Saturday, March 2, 2013

Kerajaan Jin di Kawah Putih Ciwidey


Dataran tinggi Bandung Selatan, Jawa Barat, yang merupakan kawasan Gunung Patuha, memiliki keindahan alam yang sungguh penuh pesona. Banyak tempat wisata di area ini. Yang paling indah adalah Danau Kawah Putih Ciwidey. Alam pemandangan di sekitar Danau Kawah Putih cukup indah, dengan air danau berwarna putih kehijauan, sangat kontras dengan batu kapur yang mengitari Danau Kawah Putih. Di sebelah utara danau berdiri tegak tebing batu kapur berwarna kelabu yang ditumbuhi lumut dan berbagai tumbuhan lainnya.
Gunung Patuha --oleh masyarakat Ciwidey-- dianggap sebagai gunung tertua. Nama Patuha konon berasal dari kata Pak Tua (Sepuh). Dan, masyarakat setempat sering menyebutnya dengan nama Gunung Sepuh. Lebih dari seabad yang lalu, puncak Gunung Patuha dianggap angker oleh masyarakat setempat sehingga tak seorangpun berani menginjaknya. Sebab itu, keberadaan dan keindahannya pada saat tersebut tidak diketahui banyak orang.

Gunung Patuha pernah meletus pada abad X yang kemudian menyebabkan adanya kawah (erater) yang mengering di sebelah puncak bagian barat. Kemudian pada abad XII kawah di sebelah kirinya juga meletus, lalu membentuk danau yang indah. Tahun 1837, seorang Belanda peranakan Jerman Dr. Franz Wilhelm Junghuhn (1809-1864) mengadakan perjalanan ke daerah Bandung Selatan. Ketika sampai di kawasan tersebut, Junghuhn merasakan suasana yang sangat sunyi dan sepi, tak seekor binatangpun yang melintasi kawasan itu.

Dia kemudian menanyakan masalah ini kepada warga masyarakat setempat, dan menurut warga masyarakat, kawasan Gunung Patuha sangat angker karena merupakan tempat bersemayamnya arwah para leluhur, serta merupakan pusat kerajaan bangsa jin. Karenanya bila ada burung yang lancang berani terbang di atas kawasan tersebut, akan jatuh dan mati.

Meskipun demikian, orang Belanda yang satu ini tidak begitu percaya akan ucapan masyarakat. Ia kemudian melanjutkan perjalanannya menembus hutan belantara di gunung itu untuk membuktikan kejadian apa yang sebenarnya terjadi di kawasan tersebut. Namun sebelum sampai di puncak gunung, Junghuhn tertegun menyaksikan pesona alam yang begitu indah di hadapannya, di mana terhampar sebuah danau yang cukup luas dengan air berwarna putih kehijauan. Dari dalam danau itu keluar semburan lava serta bau belerang yang menusuk hidung. Terjawab sudah mengapa burung-burung tidak mau terbang melintasi kawasan tersebut.
Dari sinilah awal mula berdirinya pabrik belerang Kawah Putih dengan sebutan di jaman Belanda Zwavel Ontgining Kawah Putih. Di jaman Jepang, usaha pabrik ini dilanjutkan dengan menggunakan sebutan Kawah Putih Kenzanka Yokoya Ciwidey, dan langsung berada di bawah pengawasan militer. Cerita dan misteri tentang Kawah Putih terus berkembang dari satu generasi ke generasi masyarakat berikutnya. Hingga kini mereka masih percaya bahwa Kawah Putih merupakan tempat berkumpulnya roh para leluhur. Bahkan, menurut kuncen Abah Karna yang sekarang berumur 105 tahun dan bertempat tinggal di kampung Pasir Hoe, Desa Sugih Mukti, di Kawah Putih terdapat makam leluhur, di antaranya Eyang Jaga Satru, Eyang Rangsa Sadana, Eyang Camat, Eyang Ngabai, Eyang Barabak, Eyang Baskom, dan Eyang Jambrong. Salah satu puncak Gunung Patuha, Puncak Kapuk, dipercaya sebagai tempat rapat para leluhur yang dipimpin oleh Eyang Jaga Satru. Di tempat ini masyarakat sesekali melihat secara gaib sekumpulan domba berbulu putih (domba lukutan) yang dipercaya sebagai penjelmaan dari para leluhur. ***

No comments:

Post a Comment