Showing posts with label Perempuan Mulia. Show all posts
Showing posts with label Perempuan Mulia. Show all posts

Wednesday, February 12, 2014

Peran Para Wanita Saat Rasulullah Wafat


              Diriwayatkan dari Siti Aisyah, ”Saya melihat cara berjalannya Fatimah seperti Nabi Muhamad.” Suatu waktu Rasulullah berkata kepada Fatimah, “Selamat datang, wahai putriku.” Kemudian Rasulullah menyuruh Fatimah duduk di sebelah kanan –atau kirinya– lalu beliau membisikkan sesuatu kepada Fatimah secara rahasia, serta merta Fatimah menangis. Lalu Rasulullah menyampaikan bisikan yang kedua dengan sesuatu, tapi kali ini Fatimah terlihat tersenyum.
              Melihat kejadian itu Aisyah penasaran dan bertanya kepada Fatimah, ”Saya tidak pernah melihat kamu seperti sekarang? Apa yang Rasulullah bisikkan kepadamu?”
              “Saya tidak bisa menyebarkan rahasia Rasulullah,” jawab Fatimah.
              Mendengar jawaban Fatimah seperti itu, Aisyah tidak pernah bertanya lagi mengenai hal itu hingga Rasulullah wafat dan baru bertanya lagi.
              Dalam suatu riwayat dari Siti Aisyah dituturkan, ”Ketika Rasulullah sakit dan hampir menemui ajal, beliau memanggil Fatimah dan membisikkan sesuatu kepadanya, seketika itu juga Fatimah langsung menangis. Kemudian Rasulullah berbisik lagi, tapi kali ini Fatimah tersenyum. Lalu saya tanyakan tentang hal itu kepadanya, dan dia berkata, ‘Rasulullah membisikiku bahwa pada saat itu dia akan meninggal maka aku menangis. Kemudian dia membisikiku lagi dan berkata bahwa akulah orang pertama dari keluarganya yang akan bersamanya kelak’.”
              Riwayat lain dari Ibnu Majah, Siti Aisyah mengungkapkan, ”Suatu hari, ketika Rasulullah sakit, semua istri beliau berkumpul. Kemudian Fatimah datang, saya melihat cara berjalannya seperti berjalannya Rasulullah.”
              Nabi berkata, ”Selamat datang wahai putriku.” Rasulullah menyuruh Fatimah duduk di kiri Nabi, lalu beliau membisikkan sesuatu kepadanya, serta merta dia menangis. Dan Rasulullah berbisik lagi seperti sebelumnya, namun kali ini Fatimah terlihat tersenyum.
              Melihat kejadian itu Aisyah penasaran dan bertanya kepada Fatimah, “Apa yang membuat kamu menangis?”
              “Saya tidak bisa menyebarkan rahasia Rasulullah,” jawab Fatimah.
              Aisyah bertanya lagi, “Aku tidak pernah melihat kamu seperti sekarang ini. Apakah Rasulullah membisikkan kabar khusus bagimu, terus kamu menangis?”
              Fatimah menjawab, “Saya tidak bisa menyebarkan rahasia Rasulullah.”
              Mendengar itu Aisyah tidak pernah bertanya lagi. Setelah Rasulullah wafat, baru kemudian Fatimah memberi tahu Aisyah dengan perkataan, “Rasulullah berbisik kepadaku bahwa Malaikat Jibril biasanya menemuninya sekali dalam setahun untuk membacakan ayat al-Qur’an. Namun kali ini Jibril dua kali menemuinya dalam setahun. Saya tidak melihat ini kecuali ajalku semakin dekat. Kamu (Fatimah) adalah orang pertama dari keluargaku yang menemuiku, sebaik-baiknya orang terdahulu adalah aku dan kamu.”
              Atas perkataan Rasulullah tadi Fatimah menangis. Tapi, kisah Fatimah, Rasulullah membisikinya lagi dengan berkata, ”Apakah kamu bersedia menjadi sayyidah  perempuan mukminah?” Fatimah pun tersenyum mendengar pertanyaan itu.

Bagaimana Kalian Tega, Wahai Anas!
Sewaktu sakit Rasulullah semakin parah, beliau bersedih, karena merasa segera meninggal dunia. Sebab itu, Fatimah berkata, “Engkau bersedih, wahai ayah.” Beliau berkata, “Setelah hari ini, ayahmu tidak akan bersedih lagi.”           
Ketika beliau wafat, Fatimah berkata, “Wahai ayah, yang telah memenuhi panggilan Tuhan. Wahai ayah, di mana surga Firdaus tempat engkau berada kelak. Wahai ayah, kepada Jibril kami mendapatkan kabar. Wahai ayah, dari Tuhan-mu adalah apa yang kami sanjungkan.”
Saat beliau dikebumikan, Fatimah berkata kepada Anas, “Wahai Anas, bagaimana mungkin kalian tega meratakan Rasulullah Saw dengan tanah?”
Riwayat yang lain menarasikan bahwa ketika prosesi penguburan Rasulullah selesai, Fatimah mengambil segenggam tanah dari pekuburannya, kemudian diletakkan di matanya sambil menangis dan melatunkan syair:

Apa jadinya orang yang dengan cinta mencium tanah kuburan Ahmad (Nabi Saw)
Dia akan mencium kemuliaan sepanjang tahun
Meski hampir setiap hari mengalami derita
Tapi hari-hari kami sebenarnya adalah malam-malam indah di surga Aden

Bela Sungkawa Malaikat terhadap Istri-istri Nabi
Dituturkan dari Muhamad bin Ali bin Husain bahwa ketika Rasulullah sakit dan tiga hari sebelum beliau wafat, Jibril a.s. datang menemui Rasulullah. Kemudian Jibril mengatakan, “Wahai Muhamad, sesungguhnya Allah mengutus saya mendatangimu, untuk menghormati dan memuliakanmu, terkhusus kepadamu, saya ingin bertanya, bagaimana perasaanmu?" Beliau menjawab, "Saya bersedih dan sangat bersedih, wahai Jibril.”
Di hari kedua, Jibril kembali mendatangi Rasulullah dan menanyakan apa yang sebelumnya telah ditanyakan. Nabi pun menjawab sebagaimana jawaban sebelumnya.
Di hari ketiga, Jibril kembali menyambangi Rasulullah. Dia datang ditemani malaikat maut dan keduanya ditemani malaikat udara (al-Hawâ’) yang dikenal dengan sebutan Ismail. Sedangkan malaikat Ismail diiringi seratus ribu malaikat (dalam sebagian riwayat, tujuh puluh ribu malaikat), setiap satu dari mereka membawa seratus ribu malaikat (atau membawa tujuh puluh ribu malaikat). Jibril memimpin mereka semua. Dia berkata, “Wahai Muhamad, sesungguhnya Allah telah mengutus saya untuk memuliakanmu dan mengutamakanmu serta terkhusus padamu, saya ingin bertanya sesuatu, di mana Allah lebih tahu tentang hal ini daripada kamu, "Bagaimana perasaanmu?" Rasulullah menjawab, "Saya bersedih dan sangat bersedih, wahai Jibril."
Kemudian malaikat maut meminta izin masuk. Jibril memperkenalkannya, “Wahai Muhamad, ini adalah malaikat maut meminta izin untuk menemuimu. Dia tidak pernah meminta izin pada siapapun sebelum kamu dan tidak akan pernah lagi minta izin kepada anak Adam.”
Nabi Saw pun mengizinkan dia masuk. Malaikat maut berkata, "Wahai Muhamad, Allah mengutusku untuk mencabut nyawamu. Jika kamu belum bersedia maka saya akan meninggalkanmu."
Nabi Saw bertanya, "Apakah Allah memerintahkan hal itu padamu?"
Jawab malaikat maut, "Ya, begitulah perintah-Nya."
Secara tegas Nabi mengatakan, "Jika itu perintah-Nya kepadamu maka saya wajib memenuhi perintah Allah."
Nabi kemudian sekilas melihat pada Jibril. Malaikat Jibril mengucapkan, "Wahai Muhamad, Allah merindukanmu." Nabi menjawab, "Segera cabut nyawaku!"
Ketika Nabi Saw wafat, tiba-tiba terdengar suara bela sungkawa dari ujung rumah. Suara itu tanpa ada orangnya. "Assalamu’alaikum wahai penghuni rumah. Sesungguhnya Allah memerintah ucapan bela sungkawa saat ada musibah. Maka percayalah kepada-Nya. Dan berharaplah hanya kepada-Nya. Karena sesungguhwnya musibah adalah saat kalian tidak bisa mendapat pahala. Wassalam."[1]

Tangisan Penduduk Kota Madinah
              Terkisah dari Ummu Salamah, istri Rasulullah. Dia berkisah, “Kita adalah sekumpulan orang yang menangis – ketika wafatnya Rasulullah– dan tidak tidur semalaman melihati jasad beliau di atas  kasur. Setelah mendengar bunyi kapak di tengah malam dia berkata, ‘Ketika kami menjerit, orang yang berada di Masjid ikut menjerit, dan seketika itu penduduk kota Madinah juga ikut menjerit. Kemudian Sayyidina Bilal adzan Subuh, ketika nama Rasulullah disebut (dalam adzan) dia menangis dengan sekuat tenaga hingga kesedihan kami bertambah. Apalagi saat para shahabat memasukkan jasad Rasulullah ke dalam liang lahat dan meratakan kuburannya dengan tanah, kami merasa tidak ada musibah yang paling berat selain musibah ini.”


[1]Ibn Sa’ad, Thabaqat al-Kubra (2/258-259), al-Baihaqi, Dalâil al-Nubuwat (7/210-211, 267-268).

Perempuan yang Kehilangan Dua Anaknya


Zainab adalah salah satu wanita yang ahli fikih di zamannya. Saat datang yaumul hurrah,[1] pakar fikih Madinah banyak yang terbunuh, termasuk kedua anak Zainab yang juga anak tiri Rasulullah. Ketika jenazah kedua anaknya didatangkan di hadapannya, Zainab berkata, “Sesungguhnya kita adalah milik Allah, dan kepada-Nya kita kembali. Demi Allah, sesungguhnya musibah yang menimpa kalian berdua amatlah besar. Padahal kehilangan salah satu dari mereka berdua sudah merupakan kejadian besar. Kedua putraku ini, yang hanya duduk di rumah saja, tiba-tiba ada seseorang yang masuk ke rumah dan membunuhnya tanpa belas kasih. Saya berharap agar dia masuk surga. Adapun yang satunya disiksa hingga meninggal, dan saya tidak tahu apa penyebabnya."

Ummu Ma’bad: Wanita yang Paling Mengenal Ciri-ciri Rasulullah
Hubais bin Khalid –sahabat Nabi yang terbunuh di kota Bukhta’ kala penaklukan Makkah dan sekaligus saudara Atikah binti Khalid al-Khuza’i al-Qudaidzi (Ummu Ma’bad)– mengisahkan, “Ketika Rasulullah dikeluarkan dari Makkah dan hijrah ke Madinah bersama Abu Bakar dan Amir bin Fuhairah (budak Abu Bakar), sementara yang menjadi penunjuk jalan adalah Abdullah bin Uraiqad al-Laitsi. Suatu hari mereka berjalan melewati kedua kemah Ummu Ma’bad dan melihat dia sedang bersandar dan duduk di halaman kemahnya, lalu memberi minum dan makan kepada orang yang lewat. Saat itu, ada orang bertanya ingin membeli daging dan kurma kepada Ummu Ma’bad dan mereka tidak mendapatkan sesuatu apapun darinya. Sedangkan kaumnya sudah kehabisan bekal dan mereka kelaparan. Karena itu, Ummu Ma’bad berkata, 'Demi Allah, andai saja saya mempunyai sesuatu niscaya saya akan bagikan kepada kalian semua'.” Ummu Ma’bad juga dikenal sebagai wanita mulia, kuat dan disegani oleh kaumnya.
Rasulullah melihat kambing kepunyaan Ummu Ma’bad di dekat kemah. Rasulullah pun bertanya kepadanya, “Kenapa dengan kambing ini, wahai Ummu Ma’bad?”
“Kambing itu kecapekan setelah datang dari padang gembala,” jawab Ummu Ma’bad.
“Apakah kambing yang kamu miliki itu bisa mengeluarkan susu?” tanya Rasulullah lagi.
“Kambing itu adalah kambing yang paling kurus,” jawab Ummu Ma'bad.
“Apakah kamu mengizinkan aku memerah susunya?” Rasulullah kembali bertanya.
“Demi ayahku, engkau dan ibuku, jika engkau melihat kambing itu ada susunya, silakan wahai Rasulullah,” ujar Ummu Ma’bad. Rasulullah lalu menghampiri kambing tersebut dan mengusap putingnya seraya mengucapkan nama Allah, serta memerahnya. Lantas keluarlah air susu kambing itu demikian deras.
              Melihat kejadian itu Ummu Ma’bad terkejut dan segera mengambil bejana buat wadah susu yang mengalir, dan langsung meminumnya. Para sahabat yang lain ikut pula minum beberapa teguk. Rasulullah sendiri yang memberi minum masing-masing dari mereka dan beliau menjadi peminum yang terakhir. Kemudian Rasulullah memerah lagi hingga bejana yang dijadikan wadah tidak mampu menampung susu saking derasnya. Setelah itu, Rasulullah beserta rombongan melanjutkan perjalanan.
              Selang beberapa saat, datanglah Abu Ma’bad. Ketika dia melihat ada susu, dia langsung bertanya kepadanya istrinya, “Dari mana kamu dapatkan susu ini, wahai Ummu Ma’bad? Padahal kambing kita belum pernah kawin, jarang makan dan tidak memiliki susu?”
              Ummu Ma’bad menjawab, “Demi Allah, baru saja lewat seorang laki-laki yang penuh berkah, sikapnya begini dan begitu.”
              Abu Ma’bad bertanya lagi, ”Coba beri tahu saya seperti apa laki-laki itu?”
              Ummu Ma’bad pun menjelaskan ciri-ciri laki-laki tersebut, “Orangnya bersih, raut wajahnya seakan memancarkan cahaya dan berakhlak mulia. Matanya terang seperti orang yang pakai celak. Saat diam dia bersikap rendah hati. Sewaktu berbicara dia mengangkat kepala dan bahasanya tegas serta lugas. Dialah makhluk Tuhan paling sempurna.”
              Tiba-tiba dari kota Makkah, Ummu Ma’bad seakan mendengar lantunan syair-syair yang memuji Rasulullah dan jamuan yang diberikannya kepada Rasul. Perempuan ini merasa amat bahagia lantaran telah diberi kesempatan menjamu utusan Allah SWT.


[1]Kejadian Hurrah terjadi pada tahun 63 H. Peristiwa ini terjadi karena penduduk Madinah melengserkan Yazid bin Muawiah secara paksa dan menggantikan Abdullah bin Muthi’ untuk memimpin kaum Quraisy dan Abdullah bin Handhalah diangkat sebagai peminpin kaum Anshar, serta memecat semua pengikut Yazid. Tidak terima dengan perbuatan itu, Yazid kemudian memerintahkan tentaranya untuk mengepung kota Madinah hingga banyak dari golongan sahabat yang terbunuh.

Tuesday, February 11, 2014

Sang Perempuan Penyabar


Hamzah bin Abdul Muthalib terbunuh dalam perang Uhud oleh seorang budak milik Zubair bin Muth’im yang bernama Wahsyi atas suruhan Hindun bin ‘Utbah. Setelah Hamzah terbunuh, Hindun beserta Wahsyi langsung menghampiri tubuh Hamzah yang sudah tidak bernyawa lagi. Tanpa pikir panjang dia langsung memotong telinga dan hidung Hamzah kemudian dijadikan gelang kaki dan kalung sebelum dibuang untuk dijadikan makanan hewan buas. Tidak puas sampai di situ, Hindun memerintahkan kepada budak yang hitam legam itu agar membelah dada mayat tak berdaya tersebut. Dengan geram Hindun langsung memamah jantung Hamzah.
Setelah jasad Hamzah yang mengenaskan ditinggalkan, Shafiah binti Abdul Muthalib, saudara Hamzah menghampiri jasad saudaranya. Melihat hal itu Rasulullah merasa khawatir dan segera memerintah Zubair bin Awam (anak Shafiah), “Ibumu suruh pulang, jangan sampai dia melihat keadaan saudaranya (Hamzah).”
Mendapat perintah dari Rasulullah, Zubair langsung menghampiri ibunya dan menyampaikan apa yang dikatakan beliau, “Wahai ibu, Rasulullah menyuruhmu kembali ke rumah.”
Shafiah menanggapi, “Kenapa nak, saya kan ingin melihat keadaan saudaraku dan itu pun karena Allah, Insyaallah saya bisa sabar, anakku.”
Zubair langsung menyampaikan apa yang dikatakan ibunya kepada Rasulullah, “Sudah, jangan halangi dia,” jawab Rasulullah.
Kemudian Shafiah diperkenankan melihat jasad saudaranya. Setelah menshalati dan meminta ampun untuk Hamzah dia langsung pergi. Tidak lama berselang Rasulullah merintahkan para shahabat untuk mengebumikan jasad sayyidina Hamzah.

Pengaduan Seorang Perempuan kepada Allah
Dikisahkan dari Aisyah r.a., “Semoga diberi keberkahan orang yang bisa mendengarkan sesuatu. Khaulah binti Tsa’labah pernah bercerita kepada saya sedikit hal menyangkut perilaku suaminya. Suatu hari, dia melaporkan perangai suaminya kepada Rasulullah, ‘Wahai Rasulullah, saya banyak melahirkan anak dari suamiku, hingga suatu saat, ketika usiaku lanjut dan aku tidak bisa punya anak lagi, suamiku men-dzihar-ku,[1] dan aku sekarang ingin mengadukan hal itu kepadamu’.”
Aisyah menuturkan bahwa pengaduan itu tidak mendapat jawaban hingga turun sebuah ayat al-Qur’an.
Khaulah atau Khuailah binti Malik bin Tsa’labah adalah istri ‘Aus bin Shamit. Suaminya adalah seorang laki-laki tua renta yang akhlaknya kurang terpuji. Khaulah bercerita, “Suatu hari suamiku menghampiri saya dan dia marah ketika aku menanyakan sesuatu hal kepadanya."
Suami Khulah (‘Aus) berkata, “Bagiku engkau seperti punggung  ibuku.”  Setelah menucapkan kalimat itu, Aus lalu keluar dan duduk bersama teman-temannya.
Setelah itu dia kembali menghampiriku dan mengajakku untuk berhubungan badan, tapi Khaulah menolak, dengan perkataan, “Tidak! Demi Dzat yang menguasai jiwaku, kamu tidak boleh menjamahku, karena kamu telah mengucapkan apa yang telah kamu ucapkan tadi (Dzihar), hingga Allah dan Rasul-Nya memutuskan hukum tentang peristiwa yang menimpa kita."
Selanjutnya Khaulah keluar menemui Rasulullah Saw. Di hadapan beliau, Khaulah menceritakan peristiwa yang menimpa dirinya sekaligus mengadukan keburukan perangai suaminya. Rasulullah bersabda, “Wahai Khaulah, anak pamanmu (suamimu) adalah laki-laki yang tua renta maka takutlah kamu kepada Allah.”
“Demi Allah, saya tidak akan tenang hingga Allah menurunkan wahyu sebagai jawaban atas peristiwa yang menimpaku,” ucap Khaulah. Setelah diturunkan wahyu, Rasulullah menyatakan kepada Khaulah, “Wahai Khaulah, Allah sudah menurunkan wahyu terkait peristiwa yang menimpa kamu dan suamimu." Kemudian beliau membacakan firman Allah yang artinya: “Sungguh Allah telah mendengar ucapan  perempuan  yang mengajukan gugatan kepadamu (Muhamad) tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah... Dan bagi orang-orang yang mengingkarinya akan mendapat azab yang sangat pedih.” (QS al-Mujâdalah [58]: 1-4).
Kemudian Rasulullah menjelaskan kepada Khaulah tentang kafarat (tebusan) Dzihar.
“Perintahkan suamimu untuk memerdekakan seorang budak,” pinta Rasulullah.
“Wahai Rasulullah, dia tidak memiliki seorang budak pun yang bisa dimerdekakan,” jawab Khaulah.
“Jika demikian, perintahkan kepadanya untuk puasa dua bulan berturut-turut,” Rasulullah memberi jalan keluar.
“Demi Allah, dia adalah laki-laki yang tidak kuat melakukan puasa,” sahut Khaulah.
“Kalau begitu, perintahkan kepadanya agar memberi makan dan minum terhadap enam puluh orang miskin,” kembali Rasulullah menegaskan.
“Demi Allah, wahai Rasulullah, dia tidak memilikinya,” kata Khaulah.
“Ya sudah aku bantu separuhnya,” Rasulullah meyakinkan.
“Aku juga akan bantu sisanya,” ujar Khaulah.
“Kamu memang benar dan bersikap baik. Sedekahkanlah kurma ini sebagai tebusan bagi suamimu, dan gaulilah dia dengan baik,” ucap Rasulullah sembari memberikan sekeranjang kurma kepadanya.
Suatu hari Umar bin Khattab keluar dari masjid bersama al-Jarud Al-‘Abdi. Saat itu dia menjabat sebagai Khalifah. Di tengah jalan dia bertemu dengan perempuan tua yang tidak memakai hijab lalu Umar mengucapkan salam kepadanya.
Perempuan tua itu menjawab salam Umar lantas mengucapkan, “Kamu banyak perubahan, wahai Umar. Saya mengenalmu sejak namamu dahulu masih ‘Umair’ (Umar kecil) tatkala kamu berada di Pasar Ukazh. Kamu bergulat dengan anak-anak kecil. Kemudian berlalulah hari demi hari hingga kamu disebut sebagai Amirul Mukminin. Sebab itu bertakwalah kepada Allah. Ketahuilah barangsiapa yang takut pada siksa Allah maka yang jauh akan menjadi dekat. Dan barangsiapa yang takut mati maka dia akan takut kehilangan.”
Al-Jarud Al-‘Abdi yang menyertai Umar tidak tahan ingin berkata lantas menukas ucapan perempuan tua itu, “Kamu telah banyak berbicara kepada Amirul Mukminin, wahai wanita tua.”
Umar kemudian menegurnya, “Biarkan dia, tahukah kamu siapa dia? Beliau adalah Khaulah binti Malik bin Tsa’labah yang Allah telah mendengarkan pengaduannya dari langit yang ketujuh, maka Umar lebih berhak untuk mendengarkan perkataannya. Demi Allah, jika beliau tidak menyudahi nasihatnya kepadaku hingga malam, maka saya tetap akan mendengarkannya, kecuali bilamana datang waktu shalat, aku akan melaksanakan shalat kemudian kembali untuk mendengarkannya.”


[1]Dzihar adalah suatu ucapan yang membandingkan atau menyamakan salah satu anggota tubuh istrinya dengan ibunya sendiri. Ini berarti seorang suami tidak boleh lagi menggauli istrinya, sebagaimana dia tidak boleh menggauli ibunya. Oleh karenanya, dalam tradisi Jahiliyah kalimat dzihar seperti itu sudah sama dengan menthalak (menceraikan) seorang istri [penj].

Keislaman Ibu Abu Hurairah


Sebagai seorang Muslim, Abu Hurairah merasa sedih ketika melihat ibunya[1] masih dalam keadaan kafir. Abu Hurairah bertutur, “Suatu hari saya mengajak ibu saya agar memeluk agama Islam. Tapi beliau tidak mau. Beliau malah menolak ajakanku dengan ucapan yang jelek terhadap Rasulullah. Kemudian saya menemui Rasulullah sambil menangis seraya berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya mengajak ibu masuk Islam, tapi dia tidak mau menurutiku, malah dia menolak ajakanku dengan mengucapkan sesuatu yang tak pantas tentangmu yang aku benci. Doakanlah agar ibuku diberi hidayah oleh Allah’.”
Rasulullah pun berdo’a, “Ya Allah, berilah hidayah kepada ibu Abu Hurairah.”   Mendengar  doa Rasulullah,  Abu Hurairah begitu girang dan gembira. Dia langsung pamit pulang untuk menemui ibunya, ketika sampai di depan pintu, ternyata pintu itu tertutup. Rupanya ibu Abu Hurairah mendengar langkah kaki putranya. Ibunya lalu berkata, “Tetap di tempatmu, wahai Abu Hurairah.”
Dari luar Abu Hurairah mendengar suara gemercik air. Ternyata ibunya sedang mandi, kemudian memakai baju dan kerudungnya. Beliau membuka pintu dan berkata, “Wahai Abu Hurairah, aku bersaksi tiada Tuhan yang pantas disembah selain Allah dan bahwa Muhamad adalah Rasul-Nya.” Akhirnya ibu Hurairah masuk Islam berkat doa Rasulullah.
Abu Hurairah datang lagi ke Rasulullah dan mengabarkan peristiwa itu. Mendengar kabar itu Rasulullah langsung memanjatkan pujian kepada Allah dan mengucap, “Sungguh alangkah baik-nya itu.”

Wanita yang Mendapat Sebutan "Syahidah" dalam Keadaan Hidup
Suatu hari, Ummu Waraqah binti Abdillah bin Harits bin Naufal al-Anshariyah menjumpai Rasulullah. Saat itu Nabi hendak berangkat menuju perang Badar, Ummu Waraqah mengajukan permintaan dengan mengatakan, “Wahai Rasulullah, izinkan aku ikut berperang bersamamu. Aku akan mengobati tentara yang terluka dan sakit. Aku berharap Allah menganugerahiku mati syahid.”
Rasulullah menasehati, “Tetaplah di rumah, karena Allah akan memberimu mati syahid.” Sejak itu Ummu Waraqah dikenal dengan sebutan “al-Syahidah”.
Suatu waktu Ummu Waraqah meminta izin kepada Rasulullah untuk mengangkat tukang adzan di rumahnya, dan Rasul pun mengizinkannya. Ummu Waraqah mempunyai dua budak, pria dan perempuan, yang dijanjikan kebebasannya setelah dia meninggal. Pada suatu malam, kedua budak itu membekap wajah Ummu Waraqah dengan kain hingga beliau meninggal, lalu mereka melarikan diri.
Umar bin Khattab yang dikenal sangat tegas berdiri di tengah-tengah umat seraya menegaskan, “Wahai saudara-saudaraku, sesungguhnya Nabi Muhamad sekarang pergi ke rumah Ummu Waraqah. Tahukah kalian bahwa Ummu Waraqah dibunuh oleh dua orang hamba sahayanya dan mereka melarikan diri. Pergilah kalian semua ke rumah Ummu Waraqah dan siapa saja memperoleh informasi tentang keberadaan dua orang pembunuh itu, hendaklah kalian menangkap dan membawa orang itu kepadaku.”
Setelah keduanya tertangkap, Umar memerintahkan untuk menghukum dua orang budak tadi dengan hukuman pancung. Dan mereka berdua merupakan orang pertama yang dipancung di Madinah.

Cinta Karena Allah SWT dan Rasul-Nya
Ummu Kultsum binti ‘Uqbah bin Abi Mu’aith[2] masuk Islam dan membaiat dirinya di depan Nabi Saw. Dia baru bisa ikut hijrah pada tahun ke-7 Hijriyah. Dia hijrah ke Madinah seorang diri setelah terjadinya perdamaian Hudaibiah.[3] Setelah itu, kedua saudaranya (Imarah dan Walid) ikut menyusul. Keduanya sampai di Madinah dua hari setelah Ummu Kultsum, dan keduanya meminta kepada Rasulullah untuk mentaati perjanjian damai dan mengembalikan tawanan di Madinah, ”Wahai Muhamad, tepatilah syarat kami!”
Ummu Kultsum mengadu kepada Rasulullah, ”Wahai Rasulullah, saya adalah seorang perempuan lemah. Saya takut akan terjadi fitnah dalam agamaku sedangkan aku tidak bisa sabar.”
Setelah itu Allah menurunkan al-Qur’an surat “Al-Mumtahanah”. Dengan turunnya ayat tersebut, Rasulullah tidak bersedia menyerahkan Ummu Kultsum kepada kedua saudaranya.
Ibnu Sa’ad berkata, “Ummu Kultsum adalah perempuan pertama yang hijrah ke Madinah setelah Rasulullah. Saya tidak pernah melihat seorang perempuan keturunan Quraisy pun yang keadaannya seperti dia tapi bisa nekat hijrah. Suami pertama Ummu Kultsum adalah Zaid, kemudian Zubair, terus Abdurrahman bin Auf, lalu yang terakhir Amr bin Ash. Beliau meninggal di masa pemerintahan khalifah Ali bin Abu Thalib.


[1]Umaimah binti Shabah atau Shafiah.
[2]Ummu Kultsum adalah saudara seibu dengan Utsman bin Affan.
[3]Syarat yang disepakati dalam perdamaian Hudaibiah adalah, “Jika ada seseorang dari keturunan Quraisy ikut agama Muhamad tanpa seizin walinya, maka hendaklah dikembalikan kepada walinya.”