Showing posts with label Mano & Kota Jayapura. Show all posts
Showing posts with label Mano & Kota Jayapura. Show all posts

Friday, February 28, 2014

Bekerja dan Melayani Setulus Hati


Keinginan yang mendalam untuk memahami kehidupan adalah rahasia sukses orang-orang kreatif.
Leo Burnett, Miliarder Periklanan

KOTA JAYAPURA, medio April 2013. Beragenda pertemuan Monitoring Meja Bappeda dengan seluruh SKPD Pemerintah Kota Jayapura yang langsung dipimpin oleh Walikota Jayapura, Benhur Tomy Mano. Pada perhelatan itu Benhur Tomy Mano yang akrab disapa Tomy mengaku kecewa terhadap bawahannya yang masih rendah dan minim realisasi pelaksanaan kinerja Satuan Kerja Perangkat Derah (SKPD).
“Saya masih melihat sangat rendah kinerja dan program nyata dari pelaksanaan visi dan misi saya, yang seharusnya monitoring triwulan pertama sudah mencapai 60 persen,” aku Tomy. Seharusnya, kata dia, Pemerintah Kota Jayapura lebih awal menyusun APBD 2013 dan lebih awal menyerahkan DPA ke SKPD, Kelurahan, Puskesmas dan Kepala Sekolah.
Untuk itu, lanjut Tomy, harus secepatnya direalisasikan karena jika terlambat akan berdampak terhadap kesejahteraan masyarakat. Mengingat, program-program  tersebut bersentuhan secara langsung ke rakyat. “Bila kita menunggu sampai akhir tahun maka kita akan kejar target sehingga akan membuat fisik dan relaisasi tidak  sesuai dengan kualitas yang kita ingingkan,” ujar Mano.
Bertolak dari itu, Tomy mendorong SKPD dan seluruh penerima DPA agar segera meralisasikan program-program yang telah dicanangkan sesuai dengan visi dan misi serta renstra (rencana strategis) di masing-masing SKPD. “Semua Kepala Sekolah, Kepala Kelurahan dan Kepala SKPD harus ‘menggenjot’ dan meningkatkan realiasasinya secara cepat. Setiap bulan harus dilaporkan ke Bappeda dan Keuangan,” tuturnya.
“Seringakali saya telah menginstruksikan agar adanya budaya inovasi, kreasi dan pemahaman Walikota Jayapura di mana saya berlari mereka juga harus ikut berlari untuk mencapai tujuan idaman demi kesejahteraan warga masyarakat Kota Jayapura,” tegas Tomy mengenai sikap SKPD yang dinilai masih lamban.
Sementara itu, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah ( Bappeda) Kota Jayapura, Frans Pekey, mengungkapkan, hingga triwulan pertama, realisasi fisik rata-rata baru mencapai 1,62 persen dari total kegiatan sebanyak 535 kegiatan di tahun 2013. Terkait realiasi keuangan, lanjutnya, rata-rata baru mencapai 1,94 persen dari dana sebesar Rp333.714.307.361. Memang relatif kecil.
Menapaki tahun kedua kepemimpinannya, Tomy tidak mau tinggal diam menghadapi kenyataan kinerja bawahannya yang kurang menggembirakan. Bersama Wakil Walikota DR. H. Nur Alam, SE,M.Si, Mano berkomitmen membangun budaya kerja yang baik dengan melanjutkan penataan kepemerintahan yang lebih baik dengan dukungan kapasitas birokrasi yang profesional demi terwujudnya kesejahteraan masyarakat.
Karena itu, dalam upaya untuk meningkatkan budaya kerja yang lebih baik, menurut Tomy, perlu dilakukan pembenahan kapasitas birokrasi yang adalah pemimpin di semua tingkatan sehingga mampu melakukan pelayanan yang secara optimal dan maksimal kepada warga masyarakat.
Berkaitan dengan hal itu, Walikota Tomy Mano mengungkapkan bahwa dirinya telah siap mengganti sejumlah Kepala SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) yang tidak edukatif dan kreatif. “Itu hak proregatif saya sebagai Walikota, dan saya telah melakukan penilaian terhadap sejumlah Kepala SKPD yang tidak bisa bekerja secara baik, terpadu, dan tidak bisa memanage stafnya secara baik, karena itu dalam waktu dekat saya akan mengganti mereka, tinggal tunggu waktu saja,”tandas Tomy.
Walikota Tomy Mano menegaskan, tujuan kepemimpinannya adalah untuk mensejahterakan rakyat di Kota Jayapura, hadir sebagai pelayan masyarakat. “Jika pemimpin SKPD tidak melakukan hal-hal baru, untuk apa dipertahankan,” tegasnya.
Menurut lelaki kelahiran Tobati tanggal 30 April 1965 ini, ketidak-selarasan antara ucapan dan tindakan akan mengakibatkan warga masyarakat tidak percaya terhadap pemimpinnya. Dia berharap pemimpin yang bekerja di Kota Jayapura harus menunjukkan integritasnya melalui pencapaian kinerja secara maksimal dengan mengerahkan segala kemampuan dan sumber daya yang dimiliki serta berupaya untuk tertib dalam segala hal.

Kristalisasi Filosofi Melayani
Walikota Benhur Tomy Mano merasa tidak perlu mengajarkan hal-hal yang bersifat teknis atau doktriner dalam hal pelayanan kepada warga masyarakat. Yang diajarkannya adalah filosofi pelayanan. “Mereka sudah bekerja puluhan tahun di sini, masa belum bisa melayani,” ujarnya suatu kali. Prinsipnya, benak para aparatur sudah cukup dibebani dengan berbagai tugas di lingkup kerjanya, jadi tidak perlu lagi menghafal bagaimana cara menyapa warga masyarakat yang datang. Dengan memahami filosofi pelayanan, orang akan mampu mengembangkan sendiri sikap melayani sebagai personal trait.  
Bahwa sikap (attitude) mempengaruhi semua hal. Sikap yang baik akan membuka pintu, membuat orang tersenyum, membuat orang gembira, dan membuat orang ingin melakukan hal-hal yang baik pula kepada kita.
Tidak segan-segan Walikota Tomy Mano mengundang aparatur yang kurang memberikan pelayanan yang baik untuk berbicara empat mata. Dia mengajarkan personal grooming, bagaimana berpakaian yang rapi, merawat kebersihan, sehingga warga masyarakat merasa senang berhadapan dengan aparatur yang rapi, bersih dan ramah.
Benhur Tomy Mano tidak sebatas mengajari dan memberi teladan kepada aparatur tentang service behavior yang spesifik. Lebih daripada itu, dia mengajak segenap aparatur Pemerintah Kota Jayapura untuk mencintai pekerjaan masing-masing. Dalam satu cerita sufistik, dikisahkan tentang seseorang yang membuat minuman anggur sembari menggerutu, sehingga minuman itu rasanya lebih mirip cuka yang asam. Orang yang mencintai pekerjaannya akan melakukan pekerjaannya dengan baik sepenuh hati.
Semua agama besar di dunia mengajarkan konsep bahwa melayani bukanlah pekerjaan yang hina atau rendah. Sebaliknya, melayani adalah pekerjaan yang luhur. Dalam kapasitas kita masing-masing, kita akan selalu melakukan pelayanan. Melayani adalah sifat Tuhan, kata Tomy Mano. Tuhan melayani manusia 24 jam sehari serta tujuh hari dalam sepekan. Tuhan tidak pernah berhenti melayani umatnya, memberi maaf, memberi cinta kasih, memberi berkat dan rahmat. Cinta kasih kita kepada sesama manusia merupakan bukti cinta kasih kita kepada Tuhan Yang Maha Kasih. “Bagaimana kita bisa mencintai Tuhan yang tidak tampak, bila kita tidak bisa mencintai orang yang tampak di sekeliling kita,” ujar Tomy Mano.
Sebagai umat Kristiani, Tomy Mano meyakini benar prinsip kepemimpinan ajaran Alkitab yang bertumpu pada sikap melayani. Alkitab mengajarkan bahwa kepemimpinan (rohani) adalah kepemimpinan yang menghambakan diri kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Identitas pemimpin Kristen adalah sebagai “hamba.” Kepemimpinan Kristen bukan untuk mencari keuntungan, baik materi maupun non-materi, melainkan untuk pelayanan (Lukas 22:26). Dalam Perjanjian Lama, para raja bukan untuk meninggikan diri atas rakyat (Ulangan 17:20). Korah ditegur dan dihukum lantaran sikap kepemimpinan yang mengutamakan kedudukan (Bilangan [Kitab Bilangan] 16:933). Paulus memandang jabatan rasul bukan untuk kemuliaan dirinya, melainkan untuk bekerja keras dalam pelayanan (2Korintus 11-12; 1Korintus 15:910). Para penatua gereja dipanggil untuk menggembalakan dan memelihara umat Allah (Ibrani 13:17; 1Petrus 5:23). Yesus mengajarkan kepemimpinan sebagai “menjadi hamba” dan Dia menegaskannya melalui keteladanan-Nya (Markus 10:3545).
Masih menurut ajaran Alkitab, Walikota Tomy Mano meyakini bahwa kepemimpinan harus  menempatkan posisinya di bawah kontrol Kristus. Seorang pemimpin Kristen bukan menjadi orang nomor satu dalam gereja, sebab Kristus adalah Kepala Gereja. Ia memimpin namun juga dipimpin oleh Pemimpin Agung, Tuhan Yesus (Yohanes 13:13). Dengan demikian kerendahan hati dalam kepemimpinannya akan riil dalam praktiknya. Kerendahan hati yang melihat baik kebenaran tentang dirinya maupun keterbukaan untuk terus belajar akan kepemimpinan yang lebih baik, termasuk keunggulan dalam orang lain.
Kemudian, sebagai pemimpin pembaharu (agen perubahan), Walikota Tomy Mano menyandarkan model kepemimpinan yang berdasarkan pada karakter yang baik. Kepemimpinan Kristen sangat menekankan pada karakter yang teruji. Otentisitas kepemimpinan Kristen bergantung pada ketaatannya kepada Kristus dan meneladani Kristus. Dengan otentisitas tersebut maka kepemimpinan Kristen memiliki legitimasi dan otoritas untuk memimpin.
Sekali lagi, sebagai umat Kristiani, Benhur Tomy Mano juga menerapkan prinsip kepemimpinan yang bergantung pada Roh Kudus. Pemimpin Kristen bukan dilahirkan atau dibentuk melalui usaha manusia, melainkan kemampuannya terutama karena karunia Roh Kudus (Roma 12:6; 1Korintus 12:7). Karunia kepemimpinan adalah satu dari banyak karunia rohani dalam gereja. Sebab itu, kemampuan kepemimpinan rohani harus bersandar pada Roh Kudus.
Dalam memimpin masyarakat Kota Jayapura untuk mencapai kemajuan, Walikota Tomy Mano mengaplikasikan kepemimpinan yang berdasarkan pada motivasi Kristen. Kepemimpinan sekuler pada umumnya berdasarkan kekuatan manusiawi dan bertujuan untuk meraih keuntungan pribadi (Markus 10:42). Sedangkan kepemimpinan rohani harus menanggalkan pementingan diri dan motivasinya demi kepentingan orang lain dan kemuliaan Tuhan. Karena itu, dia dimotivasi oleh kasih Kristus.
Dan, dalam upaya terus memajukan masyarakat Kota Jayapura, kepemimpinan Benhur Tomy Mano mendasarkan otoritasnya pada pengorbanan. Sebab itu, pemimpin (Kristen) yang sejati disebut “pemimpin pelayan” (a servant leader). Cacat terdalam dalam kepemimpinan sekuler berakar pada arogansi yang membuatnya bertindak dominan berdasarkan rasa superioritas. Yesus mengajarkan bahwa ciri khas dan kebesaran pemimpin spiritual terletak bukan pada posisi dan kuasanya, melainkan pada pengorbanannya. Hanya melalui sikap-tindak melayani, seseorang menjadi besar (Markus 10:43-44). Pemimpin yang memberi keteladanan dan pengorbanan akan memiliki wibawa spiritual untuk memimpin orang lain.
Dalam iman Kristen, Benhur Tomy Mano meyakini benar ketegasan Yesus soal kepemimpinan yang bertumpu pada religiusitas dan kepemimpinan sekuler. Yesus menegaskan adanya perbedaan esensial antara pemimpin Kristen dan pemimpin sekuler dengan menyatakan, "Kamu tahu, bahwa mereka yang disebut pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi, dan pembesar-pembesarnya menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang." (Markus 10:42-45).
Benhur Tomy Mano berusaha menanamkan (kristalisasi) benar nilai, sikap dan tindak melayani kepada segenap jajaran aparatur Pemerintah Kota Jayapura. Dia berupaya menanamkan melalui berbagai media, forum dan kesempatan berkomunikasi dengan seluruh jajaran aparatur Pemerintah Kota. Dari sana lah dia ingin segenap aparatur, perlahan namun pasti, semakin memahami arti penting sikap dan tindak melayani warga masyarakat. Dengan begitu, tidak hanya warga masyarakat yang merasa nyaman berurusan dengan aparatur birokrasi namun juga pada investor dan kalangan usahawan yang hendak berpartisipasi menggerakkan roda pembangunan di wilayah ibukota Provinsi Papua tersebut.

Membangun Kerjasama dan Soliditas Tim
Dengan kristalisasi kultur melayani, Walikota Benhur Tomy Mano menegaskan, Pemerintah Kota Jayapura mengusung sekaligus membumikan visi membangun Jayapura sebagai kota yang bersih, indah dan nyaman, modern, mandiri, bersatu dan sejahtera berbasis kearifan lokal.
Visi itu kemudian diejawantahkan ke dalam misi: 1) mewujudkan Kota Jayapura yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa; 2) mewujudkan Kota Jayapura yang Beriman: bersih, indah, aman dan nyaman; 3) mewujudkan Kota Jayapura yang modern, mandiri, bersatu dan sejahtera; 4) mewujudkan Kota Jayapura sebagai pusat jasa, perdagangan, pendidikan dan pariwisata; 5) mewujudkan Kota Jayapura yang berbudaya dalam arti, menghargai nilai-nilai kearifan lokal yang berperikemanusiaan dan berkeadilan; dan 6) mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik dan bersih.
Langkah membenahi aparatur Pemerintah Kota Jayapura tidak lain merupakan bagian dari upaya Walikota Benhur Tomy Mano untuk mengukur bagaimana segenap aparatur Pemkot memahami visi dan misi yang telah digariskan dan disepakati bersama. Kita ingat pemikiran pakar kepemimpinan Jack Welch tentang bagaimana mengelompokkan kemampuan dan sikap karyawan (termasuk pula aparatur sebagai karyawan pemerintahan) dan kemudian dari pengelompokan tersebut dibuat rencana pemberdayaan.
Menurut Jack Welch, terdapat empat tipe orang dalam kaitannya sebagai sumber daya manusia (SDM) di sebuah lembaga atau instansi, yaitu:
Kompetensi
Visi
Rencana Pemberdayaan
Tidak kompeten
Tak sevisi
>dipersilakan keluar
Tidak kompeten
Sevisi
>diberi bekal pelatihan atau pembelajaran
Kompeten
Tak sevisi
>dipersilakan keluar
Kompeten
Sevisi
>dipersiapkan menjadi future leaders

Kendati diakui, bahwa prinsip rumusan Jack Welch tersebut terasa terlalu keras bila diterapkan secara konsisten di Indonesia –tak terkecuali di Kota Jayapura. Namun setidaknya dapat dijadikan sebagai reference point buat menunjukkan betapa pentingnya bagi semua karyawan (tak terkecuali aparatur pemerintahan) untuk terlebih dulu menyamakan visi. Karena itu, Walikota Benhur Tomy Mano berusaha meluangkan waktu untuk berdialog (salah satu di antaranya melalui sidak) dengan staf dan aparatur pemerintahan kota dalam rangka sharing vision and values.
Visi merupakan alat yang paling ampuh untuk melakukan alignment (penyelarasan) terhadap semua sumber daya yang dimiliki oleh lembaga (termasuk pemerintahan). Bilamana sumber daya tidak dapat disatu-arahkan buat mencapai visi, maka sumber daya itu harus disingkirkan atau disesuaikan. Kita tidak perlu lagi membuang-buang waktu. Secara simplistis, pertanyaan yang kita ajukan adalah: are you with me, or are you not with me.
Sampai batas-batas tertentu, Benhur Tomy Mano sependapat dengan pemikiran Jack Welch yang tidak terlalu peduli dengan action plan dan strategic plan. Tapi, prinsip yang ingin dikembangkan oleh Benhur Tomy Mano adalah bahwa visi lebih penting daripada rencana. Vision-driven instead of plan-driven. Visi yang besar membuat semua orang tertantang untuk bergerak maju.
Dalam kompetisi yang sangat ketat dewasa ini, bila kita terlalu terpaku pada rencana-rencana –baik rencana tahunan maupun lima tahunan—kita akan terlalu gampang terjebak pada rutinitas untuk sekadar melakukan pekerjaan berdasarkan rencana-rencana di atas kertas. Kita lupa menyimak perkembangan di luar yang demikian cepat berubah. Boleh jadi peta konsumsi telah berubah, barangkali peta kompetisi pun sudah bergeser, sementara kita berpikir bahwa pekerjaan kita beres dikerjakan sesuai dengan rencana kerja awal.
Walikota Benhur Tomy Mano percaya pula bahwa visi dan misi merupakan alat pemersatu yang kuat dalam setiap lembaga. Passion comes from a direct connection to purpose. Karyawan (aparatur) yang memahami dan menghayati visi dan misi lembaga adalah karyawan yang gampang dimobilisasi untuk melakukan perubahan guna mencapai sasaran-sasaran lembaga. Dan karyawan yang mudah diajak bekerja-sama dan bersama bekerja dalam soliditas tim yang kuat.
Bukan saja lantaran Benhur Tomy Mano sadar bahwa waktunya di institusi Pemerintah Kota Jayapura relatif tidak akan terlalu lama, namun upaya untuk menyamakan visi memerlukan prioritas tinggi dan harus dilakukan dalam waktu singkat guna memperoleh hasil yang optimal. Visi adalah satu hal yang tampaknya sepele, tetapi berdampak sangat besar. Visi itu bagai virus. Virus yang bahkan tak tampak oleh mata dapat membuat tubuh orang yang paling kuat sekalipun menggigil dan tak mampu berdiri. Kecepatan virus mewabah juga luar biasa. Dalam sebuah epidemi penyakit yang disebabkan oleh virus, kita melihat bahwa perubahan terjadi secara drastis, bukan secara gradual.
Tomy Mano ingin proses menyamakan visi menjadi seperti penyebaran virus. Social epidemics bisa bertingkah laku sama dengan epidemi penyakit. Tetapi, sebagaimana virus, harus ada media untuk menularkannya. Kita memerlukan messengers dan connectors untuk membuat virus visi ini secara cepat dan serentak mendemamkan semua orang (aparatur) di pemerintahan Kota Jayapura.
Pemerintahan Kota Jayapura sudah terlalu lama tidur. Sebagai orang yang telah lama berkarir di lingkungan Pemerintah Kota Jayapura, Benhur Tomy Mano menyadari bahwa lembaga ini harus segera dihentakkan bangun, dan digoyang dengan irama yang membuat orang tidak berhenti bekerja. Mereka tidak lagi mimpi sendiri-sendiri dalam tidur nyenyak mereka, tetapi mengejar impian bersama secara bersama pula.

Fokus Menggali Potensi
Upaya pengelolaan pemerintahan yang baik tidak semata-mata bertujuan demi perbaikan kualitas aparatur dan kerja sama antar-unit pemerintahan. Hal ini diharapkan mampu memantik perwujudan masyarakat yang sejahtera dan mandiri melalui pengembangan aktivitas ekonomi berbasis potensi lokal. Untuk itu Walikota Benhur Tomy Mano memfokuskan pembangunan wilayah Kota Jayapura di sektor perdagangan, industri, jasa dan pariwisata.
Fokus menjadi faktor penting dalam menggapai keberhasilan suatu proses pembangunan. Dalam arti umum, fokus adalah sesuatu yang secara terus-menerus dikonsentrasikan kepada satu kegiatan. Dan, peranannya sangat penting bagi kehidupan manusia karena fokus memberikan energi dan kekuatan pada hampir semua hal. Pemerintahan yang fokus akan sangat kokoh dan dipercaya oleh warga masyarakat. Secara luas, masa depan bisnis, pekerjaan atau karir seseorang tergantung pada fokus yang ia berikan pada hal tersebut. Kalau tidak fokus maka ia tidak akan memperoleh apa-apa.
Penulis kenamaan John C. Maxwell, dalam bukunya yang berjudul The 21 Indispensable Qualities of a Leader, menjelaskan bahwa kunci untuk memiliki fokus adalah tahu prioritas dan memiliki konsentrasi. Seseorang, terlebih bila ia seorang pemimpin, yang mengetahui prioritas namun kurang konsentrasi melaksanakan apa yang harus dilaksanakannya, maka ia tidak akan mencapai keberhasilan. Sebaliknya, seseorang yang memiliki konsentrasi tapi tidak mempunyai prioritas maka ia tidak akan mengalami kemajuan yang berarti. Bila ia mengetahui prioritas dan memiliki konsentrasi maka ia berpotensi menggapai hal-hal besar. Untuk fokus, misalkan, kita sebaiknya membagi sebagai berikut: 70 persen untuk hal-hal yang kita kuasai, 25 persen untuk hal-hal baru, dan 5 persen untuk kelemahan kita. Jadi, sebagian besar kita fokus pada apa yang dapat kita kerjakan secara baik yang akan membuat kita sukses. Curahkan waktu, energi, serta sumber daya untuk bidang yang sesuai dengan talenta (potensi) yang ada dalam diri kita. 
Sekali lagi, kunci fokus adalah prioritas dan konsentrasi. Lantas, apa fokus Walikota Benhur Tomy Mano dalam langkah membangun Kota Jayapura kini dan ke depan. Setelah mendengarkan, berpikir dan menilai, Walikota Benhur Tomy Mano memprioritaskan sektor perdagangan dengan konsentrasi mensinergikan kelompok usaha kecil, kelompok menengah dan kelompok usaha besar, serta menarik investasi.
Mulai tahun 2012, Pemerintah Kota Jayapura berusaha memfokuskan diri pada implementasi Program Kota Layak Investasi. Program Kota Layak Investasi ini merupakan sistem pembangunan kota yang mengintegrasikan komitmen dan sumberdaya pemerintah, masyarakat dan dunia usaha yang terencana secara menyeluruh dan berkelanjutan dalam kebijakan, program dan kegiatan untuk pemenuhan hak-hak ekonomi dan kesejahteraan warga masyarakat. Pengembangan Kota Layak Investasi ini diprioritaskan pada:
·         Identifikasi proyek-proyek investasi yang mempunyai prospek bisnis yang menguntungkan dan menarik.
·         Membuat studi kelayakan terhadap setiap proyek.
·         Menawarkan proyek-proyek investasi tersebut secara aktif kepada para investor potensial, baik dari dalam negeri maupun luar negeri.
·         Menghilangkan hambatan-hambatan (barriers) serta menyederhanakan prosedur investasi di Kota Jayapura.
Selain itu, untuk tahun 2012-2016, arah kebijakan Pemerintah Kota Jayapura tetap fokus mendukung program-program menuju kota metropolitan dengan kebijakan sebagai berikut: pertama, Merencanakan pengembangan kawasan perdagangan dan jasa melalui program-program yang akan dilaksanakan oleh SKPD yang terkait. Kedua, Mengefektifkan Industri Batik Papua sebagai media pengembangan industri dan pariwisata yang cukup menarik di Kota Jayapura.
Beberapa fokus lainnya yang juga penting adalah: Mendukung pencapaian Millenium Development Goal’s 2015, Pemberian beasiswa bagi siswa tidak mampu, Bantuan peningkatan dan kualitas dan kesejahteraan guru, Pembangunan dan perbaikan sarana dan prasarana transportasi, dan Penataan ruang dan pengembangan wilayah.
Secara agak makro, Walikota Benhur Tomy Mano memfokuskan pembangunan Kota Jayapura pada pembangunan infrastruktur, pembinaan mental-spiritual, peningkatan skill aparatur dalam memberikan pelayanan masyarakat dan menempatkan aparatur sesuai dengan kemampuan serta kapasitas yang mereka miliki.
Pembinaan mental, demikian penjelasan Benhur Tomy Mano, dilakukan melalui tokoh-tokoh agama dan tokoh masyarakat sehingga diharapkan mampu menyentuh akar permasalahan. “Tokoh agama ini bisa lewat gereja, masjid, atau perkumpulan keagamaan, di mana kita perlu melakukan pembinaan masyarakat agar kembali kepada UUD 1945 dan Pancasila. Karena di dalam Pancasila terdapat bhinneka tunggal ika. Saya melihat belakangan ini Pancasila dan UUD 1945 mulai ditinggalkan dalam kehidupan sehari-hari. Banyak nilai utama yang terkandung dalam Pancasila yang harus kembali kita eja-wantahkan sehingga masyarakat menjadi tertib, adil dan makmur,” tegas Benhur Tomy Mano.
Sekali lagi, Benhur Tomy Mano berusaha memimpin masyarakat Kota Jayapura dengan segala daya upaya membentuk tim yang tangguh, pemimpin yang yang aktif sebagai agen perubahan, pemimpin yang kreatif di tengah keterbatasan, dan pemimpin yang mampu mentransformasikan nilai-nilai adaptif di tengah arus kuat perubahan zaman. ***

Thursday, February 27, 2014

Jalan Berliku Menuju Jayapura Satu


Tuhan telah menganugerahkan untukmu intelejensia dan pengetahuan. Janganlah kamu padamkan lampu kasih sayang Tuhan, dan jangan biarkan nyala lilin kearifan mati dalam kegelapan nafsu dan keserakahan. Karena, seorang yang bijak mendekati sesama dengan obornya untuk menerangi jalan umat manusia.
Kahlil Gibran, Penyair Kenamaan Dunia

JAYAPURA, Mei 2011. Suasana Kota Jayapura, Ibu Kota Provinsi Papua, siang itu tanggal 18 Mei 2011 tampak lengang saat ratusan ribu warga mendatangi tempat-tempat pemungutan suara untuk mengikuti pemungutan suara ulang pemilihan umum kepala daerah (pemilukada) wali kota dan wakil wali kota setempat.
Sesuai Keputusan Gubernur Papua, hari Rabu tanggal 18 Mei 2011 itu menjadi hari libur bagi warga Jayapura untuk melaksanakan pemilukada ulang setelah pada awal Desember 2010 Mahkamah Konstitusi (MK) memutuskan perkara sengketa Pilkada Jayapura yang dilaksanakan 11 Oktober 2010. Mahkamah Konstitusi memerintahkan pemilukada diulang dengan menambah lagi satu pasangan calon, sehingga total terdapat tujuh pasangan calon walikota – wakil walikota yang berkompetisi merebut hati rakyat. Para kandidat tersebut adalah Abisay Rollo - Reynalda Kaisiepo, Benhur Tomy Mano - Nur Alam, Musa Youwe - Rustan Saru, Jan Hendrik Hamadi - Lievelin Ansanay, Thobias Salossa - Haryanto, Fredrick Toam - Jimmy Ansanay, dan Hendrik Worumi - Pene Ifi Kogoya.
Pada pemilukada ulang itu tidak terlalu tampak antusiasme warga untuk datang ke tempat pemungutan suara guna menyampaikan aspirasi pilihannya. Sejak pagi hingga sekitar pukul 10.00 WIT, jalan-jalan yang biasanya padat lalu lintas, masih terlihat lengang. Para pedagang makanan dan buah yang biasanya terlihat ramai di sejumlah emperan jalan juga tidak terlihat.
Seorang warga Kota Jayapura Endianus Ansi mengaku sempat kesulitan mencari angkutan kota karena banyak angkot belum beroperasi. “Agak sulit mencari angkutan umum untuk ditumpangi,” katanya.
Sebanyak lebih dari 230.000 pemilih tetap yang terdaftar di KPU Kota Jayapura diharapkan memberikan suara pada pemilukada untuk memilih Wali Kota/Wakil Wali Kota Jayapura periode 2011-2016 tersebut. Situasi kamtibmas di Kota Jayapura dan sekitarnya saat pemilukada ulang ini terasa tetap kondusif.
Pada pemilukada ulang ini pasangan Benhur Tomy Mano - Nur Alam (nomor urut 2) tampil menjadi pemenang dengan perolehan suara 55.753  suara atau 40,79 persen. Namun, pasangan ini tidak serta merta langsung dilantik dalam tempo secepatnya. Seperti juga pada pemilukada yang pertama pada Oktober 2010, hasil pemilukada pada 11 Mei 2011 tersebut pun digugat oleh pasangan lain ke Mahkamah Konstitusi (MK).

Pertarungan Sengit Tanpa Petahana
Sebenarnya Pemilukada Kota Jayapura sudah harus dilangsungkan pada tanggal 28 Juni 2010. Namun karena berbagai pernak-pernik administrasi dan gugat-menggugat, pemilukada ini baru bisa berlangsung pada Oktober 2010. Itu pun tetap menyisakan ketidak-puasan para peserta yang berujung di Mahkamah Konstitusi. Jelas, pemilukada Kota Jayapura ini merupakan pemulikada yang sangat menarik.
Ada beberapa alasan mengapa pemilukada ini menarik. Yang pertama pertarungan sangat seru, kesempatan menang bagi calon siapapun sangat terbuka karena sudah tidak ada calon petahana (incumbent) yang kembali bertarung. Yang kedua antusiasme sangat terlihat, terbukti sampai dengan tanggal 25 Maret 2010, jumlah peserta yang mendaftarkan diri sebagai peserta berjumlah 10 bakal calon dengan rincian 7 peserta diusung oleh partai politik (Parpol) dan 3 peserta merupakan bakal calon perseorangan. Kemudian mereka menjalani verifikasi untuk disahkan menjadi calon.
Di masa-masa awal 2010 tersebut, dari 10 bakal calon yang ada, bisa dipastikan setidaknya 3 bakal calon dipastikan melangkah sebagai calon dan dipastikan menjadi calon kuat dalam pemilukada kota Jayapura 2010. Ketiga  pasangan itu, masing-masing:
1. Pasangan Musa Youwe dan Rustan Saru (MY-RS) yang diusung kekuatan Partai Golkar dan PAN;
2. Pasangan Benhur Tomy Mano dan dan Nur Alam (BTM-Alam) yang diusung kekuatan PDIP, PKS, dan Partai Hanura;
3. Yan Hendrik Hamadi dan Lievellien Louisa Ansanay (HH-LLA) yang diusung Partai Demokrat, PDK, PBR dan beberapa Parpol kecil.
Mengapa ketiga pasangan ini menjadi calon terkuat? Jawabannya, pertama, dalam proses verifikasi bisa dipastikan 3 pasangan tersebut bakal lolos karena partai pengusung yang sudah melebihi kuota 15% kursi yang ada di DPRD Kota Jayapura. Jelas sekali bahwa kekuatan legislatif akan kembali bermain untuk memenangkan pasangan mereka.
Kedua, dengan mesin partai yang sudah besar, ketiga pasangan tersebut memiliki kans yang sangat besar untuk menang.
Dan ketiga, belum ada kemenangan yang pasti dan kemenangan salah satu dari mereka bertiga akan ditentukan oleh Tim yang dibentuk dan bekerja di lapangan untuk memenangkan ketiga pasangan tersebut.
Mari kita lihat secara obyektif peta sumber kekuatan untuk pemenangan ketiga calon kuat tersebut. Kita lihat kekuatan yang mencolok dan dijadikan kekuatan utama.
Dalam beberapa kesempatan BTM-Alam menggambarkan kekuatan Persipura yang digadang-gadang menjadi kekuatan pemersatu semua pihak lintas etnis, lintas kultur, lintas agama dan lintas usia. PKS dengan mesin politik yang sangat solid menjadi pengantar yang baik untuk memenangkan BTM-Alam dengan membumikan figur BTM di Persipura dan masyarakat Persipura yang sangat antusias. Apalagi di musim 2010 tersebut Persipura mampu menjadi Juara Liga maka langsung mengangkat popularitas keduanya. Sebagai akademisi, Alam mengerahkan potensi akademik yang ada di belakangnya. Potensi akademik setingkat provinsi sangat mendukung untuk mengangkat figur BTM-Alam di mata warga masyarakat Kota Jayapura.
Lalu, mari kita lihat kekuatan MY-RS. Dalam deklarasi, mereka menyebut telah memperoleh dukungan dari HKJM dan beberapa masyarakat KKSS, sebagai kekuatan Partai Golkar, maka mereka akan membangkitkan energi gunung versus pantai untuk menjaring kekuatan. Figur kecerdasan MY dan RS secara akademik merupakan senjata intelektual yang dapat menandingi BTM-Alam yang juga merupakan pasangan intelektual. Mungkin HKJM akan digadang-gadang sebagai kekuatan besar MY-RS
Lantas kita lihat kekuatan HH-LLA. Berbasis dukungan Partai Demokrat, dukungan masyarakat gunung bisa dikondisikan sebagai pemilik jumlah penduduk terbanyak kedua setelah masyarakat Jawa di Kota Jayapura maka mereka potensial untuk memenangkan pertarungan ini, apalagi HH dikenal sebagai anak asli dari suku besar di Jayapura.
Sebuah survei yang dilaksanakan oleh Cyrusnetwork.co pada bulan September 2010 (satu bulan sebelum Pemilukada Kota Jayapura) menempatkan pasangan Benhur Tomy Mano – Nur Alam sebagai pemenang Pemilukada Kota Jayapura. Sampel yang berjumlah 600 orang yang tersebar proporsional di lima distrik menempatkan pasangan ini unggul 40,3 persen dari pesaing terdekatnya Musa Youwe - Rustam Saru 12,3 persen.
Perkiraan dan survei tersebut tidak terlalu meleset dari hasil sesungguhnya di lapangan. Pada Pemilukada Kota Jayapura yang dilangsungkan pada tanggal 11 Oktober 2010 dan diikuti oleh enam pasangan, pasangan BTM-Alam memenangi suara rakyat dengan perolehan sebanyak 36.769 suara atau 29,13 persen, diikuti oleh pasangan HH-LLA sebanyak 24.985 suara (19,79 persen). Kemudian pasangan Thobias Solossa - Haryanto sebanyak 24.815 suara atau 19,66 persen, pasangan MY-RS sebanyak 19.723 suara (15,62 persen), pasangan Abisay Rollo - Reyneilda Magdalena Kaisepo sebesar 15.982 suara (12,66 persen), dan pasangan Fredrick Hendrik Toam - Jimmy Spenyel Ansanay sebesar 3.971 suara (3,15 persen).
Namun begitu BTM-Alam tidak mulus melenggang menuju kursi Walikota – Wakil Walikota Jayapura. Salah satu pasangan bakal calon yang tidak lolos (Hendrik Worumi – Pene Ifi Kogoyo) menggugat penyelenggaraan Pemilukada Kota Jayapura lantaran keduanya merasa dirugikan. Keduanya merasa dihalang-halangi oleh KPU Kota Jayapura sehingga tidak bisa mengikuti Pemilukada. Dan keduanya memasukkan permohonan gugatan ke Mahkamah Konstitusi (MK). Sebetulnya bukan hanya Hendrik Worumi – Pene Ifi Kogoyo yang tampil sebagai Pemohon III dalam perkara ini di MK. Pasangan BTM-Alam (Pemohon I) dan pasangan Thobias Solossa – Haryanto  (Pemohon II) juga mengajukan gugatan dengan mendalilkan pelanggaran Pemilukada.
Perkara gugatan ini langsung ditangani oleh Ketua MK (ketika itu) M. Mahfud MD yang bertindak sebagai Ketua Majelis Hakim Konstitusi dan didampingi delapan hakim konstusi. Dari hasil pemeriksaan perkara, Ketua Majelis Hakim Konstitusi Mahfud menilai bahwa KPU Kota Jayapura terbukti telah menghalang-halangi pasangan Hendrik Worumi - Pene Ifi Kogoyo untuk bisa tampil sebagai peserta Pemilukada Kota Jayapura 2010.
“KPU terbukti menghalang-halangi Pemohon III (Hendrik Worumi - Pene Ifi Kogoyo) untuk maju sebagai pasangan calon peserta Pemilukada Kota Jayapura yang merupakan pelanggaran serius terhadap hak konstitusional Pemohon III yang dijamin oleh konstitusi,” jelas Mahfud seusai sidang pada 7 Desember 2010 di Gedung MK, Jakarta.
Berdasarkan surat KPU tertanggal 7 Mei 2010 perihal Pemberitahuan Hasil Verifikasi Berkas Pendaftaran dan Faktual Secara Umum dan Khusus, berkas administrasi Pemohon III dinyatakan memenuhi syarat untuk mengikuti tahapan Pemilukada Kota Jayapura. Sebelumnya, KPU Kota Jayapura tidak meloloskan pasangan ini sehingga tidak bisa mengikuti Pemilukada Kota Jayapura yang dilaksanakan pada 11 Oktober 2010. Lalu, pasangan Hendrik Worumi - Pene Ifi Kogoyo mengajukan gugatan ke MK.
Untuk memulihkan hak Pemohon III tersebut, demikian penjelasan Ketua Majelis Konstitusi, Mahkamah berpendapat perlu dilakukan Pemilukada Ulang Kota Jayapura dengan mengikut-sertakan Pemohon III dengan melanjutkan tahapan pelaksanaan Pemilukada tanpa membuka kembali pendaftaran bakal pasangan calon baru.
Mahfud menegaskan bahwa Pemilukada ulang Kota Jayapura ini diikuti oleh tujuh pasangan, yakni pasangan Abisai Rollo - Reyneilda M. Kaisiepo, pasangan Benhur Tomy Manno – Nur Alam, pasangan Musa Yan Youwe - Rustam Saru, pasangan Jan Hendrik Hamadi - Lievelien L. Ansanay Monim, pasangan Thobias Solossa - Haryanto, pasangan Freddy H. Toam - Jimmy Spenyel Ansanay dan pasangan Hendrik Worumi - Pene Ifi Kogoyo.
Untuk melaksanakan putusan ini, MK juga memperhatikan tingkat kesulitan, jangka waktu, dan kemampuan KPU Kota Jayapura dan aparat penyelenggara serta peserta agar Pemilukada berlangsung secara umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil.
Namun, MK mengabaikan permohonan Pemohon I pasangan Benhur Tomy – Nur Alam dan pemohon II pasangan Thobias Solossa - Haryanto yang mendalilkan tentang pelanggaran Pemilukada.  

Masih Juga Digugat
Setelah melakukan berbagai persiapan, KPU Kota Jayapura melaksanakan Pemilukada ulang pada tanggal 18 Mei 2011 yang melibatkan 219.000 warga Kota Jayapura yang punya hak pilih dan diikuti 7 pasang calon. Pemilukada ulang ini dimenangkan oleh pasangan Benhur Tomy Mano (BTM) – Nur Alam (Alam) disingkat BTM-Alam, pasangan yang diusung oleh PKS, PDIP dan PKPI. Hasil selengkapnya, pasangan Abisai Rollo - Reyneilda M. Kaisiepo (8,68%), pasangan BTM-Alam (40,71), pasangan Musa Yan Jouwe - Rustam Saru (8,53%), pasangan Jan Hendrik Hamadi - Lievelien L. Ansanay Monim (21,64%), pasangan Thobias Solossa - Haryanto (17,61%),  pasangan Freddy H. Toam - Jimmy Spenyel Ansanay (1,26%) dan pasangan Hendrik Worumi - Pene Ifi Kogoyo (1,57%).    
Namun pasangan BTM-Alam tidak dapat langsung ditetapkan dan dilantik menjadi Walikota dan Wakil Walikota Jayapura karena enam pasangan calon yang lain menolak menandatangani berita acara. Prosesnya pun diteruskan ke KPUD Provinsi Papua dan Mahkamah Konstitusi untuk menentukan pemenangnya melalui persidangan. Seperti pada Pemilukada pertama pada 11 Oktober 2010, Pemilukada ulang ini juga menuai gugatan dari pasangan yang merasa dirugikan. Bahkan muncul pula gugatan pasangan Yulius Mambay – Pieter Ell yang tidak ikut berlaga di Pemilukada ulang 18 Mei 2011 terhadap KPU Kota Jayapura yang dinilai kurang fair.
Setelah melalui beberapa kali sidang, KPU Kota Jayapura akhirnya berhasil memenangkan perkara sengketa Pemilukada Ulang Kota Jayapura yang digelar di Mahkamah Konstitusi (MK) pada hari Kamis tanggal 30 Juni 2011.
Dalam sidang yang dimulai pukul 16.00 WIB (18.00 WIT) dan dipimpin langsung oleh Ketua MK (saat itu) Prof DR Mahfud MD tersebut, MK menolak semua gugatan para pemohon di antaranya para pasangan calon wali kota dan wakil walikota, dan pasangan Yulius Mambay – Pieter Ell (Yupiter). Dengan demikian, putusan MK tersebut kian memantapkan Drs. Benhur Tomy Mano, MM dan DR. H. Nur Alam, SE, M.Si untuk memimpin Kota Jayapura periode 2011-2016.
Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Jayapura Prof DR La Pona, M.Si mengungkapkan bahwa hakim MK yang terdiri dari 8 orang itu menganggap gugatan para pemohon tidak memiliki bukti hukum dan dianggap mengada-ada serta tidak sesuai dengan fakta di lapangan.
”Hakim juga melihat, dalam perkara itu tidak ada gugatan yang menyangkut rekapitulasi penghitungan suara. Padahal, itu menjadi salah satu aspek penting yang harus dinilai oleh majelis hakim. Sementara untuk pasangan Yupiter dianggap tidak punya legal standing atau pijakan hukum untuk menggugat karena dia bukan peserta Pemilukada,” katanya.
La Pona menjelaskan, dengan diputuskannya perkara tersebut, anggota KPU Kota Jayapura lantas melakukan pleno penetapan. Hasil pleno itu lalu disampaikan ke DPRD untuk ditetapkan lagi dan selanjutnya diserahkan kepada Gubernur Papua selanjutnya ke DPRD lagi dan kemudian dikirim ke Mendagri untuk dibuatkan surat keputusan.
Menurut La Pona, proses yang berlangsung selama beberapa pekan itu (sejak 24 Mei 2011), hendaknya menjadi pelajaran politik bagi warga masyarakat Kota Jayapura bahwa siapa pun yang terlibat dalam pelanggaran hukum pasti akan ada konsekuensi hukumnya. “Ini yang harus dipahami oleh kita semua,” ucapnya serius.
Usai sidang, pihaknya langsung mendapat ucapan selamat dari sejumlah pihak --termasuk sejumlah pasangan calon yang menggugat. Pihaknya akan tetap menjalin hubungan baik dengan para penggugat karena pada dasarnya mereka adalah teman–teman dia juga.
La Pona menambahkan, dalam sidang tersebut Ketua MK sempat menanyakan dua anggota KPU Kota Jayapura yang tidak hadir dalam sidang, yakni Bernadus Mandowen dan Zufri AR. “Saya katakan mereka mungkin tidak sempat, tetapi sudah diberitahu. Saya sendiri tidak tahu alasannya kenapa mereka tidak datang dalam sidang terakhir itu,” pungkasnya.
Sementara itu, Ketua Tim Koalisi Bangkit dan Terus Membangun yang mengusung Calon Wali Kota Jayapura, Drs. Benhur Tomy Mano, MM dan Calon Wakil Wali Kota Jayapura, DR.H. Nur Alam, SE,M.Si (BTM-Alam), Ignasius Hasim, S.Ag, mengatakan, berkaitan dengan perjalanan panjang Pemilukada Kota Jayapura dari tahun 2010 sampai tahun 2011 telah menunjukan hasil akhir, yang mana dalam sidang di MK gugatan pasangan bakal calon Wali Kota/Wakil Wali Kota Jayapura Julius Mambay-Pieter Ell, dan para calon Wali Kota/Wakil Wali Kota Jayapura di antaranya, pasangan Abisay Rollo-Reynaldi Kaisepo, Hendrik Hamadi-Lievelien Ansanay, Musa Jouwe-Rustan Saru, Pdt. Freddy Toam-Jimmy Ansanay, Thobias Solossa-Hariyanto dan Hendrik Worumi­Pene Ife Kogoya, dinyatakan ditolak dan menetapkan Calon Wali Kota Jayapura, Drs. Benhur Tomy Mano, MM dan Calon Wakil Walikota Jayapura, DR.H. Nur Alam,SE, M.Si menjadi Wali Kota Jayapura dan Wakil Walikota Jayapura terpilih periode 2011-2016.
Pihaknya mengajak kepada masyarakat yang selama ini berbeda pendapat untuk bersama-sama mendukung BTM-Alam dalam kebersamaan dan senantiasa bergandengan tangan membangun Kota Jayapura ini sebagaimana dirindukan selama ini, yakni kota yang rakyatnya mandiri dan sejahtera.
Pihaknya mengharapkan kepada KPU Kota Jayapura untuk secepatnya berkonsultasi dengan DPRD Kota Jayapura guna menyurati Gubernur Provinsi Papua demi secepatnya melakukan proses administrasi ke Menteri Dalam Negeri (Mendagri) RI untuk dikeluarkannya Surat Keputusan (SK) Mendagri perihal mensahkan pasangan nomor urut 2 sebagai Wali Kota/Wakil Wali Kota Jayapura periode 2011-2016.
Sembari menunggu pelantikan, Walikota Jayapura terpilih, Drs. Benhur Tommy Mano, MM, menyampaikan banyak terima kasih kepada masyarakat Kota Jayapura yang telah memberikan suara kepada BTM-Alam dan terima kasih kepada semua doa-doa yang dinaikkan oleh para hamba-hamba Tuhan yang ada di Kota Jayapura, sehingga terpilih sebagai Wali Kota Jayapura dan Wakil Wali Kota Jayapura.
“Terima kasih juga kepada KPU Kota Jayapura, dan kuasa hukum BTM-Alam yang telah bekerja keras di MK, sehingga dari sidang pertama sampai sidang terakhir, menetapkan BTM-Alam sebagai Wali Kota Jayapura dan Wakil Wali Kota Jayapura terpilih. Ucapan syukur yang tak terhingga kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas berkatnya kepada BTM-Alam. Terima kasih atas kerja keras seluruh komponen masyarakat, termasuk kerja keras tim sukses BTM-Alam,” tuturnya.
“BTM-Alam hadir untuk semua rakyat Kota Jayapura. Kepada lawan-lawan politik kami, kami tetap merangkul mereka sebab mereka adalah saudara-saudara kami yang juga sebagai warga Port Numbay dan warga Indonesia yang baik di Kota Jayapura,” imbuhnya.

Dilantik oleh Gubernur Papua
Setelah proses pelaksanaan pemilihan yang berlarut-larut dan alot, akhirnya pasangan Benhur Tomy Mano dan Nur Alam dilantik Gubernur Papua menjadi Walikota dan Wakil Walikota Jayapura periode 2011-2016 pada tanggal 21 Juli 2011. Keduanya dilantik berdasarkan Surat Keputusan (SK) Menteri Dalam Negeri  Nomor  131.91-547 Tanggal 15 Juli Tahun 2011 Tentang Pengesahan pengangkatan Walikota Jayapura dan Nomor 132.91-548 Tanggal 15 Juli Tahun 2011 tentang Pengesahan pengangkatan Wakil Walikota Jayapura periode 2011-2016, dalam acara Rapat Paripurna Istimewa DPRD Kota Jayapura, yang dipimpin Ketua DPRD, Dra. W.W. Kambuaya, di ruang sidang DPRD Kotaraja. Usai Pengambilan Janji/Sumpah  dan dilantik, dilanjutkan serah terima jabatan dari Penjabat Walikota Drs. Elieser Renmaur kepada Walikota yang baru Drs. Bernur Tomy Mano, MM. didampingi Wakil Walikota DR Nur Alam, SE.M.Si  dan disaksikan Gubernur  Papua Barnabas Suebu.
Rapat Paripurna Istimewa DPRD Kota Jayapura, yang dihadiri Muspida Kota Jayapura, Sekda, Para Asisten dan Pimpinan SKPD, Anggota KPU, Panwaslu, Organisasi Wanita, Organisasi Masyarakat, Tokoh Masyarakat, Tokoh Agama, Tokoh Perempuan, Tokoh Pemuda, dan undangan lainnya, berjalan tertib dan lancar. Hadir pula mantan Walikota Drs. M.R. Kambu, dan mantan Sekda Drs. TH. Pasaribu dan Drs. Yesaya Udam.  
Hari Kamis, tanggal 21 Juli 2011 itu, dapat dikatakan menjadi hari terakhir konflik politik pelaksanaan pemilihan pasangan walikota dan wakil walikota Jayapura periode 2011-2016. Selama setahun (2010-2011) para pasangan calon, partai politik pengusung calon dan Komisi Pemilihan Umum Daerah Kota Jayapura menghabiskan waktu, tenaga dan uang miliaran rupiah untuk berkonflik.
Akibat konflik kepentingan pribadi para elit politik di Kota Jayapura itu membuat warga masyarakat Kota Jayapura hidup dalam kebingungan, para pihak elit saling menjegal dan saling menggugat ke lembaga peradilan sebanyak dua kali serta Pemilukada dilaksanakan sampai dua kali pula.
Dan pasangan Benhur Tomy Mano dan Nur Alam yang sudah menang dalam Pemilukada pertama lalu menang lagi pada Pemilukada kedua dan dilantik menjadi pasangan Walikota dan Wakil Walikota Jayapura yang berkuasa penuh selama lima tahun (2011- 2016).
Usai mengambil sumpah dan janji bagi pasangan Tomy Mano dan Nur Alam sebagai pemimpin Kota Jayapura, Gubernur Provinsi Papua, Barnabas Suebu, mengatakan, “Inilah babak baru perjalanan Pemerintahan Kota Jayapura, Pemilu Kepala Daerah Kota Jayapura berlangsung cukup panjang. Kini saatnya segala persoalan yang terjadi belakangan ini biarlah berlalu dan marilah seluruh rakyat bersatu dalam kedamaian untuk membangun Kota Jayapura.”
Barnabas Suebu minta semua pihak bergandengan tangan membangun Kota Jayapura yang lebih baik. “Dengan persatuan yang kuat, kita dapat melaksanakan segala sesuatu secara optimal dengan melakukan kebaikan bagi semua orang. Pada dasarnya, pembangunan itu merupakan sebuah transformasi menuju perubahan yang lebih baik. Baik-buruknya hasil yang dicapai pada masa-masa mendatang itu ditentukan dari apa yang dikerjakan sekarang ini,” lanjut Barnabas Suebu dalam Sidang Paripurna Istimewa DPRD Kota Jayapura, Kamis, 21 Juli 2011.
Karena itu, Bas Suebu pun berharap Walikota dan Wakil Walikota Jayapura yang baru dilantik hendaknya menghayati makna sumpah dan janji yang telah diucapkan di saat pelantikan yang akan diwujudkan melalui pelaksanaan visi-misi yang telah disampaikan kepada rakyat.
“Jika sumpah dan janji tidak dihayati secara sungguh-sungguh, maka di dalam melaksanakan roda pemerintahan dan pembangunan akan mengalami kendala. Namun bila sumpah dan janji itu dihayati dan diamalkan dengan sepenuh hati, maka pasti pemerintahan akan berjalan baik dan diberkati Tuhan,” pesan Suebu.
Menurut Gubernur Papua Barnabas Suebu, kehormatan adalah anugerah Tuhan, dan kehormatan itu tidak sembarangan orang bisa mendapatkannya. Tapi ingat, kehormatan itu harus digunakan untuk membangun masyarakat-rakyat dan sesama kita yang membutuhkan pertolongan.
Tantangan Kota Jayapura ke depan cukup berat, terutama masalah pertambahan penduduk yang tidak seimbang dengan daya dukung lingkungan. Pertambahan penduduk Kota Jayapura relatif cepat, yakni 5,5 persen per tahun, sementara ruang atau lahan yang ada tidak bertambah. Jika hal ini tidak diatasi secara baik dan terpadu dalam kebijakan jangka panjang, maka Cycloop dan lingkungan alam di Kota Jayapura akan rusak. Dalam kurun waktu kurang dari 100 tahun mendatang, hal ini pasti akan sangat mengkhawatirkan. Bencana alam seperti banjir, kekeringan di waktu musim kemarau, longsor dan lainnya, akan menghantui Kota Jayapura.
Masalah lingkungan sangat berkaitan erat dengan terjaminnya rasa aman. Rakyat harus selalu merasa aman dan nyaman saat pergi dan pulang ke rumahnya. “Merasa aman karena tidak terganggu banjir, longsor dan bencana alam lainnya,” ujar Bas Suebu.
Persoalan lain yang juga harus diperhatikan adalah perlu adanya pemerataan pendidikan, bukan saja pemerataan dalam kesempatan belajar, tapi pemerataan di dalam mutu pendidikan itu sendiri. Demikian pula masalah kesehatan yang harus diperhatikan serius. Kota Jayapura harus memiliki rumah sakit sendiri, agar dapat mengurangi terjadinya beban pada rumah sakit rujukan seperti RSUD Dok 2 Jayapura dan RSUD Abepura.
“Harus ada ruang yang cukup untuk berusaha bagi investasi dan mama-mama Papua dan pedagang kaki lima lainnya. Semua itu kita lakukan dengan sungguh-sungguh supaya Tuhan memberkatinya,” pesan Bas.
Sementara itu, dalam sambutannya, Ketua DPRD Kota Jayapura Dra. W.W. Kambuaya mengatakan bahwa warga masyarakat Kota Jayapura saat ini begitu bersyukur dan bersuka cita karena telah memiliki pemimpin kota yang definitif.   Tentu syukur dan suka cita mereka mempunyai makna yang dalam. Karena mereka ingin dipimpin oleh sosok pemimpin yang memiliki nurani kerakyatan dan juga takut akan Tuhan. Kerakyatan dalam berbagai bidang pembangunan, supaya di situ ada keadilan, ada kejujuran, ada kemandirian, ada kemajuan, ada peningkatan kualitas tapi juga ada perubahan karakter hidup di tengah-tengah masyarakat.    Jika tidak demikian, maka apa yang ditawarkan sebagai visi dan misi di saat kampanye hanyalah merupakan sebuah retorika belaka. Masyarakat tidak ingin melihat program-program yang meroket tapi secara faktual tidak diimplementasikan. Mereka ingin melihat kenyataan, bukan pernyataan. Mereka ingin terlepas dari kungkungan janji-janji yang tak kunjung nyata. Sebab di era demokrasi saat ini sulit dipungkiri, bahwa seorang pemimpin harus memiliki komitmen Prorakyat dan Rakyatlah yang harus berdaulat penuh di berbagai program pembangunan yang ada.
Kambuaya juga mengingatkan bahwa pencitraan sebuah pemerintahan yang baik ditunjukkan dalam bentuk satunya perkataan dan perbuatan. Apa yang dikatakan haruslah itu pula yang dilakukan, bukan lain dikata lain dikerjakan. Masyarakat sudah sangat pandai menilai mana yang baik untuknya, karena itu jika pemimpin menyingkir sedikit saja dari apa yang dikatakannya maka pasti ketidak-puasan masyarakatlah yang diterimanya. Seperti yang diungkapkan bahwa sebagai pemimpin harus memiliki nurani kerakyatan dan takut akan Tuhan.
Segera setelah dilantik, Walikota Benhur Tomy Mano langsung turun tangan bekerja nyata untuk rakyat Kota Jayapura. Dia berusaha benar memanfaatkan intelejensia dan pengetahuan yang dianugerahkan oleh Tuhan Yang Maha Kasih. Dia berupaya menyalakan lampu kasih sayang Tuhan, dan membiarkan nyala lilin kearifan mewarnai kebijakan pembangunan Kota yang dulu bernama Hollandia tersebut. Dia berusaha menjadi seorang bijak yang mendekati sesama dengan obornya untuk menerangi jalan umat manusia, khususnya umat manusia Kota Jayapura. ***