Showing posts with label Kabupaten Supiori. Show all posts
Showing posts with label Kabupaten Supiori. Show all posts

Saturday, August 30, 2014

Melayani dengan Hati dan Merangkul Penuh Kasih

* LIMA


Raja Daud dikatakan bahwa “Ia menggembalakan umat Israel dengan ketulusan hatinya, dan menuntun (memimpin) mereka dengan kecakapan tangannya.”
(Mazmur 78:72)

SORENDIWERI, awal 2014. Masyarakat Supiori sudah sepatutnya berbangga, karena memiliki seorang pemimpin bernama Fredrik Menufandu yang benar-benar peduli pada nasib mereka. Ini terbukti dengan berbagai produk kebijakan dan program pembangunan daerah yang pro-rakyat selama tiga tahun dia mengemban jabatan Bupati Supiori. Selain prioritas pada pembangunan infrastruktur dasar untuk kesejahteraan masyarakat, Pemkab Supiori yang dinakhodai Fredrik Menufandu juga memberi prioritas pada peningkatan pendapatan perekonomian masyarakat.
Ya, mengawali tahun kerja 2014, sedikitnya 193 nelayan tradisional yang tersebar pada lima distrik di Kabupaten Supiori mendapat penguatan ekonomi melalui bantuan perahu nelayan lengkap dengan motor tempel serta alat tangkap berupa jaring.
Penyerahan bantuan bagi 193 warga masyarakat nelayan di Supiori ini dilakukan Bupati Supiori, Fredrik Menufandu, S.H., M.H., M.M., bersama Wakil Bupati Drs. Yan Imbab, disaksikan seluruh penerima bantuan dan PNS Pemerintah Kabupaten Supiori, di Aula Lantai I Kantor Bupati Supiori, Sorendiweri, pertengahan Februari 2014.
Dalam arahannya, Bupati Supiori Fredrik Menufandu mengharapkan bantuan perahu lengkap dengan motor tempel serta alat tangkap tersebut dapat dimanfaatkan sepenuhnya untuk semata-mata meningkatkan pendapatan perekonomian keluarga nelayan yang selama ini mengalami berbagai kesulitan dan kekurangan.
“Program prioritas saya dan wakil bupati adalah meningkatkan kesejahteraan warga masyarakat Supiori. Sudah sekian puluh tahun, kita terbelenggu dengan keterbatasan, keterbatasan yang sengaja diciptakan selama kita masih satu dengan Kabupaten Induk (Biak Numfor) maupun keterbatasan yang memang tidak bisa kita lawan,” tutur Bupati Fredrik Menufandu.
“Dari pengalaman-pengalaman masa lalu tersebut, yang juga kami rasakan, maka saya dan saudara wakil bupati, dalam visi misi kami, dalam setiap pembahasan APBD, dan dalam setiap pengambilan keputusan dan kebijakan, peningkatan kesejahteraan warga masyarakat Supiori selalu menjadi isu utama dan pertama dalam lima tahun kepemimpinan kami,” jelas Bupati.
Kabupaten Supiori, demikian sebut Bupati Fredrik Menufandu, dalam persentase APBD TA 2014, masih menaruh perhatian yang sangat besar bagi kepentingan rakyat yakni 70% belanja publik dan 30% belanja aparatur.
Dikatakan Bupati, dalam penentuan kebijakan APBD, Pemerintah Kabupaten Supiori menganut tiga sistem yaitu APBD Berpihak pada rakyat, ABPD berpihak pada kepentingan umum dan ABPD harus mampu meningkatkan pelayanan.
“Jika kami totalkan, APBD Supiori di tahun 2014 ini berkisar pada Rp700 miliar. Anggaran yang besar ini, sebagian besar untuk rakyat. Untuk aparatur (PNS), kami terus kurangi pada setiap tahun, belanja setiap SKPD kami sama-sama ikuti dan yang tidak penting kami pangkas. Kebijakan APBD ini kami ambil untuk menjamin bahwa pembangunan Kabupaten Supiori dalam lima tahun kepemimpinan saya bersama wakil Bupati, minimal ada sebagian kecil warga masyarakat Supiori yang sudah meningkat kesejahteraannya,” Bupati berharap.
Di tempat yang sama, Wakil Bupati Drs. Yan Imbab mengingatkan, penerima bantuan, agar bantuan yang diterima tersebut tidak dipindah-tangankan kepada orang lain alias dijual lagi ke nelayan di Biak atau daerah lain, namun sepenuhnya dapat dimanfaatkan untuk menopang peningkatan pendapatan dan perekonomian keluarga.
“Saya dapat info ada warga masyarakat yang menjual bantuan yang didapat dari pemerintah daerah kepada penadah di Biak. Saya ingatkan, jangan sampai kedapatan, bantuan yang sudah kalian terima dijual lagi. Saya akan bertindak tegas, Pemda akan ambil kembali dan kepada warga masyarakat yang menjual bantuan ini, tidak akan lagi diberikan bantuan. Saya harap ini menjadi peringatan untuk semua,” tegas Wabup Yan Imbab.
Bantuan kepada 193 nelayan Supiori ini berasal dari dua SKPD, masing-masing dari Bappeda Kabupaten Supiori sebanyak 132 motor tempel berkekuatan 15 PK lengkap dengan perahu, dan dari Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) berjumlah 61 motor tempel 15 PK tanpa perahu dan 183 jaring.
Kepala DKP Supiori, Ir. Roberth Matulesi, melaporkan bahwa bantuan DKP, masing-masing 61 unit motor tempel bersumber dari Dana Otsus TA 2013, sedangkan untuk 183 jaring berbagai ukuran bersumber dari Dana Alokasi Umum (DAU) TA 2013.
Untuk menggerakkan roda perekonomian masyarakat di Kabupaten Supiori, sudah sejak lama Pemkab Supiori memberikan bantuan alat tangkap kepada kelompok-kelompok nelayan yang ada. Tahun 2006 misalkan, sebanyak 29 kelompok nelayan yang ada di Supiori menerima bantuan alat tangkap.
Dana bantuan alat tangkap tersebut diperoleh dari dana Otonomi Khusus dan Dana Alokasi Khusus (DAK) yang diterima Kabupaten Supiori pada anggaran 2005. Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Supiori (waktu itu)  Ir. Dance Rumainum mengatakan bantuan alat tangkap yang diberikan kepada kelompok nelayan tersebut bersumber dari dana Otsus sebesar Rp508 juta dan DAK non-DR sebesar Rp1,1 miliar.
"Selain alat tangkap, kami juga memberikan bantuan motor tempel sebanyak 8 unit yang bersumber dari dana Otsus sebesar Rp332 juta. Bantuan ini kami berikan kepada 8 kelompok nelayan yang mendapatkan perahu, motor tempel dan alat tangkap dan 21 kelompok yang mendapat bantuan alat tangkap saja," tandasnya.
Selain memberikan bantuan alat tangkap kepada kelompok nelayan, menurut Dance Rumainum, Pemkab Supiori pada tahun anggaran 2005 juga telah membangun sebuah pabrik es yang berkapasitas 1,5 ton di Distrik Supiori Selatan.

A.   Tulus Hati dan Cakap Melayani
Bupati Fred memahami betul bagaimana melayani rakyatnya dengan sepenuh hati. Sebab itu, dia memprioritaskan warganya yang benar-benar membutuhkan dan selama ini jauh dari fokus para pemimpin. Banyak pemimpin hanya memperhatikan rakyatnya yang berpunya karena tak perlu repot-repot menyapa dan memikirkan materi apa yang mesti diberikan. Kalangan berpunya biasanya (cenderung) akan datang melayani kemauan atau kehendak sang pemimpin. Sebaliknya, buat kalangan papa, sang pemimpin harus datang melayani, memberikan hatinya (tulus hati) dan mengulurkan tangannya.
Ketulusan hati berbicara tentang integritas seorang pemimpin. Raja Daud dikatakan bahwa “Ia menggembalakan umat Israel dengan ketulusan hatinya, dan menuntun (memimpin) mereka dengan kecakapan tangannya” (Mazmur 78:72). Itu sebabnya memiliki kompetensi dalam kepemimpinan saja tidak cukup, dibutuhkan pula ketulusan hati.
Ketulusan hati tercermin dalam integritas kehidupan seorang pemimpin. Rendahnya integritas telah menjadi masalah kepemimpinan Kristen. Pakar kepemimpinan John Maxwell mengatakan bahwa di dalam sebuah survei di Amerika yang ditujukan kepada kurang lebih 1300 para pimpinan perusahaan dan pejabat di pemerintahan, mereka ditanya kualitas apakah yang paling penting dimiliki untuk dapat sukses menjadi pemimpin. Jawabannya menarik karena secara mayoritas (71%) mereka memilih jawaban sebagai yang terpenting: integritas (173).
Arti kata integritas adalah keadaan yang sempurna, di mana perkataan dan perbuatan menyatu dalam diri seseorang. Seseorang yang memiliki integritas tidak meniru orang lain, tidak berpura-pura, tidak ada yang disembunyikan, dan tidak ada yang perlu ditakuti. Kehidupan seorang pemimpin adalah seperti surat Kristus yang terbuka (II Kor 3:2).
Integritas sebagai karakter bukan dilahirkan, tapi dikembangkan secara satu lepas satu di dalam kehidupan kita melalui kehidupan yang mau belajar, keberanian untuk dibentuk Roh Kudus. Itu sebabnya seorang pemimpin terkenal berani berkesimpulan, bahwa karakter yang baik akan jauh lebih berharga dan dipuji manusia dibandingkan dengan bakat atau karunia yang terhebat sekalipun. Kegagalan sebagai pemimpin bukan terletak kepada strategi dan kemampuannya dalam memimpin, tetapi kepada tidak adanya integritas pada diri pemimpin.
Itu sebabnya memimpin tidaklah mudah. Ada ungkapan yang mengatakan bahwa , “Pemimpin laksana ikan dalam akuarium (fishbawl) di mana semua segi kehidupannya diamati dan diawasi orang lain. Menariknya, orang lebih mengingat kejelekan kita daripada kebaikannya.” Memang kepemimpinan selalu menjadi sorotan dan ketika seseorang menjadi pemimpin, orang mulai menyoroti kelemahannya, namun dengan mengembangkan integritas akan menolong kita menghadapi hal ini.
Selain ketulusan hati, Bupati Fred juga dikenal cakap dalam memimpin. Memimpin dengan kecakapan berarti memiliki kompetensi, kemampuan serta keahlian.
Menurut Dr. Yakob Tomatala, kompetensi meliputi banyak hal yang meliputi kompetensi karakter, pengetahuan, dan keahlian. Kita coba lihat dua hal dari kompetensi keahlian yang menolong menguatkan kepemimpinan, yaitu kecakapan hubungan antar-manusia (relationship) dan kecakapan keahlian teknis.
Sebagaimana diringkas oleh Dian Pradana, maka kompetensi yang dimaksud oleh Dr. Tomatala itu meliputi dua hal: pertama, kecakapan yang berkenaan dengan “hubungan antar-manusia” atau disebut juga “keterampilan atau kecakapan sosial”. Seorang pemimpin yang baik tidak hanya menyadari bahwa ia membutuhkan orang lain, tapi ia juga dengan penuh tanggung jawab dapat membina hubungan baik dengan orang lain yang menjamin kerja sama yang baik dan keberhasilan kerja. Hubungan baik dengan orang lain harus dimulai oleh pemimpin. Ia harus memiliki tekad untuk menyukainya, menghidupinya dengan melaksanakannya dengan penuh tanggung jawab.
Prinsip kepemimpinan Yesus tetap berlaku di sini, yaitu: “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka” (Matius 7:12). Tekanan utama yang diberikan di sini adalah bahwa apa saja yang dilakukan oleh seorang pemimpin, mencerminkan apa saja yang telah, sedang dan akan diperbuat orang kepadanya. Apabila pemimpin menghendaki dan melaksanakan/membina hubungan baik dengan siapa saja, ia pun akan menerima kebaikan dari tindakannya.
Kedua, kecakapan yang berkaitan dengan “hubungan pelaksanaan tugas” di mana seseorang yang disebut ahli itu tahu dan dapat melakukan tugasnya secara baik dan benar. Keterampilan, keahlian atau kecakapan tugas berkaitan erat dengan hal-hal praktis yang bersifat teknis, sehingga dapat juga disebut keahlian teknis/praktis. Keahlian ini berkaitan erat dengan “bagaimana melaksanakan tugas”, yang harus dilaksanakan secara baik dan  pemimpin harus memiliki keahlian khas, khususnya yang berkenaan dengan kecakapan memimpin.
Itu sebabnya, dalam memimpin, seseorang tidak boleh pernah berhenti belajar baik dalam bentuk formal ataupun informal. Pembelajaran yang terus-menerus akan menghasilkan kecakapan yang lebih banyak lagi. Pembelajaran tidak berfokus kepada gelar, namun kepada pemenuhan salah satu kunci sukses pemimpin-gembala yaitu cakap, yang meliputi cakap mengajar, cakap berelasi, dan cakap memimpin.
Bupati Fred terus berusaha meningkatkan keterampilan/kecakapannya memimpin dan mengasah kepekaan hatinya agar kepemimpinnya benar-benar dirasakan oleh semua kalangan yang ada di wilayah Kabupaten Supiori.

B.    Pengorbanan Total Bagai Lilin yang Menerangi
Kendati tampak sekadar melanjutkan program pembangunan dari waktu-waktu yang telah berlalu, Bupati Fred ingin benar-benar total mengangkat derajat dan kesejahteraan warga masyarakat Kabupaten Supiori. Tidak hanya sebatas membantu kaum nelayan, kepada warga masyarakat Supiori umumnya, Bupati Fred pun telah menggelontorkan program pengobatan gratis lewat Puskesmas dan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD).
Sejak Bupati Fred memimpin Kabupaten Supiori, Pemerintah Kabupaten Supiori memberlakukan gratis biaya kesehatan untuk warga masyarakat setempat baik melalui layanan di Puskesmas maupun melalui RSUD.
Kepala Dinas Kesehatan Supiori dr Jenggo Suwarko mengatakan bahwa setiap warga yang berobat ke Puskesmas atau rumah sakit tidak dipungut biaya karena Pemkab telah menyediakan anggaran pelayanan kesehatan. "Pelayanan gratis kesehatan sudah berjalan di Puskesmas, Puskesmas Pembantu hingga rumah sakit umum daerah Supiori," katanya.
Dia menjelaskan bahwa fasilitas kesehatan yang ada di RSUD Supiori antara lain ruang rawat inap, Unit Gawat Darurat (UGD), alat USG empat dimensi, dan rekam medik. Khusus peralatan USG empat dimensi terbaru dimiliki RSUD Supiori, kata Jenggo, sudah difungsikan untuk memeriksa dan mengetahui perkembangan janin saat ibu hamil.
"Jika dokter atau rumah sakit lain pemeriksaan USG bisa dikenakan biaya berkisar Rp450 ribu, maka di Supiori kami gratiskan sesuai kebijakan pemerintah daerah," tandasnya.
Pelayanan bidang kesehatan, kata Jenggo, akan diberikan kepada semua warga masyarakat Kabupaten Supiori yang berdomisili di berbagai kampung, distrik, dan pulau terluar Mapia.
"Dinas Kesehatan berwajiban menyelenggarakan layanan kesehatan yang baik sesuai standar," kata Jenggo Suwarko.
Jelas bahwa Bupati Fred demikian total dalam langkah-langkahnya mensejahterakan rakyat Supiori. Bahkan, sampai-sampai dirinya seolah tidak memikirkan dirinya sendiri. Dia seakan membiarkan dirinya meleleh bagai lilin asal rakyat yang dipimpinnya bertambah sejahtera dari waktu ke waktu. Tampilannya amat sederhana nan bersahaja, kerapkali dia mengenakan celana pantalon yang telah dipakainya sejak mengikuti Diklat Pim di Makassar tahun 1990-an. Di puncak singgasanya kini pun dia belum memiliki rumah pribadi. Baru akhir tahun 2014 rencananya dia membeli rumah di Biak dengan fasilitas Kredit Pemilikan Rumah (KPR).
Ya, Bupati Fred hidup bersandar pada filosofi lilin. Lilin berarti sebuah pengorbanan. Berkorban demi orang lain secara total, sampai batas akhir kemampuan. Jika kita mampu, saat menolong, membantu, melayani orang lain harus dengan sepenuh hati, tanpa mengharap imbalan apapun, dan rela berkorban. Memang susah, tapi kita bisa belajar sedikit demi sedikit.
Lilin sepertinya mengajarkan kita untuk memposisikan diri kita supaya bermanfaat bagi orang lain tapi dengan cara merusak diri sendiri. Ingat juga, kisah dari Inggris bagaimana Robinhood merampok orang-orang kaya untuk dibagikan hasilnya kepada orang-orang miskin. Tujuannya memang baik, namun caranya yang salah, dengan merusak, melanggar hukum, dan tentu berakibat buruk secara sistem.
Menjadi lilin seakan bukanlah pilihan yang menyenangkan. Tapi minimal, menjadi lilin adalah pilihan yang gagah, menerangi dan mencoba memberikan seberkas cahaya, meskipun cahaya itu akan menghancurkan dirinya sendiri. Tapi bukankah untuk itu lilin ada dan dengan begitu lilin memberi arti. Awal tujuan dari dibuatnya lilin adalah untuk menerangi kegelapan.
Apalah artinya lilin kalau nantinya hanya akan disimpan dan tubuhnya hancur menjadi serpihan lantaran patah atau terinjak atau bahkan hancur dimakan zaman!
Mari kita simak kisah fiksi sarat petuah berikut. Alkisah ada empat buah lilin yang menyala, sedikit demi sedikit habis meleleh, suasana begitu sunyi sehingga terdengar percakapan di antara mereka.
Lilin pertama berkata: “AKU ADALAH DAMAI, namun manusia tidak bisa menjagaku, maka lebih baik aku mematikan diriku sendiri saja!!”
Demikianlah hingga sedikit demi sedikit sang lilin padam …
Lilin kedua berujar: “AKU ADALAH IMAN, sayang, aku tidak berguna lagi. Manusia tidak mau mengenalku, untuk itulah tak ada gunanya aku tetap menyala.”
Begitu selesai bicara tiupan angin memadamkannya.
Dengan sedih giliran lilin ketiga berucap: “AKU ADALAH CINTA. Tak mampu lagi aku ‘tuk tetap menyala. Manusia tidak lagi memandang dan menganggapku berguna. Mereka saling membenci, bahkan membenci orang yang mencintainya, membenci keluarganya.”
Tanpa menunggu waktu lama si lilin lantas padam.
Tanpa terduga, tiba-tiba seorang anak masuk ke dalam kamar, dan melihat ketiga lilin telah padam. Karena takut akan kegelapan si anak kemudian berkata:  “Eh, apa yang terjadi? Kalian harus tetap menyala, aku takut akan kegelapan.”
Lalu sedu-sedan si anak itu menangis.
Lantas dengan terharu lilin keempat bertutur: “Jangan takut, jangan menangis, selama aku ada dan menyala, kita dapat menyalakan ketiga lilin lainnya. AKULAH HARAPAN.”
Dengan mata berbinar, si anak mengambil lilin harapan, selanjutnya mulai menyalakan ketiga lilin yang lain.
Pelajaran atau moral berharga dari cerita fiksi ini: apa yang tidak akan pernah mati hanyalah HARAPAN yang ada dalam hati kita. Dan masing-masing kita semoga dapat menjadi alat, seperti si anak kecil tersebut, yang dalam situasi apapun mampu menghidupkan kembali iman, damai dan cinta ...dengan HARAPAN-nya.
Sisi positif itulah yang kemudian diambil pelajaran oleh Bupati Fred dalam memimpin rakyat Supiori. Dalam situasi masyarakat Supiori yang kadang kehilangan asa lantaran dirundung kemiskinan, dia menyalakan ‘api’ harapan lewat cinta, kasih dan iman. Kendati berbau material semata, program-program membantu motor tempel dan alat jaring kepada nelayan, pengobatan gratis warga miskin yang sakit, dan memberikan beras miskin (Raskin), semua itu dilandasi upaya untuk menghidupkan harapan, asa hidup yang lebih baik dan sejahtera.
Pemerintah Kabupaten Supiori, Papua, mengalokasikan dana otonomi khusus (Otsus) sebesar Rp4 miliar untuk menebus jatah Raskin buat warga masyarakat penerima manfaat di wilayah pemekaran itu. Penebusan Raskin kepada Perum Bulog Subdivre Biak melalui dukungan dana Otsus Papua untuk warga Supiori sudah diprogramkan sejak 2011-2012.
"Penebusan Raskin gratis yang diterima warga masyarakat Supiori sebagai wujud nyata kepedulian Pemkab membantu ketersediaan kebutuhan beras bagi setiap keluarga penerima manfaat," ungkap Bupati Fred.
Dia mengatakan, dengan alokasi pembelian dana Raskin diharapkan masyarakat Supiori tidak lagi kesulitan mendapatkan bahan pokok beras untuk kebutuhan makan bersama keluarga.
Pemkab Supiori, lanjut Bupati Fred, terus berupaya setiap tahun anggaran lewat dana Otsus Papua meningkatkan kesejahteraan warga masyarakat lewat berbagai program pembangunan di Kabupaten Supiori.

C.   Persembahan kepada Tuhan
Selain bertumpu pada filosofi lilin yang sarat nilai dan moral religius, Bupati Fred juga mendasarkan langkah-langkah kepemimpinannya di Kabupaten Supiori dengan pondasi persembahan kepada Tuhan. Dia memberikan persembahan hati, tenaga, pikiran dan cinta kasih kepada umat penuh suka cita, tanpa ada rasa keterpaksaan. Sedari kecil, dia memang dididik untuk itu.
Pada umumnya, ketika memberi berbagai macam persembahan (kolekte, ucapan syukur, perpuluhan dan sebagainya), banyak motivasi muncul dalam pikiran tiap orang Kristen. Barangkali, persembahan dilakukan secara terpaksa lantaran perasaan sungkan atau takut dianggap sebagai jemaat yang buruk. Padahal, Alkitab mengajarkan bahwa pemberian hendaknya dilakukan dengan suka cita dan kerelaan. Kemungkinan kedua, persembahan dilakukan untuk buang sial. Kadang, motivasi seperti ini justru dimanfaatkan oleh Gereja tertentu supaya jemaat merasa takut bila tidak memberikan persembahan. Dengan begitu, persembahan menjadi ‘amplop’ buat Tuhan agar tidak marah dan selalu bersikap baik. Padahal, Tuhan tidaklah miskin hingga membutuhkan sumbangan jemaat-Nya. Kemungkinan ketiga, persembahan dimotivasi oleh sistem pancing. Jikalau Minggu ini memberi persembahan sebesar Rp1.000 maka sebagai balasannya akan diperoleh berkat sebesar Rp10.000. Motivasi ini dapat digambarkan dengan ilustrasi ‘Umpan teri dipakai untuk memancing ikan kakap’. Semakin besar umpannya maka hasilnya juga makin banyak. Alkitab memang mengajarkan bahwa memberi persembahan merupakan suatu kesempatan. Ironisnya, kesempatan itu seringkali disalah-gunakan menjadi format bisnis. Konsep materialisme dunia semacam ini dapat mempengaruhi Gereja dan agama lainnya hingga mewarnai hampir semua orang dalam beribadah dan memberi persembahan. Tiga motivasi tersebut adalah yang terbanyak dilakukan oleh orang beragama dan harus dikoreksi. Sedangkan kaum ateis tidak mengenal persembahan karena tidak mempercayai adanya Tuhan.
Rm 12:1 mengatakan, “Demi kemurahan Allah, aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” Penyebabnya ialah “Segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dia-lah kemuliaan sampai selama-lamanya!” (Rm 11:36).
Lalu apa yang menjadi motivasi persembahan, terutama yang terbesar yaitu seluruh tubuh sebagai persembahan yang hidup, kudus dan berkenan kepada Allah?
Pertama, persembahan diberikan dengan kesadaran bahwa segala sesuatu diperoleh dari, oleh dan kepada Dia. Motivasi persembahan terpenting yang membedakan semua konsep agama dengan iman Kristen yaitu kesadaran bahwa semua yang ada di dunia ini adalah milik Tuhan yang dipercayakan kepada manusia. Maka tak seorang pun berhak mengambil walau hanya sebagian kecil dari seluruh hakekat hidup dan keberadaan dirinya. Sesungguhnya, konsep Rm 11:36 telah dimengerti dan dipegang oleh Ayub yang jauh lebih tua daripada penulis Kitab Kejadian yaitu Musa. Walaupun manusia memiliki keahlian, ilmu, kepandaian, keterampilan, tenaga dan kesempatan hingga mampu bekerja, semua itu bukanlah hasil usaha serta kehebatannya sendiri melainkan anugerah Tuhan.
Konsep mandat budaya Kristen mengajarkan tidak hanya preserve the world seperti konsep New Age melainkan preserve and develop the world (memelihara dan mengusahakan dunia). Sedangkan dunia mengajarkan untuk menghancurkan dan mengatur segala sesuatu sesuka hati. Namun mereka tidak mampu melakukannya karena sejak pertama kali dunia diciptakan, Tuhan telah menatanya secara sangat indah. Dengan bijaksana-Nya, Ia tidak berkenan menciptakan manusia pada hari pertama karena keadaan dunia masih chaos dan kemungkinan belum ada oksigen. Tiga hari pertama, Ia menata seluruh alam semesta dengan sangat rapi. Setelah itu, Ia menciptakan binatang dan tumbuhan. Lalu yang terakhir barulah manusia.
Konsep perpuluhan Kristen mengajarkan bahwa manusia menerima berkat Tuhan terlebih dulu kemudian harus mengembalikan sebagian dari berkat itu kepada-Nya. Tanpa berkat Tuhan sedikitpun, tak ada yang dapat dipersembahkan. Selain itu, Perjanjian Baru tidak pernah mengatakan berapa persen persembahan karena yang terpenting adalah jiwa, semangat dan kesadaran akan anugerah Tuhan hingga rela mempersembahkan seluruh tubuh sebagai persembahan yang hidup, kudus dan berkenan kepada-Nya.
Kedua, Rm 11:36-12:1 merupakan salah satu aspek yang membedakan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Menurut Perjanjian Lama, persembahan diwujudkan dalam bentuk binatang yang dikorbankan. Namun sebenarnya itu bukanlah persembahan yang asli karena hanya mengacu pada pengorbanan Kristus. Ketika berada dalam dosa, manusia harus mati dan tidak mampu berbuat sesuatu karena telah menjadi budak dosa. Setelah korban dosa ditebus oleh Kristus dengan kematian-Nya di kayu salib maka orang Kristen dapat melakukan persembahan sejati yaitu tubuhnya sendiri yang telah diperbaharui sebagai persembahan yang hidup dan lambang pengabdian hidup kepada-Nya. Itulah alasan mengapa Tuhan menghendaki hanya orang-orang ‘hidup’ (secara spiritual) yang memberikan persembahan.
Kalau setiap umat beriman mengabdi dan melayani secara baik, maka jiwanya akan penuh dengan pengertian persembahan karena sudah belajar menyerahkan hidupnya. Itulah alasan mengapa kita tidak menyukai persembahan dari orang tak percaya karena mereka mengira telah mendukung pekerjaan Tuhan dan tanpa dukungan itu, Gereja tidak akan dapat berkembang. Di desa, setiap jemaat merasa ikut bertanggung-jawab atas rumah Tuhan. Karena itu, mereka bekerja sama membangunnya dengan pengabdian seluruh hidup. Motivasi, sikap, sifat dan jiwa mereka sangat baik. Kalau di kota, biasanya jemaat mengumpulkan dana bagi pekerjaan Tuhan. Namun motivasinya harus tetap dipertahankan dan tidak boleh bergeser dari yang seharusnya.
Konsep persembahan Reformed start dari kedaulatan Allah (Rm 11:36) dan bukan kebutuhan manusia. Maka konsep persembahan telah diproporsikan secara tepat, baik dari Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Jiwa ini telah ditunjukkan oleh Abraham ketika pertama kali memberikan kata ‘perpuluhan’ kepada Melkisedek sebagai figurasi Kristus. Dengan demikian, Abraham telah memandang ibadah sejati dalam Kristus.
Ketiga, Alkitab mengajarkan bahwa persembahan yang hidup, kudus dan berkenan kepada Tuhan merupakan ibadah sejati (the true worship). Sedangkan kebaktian adalah salah satu format ibadah di mana semua orang Kristen datang menyembah dan mendengarkan Firman Tuhan lalu bersekutu, berkomitmen serta ‘membungkukkan diri’ (ibadah = abodah = to bow down) yang menggambarkan ketaatan hati, penyerahan dan penaklukan diri pada kehendak Tuhan secara mutlak dengan kerelaan. Sedangkan ibadah sejati mencakup seluruh totalitas hidup dan keberadaan manusia. Maka persembahan menjadi tanda penundukan diri orang Kristen kepada Tuhan. Dengan begitu, hidupnya akan penuh ketaatan melalui persembahan.
Bupati Fred telah memahami benar prinsip-prinsip persembahan yang berangkat dari iman Kristen. Dia betul-betul melangkah dengan landasan pengorbanan dan persembahan yang hidup, kudus dan berkenan di mata Tuhan. Setiap langkahnya pun menjadi langkah sepenuh hati dan sarat kasih. Langkah-langkahnya membantu nelayan mengoptimalkan potensi, membantu warga miskin gratis berobat, dan mengentaskan kehidupan tak layak menjadi layak tidak lain untuk berbagi kasih dalam persembahan kepada Tuhan.

D.   Mengubah Tradisi Dilayani Menjadi Melayani
Melengkapi kerja keras sepenuh hati, menerangi dan mensejahterakan warga masyarakat, Bupati Fred juga ingin menyempurnakan mindset aparaturnya dari tradisi dilayani menjadi kultur melayani dan dari menerima baru kemudian memberi menjadi memberi terlebih dulu untuk menggapai apa yang diinginkan. Pengalaman ruhaniah Bupati Fred mengajarkan betapa dahsyatnya prinsip “memberi dulu baru menerima, melayani dulu baru kemudian dilayani.”
Dalam kehidupan ini, kerapkali sebagian besar orang cenderung berpikir untuk “menerima dulu baru memberi”. Namun, banyak pula sebenarnya orang yang telah meyakini pola pikir sebaliknya “memberi dulu baru kemudian menerima”. Misalkan orang-orang yang menjalankan bisnis online. Bayangkan saja, ketika kita melihat sebuah blog atau sebuah website yang berisi banyak sekali informasi ‘gratis’ di sana. Si pemilik blog tersebut rajin sekali meng-update blog-nya. Nah, bila kita pikir-pikir, dari mana ia memperoleh keuntungan karena ia cuma memberi dan belum menerima?
Pun demikian tatkala kita melihat sebuah website yang memberikan “Tips atau Newsletter gratis” yang kemudian seseorang mengirimkan tips-tips secara berkala, seakan-akan si pemilik website tidak akan memperoleh apa-apa saat ia tengah memberi. Mereka sedang mempraktikkan prinsip “beri dulu baru kemudian terima”.
Ilustrasinya relatif sederhana. Si pemilik blog atau website tadi memberi dulu informasi secara gratis. Mulailah datang banyak pengunjung ke blog atau website mereka. Apalagi, mereka memberi dengan “tulus” sehingga mereka memberikan “isi” yang berkualitas. Maka pengunjung akan senang hati dan percaya atas ketulusan mereka.
Selanjutnya, bila mereka menyarankan pengunjung tentang sebuah program bisnis atau produk yang bagus berkaitan dengan blog/website mereka, maka banyak pengunjung yang sudah “percaya kepada mereka” dan dengan senang hati membeli apa yang mereka tawarkan atau sarankan.
Alasan yang sama menerangkan mengapa banyak seminar bisnis diberikan secara gratis alias preview sebelum kemudian kita datang, “merasa tidak enak” datang lantaran sang pembicara menjelaskan dengan begitu semangat dan tulus. Rasanya, kok kita mendapatkan sesuatu yang demikian berharga secara “gratis” lalu dengan senang hati biasanya kita akan memutuskan untuk ikut “acara yang sesungguhnya”.
Banyak hal yang semua gratis di internet, tapi sekarang “berbayar”. Yahoo Classified contohnya. Bila dulu kita pasang iklan di Yahoo gratis, maka sekarang sudah harus berbayar. Banyak blogger atau pebisnis online yang semula, ketika belum sepopuler sekarang, memberikan informasi gratisan saja. Setelah mereka belajar sangat banyak, dan menjadi sangat tahu, mereka sudah memiliki pembaca yang loyal, maka waktunya mereka mulai menerima dengan menjual sesuatu atau menawarkan sesuatu yang “berbayar”.
Bupati Fred meyakini benar prinsip memberi dulu baru kemudian menerima yang berangkat dari upaya melayani. Jika kita cermati, bahwa melayani adalah sebuah unsur yang sangat nyata dalam kepemimpinan Yesus. Yesus datang untuk melayani dan memberi. Sebab itu, tidaklah berlebihan bila kita katakan bahwa Tuhan juga menghendaki hal yang sama dengan diri kita. Setelah kita ditebus menjadi anak-Nya melalui iman Kristus, meminjam pendapat Pendeta Midian KH Sirait MTh, Tuhan ingin membentuk kita agar memiliki karakter yang telah menjadikan Kristus berbeda dari orang-orang lain pada zamannya. Tuhan berkehendak untuk mengembangkan sikap melayani dan memberi dalam setiap umat-Nya, sama seperti yang dimiliki oleh Kristus.
Konsep Yesus tentang kepemimpinan yang melayani terlihat dalam kalimat berikut ini: “Kamu tahu, pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka.” (Matius 20: 25)
Di saat mulai memimpin Kabupaten Supiori, Bupati Fred tidak segan-segan merogoh kocek pribadi untuk memenuhi permintaan warganya yang merasa kekurangan atau terlilit persoalan sulit. Hasilnya, segala langkahnya menjadi terasa mudah. Minimal, dana Otonomi Khusus mengalir lancar ke Kabupaten Supiori. Bahkan, langkahnya membangun atau memperbaiki sekitar 5.000 rumah warga sampai layak huni nyaris sempurna, berjalan hampir-hampir tanpa hambatan, warga masyarakat secara sukarela membantu agar program ini berjalan sesuai dengan perencanaan.  

Bersama segenap aparatur di jajarannya, Bupati Fred terus-menerus turun langsung ke ujung lapisan masyarakat untuk memberi dan melayani. Ketulusan hati, kecakapan memimpin dan landasan persembahan kepada Tuhan telah menjadikan Bupati Fred sebagai seorang pemimpin yang benar-benar melayani, mumpuni, lengkap dan dicintai rakyatnya. Rakyat merasakan betul nada-nada peningkatan kesejahteraan yang selama ini seolah terasa sekadar mimpi. (*)   

Thursday, August 28, 2014

Pemimpin Berhati Gembala

* EMPAT


"Apabila seseorang mengikuti pemimpin yang mencari nama besar, maka sang pemimpin yang akan diagungkan. Pemimpin tersebut akan dipuja dan akhirnya menggeser kedudukan Tuhan. Jikalau seseorang mengikuti pemimpin yang berhati seorang pelayan, Tuhanlah yang akan diagungkan. Pemimpin-peminpin semacam ini akan berbicara tentang Tuhan, kuasa Tuhan, pekerjaan Tuhan, nama Tuhan, firman Tuhan, Tuhan ... semuanya untuk kemuliaan Tuhan."
Charles R. Swindoll, penulis buku "Improving Your Serve"

KAMPUNG WAFOR, Distrik Supiori Timur, Mei 2013. Segenap warga Kampung Wafor begitu khidmat dalam kebersamaan doa ucap syukur. Syukur berkat pembangunan 20 unit rumah warga masyarakat layak huni program Rp1 miliar per kampung tahap pertama berjalan sukses dikerjakan 100 persen. Syukur pula lantaran kampung mereka menjadi salah satu kampung tercepat dalam pembangunan 20 unit rumah, disusul Kampung Sorendiweri dan Kampung Duber yang semuanya berada di Distrik Supiori Timur.
Program pembangunan rumah layak huni dengan pembiayaan melalui dana Otonomi Khusus (Otsus) Supiori Rp1 Miliar per kampung per tahun tahap pertama sukses besar. Untuk mewujudkan rasa syukur atas keberhasilan pelaksanaan program tersebut, bersama masyarakat Kampung Wafor Distrik Supiori Timur, segenap jajaran aparatur Pemerintah Kabupaten Supiori, pada tanggal 22 Mei 2013, menggelar doa bersama.
Lalu sebagai wujud apresiasi atas kesuksesan tersebut, pada kelanjutan pelaksanaan program Rp1 miliar per kampung tahap II, Pemerintah Kabupaten Supiori menambah dana bagi Kampung Wafor yang terlepas dari program Rp1 miliar tahap II. Selain apresiasi tersebut, secara terbuka, Bupati Supiori Fredrik Menufandu SH MH MM juga mengumumkan dan mengangkat kembali Kristopus Dimara sebagai Kepala Kampung Wafor.
“Karena Kampung Wafor mendukung program ini, terbukti menjadi kampung tercepat, lalu atas usul Wakil Bupati, kami (Pemkab Supiori) menambah dana ke Kampung Wafor, dana ini di luar dari dana Rp1 miliar per kampung yang sebentar lagi diluncurkan ke kampung-kampung untuk kegiatan yang sama,” jelas Bupati Supiori, Fredrik Menufandu SH MH MM, di sela-sela ritual doa syukuran di Kampung Wafor, Distrik Supiori Timur.
“Dan untuk saudara kepala kampung, karena saudara sudah menunjukkan komitmen kesuksesan program ini serta berhasil membangun partisipasi serta keterlibatan langsung warga masyarakat untuk ikut membangun rumah-rumah ini, maka saudara kepala kampung resmi kembali menjabat kepala kampung untuk periode satu tahun ke depan. Karena jabatan kepala kampung di 38 kampung sudah hampir selesai dan harus dipilih kembali,” tambah Bupati Fred.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati Fred menerangkan, 20 unit rumah warga masyarakat layak huni yang dibangun di kampung-kampung dilengkapi meteran listrik berkekuatan 900 Kwh, jaringan air bersih dan satu unit pesawat televisi lengkap antena UHV.
“Kami geser 14 kriteria keluarga miskin itu. Rumah-rumah ini sudah terbangun, listrik akan masuk, air bersih langsung ke rumah-rumah, dan kami akan berikan gratis ke setiap rumah satu unit televisi lengkap antena UHV yang tidak perlu lagi parabola. Kami sudah membangun stasiun televisi dan pemancarnya di beberapa titik untuk memancarkan siaran ke seluruh wilayah Supiori. Warga masyarakat bisa relay siaran TV lainnya dan Pemkab juga bisa membuat siaran sendiri,” kata Bupati Fred yang disambut tepuk tangan dan teriakan apresiasi masyarakat.
Secara terpisah, Kepala Kampung Wafor, Kristopus Dimara, mengakui bahwa  sejak program Rp1 miliar per kampung digulirkan fokusnya untuk kegiatan pembangunan rumah masyarakat layak huni. Warga masyarakat di Kampung Wafor menyambut antusias program tersebut. Hal ini ditunjukkan warga masyarakat dengan aktif terlibat langsung pada setiap proses pembangunan 20 unit rumah tanpa meminta imbalan uang.
“Saya pribadi, dan warga masyarakat saya, sangat bersyukur dan terima kasih kepada Bapak Bupati dan Wakil Bupati yang menggulirkan program untuk perbaikan rumah-rumah ini. Kami di sini bekerja secara gotong royong. Walaupun hanya 20 unit, tapi semua terlibat bekerja, karena mereka tahu bahwa program ini akan berlanjut,” ungkap Dimara.
Kepala Distrik Supiori Timur, Drs. Budi Mansoben, juga menyampaikan hal yang senada dengan ujaran Dimara. Untuk kesuksesan program prioritas Bupati dan Wakil Bupati, kata Budi, ia dan stafnya secara estafet dan rutin turun langsung mengawasi dan mengontrol pelaksanaan pembangunan rumah warga masyarakat di kampung-kampung di Distrik Supiori Timur. Hasilnya, lanjut dia, tiga kampung yang pekerjaan pembangunan rumahnya tepat waktu dan tidak bermasalah berada di wilayah Distrik Supiori Timur.
“Ya, ini karena kita semua ingin Supiori maju, kami memang tidak terlibat secara langsung dalam kegiatan pembangunan rumah layak huni. Tapi, sebagai kepala distrik dan ini untuk kepentingan masyarakat setempat, kami merasa bertanggung-jawab. Dan kami terus turun ke kampung-kampung di wilayah kami, mengecek, dan mendorong aparat serta warga masyarakat kampung agar bahu-membahu membangun kampung,” tandas Budi.
Dalam laporannya selaku penanggung-jawab pelaksanaan pembangunan rumah masyarakat layak huni, Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Kampung (BPPMK) Ester Afasedanya mengatakan bahwa kegiatan pembangunan rumah layak huni bagi masyarakat kampung dilakukan di 38 kampung. Pelaksanaan pembangunan rumah layak huni ini mulai dilakukan pada Desember 2012 lalu dan selesai 100 persen di tahun 2013.
Sekadar diketahui, melalui program ini, sedikitnya 760 KK di Kabupaten Supiori, yang selama ini tinggal di rumah yang tidak layak huni dan belum bisa menikmati listrik, dipastikan mulai tahun 2013 dapat tinggal di rumah yang layak dan juga menikmati aliran listrik serta fasilitas pro-rakyat lainnya yang digulirkan Pemerintah Kabupaten Supiori.
Pembangunan pro-rakyat di Kabupaten Supiori tidak hanya sebatas membangun atau memperbaiki rumah warga sampai layak huni. Warga Kampung Syurdori, Distrik Supiori Timur, Jaksen Karma, mengungkapkan bahwa hampir sebagian besar warga masyarakat Syurdori telah menikmati dana Otsus secara baik. Salah satunya, puluhan warga masyarakat kampung telah mendapatkan rumah layak huni serta setiap bulan memperoleh jatah raskin (beras miskin) secara gratis.
“Kami akui Pemkab Supiori telah menyalurkan dana Otsus secara baik, sehingga banyak warga masyarakat yang kini dapat menikmatinya,” ujar Jaksen Karma sebagaimana dikutip tabloid Bintang Papua (Maret 2014).
Melihat warga masyarakat Kabupaten Supiori yang semakin meningkat kesejahteraan dan kualitas hidupnya, sebagai pemimpin, Bupati Supiori Fredrik Menufandu tampak berusaha menerangi dan melayani warga yang telah memberinya mandat untuk memimpin mereka. Sebagai penganut Kristen taat, dalam bahasa iman, Bupati Fred menerapkan prinsip pemimpin berhati gembala.

A.   Tiga Makna Gembala
Dalam bahasa Ibrani terdapat tiga kata yang bermakna ‘gembala’. Setiap kata dari tiga kata sinonim untuk gembala itu pada dasarnya mempunyai arti dan makna yang sama, namun setiap kata menegaskan segi yang berlainan: (1) ‘mengamati dengan cermat’, ‘menjaga dengan dengan penuh perhatian’; (2) selalu siap dan berjaga-jaga, siaga dan sedia menghadapi bahaya yang datang; (3) menyelidiki, melihat ke depan dan merencanakan. Pendekatan arti kata-kata ini menjelaskan kepada kita, bahwa seorang gembala adalah seseorang, yang membawakan tiga arti kata tadi secara bersama-sama. Ia selalu berjaga-jaga, siaga, waspada, siap-sedia, cermat tajam, lagi penuh perhatian, dan tentunya dia bukan seorang penakut.
Pada zaman sebelum Yesus lahir, para gembala dinilai negatif. Di mata hukum –-yang memang hampir tidak mungkin dipenuhi oleh mereka dalam praktik-– para gembala disejajarkan dengan para pencuri dan pembunuh. Namun demikian orang Yahudi tetap tidak lupa akan nubuatan tentang gembala yang akan datang. Yesus menggenapi nubuat tersebut. Pada kenyataannya, selain orang-orang Majus, para gembala di Padang Efrata merupakan orang-orang pertama yang memperoleh pemberitaan oleh malaikat tentang kelahiran Yesus (Luk 2:8-20).
Gembala yang Baik. Keterlibatan dan rasa tanggung jawab seorang gembala terhadap keselamatan kawanan dombanya sebagaimana digambarkan oleh Perjanjian Lama tercermin dalam diri Yesus, “Sang Gembala Baik”. Gambaran Yesus sebagai Gembala Baik merupakan gambaran kesayangan umat Kristiani Perdana. Banyaknya lukisan dan ukiran di katakomba, yang menggambarkan gembala baik yang menggendong seekor domba, membuktikan kenyataan itu.
Yesus bersabda, “Inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang” (Yoh 6:39; bdk Yeh 34:16). Menjelang sengsara-Nya di Taman Getsemani, Yesus berdoa untuk persatuan para murid-Nya (dikenal sebagai ‘Doa Imam Besar/Agung’). Doa-Nya tersebut, antara lain, berbunyi sebagai berikut: “Selama Aku bersama mereka, Aku memelihara mereka dalam nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku; Aku telah menjaga mereka dan tidak ada seorang pun dari mereka yang binasa selain dia yang telah ditentukan untuk binasa, supaya digenapi yang tertulis dalam Kitab Suci” (Yoh 17:12). Bahkan, sebelum terangkat ke surga pun Yesus masih memberi pesan kepada para murid-Nya: “Ketahuilah, aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman” (Mat 28:20 atau kalimat terakhir dalam Injil Matius).
“Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya …” (Yoh 10:11); “Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku ..., dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku” (Yoh 10:14-15). Dalam perumpamaan ini (Yoh 10:1-18), Yesus menggambarkan diri-Nya sebagai gembala yang baik. Dengan demikian Ia menyabdakan banyak kekayaan tentang pribadi-Nya sendiri dan tentang Tuhan Allah. Lihat misalnya ayat 4: Ia berjalan di depan mereka dan domba-domba itu mengikuti dia, karena mereka mengenal suaranya. Ini jelas berbeda dengan penggembala bebek di Brebes, misalnya, yang berjalan di belakang kawanan bebek yang digembalakannya. Perumpamaan ini didasarkan pada kebiasaan di zaman Yesus hidup. Beberapa kawanan pada malam hari dikumpulkan dalam sebuah kandang. Pada waktu pagi setiap gembala memanggil domba-domba yang digembalakannya. Domba-domba itu mengenal suara gembalanya dan mengikutinya ke padang rumput. Nah, saling mengenal antara domba dan gembala itu begitu mengesankan, sehingga Yesus menyamakannya dengan hubungan mesra antara dia dan Tuhan di surga (Yoh 10:15). Sejauh suara gembala baik mengumandang, di situ pula ada shalom, rasa aman, perlindungan dan makanan.
Sebuah permenungan. Yesus Kristus, Sang Gembala Baik, mengidentifikasikan diri-Nya dengan kita, umat-Nya. Dia tidak meninggalkan kita pada saat-saat kita mengalami kesulitan. Sebagai Gembala yang baik, Hati-Nya penuh dengan belarasa bagi kita, domba-domba-Nya. Dia mengenal kita satu per satu secara pribadi, dan Dia ingin kita mengenal-Nya secara mendalam pula. Karena cinta kasih-Nya kepada kita, Dia mengundang kita untuk datang kepada-Nya, agar dapat mengenali suara-Nya –-bahkan di tengah-tengah kesulitan yang sedang kita alami. Dalam diri Yesus kita mengenal Hati seorang Gembala yang baik, yang mengenal masing-masing domba dan bahkan menyerahkan nyawa-Nya bagi kita. Yang hilang akan dicari sedangkan yang tersesat akan dibawa pulang. Yesus menunjukkan kepada kita keprihatinan Tuhan Allah, terlebih bagi mereka yang dipandang sebagai orang-orang yang tidak berarti dan tidak dipedulikan hak-haknya.
Karena kita terbilang sebagai ‘domba-domba’ milik-Nya, maka tidak salahlah bila dikatakan, bahwa Yesus mempunyai kepentingan atas kesejahteraan jiwa-raga kita. Manakala Iblis -–‘srigala’  dalam perumpamaan Yesus (10:12)-– mencoba untuk mencerai-beraikan kita, Yesus adalah perlindungan kita yang kokoh-pasti. Bagi mereka yang mengenal-Nya, maka suara-Nya memberikan kenyamanan dan rasa aman.
Kita biasa mengatakan bahwa sebagai Sang Gembala Baik, Yesus begitu memperhatikan kita masing-masing, begitu baik Hati-Nya, demikian mengasihi kita, karena di mata-Nya setiap kita ini sangatlah berharga. Pernyataan ini sama sekali tidak salah. Tapi, seseorang belumlah menghargai sepenuhnya betapa dalam dan intens cinta kasih Yesus kepadanya, hanya dengan mendengarkan dan/atau membaca tulisan tentang hal itu. Orang itu harus merenungkannya manakala dia melakukan pertobatan hari demi hari, sampai pada suatu hari … hatinya merasa begitu tersentuh … betapa besar cinta kasih Yesus kepadanya, sehingga disposisi hati, sikap dan perilakunya sehari-hari pun akan diinspirasikan oleh suatu rasa syukur yang aktif bekerja dalam dirinya, karena dia mempunyai seorang Gembala Baik yang sejati dan agung. Dengan demikian, dia pun akan menghasilkan ‘buah-buah yang sesuai dengan pertobatan’ (Luk 3:8).

B.    Menerangi, Melayani dan Merajut Komunikasi
Bupati Fred menerapkan prinsip-prinsip Yesus Kristus Sang Gembala Yang Baik.  Gembala yang menerangi dan melayani umat (rakyat) yang tidak semata-mata dalam angan belaka atau sebagai ujaran di atas mimbar gereja. Dia berusaha mengimplementasikan benar secara fisik dalam kehidupan warga yang dipimpinnya. Dan ketika memulai memimpin Supiori, sekadar contoh, dia awali dengan menghadirkan jaringan/aliran listrik PLN dan jejaring infrastruktur telekomunikasi.
Dalam berbagai kesempatan, Bupati Fredrik Manufandu mengungkapkan upaya percepatan pembangunan di berbagai sektor di wilayah Kabupaten Supiori terus dipacu. Berbagai kegiatan yang telah dilakukan dan terus akan dilaksanakan dibagi dalam beberapa fase. Hal itu dimaksudkan supaya kebijakan pembangunan berjalan secara terprogram dan terarah.
Fase pembangunan yang dimaksud tidak dilakukan begitu saja namun tetap melalui rancangan dan pergumulan intelektual dengan melihat kondisi nyata di lapangan. “Jadi sejak saya bersama Pak Wakil Bupati terpilih, kami melakukan pergumulan pemikiran dan rancangan program, tentunya dengan melihat kebutuhan dasar lalu dibagi dalam beberapa fase,” ungkap Bupati Fredrik Manufandu.
Menurut dia, untuk fase pertama, selama kurang lebih 6 bulan (pada tahun 2011) setelah dilantik dinilai sebagai fase transisi. Pada fase transisi, pihaknya lebih cenderung melakukan aksi pengenalan dan orientasi program serta kebijakan dalam rangka membangun tataran kepemimpinan baru guna menyelesaikan persoalan-persoalan ikutan sebelumnya sembari melaksanakan dan memperkenalkan program-program prioritas utama seturut kemampuan anggaran yang masih tersedia saat itu.
Fase kedua, dikatakan, bahwa anggaran tahun 2012 merupakan awal fase peletakan dasar-dasar pembangunan yang berfokus pada penyiapan infrastruktur sarana dan prasana pembangunan daerah sebagai bagian dari program prioritas utama sambil tetap menuntaskan penyelesaian fase transisi yang ada.
Dijelaskan oleh Bupati Fred, pada fase peletakan dasar-dasar pembangunan daerah, program lebih diarahkan pada upaya pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat seperti pembangunan perumahan layak huni, pembangunan jalan dan pengaspalan serta pembangunan jembatan yang dimulai dari wilayah perkotaan. Hal itu dimaksudkan sebagai upaya untuk membangun wajah ibu kota Kabupaten Supiori.
Selain itu, lanjutnya, juga sekaligus membangun jalan dan jembatan yang menghubungkan pusat-pusat pemukiman warga masyarakat. Tak hanya itu, disinggung pula soal program raskin gratis yang menganut azas bagi habis dan adil, pelayanan kesehatan dan pendidikan gratis, pembangunan jaringan listrik dan telekomunikasi masuk ke wilayah Supiori.
“Listrik PLN belum ada ketika kami belum menjabat, setelah mulai menjabat kami upayakan itu dan kini sudah ada listrik PLN 24 jam, termasuk telekomunikasi. Demikian halnya untuk raskin kami talangi dana distribusinya sehingga tidak ada alasan masyarakat tidak menerima raskin secara gratis,” ujarnya.
Sekadar pengetahuan, sebelumnya masyarakat belum bisa menikmati  listrik PLN yang menyala selama 24 jam non-stop, termasuk jaringan sinyal telekomunikasi (terutama Tekomsel), di tahun pertama kepemimpinan Bupati  Fred dan wakilnya langsung diadakan dan kini telah dapat dinikmati masyarakat. Pemkab Supiori langsung menyambung tiang listrik sejak sekitar 90 Kilometer dari Biak ke Supiori dan membangun pembangkit listrik berkekuatan 150 MW. Sebuah langkah menerangi rakyat dalam arti fisik.
Bahkan mulai tahun 2015, Kabupaten Supiori memiliki Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) Wabudori. Dan PLTMH Wadubori menjadi program percontohan Kementerian Energi Sumber Daya Mineral.
Staf Khusus Bupati Supiori Yohanis M. Koroh mengatakan pelelangan proyek fisik PLTMH Wabudori dilakukan pada Juni 2014. "Kapasitas pasokan listrik manakala PLMTH Wabudori beroperasi 2015 mencapai tiga megawatt, bisa memenuhi kebutuhan masyarakat Supiori dan Kabupaten Biak Numfor," jelasnya.
Koroh mengakui pertengahan 2014 Pemkab Supiori sudah mengantongi rekomendasi Gubernur Papua Lukas Enembe untuk diajukan ke Menteri Kehutanan di Jakarta terkait dengan persetujuan pengajuan alih fungsi lahan hutan lindung dan cagar alam untuk proyek PLTMH.
Dia mengatakan keberadaan PLTMH yang memanfaatkan air Sungai Kampung Waryai, Distrik Supiori Barat, itu cukup potensial untuk mensuplai listrik warga masyarakat yang membutuhkan. Dia menyebutkan alokasi dana dari Kementerian ESDM untuk membangun PLTHM Wabudori diperkirakan mencapai Rp150 miliar.
"Pemkab Supiori di bawah kepemimpinan Bupati Fredrik Menufandu dan Wabup Yan Imbab setiap waktu mewujudkan program pro-rakyat, di antaranya pendidikan, kesehatan, perumahan, infrastruktur jalan dan jembatan, air bersih, aliran listrik, beras untuk masyarakat miskin gratis, serta beberapa program lain," kata Koroh.
Selain itu, Bupati pun memberi motivasi pelayanan keagamaan kepada lembaga gereja serta mendorong peningkatan kedisiplinan dan kompetensi kerja aparatur.  Program bantuan sosial dana sarana keagamaan setiap tahun dianggarkan Pemkab Supiori mulai APBD 2012.
"Dengan adanya dukungan anggaran pemerintah kabupaten diharapkan dapat menunjang berbagai kegiatan organisasi denominasi gereja bersangkutan dalam membina pembangunan mental spritual warga jemaat gereja," ungkap Bupati Supiori Fredrik Menufandu seusai peresmian Gereja GKI Yamoi Jeng Wafur Distrik Supiori Barat, beberapa waktu lalu.
Dalam melaksanakan pembinaan warga jemaat gereja, demikian kata Bupati Fred, Pemkab Supiori telah mengembangkan pola tiga tungku, yakni adat, pemerintah dan lembaga keagamaan.
"Adanya kerja sama tiga tungku ini diharapkan dapat lebih efektif membina bidang mental spiritual warga jemaat, ya dukungan Pemkab salah satunya memberikan dana sarana keagamaan," tandas Bupati Fred.
Sebagai contoh nyata, lanjut sosok Bupati Fred yang amat sederhana ini, untuk menyelesaikan pembangunan sarana fisik Gereja GKI Yamoi Jeng Wafur Distrik Supiori Barat, Pemkab Supiori memberikan bantuan dana keagamaan sebesar Rp200 juta dan rumah pastori lewat APBD Supiori.
"Berkat bantuan dana Pemkab Supiori, masyarakat Wafur, Distrik Supiori Barat, pada tanggal 8 Juli 2012 sudah dapat menggunakan fasilitas fisik gedung gereja GKI Yamoi Jeng untuk beribadah," kata Bupati Menufandu usai meresmikan gereja tersebut.
Kemudian soal peningkatan kualitas aparatur. Salah satunya diwujudkan dengan peningkatan kualitas tata kelola keuangan dan aset daerah sebagai bagian dari program reformasi birokrasi, termasuk pemberdayaan ekonomi rakyat yang juga merupakan program prioritas.
Di fase ketiga disebutkan bahwa fase ini terkait dengan pembangunan bidang unggulan dan peningkatan kualitas dan promosi bidang unggulan. Selanjutnya, kata Bupati, akan memasuki fase kemandirian yang unggul dalam bidang kelautan, perikanan dan kepariwisataan menuju masyarakat Supiori yang sejahtera, maju dan adil.
“Tahun 2014 adalah tahun keempat saya dengan Wakil Bupati memimpin Supiori, di tahun ini masih merupakan lanjutan dari fase peletakan dasar-dasar pembangunan. Bahwa di tahun ini akan fokus pada penyelesaian pembangunan infrastruktur di seluruh wilayah Kabupaten Supiori. Pembangunan akan dilanjutkan ke wilayah Supiori Selatan, Kepulauan Aruri, Utara sampai ke Supiori Baray,” paparnya.
 “Jadi percepatan pembangunan Kabupaten Supiori yang disaksikan dan dirasakan warga masyarakat saat ini bukan hadir begitu saja, namun melalui suatu pergumulan pemikiran yang berat dan dilandasi komitmen yang kuat serta tulus untuk membangun masyarakat di Kabupaten Supiori,” tandas Bupati Fred Manufandu.

C.   Gembala yang Rendah Hati
Sosok Bupati Fred berusaha keras meningkatkan kesejahteraan warga masyarakat yang dipimpinnya. Kendati hasil-hasil pembangunan yang dilakukan Pemkab Supiori telah dapat dinikmati sebagian besar warga masyarakat, sebagai umat Kristiani, dia selalu berusaha rendah hati. Bahwa semua itu bukan semata-mata hasil kerja dirinya. Tapi, hasil kerja segenap aparatur dan kemurahan Tuhan Yang Maha Kasih. Dia meyakini bahwa Tuhan memerintahkan kita pengikut-Nya untuk hidup dengan penuh kerendahan hati.
Ya, kendati sudah berada di puncak singgasana dan memberikan arti hidup bagi rakyat yang dipimpinnya, Bupati Fred tetap rendah hati dalam menghadapi rakyat dan para pihak yang ikut membangun wilayah Kabupaten Supiori.
Bagaimana sosok Bupati Fred menjaga kerendah-hatiannya? Di mata Bupati Fred, kerendahan hati bukanlah sebuah sikap tubuh yang merendah-rendah. Di dalam banyak budaya, sikap merendahkan tubuh dianggap sebagai kerendahan hati. Padahal, sesungguhnya kerendahan hati bukanlah sikap tubuh melainkan sikap hati, yang tidak mementingkan diri, malah sebaliknya lebih mengedepankan kepentingan orang lain.
Marilah kita lihat dengan saksama ciri orang yang rendah hati sebagaimana diuraikan di Filipi 2:3 dengan cara mengkontraskannya dengan sikap orang yang tinggi hati, "dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia . . . menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri. "
Orang yang tinggi hati akan mencari kepentingan diri sendiri, sedangkan orang yang rendah hati lebih mengutamakan kepentingan orang lain. Orang yang tinggi hati akan selalu berpikir, "Apa untungnya buat saya?" Dengan kata lain, orang yang tinggi hati sukar melakukan sesuatu murni untuk kepentingan orang lain. Sebaliknya, orang yang rendah hati bersedia berkorban melakukan sesuatu yang tidak berkaitan atau tidak memberi keuntungan bagi dirinya.
Orang yang tinggi hati akan mencari puji-pujian orang terhadap dirinya, sedangkan orang yang rendah hati tidak memikirkan hal ini. Sewaktu orang yang tinggi hati melakukan sesuatu, dia akan memikirkan efeknya-apakah hasil perbuatannya akan dihargai orang atau tidak. Dengan kata lain, jika dia beranggapan bahwa efek karyanya tidak hendak mengundang pujian orang, dia tidak mau melakukannya. Tidak heran, orang yang tinggi hati cepat marah dan tersinggung, bila orang tidak memberi respon terhadap karyanya sesuai dengan keinginannya. Sebaliknya, orang yang rendah hati akan melakukan segala sesuatu sebaik-baiknya, "dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia." (Kolose 3:23) Orang yang rendah hati melihat Tuhan sebagai "penonton" perbuatannya; dia tidak memusingkan penilaian atau penglihatan sesama manusia. Fokus utamanya adalah mempersembahkan hasil karya hidupnya untuk Tuhan; jadi, terpenting baginya adalah membuat Tuhan senang. Kalau sampai orang memuji dirinya, itu adalah efek samping yang tidak dicarinya.
Orang yang tinggi hati akan menomor-satukan diri sendiri sementara itu orang yang rendah hati berupaya menomor-duakan dirinya. Orang yang tinggi hati beranggapan bahwa dia lebih utama dan lebih baik daripada orang lain. Itu sebabnya orang yang tinggi hati sering kali menuntut perlakuan khusus atau istimewa sebab dia beranggapan dia tidak sama dengan orang lain. Dia berharap orang akan membebaskannya dari kewajiban yang biasanya dituntut pada kebanyakan orang, oleh karena baginya, dia bukanlah orang biasa. Sebaliknya, orang yang rendah hati tidak melihat dirinya sebagai orang yang istimewa dan selayaknya menerima perlakuan khusus. Dia akan menempatkan dirinya sejajar dengan yang lain, bahkan dia cepat menghargai sumbangsih orang. Dengan kata lain, orang yang rendah hati cepat melihat keistimewaan orang lain dan lambat melihat keistimewaan dirinya. Sudah barang tentu ini tidak berarti bahwa dia buta terhadap dirinya; tidak! Dia tahu siapa dirinya --kekuatan dan kelemahannya-- namun baginya, tidaklah penting untuk menonjolkan kekuatannya. Baginya justru yang penting adalah bagaimana dia dapat menolong orang yang lain mengembangkan diri sehingga akan lebih banyak orang yang dapat melakukan apa yang baik bagi sesama dan Tuhan.

D.   Mengemban Tanggung Jawab Gembala
Masih dalam kerangka iman Kristen, Bupati Fred menerapkan prinsip gembala jemaat yang setia pada tanggung-jawab rumah-tangga (arti yang lebih luas rumah tangga pemerintah kabupaten) dan pada kebenaran Allah. Gembala atau penilik haruslah orang yang lurus hati dan ikhlas.
Salah satu tugas setiap orang percaya  setelah menerima keselamatan dari Allah ialah menjadi saksi-Nya atau melayani-Nya. Rasul Paulus mengatakan bahwa pekerjaan yang paling indah ialah mereka yang menghendaki jabatan penilik atau gembala (I Tim. 3:1). Seorang pelayan Tuhan yang menghendaki pekerjaan seorang gembala haruslah orang yang telah mengambil keputusan untuk menyerahkan seluruh hidupnya untuk melayani Kristus. Keputusan untuk menjadi seorang gembala hal yang perlu dipikir dalam-dalam dan juga memiliki latar belakang hidup atau kesaksian kehidupan yang baik.
Mengapa keputusan memilih untuk menjadi gembala dapat berdampak sedemikian besar? Jawabannya adalah karena seorang gembala bertanggung- jawab secara spiritual dalam kehidupan rohani jemaatnya. Gembala  menolong jemaatnya dalam melihat, mengerti dan mendalami firman Tuhan. Bagaimana jemaat mengerti, melakukan, dan bersaksi atas firman Tuhan ditentukan oleh pengajaran gembalanya. Bagaimana jemaat dapat malakukan kuasa Tuhan, bagaimana jemaat dapat mengklaim janji-janji Tuhan, dan bagaimana jemaat dapat menyaksikan keajaiban pekerjaan Allah, semuanya ditentukan sejauh apa gembala mendidik dan membentuk jemaatnya dalam firman Tuhan.
Untuk mendidik dan membentuk jemaatnya dalam firman Tuhan, sang gembala atau penilik mesti mengajarkan ajaran yang sehat, memberitakan Injil, mempertahankan iman dan mendisiplinkan jemaat.
Ihwal mengajarkan ajaran yang sehat, fungsi gembala jemaat ialah memimpin anggota jemaat untuk menjadi dewasa dalam Firman Tuhan agar bisa mengambil keputusan yang tidak bertentangan dengan Firman Tuhan serta membangun jemaat. Seorang gembala harus memberi makan jemaatnya , yaitu firman Tuhan, agar pertumbuhan iman jemaat semakin baik dan juga supaya tidak mudah tergeser dari kepercayaan mereka.
Pada salam pembukaan surat Rasul Paulus kepada Timotius, dia menegaskan wewenangnya sebagai seorang hamba Yesus Kristus. Orang-orang yang menyebabkan Timotius menghadapi kesulitan perlu tahu bahwa Timotius adalah gembala yang melayani mereka sebab telah menempatkan dia di sana, karena Rasul Paulus menerima wewenang dari Allah. Masalah yang dihadapi oleh Timotius pada waktu itu ialah ada golongan Gnostik yang mulai mengajarkan ajaran yang tidak sesuai dengan firman Tuhan sehingga ada orang-orang percaya yang mulai mengikuti ajaran tersebut sehingga Paulus mengirim suratnya untuk menasehatkan Timotius untuk tetap mengajarkan apa yang telah mereka dengar dari Paulus kepada orang-orang percaya yang dia gembalakan.
Lantas tentang memberitakan Injil, dalam surat Rasul Paulus kepada jemaat di Roma mengatakan bahwa Paulus mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani (Roma 1:16). Sebutan Injil dalam I Timotius 1:11, yaitu Injil yang mulia dari Allah yang memberi berkat mendorong Paulus untuk menceritakan kesaksian pribadinya sendiri. Ia adalah bukti terbaik untuk menyatakan bahwa Injil kasih karunia Allah itu sungguh-sungguh mengubah hidupnya (Kis. 9:1-22; 22:1-21).
Gembala merupakan pelayan Tuhan yang telah menyerahkan seluruh hidupnya untuk melayani Tuhan dan juga memiliki hati yang rindu untuk melayani jiwa-jiwa yang belum diselamatkan dan ingin melihat orang-orang yang belum diselamatkan berubah dan berbalik kepada Kristus. Gembala jemaat harus memiliki keyakinan akan pengajaran atau Injil yang disampaikan kepada jiwa yang sesat. Paulus menjelaskan bahwa keselamatan itu bukan untuk dia sendiri, tetapi juga untuk semua orang yang menerima Yesus Kristus (I Tim. 1:15). Jika Yesus dapat menyelamatkan Saulus dari Tarsus, orang yang paling berdosa, tentu Ia juga dapat menyelamatkan siapa saja!
Kemudian mengenai mempertahankan iman, dalam surat Paulus kepada Timotius, ia menyerahkan tanggung jawab kepada Timotius agar melaksanakannya, selain mengajarkan ajaran yang sehat dan memberitakan Injil harus pula mempertahankan iman jemaat. Ini merupakan kewajiban gembala untuk memelihara kebenaran atau doktrin Injil yang diterima dan dianut di dalam gereja, dan mempertahankannya terhadap semua oposisi. Ini adalah salah satu ujung utama pelayanan, salah satu sarana utama dari pelestarian iman yang disampaikan kepada orang-orang kudus. Sebagai rasul sering dan secara tegas mengulangi tuduhan itu kepada Timotius, dan di dalam Dia telah sampai pada semua orang yang menerima dispensasi kata berkomitmen (I Tim 1:3. - 4, 4:6-7, 16, 6:20; II Tim 1:14, 2:25, 3:14-17).
Mempertahankan iman jemaat adalah hal yang sangat perlu diperhatikan oleh pelayan Tuhan atau gembala. Sebab itu, gembala harus benar-benar memperhatikan setiap iman jemaatnya, karena, dalam jemaat lokal, anggota memiliki latar belakang yang berbeda-beda baik dalam pengetahuan kebenaran maupun pendidikan.
Dan ihwal mendisiplinkan jemaat, seorang gembala jemaat harus mengatur sopan santun dalam kebaktian jemaat agar kebaktian berjalan secara teratur (I Kor. 14:26-40) serta menjalankan disiplin gereja. Yesus telah bersabda bahwa apabila seorang percaya tidak mau tunduk dan menaati nasehat secara pribadi maka masalah itu harus diserahkan kepada gereja untuk didisiplin (Mat. 18:17). Secara tegas sekali Paulus meminta agar jemaat di Korintus menjalankan disiplin jemaat (I Kor. 5:13).
Tujuan untuk mendisiplinkan jemaat yaitu:
*  Untuk membawa kemuliaan kepada Allah dan meningkatkan kesaksian kawanan domba.
* Untuk memulihkan dan membangun anggota jemaat yang telah jatuh dalam dosa (Mat.18:15; 2 Tes. 3:14-15).
* Untuk menghasilkan iman yang sehat, satu suara dalam doktrin (Tit. 1:13; 1 Tim. 1:19-20).
* Untuk memenangkan jiwa bagi Kristus, jika orang berbuat dosa hanya mengaku Kristen (2 Tim. 2:24-26).
* Untuk membungkam guru-guru palsu dan pengaruh mereka di gereja (Tit. 1:10-11).
* Untuk menetapkan contoh bagi seluruh tubuh dan mempromosikan rasa takut yang saleh (1 Tim. 5:20).
Disiplin gereja sangat penting untuk kesucian badan lokal dan perlindungan dari kerusakan moral dan doktrinal yang murni. Dosa dalam kehidupan gereja mendukakan orang dari Roh Kudus dan memadamkan kuasa-Nya. Jika dosa tetap dicentang oleh aplikasi penuh kasih dari disiplin gereja dalam tubuh orang percaya, Roh Kudus harus meninggalkan seperti gereja untuk sumber-dayanya sendiri duniawi. Hasil tidak dapat dihindari akan kehilangan berkat Tuhan sampai dosa sudah ditangani.
Melihat betapa tidak ringan menerapkan prinsip-prinsip tugas dan tanggung jawab gembala, maka benak Bupati Fred teringat dan lekat dalam perilakunya pesan Alkitab, ”Karena itu penilik jemaat haruslah seorang yang tak bercacat, suami dari satu isteri, dapat menahan diri, bijaksana, sopan, suka memberi tumpangan, cakap mengajar orang, bukan peminum, bukan pemarah melainkan peramah, pendamai, bukan hamba uang, seorang kepala keluarga yang baik, disegani dan dihormati oleh anak-anaknya. Jikalau seseorang tidak tahu mengepalai keluarganya sendiri, bagaimanakah ia dapat mengurus Jemaat Allah? Janganlah ia seorang yang baru bertobat, agar jangan ia menjadi sombong dan kena hukuman Iblis. Hendaklah ia juga mempunyai nama baik di luar jemaat, agar jangan ia digugat orang dan jatuh ke dalam jerat Iblis.” (1 Timotius 3:1-7)
Pun teringat pada pesan bahwa gembala jemaat janganlah menjadi orang pengejar status. Rasul Paulus mengatakan, ”Saudara-saudara, kata-kata ini aku kenakan pada diriku sendiri dan pada Apolos, karena, supaya dari teladan kami, kamu belajar apakah artinya ungkapan: Jangan melampaui yang ada tertulis, supaya jangan ada di antara kamu yang menyombongkan diri dengan jalan mengutamakan yang satu dari yang lain.” (1 Korintus 4:6)
Gembala jemaat harus mengajar umat Allah melalui perkataan dan perbuatan. Alkitab berkata bahwa, ”Karena itu jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan, karena kamulah yang ditetapkan Roh Kudus menjadi penilik untuk menggembalakan jemaat Allah yang diperoleh-Nya dengan darah Anak-Nya sendiri.” (Kisah 20:28)
Bupati Fred benar-benar menjunjung tinggi prinsip dan tugas gembala yang penuh tanggung jawab. Dia tidak larut hanya memikirkan dirinya sendiri. Dia justru larut dalam tanggung-jawabnya sebagai pemimpin rakyat Kabupaten Supiori. Bahkan, dia sangat detil mempertanggung-jawabkan setiap alokasi anggaran yang digelontorkan buat membangun Supiori yang berkeadilan dan berkesejahteraan.
Tidak jarang Bupati Fred sampai harus merogoh koceknya pribadi manakala ada warga masyarakatnya yang mengadu atau mengeluhkan kekurangan mereka. Tak pelak, penampilannya demikian sederhana dan bersahaja.  Bahkan, kelewat sederhana untuk ukuran seorang Bupati. (*)