.
d. Kesetaraan (equality).
Tidak akan pernah ada dua orang yang sama-sama setara dalam semua hal. Komunikasi akan efektif apabila suasananya setara. Artinya, harus ada pengakuan dari kedua belah pihak sama-sama berharga dan ada sesuatu yang akan disumbangkan. Kesamaan dalam suatu komunikasi akan menjadikan suasana komunikasi yang akrab. Sebab, dengan tercapainya kesamaan, kedua belah pihak --baik komunikan maupun komunikator-- akan berinteraksi secara nyaman.
Apabila di dalam suatu hubungan terdapat kesetaraan, maka ketidak-sepakatan serta konflik dipandang sebagai upaya untuk lebih memahami perbedaan, tidak untuk menjatuhkan pihak lain. Kesetaraan tidak berarti menerima semua perilaku verbal dan non-verbal pihak lain melainkan memberikan “penghargaan positif tak bersyarat”.
Manakala kita mampu menerapkan kelima teknik komunikasi interpersonal tersebut, maka kita tidak akan mengalami kesulitan untuk melakukan komunikasi interpersonal yang efektif. Kemampuan ini pun akan menjadi salah satu modal kita untuk dapat secara efektif berkomunikasi dalam organisasi. ***