Saturday, April 5, 2014

EMPAT: Meretas Pola Pikir Bisnis Syariah



“... Barangsiapa yang meninggalkan perkara syubhat (tidak jelas) dari suatu dosa, maka atas perkara yang sudah jelas lebih pantas dosanya untuk ditinggalkan. Dan barangsiapa yang melakukan perkara yang tidak jelas, maka ia diragukan akan jatuh pada hal-hal yang sudah jelas. Maksiat itu laksana penggembalaan Allah, orang yang berada di sekitar penggembalaan itu dikhawatirkan bakal jatuh ke tempat itu.”
HR Bukhari dan Muslim

JAKARTA, 2008. Lega rasanya Ardju Fahadaina –yang akrab pula disapa Pak Haji—melepas kepemilikan 20% saham di PT Inti Alasindo Holding Company. Lega berselimut sikap ikhlas karena telah lepas dari berbagai aral-lintang yang sempat menghalangi perjalanan hidup Pak Haji, isteri, anak dan cucu-cucunya. Lega penuh rasa syukur bahwa dengan melepas kepemilikan saham itu, dia sekaligus memperoleh berkah karena mengantongi dana segar lumayan besar.
Sebagai orang yang mengedepankan hati, Ardju seperti mengulang apa yang dia lakukan di tahun 1998 ketika mengakuisisi perusahaan yang tengah dirundung krisis. Dan, sekali lagi seolah mengulang, dia mengakuisisi perusahaan yang masih bergerak di bisnis sekitar elpiji. Waktu itu, Ardju bercerita, dengan duit hasil pelepasan saham di PT Inti Alasindo, dia mengambil alih PT AMP yang sarat soal. Perusahaan yang fokus ke reparasi tabung elpiji ini menghadapi persoalan izin, lahan dan peralatan. Pendek kata, semua hal bermasalah. Hatinya tersentuh manakala ada orang mengajukan proposal yang komplit plus perkiraan prospek bisnis yang penuh asa. Sampai sekitar 4-5 tahun di tangan Ardju dan dua koleganya, perusahaan itu belum jua mendatangkan laba. Yang ada cuma menguras dana buat biaya memperbaiki semua aspek perusahaan. Ardju berusaha berkontemplasi diri. Adakah ini lantaran dia belum menerapkan syariah dalam berbisnis. Entahlah.
Di tengah rasa risau itu, salah seorang koleganya mengajak bisnis di bidang musik. Sesuatu yang belum pernah dijamah oleh Pak Haji. Tapi, katanya, “Saya punya niat bisnis musik ini di genre musik religi.” Apalagi koleganya mengaku punya studio rekaman yang cukup lengkap di Kemang Pratama, Bekasi. Lalu berjalan lah akuisisi perusahaan rekaman musik itu. Sampai di satu saat kemudian launching album baru grup musik di bawah manajemen perusahaan musik milik Ardju Fahadaina ini. Launching di sebuah panti asuhan di kawasan Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat. Sewaktu launching itu, kepada artis yang berada di bawah manajemen, seorang ibu bertanya tentang fenomena umum yang melanda kalangan artis yang rata-rata berada dalam satu fase kehidupan di jalur-jalur maksiat nan suram.
Ardju tidak terlalu mengambil pusing  pertanyaan ibu-ibu yang boleh jadi berangkat dari keseharian yang tampak nyata pada acara infotainment yang tayang di berbagai stasiun televisi. Dia berharap artis-artis –grup musik—di bawah manajemen perusahaannya tidak seperti apa yang menancap di benak ibu-ibu itu. Grup musik yang beranggota para karyawan perusahaan Ardju itu memang sempat tidak masuk ke dalam ingar-bingar kehidupan selebritis yang cenderung permisif. Terlebih grup musik ini mengusung warna musik religi dengan mengandalkan lagu Syukur di album perdana.  
Pak Haji boleh-boleh saja berharap pada grup musiknya jauh dari musik-musik yang mendekati maksiat. Tapi, Pak Haji rupanya terlalu baik hati. Mudah tersentuh manakala ada orang datang mengajak bermitra bisnis. Modal yang ditanamkan di usaha permusikan ternyata habis begitu saja tanpa ada harapan untuk kembali. “Uang yang saya suntikkan untuk acara-acara usaha musik itu ternyata diselewengkan mitra bisnis. Bisnis musik itu habis, kandaslah uang saya. Barangkali memang musik tidak bisa disyariahkan seperti seorang ibu yang nanya di saat launching,” ujar Ardju Fahadaina.

Asbabul Nuzul
Kendati gagal di pendakian usaha reparasi tabung elpiji dan musik, Ardju tidak lantas berhenti mendaki. Tekadnya untuk menjadi entrepreneur tiada surut. Kali berikutnya datang seseorang membawa proposal bisnis pemasangan komputer di BTS –pemancar operator telepon seluler. Dia sampai menggelontorkan Rp6 miliar ke perusahaan bernama PT Sel Net Optima yang tengah dilanda krisis keuangan itu. Dengan rincian Rp3 miliar sebagai pinjaman dan Rp3 miliar lagi buat pengambil-alihan saham.   
Apa yang terjadi di lapangan ternyata tak seindah ulasan di proposal bisnis yang diajukan mitranya. Katanya, “Mungkin di sinilah langkah saya yang tidak hati-hati. Pas ada uang, mereka bikin proposal bagus, lalu saya tanamkan di situ sebesar Rp6 miliar. Di awal bermitra, orangnya baik-baik saja. Dalam perjalanan ternyata tidak amanah dan tidak jujur. Akhirnya saya tarik kembali dengan konsekuensi kerugian uang dan waktu.”        
Di tengah resah-gelisah bisnis konvensional yang tak kunjung memberikan pengharapan, Ardju lantas bermunajat, mendekatkan diri, kepada Allah SWT. Pada keheningan ujung dinihari, dia senatiasa mengadukan perihal langkah-langkahnya yang seolah terus-menerus tersandung batu dan tergelincir kerikil-kerikil tajam. Hasbunallah wa ni’mal wakil. Di benak Ardju, cukup Allah sebagai penolong kami dan Dia sebaik-baik Pelindung (QS Ali Imran [3]: 173).  Tidak kurang dari tiga bulan, dia tiada putus bersujud di sepertiga akhir malam dalam kesunyian dan perhambaan yang tiada daya. Sebagai hamba Allah yang tak ada kekuatan selain kekuatan yang diberikan oleh Allah Al ‘Aziz, Allah Yang Maha Perkasa. Menjadi hamba yang benar-benar hanya bergantung kepada Allah, bukan hamba yang bergantung ke sesama manusia.   
Selain shalat malam (tahajud), Ardju juga memperkuat pondasi spiritualnya dengan puasa sunah Senin-Kamis. Rasulullah Muhammad saw bersabda: “Amal perbuatan itu diperiksa tiap hari Senin dan Kamis, maka saya suka diperiksa saat saya sedang berpuasa.” (HR At-Tirmidzi) Boleh jadi, dalam bahasa akal manusia, ketika Allah memeriksa amal alangkah mulianya, si anak manusia sedang berpuasa. Artinya, si anak manusia itu senantiasa baik di hadapan Allah Al Hakam –Allah Yang Maha Menetapkan Hukum, Dia yang menetapkan hukum dan memutuskan segala sesuatu sesuai haknya.
Dalam pendakian di bukit spiritual yang cukup melelahkan itu. Sampai kemudian Allah memberi petunjuk melalui langkah kaki jalan-jalan ke Desa Cinagara, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Keinginannya waktu itu cuma satu, yakni mencari lahan yang produktif sekaligus buat membangun vila. Dan dari lahan plus vila itu dia bisa gunakan membantu sesamanya agar lebih bermanfaat. Karena, dia berkeyakinan, sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesama. Kiat memberi arti bagi sesama pun amat sederhana namun sarat manfaat. Ketika ada salah seorang temannya hendak memasuki masa pensiun. Dari lahan plus vila dia mempersilakan kawannya mengisi hari tua di vila itu sembari agrobisnis anggrek dan tanaman hias lain. Saat itu sedang booming tanaman ‘mahal’ Gelombang Cinta dan Germanii.  Namun, rupanya, garis tangan Ardju bukan di bisnis tanaman hias.
Kendati gagal di bisnis tanaman hias, Ardju tetap bertekad membantu kawannya yang sebentar lagi pensiun. Dia tetap memberikan jalan yang lain buat sang kawan. Selain menunggui vila, dia bermimpi sang kawan memasuki usaha budidaya ikan air tawar. Pada masa lalu, Desa Cinagara dan sekitarnya pernah dikenal sebagai sentra penghasil ikan mas. 
Soal petunjuk Allah dan pengalamannya sampai membeli lahan di Desa Cinagara, Kecamatan Caringin, Ardju berkisah:
“Saya beli tanah di Cinagara itu rencananya untuk bikin vila. Kemudian  teman saya yang menunggu sambil usaha budidaya ikan air tawar. Rupanya Allah tidak mengarahkan jalan saya ke sana. Waktu turun usai cari-cari lahan di situ, saya ketemu orang yang bernama Pak Haji Bahrum. Dia menawari tanah yang ada mata airnya, katanya bisa untuk memproduksi air minum dalam kemasan. Jelas saya tidak tertarik, saya tidak punya kompetensi di bisnis air. Saya tidak tertarik sama sekali. Sempat saya tawarkan ke PT SNO (Sel Net Optima), tapi SNO juga tidak mau karena investasinya terlalu gedhe.
Ternyata Pak Haji Bahrum tidak menyerah begitu saja. Pak Haji Bahrum terus mengejar, sampai cari rumah saya di sini (Bintaro, Tangerang Selatan). Di sini sempat cukup lama ngobrol, merengek-rengek agar saya bersedia membeli tanahnya. Saya tetap tidak mau. Eh datang lagi, katanya perlu uang. Saya bilang uang buat apa Pak Haji. Katanya, dia ingin membuat pesantren yang berorientasi wirausaha.
Sekadar pengetahuan, Pak Haji Bahrum ini terkenal dulu dekat dengan mantan Presiden Soeharto dan almarhum Gus Dur. Dia bisa terangkat ketika Soeharto mengadakan lomba mengapa ada ikan mas yang berwarna hitam dan ada yang merah-kuning. Bagaimana cara membudidayakan ikan mas merah-kuning? Bagaimana pula cara membudidayakan ikan mas hitam. Peserta  melakukan banyak eksperimen dan tidak juga ketemu. Suatu siang di sawahnya, Pak Haji Bahrum melihat ikan mas warna merah-kuning di air yang cetek. Akhirnya dia ketemu rumusan, ikan mas di air cetek langsung kena sinar matahari sehingga ikan jadi berwarna merah-kuning. Sedangkan ikan yang berada di air dalam, jadi berwarna hitam. Dari situlah dia memperoleh penghargaan, dikirim ke Jepang. Apresiasi lebih jauh, dia mendapatkan banyak tanah. Pak Haji Bahrum jadi orang kaya. Bahkan waktu zamannya Presiden Gus Dur, dia masuk tim ekonomi.
Nah, waktu ketemu saya, mungkin dia mulai mbleret. Dia bilang mau usaha pesantren. Dia siang hari, para santri ikut pelatihan agrobisnis dan malam hari nyantri. Saya pikir bagus, kebetulan dia juga jebolan pesantren dan sampai sekarang di lahannya ada diklat untuk pensiunan. Biasanya pensiunan dididik untuk bisa agrobisnis, wirausaha untuk peternakan, perikanan atau pertanian lainnya. Itu tujuannya bagus, saya juga punya keingin punya usaha yang syariah. Jadi ketemu, bersalaman. Ya, jadi Pak Haji, mudah-mudahan Pak Haji tercapai cita-citanya dan usaha air saya bisa jalan. Mungkin Allah menunjukkan ke situ.
Kemudian tanah seluas 5,3 hektar saya beli dengan harga Rp100 ribu per meter persegi, termasuk bagian yang ada mata airnya itu. Setelah saya tawar, saya cukup bayar Rp5 miliar, dengan perjanjian surat-surat yang selesaikan Pak Haji Bahrum sampai sertifikat tuntas dan jelas.“


Ada jalan yang cukup panjang ditempuh seorang Ardju Fahadaina untuk meretas pola pikir bisnis syariah. Dia ingin menyempurnakan langkahnya yang telah berusaha menunaikan semua kewajiban zakat dan kerelaan berinfak atau bersedekah. Menyempurnakan dengan membangun bisnis yang benar-benar bersandar pada pondasi syariah. Bukan lagi semata-mata syariah dalam membelanjakan harta yang diperoleh dari penghasilan dan atau gaji selama bekerja di perusahaan konvensional.
“Perubahan pola pikir ini didorong oleh pemikiran pribadi dan diperkuat petunjuk dari Allah. Dari dalam diri saya ingin membuat usaha yang betul-betul menerapkan syariat Islam, khususnya dalam penunaian dan pemungutan zakat, infak dan sedekah (ZIS). Dan kebetulan, kok saya ditendang, dipaksa keluar, dari perusahaan yang lama. Ketidak-nyamanan dikeluarkan itu boleh dikatakan menjadi berkah dan jalan yang ditunjukkan oleh Allah SWT,” ucap Ardju sembari menambahkan, “Jadi asbabun nuzulnya kira-kira seperti itu.”

Gigih Mencari Ilmu
Allah SWT telah menunjukkan jalan usaha ke arah yang lebih syariah melalui bisnis air. Tapi, Ardju merasa dirinya tidak memiliki pengetahuan dan skill yang cukup untuk memulai usaha bisnis air yang betul-betul syar’i. Ardju tidak lantas berkecil hati. Sebagaimana pengalaman sebelumnya, untuk urusan produksi dan sejenisnya cukuplah diselesaikan dengan merekrut tenaga-tenaga profesional yang cukup banyak bertebaran di muka bumi ini. Tapi bukanlah perkara gampang mencari tenaga profesional yang saleh.
Sejenak Ardju melupakan pencarian tenaga profesional untuk memulai usaha bisnis air minum dalam kemasan. Dia lebih memilih memperdalam pengetahuan dan petunjuk dari Allah SWT. “Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk.” (QS Adh Dhuhaa [93]: 7)
Tentu petunjuk Allah itu tidak bisa kita dapatkan dengan duduk manis di rumah atau semata-mata menunggu turun dari langit. Harus ada upaya yang serius dan sungguh-sungguh agar petunjuk Allah itu menghampiri kita. Sebagaimana pesan spiritual Allah “... sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.” (QS Alam Nasyrah [94]: 6-7)
Sebelum jauh berburu ilmu (agama) dari majlis ke majlis, dari satu masjid ke masjid yang lain, Ardju berusaha menimba ilmu dari perjalanan hidup yang telah dilintasinya. Dia mencoba menelaah hikmah dan makna apa yang bisa dipetik dari perjalanan waktu membesarkan PT Masula Agung Garda Mas yang hampir-hampir saja tergelincir pada praktik pengurangan timbangan isi elpiji. Melalui praktik yang benar, ujar Ardju, perusahaan itu mampu berkembang dan membiayai perusahaan yang lain. Sampai kemudian berkembang menjadi PT Inti Alasindo Holding Company.
“Dari perjalanan membesarkan usaha SPPBE, saya meyakini kebenaran Surat Alam Nasyrah dan Surat Adh Dhuhaa. Menurut saya, di situ ada langkah-langkah yang merupakan satu kesatuan. Bersamaan kesulitan ada kemudahan, bukan dilihat secara terbatas kata-kata ‘setelah kesulitan ada kemudahan’.  Jadi waktu kita masih kerja itu ada pekerjaan berikutnya. Kemudian kita mesti istighfar, kita ada masalah itu datangnya dari diri kita sendiri, bukan dari Allah,” tutur Ardju Fahadaina.
Benar bahwa kita mesti memperbanyak istighfar agar pintu rezeqi dari Allah senantiasa terbuka lebar dan semakin mekar. Allah SWT berfirman: “Maka Aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Rabb-mu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, membanyak harta dan anak-anakmu, mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS Nuh [71]: 10-12)
Al-Qurtubi berkata bahwa dalam ayat ini terdapat dalil yang menunjukkan bahwa istighfar merupakan salah satu cara diturunkan rezeki dan hujan. Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa memperbanyak istighfar (memohon ampun pada Allah), niscaya Allah menggantikan setiap kesempitan menjadi jalan keluar, setiap kesedihan menjadi kelapangan dan Allah akan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka.” (HR Abu Daud)
Dari perjalanan hidup yang sarat makna itu, Ardju lantas menambah wawasannya dengan menyambangi majlis taklim yang ada di banyak masjid –baik di sekitar tempat tinggalnya (Bintaro, Tangerang Selatan) maupun di lingkup Jabotabek. Dia aktif mengikuti berbagai taklim yang diselenggarakan oleh masjid, pesantren, dan lembaga bisnis.
“Dari berbagai pencarian ilmu itu, saya yakin bahwa mayoritas penduduk Indonesia yang Muslim itu harus diproteksi dengan produk yang syar’i. Ya mereka harus memakai produk Islam. Saya pun semakin kuat mewujudkan tekad bagaimana agar air yang saya produksi mampu memenuhi kebutuhan umat Islam secara syar’i,” jelas ayah dari dua orang anak ini.

Makna Hijrah ke Ekonomi Syariah
Berbekal pengetahuan atas makna kehidupan dilengkapi dengan berbagai pengetahuan yang komprehensif dari berbagai kalangan ulama, Ardju benar-benar sangat ingin berhijrah dari ekonomi konvensional ke ekonomi syariah melalui bisnis air minum dalam kemasan.
Dalam kerangka kehidupan masa kini, tidak ada salahnya kita merujuk pada hijrah semasa Nabi Muhammad saw sebagaimana difirmankan Allah, “Dan ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya.” (QS Al Anfaal [8]: 30)
Sekali lagi dalam konteks kehidupan masa kini, khususnya dalam bisnis air minum dalam kemasan, menurut Ardju, umat Islam menghadapi gempuran produk-produk yang sepenuhnya dikendalikan oleh pelaku ekonomi yang berorientasi kapitalis, yang tidak peduli pada proses produksi yang syar’i dan tidak pula peduli pada pemenuhan ZIS. Untuk itulah, dia berusaha meretas bisnis air minum dalam kemasan yang syariah.
Hijrah ternyata tidak sebatas memberikan kemanfaatan kepada umat. Hijrah dapat pula memperluas pintu rezeqi. “Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak ...” (QS An-Nisa`[4]: 100).  Penggalan ayat ini merupakan dorongan untuk berhijrah dan menyukai berpisah dari kaum musyrik, dan bahwa di mana pun seorang mukmin berada, dia akan mendapatkan tempat bernaung dan berlindung guna menjaga diri guna melanjutkan kehidupan.
Ayat tadi jelas bertutur tentang hijrah kaum mukmin dari Makkah ke Madinah di masa Rasulullah saw. Namun, menurut Ardju, hijrah di masa sekarang bukan dalam hal fisik berpindah dari satu wilayah ke wilayah yang lain sebagaimana pendapat Ibnu Abbas. Bukan hijrah karena dimusuhi kaum musyrik. Dia memaknai hijrah ini dari ekonomi kapitalis yang menghalalkan segala cara dan tidak mengenal ZIS (hanya mengenal pajak) ke ekonomi syariah yang sarat warna ZIS yang berkeadilan. Ekonomi dunia kini dikuasai oleh ekonomi kapitalistik yang penuh keserakahan dan menghancurkan sendi-sendi perekonomian masyarakat.  
Mengenai penerapan ZIS ini, Ardju pernah memperoleh pemahaman sederhana dari ustadz Subki Abdulkadir. Ibarat kata, rezeqi yang baru saja kita peroleh bernilai 40, maka satu nilai kita keluarkan untuk zakat, 13 untuk dimakan, 13 buat sedekah, dan 13 lainnya guna mengembangkan bisnis yang dijalankan. “Masalah umat Islam itu kan masalah ekonomi, ya dari segi bisnis harus kita perbaiki,” tandas Ardju.
Tentu tidaklah gampang mewujudkan bisnis air minum dalam kemasan yang syariah. Apalagi penerapan bisnis dengan pemenuhan ZIS tersebut. Ardju mengingatkan bahwa tantangan penerapan itu amat berat. Terlebih di tengah penguasaan bisnis air di tangan pengusaha yang tidak peduli ZIS. Seperti diingatkan oleh Allah melalui Surat At Taubah (9) ayat 23-24, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu pemimpin-pemimpinmu, bila mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka pemimpin-pemimpinmu, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. Katakanlah: ‘Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kami khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.’ Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.”
Menyimak peringatan tersebut, Ardju berusaha beradaptasi sebenar-benarnya dalam menjalankan bisnis air minum dalam kemasan yang syariah. Dia tidak ingin main tabrak dan frontal melawan pemain yang telah lama mapan.
Terjun ke bisnis, demikian Ardju, identik dengan maju ke medan perang atau ujian. Pada Perang Badar, seperti disitir Al-Quran, terdapat tiga golongan musuh, masing-masing musuh Allah, musuh yang kelihatan dan musuh yang tidak kelihatan tapi Allah melihat.
“Pada Perang Badar, umat Islam berada pada posisi yang lemah. Umat muslim hanya 300 orang sedangkan lawan berjumlah 1.000 orang dengan berbagai peralatan lengkap. Kendati begitu umat Islam mampu memenangkan perang.  Kemenangan itu tidak terlepas dari kematangan strategi yang diterapkan Rasulullah saw . Dengan keyakinan dan persiapan yang matang, saya merasa yakin bakal mampu memenangkan perang. Saya siapkan pabrik dan segala kebutuhan infrastrukturnya plus sumber daya manusia (SDM) yang profesional serta siap menghadapi persaingan bisnis yang semakin ketat,” papar Ardju yang aktif menyapa dan menyambangi karyawan perusahaannya itu.
Sedikit kembali ke Perang Badar, untuk menghadapi musuh-musuh yang nyata (kaum musyrik) ditempuh dengan cara yang tegas dan jelas. Sedangkan untuk musuh yang tidak kelihatan namun Allah melihat, kata Ardju, kita mesti bersandar kepada pertolongan Allah. “Saya yakin Allah akan memperlihatkan ke kita atau tidak memperlihatkan tapi langsung mengeksekusi orang-orang itu agar tidak terus-menerus menghalangi kita. Seperti orang munafik mendirikan masjid di dekat Masjid Quba, Allah langsung memberitahukan dan kaum Muslim harus segera menghancurkannya,” ujar Ardju penuh keyakinan.

Memperkuat Tali Silaturrahim dan Ukhuwah Islamiyah
Secara historis, Islam datang sebagai rahmatan lil alamin –rahmat bagi alam semesta. Sebelum Islam datang, bangsa Arab hidup bersuku-suku (kabilah-kabilah) dan berdiri sendiri-sendiri, satu sama lain terkadang saling bermusuhan. Mereka tidak mengenal rasa ikatan nasional; yang ada pada mereka hanya ikatankabilah. Dasar perhubungan dalam kabilah itu adalah pertalian darah. Rasa ashabiyah (kesukuan) amat kuat dan mendalam pada mereka, sehingga bilamana terjadi salah seorang di antara mereka teraniaya maka seluruh anggota kabilah itu akan bangkit membelanya. Semboyan mereka “tolong saudara, baik dia menganiaya maupun teraniaya”.
Setelah bangsa Arab memeluk agama Islam, kekabilahan itu ditinggalkan, dan tumbuh kesatuan persaudaraan dan kesatuan agama, yaitu kesatuan umat manusia di bawah satu naungan kalimah syahadah. Dasar pertalian darah diganti dengan dasar pertalian agama. Demikianlah bangsa Arab yang semula hidup tercerai-berai, berkelompok-kelompok, berkat agama Islam, mereka menjadi satu kesatuan bangsa, kesatuan umat, yang memiliki pemerintahan pusat, dan mereka tunduk kepada satu hukum, yaitu hukum Allah dan Rasul-Nya.  
Kekuatan Islam menyatukan bangsa Arab terletak pada silaturahim dalam hubungan sesama. Rasulullah saw berpesan, “Sayangilah apa yang ada di muka bumi, niscaya Allah dan semesta alam akan menyayangimu.” (HR Tirmidzi). Dalam perjalanan perkembangan selanjutnya, Islam tidak hanya menyatukan bangsa Arab. Islam pun tampil menyatukan dunia. Karena, mengacu pada hadits tadi, hak saling berkasih sayang dan silaturahim tidak terbatas pada kerabat, tetapi sesama makhluk ciptaan Allah SWT di muka bumi ini.
Menjadi sangat penting bagi kita untuk menyadari bahwa silaturahim tidak hanya tampilan lahiriah belaka, namun harus melibatkan pula aspek hati. Dengan kombinasi amalan lahiriah dan amalan hati, kita akan mempunyai kekuatan untuk bisa berbuat silaturahim lebih baik. Kalau orang lain mengunjungi kita dan kita balas mengunjunginya, ini tidak terlalu memerlukan mental yang kuat. Namun, bila ada orang yang tidak pernah bersilaturahim kepada kita, lalu secara sengaja kita mengunjunginya, maka inilah yang disebut silaturahim. Apalagi bila kita bersilaturahim kepada orang yang membenci kita atau seseorang yang sangat menghindari pertemuan dengan kita, lalu kita mengupayakan diri untuk bertemu dengannya. Inilah silaturahim yang sebenarnya.
Sebuah hadits mengilustrasikan. "Maukah kalian aku tunjukkan amal yang lebih besar pahalanya daripada shalat dan shaum?" tanya Rasul pada para sahabat. "Tentu saja," jawab mereka. Beliau kemudian menjelaskan, "Engkau damaikan yang bertengkar, menyambungkan persaudaraan yang terputus, mempertemukan kembali saudara-saudara yang terpisah, menjembatani berbagai kelompok dalam Islam, dan mengukuhkan tali persaudaraan di antara mereka adalah amal saleh yang besar pahalanya. Barangsiapa yang ingin dipanjangkan umurnya dan diluaskan rezekinya, hendaklah ia menyambungkan tali silaturahmi" (HR Bukhari Muslim).
Dalam hadits tersebut terdapat dua masalah: bagaimana ia diluaskan rezekinya dan bagaimana pula ia dipanjangkan usianya. Ini masalah yang sulit yang didiskusikan oleh Ibn al-Qayyim. Apakah itu benar-benar demikian? Artinya, apakah Allah benar-benar memanjangkan usia orang yang menyambung tali silaturahim? Misalnya, usia seseorang telah ditentukan 40 tahun. Karena ia aktif menjalin silaturahim, Allah jadikan usianya 60 tahun. Padahal, ajalnya telah ditentukan ketika masih berada di perut ibunya sebagaimana hadits Ibn Mas'ud yang tersebut dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, "Sesungguhnya malaikat mendatanginya dan ia diperintahkan menulis empat kalimat: menulis rezekinya, amalnya, ajalnya, dan keadaannya (sengsara ataukah bahagia).”
Allah SWT berfirman, "Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan [apa yang Dia kehendaki], dan di sisi-Nyalah terdapat Ummul-Kitab (Lauh Mahfuzh)." (QS Ar-Ra'd [13]: 39). Sebagian ulama berpendapat bahwa di dalam Ummul Kitab, anak manusia telah ditentukan rezekinya, amalnya, ajalnya, dan keadaannya (sengsara atau bahagia).
Pendapat yang lain mengatakan bahwa arti dipanjangkan usianya adalah diberkahi dalam hari-harinya, sedangkan panjang usianya tetap sebagaimana yang telah ditentukan, tidak bertambah dan tidak pula berkurang. Tetapi Allah memberkahinya. Misalnya, usianya telah ditentukan 60 tahun. Apabila ia bersilaturahim, usianya tidak menjadi lebih dari 60, namun Allah memberikan keberkahan dalam usianya ini dengan melakukan amal-amal shaleh, bersedekah, memiliki hati yang tenang, senantiasa menghadap Allah, memiliki iman dan keyakinan. Jadi, Allah memberkahi usianya.
Orang lain ada yang usianya 60 tahun juga, tapi Allah tidak memberkahinya, karena dalam usianya itu tidak terdapat iman dan agama, tidak ada shalat, tidak ada ketaatan, dan tidak ada dzikir. Yang ada dalam usianya hanya penyimpangan, penolakan, pengingkaran, dan kemaksiatan, sehingga tak ada keberkahan dalam usianya. Hari-hari dan waktu-waktunya berlalu tanpa ia simpan sedikit pun untuk akhiratnya. Ini benar-benar suatu kesesatan dan merupakan kerugian yang nyata.
Menurut ulama sunnah, pendapat kedua adalah pendapat yang benar. Umurnya tidak ditambahkan beberapa hari, beberapa bulan, atau beberapa tahun. Melainkan sebagaimana yang telah ditentukan oleh Allah ketika berada di perut ibunya. Jadi, panjang umurnya tetap begitu, namun Allah menambahnya dengan perbuatan baik dan keberkahan yang dijadikan pada waktu-waktunya, hari-harinya, bulan-bulannya, dan tahun-tahunnya. Jadi, seolah-olah umurnya bertambah.
Ketika Muhammad bin Humaid ath-Thusi terbunuh sebagai pahlawan dalam usia 40 tahun, datanglah Abu Tamam, seorang penyair besar, lalu mengucapkan syair-syairnya memuji pahlawan yang terbunuh ini. Ia telah terbunuh di jalan Allah. Sejak shalat Shubuh sampai shalat Zhuhur ia bertempur dengan bangsa Romawi sampai beberapa pedang yang ada di tangannya patah sehingga tak tersisa lagi pedang padanya. Akhirnya mereka dapat membunuhnya.
Kita pernah menyaksikan seseorang diwawancarai oleh reporter media massa. Usia orang itu 130 tahun. Tetapi, apa yang telah ia persembahkan untuk dirinya? Kita lihat ia berbicara tentang makanan dan minumannya, bahwa ia tidur pada jam sekian dan bangun pada jam sekian. Ia juga pernah menikahi dua puluh lima wanita. Ia pernah melakukan perjalanan ke Indonesia dan memiliki enam belas bangunan! Tetapi, di mana prinsip-prinsipnya? Di mana shalatnya? Di mana puasanya? Berapa banyak ZIS yang ditebarkan? Di mana hajinya? Di mana pula dzikirnya? Tidak ada perhatian pada dirinya terhadap hal-hal tersebut.
Usia Ibn Taimiyyah hanya 63 tahun. Tapi ia dapat memenuhi dunia dengan ilmu dan jihad serta meninggalkan murid-murid yang bagaikan bintang-bintang di langit zaman. Umar bin Abdul Aziz hanya berusia 40 tahun dan menjabat khalifah tidak lebih dari 30 bulan. Namun di sisi Allah ia lebih baik daripada 30 kurun. Sa'ad bin Mu'adz usianya cuma 37 tahun dan berada dalam Islam selama tujuh tahun, tapi ia lebih baik daripada tujuh kurun. Masalahnya tidak terletak pada berapa panjang usianya, melainkan kebaikan atau keburukan yang ada dalam usianya itu.
Kemudian ihwal Rasulullah saw mengatakan, "Barangsiapa yang suka diluaskan rezekinya." Para ulama mengatakan bahwa keluasan dalam rezeki dapat bersifat maknawi dengan diberikan keberkahan dalam rezekinya itu. Mungkin pula Allah menambahnya dengan tambahan yang nyata (yang sesungguhnya).
Silaturahim merupakan aktivitas hati dan fisik, maka rezeki bisa datang melalui berbagai cara. Pertemuan Anda dengan saudara bisa mendatangkan peluang, baik peluang kerja maupun peluang bisnis. Namun kita jangan membatasinya hal itu saja, sebab Allah memiliki wewenang memberikan rezeki kepada hamba-Nya dari arah yang tidak diduga-duga. Kapan dan seberapa besarnya, itu adalah hak prerogatif Allah. Allah Maha Tahu, seberapa banyak dan kapan waktu yang terbaik buat kita.
Silaturahmi adalah kunci terbukanya rahmat dan pertolongan Allah SWT. Dengan terhubungnya silaturahim, maka ukhuwah Islamiyah akan terjalin dengan baik. Ardju Fahadaina ingin langkah-langkahnya meretas di bisnis (air) syariah penuh rahmat dan keberkahan dari Allah melalui rajutan tali silaturahim dan ukhuwah Islamiyah. Dia memanfaatkan masjid, majlis pengajian, kegiatan amal dan sosial, seminar, organisasi, bahkan acara milad sebagai alat untuk bersilaturahmi dan membangun ukhuwah. ***


No comments:

Post a Comment