Sunday, January 19, 2014

Yayasan Kematian St Yusuf


TIGA mobil jenazah terparkir di garasi. Seorang pria sedang menyelesaikan sebuah peti mati. Sementara di dua ruang lain, beragam ukuran dan jenis peti mati bertumpuk.

Setiap hari, selama 24 jam, tempat ini nyaris tak pernah kosong. Selalu ada pekerja yang siap sedia. Mereka adalah para pegawai Yayasan Kematian Katolik St Yusuf Paroki St Kristoforus Grogol, Jakarta Barat. Kantor yayasan ini berada satu kompleks dengan Sekolah Kristoforus Grogol, tak jauh dari Gereja St Kristoforus Grogol.

Yayasan ini berdiri pada 1972 sebagai yayasan sosial di bawah naungan Paroki St Kristoforus Grogol. Tujuan yayasan, berupaya maksimal meringankan beban moral dan material keluarga yang ditinggalkan, dengan memberi pelayanan cepat, handal, dan bertanggung jawab. Meski bersifat sosial, yayasan ini dikelola secara profesional.

Pelayanan yayasan ini antara lain, pemandian jenazah, pengangkutan jenazah dalam dan luar kota Jakarta, pengadaan peti jenazah dari yang standar hingga kualitas ekspor, pelayanan liturgi, pengurusan kremasi dan pemakaman, pemindahan jenazah, pengurusan izin, hingga pembuatan akta kematian. Yayasan ini juga bekerjasama dengan beberapa rumah duka, seperti Sumber Waras, St Carolus, Cikini, Harapan Kita, Bandengan, dan Oasis Lestari. “Kami juga memberikan kursus merawat jenazah di lingkungan-lingkungan,” papar Sekretaris Yayasan J. Andi Basuki.

Melayani agama lain

Yayasan yang memiliki 13 pegawai tetap ini tak hanya melayani umat Katolik. Tercatat pada tahun 2010, yayasan ini melayani 18 umat Kristen, empat umat Buddha, dan 10 umat Islam. “Kami memprioritaskan umat Islam yang berada di sekitar Gereja St Kristoforus. Mereka bisa memanfaatkan mobil jenazah secara gratis,” ungkap Andi.

Umat Katolik yang dilayani yayasan ini pun tak hanya dari Paroki Grogol. Anggota juga berasal dari Paroki St Andreas Kedoya, Paroki Hati Kudus Kramat, Paroki Maria Bunda Karmel Tomang, Paroki St Maria Bunda Perantara Cideng, dan Paroki Kristus Salvator Slipi. “Secara rutin, kami berkunjung ke paroki-paroki di Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) untuk menyosialisasikan keberadaan yayasan ini,” tutur Ketua Yayasan Y. Agus Hendrosusanto. Pada 2011, jumlah anggota mencapai 4.083 kepala keluarga, 461 kepala keluarga di antaranya bukan Katolik.

Dengan iuran Rp 5.000 per bulan, setiap anggota mendapatkan fasilitas peti mati, mobil jenazah, pemakaman atau kremasi, dan pelayanan liturgi. Yayasan bekerjasama dengan Tempat Pemakaman Umum (TPU) Pondok Rangon, Kampung Kandang, dan Tegal Alur.

Yayasan ini juga melakukan subsidi silang. Bilamana ada anggota yang secara ekonomi tak mampu, yayasan tetap akan memberikan pelayanan. “Bah­kan, jika yang meninggal dunia bukan anggota, yayasan pun akan tetap membantu. Kami juga menyediakan sumbangan peti mati,” ujar Andi.

Namun, Agus Hendrosusanto mengingatkan, agar pelayanan kematian jangan seperti arisan. “Setiap bulan iuran, lalu saat ada kematian diberikan sumbangan. Itu seperti arisan!” tegasnya. Pelayanan kematian, menurut Agus Hendrosusanto, juga jangan sampai terjebak pada mencari keuntungan. “Ini adalah pelayanan!” tandasnya sekali lagi.

St Yusuf

Sementara di Paroki St Clara Bekasi Utara, Seksi St Yusuf bekerjasama dengan Yayasan Sinar Kasih Abadi di Narogong, Bekasi. Jadi, saat terjadi kematian, Seksi St Yusuf akan menghubungi Yayasan Sinar Kasih Abadi. Yayasan inilah yang akan memberikan segala fasilitas yang diperlukan, seperti peti mati, mobil jenazah, dan pelayanan pemakaman atau kremasi.

Menurut Ketua Seksi St Yusuf Paroki St Clara Bekasi Utara, Genoveva Susi Sutanto, kendala yang kerap dihadapi adalah jika yang meninggal dunia berasal dari keluarga beda agama, atau umat Katolik yang tak terdaftar di lingkungan. “Sejauh mereka bisa menunjukkan surat Baptis dan riwayat perkawinan serta surat keterangan dari RT dan RW, kami masih bisa melayani,” urai Susi.

Seksi St Yusuf juga melayani umat yang secara ekonomi tak mampu. “Biasanya lingkungan berkoordinasi dengan St Yusuf untuk memberikan bantuan,” ujar Sekretaris Seksi St Yusuf Paroki St Clara Bekasi Utara, Yustinus Liswahyudi.

Untuk pelayanan kematian, Susi dan Liswahyudi mengusulkan agar ada kerjasama antarparoki di KAJ. Selain untuk berbagi pengalaman, kerjasama ini juga bisa untuk meningkatkan pelayanan kematian di paroki, serta lebih bisa membantu umat yang miskin.

Senada dengan Paroki St Clara Bekasi Utara, Seksi St Yusup Paroki Kalvari Lubang Buaya, Jakarta Timur juga bekerjasama dengan pihak luar, yakni Yayasan Pario Putra. Sementara untuk merawat jenazah, menurut Pengurus Seksi St Yusup Paroki Kalvari, Sony Sutarso, di setiap lingkungan sudah ada tim yang bisa merawat jenazah. Di setiap lingkungan di Paroki Kalvari, juga sudah terbentuk Seksi St Yusuf sehingga memudahkan koordinasi.

Hal yang sama pun dilakukan di Paroki St Nikodemus Ciputat, Tangerang Selatan. Seksi Kematian St Yusuf Paroki Ciputat juga bekerjasama dengan pihak luar, yaitu Yayasan Elim. Selama ini iuran St Yusuf di Paroki Ciputat sebesar Rp 5.000. Jika terjadi kematian, pihak keluarga akan mendapat santunan dan biaya pemakaman sesuai standar yang telah ditetapkan. Menurut Ketua Seksi Kematian Paroki Ciputat, Tarsisius Ngadiono, kendala utama yang dihadapi hingga saat ini, banyak umat yang belum mengetahui prosedur di St Yusuf. “Mereka hanya tahu semua ditanggung oleh Gereja. Sosialisasi besaran santunan dari St Yusuf memang kurang disosialisasikan kepada umat,” paparnya.

Dengan iuran yang sangat terjangkau, menurut Ngadiono, pelayanan kematian ini amat membantu, terutama umat yang kurang mampu. “Pelayanan ini sangat membantu orang miskin,” tuturnya. Bendahara seksi kematian Paroki Ciputat, Natalia Felisita Wuryanti, mengatakan, jangan sampai orang yang kurang mampu diminta nombok kekurangan uang peti, pemakaman, dan lain-lain.

No comments:

Post a Comment