Showing posts with label Rahasia Ibadah. Show all posts
Showing posts with label Rahasia Ibadah. Show all posts

Saturday, November 30, 2013

Kondisi Lahir dan Batin setelah Melaksanakan Ibadah Haji



Diceritakan dari Abu Hurairah r.a. bahwa ia mendengar Rasulullah Saw bersabda, “Barangsiapa yang melaksanakan ibadah haji dan tidak mengucapkan rafats serta tidak melakukan kefasikan, maka sekembalinya dari ibadah haji, ia bak dilahirkan kembali oleh ibunya (dalam keadaan suci).” (HR Imam Bukhari dan Imam Muslim).
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Tidak ada pahala yang paling pantas bagi ibadah haji mabrur, kecuali surga dari Allah SWT. Adapun makna haji mabrur adalah ibadah hajinya seseorang yang terhindar dari segala bentuk kemaksiatan.” (HR Imam Bukhari dan Imam Muslim).
Sejatinya hal ini merupakan satu dari sekian banyak keagungan dan keutamaan Allah SWT yang telah Ia berikan kepada umat Islam di muka bumi ini. Melalui ibadah haji, Allah SWT membersihkan serta menyucikan jiwa umat Islam, agar mereka semua berhak menerima ridha-Nya. Sehingga mereka dapat merasakan kenikmatan pahala yang diberikan oleh Allah SWT.
Bukan hal yang sulit bagi manusia untuk secara ikhlas mempersembahkan semua amal ibadahnya hanya kepada Allah SWT. Karena ketika jiwanya suci, manusia tentu akan terbebas dari segala bentuk kekejian, serta terhindar dari segala macam perbuatan dosa.
Kebersihan dan kesucian jiwa ini sudah selayaknya dijaga dan selalu dipertahankan sepanjang hayat. Karena Allah SWT telah menyiapkan kesempatan emas bagi para hamba-hamba-Nya, agar ia bisa memiliki derajat seperti derajat para malaikat ketika berada di sisi-Nya. Jadi sebuah kewajiban bagi umat Islam untuk selalu menjaga jiwa dan raganya agar selalu bersih dan suci selama-lamanya.
Umat Islam, ketika sudah melaksanakan semua rangkaian ibadah haji, sejatinya ia telah benar-benar bertaubat kepada Allah SWT. Ia juga telah berjanji kepada-Nya untuk tidak melanggar kembali larangan-larangan-Nya. Serta ia harus senantiasa berusaha terus berjalan di jalan yang lurus mengikuti arahan petunjuk Allah SWT. Sebagaimana jalan para hamba-Nya yang telah diberikan banyak kenikmatan. Bukan malah mengikuti jalan yang tidak dikehendaki oleh Allah SWT, atau bahkan jalannya orang-orang yang sesat dan menyesatkan.
Atas amalan taubat inilah, manusia akan dapat menyucikan batinnya. Menyucikan batin sudah seyogianya ia lakukan dengan terlebih dulu menyucikan lahiriahnya; yaitu ketika ia mandi membersihkan badan untuk ibadah ihram. Lalu untuk mensimbolkan keikhlasan lahir dan batinnya maka dikenakanlah pakaian yang indah, yaitu pakaian ihram: sehelai kain putih yang bersih dan suci, yang tidak dikotori oleh noda dosa dan najis.
Semua ini –sekali lagi– dapat ditegaskan melalui kalimat talbiyah yang selalu diucapkan selama melaksanakan ibadah haji:
لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَشَرِيْكَ لَكَ
 Aku memenuhi panggilan-Mu, ya Allah aku memenuhi panggilan-Mu. Aku memenuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, aku memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya pujaan dan nikmat adalah milik-Mu, begitu juga kerajaan, tiada sekutu bagi-Mu.”
Ibadah haji ini pada dasarnya adalah ibadah yang dimulai dari prosesi pensucian lahir, batin, dan pensucian diri dari segala ucapan buruk dan dusta, menyucikan diri dengan tidak melakukan tindakan-tindakan yang dapat mencederai kualitas ibadah ataupun menyakiti orang lain, bahkan hewan sekalipun.
Oleh sebab itu, sifat-sifat kebersihan dan kesucian jiwa raga ini wajib dijaga kendati ibadah haji telah usai dilaksanakan. Dengan ungkapan lain, kita senantiasa menjaga diri kita dari segala bentuk perbuatan dosa dan kemaksiatan sampai akhir hayat. Karena di dalam ibadah haji tersebut, di dalamnya terdapat suratan janji antara manusia dan Allah SWT bahwa ia akan memasrahkan dirinya kepada-Nya dengan penuh keikhlasan dan ketakwaan. Sudah sewajarnya bila umat Islam harus bisa menepatinya. Sebagaimana firman Allah SWT:
 “Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji (bersumpah) dan janganlah kamu membatalkan sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu. Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat. Janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali. Kamu menjadikan sumpahmu sebagai alat penipu di antaramu, disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan yang lain. Sesungguhnya Allah hanya menguji kamu dengan hal itu. Dan sesungguhnya di hari kiamat akan dijelaskan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan itu.” (QS An-Nahl [16]: 91-92).
Perbuatan melanggar janji antar-sesama manusia merupakan salah satu tanda-tanda kemunafikan. Lalu ada apakah sehingga manusia tidak menepati janji yang telah ia sepakati; baik dengan manusia yang lain maupun dengan Tuhanya? Sementara Rasulullah Saw sendiri telah menjelaskan tanda-tanda kemunafikan kepada kita, sebagaimana sabda beliau:
 “Ada empat perkara di mana bila keempat-empatnya ada di dalam diri manusia maka ia termasuk murni orang munafik. Barangsiapa bila salah satu dari empat perkara tersebut ada dalam dirinya, maka ia adalah orang munafik sampai ia benar-benar telah meninggalkannya. Keempat perkara tersebut adalah, pertama, jika dipercaya atau diberi amanah, ia berkhianat. Kedua, bila berbicara, ia berdusta. Ketiga, jika berjanji, ia tidak menepatinya. Keempat, dan bila ia bersaing atau berdebat, ia akan membenarkan yang salah dan menyalahkan yang benar.” (HR Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Abdullah Bin Amru bin Ash r.a.)
Dikisahkan oleh Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga, pertama, jika berkata, ia berdusta. Kedua, ketika berjanji, ia tidak menepatinya. Ketiga, saat ia dipercaya atau diberi amanah, ia berkhianat.” (HR Imam Bukhari dan Imam Muslim).
Berdasarkan hadits-hadits di atas, maka barangsiapa yang berjanji kepada Allah SWT lalu tidak menepatinya, dan barangsiapa yang berkata mengenai hal-hal kebaikan namun ia tidak pernah melakukannya, maka Allah SWT telah benar-benar mengancamnya melalui firman-Nya:
 
“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS Ash-Shaf [61]: 2-3).
Jika umat Islam dapat menyucikan dirinya melalui ibadah haji, lalu senantiasa menjaga kesucian tersebut meskipun telah selesai melaksanakan ibadahnya, maka ia akan mendapatkan kesejahteraan dan kebahagiaan hakiki. Ia akan mendapatkan kebahagiaan duniawi, karena Allah SWT akan menanggung semua kebutuhan hamba-hamba-Nya yang senantiasa berlindung hanya kepada-Nya. Allah SWT juga akan memberikan hidayah kepada mereka yang selalu bertakwa. Dengan selalu dalam ketakwaan, Allah juga akan memberikan kenikmatan dan ketenteraman hidup kepada mereka. Sebagaimana janji-Nya:
 “Barangsiapa yang mengerjakan amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan, dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik. Dan akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS An-Nahl [16]: 97).
Allah SWT telah berjanji akan menanggung semua kebutuhan hamba-hamba-Nya yang benar-benar bertakwa hanya kepada-Nya. Dan Allah SWT akan memberikan rezeki kepada para hamba-Nya yang bertakwa dari sumber yang tidak disangka-sangka, bahkan tidak terduga. Sebagaimana dalam firman-Nya:
 “Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang dikehendaki-Nya. Dan Dia telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS Ath-Thalâq [65]: 2-3).
Dan barangsiapa merahasiakan ibadah-ibadahnya hanya kepada Allah SWT dan tidak dipamerkan kepada siapapun, serta senantiasa memohon ampun kepada-Nya, maka Allah SWT akan membalasnya dengan limpahan nikmat-Nya yang datang tak terduga. Adapun awal mula manusia berserah diri kepada Allah SWT diawali dengan permintaan ampunan kepada-Nya. Sebagaimana firman Allah SWT:
 “Maka aku katakan kepada mereka, Mohonlah ampun kepada Tuhanmu. Sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat; melimpahkan harta dan anak-anakmu; dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS Nuh [71]: 10-12).
Dan sebagaimana firman Allah SWT dalam cerita Nabi Hud a.s.:
 “Dan (dia berkata), ‘Wahai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa’.” (QS Hûd [11]: 52).
Ini adalah janji Allah SWT untuk menjaga para hamba-Nya di dunia. Demikian juga bahwa kepedulian dan kebijaksanaan Alah SWT tidaklah hanya sebatas pada kehidupan duniawi semata. Melainkan pada kehidupan akhirat kelak. Di akhirat nanti, Allah SWT akan memberikan pahala yang sangat besar bagi para hamba-Nya yang bertakwa dan berpegang teguh pada ketauhidan; bahwa tidak ada Tuhan selain Allah SWT, juga Allah SWT akan melimpahkan rahmat-Nya kepada mereka di hari kiamat nanti. Hal ini sebagaimana tersurat dalam firman-Nya:
“Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan. Dan sesungguhnya di sisi Allah lah pahala yang besar. Wahai orang-orang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, Kami akan memberikan kepadamu pertolongan. Dan Kami akan jauhkan dirimu dari kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa) mu. Sesungguhnya Allah mempunyai karunia yang besar.” (QS Al-Anfâl [8]: 28-29).

Penutup
Sebagai kalam akhir, manusia yang paling mulia di sisi Allah SWT adalah mereka yang senantiasa bertakwa hanya kepada-Nya semata. Makna dari kalimat “yang paling bertakwa” adalah manusia yang selalu bersuci dan senantiasa menjaga diri agar tetap suci --baik lahir maupun batin. Allah SWT juga tidak akan pernah menyia-nyiakan para hamba-Nya yang bertakwa. Karena Allah SWT adalah Dzat Yang Maha Mulia lagi Maha Bijaksana. Sebagaimana dalam firman-Nya:
 “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik daripada mereka. Jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Janganlah suka mencela dirimu sendiri (sesama Muslim) dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman (semisal panggilan fasik, kafir dan lainnya). Dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim. Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan buruk-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purbasangka itu dosa. Janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. Orang-orang Arab Badui itu berkata, ‘Kami telah beriman.’ Katakanlah, ‘Kamu belum beriman, tapi katakanlah ‘kami telah tunduk’, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al-Hujurât [49]: 11-14).

Alhamdulillah …

Friday, November 29, 2013

Prinsip-prinsip Kemanusiaan dalam Ibadah Haji




لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَشَرِيْكَ لَكَ
Aku memenuhi panggilan-Mu, ya Allah aku memenuhi panggilan-Mu. Aku memenuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, aku memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya pujaan dan nikmat adalah milik-Mu, begitu juga kerajaan, tiada sekutu bagi-Mu.”
Berdasarkan kalimat talbiyah yang sarat makna keimanan ini, kualitas pribadi seorang Muslim akan senantiasa dituntun untuk mendapatkan hidayah. Karena hidayah merupakan buah yang dapat dipanen dari ladang-ladang keimanan. Memang, dalam pelaksanaan seluruh rangkaian ibadah haji, seorang Muslim harus benar-benar tulus mengerjakannya hanya untuk Allah SWT semata.  Lantaran ketulusan dan keikhlasan adalah pondasi pokok keimanan dan kemanusiaan. Dalam beragama, manusia harus mempraktikkan ajarannya penuh keihklasan. Dan dalam kehidupan sosialnya, manusia pun senantiasa dituntut agar selalu mengerjakan segala hal dengan penuh ketulusan.
Dengan kalimat talbiyah di atas, manusia menegaskan kepada dirinya sendiri bahwa semua yang ada di alam raya ini adalah hanyalah milik Allah SWT dan tiada pula sekutu bagi-Nya. Serta mengukuhkan bahwa segenap kenikmatan yang ia dapatkan merupakan limpahan rezeki yang hanya bersumber dari Allah SWT. Sebagaimana firman Allah SWT:
 “Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus pelbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorangpun yang sanggup melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS Fâthir [35]: 1-2).
Nilai keikhlasan dan ketulusan dalam melaksanakan seluruh rangkaian ibadah haji tercermin dari saat seorang Muslim bertaubat secara sungguh-sungguh pada awal ketika ia hendak bepergian melaksanakan ibadah haji. Dan taubat bukanlah rangkaian kata-kata yang diucapkan, melainkan merupakan upaya penuh kesadaran yang memiliki beberapa syarat:
1.      Berjanji pada diri sendiri untuk tidak melakukan maksiat kembali, serta menjauhi tempat-tempat kemaksiatan.
2.      Secara jujur mengakui perbuatannya dan menyesalinya penuh penyesalan.
3.      Berjanji pada diri sendiri untuk tidak melakukan maksiat selama-lamanya.
Dengan demikian, ketika ada satu syarat saja yang hilang atau tidak terpenuhi, maka taubatnya tidak sah. Dalam artian, ia belum benar-benar bertaubat.
Ketiga syarat di atas adalah khusus untuk kategori maksiat yang berhubungan langsung dengan kekuasaan Allah SWT, misalkan syirik, tidak beribadah, tidak berpuasa dan semacamnya. Adapun jika maksiatnya tersebut berhubungan dengan hak-hak manusia, maka syarat taubat yang jumlahnya tiga di atas harus ditambah dengan satu syarat lagi. Yaitu semaksimal mungkin meminta maaf kepada mereka dengan memberikan hak-hak mereka kembali, tentunya melalui tata-cara yang baik dan bijaksana.
Bila bertaubat adalah langkah pertama menyucikan batin untuk mencapai keikhlasan, maka mandi dan bersuci serta mengenakan kain serba putih merupakan langkah selanjutnya untuk menunjukkan keikhlasan melalui lahiriah badan. Ketika sudah dalam keadaan demikian, ia telah benar-benar siap memenuhi panggilan Allah SWT. Sebagaimana tercantum dalam firman-Nya:
  
“Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadah kepada-Nya.” (QS Al-Mu’min [40]: 14).
Dan pada tingkatan selanjutnya, ia akan sanggup menaati perintah Allah SWT, serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya. Sebagaimana firman-Nya:
“Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu kitab (al-Quran) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata), ‘Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya.’ Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.” (QS Az-Zumar [39]: 3).
Setibanya di Makkah al-Mukaramah, segera dimulailah ibadah thawaf dengan mengelilingi Ka’bah. Dalam proses ibadah thawaf ini, apa yang dilakukan oleh manusia haruslah hanya ditujukan kepada Allah SwT semata. Dengan keimanannya ini, manusia akan dapat berlari menjauh dari segala bentuk kemusyrikan, serta berbagai macam kemaksiatan, baik yang lahir maupun yang batin. Dan dengan menerima agama Allah SWT ini, ia akan meghadiahkan semua aktivitas kebaikannya kepada Allah SWT. Hanya kepada-Nya lah, ia akan memohon pertolongan, serta hanya kepada-Nya lah, ia memasrahkan segala urusan dan harapan.
Semua ini berfungsi sebagai bentuk persiapan diri untuk menancapkan nilai-nilai keikhlasan dan ketulusan dalam jiwa manusia. Serta menjadikan keikhlasan serta ketulusan sebagai nafas kehidupannya.
Setelah thawaf, ibadah selanjutnya adalah melaksanakan ibadah Sa’i. Sa’i sendiri merupakan sebuah aktivitas mulia yang telah dilakukan oleh Siti Hajar, yaitu ibunda Nabi Ism’ail, ketika ia berlarian ke sana ke mari di antara bukit Shafa dan Marwa demi mencari setetes air buat menyelamatkan rasa dahaga yang tengah menyiksa putranya. Ia bolak-balik antara kedua bukit tersebut sebanyak tujuh kali. Apa yang ia lakukan adalah bukti kasih sayang, rasa simpati serta belas kasih seorang ibu kepada putranya. Tindakan mulia yang dilakukan Siti Hajar inilah yang menjadikan peristiwa bersejarah tersebut diabadikan dalam ibadah Sa’i yang masuk dalam rangkain ibadah haji.
Dari peristiwa sejarah yang melatar-belakangi ibadah Sa’i tersebut, kita diajarkan untuk senantiasa mempraktikkan dan menyebar-luaskan rasa kasih sayang dan kepedulian kepada seluruh umat manusia di alam raya ini. Tak peduli apa perkataan dan perbuatannya, rasa kasih sayang haruslah hadir dalam setiap tindakan manusia, kapan saja dan di mana saja. Dengan demikian, ajaran agama Islam senantiasa memotivasi manusia agar selalu berkasih sayang antar-sesama manusia. Sehingga pada akhirnya agama Islam merupakan agama yang peduli atas bahtera kesejahteraan manusia. Maka apa yang disampaikan oleh Allah SWT kepada Rasulullah Saw terkait pengutusannya ke muka bumi ini adalah untuk menyelamatkan umat manusia dari kedzaliman dengan bertumpu pada nilai-nilai kasih sayang. Sebagaimana firman Allah SWT:
 “Sesungguhnya apa yang disebutkan dalam surat ini, benar-benar menjadi peringatan bagi kaum yang menyembah Allah. Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam.” (QS Al-Anbiyâ’ [21]: 106-107).
Kemudian mengenai beberapa hikmah dari ibadah haji ini Allah SWT berfirman:
 “Musim haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi (bulan Syawal, Zulkaidah dan Zulhijjah). Barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekal lah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang berakal.” (QS Al-Baqarah [2]: 197).
Bila kita cermati, ayat ini menginformasikan kepada kita bahwa dalam pelaksanaan seluruh rangkaian ibadah haji, umat Islam sama sekali tidak diperkenankan melakukan tindak kekejian dan kerusakan, baik itu berupa pernyataan maupun perbuatan. Jangankan melakukan hal-hal yang dapat menimbulkan perpecahan dan kerusakan secara langsung, bersikeras dalam mempertahankan argumen pun dilarang.
Barangkali hikmah yang dapat kita ambil dari ibadah haji ini akan mirip seperti hikmah pada ibadah puasa. Misalkan, menjaga diri dari segala bentuk kemaksiatan dan perbuatan keji. Hanya saja, dalam ibadah haji, Allah SWT menegaskan bahwa berniat melakukan hal keji atau maksiat saja tidak diperbolehkan, meskipun niat tersebut tidak dipraktikkan dalam tindakan. Sebagaimana dalam firman-Nya:
 “Dan mereka diberi petunjuk kepada ucapan-ucapan yang baik dan ditunjuki pula kepada jalan Allah yang terpuji. Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalangi manusia dari jalan Allah dan Masjidil Haram yang telah Kami jadikan untuk semua manusia, baik yang bermukim di situ maupun di padang pasir. Dan barangsiapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara dzalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebagian siksa yang pedih.” (QS Al-Hajj [22]: 24-25).
Dari ayat ini kita dapat memahami bahwa Allah SWT tidak berfirman menggunakan kalimat “barangsiapa yang melakukan kejahatan di dalamnya” namun kalimat yang digunakan adalah “barangsiapa yang bermaksud melakukan kejahatan di dalamnya.” Dengan demikian, Allah SWT akan tetap memberikan siksaan kepada siapa saja yang bermaksud melakukan kejahatan: sekali lagi hanya sebentuk maksud atau keinginan semata. Oleh karena itu, jika manusia mampu menjaga dirinya dari niat-niat yang buruk dan keji, berarti jiwanya benar-benar telah siap menerima amanah kebijakan dan pancaran cahaya dari rahmat Allah SWT.
Allah SWT melarang berbicara menggunakan kata-kata yang buruk atau semisalnya, sifat-sifat fasik dan adu argumentasi yang berlarut-larut hingga lupa bahwa sejatinya ia sedang beribadah, sebagaimana dalam penggalan ayat berikut ini:
 “Barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats (berbicara menggunakan kata-kata yang kotor, buruk dan semisalnya), berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji.”
Di dalam ibadah haji Allah SWT tentu akan memerintahkan hambanya agar senantiasa melakukan aktivitas-aktivitas yang memiliki nilai-nilai kebaikan. Sebagaimana dalam lanjutan firman-Nya:
“Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya.”
Allah SWT mencintai segala bentuk aktivitas kebaikan yang kita lakukan. Bahkan jika kita terus berusaha meningkatkan kualitas kebaikan demi mendapatkan ridha-Nya, maka kelak ia akan menjadi bekal kita yang dapat menyelamatkan pada hari di mana harta dan anak-anak kita tidak lagi bisa memberikan manfaat kepada kita (tidak bisa membantu kita). Adapun sebaik-baiknya bekal adalah ketakwaan. Sebagaimana tercantum secara jelas dalam lanjutan firman-Nya:
 “Berbekal lah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang berakal.”
Setelah itu, rangkaian ibadah haji selanjutnya adalah melempar jumrah. Ini merupakan ibadah penutup karena makna yang terkandung dalam ibadah melempar jumrah ini adalah melempar iblis yang merupakan sumber segala macam perbuatan buruk dan keji serta maksiat. Wajar saja, melempar jumrah dilakukan berulang-ulang kali.
Dari ulasan di atas kita dapat menyimpulkan bahwa semua rangkaian ibadah haji merupakan bukti penegasan dari manusia bahwa haji adalah memantapkan keyakinan, meninggalkan segala bentuk hawa nafsu dan proses perubahan pribadi manusia menjadi manusia yang lebih baik dan bermanfaat. Ini dilakukan tidak hanya dengan melepaskan ikatan setan pada jiwa-jiwa manusia semata, melainkan juga menyucikannya dari bujuk rayu setan. Karena setan sudah tidak lagi berkuasa atas dirinya. Sudah dipastikan, bila manusia mampu melakukan seperti ini, ia dapat menempati posisi istimewa di mata Allah SWT dengan gelar sebagai hamba-hamba-Nya yang dengan penuh keikhlasan dan ketulusan, senantiasa menjalankan apa yang diperintahkan-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Sebagai penutup, akan jauh lebih sempurna jika kita merenungi sabda Rasulullah Saw, “Barangsiapa yang bepergian untuk melaksanakan ibadah haji, dan selama berhaji ia tidak berkata rafats, tidak juga melakukan kefasikan, maka ia akan kembali (pulang) seperti seorang anak yang baru saja dilahirkan oleh sang ibu.” (HR Imam Bukhari dan Imam Muslim).