Showing posts with label Air Doa. Show all posts
Showing posts with label Air Doa. Show all posts

Wednesday, April 9, 2014

EPILOG: Bagaikan Kebun di Tanah Subur



“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah ...sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu...”
QS Al Baqarah [2]: 267

DARI sisi sumber asal, boleh jadi, komoditi yang menjadi obyek bisnis Haji Ardju Fahadaina tidak berubah walau sekarang dia telah berhijrah dari bisnis konvensional ke bisnis syariah. Dulu ketika menjalankan bisnis konvensional, dia meraih sukses dalam bisnis Stasiun Pengisian dan Pengangkutan Bulk Elpiji (SPPBE) lewat bendera PT Masula Agung Garda Mas yang diakuisisinya pada 1998.
Ya, dia berhasil membawa perusahaan yang diakuisisinya tersebut dari posisi semula merugi sampai untung besar, dari banyak utang menjadi perusahaan yang senantiasa meraup laba, dan dari hanya modal (pembelian) Rp5 miliar kemudian (tahun 2008) memiliki aset senilai Rp350 miliar. Sungguh lompatan yang berlipat-lipat, yang tak lepas dari niat baik agar orang-orang di dalam perusahaan itu tetap bisa bekerja di tengah krisis moneter di akhir 1990-an.
Sebuah lompatan yang mengingatkan kita pada sebuah hadits bahwa Abu Hurairah ra berkata Rasulullah bersabda: “Apabila salah seorang di antara kalian menjalankan agamanya dengan baik maka setiap kebaikan yang ia lakukan dicatat sepuluh kali lipat sampai tujuh ratus kali lipat, dan setiap amal keburukan yang dilakukan hanya dicatat semisalnya (dihitung satu).” (HR Bukhari-Muslim)
Lantaran bisnis konvensional, ketika itu, Haji Ardju tidak terlalu ngotot menunaikan zakat, infak dan sedekah (ZIS) di balik keuntungan bisnisnya. Dalam benak ingatannya baru sekali dia menyalurkan ZIS setelah mendesak manajemen untuk mengeluarkan ZIS. Padahal, sebagian dari setiap yang dikeluarkan dari perut bumi (elpiji kan dikeluarkan juga dari perut bumi) mesti dinafkahkan (di jalan Allah). (QS [2]: 267)
Tanpa penunaian ZIS yang semestinya saja, Allah melimpahi Haji Ardju dan kawan-kawan dalam bisnis pengisian dan pengangkutan elpiji dengan laba dan peningkatan aset yang begitu pesat. Andai saja bisnis itu berjalan sesuai dengan syariah, barangkali lompatan yang terjadi lebih dahsyat lagi.
Ah, kita tidak selayaknya berandai-andai sesuatu yang belum tentu terjadi. Haji Ardju pun tak mau larut dalam ‘kesuksesan’ yang telah menjadi sekadar catatan masa silam. Kini dia memang masih berbisnis komoditi yang juga dikeluarkan dari dalam perut bumi, yakni air minum dalam kemasan (AMDK) dari mata air di kaki Gunung Pangrango, Desa Cinagara, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor. Tekadnya bulat melangkah berhijrah dari bisnis konvensional ke bisnis syariah, dari bisnis SPPBE tanpa peduli hak orang lain melekat yang harus dikeluarkan ke bisnis AMDK dengan brand infak Rp15 per liter. Dia ingin benar-benar berjanji membumikan pesan suci al-Quran Surat Al Baqarah ayat 267. Dia ingin memenuhi janji secara sempurna.
Haji Ardju berusaha istiqamah (konsisten) dalam menafkahkan sebagian dari apa yang dikeluarkan oleh Allah dari bumi untuk umat manusia. Tanpa berkilah perusahaan tengah merugi atau lantaran perusahaan sedang beruntung, Haji Ardju terus menginfakkan hasil penjualan air minum doa Ufia pada waktu siang dan malam, secara sembunyi ataupun secara terang-terangan, dengan keyakinan ada janji pahala dari Allah. (QS Al Baqarah [2], 274)
Haji Ardju tidak ingin menunda-nunda berinfak dan bersedekah. Dia tidak ingin menjumpai suatu masa di mana seorang laki-laki sedang berjalan membawa sedekahnya, lalu berkatalah orang yang akan diberi sedekah: “Jika kamu datang kemakin maka aku dapat menerimanya, tetapi sekarang aku tidak membutuhkan hartamu.” Dan orang yang akan memberikan sedekahnya itu tidak mendapati orang yang akan menerima sedekahnya. (HR Bukhari-Muslim)
Masa itu memang belum datang. Saat ini masih banyak antrean penerima zakat, infak dan sedekah manakala ada orang kaya ingin membagikan ZIS. Bahkan, tidak jarang mereka rela berdesak-desakan sekadar untuk mendapatkan sepucuk amplop berisi Rp25.000. Sebab itulah, saban tahun Haji Ardju tiada henti menyalurkan infak Rp15 per liter dari pelanggan Ufia ke Baznas. Lantaran perusahaan belum mendatangkan laba, dia pun menunaikan ZIS diri dan keluarganya yang mencapai 35% dari apa yang diterimanya.
Mimpinya untuk menyalurkan 35% dari keuntungan perusahaan sebagai ZIS belum kesampaian sampai di tahun keempat perjalanan Ufia. Namun begitu, dia amat meyakini bahwa masa di mana dia mampu menyalurkan 35% keuntungan Ufia bakal tiba. “Dan perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya karena menghadap ridha Allah dan untuk menetapkan (keimanan) di dalam hatinya adalah seperti sebidang kebun yang terletak di dataran tinggi yang subur, diguyur hujan lebat maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Maka jika hujan lebat tidak menyiraminya, hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.” (QS Al Baqarah [2]: 265)
Ya, Ufia sudah cukup kuat pada pondasi spiritual. Tapi, dalam bisnis, pondasi spiritual saja tidak cukup. Mesti kuat pula pondasi sumber daya manusia yang kompeten di bidangnya agar perusahaan terus tumbuh berkembang. Jelas, Haji Ardju tidak mau menyerahkan operasional dan manajemen perusahaan kepada orang-orang yang tidak amanah, tidak profesional dan tidak jujur. Dia telah memiliki orang-orang amanah, profesional dan jujur. Namun, itu masih terbatas di jajaran produksi (pabrik). Dia belum mempunyai tenaga andal pada urusan distribusi dan pemasaran (marketing). Dia mengakui sejauh ini belum menemukan tenaga yang ahli di pemasaran air minum dalam kemasan. “Suatu saat pasti kami menemukan,” ujar Haji Ardju suatu waktu.
Semoga saja Haji Ardju segera menemukan tenaga ahli marketing yang amanah, rajin dan jujur. Dengan begitu perusahaannya (Ufia) mampu tumbuh berkembang dan bersaing dengan pemain lain di bisnis air minum dalam kemasan. Dan langkahnya memberi dan berbagi semakin meluas. Karena, langkah memberi penuh keyakinan akan janji Allah itu pada gilirannya akan meningkatkan penerimaan dan secara berantai memperbaiki kondisi perekonomian negeri dengan mayoritas penduduk bergama Islam ini. ***     


Tuesday, April 8, 2014

TUJUH: Ufia, Memenuhi Janji Secara Sempurna


“Apakah kamu takut akan (menjadi miskin) karena kamu memberikan sedekah sebelum pertemuan dengan Rasul? Jika kamu tiada memperbuatnya dan Allah telah memberi taubat kepadamu, maka dirikanlah shalat, tunaikan zakat dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
QS Al Mujaadilah (58): 13


PASAR MINGGU, Jakarta Selatan, 23 April 2013. Hari itu Masjid Al Ikhlash Jatipadang dipenuhi ratusan anak yatim dan anak dhuafa penghafal al-Quran. Sebagai wujud rasa syukur atas keselamatan dan keberkahan melewati tiga tahun bisnis yang penuh persaingan, PT Ufia Tirta Mulia –produsen air minum dalam kemasan merek Ufia—hari itu menggelar tabligh akbar, menyantuni anak yatim dan anak dhuafa penghafal al-Quran.
Pada acara milad ketiga tersebut, selaku owner PT Ufia Tirta Mulia, Ardju Fahadaina menyerahkan pula infak sebesar Rp117,5 juta kepada Baznas yang diterima secara langsung oleh Ketua Umum Baznas KH Didin Hafidhuddin. Infak sebesar itu berasal dari infak penjualan 7,83 juta liter air minum doa merek Ufia selama tahun 2012. Disebut sebagai air minum doa, karena sejak diambil dari mata air, proses produksi hingga pengemasannya, bahkan sampai distribusi, selalu diiringi dengan lantunan ayat-ayat suci al-Quran.
Kapasitas mesin produksi PT Ufia Tirta Mulia saat ini mencapai 70 juta liter per tahun. Namun, baru dimanfaatkan untuk memproduksi sekitar 8 juta liter. Bila beroperasi penuh, maka per tahun bisa mencapai 300 juta liter. Saat ini air minum Ufia sudah dipasarkan di wilayah Jabodetabek, Yogyakarta, Cilacap dan Purwokerto.  
“Memang air minum Ufia rasanya berbeda dengan air minum merek lainnya, karena selalu diiringi dengan shalat, dzikir, doa dan bacaan ayat-ayat suci al-Quran. Sebab itu disebut sebagai air minum doa,” ujar Haji Ardju Fahadaina yang asli Yogyakarta ini.    
Dia menambahkan, “Kalau ingin sukses bisnis, seharusnya kita kembali kepada al-Quran dan al-Hadits. Sukses berarti mendapat ketenteraman dan keberkahan dari Allah SWT. Kita wajib mengejar ukhrowi, tapi tidak boleh lepas dari cara-cara profesional dalam berbisnis secara Islami. Jangan meniru kebiasaan orang Yahudi dalam berbisnis, yakni dengan mencari keuntungan sebesar-besarnya dan pengorbanan sekecil-kecilnya,” ungkap tokoh bisnis Islami ini.  

Tuntutan dan Kebutuhan Umat
Sebuah fakta tak terbantahkan bahwa mayoritas umat Muslim di Indonesia dililit kemiskinan. Dalam predikat miskin itu mereka tidak berdaya menghadapi gempuran sistem ekonomi kapitalis yang terus mengurung dan menguasai Indonesia khususnya dan dunia umumnya. Umat Islam mau tidak mau mesti mengikuti sistem ekonomi kapitalis –mulai dari perbankan, perpajakan, sampai produk makanan/minuman. Terkhusus produk air minum dalam kemasan, umat Islam ‘dipaksa’ mengkonsumsi produk-produk yang diragukan kesyariahannya. Umat Islam harus menelan apa yang digelontorkan oleh produsen yang terus memimpin pasar air minum dalam kemasan. Menelan mentah-mentah produk-produk yang tidak Islami. Jelas ini sebuah bahaya besar.
Kita sudah diingatkan oleh Allah SWT. Bahwa janganlah kamu menjadikan mereka pemimpinmu bilamana mereka lebih mengutamakan kekafiran daripada keimanan, dan siapa yang menjadikan mereka pemimpinmu maka mereka itulah orang dzalim (QS [9]: 23).
“Pada kenyataannya, kalau kita perhatikan, orang kafir telah menguasai ekonomi umat Islam dengan sistem ekonomi kapitalis. Ini kenyataan meskipun tidak dijelaskan secara clear. Perusahaan-perusahaan yang mengusung ekonomi kapitalis itu kini yang berkuasa dan memimpin perekonomian di negeri ini. Kita sudah salah mengambil pemimpin. Segala bidang ekonomi dikuasai oleh mereka. Kepemimpinan mereka di bidang ekonomi ini harus kita rebut,” ujar Haji Ardju Fahadaina.  
Lalu bagaimana kiat agar umat Islam mampu keluar dari keterpurukan dan terus-menerus mengekor pada kepemimpinan perusahaan-perusahaan dengan sistem ekonomi kapitalistik. Menurut Haji Ardju, umat harus mempererat ukhuwah Islamiyah dan bersama-sama berjihad fisabilillah menegakkan ekonomi Islam. “Kita tidak bisa sendirian memerangi ekonomi kapitalis. Jihad kita itu jihad ekonomi Islam. Jika anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Begitulah peringatan Allah lewat Surat At Taubah ayat 24. Sebab itulah, kita harus ‘berperang’ melawan produk-produk kapitalis yang terlanjur menguasai pasar air minum dalam kemasan,” ujar Haji Ardju penuh semangat.
Dari suasana seperti itulah, Ufia hadir untuk menegakkan syariat Allah, menghadirkan produk air minum dalam kemasan yang diolah secara syariah. Sebuah produk yang dikelola sesuai dengan syariat Islam –mulai saat air keluar dari perut bumi sampai penjualan yang mengajak konsumen berinfak. 
Di tengah penguasaan pasar air minum dalam kemasan di tangan produsen yang kadung besar dan mapan, langkah Ufia untuk menegakkan kebenaran jelas tidak gampang. Dalam perjalanannya ibarat Perang Badar di masa awal Islam, ungkap Ardju, sebagian orang beriman dan orang-orang berdosa tidak menyukainya, mereka membantah kebenaran yang sudah nyata, serta banyak yang takut mati dan gagal. Kendati begitu, Ardju meyakini benar janji Allah bahwa suatu saat nanti yang lemah (persenjataan dan modal) yang menang, bahwa yang benar yang tampil di depan, bahwa orang-orang kafir akan kalah dan bahwa akan datang masa penetapan yang hak dan pembatalan yang batil.
Untuk maju perang tentu tidak bisa hanya melenggang tanpa bekal apa-apa. Ardju mempersiapkan apa saja yang dia sanggupi (QS Al Anfaal [8]: 60) untuk menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan musuh yang tidak kelihatan tapi Allah melihat. Dia telah mempersiapkan sejumlah modal untuk maju ke medan perang, antara lain:
Tanah dan mata air
Untuk memproduksi air minum dalam kemasan, dia telah menyiapkan lahan seluas 5,3 hektar yang memiliki empat mata air di Desa Cinagara, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor. Saat ini baru satu mata air yang dimanfaatkan buat memproduksi air minum dalam kemasan.
                                           Pabrik yang lengkap      
Di atas lahan seluas 5,3 hektar tadi, Ardju Fahadaina membangun pabrik lengkap dengan instalasi pengolahan air yang berkualitas. Dia memperhatikan benar mutu dan kehalalan suku cadang yang digunakan dalam rangkaian instalasi pengolahan air, seperti ultraviolet, filter dan ozonisasi. Termasuk penggunaan filter karbon yang menjadi kunci kehalalan air minum dalam kemasan. “Filter karbon paling bagus dan murah harganya adalah yang terbuat dari tulang babi. Saya jaga betul pemakaian filter karbon ini, saya menggunakan bahan yang benar-benar halal,” ujar Ardju Fahadaina.
Pabrik milik PT Ufia Tirta Mulia saat ini memiliki kapasitas produksi 70 liter air minum dalam kemasan per tahun. Dan, sampai saat ini kapasitas tersebut belum dimanfaatkan secara maksimal.
Produk berkualitas
Untuk menjaga dan mengaudit kualitas air produk Ufia, manajemen melengkapi dengan sertifikat Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM), sertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), dan label Standar Nasional Indonesia (SNI). Selain itu, Ufia juga melengkapi diri dengan laboratorium untuk mengecek kualitas air setiap kali ada produk yang kurang memenuhi syarat kesehatan. Kemudian bahan kemasan menggunakan material terbaik dan senantiasa dijaga oleh quality control secara ketat.
Selain kualitas duniawi tersebut, air minum dalam kemasan Ufia juga memiliki kualitas ukhrawi atau rohani. Hal ini diejawantahkan dalam bentuk infak Rp15 per liter air yang terjual dan ZIS sebesar 35% dari keuntungan perusahaan. “Karena perusahaan belum untung, kami baru bisa menunaikan infak Rp15 per liter air yang terjual. Kami berharap ada kenaikan produksi dan penjualan dari tahun ke tahun sehingga mendatangkan keuntungan,” ucap Ardju Fahadaina optimistis.

Target dan Pencapaian Infak Rp15 per Liter
_____________________________________________________________
2010:   1.800.000 liter               Rp.      27.000.000
2011:   8.000.000 liter               Rp.    120.000.000
                     (11% dari kapasitas produksi : 70.000.000 ltr/thn)
2012: 35.000.000 liter               Rp.    525.000.000
                     (50% dari kapasitas produksi)
2013: 70.000.000 liter               Rp. 1.050.000.000
            (100% dari kapasitas produksi)
--------------------------------------------------------------------------------------
Note:
1) Dengan satu pabrik dan kapasitas yang ada.
2) Keberhasilan ditentukan oleh “Semangat Ukhuwah Islamiyah”.


Distribusi dan transportasi
Untuk mencapai dan melayani konsumen secara cepat, Ufia menggunakan armada transportasi dan distribusi yang andal dan menggunakan sistem service point.  

Sumber Daya Manusia yang Amanah, Rajin dan Jujur
Sumber mata air dan fisik bangunan pabrik akan menjadi sekadar potensi belaka tanpa didukung sumber dana manusia (SDM) yang berpendidikan, memahami kerja sebuah tim (team work), dan disiplin. Bagi Ardju Fahadaina, ketiga unsur itu saja belum cukup untuk membangun tim manajemen yang mampu memenangi perang bisnis air minum dalam kemasan. Manusia Ufia mesti memiliki dan menjunjung tinggi sikap Amanah, Rajin dan Jujur (Ardju). 
Setiap insan Ufia harus menjaga amanah. Amanah mengandung makna bahwa semua tugas atau pesan yang diterima dikerjakan dengan penuh tanggung jawab. Amanah berkait dengan hal dapat dipercaya atau kredibilitas. Dalam bahasa yang sedikit filosofis, menurut James M. Kouzes dan Barry Z. Posner dalam bukunya yang kondang Credibility: How Leaders Gain and Lose It, Why People Demand It, bila Anda tidak mempercayai si pembawa pesan atau penerima tugas maka Anda tidak akan mempercayai pesannya dan tugas yang dia kerja.
Jelas, bagaimana mungkin kita mempercayai sebuah produk kalau kita tidak menaruh rasa percaya kepada mereka yang mengerjakan atau memproduksi. Melalui sumber daya manusia yang memiliki kredibilitas kuat, perusahaan akan mampu tumbuh secara baik.
Lantas bagaimana agar perusahaan mampu memilih dan mempekerjakan orang-orang yang punya kredibilitas kuat. Untuk itu Ardju Fahadaina berusaha merekrut orang-orang yang memiliki kepercayaan diri (self confident), visi dan idealisme, kepedulian, tanggung jawab tinggi dan bermartabat (dignified).
Dalam bahasa religius, Ardju berusaha mencari orang-orang yang jangan sampai mengkhianati Allah dan Rasulullah saw dan mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadanya sedangkan mereka mengetahuinya (QS Al Anfaal [8]: 27).
Sejumlah hasil survai yang dilakukan oleh para pakar manajemen, seseorang disebut kredibel bilamana mereka memiliki kejujuran, dapat melihat ke depan, mampu memberikan inspirasi pada kelompok dan memiliki kecakapan. So, orang yang kredibel adalah orang-orang yang dapat kita percayai perkataannya dan secara pribadi mempunyai antusiasme tinggi serta  memiliki pengetahuan dan kecakapan untuk memimpin. Dalam bahasa manajemen, orang kredibel adalah orang yang memiliki integritas tinggi dan kompetensi yang andal.
Kejujuran. Ya, orang-orang yang bekerja di Ufia adalah orang-orang yang berusaha senantiasa menyatu kata dan perbuatan. Karena, menurut Ardju Fahadaina, amat besar kebencian di sisi Allah bila seseorang mengatakan apa-apa yang tidak dikerjakan (QS Ash Shaff [61]: 3).
Sebagaimana pula pesan Rasulullah, “Berlakulah jujur, karena sesungguhnya kejujuran itu menunjukkan kepada surga, dan tidaklah seseorang itu berlaku jujur dan membiasakannya dalam hidupnya kecuali ditulis di sisi Allah sebagai orang yang selalu jujur. Dan janganlah kalian berperilaku dusta, karena dusta menunjukkan kepada keburukan, dan keburukan itu menunjukkan kepada api neraka, dan tidaklah seseorang itu berdusta dan membiasakannya dalam hidupnya, kecuali ditulis di sisi Allah sebagai tukang dusta.” (HR Mutaffaq Alaihi)
Satu hal lagi yang melekat pada diri orang-orang Ufia adalah rajin. Dalam bahasa manajemen, rajin mengandung unsur kompeten (competency) dan kesempurnaan (perfection). Melalui kinerja yang rajin, mereka memiliki kompetensi yang dibutuhkan buat menjalankan pabrik pengolahan air minum dalam kemasan.
Untuk mencapai kompetensi tinggi, Ardju senantiasa memotivasi karyawan-karyawannya dengan nilai-nilai rasa pengendalian (sense of control), kebutuhan untuk berprestasi dan harga diri tinggi. Dengan menguatkan tiga nilai tersebut dalam diri setiap karyawan, Ardju berharap mereka terus bersemangat, aktif menggapai visi dan misi yang digariskan manajemen, dan mengembangkan perusahaan secara kreatif. Sesungguhnya Allah sangat mencintai seseorang yang bilamana melakukan sesuatu dilakukan sebaik mungkin (profesional). (HR Imam Baihaqi dari Aisyah)
Dengan kesiapan menghadapi perang bisnis air minum dalam kemasan yang relatif lengkap dan tekad yang kuat tersebut, Haji Ardju kini berusaha tawakal dalam menjalankan roda bisnis PT Ufia Tirta Mulia. Dia meresapi benar pesan suci “... Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka tawakallah kepada Allah.” (QS Ali ‘Imran [3]: 159 )
Untuk itu, Haji Ardju terus berikhtiar melaksanakan syariat dan mengikuti aturan yang berlaku. Semua perizinan dan sertifikasi duniawi telah dipenuhi. Dan sekarang, Haji Ardju berusaha menggenjot bagaimana kiprah Ufia berkontribusi pada umat.

Kontribusi pada Umat, Bangsa dan Negara
Melalui infak Rp15 per liter air yang terjual, Ufia berusaha memberi arti bagi umat (Muslim). Dapat diilustrasikan di sini, misalkan, produsen air minum dalam kemasan merek lain dan Ufia sama-sama punya omset Rp20 miliar per tahun dan keuntungan sama-sama Rp4 miliar. Pada merek lain, tidak ada infak yang disalurkan ke umat dan laba Rp4 miliar sepenuhnya menumpuk di kantong sang pengusaha atau dilarikan ke luar negeri (terutama perusahaan penanaman modal asing atau multinasional). Benar-benar tidak ada yang menetes pada umat, tiada terkecuali umat di sekitar lokasi mata air yang dieksploitasi habis-habisan.
Lalu bagaimana gambaran kontribusi infak Rp15 dari pelanggan Ufia? Dengan omset Rp20 miliar, diperkirakan air yang terjual mencapai 47,5 juta liter. Dari angka produksi air sebanyak itu, infak yang terkumpul sekitar Rp700 juta. Lalu dari laba Rp4 miliar dialokasikan buat zakat (2,5%) Rp100 juta, infak (32,5%) Rp1,3 miliar, pengembangan usaha (32,5%) Rp1,3 miliar dan kesejahteraan keluarga (32,5%) Rp1,3 miliar. Singkat cerita, terkumpul ZIS (Rp100 juta, Rp700 juta, Rp1,3 miliar) sebesar Rp2,1 miliar. Dana ZIS sebesar Rp2,1 miliar tersebut sudah barang tentu sangat berarti bagi umat Muslim yang dililit kemiskinan, bantuan anak yatim piatu, membantu masjid yang membutuhkan dana renovasi, dan meningkatkan kualitas lembaga pendidikan Islam.
Langkah kongkritnya, dana infak Rp15 per liter di tahun 2011 sebesar Rp120 juta yang telah disetor ke Baznas dapat dimanfaatkan untuk proyek pipanisasi air bersih bagi 44 KK warga Desa Cinagara, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Selain itu, sebagian infak tersebut untuk menyantuni anak yatim dan dhuafa penghafal al-Quran serta melengkapi pembiayaan Panti Asuhan Yatim Putri Nur-Ufia di Sleman, Yogyakarta.
Selain kontribusi dari infak Rp15 per liter, Ufia pun memberi arti bagi wagra Desa Cinagara, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor. Hal ini tercermin pada komposisi karyawan yang mencapai 80% warga sekitar pabrik. “Kami bersyukur atas kehadiran Ufia di desa ini. Kami sangat terbantu dan merasa tenteram bekerja di sini,” ujar Supervisor Ufia, HM Madani, yang asli warga Desa Cinagara dan memulai karir di Ufia dari tingkat paling bawah.
Dalam kerangka lebih luas, Haji Ardju ingin Ufia memberikan kontribusi kepada bangsa dan negara. Setidaknya, berkontribusi memberikan contoh praktik bisnis air minum dalam kemasan yang syar’i tanpa meninggalkan ketaatan kepada peraturan duniawi yang dibuat birokrasi pemerintahan negeri ini.  

Visi-Misi Buat Umat
Berangkat dari tekad memberi arti bagi umat dan negeri, Haji Ardju memberikan arah (visi) agar perjalanan bisnis Ufia tidak salah tujuan. Hadji Ardju mengkristalisasi visi Ufia: menjadi perusahaan air minum dalam kemasan (AMDK) terkemuka, Islami, pilihan utama masyarakat Indonesia serta selalu dalam ridha Ilahi. Sebuah visi yang demikian jelas, ringkas dan gampang dipahami oleh segenap karyawan PT Ufia Tirta Mulia.
Dari visi yang tegas tersebut, Haji Ardju kemudian sedikit membumikan ke dalam misi-misi perusahaan. Ada pun misi Ufia meliputi:
·         Mewujudkan perusahaan AMDK yang profesional.
·         Mengembangkan nilai-nilai Islam dalam lingkungan Perusahaan.
·         Mendidik dan mengarahkan semua yang terkait dengan perusahaan untuk menjadi manusia yang Amanah, Rajin dan Jujur.
·         Mewujudkan suasana aman, nyaman, tenteram dan damai, bagi orang-orang yang berada di sekitar tempat di mana perusahaan beroperasi.
·         Menghasilkan produk-produk yang inovatif, halalan thoyyiban, berkualitas tinggi dan bermanfaat bagi masyarakat.
·         Mengutamakan hal-hal yang bermanfaat bagi agama, bangsa, dan negara.

Sempurnakan Manajemen Genjot Pasar Institusi
Perjalanan bisnis AMDK Ufia mulai dari April 2010 sampai sekarang dapat dikatakan kurang mulus, ada kerikil-kerikil tajam menyerak. Setelah berhasil keluar dari persoalan pembangunan pabrik yang sempat tersendat, Ufia mulai memasuki pasar. Ternyata peta persaingan di bisnis air minum dalam kemasan ini lumayan ketat. Dari catatan di Aspardin, pada tahun 2010 tercatat adanya 500 perusahaan AMDK dan 100 di antaranya mati lantaran tidak mampu bersaing. Selain persaingan, sebagai pemain baru, Ufia pun menghadapi semacam upaya tipu-tipu orang yang mengaku bisa membantu penjualan berapa saja Ufia berproduksi.
Haji Ardju bercerita:
“Ternyata tidak hanya persaingan, di situ ada penjahat-penjahat di bidang penjualan air. Ada sementara orang yang menawarkan diri akan membantu penjualan, mau jual berapa saja bisa dibantu. Kami sempat menjadi korban dari kejahatan seperti ini. Memang kejahatan ini tidak secara langsung ke kami. Agen yang semula kapasitasnya hanya sebuah toko terpengaruh oleh mafia penjualan tadi. Penjahat masuk ke agen, dia mungkin memberikan proyeksi marketingnya bisa jual banyak. Lalu si agen berhubungan dengan manajemen Ufia. Entah kenapa manajemen Ufia menjalin kerja sama dan percaya saja pada si agen yang telah disusupi penjahat ini. Kemudian pihak pabrik mempercayai agen terebut. Padahal, agen tersebut dibantu oleh tenaga ahli penjual yang adalah penipu. Akibatnya sangat fatal, karena air yang sudah diproduksi dan keluar dijual itu ternyata hilang. Artinya, produk terjual namun uangnya tidak bisa ditagih. Kerugian di tahun kedua itu mencapai sekitar Rp1,2 miliar. Sekilas di tahun kedua itu penjualan kami naik dan produksi sampai beroperasi dua shift. Tapi berakhir dengan tertipu. Saya baru mencium gelagat itu Maret 2012. Saya langsung menuntut tanggung jawab orang-orang yang saya serahi memegang manajemen perusahaan namun mereka tidak mau.
Langsung saja saya rombak manajemen. Saya kembali turun tangan sendiri, saya periksa harga pokok produksi. Manajemen lama  memproduksi air sebanyak-banyaknya dengan alasan untuk bersaing di pasar. Kemudian harga jual juga diturunkan sampai di bawah harga pokok produksi. Katakanlah harga pokok Rp9.000 per karton cup, manajemen menjual Rp8.200. Saya menemukan dua persoalan, yakni kerugian Rp1,2 miliar dan harga jual di bawah harga pokok. Misalkan uang itu saya tarik, tetap saja rugi. Sebetulnya kami bisa memperkecil kerugian di bawah Rp1 miliar tapi akan tetap rugi lebih dari Rp1 miliar karena penjualan setelah saya turun tangan itu masih pakai harga yang di bawah harga pokok. Saya tidak mungkin langsung menaikkan harga jual. Waktu manajemen lama, kerugian untuk cup itu Rp200 juta per bulan. Secara bertahap saya naikkan harga, pertama turun harga, kerugian turun menjadi Rp100 juta. Potensi kerugian masih tinggi juga. Berjalan kira-kira enam bulan saya naikkan harga lagi, kerugian turun jadi Rp50 juta per bulan. Berjalan sekitar setengah tahun juga, saya naikkan lagi, kerugian tinggal Rp30 juta. Dalam setahun berikutnya masih ada potensi kerugian. Itu kendala yang kami alami. Dan saya terus perbaiki.”

Perkembangan terakhir,  pertengahan Juli 2013, Ufia kembali menaikkan harga jual dengan harapan balik modal saja. Repotnya, September 2013, nilai dolar melonjak sampai Rp11.500 per dolar. Otomatis harga semua material produksi air minum dalam kemasan ikut naik. Ditambah lagi biaya transportasi belum lama mengalami kenaikan seiring dengan kenaikan harga BBM. Akibatnya, harga jual Ufia sangat tertekan. “Kalau dihitung-hitung dengan produksi 30 ribu karton per bulan, kerugian Rp20 juta per bulan untuk cup. Sampai sekarang ini potensi rugi masih ada karena faktor eksternal. Untuk mengatasi kerugian itu saya menurunkan produksi dari sebelumnya 30 ribu karton menjadi tinggal 20 ribu karton, rugi sekitar Rp13 juta,” terang Haji Ardju.
Bersyukur, Ufia masih bisa meraih sedikit keuntungan dari air minum kemasan botol dan galon. Sebab itulah, Haji Ardju berupaya menggenjot pasar kemasan botol dan galon secara maksimal. Selain masuk ke konsumen rumah tangga, untuk mempercepat peningkatan penjualan kemasan galon, Ufia sekarang berkonsentrasi ke konsumen institusi. “Kami aktif membuka kerja sama ke kalangan bank syariah, sekolah Islam atau majlis taklim yang dapat terpengaruh oleh visi-misi Ufia. Juga berusaha melebarkan sayap pasar ke supermarket yang saat ini baru Tiptop yang hanya ada tujuh outlet di Jabodetabek,” paparnya.
Akibat penurunan produksi, instalasi pengolahan air minum Ufia pun mengalami pengurangan operasional. Pada sisi lain, karyawan tetap harus diupah. Untuk terus menambah jam operasional, minimal mempertahankan waktu operasional yang normal, manajemen Ufia menerima pihak-pihak lain yang ingin memproduksi air minum di pabrik Ufia.  Beberapa pihak lain yang telah menjalin kerja sama produksi di Ufia antara lain Aceros, Pondok Pesantren Darun Najwah (Bekasi), dan sebuah partai politik. Agar tidak rugi, Ufia mesti berproduksi 50 ribu galon per bulan. “Kami Ufia sendiri baru mampu menjual sekitar 8.000 galon per bulan. Bulan September 2013 lalu kami sudah mencapai 11.000 galon. Katakanlah Ufia sendiri bisa mencapai 15.000 dan Aceros 25.000 galon, Pondok Pesantren Darun Najwah 4.000 galon, total produksi baru 44.000 galon. Masih perlu 6.000 galon lagi. Kami akan terus membuka pasar galon lebih luas lagi,” jelas Haji Ardju.
Kemudian, untuk kemasan botol pun masih jauh sekali. Ufia harus menjual sekitar 40 ribu karton agar tidak merugi. Saat ini baru sekitar 1.000 karton yang terjual. Ufia tetap membuka lebar-lebar pihak-pihak yang ingin memanfaatkan instalasi pengolahan air minum dengan merek yang dimilikinya. Untuk memperbesar penjualan kemasan botol, saat ini Ufia sudah menjadi kerja sama dengan pemasok untuk sopir angkot di daerah Bogor. Sementara waktu untuk satu trayek, mereka menyanggupi memasarkan 500 karton per bulan. “Nanti bisa sampai 1.000 karton. Kalau dia bisa banyak trayek maka bisa 5.000 karton. Yang begini ini sedang kami cari lebih banyak lagi. Kelompok lain seperti taksi dan moda transportasi lainnya coba dijajaki. Sangat mungkin pula dibuka kerja sama dengan jaringan hotel syariah,” terang Haji Ardju.
Bukan hal mudah memasarkan air minum dalam kemasan di tengah daya beli masyarakat yang terus melemah. Terutama untuk kemasan cup, relatif tidak ada keuntungan, lebih sebagai upaya branding. Sebab itu, tutur Haji Ardju, manajemen Ufia berupaya menyebarkan ke mana saja pasar yang masih memungkinkan, seperti pasar tradisional, pesta perkawinan dan terminal. Untuk kemasan cup minimal menjual 75.000 karton, baru akan kelihatan keuntungan di depan mata.
“Kami tidak mau banting harga, satu-satunya jalan ya tetap berpegang teguh pada strategi kami dengan visi-misi bahwa kami produk Islami dan target pasar yang Islami juga. Artinya, kami bisa mempengaruhi market itu dengan ke-Islam-an. Sekarang yang kami jalankan lebih banyak di situ, ke masjid dan majlis taklim. Dari pengalaman bisa masuk tapi perlu perjuangan keras karena untuk mengenalkan maksud baik Ufia ini tidak seperti membalik telapak tangan. Alhamdulillah yang saya jalankan belakangan ini mulai tembus juga. Perlu waktu perlu kesabaran. Dan saya optimis pada janji Allah,” tutur Haji Ardju.
Ke depan, lanjut Haji Ardju, sangat dimungkinkan untuk menjalin kerja sama produksi dengan pemilik merek Islami –Adz Dzikra, DD Water dan MQ. “Air minum dalam kemasan merek Adz Dzikra sudah mati. Saya dengar langsung dari Ustadz Arifin Ilham sendiri karena katanya yang menjalankan tidak amanah. Kemudian DD Water, saya pernah mendekati agar bisa memproduksi di tempat kami, sekarang dalam proses. Saya sudah ke sekolahnya DD Water, Dompet Dhuafa dan Rumah Sehat di Serpong. Itu sudah saya tawarkan juga. Lalu, MQ pernah kami dekati namun tidak cocok harga,” terangnya.
                                    
Harapan dan Cita-cita
Kendati perjalanan Ufia terus tertatih-tatih, Haji Ardju tetap optimis bakal memenangi ‘perang’ di jagat bisnis air minum dalam kemasan. Jelas berbeda dibandingkan pengalaman tatkala dia mengakuisisi dan membesarkan perusahaan SPPBE di Provinsi Lampung yang kemudian berkembang pesat sampai Jambi. Di bisnis SPPBE relatif ringan iklim persaingannya. Lebih simpel, dia cukup bermodal tangki dan kendaraan pengangkutan elpiji. Konsumen pun hanya menghadapi satu pilihan elpiji produk Pertamina. Sedangkan di air minum dalam kemasan, modal pabrik saja cukup mahal. Lalu, mesti tahu betul tingkat persaingan di pasar yang terlanjur dikuasai pemain bermodal kuat dan jejaring menghampar di pasar. Konsumen memiliki banyak pilihan air minum yang disuka dan diminum sehari-hari.
Walau lebih sulit dibanding SPPBE, Haji Ardju berkeyakinan usahanya kali ini bakal menuai sukses dan mengambil-alih pimpinan di bisnis air minum dalam kemasan. “Saya ada keyakinan bisa mengarah ke sana. Dengan alasan konsumen kami Islam. Namun, kami harus bekerja keras meyakinkan konsumen atau calon konsumen Islam itu bahwa Ufia ini lebih baik daripada merek-merek yang lain sesuai dengan doa harian kami ‘ya Tuhan kami berilah keselamatan dunia-akhirat dan jauhkan kami dari adzab neraka’. Karena, Ufia ini kualitasnya dunia-akhirat. Ini yang harus kami sosialisasikan dan promosikan agar jejaring umat ini menjadi pasar potensial marketing dan distribusi Ufia,” harap Haji Ardju Fahadaina.
Tahapan-tahapan ke arah sukses itu sudah terbaca. Setelah kesulitan itu kita akan diberi kemudahan. Memang tidak akan melesat pesat bak anak panah. Perlahan namun pasti konsumen datang. Misalkan segera datang pelanggan baru dari kawasan industri Tangerang yang berkomitmen berlangganan sekitar 5.000 galon per bulan.
Dengan semakin bertambahnya pelanggan Ufia, Haji Ardju lalu menaruh asa untuk segera dapat membumikan ZIS di kalangan umat Muslim. Bila semakin banyak umat ber-ZIS maka akan semakin banyak dana buat kemaslahatan umat. “Cita-cita saya menegakkan ekonomi Islam mencapai negeri yang baldatun thoyyibatun wa rabbun ghofur. Dan melalui Ufia, saya ingin memenuhi janji secara sempurna. Ending-nya begitu,” tandas Haji Ardju penuh asa. ***


Monday, April 7, 2014

ENAM: Titian Menuju Dakwah Air



“Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah ‘Arsy-Nya di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya...”
QS Huud (11) : 7

DESA CINAGARA, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor, 2009. Belum seberapa lama Ardju Fahadaina melepas kepemilikan 20% saham di PT Inti Alasindo Holding Company. Ketika itu dia sempat mengakuisisi PT Sel Net Optima namun terus merugi, bisnis rekaman musik tapi kandas di tengah jalan, dan mengambil-alih perusahaan servis tabung elpiji namun tak kunjung untung. Dia benar-benar galau dan risau. Lantas dia intens bermunajat pada Allah SWT. Saban ujung dinihari dia bermunajat dan berkhalwat dengan Allah Yang Maha Kasih. Bahkan dia juga menambahi tirakatnya dengan puasa sunnah Senin-Kamis.
Sampai kemudian, seolah ada yang menuntun, di tahun 2009 itu lelaki yang hobi traveling ini jalan-jalan ke Desa Cinagara, desa yang sohor sebagai sentra budidaya ikan di air deras. Ke Cinagara, Ardju Cinagara mencari lahan buat membangun sebuah vila yang dilengkapi dengan kolam budidaya ikan agar dirinya dapat memberi manfaat pada seorang sahabat yang waktu itu segera memasuki masa pensiun.    
Rupanya Allah tidak berkehendak hambanya yang bernama Ardju Fahadaina hanya memberi manfaat dan maslahat bagi seorang sahabat. Ardju mesti memberi manfaat kepada banyak sahabat, kerabat dan umat. Turun dari kaki Gunung Pangrango itu dia bersua Haji Bahrum, tokoh masyarakat Desa Cinagara. Haji Bahrum menawarkan sebidang tanah yang ada mata airnya yang dapat dimanfaatkan untuk mendirikan perusahaan produksi air minum dalam kemasan. Secara halus, Ardju menolak karena merasa dirinya tidak memiliki pengalaman dan kompetensi di bisnis air minum.
Haji Bahrum tak patah arang. Dia berusaha mencari tahu di mana Ardju Fahadaina tinggal. Setelah beberapa waktu berupaya mencari, akhirnya Haji Bahrum berhasil menemukan rumah tinggal Ardju Fahadaina di kawasan Bintaro Jaya, Tangerang Selatan, Banten. Dan dia pun bersilaturrahim ke rumah Ardju pada suatu waktu. Di situ Haji Bahrum memohon dengan amat sangat agar sebidang tanah seluas 5,3 hektar yang di beberapa titik terdapat mata air itu jatuh ke tangan Ardju. Ardju berusaha tetap kukuh tidak ingin membeli lahan yang sangat cocok buat usaha air minum dalam kemasan tersebut.
Tapi, sekali lagi, Haji Bahrum tidak menyerah begitu saja. Dia lalu mengaku tengah membutuhkan dana buat biaya mendirikan pondok pesantren berkonsep wirausaha. Sebuah pondok pesantren yang mengusung konsep: pada siang hari para santri belajar wirausaha budidaya ikan dan pada malam hari mereka nyantri. Mengingat niat mulia tersebut, Ardju akhirnya menerima tawaran membeli tanah dari Haji Bahrum.
Lantas muncul kesepakatan tanah dibanderol Rp100 ribu per meter persegi. Setelah sedikit tawar-menawar lagi, Ardju kemudian cukup membayar Rp5 miliar. Dengan kesepakatan, Haji Bahrum menyelesaikan surat-surat tanah sampai status sertifikat hak milik. Dan kepada Haji Bahrum, Ardju berterus-terang mengakui dirinya tidak memiliki pengalaman di bisnis air. Pun Haji Bahrum menyanggupi membantu usaha bisnis air minum dalam kemasan yang segera dibuka Ardju. Haji Bahrum menyodorkan seseorang bernama Muhamad Lokot Siregar yang dipromosikan cukup kompeten dan mumpuni di bisnis air minum dalam kemasan.
Dengan niat memberdayakan karunia alam untuk menggapai ridha Allah diperkuat pula niat Haji Bahrum yang hendak membuka pondok pesantren berkonsep wirausaha, masih di tahun 2009 itu pula, Ardju Fahadaina kemudian memulai pembangunan instalasi produksi air minum dalam kemasan di Desa Cinagara.

Cobaan dan Ujian
Berangkat dari prasangka baik pada jasa baik Haji Bahrum merekomendasikan tenaga kompeten bernama Muhamad Lokot Siregar, Ardju Fahadaina pun menyerahkan amanah sepenuhnya ke Lokot Siregar untuk memulai pembangunan fisik pabrik air minum dalam kemasan. Kemudian, ihwal perizinan seperti Izin Mendirikan Bangunan (IMB), Ardju juga menyerahkan kepada seseorang yang disodorkan oleh Haji Bahrum. “Saya serahkan pembangunan pabrik itu kepada orang-orang yang direkomendasikan oleh Haji Bahrum. Semua dana yang mereka anggarkan saya penuhi,” ujar lelaki yang senantiasa bertindak dengan hati ini.   
Manusia boleh berencana dan merancang apa yang dimaui. Tapi, realisasi semua itu sangat tergantung pada kehendak Allah SWT. Kalau Allah berkehendak maka tidak seorang pun akan mampu mengelak. Perencanaan pembangunan pabrik air minum yang telah dirancang matang oleh Muhamad Lokot Siregar dan perizinan diurus pula oleh orang yang biasa berurusan dengan birokrasi, toh Allah berkehendak lain. Perjalanan pembangunan pabrik air minum yang diimpikan Ardju itu sedikit tersendat.
Pembangunan agak terganggu lantaran material yang digunakan bukan dari kualitas nomor wahid. Material instalasi pengolahan air minum yang digunakan adalah material kelas tiga sehingga tidak bisa sekali pasang langsung mampu beroperasi. Ada material-material yang sampai harus bongkar-pasang lantaran rusak saat dilakukan uji-coba. Bahkan, pemimpin proyek pembangunan pabrik sempat menghilang. Telepon seluler sang pemimpin proyek tidak bisa dihubungi untuk sekadar koordinasi kelanjutan pembangunan. Sebuah cobaan dan ujian menghadang langkah Ardju Fahadaina yang hendak berhijrah dari bisnis konvensional ke bisnis syariah. Namun, dia meyakini benar janji Allah bahwa bersamaan kesulitan itu ada kemudahan (QS Alam Nasyrah [94]: 6). Dan benar, di balik menghilangnya pemimpin proyek, Ardju mendapat teman baru yang bersedia membantu bagaimana memperbaiki instalasi produksi air minum agar segera mampu beroperasi.
Ardju Fahadaina bersyukur masih banyak orang baik yang membantunya mengatasi persoalan beberapa bagian instalasi yang rusak sebelum dipakai. Salah bantuan itu berupa rajutan tali silaturrahim dengan banyak pemasok material-material instalasi produksi air minum dalam kemasan.
Ketika turun sendiri mengatasi persoalan yang ditinggalkan oleh pemimpin proyek, Ardju mendapati instalasi ultraviolet dan cartridge yang telah rusak sebelum waktunya. Dia langsung mengganti instalasi ultraviolet dengan material terbaik dan cartridge yang telah berkarat dengan material terbagus. Pemasok-pemasok material instalasi pengolahan air itulah yang banyak menolong Ardju Fahadaina dan tim untuk menyelesaikan pembangunan pabrik. Secara bertahap, semua instalasi berkualitas jelek diganti yang material instalasi kualitas terbaik. Dan di akhir 2009 bergulir ke awal 2010 fisik pabrik pengolahan air minum dalam kemasan di Desa Cinagara tersebut tuntas dan siap dioperasikan.
Ujian dan cobaan tidak hanya pada ketersendatan pembangunan fisik pabrik pengolahan air minum dalam kemasan. Dari sisi perizinan pun sempat terhambat. Kendati Ardju telah mengeluarkan biaya sesuai dengan yang diminta oleh seseorang yang biasa berurusan dengan birokrasi, IMB buat bangunan pabrik belum juga turun dari pihak yang berwenang. Pertolongan Allah datang melalui bantuan seseorang yang dekat dengan Bupati Bogor (saat itu) Rahmat Yasin. Lewat orang tersebut, IMB pabrik yang berlokasi di kaki Gunung Pangrango tersebut cepat keluar dan ditanda-tangani oleh pihak yang berwenang. Aral lintang pembangunan pabrik hilang dan Bupati Bogor Rahmat Yasin pun berkenan meresmikan pabrik air minum dalam kemasan yang kemudian diberi brand Ufia dan payung usaha PT Ufia Tirta Mulia ini pada tanggal 23 April 2010.  
Sekitar sepekan sebelum peresmian, tanggal 15 April 2010, Ardju Fahadaina mengundang sekitar 1.000 orang warga sekitar untuk mengikuti doa dan dzikir bersama yang dipimpin oleh Ustadz Muhammad Arifin Ilham yang digelar halaman pabrik yang siap berproduksi tersebut. Selain sebagai wujud rasa syukur setelah melewat berbagai aral-lintang yang membentang, doa dan dzikir bersama itu bertujuan agar keberkahan dan kesuksesan senantiasa menaungi PT Ufia Tirta Mulia, sumber mata air, brand Ufia dan warga masyarakat sekitar (terutama yang bekerja di Ufia).

Ufia dan Dakwah Air
Dunia bisnis air minum dalam kemasan merupakan dunia baru bagi Ardju Fahadaina yang sebelumnya dibesarkan oleh dunia sepatu Bata dan Nike. Sebagaimana dunia sepatu yang akrab dengan label-label populer seperti Bata, Nike, Puma dan Adidas, pada jagat bisnis air minum terdapat pula nama-nama yang telah lekat erat di benak penikmat air murni dari mata air pegunungan. Sebutlah nama-nama sohor Aqua, Vit, dan Aquaria. Brand bisnis air seakan identik dengan embel-embel ‘qua’.
Ardju Fahadaina tak ingin sekadar ikut-ikutan mengusung brand yang terkadang cuma nama belaka tanpa makna apa-apa. Dia ingin sebuah nama yang sarat makna, kebaikan dan keberkahan. Bila penulis naskah drama kondang William Shakespeare merasa persetan dengan apalah arti sebuah nama, maka bagi Ardju nama adalah sebuah makna. Sebagaimana orang Jawa pada umumnya, Ardju berusaha memberi nama brand bisnis air minum dalam kemasan yang benar-benar penuh arti, minimal berarti bagi keluarganya sendiri.  
Lelaki yang menghabiskan masa kecil dan remaja di Kampung Serangan, Yogya, ini mencoba utak-atik gathuk dari huruf-huruf depan nama diri, istri dan dua anaknya. Dari dirinya sendiri muncul huruf “A”, lalu dari istri ada huruf “U”, dari anak pertama terdapat huruf “I” dan dari anak kedua tersembul huruf “F”.
“Sebelum terjun di bisnis air, saya berpikir mesti membawa brand apa. Sudah banyak orangmemakai embel-embel ‘qua’, rasanya sudah tidak bagus, ada Aqua, ada Aquaria. Akhirnya huruf-huruf depan nama sekeluarga saya utak-atik, mulai dari AFIU, AFUI, UFAI, IFAU sampai ketemu UFIA. Rasanya UFIA yang paling enak dilafadzkan, mudah diingat dan semua anggota keluarga saya merasa memiliki. Ya sudah begitu saja, kemudian saya bikin mereknya, brand UFIA seperti itu,” papar Ardju.
Rasanya seperti sekadar utak-atik tanpa makna. Tapi, rupanya, utak-atik gathuk ala Ardju Fahadiana punya makna yang amat mendalam. Ufia, dalam gramatikal Bahasa Arab berarti: “aku ingin memenuhi janji secara sempurna”. Ya, Ardju ingin memenuhi janji secara sempurna dalam hijrah dari bisnis konvensional ke bisnis syariah. “Dalam satu kesempatan hendak menjalin kerjasama dengan Baznas, Ketua Umum Baznas Prof. Dr. Didin Hafidhuddin menjelaskan bahwa ufia mengandung makna: aku ingin memenuhi janji secara sempurna. Dari kata Arab, aufu yang berarti kita harus menyempurnakan timbangan kita. Kalau kita berdagang itu kan aufu. Waktu dengar penjelasan itu, saya merinding, kok bisa ya ketemu,” ungkap Ardju yang kini semakin yakin menapak di jagat bisnis air minum dalam kemasan.   
Utak-atik gathuk yang ternyata sarat makna itu semakin menguatkan langkah Ardju untuk menekuni bisnis air minum dalam kemasan dengan tekad berdakwah melalui air. “Saya berjanji (minimal dalam diri saya sendiri) menegakkan syariat Islam, dalam hal ini ekonomi Islam di Indonesia. Di situ saya bertambah yakin, sejak awal niat saya kepengin membuat perusahaan yang bisa menekankan ZIS untuk kemaslahatan umat, agaknya di air ini ada jalan yang terbentang,” aku Ardju Fahadianya yang rela meninggalkan segala kemewahan di PT Inti Alasindo Holding Company untuk mencari berkah dan ridha Allah di bisnis air minum yang dikuasai oleh satu-dua merek yang beromset ribuan galon per hari.
Ardju meyakini kehidupan di bumi ini tidak bisa terlepas dari air. “... Dan Kami jadikan segala yang hidup dari air. Mengapa mereka tidak beriman?” (QS Al-Anbiyaa [21]:30). Kehidupan ini, terutama dari kacamata pandang sebagai seorang Muslim, tidak bisa dilepaskan dari keberadaan air. Mulai dari aktvitas wudhu sebelum shalat, mandi Jumat, mandi junub, mandi ihram sampai mandi jenazah, semua membutuhkan kecukupan air. Yang juga cukup menakjubkan, aktivitas thawaf di seputaran Ka’bah menghasilkan air zam-zam yang tidak pernah kering sepanjang zaman. Air zam-zam yang multikasiat dan multi manfaat bagi siapa saja yang meminumnya. Air yang sepanjang 24 jam itu diakrabi dengan doa dan dzikir oleh umat Muslim yang tengah umrah dan atau haji.
Air memang memiliki banyak keajaiban. Sebuah penelitian oleh Dr. Masaru Emoto, Yokohama Municipal University, Jepang, 2005, menyebutkan bahwa kristal air yang semula berantakan bentuknya berubah menjadi kristal yang rapi, antik bentuknya, dan teratur setelah diberi rangsangan berbagai jenis pesan ungkapan dan perasaan, tulisan, gambar, foto, dan musik. Emoto mengambil sampel air dari mata air atau danau, setelah didinginkan pada suhu-5 derajat Celcius dan diberi aneka rangsangan tersebut, lalu difoto dengan teknologi tinggi. Hasilnya, kristal air berbagai bentuk. Berikut beberapa contoh:


 


   



Bentuk kristal air dari mata air Sanbuichi setelah diberi pesan keindahan.
Bentuk kristal air setelah didoakan secara agama Islam.

Hasil penelitian Emoto menyimpulkan: pertama, air mampu “menangkap” getaran rasa dalam bahasa apapun, tulisan, gambar, dan musik. Kedua, air bisa “mengerti”, menyimpan dan menyalurkan informasi. Semua benda juga “mengerti” namun air yang paling peka, jumlahnya sangat banyak, dan ada di mana-mana. Ketiga, getaran air merambat ke molekul air di tubuh manusia (75%). Dari air yang dikonsumsi, perilaku manusia dapat menjadi beringas, jahat, tidak terkendali, ataukah sebaliknya.
Mengacu pada hasil penelitian Emoto, Dokter Indra Djaman SpPD mengingatkan bahwa dalam al Quran, Allah menyebutkan bahwa setiap ciptaan Allah itu bertasbih, tapi kalian tidak tahu seperti apa tasbih mereka. Bila kita kaitan dengan ayat ini, mungkin hal ini merupakan salah satu bentuk tasbihnya air.
Dokter RS Bhakti Asih Ciledug, Tangerang, ini sependapat dengan Emoto, karena Emoto memakai teknik Ado untuk menyembuhkan berbagai penyakit yang notabene dokter sudah angkat tangan. “Dia bisa membuat perhitungan pada kelainan penyakit jantung. Ada pasiennya yang  kelainan jantung sejak bayi, ternyata kemudian bisa membaik setelah mengonsumsi secara rutin air dengan teknik Ado ini. Ternyata air dengan teknik Ado ini bisa masuk ke jaringan sel yang notabene tingkat lebih kecil, sub-atom. Di situlah terjadi perbaikan atas kerusakan sel atau penyakit yang disebabkan karena adanya kelainan-kelainan tadi. Berbeda dengan obat. Obat itu tidak bisa masuk ke level sub-atom. Obat berbeda gelombang resonansi. Resonansi itu terjadinya lebih baik pada air,” paparnya.
Lebih lanjut Dokter Indra menerangkan, “Inilah yang menjadi landasan teori bahwa, subhanallah, kalau kita bisa mengonsumsi air yang seperti ini maka tingkat kesembuhan lebih besar. Kita tahu Allah bahwa menyuruh kita minum atau makan dimulai dengan memasukkan ke mulut dengan ucapan bismillah. Subhanallah, hal itu menjadi media atau cara untuk membuat orang sehat. Sebuah ikhtiar bagaimana kita menjadi lebih bagus. Dan tentu ini perlu bukti ilmiah yang lebih banyak lagi. Saya sangat optimis bahwa media air itu harus menjadi bagian penting dalam upaya bagaimana kita menjadi lebih sehat fisik dan jiwa.”
Atas dasar benang merah dari penelitian Emoto dan analisis Dokter Indra, Haji Ardju Fahadaina berusaha memperlakukan air dengan kasih sayang, bersih dan tidak sembarang membuang-buang (mubadzir). Dia juga berusaha memberi pesan berupa doa positif “Bismillahirrahmanirrahim” setiap kali berurusan dengan air.
Dia meyakini bahwa air bermuatan doa bisa menyembuhkan tubuh dan jiwa; air di otak dan tubuh manusia akan beresonansi atas pesan-pesan positif; air di alam, di tumbuh-tumbuhan dan di tubuh binatang akan bergetar bersama oleh doa. Dan, sekali lagi Ardju meyakini, dunia akan berangsur menjadi positif melalui sikap kita terhadap air.
Lebih jauh Ardju berkeyakinan bahwa pikiran dan ucapan akan mampu melahirkan getaran (vibrasi) yang dapat mengubah susunan molekul benda-benda, termasuk molekul air. Sebab itu pula, doa dan dzikir yang khusyu’  plus terfokus mempunyai potensi kekuatan dahsyat mengubah apapun di dunia dengan izin Allah; doa dan dzikir bersama akan melipat-gandakan kekuatannya. Dan sungguh dzikir pada Allah itu sangat besar (QS Al-‘Ankabuut [29]: 45).
Berkat sedikit pengetahuan inilah, Ardju kini aktif mendakwahkan kelebihan air sebagai karunia Allah. Dia senantiasa teringat hadits yang diriwayatkan Al-Bukhari: “Sampaikanlah Dariku (yakni dari Rasulullah saw) walau hanya satu ayat.” Jelas, sebelum aktif mendakwahkan kelebihan air ini, dia sangat memperhatikan keshahihan hadits dan mencari pemahaman yang benar mengenai air –baik dari segi ilmiah maupun rohaniah. Dengan begitu dia menguasai betul pengetahuan ihwal air. Lalu, dari situ, dia selalu secara gamblang menyampaikan pesan manfaat dan mudharat air sebagai sebuah pengetahuan yang lengkap.
Tidak sekadar menyampaikan atau mensyiarkan berbagai kelebihan air kepada umat, Ardju langsung mempraktikkan perlakuan kasih sayang penuh pesan ayat-ayat suci al-Quran dalam memproduksi air minum dalam kemasan di pabriknya di Desa Cinagara. Selama 24 jam, dari proses keluar dari mata air sampai pengepakan kemasan air, diperdengarkan lantunan ayat suci secara murotal.
Jelas Ardju lebih lanjut:
“Sekitar 75% tubuh kita ini terdiri dari air. Dan air itu paling sensitif menerima pesan-pesan dari suara-suara yang lembut dan ayat suci al-Quran. Dari situ saya berkeyakinan bahwa orang yang bekerja sambil mendengarkan ayat suci al-Quran itu akan sejuk pikirannya dan halus jiwanya. Itu dari sisi manusia yang bekerja di pabrik.
Kemudian, dalam proses produksi, dari mata air sampai pengepakan diiringi murotal alunan ayat-ayat suci al-Quran selama 24 jam. Hasilnya air akan lebih enak diminum, penuh berkah dan menyejukkan. Dan ini sudah dibuktikan oleh Prof. Emoto dari Jepang. Menurutnya, air itu sensitif menerima pesan-pesan, doa agama apa saja, termasuk Islam. Ternyata kristalnya berubah tergantung pesan yang diterima. Hasil penelitian Prof. Emoto yang sempat disampaikan di PBB tahun 2005 itu menginspirasi saya untuk memproduksi air minum dalam kemasan dengan pesan-pesan murotal.
Air dan doa ini sangat berkaitan erat. Pengalaman thawaf melihat air zamzam juga memberi inspirasi yang kuat. Setiap kali thawaf itu kan ada sekian ribu orang terus dzikir dan berdoa, pasti mempengaruhi air zam-zam. Saya tidak memperdengarkan surat atau ayat tertentu, semua surat yang ada di al-Quran. Saya melihat al-Quran berpengaruh positif dalam produksi air minum.”

Ardju Fahadaina tidak berhenti pada kutipan hasil penelitian Prof. Emoto. Di tataran praktis membumikan air produksi Ufia, dia pun aktif mencari pendapat pembanding (second opinion). Sekali waktu dia langsung bertemu Dokter Indra Djaman yang aktif sebagai sesama jamaah di Masjid Jami Bintaro Jaya. Dokter yang mengaku telah berhijrah dari air minum produk konvensional ke air minum produk Ufia yang syariah  ini mengungkapkan air minum produk Ufia memiliki keasaman (PH) 7,1, sedangkan PH darah manusia berkisar 7-7,2. Dengan demikian, menurut dokter spesialis penyakit dalam ini, bila orang meminum air yang PH-nya sesuai dengan PH darah itu maka akan terjaga kesehatannya.
Kemudian, dari uji laboratorium terhadap air Ufia dengan pembanding air RO (river osmosis) dan air germanium (produk baru yang dipasarkan secara MLM), air Ufia cukup bagus dalam menetralisir racun. Pada uji tiga gelas yang masing-masing diisi ketiga produk tersebut lalu ditetesi obat antiseptik Betadine, terlihat hasil: gelas berisi air RO jadi kuning (berarti obat antiseptik tidak dinetralisir), gelas air UFIA masih ada sedikit warna kuning (ada upaya netralisasi obat antiseptik), dan gelas produk air gernamiun tampak jernih (obat antiseptik benar-benar dinetralisir). “Artinya, produk germanium itu langsung menghilangkan racun. Air Ufia yang tidak kami tambah apa-apa, hanya diberi doa, lumayan bisa menghilangkan (tidak 100%). Dan air RO ternyata tidak bisa menghilangkan racun,” terang Ardju Fahadaina sedikit berpromosi.
Dengan hasil laboratorium seperti itu, ungkap Ardju, ada beberapa pihak minta bagaimana Ufia mampu memproduksi air setaraf air zam-zam. “Kami sudah usaha, mesti menaikkan PH dengan aditif. Persoalannya, apakah aditif yang nanti dipakai bagus. Kalau saya lihat air zamzam kenapa bisa seperti itu, karena di situ ada thawaf, ada dzikir dan doa. Alami sekali. Jadi sementara ini kami alami saja dengan dzikir, doa dan murotal selama 24 jam,” tegasnya.
“Sepanjang pengalaman saya bekerja, baru di sini produksi air minum yang diiringi dengan morotal al-Quran. Dan saya sebagai pekerja di sini merasa sangat nyaman dan air yang dihasilkan cukup menenteramkan,” ujar Edeh Humaeroh, Factory Manager PT Ufia Tirta Mulia.
  

Infak Rp15 per Liter
Selain proses produksi yang senantiasa diiringi pesan-pesan religius, produk Ufia mempunyai keberbedaan riil dibandingkan produk-produk air minum sejenis. Soal rasa boleh jadi kita harus meneguk airnya terlebih dulu. Arti kata, harus ada langkah mengambil atau meminum produk yang ditawarkan. Dan, hampir semua produk air minum dalam kemasan mempromosikan diri dengan rasa air murni dari pegunungan.
Lalu Ardju berpikir sedikit berbeda. Kalau hanya ‘menjual’ rasa menenteramkan maka hal ini masih mengawang-awang, tidak terlihat oleh mata secara nyata. Sebagai orang yang telah terbiasa dengan langkah-langkah membelanjakan sekitar 35% penghasilannya di jalan Allah, benak Ardju langsung tertancap pada bagaimana produk Ufia langsung mengusung brand infak dalam setiap liter yang dibeli konsumen. Dia tidak ingin head to head dengan kompetitor yang sudah merajai pasar air minum dalam kemasan. Sebab, kendati secara kualitas produknya tidak kalah dibandingkan produk sejenis sekelas (sebut saja) merek Aqua, namun kalau harus berhadap-hadapan langsung sudah pasti langsung kalah, kalah segalanya –mulai dari permodalan, sumber daya manusia, sampai penguasaan jejaring pasar. Harus ada trik agar produk yang relatif baru ini tidak langsung ‘ditelan’ pemain besar.      
Benak Ardju langsung tertuju pada praktik bisnis secara syariah dengan mengajak konsumen (pelanggan) membiasakan diri berinfak. Sebab, setiap umat beriman wajib menafkahkan sebagian dari apa yang Allah keluarkan dari bumi untuk umat manusia (QS Al Baqarah [2]: 267).
Dia tidak memilih zakat sebagai praktik bisnis air secara syarah. Karena, zakat sangat terkait dengan nishab dan mekanisme yang perlu akad tersendiri. Persoalannya, berapa nilai infak yang pas dari setiap liter air terjual supaya tidak membebani harga pokok produksi dan mempengaruhi daya beli konsumen. Bila terlalu besar maka beban ke produsen cukup berat. Dan, boleh jadi konsumen juga merasa keberatan bila ‘dibebani’ infak yang besar lantaran dinilainya harga air yang dibelinya menjadi demikian mahal. Konsumen akan lari mencari produk lain yang lebih murah.   Infaq.jpg 

Pada prinsipnya, demikian benak Ardju Fahadaina, infak ini yang membayar adalah PT Ufia Tirta Mulia namun diikhlaskan atas nama pelanggan. “Infak ini kami biayai. Jadi masuk komponen harga pokok produksi. Tapi infak ini diikhlaskan atas nama pelanggan. Setelah saya hitung-hitung kisaran Rp20, Rp25, Rp15, dan Rp10, akhirnya ketemu Rp15 per liter air yang terjual. Nilai Rp15 itu kecil kan. Namun kata orang small is beautiful. Kendati kecil, cuma seberat biji zarrah, Allah berjanji memberikan balasan pahala berlipat-ganda (QS An Nisaa’ [4]: 40). Ternyata kalau dikalikan dengan kapasitas mata air yang kami manfaatkan 20 liter per detik terdapat jumlah 302,4 juta liter per tahun. Dan infak yang mesti dikeluarkan sekitar Rp4,5 miliar. Jadi infak yang Rp15 per liter itu akan banyak manfaat. Selain itu orang-orang yang menjadi pelanggan itu secara otomatis berinfak. Kami bekerja sama dengan Baznas untuk menyalurkan infak tersebut. Inilah yang menjadi pembeda antara produk Ufia dan produk-produk air minum dalam kemasan yang lain. Saya meyakini hal ini menjadi daya tarik marketing,” paparnya.

Membangun Pondasi Ukhuwah Islamiyah
Jelas, sebagai entitas baru di dunia bisnis air minum dalam kemasan, perjalanan bisnis Ufia yang diresmikan oleh Bupati Bogor Rahmat Yasin pada tanggal 23 April 2010 itu belum memiliki jejaring pemasaran yang andal dan memadai sampai ke pemakai akhir (konsumen).
Brand infak Rp15 per liter rupanya menjadi pintu masuk untuk membuka jejaring pasar di kalangan umat Muslim. Sewaktu grand launching Ufia di Depok Town Square (Detos), tanggal 28 Februari 2010, Ufia sekaligus menanda-tangani perjanjian kerja sama dengan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas). Perjanjian tersebut menegaskan bahwa pihak Ufia akan menyerahkan infak tiap tahun kepada Baznas. Lalu, pihak Baznas berkewajiban mencitrakan Ufia kepada masyarakat luas, khususnya masyarakat umat Islam.
Sebagai produsen air mineral syariah pertama di Indonesia, Ufia langsung menyedot perhatian media massa untuk ingin tahu lebih dalam bagaimana bisnis ini dijalankan. Beberapa media massa Ibukota –seperti Harian Warta Kota dan Suara Islam Online—telah menuliskan seputar kiprah dan warna bisnis Ufia. Juga sempat berpromosi di stasiun televisi lokal Yogyakarta. Dari sini, Ardju merasa memperoleh kekuatan untuk memperluas jejaring pasar. Dia merasa mendapatkan banyak teman baru dari media massa yang jelas bermanfaat mengenalkan produk air mineral kepada khalayak ramai.
Lewat bendera usaha yang baru ini Ardju merasa menerima sesuatu yang non-materi dari Allah SWT. Sewaktu membuka pabrik dengan dzikir dan doa yang diikuti sekitar 1.000 orang warga Desa Cinagara dan sekitarnya, Ardju bisa berkenalan lebih dekat dengan Ustadz Muhammad Arifin Ilham yang memiliki ribuan jamaah. Sebuah jejaring pasar jadi terbuka luas.
Karena brand infak Rp15 per liter itu Ardju aktif bersilaturrahim ke Nahdlatul Ulama (NU), Muhamadiyah dan Baznas. “Selain jadi dekat dengan Ketua Umum Baznas Pak Didin Hafidudin, dari Baznas saya jadi kenal mantan Direktur Utama PT Taspen Achmad Subianto, mantan Direktur Utama Bank BTN Kodradi, dan pakar ekonomi syariah Syafii Antonio. Itu harta dari Allah yang bukan dalam bentuk materi,” aku Ardju yang kini terus menggenjot pemasaran Ufia ke berbagai kalangan.
Pergaulannya terus meluas. Ardju sekarang juga cukup dekat dengan pengurus teras Dewan Masjid Indonesia (DMI). Ufia kini telah menjalin kerja sama dengan Korps Dai Dewan Masjid Indonesia (KD-DMI), DMI Provinsi DKI Jakarta, LDNU Pusat, Masjid Al Ikhlash Jatipadang (Pasar Minggu, Jakarta Selatan), LPPTKA-BKPRMI, Muhamadiyah Provinsi DKI, Bank Mandiri dan Bank Syariah Mandiri.
Ardju menyadari sepenuhnya bahwa kini silaturrrahim dan ukhuwah Islamiyah menjadi pondasi utama marketing perusahaan air minum dalam kemasan yang telah dirintisnya sejak 2009. “Mungkin ini proses Ilahiah yang harus saya lewati. Menyadarkan dan lebih meyakinkan saya dan keluarga bahwa materi itu tidak menentukan untuk bahagia,” ujar ayah dari dua orang anak ini.    
Ukhuwah menjadi kata kunci Ardju dalam mengembangkan sayap usaha air minum dalam kemasan Ufia. Menurut Imam Hasan Al Banna, ukhuwah Islamiyah mengandung keterikatan hati dan jiwa antara satu dan yang lain yang dilandaskan akidah. Ukhuwah Islamiyah ini sangat erat hubungannya, lebih erat daripada ikatan darah.
Ukhuwah adalah nikmat Allah, pemberian Allah yang khusus diperuntukkan buat mereka yang terpilih. “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS Ali Imran[3]: 103)
Ukhuwah seperti tali tasbih. Bila kita perhatikan tasbih yang terbuat dari butiran-butiran kecil yang disatukan dalam satu tali. Seperti itulah ukhuwah, kita disatukan pada tali agama Allah agar kita menyatu tak bercerai-berai. “Teman-teman karib pada hari itu saling bermusuhan satu sama lain, kecuali mereka yang bertakwa.” (QS Az Zukhruf [43]: 67)
Bahwa ukhuwah merupakan arahan Rabbani dan memiliki makna empati. “Perumpamaan seorang mukmin dengan mukmin lainnya dalam kelembutan dan kasih sayang, bagaikan satu tubuh. Jika ada bagian tubuh yang merasa sakit, maka seluruh bagian tubuh lainnya turut merasakannya.” (HR Imam Muslim)                                 
Kini, melalui Ufia, Ardju ingin berinvestasi dunia-akhirat. Bilamana sekarang Ufia belum memberikan hasil duniawi yang menggembirakan maka Ardju berharap hasil yang lebih berkah dan nikmat ukhrawi yang menenteramkan hati.
“Insya Allah, dengan meminum air Ufia, Anda akan mendapatkan kenikmatan berupa kesegaran, kesehatan dan keberkahan hidup serta memperoleh kenikmatan akhirat berupa pahala,” pesan Ketua Umum Baznas Prof. Dr. Didin Hafidhuddin dalam satu kesempatan. ***